Pages

KECERDASAN PEREMPUAN



Kita selalu mendengar
Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua
Atau mendengar ini...
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga
Tapi...
Tahukah kau ada yang lebih pandai dari tupai atau si penyelundup bangkai?
Ya...
Perempuan lebih pandai dibanding mereka semua
Mengapa?
Perempuan itu cerdas
Perempuan pandai mengubur kekaguman sekaligus kecintaannya pada seseorang
Menatanya dalam titik pusat labirin yang selalu sulit untuk dicari
Menanamnya dalam sebidang hati tak terbaca
Hanya ia dan Sang Pencipta saja yang paham

Namun, perempuan juga mudah rapuh
Ketika cemburu membakar dirinya
Ia sering tak sadar telah menumpahkannya secara frontal, mungkin juga brutal
Anehnya, sekalipun tak berdaya untuk memiliki
Rasa negatif ini muncul begitu saja tanpa aba-aba

Seperti nasihat dari salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Ali bin Abi Thalib, "Wanita mampu memendam perasaan cinta selama 40 tahun, tetapi tidak mampu memendam rasa cemburu walau sesaat."




(images from rizkyekawahyuni's blog)

LAGU BISA MENYESATKAN

Pernah dengar atau pernah tahu lagu Gloomy Sunday yang heboh di era 1940-an? Ya ya ya.... lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz, Billy Holiday ini menuai kontroversi  karena di Inggris dan beberapa negara lain, banyak korban berjatuhan akibat bunuh diri setelah mendengarkan lagu ini. Ada yang bilang suara si penyanyinya seolah mampu menyihir dan menghasut untuk bunuh diri. Huaaah...tapi memang liriknya itu ngenes banget sih.

Bukan cuman lagu Gloomy Sunday, Nina Bobo juga ternyata menyimpan misteri. Beberapa minggu lalu, saya pernah membaca postingan seseorang di Facebook mengenai misteri lagu Nina Bobo ini. Hiii... menurut penjelasan dari artikel itu, kalau nyanyiin lagu Nina Bobo sama aja kayak manggil arwah si Nina. Hiiii sereem yaa.

Baru dua atau tiga hari kemarin gitu, di grup WA akhwat LISFA (grup yang terdiri dari seluruh akhwat yang pernah tergabung dalam lembaga rohis zaman S1 dulu mulai dari angkatan baheula sampai angkatan terkini), saya memperoleh pemberitahuan dari salah seorang akhwat yang dulu pernah jadi MR saya. Beliau menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati terhadap salah satu lagu Barat. Saya nggak usah sebutin deh judulnya. Tapi, senada dengan lagu Gloomy Sunday, lirik lagu yang ini nih ternyata bisa menyesatkan kalau disenandungkan apalagi dihayati. Parahnya kalau orang yang dengerin lagu ini sok-sok English tapi nggak tahu artinya apa, bisa-bisa.....

Salah satu bagian liriknya seperti berikut ini:

There's no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I'm makin'
Will keep you by my side
And keep you from walkin' out the door

Sebagai seorang yang punya keyakinan agama, terutama Islam (karena saya muslimah jadi saya pakai sudut pandang agama sendiri), lagu ini bisa menyebabkan orang murtad loh. Naudzubillahi min dzalik. That's why, kenapa pada postingan sebelumnya mengenai lagu juga, saya udah pernah bilang kalau musik dan Al-Qur'an itu bisa saling mengusir. Ketika seseorang lebih banyak mendengarkan plus menyanyikan lagu, hapalan Al-Qur'an yang ada dalam hatinya lama-kelamaan bisa saja terkikis. Ini udah hapalan Al-Qur'an, gimana kalau udah keimanan seseorang? Wiiiiw.... haduuh parah..parah....

Bagi teman-teman yang masih suka denger lagu, hati-hati saja apalagi yang cinta banget sama lagu Barat atau Korea yang notabene berbeda bahasanya. Kalau udah suka sama sebuah lagu, mending cermati dulu arti tuh lagu apa sih. Kalau udah tahu liriknya bisa menyesatkan walaupun musiknya aduhai, mending tinggalin.

Itu saja sih yang mau saya sampaikan. Sekali lagi, hati-hati. Lebih baik, kurangi atau tinggalkan. Mungkin agak sulit ya untuk benar-benar menghindari lagu. Ketika kita pengennya nggak dengerin lagu tapi di satu tempat (di restoran, kafe atau lainnya) ada yang muter lagu, yaa kita juga nggak bisa seenaknya melarang mereka. Tapi, minimal kalau lagi sendirian, lagi sedih, jangan biasakan menyembuhkan luka batin dengan mendengarkan lagu. Lebih baik, mulai dari sekarang biasakan diri ketika sedih atau banyak masalah, larinya dengan cara yang baik dan positif seperti membaca buku-buku bermanfaat atau sekalian membaca Al-Qur'an, ambil wudhu dan shalat.

GURU BAGI BUAH HATI

Hari ini karena lagi halangan, udah beberes-beres trus bosan mau ngapain. Akhirnya baca-baca aja. Meskipun dalam bentuk ebook, tapi saya udah baca berkali-kali. Niatnya sih bisa memetik ilmu sekaligus mudah-mudahan ada yang nancep gitu di hati dan pikiran biar kelak bisa mengamalkan.

Buku yang saya baca adalah Parenting Nabawiyah karya Ust. Budi Ashari, Lc (Host Khilafah Trans7). Salah satu bagian penting yang membuat saya tertarik untuk menulisnya adalah poin mengenai anak. Ini bagian yang udah pernah saya baca tapi saya lupa, jadi saya baca lagi dan baru saya ngeh. Saya baru menyadari apa yang saya baca ini secara kebetulan sama dengan salah satu misi rahasia yang pernah saya tulis.

Apakah misi saya itu? Salah satu misi saya ketika berkeluarga nanti adalah ingin menciptakan generasi cinta Al-Qur'an. Ini pas banget sama kisah Umar bin Abdul Aziz yang saya baca itu. Gini ceritanya....

Pada Jumat dini hari, sebelum masyarakat datang berkunjung, seperti biasa Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan semua anaknya. Sekadar informasi, beliau itu punya empat istri dan anaknya berjumlah 17 orang. Duuh masyaallah sweet seventeen gitu ya jumlahnya hehe. Ketujuh belas anaknya itu pun berkumpul bersama Umar. Ada Ishaq, Ya'qub, Musa, Abdullah, Bakar, Ummu Amar, Ibrahim, Abdul Malik, Walid, Ashim, Abdullah, Abdul Aziz, Yazid, Zayyan, Aminah dan Ummu Abdullah. 

Setelah semuanya berkumpul, Umar pun memulai tadarrus Al-Qur'an. Dimulai dari anak tertua kemudian dilanjutkan oleh adik-adiknya. Jadi, semuanya membaca Al-Qur'an secara bergantian. Sementara itu, Umar menyimak bacaan Al-Qur'an dari anak-anaknya dengan khidmat, ta'dhim dan sungguh-sungguh.

Subhanallah ya punya ayah sekaligus suami seperti Umar bin Abdul Aziz. Udah tahu beliau kerjaannya banyak, agenda reformasinya dan kiprahnya dalam pemerintahan juga sangat banyak. Walaupun demikian, Umar selalu nyempatin waktu bagi anak-anaknya. Selain itu, walaupun Umar juga sudah memilihkan guru-guru terhebat untuk mengajarkan keilmuan atau apapun, beliau justru tetap merasa sangat perlu terjun langsung, menciptakan waktu berkualitas untuk mendidik serta melihat perkembangan keilmuan sang anak.

Kenapa saya mengelu-elukan sosok Umar dalam cerita ini? Saya pikir, sudah jelas jawabannya dari uraian di atas. Anak menuntut ilmu itu penting untuk kelangsungan hidupnya, agar anak bisa mandiri. Memasukkan anak ke lembaga pendidikan, baik itu sekolah negeri, swasta, homeschooling, pesantren atau lainnya itu juga penting. Tapi, peran orangtua juga nggak kalah penting. Orangtua kudu memantau apa saja yang dipelajari anak. Kalau perlu, contohilah Umar. Beliau bukan hanya sekadar mengajari tapi juga mendidik dengan tetap tidak melepaskan unsur-unsur ruhaniyah di dalamnya. Salah satunya dengan mengajarkan anak untuk membiasakan diri mengkaji Al-Qur'an, memberikan pemahaman atas apa yang dipelajari dan mengajak anak untuk mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Alangkah indah bukan bila anak-anak kita nggak cuma cerdas soal ilmu pengetahuan umum, melainkan juga dalam ilmu ruhaniyah. Biar gimanapun, Al-Qur'an itu adalah pedoman hidup yang seharusnya kita pelajari dan tanamkan sejak dini pada anak-anak.

Hebat nggak tuh kalau kita punya anak yang hafidz dan hafidzah. Walaupun misal orangtuanya cuman bisa hapal 1 Juz, anak-anaknya harus bisa lebih dari itu. Bukan cuman itu. Efek jangka panjang dari penanaman cinta Al-Qur'an pada anak ini masih banyak, terutama dari segi akhlak. Pasti pada ngiri kan pengen punya anak yang udah pandai ngaji, pelajari Al-Qur'an lebih mendalam trus mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari,. Betapa indahnya melihat akhlak-akhlak shalih/shalihah anak-anak kita yang konsisten mempelajari Al-Qur'an. Minimal anak bisa belajar doa untuk ibu bapaknya aja, maka itu bisa jadi modal tertolongnya orangtua dari azab api neraka berkat doa dari anak-anaknya yang shalih/shalihah.

Agar bisa mewujudkan generasi Qur'ani, sejatinya emang harus menciptakan nuansa Al-Qur'an dari lingkungan keluarga itu sendiri. Kalau mau punya anak cinta Al-Qur'an, baiknya ibu bapaknya harus demikian lebih dulu. Kalau ibu bapaknya nggak bisa baca Qur'an, gimana bisa ngajarin anaknya mengaji, gimana bisa maksimal menanamkan ajaran Qur'an pada anak. Sekalipun menyewa guru ngaji handal, bukankah masih lebih baik bila ortunya yang mengajarkan?

Eum kalau dari cerita Umar bin Abdul Aziz di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Umar adalah sosok yang bisa teladani oleh para suami sekaligus ayah di dunia yang menginginkan generasi cinta Al-Qur'an. Udah bukan zamannya seorang suami atau ayah gengsi ngajarin anaknya sendiri. Kalau perlu, ayah harus lebih pinter daripada guru anaknya di sekolah.

Sebagai penutupnya, Abdullah bin Umar memberi pesan untuk kita, "Kamu harus bersama Al-Qur'an, pelajari Al-Qur'an itu dan ajari anak-anakmu, karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang Al-Qur'anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah Al-Qur'an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal."

Gimana? Udah siapkah kita menjadi orangtua untuk anak-anak unggulan, generasi pencinta Al-Qur'an? Yuk, kita mulai dari diri sendiri dulu. Selagi masih single, perbanyak belajar Al-Qur'an. Kalaupun nggak bisa mentafsirkan, minimal pandai dan rajin ngaji juga baca dan serap terjemahannya dulu lah ya. Kalau sudah, pelan-pelan apa yang kita serap tadi, diamalkan dengan tulus dalam kehidupan sehari-hari. Bila perlu, sampaikan apa yang kita pelajari itu kepada orang lain. Sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Bismillah, semoga kita bisa meneladani sosok Umar bin Abdul Aziz. Bisa menjadi calon orangtua/orangtua yang mampu menjadi guru terbaik bagi buah hati. Aamiin.

*Jujur.. nulis ini, hati jadi ngerasa ada yang ngetuk. Berkaca lagi, perbaiki diri lagi, belajar lebih rajin dan lebih banyak lagi.

BERKAH DARI BELAJAR DAGANG

Alhamdulillah.. Belum lama ini, sekitar Agustus 2014 lalu mulai mencoba untuk berbisnis kecil-kecilan. Yaaah, meski masih tergolong reseller dan marketer tapi karena kedua job ini menyenangkan dan it's about syar'i fashion jadinya happy aja ngejalaninnya.

Dengan ngebuka nama olshop Griya Qafisha, saya jadi belajar banyak hal. Pas awal-awal jualan, saya sempat pesimis karena nggak pernah mengampu pelajaran bisnis dan sama sekali nggak punya skill handal dalam berbisnis. Tapi, karena niatnya emang pengen belajar biar kelak ada pegangan, akhirnya sedikit demi sedikit jadi banyak hal yang saya tahu.


Awal-awal jualan jilbab tuh, yang ngantre beli adalah teman-teman kelas. Belinya nggak cuman satu orang, tapi beberapa. Mulanya, biar ada yang tertarik, saya juga memakai produk yang saya jual agar lebih meyakinkan. Nah, semenjak pakai produk-produk tersebut sendiri dan dilihat sama teman-teman kelas, akhirnya yang lain pada tertarik mau beli. Entah itu karena warnanya yang menarik atau karena dari mereka emang bener-bener pengen berhijab syar'i. Jadi, pas matrikulasi September lalu, saya ke kampus sambil bawa barang dagangan. Nggak cuman jilbab, tapi juga gamis. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa belajar untuk berdagang. 

Sampai-sampai nih si ketua kelas kami, si Mamat sama semua teman-teman cewek di kelas terkekeh dan tersepona (terpesona) tiap saya paparkan jenis-jenis kain dari gamis dan jilbab yang saya jual. Selama ini, mereka cuman tahunya beli, tapi nggak tahu nama bahannya apa. Jadi, kalau mereka membeli barang yang saya jual, saya juga ngasih tahu nama kainnya jenis ini, enak apa nggaknya, sifatnya gini gitu dan segala macam. Nah, setidaknya nambah pengetahuan di saya juga para konsumen sehingga kesannya nggak buta soal fashion lah.

Saya juga bersyukur, berkat belajar berbisnis ini, saya sedikit demi sedikit bisa ngebedain mana bahan (kain) yang bagus dan berkualitas dan mana yang nggak. Saya juga udah nyoba membeli beberapa sampel dari barang yang "punya nama". Di antara barang homemade/branded lokal tersebut, rupanya ada yang cuman menang di pamor nama aja tapi aslinya bahan yang dipakai masih kalah jauh sama yang harganya justru lebih murah dari itu. Makanya ukhtina, kita sebagai konsumen juga kudu pinter milih. Jangan mentang-mentang namanya terkenal. Si pemilik yang personal brandingnya melejit itu belum tentu menang dengan homemade yang namanya nggak terkenal banget-banget loh.

Kalau terhitung sampai sekarang, kira-kira udah 5 bulan lah ya saya jualan. Alhamdulillah barang yang saya order dari owner laris semua jadi untungnya juga banyak. Tapi, saya langsung menggunakan keuntungan tersebut untuk biaya kuliah sih soalnya keuangan saya lagi menipis. Euuung... nah ini mungkin bisa saya masukkan sebagai list kelemahan. Saya sih awalnya mikir, sebaiknya keuntungan dari hasil penjualan bisa saya tabung dan nggak langsung dipakai. Tapi karena kebutuhan kuliah sangat membludak, saya belum mampu deh nahan godaan untuk nggak langsung memakai keuntungan tersebut.

Untuk orderan selanjutnya, saya juga mix sama modal yang dikasih Mama. Tapi, kalau misalkan barang tersebut laku terjual, modal+untungnya yaa saya kasih ke Mama. Ada sih sekali aja saya minta untungnya soalnya waktu itu juga Mama yang nawarin. Rezeki masa' ditolak, hehehe. Trus selanjutnya yaa saya kasih Mama aja.

Banyak deh hal yang saya peroleh dari belajar berdagang ini. Alhamdulillah juga, awal tahun 2015 ini banyak orderan yang datang yaa meski banyaknya belum sebanyak orderan olshop yang udah melanglang buana.  Harapan selanjutnya, semoga saya bisa menekuni proses belajar ini sampai seterusnya, sampai nanti udah nikah, udah punya anak. Kalau perlu, saya pengeeeen banget bisa bikin produk sendiri. Heum, karena nggak pinter desain, jadi cara untuk buat produk sendiri yaa nyari partner yang pinter desain. Saya punya teman baik yang pinter desain waktu kuliah cuman sayangnya dia udah balik ke Flores. Yaah... rencana ini mungkin akan saya pikirkan nanti ketika udah nikah. Sekarang, saya belajar sendiri dulu soalnya juga masih pemula, masih banyak ilmu dan skill yang harus saya tempa.

Saya juga ngucapin banyak terima kasih buat mbak-mbak partner saya sekaligus para owner yang punya barang, udah baiiiiik banget. Udah beberapa kali order, makin banyak dikasih diskon, pelayanannya juga ramah dan sigap. Semoga nanti saya bisa menjadi seperti mereka hihi aamiin ^^.

Makasih juga buat para pelanggan yang udah belanja di Griya Qafisha. Oiya, Griya Qafisha lebih aktif via bbm. Jadi, bila ada yang mau berbelanja, silakan invite pin bb kami ya 736afa60. Orderannya saya alihkan ke bbm karena mumpung always on wifi di rumah dan kampus jadi dimanfaatin bener dah tuh nikmat Allah :D.

GHIBAH MEMUTUS SILATURAHMI

Senin kemarin di kelas profesi sedang heboh membahas argumen terkait figur yang menjadi buah bibir.

Ketika heboh terdengar omongan miring mengenai seseorang, teman-teman lain yang awalnya tidak paham, akhirnya harus mendengar.

Jujur, saya beruntung memiliki teman-teman (yang biasanya kami duduk dalam barisan kursi yang sama dan yang paling sering diajakin bertukar pikiran) baik dan bijaksana. Terus terang, kami sebenarnya risih ketika di sekeliling kami terdengar beragam ghibah mulai A sampai Z. Akhirnya, selasa kemarin, mbak yang biasa kami panggil "ibu" (soalnya usianya lebih tua dan udah punya dua anak serta lebih dewasa daripada semua) serta "tante" (mbak yang udah punya anak satu tapi masih agak muda usianya) memberikan nasehat kepada kami.

Benar juga. Apa sih yang kami ketahui? Padahal, tidak begitu dekat dengan orang tersebut meski memang orang tersebut pernah berbuat salah.

Beberapa dari kami yang kontra dengan omongan miring tersebut sungguh sangat kecewa. Kecewa karena ghibah tersebut ternyata disebarkan oleh teman baik dari orang yang menjadi buah bibir. Seperti kisah dalam sinetron Jilbab I'm in Love yang sering kami nonton tiap maghrib. Kok ada ya yang udah lama berteman bahkan bersahabat, tapi sering su'udzan bahkan tega membuka aib temannya sendiri kepada teman/orang lain yang sama sekali belum mengenalnya.

Menurut kami, jika memang apa yang dibincangkan tentang orang tersebut adalah benar, tidak seharusnya diberitahukan pada orang lain. Saya juga hampir saja termakan oleh ghibah itu kalau saja tidak ada teman-teman baik dan bijak seperti si ibu dan si tante yang menguraikan nasehat mengenai hal tersebut kemarin. Saya pun berpikir ulang, memang betul bahwa kita tidak boleh seenaknya men-judge seseorang hanya karena salah satu sikapnya yang kurang baik.

Seharusnya, kita saling mengingatkan
Bukan dengan menusuk dari belakang
Seharusnya, kita saling mengajak untuk berbenah diri bersama
Bukan dengan menyudutkan satu atau beberapa pihak yang tersalah
Seharusnya, kita bisa melihat orang yang memiliki salah tersebut dari sudut pandang lain
Memang, sikapnya tak mengenakkan hati
Namun, bukankah lebih baik jika tidak diadakan ghibah disertai kebencian yang mendalam sampai ingin menjauhinya
Jika sudah menjauh, bisakah kita bayangkan bila berada di posisinya

Saya pernah merasakan hal itu
Mengalami saat berada di posisi terpuruk, menjadi buah bibir ketika masih sekolah
Dijauhi teman-teman hanya karena satu oknum yang menyebarkan berita salah tentang saya
Rasanya sakit? Tapi, saya berusaha untuk terus memaafkan bahkan berani meminta maaf pada orang yang sudah memfitnah saya. Mungkin, saya kurang mengoreksi diri sehingga terjadilah fitnah itu atau mungkin waktu sekolah dulu, saya pernah menyakiti hati yang memfitnah. Semua bisa saja diselidiki makna di baliknya asalkan mau tekun mengoreksi diri.

Tak habis pikir...
Mengapa belakangan ini banyak terjadi ghibah?

Dari uraian ini, saya bisa menyimpulkan agar kita lebih selektif dalam mencari teman.
Bukan berarti kita memblokir diri dari semua teman.
Kita tetap harus menghormati teman atau siapapun yang ada di sekitar kita
Namun, untuk bersahabat, sebaiknya pilihlah teman yang benar-benar sholeh, bukan sekadar baik
Sebab, teman adalah cerminan tentang siapa diri kita
Kita bisa dinilai dari siapa teman kita, dengan siapa kita bergaul dan berbincang setiap harinya
Jadi, jangan asal pilih teman dekat deh ya

Kita juga harus berhati-hati ketika mempunyai teman (biasa) yang hobinya menceritakan aib orang lain. Sebab, tidak dimungkiri, suatu hari, nama kita bisa saja akan menjadi salah satu bagian dari ghibahnya. Ini ada kok dalam hadits (hehe saya lupa bunyinya).

Semoga kita bisa menjaga lisan kita ya
Sungguh, manusia itu tempatnya khilaf dan salah
Saya pun manusia jadi sangat mungkin untuk berbuat salah dan khilaf
Yang terpenting adalah, ketika berbuat salah, kita berani menyelami diri, mengakui, mengoreksi dan berbenah (berubah).

AYAH, JANGANLAH BERSEDIH

Ini adalah request-an dari Mbak Icha. Ngapunten kalo postingannya telat. Kalau request-an yang ini bisa dibilang curhat gitu ya, hehe.

Beliau bertanya seperti ini:

"Bapakku adalah salah satu orang terpandang dan cukup di'orang'kan di daerah tempat lahirku. Meski pas pas an tapi bapakku mampu menyekolahkan 7 putra putrinya sampai S2.

Nah sejak awal tahun bapakku jatuh sakit yang tak kunjung sembuh, wah complicated lah, keluar masuk rumah sakit, operasi dll. Karena bapak sudah tidak bekerja maka semua biayanya di tanggung anak-anaknya.Nah selama sakit bapak selalu menangis, merasa sudah tua, merasa sudah mau (naudzubillah) mati, tapi merasa belum tuntas dalam menyelesaikan tugasnya sebagai seorang bapak. Karena kakak laki-lakiku meski sudah mapan belum menemukan jodohnya jadi blm menikah. Aku (satu-satunya sisa anak perempuan) sudah punya pacar tapi belum juga dilamar karena masih banyak hal yang membuat aku blm menikah dan satu lagi adikku yang masih kuliah.Sepertinya 3 hal itu selalu membuat bapakku menangis..... lah kita sebagai anaknya sudah berusaha semaksimal mungkin menenangkan bapak, menyemangati agar yang penting sembuh dulu. Karena sekeras apapun kita berusaha jodoh untuk mas ku dan aku adalah di tangan tuhan. Tapi bapak tidak seperti bapak yang dulu, yang semangat yang optimis yang ceria, kini sedikit sedikit haru, lalu menangis. oya mak.. aku 7 bersaudara.. empat saudaraku sudah berkeluarga. tinggal 3 yang belum berkeluarga ya itu yang menjadi pikiran bapakku. Aku, mas atasku pas dan adikku yang sedang skripsi. umurku 26 tahun :D."

----
Kalau saya tangkap, inti ceritanya itu soal kegelisahan Bapak dari Mbak Icha karena persoalan jodoh kalian ya?

Ayah manapun dan siapapun itu pada umumnya memang akan mengalami hal seperti yang Bapak Mbak rasakan/alami. Tak peduli beliau masih mampu menghidupi anak-anaknya, tak peduli gimana pun statusnya, tak peduli beliau mengalami sakit atau tidak.

Ayah itu adalah laki-laki, kan? Laki-laki itu biasanya agak sulit untuk mengeskpresikan atau mengungkapkan kegelisahannya secara detil kepada orang lain, pun pada anak-anaknya sendiri. Ayah juga adalah kepala keluarga. Jadi, sampai kapanpun, seorang Ayah bakal ngerasa "bersalah" kalau belum mampu mewujudkan kebahagiaan anak-anaknya meski nyatanya beliau udah tak perlu dipertanyakan seberapa besar jasanya sejak anak-anaknya dilahirkan.

Kekhawatiran Bapak si Mbak yang terbesar itu karena dia sedang sakit. Khawatir beliau keburu tutup usia, makanya mengamanahkan pada kalian agar segera mencari jodoh. Itu hal yang wajar. Kesedihan yang dirasakan pun sangat wajar.

Jadi, kalau boleh ngasih saran. Upayakan semaksimal kemampuan kalian untuk memenuhi permintaan si Bapak. Wallahu'alam, bisa jadi itu adalah permintaan terakhir sebelum beliau "pamit".  Bapak khawatir karena kakak laki-laki belum juga menikah. Bapak juga khawatir karena Mbak Icha tak kunjung mendapat kepastian arah hubungan dengan sang pacar. 

Jodoh itu memang akan selalu ada di tangan Tuhan, Mbak. Tapi, jika nggak ada ikhtiar/usaha, maka selamanya hanya akan bertengger di tangan Tuhan. Buat kakak laki-lakinya, coba deh Mbak bantuin untuk menjodohkan Mas-nya dengan seorang kenalan. Atau, bisa juga meminta bantuan kerabat keluarga maupun ustadz/ustadzah untuk mencarikan seorang wanita yang layak diperistri oleh si Mas. Jangan lupa, tanyakan juga kepada si Mas, dia maunya perempuan dengan kriteria khusus apa. Sehingga akan lebih mudah nyarinya selain mempertimbangkan agama dan akhlaknya.

Buat Mbak. Mbak sudah punya pacar. Pacaran itu memang bukan jaminan mutlak akan berakhir ke pelaminan, stag di tengah jalan dalam waktu yang lama atau mungkin kandas. Jadi, kalau memang Mbak merasa sudah siap untuk menikah (tanpa adanya keterpaksaan karena permintaan ortu), alangkah baiknya, tanyakan ke pacar Mbak, kapan dia akan memberikan kepastian mengenai akhir perjalanan kalian. Kalau terlalu lama pacaran atau menunda untuk pacaran dulu dalam waktu yang makin tak terhitung, juga tidak baik (kalau Mbak adalah seorang Muslimah). Yang melamar lalu digantungkan dengan jawaban penantian saja, tidak disarankan begitu karena bisa menimbulkan fitnah apalagi bagi mereka yang pacarannya udah lama.

Jadi, Mbak juga harus tegas kepada sang pacar. Jika memang sang pacar merasa belum siap, apakah Mbak sanggup menanti dalam waktu yang lebih lama? Sementara di sisi lain, ketidakpastian itulah yang membuat si Bapak jadi merasa bersalah dan "sakit". Seorang laki-laki sholeh yang benar-benar berani mencintai seorang perempuan itu, tidak akan memacari perempuan tersebut. Laki-laki pemberani itu adalah mereka yang sangat berpegang teguh pada janjinya. Kalau mereka siap mencintai, pasti mereka hanya akan memilih di antara dua hal ini: menikahinya atau melepasnya untuk pria lain yang sudah siap.

Maaf, Mbak, bukan maksud saya menggurui. Tapi, saya hanya menjelaskan apa yang saya pelajari dari bingkai Islam. 

Jadi sekarang, sembari ikhtiar dengan jalan yang tepat, Mbak bisa nyambi istikharah dan terus berdoa untuk si Bapak pula agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Mintalah pada si Bapak untuk bersabar barang sebentar. Kalau pacar Mbak sudah ada kepastian, maka disegerakan saja untuk diperkenalkan lebih dalam lagi mengenai niat menikah kalian kepada si Bapak. Mungkin, itu bisa mengurangi sedikit dari kegelisahan beliau.

Cukup sekian dulu penjelasan dari saya ya Mbak. Kalau ada yang ingin ditanyakan lagi, monggo. Maaf kalo masih banyak kekurangan. Terima kasih atas request-annya ^_^

Best regards,


HATI DAN LIDAH

"Hati itu laksana periuk yang mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisan itu ibarat alat ciduknya. Maka lihatlah kepada seseorang ketika berbicara karena lisannya menciduk apa yang terdapat di dalam hatinya, dia bisa manis asam, tawar, asin dan sebagainya. Dan, yang menjelaskan kepadamu, tentang keadaan hatinya adalah cidukan (ungkapan) lisannya."

(Dalam Mukaddiman Shahih Muslim, dikutip dari Buku Misteri Lidah Manusia karangan Nurul Mubin)