Pages

PENGALAMAN MENJADI PENULIS PEMULA

Sayangnya, saya sangat terlambat untuk memulai karir sebagai penulis. Sebenarnya, saya sudah sering mengikuti perlombaan menulis (menulis novel dan puisi) waktu SMP dan SMA. Tapi, tidak ada satupun naskah yang lolos saat itu. Saat kuliah, saya juga pernah mengikuti lomba menulis untuk dikirimkan ke redaksi jurnalistik kampus. Tidak juga lulus.Sampai akhirnya saya benar-benar sibuk dengan kuliah. Saya tidak perlu menjelaskan betapa sibuknya menjadi mahasiswa psikologi yang penuh dengan praktek dan praktek.

Baru setelah lulus kuliah 2012 lalu, saya mulai mencoba menulis lagi. Waktu itu, saya masih bekerja sebagai motivator di kampus yang sama (belum diangkat sebagai dosen honorer). Saya hanya mengajar satu kali seminggu. Jadi, banyak waktu longgar. Karena saya sangat senang membaca apapun termasuk melalui situs internet, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti lomba menulis. Waktu itu, saya pertama kali berkenalan dengan banyak grup penulis indie dan Self-Publishing. Dari situ, pikiran saya terbuka lagi dan semakin banyak ilmu yang direguk mengenai kepenulisan. Saya ikut perlombaan yang mereka selenggarakan. Alhamdulillah, sudah banyak antologi indie yang saya hasilkan bersama mereka.

Langkah saya tak berhenti di situ saja. Saya merasa harus keluar dari zona nyaman itu. Akhirnya, saya putuskan untuk menulis buku sendiri. Berbekal dari pengalaman/curhatan pribadi saja. Alhamdulillah proses menulis buku perdana dimulai bulan November 2012 dan selesai awal Januari 2013. Naskah tersebut berjudul Kriuk Note For Single Fighter. Saya coba tawarkan ke berbagai penerbit mayor. Terhitung sudah lebih dari 10 kali mengajukan. Tak ada yang meminang. Saya teringat dengan kisah J.K. Rowling yang berkali-kali ditolak tapi toh bisa berhasil. Saya tidak mau menyerah begitu saja.

Ada sih satu agensi tapi mereka menawarkan bentuk ebook. Batin saya berkecamuk. Ada keyakinan sendiri dalam hati bahwa saya pasti bisa menerbitkan buku seperti buku konvensional pada umumnya. Dengan berat hati, saya menarik kembali naskah itu. Saya revisi lagi. Judulnya pun saya ganti menjadi Catatan Kriuk untuk Si Single. 

Berbulan-bulan saya membenamkannya dalam file PC. Barulah pada September 2013, saya memperoleh info dari imprint salah satu penerbit yang sedang mencari naskah nonfiksi Islami. Alhamdulillah, saya coba ambil kesempatan itu. Saya pasrah saja dengan hasilnya: diterima atau ditolak. Setelah lama menanti, konfirmasi dari penerbit BIP (imprint Qibla) menghampiri. Alhamdulillah, balasannya membuat saya terharu sekaligus mengucap syukur. Rasanya seperti dilamar oleh seorang pangeran shaleh hehe. Naskah CKUS pun diterima dan diedarkan ke toko buku sejak awal Januari.

Saya tidak menyangka, respon terhadap buku tersebut cukup baik. Saya merasakan keberkahan yang sangat besar dari buku tersebut. Sempat saya berpikir, apakah baik jika saya menumpahkan curhatan ini pada orang lain? Sebagai seorang jomblo dari lahir, tentu banyak sekali kekhawatiran sejak menuliskan kisah-kisah lama itu. Tapi, alhamdulillah apa yang saya takutkan justru tidak terjadi. Para pembaca yang mayoritas anak-anak sekolah menyukainya. 

Setelah saya resmi mengajar sebagai dosen pada Januari 2014, bersyukur saya masih punya waktu untuk menulis. Saya akhirnya kembali memperoleh inspirasi untuk menulis buku kedua. Inspirasi tersebut saya tangkap ketika tidur. Ya, saya memang sering menemukan hal-hal menarik ketika mata mulai terpejam. Sebenarnya ini memang buku kedua tapi terbitnya di urutan ketiga. Buku yang saya tulis setelah CKUS berjudul Syabab. Prosesnya cukup lama karena bahasannya sangat banyak. Butuh banyak waktu untuk mencari referensi dan membagi waktu dengan rutinitas lain. Tidak jarang, saya dilanda writer's block. Saya kemudian mengatasinya dengan cara yang sederhana. Tidur, membaca lebih banyak, menonton, beribadah dan bercengkerama dengan mahasiswa/i saya. Dari cara-cara itu, pikiran saya fresh kembali. Jadi, ketika sudah membaik, saya tidak langsung menunda untuk melanjutkan tulisan. Sebab bagi saya, menunda hanyalah akan membunuh kedisiplinan terhadap impian yang ingin saya capai.

Akhirnya, buku Syabab diterima dengan baik di penerbit yang sama. Lalu, saya kemudian menangkap inspirasi untuk menulis novel. Novel itu memang tidak mudah bagi saya sehingga terjadi penolakan beberapa kali. Kembali saya endapkan lalu memikirkan hal lain. Muncullah ide menulis buku nonfiksi lagi. Lagi-lagi berasal dari pengalaman pribadi tentang bullying. Naskah berjudul Secangkir Kopi Bully memang belum rampung hingga saya harus resign di awal tahun 2014 karena hendak pindah rumah ke Malang. Barulah ketika di Malang, saya menyelesaikan naskah itu. Finally, nasibnya juga baik dan diterima oleh imprint Quanta dari penerbit EMK.

Alhamdulillah, saat ini sudah ada 3 buku dan sementara ada 1 novel yang antre terbit lalu sekarang di sela kesibukan sebagai mahasiswi Magister di jurusan yang sama, saya kembali menyicil draft buku kelima. Bagi saya, cita-cita menjadi penulis hebat belum berakhir. Saya masih harus terus berjalan, tak peduli gersang maupun badai. Yang penting saya menulis dan terus menulis sampai saya menuju pada kesempurnaa: kematian.

Well, begitulah perjalanan saya sebagai penulis pemula. Saya berharap bisa tetap istiqamah berbagi kebahagiaan dengan menulis kepada orang lain. Karena menulis itu sangat membahagiakan, jadi saya akan terus menulis sampai akhir hayat hidup saya. Sehingga, ketika saya dipanggil ke hadirat-Nya, saya akan dikenang sebagai penulis. Aamiin. Nah, inilah ringkasan dari pengalaman saya sebagai penulis pemula. Bagaimana denganmu?

(jumlah: 789 kata)



SINYAL BAIK DARI LANGIT

Setelah sekian lama, akhirnya bisa ikut giveaway lagi. Alhamdulillah, tepat hari ini usia saya genap seperempat abad. Dua puluh lima tahun meeeen... tapi mencoba untuk nggak berasa tua hehe. Alhamdulillah sejak tadi pagi, banyak ucapan selamat diiringi doa dari sahabat-sahabat tercinta. 

Alhamdulillah, sebagian besar resolusi tahun lalu terwujud, salah satunya bisa nembusin naskah ke penerbit. Tahun ini, saya mempunyai beberapa impian sakral yang berharap dapat terwujud (se-ridhanya Allah mau kabulkan tahun ini atau tahun depan).

Impian pertama adalah menikah. Bukan karena alasan usia atau apapun. Tapi, insya Allah, saya ingin menikah lillahi ta'ala, ingin menggenapkan separuh agama saya dan beribadah lebih banyak lagi tentunya dengan sang suami. Kenapa ini menjadi list pertama? Sebab, ada cerita panjang, misterius dan masih menyisakan debaran hingga detik ini. 



Beberapa hal mendebarkan ini mungkin saja sinyal yang dikirimkan Allah dari langit. Pertama, alhamdulillah orangtua sudah membolehkan berkenalan dengan lawan jenis ke arah serius (tapi bukan pacaran). Ortu pun pernah bilang, kalau seandainya sang jodoh datang sebelum saya lulus dari bangku magister ini, insya Allah itu nggak akan jadi masalah dan beliau berdua merestui. Kedua, yang tadinya semua ikhtiar itu saya fokuskan demi menjemput jodoh, justru saya merasa ada satu hal yang nggak bisa saya jelaskan karena ini hanya bisa saya rasakan dari hati kecil saja. Apa itu? Mungkin ini semacam mendapat tetesan cinta dari-Nya. Bukan esensi alasan demi dapat jodoh lagi yang saya rasakan, melainkan saya sangat berharap lebih bisa mencintai dan dicintai oleh Allah. Dari perasaan abstrak nan indah melalui istikharah panjang ini, saya sering menemukan sinyal-sinyal baik. Mungkin saja ini sinyal ataukah ujian tapi saya berusaha berbaik sangka pada-Nya. Semoga ikhtiar perbaikan dan pemantasan diri ini bisa berujung pada karunia jodoh terbaik dari-Nya.


Langkah-langkah yang sudah saya lakukan alhamdulillah banyak. Antara lain belajar menata akhlak. Kalau tahun-tahun sebelumnya masih susah ngendaliin emosi (terlebih pada saat PMS), alhamdulillah tahun ini bisa sedikit demi sedikit mulai mengendalikan diri. Trus, kedua adalah hafalan Al-Qur'an. Jujur saja, masih stagnan di juz 30, itupun masih ada beberapa surat yang akan susah dihapal kalau nggak muraja'ah. Meskipun masih 1 juz, semoga bisa terus ingat dan kalau perlu, semoga bisa diamalkan aamiin. Ketiga, udah nyoba disiplin sama waktu, belajar masak, alhamdulillah udah ikhtiar merutinkan shalat tepat waktu, shalat sunnah, shalat malam, Dhuha, tilawah setiap hari dan lain-lainnya yang berhubungan dengan ketauhidan. Alhamdulillah sekarang juga lagi belajar ilmu-ilmu pernikahan, biar ada bekal ketika impian menikah ini terwujud. Terakhir, perbaiki halumminannas. Ini adalah ujian paling sulit. Kadang suka salah paham sama ortu soal hal sepele, tapi walaupun kita kadang ribut-ributan di rumah, itu juga nggak lama, nggak nyampe setengah hari udah baikan lagi. Tapi jujur aja, saya sayaaang banget sama orangtua dan adik-adik. Semoga ikhtiar ini bisa mengantarkan saya untuk dapat jodoh terbaik dari-Nya, aamiin.

Impian kedua adalah istiqamah. Istiqamah di sini dalam beberapa hal penting. Pertama, istiqamah dalam berjilbab (kalau bisa di rumah juga). Sejak ortu membuka toko sembako di rumah, saya jadi sering pakai jilbab di rumah. Kadang kalau di dalam rumah masih saya lepas tapi tetap pakai baju panjang dan baru saya pakai lagi ketika ada pembeli yang datang, terutama pembeli laki-laki. Mudah-mudahan setelah menikah nanti, saya bisa istiqamah berjilbab di dalam maupun di luar rumah. Kedua,  berharap semoga bisa istiqamah dengan dua passion saya: menjadi penulis dan psikolog. Semoga gelar profesi psikolog yang nanti saya peroleh (insya Allah lulus 2016 besok) bisa bermanfaat bagi saya, keluarga, agama, bangsa dan negara. Semoga saya juga bisa terus konsisten menulis dan melahirkan buku-buku yang lebih orisinil, lebih berkualitas dan lebih inspiratif/bermanfaat dari sebelum-sebelumnya. Karena tahun ini sangat padat sehingga mungkin saja belum sempat nulis draft buku kelimat. Jadi, insya Allah semoga 2016 besok bisa nulis buku lagi. Langkah-langkah untuk mewujudkannya banyaak sekali, di antaranya semakin merajinkan diri untuk membaca banyak hal, rajin nangkap inspirasi dan nangkap kesempatan (lowongan menulis) di sekitar dan rajin-rajin evaluasi dari setiap hasil karya yang udah ditulis.

Tentang istiqamah di atas, saya jadi ingat sama kata-kata penulis favorit saya, Paul Coelho berikut, "If what you are following is the path of your dreams, commit yourself to it. Don't leave the back door open with excuses: "This still is not quite what I wanted." Kata yang saya tebalkan itu menandakan bahwa ketika berani bermimpi dan sudah yakin berada di atas jalan menuju impian itu, maka kita pun harus berani berkomitmen. Komitmen dibutuhkan agar kita bisa memperbesar usaha untuk mewujudkannya. Komitmen juga dibutuhkan agar impian tersebut bukan hanya tinggal angan belaka.

Itulah dua deret impian saya untuk 2015 (dan nyerempet-nyerempet ke tahun-tahun berikutnya). 

Saya merasa dua impian inilah yang saya yakini sebagai suatu pertanda/sinyal baik dari langit. Semoga Allah mudahkan, ridhai dan lancarkan hingga hari di mana impian tersebut benar-benar datang menghampiri. Saya yakin, sekecil apapun ikhtiar yang dilakukan, Allah akan melihat dan membalasnya dengan hal yang lebih baik. Saya hanya meminta yang terbaik dari-Nya karena saya hanya manusia yang punya kacamata kekurangan. Jadi, jika ada beberapa hal yang saya minta namun Allah memberikan yang lain, itu pertanda, Allah Maha baik. Saya percaya. Dia terkadang memberikan sesuatu di luar dugaan kita bukan karena apa yang kita impikan itu tak baik. Justru, selalu ada hal yang lebih indah, yang tidak akan pernah kita duga dari kebaikan rezeki dari-Nya.




PENGUMUMAN PEMBAGIAN BUKU UNTUK GA PARESMA

Karena ketiga peserta dapat masing-masing jatah 1 buku. Jadi, saya putuskan untuk mengundinya dengan sistem kocok dan dimulai dari peserta terakhir yaitu Siska, selanjutnya ArghaLitha dan terakhir Intan.

Ini hasil foto undiannya sesuai urutan nama di atas ya. Cara lihatnya dari gambar kertas sebelah kiri lalu ke kanan.



Jadi, Siska dan ArghaLitha dapat buku Syabab. Intan dapat buku Secangkir Kopi Bully.

Selamat...selamat... hehe... Mohon maaf banget hadiahnya cuman satu tapi semoga bisa ngasih manfaat aamiin.

Pengirimannya nyusul nyari waktu free ya.

PENGUMUMAN HASIL AKHIR GA PARESMA

Setelah menimbang-nimbang enak dan baiknya bagaimana. Karena saya juga pengen sekalian belajar adil, jadi saya putuskan untuk tidak membagi hasil akhir dari GA Paresma ini ke dalam kategori pemenang I dan II. Maksudnya, karena yang daftar hanya 3 peserta, jadi saya ingin agar semua bisa merasakan buah dari usaha mereka. Jadi, intinya ketiga peserta dapat masing-masing 1 buku. Untuk bukunya saya acak tapi yang jelas ada 2 orang yang dapat buku Syabab dan 1 buku Sencangkir Kopi Bully soalnya stok SKB di saya emang dikit dan saya lagi gak ada waktu buat mampir ke tokbuk buat beli SKB.


Nah, untuk fotonya, saya suka tiga-tiganya. Tapi, untuk pemenuhan persyaratan, hanya si Intan N.K. yang kurang memenuhi satu syarat yaitu share info GA ini di blog dan gak ada url link blognya di kolom komentar jadi saya bingung nggak bisa kasih link hidup langsung ke blog Intan deh ini. Kalau 2 peserta itu udah memenuhi semua syarat: ArghaLitha dan Siska Dwyta. Bisa diintip deh langsung blog mereka kayak apa (yang mau BW). Ternyata mereka juga nyeritain proses mendapatkan bukunya padahal gak ada syarat untuk harus cerita. But, makasih banyak yaa.

SELAMAT YA BUAT KETIGA PESERTA. ^___^

Terima kasih buat atensinya karena udah mau meluangkan waktu buat ikutan GA ini. Ternyata dari kisah-kisah mereka, ada yang sampe kesulitan nyari bukunya di Gramedia karena belum dipajang dan karena jarak antar rak ini dan itu berjauhan.

Perkara pengiriman hadiahnya, mohon bersabar untuk beberapa waktu yaa ukhti-ukhti. Saya nunggu hari Sabtu baru gak kuliah baru bisa ngirim ke kantor pos. Entah sabtu ini atau sabtu depan. Yang pasti, kalau hadiahnya sudah dikirim akan saya kabarkan lewat Twitter ya.



GA PARESMA DITUTUP YA

GA Paresma resmi ditutup ya malam ini. Terima kasih buat yang udah ikutan. Eh..eh.. prestasi banget ya, tumbeeeen gitu untuk giveaway kali ini yang ikut hanya 3 orang. Mungkin karena deadlinenya yang kurang panjang kali ya. Tapi, kalo kelamaan saya yang nggak bisa (pada akhirnya semua kembali ke subjektivitas pemegang tampuk GA hehehe). Mungkin juga karena hadiahnya yang terlalu sedikit. Ya saya maklum karena untuk GA kali ini nggak bisa ngasih banyak bukan karena pelit tapi nggak sempet nyari hadiah buat tambahannya (lagi-lagi pakai alasan sibuk kuliah,, yaa tapi itulah apa adanya).

Makasih buat 3 orang yang udah daftar. Karena pesertanya dikit, otomatis, saya jadi mudah dan cepat dalam mengambil keputusan. Malam ini sih saya udah menentukan siapa pemenang I dan II tapi nanti dulu deh postingnya, besok atau lusa aja ya biar penasaran.

Selamat menebar garam jampi-jampi keberuntungan dan keberkahan deh ya buat 3 peserta. Selamat bersabar untuk menunggu pengumuman.

Sekadar info nih, saya berencana untuk mengubah pemenangnya. Niat awalnya, karena cuman ada 3 peserta, saya pengen ngebagi rata hadiahnya masing-masing 1 buku ke 3 peserta. Kasihan juga sih yaa kalau 3 orang, yang satu--yang tereliminasi di antara 2 tuuh berasa kayak dicuekiin gitu nah hehehe :D. Namun, nanti lah ya saya pikirkan lagi mau ngubah sama rata atau tetap seperti semula cuman 2 pemenang.

GIVEAWAY PARESMA



(sticky posting)

Naah kaan.. hehe akhirnya saya buka GA juga. Tadinya sih lagi gak pengen karena buku Secangkir Kopi Bully-nya cuman dapat jatah dikit dari penerbit. Tapi, berkat kehadiran paket buku Syabab, setidaknya cukup membantu untuk kelangsungan GA ini. Tadinya juga mau ngadain GA dengan syarat peserta haru belanja di Griya Qafisha (Olshop saya) namun batal... Sibuuuuukkkk! 

Langsung aja deh. Jadi, alhamdulillah, menjelang akhir tahun ini ada dua buku baru saya yang terbit. Oh ya sekadar info, kalo buku Secangkir Kopi Bully udah in stock di seluruh TB Gramedia dkk. Untuk buku Syabab sendiri, kemarin, Mbak Dewi bilang, bukunya masih baru banget keluar dari percetakan. Jadi, insya Allah untuk Jabotabek, distribusinya seminggu lagi udah in stock di TB. Untuk luar Jabodetabek, maybe pertengahan atau akhir bulan lah yaa udah ready.

Giveaway yang saya adakan kali ini sangat terbatas hadiahnya. Sebenarnya bisa aja minta di-sponsorin lagi, cuman, saya khawatir nggak bisa memanage berhubung jadwal sangat padat. Jadi, giveaway kali ini sangat simple. Hadiahnya pun hanya untuk 2 orang pemenang saja. Jujur, saya pengen banyak pemenangnya dan hadiahnya juga banyak. Namun, karena banyak tugas dan kerjaan, jadi saya batasi. Ngirimnya juga saya nunggu free dulu (itupun free tapi gak full free, hari Sabtu baru bisa ke kantor pos untuk pengirimannya nanti).

Oke ini aturan mainnya:
  1. Follow sosmed saya Twitter @de_Paresma, instagram Yanuarty Paresma Wahyuningsih dan join ke blog saya ini (untuk Facebook, mohon maaf saya tidak menyarankan, bukan udah penuh sih, cuman saya mau membatasi saja. Jadi, tidak diperkenankan mem-follow FB saya ya ^^v).
  2. Para peserta kudu punya blog, karena ntar pengumumannya akan saya posting di blog (selain di Twitter dan IG).
  3. Tugas para peserta SIMPLE BANGET. Jadi, syarat mutlaknya, saya tidak akan minta kalian untuk posting tulisan. Tugas Para Peserta adalah: Share 1 foto kalian bersama dua atau tiga buku saya di toko buku langsung (bagi yang belum nemu buku Syabab, foto dengan buku CKUS+Secangkir Kopi Bully juga gak papa. Kalau kalian ada temen yang punya buku-buku tersebut, gak papa fotonya juga boleh pinjem buku temannya dengan setting di rumah, taman dll.
  4. Fotonya dengan gaya yang eye catching atau lucu/nyentrik/aneh de el el dan kalau bisa sih fotonya itu menyiratkan sebuah cerita bersama buku-buku tersebut. Bagi ukhti-ukhti yang mau ikutan tapi malu difoto, boleh foto dengan badan menyamping atau pake masker tapi bukunya kudu keliatan ya hehe (terserah gayanya gimana, mau nunduk sambil duduk juga gak masalah, yang penting jangan membelakangi).
  5. Share foto kalian di Twitter dan IG dengan men-tag bin mention saya juga ya. Sharenya cukup sekali aja. Pake hashtag #GAParesma di captionnya
  6. Saya akan memilih 2 foto yang memenuhi syarat No.3-5.
  7. Share link info GA ini di Twitter, IG dan blog kalian (sekali aja share-nya).
  8. Daftarin diri dan link fotomu di kolom komentar blog ini ya dengan format Nama asli, Nama sosmed, Alamat asli lengkap beserta kode pos dan Url link foto di Twitter dan IG kamu.
Oke itu deh syaratnya. Simple, kan? 

Hadiahnya: 
untuk 2 orang pemenang
  • Pemenang pertama dapat 1 eks. Buku Secangkir Kopi Bully dan 1 eks. Buku Syabab
  • Pemenang kedua dapat 1 eks Buku Syabab
Bila ada yang berbaik hati ingin men-sponsori tanpa mengharapkan imbalan dari saya alias murni karena kebaikan dan ketulusan hati saudara (hehe), silakan BBM saya ke 7E6AFA60 ya tapi jangan terlalu banyak ngasihnya ya.

Giveaway ini berlangsung mulai 2 November-7 Desember 2014. Masih lama, kan? 

Selamat berlomba bersama Paresma ^^

SELAMAT TINGGAL SURGAKU

Kalau orang memilih pantai, gunung atau kawasan luar negeri sebagai tempat yang paling berkesan untuk dikenang, maka berbeda dengan saya. Blok H no. 29, itulah satu-satunya tempat yang paling saya rindukan. Semua kenangan terukir di sana. Semuanya pun harus rela untuk ditinggalkan.

Blok H No. 29 BTN Soreang Permai, kota Parepare, Sulawesi Selatan adalah rumah pertama kami. Sejak Bapak dan Mama merantau lalu menikah di sana, rumah itulah yang menjadi prasasti hidup kami berlima. Saat masih kecil, rumah itu masih sangat kusam. Sekitar tahun 1990an, betapa menyedihkan tempat yang kami tinggali itu. Rumahnya memang sederhana. Sangat sederhana. Awalnya, tak ada lantai keramik, melainkan ubin biasa. Atapnya banyak yang bocor sana-sini. Kamar saya pun bocor. Saya bahkan pernah kehujanan di tengah tertidur. Saya pikir sedang ngompol, ternyata air hujan merembes dari plafon dan membasahi setengah dari badan saya. Jadi, setiap hujan tiba, saya pasti akan mengungsi ke kamar Mama.


Bukan karena Bapak tak punya uang untuk membenahi berbagai kerusakan, melainkan kami terbiasa hidup berhemat. Saat itu, Bapak dan Mama memang sedang merencanakan renovasi besar-besaran (total). Jadi, mereka gigih menabung untuk itu. Saya pun tak pernah protes. Selama saya masih bisa lari sana-sini dan main di dalam rumah bersama teman, itu tak masalah.

Dari segi lokasi, rumah tersebut cukup strategis. Beberapa kilometer di belakang kompleks rumah, ada bentangan pantai yang panjang. Daerah belakang rumah disebut tanggul oleh kebanyakan orang tapi sebenarnya itu adalah pesisir pantai dari laut utama kota Parepare. Enak kan bisa lihat laut gratis? Tiap weekend, saya sering olahraga bersepeda keliling kompleks hingga ke jalan raya sekitar pantai di belakang. Jalan tersebut menghubungkan kawasan perumahan dengan bagian belakang pasar Lakessi (pasar sentral kota Parepare). Jadi, kalau dulu Mama masih berdagang pakaian di sana, tidak perlu susah-susah lagi lewat bagian depan pasar. Cukup hanya 7 menit saja (dengan motor), sudah bisa sampai ke pasar. Dulu, saya juga sering jalan-jalan bareng dengan beberapa mahasiswi saya ke pantai itu sekadar foto-foto atau jalan-jalan sore. Kebetulan, di kafe pinggir pantai sana ada beberapa mahasiswaku yang kerja part-time, jadi sekalianlah kami bertemu di tengah-tengah jalan.

Andai kawasan tersebut adanya di Jakarta, mungkin sudah termasuk kawasan yang mahal. Lihat saja di kota-kota besar, asal dekat pantai/laut saja, rumahnya dibanderol dengan nilai yang cukup fantastis. Alhamdulillah, saya sangat beruntung bisa tinggal di pesisir pantai.

Kemudian selanjutnya adalah faktor cuaca. Iklim tropis di daerah pantai memang sangat berbeda dengan cuaca panas di daerah yang banyak gunungnya seperti Jawa. Dulu waktu saya kuliah, kulit saya mudah kusam, jarang keringat meski sudah berolahraga dan jalan kaki dan kayaknya perawatan apapun tidak begitu maksimal hasilnya. Ketika sempat pulang ke Parepare, saya semacam mengalami pergantian kulit. Kulit wajah dan tubuh mulai kembali normal (cerah dan berenergi), mudah keringat (keringat kan siklus ekskresi untuk membuang racun dari dalam tubuh) dan segar bugar.

Di Parepare juga banyak ragam seafood. Saya adalah salah satu kaum yang tidak makan daging merah seperti kambing, sapi dan sebangsanya (kalau ayam pun tidak begitu doyan, sesekali saja). Saya lebih suka seafood tapi yang benar-benar dari laut (kalau ikan air tawar saya kurang begitu suka). Semenjak pindah ke Malang, harus makan tahu tempe ayam dan ikan air tawar tiap hari. Benar-benar shock therapy lagi buat saya. 

Heum, pokoknya banyak hal yang tak bisa digantikan oleh kota Malang terhadap kota kecil Parepare. 

Dan, memori yang tertambat di rumah lama kami itu semakin kaya saja ketika telah selesai renovasi total. Rumahnya lebih berwarna dibanding sebelumnya. Yang lebih penting, saya punya kamar sendiri. Kamar depan di lantai dua yang mengarah ke balkon/teras atas. Ventilasinya sangat memadai sampai-sampai matahari siang dan senja tak pernah absen mampir ke kamar saya. Dan, itulah yang tidak saya dapatkan di rumah baru sekarang (karena memang pembangunannya belum selesai).

Berikut ini foto-foto rumah kami (foto-foto ini saya ambil sejak tiga tahun lalu) jadi ada sedikit perubahan dan tidak sempat saya foto lagi sejak pindah ke Malang.

Ini penampakan dapur plus ruang tengah
Ini saya take sekitar 3 tahun lalu saat libur kuliah dan pulang ke sana

Ini penampakan teras. Sebenarnya masih luas dan
banyak tanaman cuma tidak saya foto semuanya

Ini ruang menonton TV yang ada di lantai dua.
Warna catnya sekarang sudah diganti kuning semua dan di sisi kanan itu sebenarnya ada meja,
tempat saya biasanya ngetik atau bekerja (kerjain laporan RPP dan memeriksa tugas/ujian mahasiswa).
Saya suka menonton sambil mengetik.
Nah, ini kan kentara ada palang pintu. Palang pintu ini adalah bekas dari kusen pertama saat rumah ini di bangun. Kusen tersebut dipasang di lantai dua sebagai pemisah antara ruang dua kamar adik saya dan ruang tengah itu.
Sebenarnya di bagian belakang, dekat tangga pas di samping kusen ini ada ruang kecil yang merupakan rute menuju kamar adek-adek saya tapi tidak saya foto.

Sekarang akuarium itu tidak ada lagi. Ini adalah ruang depan yang
tepat berada di samping kamar saya dan mengarah ke balkon.
Ruang ini biasanya dipakai untuk shalat (jama'ah atau shalat sendiri2).

Dulu mobil kami memang Aerio tapi sekarang sudah ganti dan Aerio ini sudah lama sekali dijual.
Penampakan teras depan ini pun masih sama hingga sekarang.
Seluruh tembok terasnya memang sengaja dikeramik agar tidak lembab saat musim hujan.

Ini adalah potongan ruang kecil dari sisi kiri ruang tamu. Pintu itu adalah akses kamar ortu kami. Bufet itu sekarang sudah diungsikan ke kamar saya yang di atas dan di tembok itu sekarang dipajangin cermin raksasa seukuran pintu.
Sayangnya tidak saya foto, tapi kalian bisa membayangkan seberapa besar cermin raksasa yang saya maksud.
Gara-gara cermin gede itu, para tamu kadang kecele, dikiranya pintu padahal cermin biasa hehe. Saya juga kadang suka narsis foto di depan cermin itu karena full body.
Lalu di bagian kiri dari gambar ini tuh sebenarnya ada sekat ruang kecil. Kentara kan? Ruang itu dulunya dipakai untuk shalat individual, tapi sekarang nggak dipakai apa-apa, hanya untuk menaruh layar LCD Bapak dan beberapa keramik serta barang kecil lain.

Ini adalah semacam gerbang, akses dari ruang tamu menuju ruang keluarga+dapur.
Lukisan di atasnya itu udah diganti kaligrafi Ayat Kursi. Dan lukisan di atas ini diungsikan ke lantai dua.
Lukisan rusa ini bisa nyala looh, ada suaranya pula, persis seperti situasi yang ada di lukisannya, hehe.

Nah inilah ruang nonton. TV-nya sekarang sudah ganti LED. TV yang lawas di foto ini diungsikan ke lantai dua, menggantikan TV pada foto saya sebelumnya itu loh.
Tangga inilah yang mengarah ke lantai dua. Di bawah tangga ini dibikinkan konsep lemari. Dua paling depan itu tempat baju-baju kerja Bapak dan baju formal Mama, terus lemari selanjutnya itu tempat sepatu dan tempat pompa air diletakkan (airnya pakai air bor, jadi mesinnya kalau mau dinyalain harus buka lemari paling kecil di bawah tangga itu).

Nah ini penampakan ruang tamu yang baru. Lukisannya kaligrafi. Ini saya ambil beberapa bulan lalu saat masih kerja. Tiap mau berangkat kerja/ngajar di kampus, saya selalu duduk sambil memandang ke teras luar, hehehe.
Yang saya suka dari ruang tamu karena tembok cor atasnya dicat warna hijau pupus (hijau kan warna kesukaan saya hehe).

Nah ini juga foto ruang tamu yang baru saya unggah beberapa bulan lalu waktu masih ada di Parepare.
Lukisan di sebelah kiri itu adalah lukisan ka'bah besar yang Mama beli waktu naik haji.

Ini penampakan kamar saya. Foto ini saya unggah sudah lama.
Di kamar saya tidak banyak perabotan. Cuma ada bufet, spring bed, lemari box dan lemari belajar.
Simple, ya kayak orangnya hehe

Ini diunggah oleh mahasiswi saya pake hapenya waktu kami lagi JJS ke belakang kompleks saya.
Mereka sering mampir panggil saya jalan-jalan bareng ke pantai kalo ada waktu senggang.

Nah ini jalan yang saya ceritakan barusan. Jalanan ini yang menghubungkan kompleks rumah kami dan beberapa kompleks rumah baru di sekitarnya dengan pantai dan pasar Lakessi.
Kalau jemput Mama dari pasar, saya pasti lewat sini terus doong, kan jalan pintas sekalian cuci mata.

Ini saya dan mahasiswi waktu lagi JJS tahun lalu.

Inilah sekelumit kenangan yang saya punya di Parepare. Kenangan akan surga yang saat ini harus kami tinggalkan untuk mengecap kehidupan yang lebih besar lagi di kota Malang, tempat lahir Bapak.

Keputusan pindah ke Malang memang bukanlah hal yang tergesa-gesa. Sudah Bapak kami pikirkan sejak belasan tahun lalu dan baru kesampaian 2012 akhir lalu. Bapak pindah duluan sembari mencari rumah baru di Malang, disusul adek saya yang cewek kuliah di UMM juga. Sedangkan saya, Mama dan adik bungsu masih di Parepare karena kemarin saya masih ada kontrak kerja dan adik saya yang cowok masih SMA.

Hari ini, kami berlima berkumpul di rumah baru (di Malang). Belum ada perabot, masih berantakan jadi lebih baik tidak saya foto hehe.

Saya memang tidak tega meninggalkan Parepare. Selain karena itu adalah kota kelahiran saya dan adek-adek, banyak sekali peristiwa yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, terjadi dan membekas di sana. Teman, sahabat, makam Mbah dan mahasiswa harus saya tinggalkan.

Saya pernah bergumam dalam hati, seandainya saya punya uang ratusan juta, tentu saya akan membeli rumah kami yang dulu. Saya tidak akan ingin menjualnya kepada siapapun, meski kami telah pindah. Saya ingin menjaganya sebagaimana menjaga seluruh kenangan yang terprasastikan di sana. Tak ada satupun orang asing yang akan saya biarkan untuk menyentuh rumah itu. Tak ada.

Tapi, mungkin... ini hanya angan. Walau berat, saya dan kami sekeluarga mencoba untuk ikhlas. 

Sampai kapanpun, H 29 akan selalu di hati, tak akan pernah terganti. 

Selamat tinggal H 29. 

Semoga kau menemukan jodoh penghuni baru yang dapat menjagamu seperti kami menjagamu, yang dapat merawatmu sebaik-baiknya sebagaimana kami merawatmu, yang bisa melindungimu dan bisa menegakkan nama baikmu selayaknya kami dulu melakukan hal itu padamu. Juga untuk pohon Belimbing yang buahnya berbuah terus, semoga bisa memberi kehangatan untuk penghuni baru. Serta untuk pohon Salam yang daunnya tak henti bertumbuh, yang sudah membantu menyembuhkan banyak orang, yang berkahnya tak henti dirasakan seluruh tetangga dan masyarakat luar Soreang, semoga bisa tetap hidup hingga akhir hayatnya tiba.

Aku rindu
Sangat rindu
Kelak jika ada kesempatan dan kehenda-Nya
Akan kurebut engkau kembali
Berapapun hargamu, akan kubayar
Karena harga berapapun itu tentu tak dapat menandingi nilai yang sebenarnya
Tapi, jika kenyataan tak sesuai harapan,
Aku akan terus mengenangmu
Sesekali akan kukunjungi dirimu ke sana
Ke telatah Parepare sambil menyaksikan keindahan sunshine dan sunset dari pantai belakang rumah, lagi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “A Place to Remember Giveaway”

http://nurulnoe.com/a-place-to-remember-give-away/