Pages

COMPARE YOURSELF TO OTHERS IF...

"I will not reason and compare; my business is to create"
-William Blake-



It's natural to compare ourselves to others but sometimes it makes us unhappy even if we have enough with what we have or done. Banding-membandingkan ini saya yakin sih itu jadi salah satu pencetus kemunculan pepatah bahwa rumput tetangga lebih hijau. CMIIW. kidding.

Merasa karir masih di situ-situ aja sementara teman-teman lain sudah sampai pada level tertinggi. Merasa bahwa pasangan orang lain jauh lebih perhatian daripada pasangan sendiri. Merasa bahwa teman sudah sidang skripsi/tesis sedangkan diri sendiri masih mandeg di proposal. Merasa bahwa anak sendiri belum bisa say mama or papa sementara bayi anak orang lain udah bisa ngoceh banyak kata. Merasa bahwa hidup diri sendiri jauh lebih sulit sedangkan orang lain berlimpah bahagia. Sampai kapanpun proses membandingkan yang berlangsung itu gak akan membuat kita get well or enough. Semakin banyak kelemahan yang dicari-cari maka akan semakin banyak pula pembanding yang jauh lebih baik di luar sana.

Sebagian pakar, peneliti, penulis dan coach yang pernah saya dengar mengatakan bahwa yang namanya iri dan cemburu itu adalah hal yang dapat merusak diri sendiri dan merupakan suatu tanda insecure terhadap apa yang diirikan atau dicemburui. Tapi kalian pasti tahu kan bahwa iri itu juga punya bentuk positif. Nah, kalo cemburu? Ternyata cemburu juga ada dua jenis; reactive and suspicious jealousy. 

Bedanya iri sama cemburu itu apa? Iri itu adalah wanting what someone else has. Sedangkan cemburu adalah when we worry someone will take what we have. Oke jadi jelas ya bedanya apa?

Lalu yang mau dibahas di sini apa? Kita bahas iri dulu ya.

Iri itu adalah emosi dimana seseorang menjadi "terluka" karena melihat keberuntungan justru berpihak pada orang lain, bukan pada dirinya. Iri ini muncul karena ada komparasi sosial.  Komparasi ini terjadi ketika orang lain yang diperbandingkan itu dipersepsi memiliki persamaan yang  nggak jauh beda dengan diri sendiri seperti misalnya kita iri dengan teman yang berhasil juara kelas padahal sekolah di tempat yang sama dan sama-sama mendapatkan fasilitas serta pelajaran yang setara. Dengan kata lain, iri itu muncul karena self-view yang kita buat berdasarkan kacamata why someone else being better off.

Waktu sekolah dulu dan penelitian belum berkembang pesat kayak sekarang ditambah akses teknologi especially bisa browsing ke mbah gugel pun masih jauh dari realita (konon, saya sebagai anak generasi Dilan dan Milea taunya ya masih ada wartel, hape juga masih jadul yang orang Parepare bilangnya hape pelempar mangga saking bodi hapenya yang berat, ke mbah gugel aja masih harus nyari PC di warnet, jaman dulu warnet isinya ya masih dipake buat game online, dan pas punya laptop pertama waktu SMA dulu tahunya cuma MS Word doang bahaha). Jadi akses ke ilmu pengetahuan yang lebih mendalam juga masih minim. Kalau dulu mah, iri itu di mana-mana konotasinya negatif, jelek, nggak boleh, dosa, de es be. Eh, ternyata makin bertambah usia, makin melek pengetahuan dan makin lancar akses informasi, baru tahu deh saya kalau iri itu udah pernah diteliti dan nggak cuma ada sisi negatif tapi juga ada positifnya.

Jadi gaes, dari penelitian yang dilakukan oleh Van de ven, Zeelenberg dan Pieters pada tahun 2011 dan studi oleh Gersman pada 2014 menemukan bahwa iri itu ada dua macem, iri yang sifatnya destruktif dan ada pula yang sifatnya improving. Dari penelitian itu, iri yang bersifat destruktif itu disebut Malicious envy kalau bahasa jermannya Misgonnen. Sedangkan iri yang sifatnya membangun itu disebut Benign envy atau dalam bahasa jerman Beniden.

Benign envy ini berdampak positif karena saat seseorang melihat rekan lain bisa mencapai target yang lebih baik, lebih berprestasi dan lebih lebih lainnya, maka hal tersebut dipandang sebagai pemicu diri untuk lebih semangat. Ya, semangat untuk meningkatkan performa, meningkatkan kualitas dirinya, aktif melakukan perbaikan dan pengembangan diri sehingga bisa menyamai atau bahkan melebihi diri orang lain yang jadi pembandingnya tadi.

Malicious envy justru sebaliknya, karena dalam malicious ini mengandung perasaan dengki sehingga saat melihat orang lain lebih sukses dari dirinya, ia merasa tertekan, frustrasi, enggan berusaha lebih, menghindari trial error, takut terhadap kegagalan dan keseringan mundur daripada mencoba. Hal ini disebabkan ia merasa nggak mampu menyaingi orang lain yang jadi pembandingnya. Hahaha... mungkin nggak sih, orang yang sampai berkata bahwa Tuhan itu nggak adil, kenapa orang lain ditakdirkan lebih sedangkan dirinya segitu aja juga bisa disebut iri yang malicious? Maybe ya.

Beberapa minggu yang lalu, di kampus kedatangan alumni angkatan 2010. Eh kebetulan aja si Bapak dosen mempersilakan si alumni ini buat ngisi di kelas. Dia itu sekarang lagi menjalani program magang agar bisa dapat "tiket" untuk beasiswa kuliah S3 di luar negeri, jadi magangnya itu di luar negeri juga (lupa di negara mana hahaha, ketahuan deh kalau nggak begitu perhatiin). Ngisinya pake ngomong Bahasa Inggris pula cas cis cus lancar jaya kayak Bus Sumber Kencono yang melaju secepaat terbangan Superman (mulai ngaco deh). Iya wajar sih soalnya ngisinya di kelas F (kelas bilingual kalau di Psikologi). Saya bahkan nyaris lupa kalau saya juga alumni kelas F,

Materi apa yang dibawakan oleh si alumni itu? Materinya seputar motivasi gitu dah gimana caranya supaya adek-adek kelas F ini bisa nentuin passion, purpose alias mau ke mana mereka dan apa yang ingin mereka ciptakan di masa mendatang. Meski pada akhirnya teori kadang nggak selalu berbanding lurus bin mulus dengan praktik di lapangan faktualnya, namun seenggaknya hal itu bisa melecutkan semangat belajar, biar nggak hobi alpha doang gitu di kelas ya kali aja. Buktinya juga ada satu di antara mereka yang dibebastugaskan penelitian skripsi karena berhasil mengikuti dan meraih penghargaan The Best Young Sociopreneurship Leadership Exchange gitu dengan catatan produk atau hasil karyanya kemaren itu tinggal digubah formatnya dalam bentuk skripsi aja.

Lalu, di akhir kata Bapak dosen ngasih semacam quote gitu yang bunyinya kurang lebih gini, "Kita hidup di tanah yang sama namun yang membedakan antara kita dengan lainnya adalah sejauhmana batas horizon kita berada."

Nah, apa hubungannya dengan bahasa iri tadi. Jadi korelasinya adalah, sebenarnya iri itu nggak masalah kok, nggak masalah jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain asal dengan catatan menjadikan pencapaian dan keberhasilan orang lain sebagai pecutan untuk giat berkarya, berusaha, berdoa mewujudkan apa yang menjadi tujuan dan cita-cita. Bukan hanya menjadi pengecut yang belum apa-apa udah bilang nggak bisa. Tapi coba sesekali menantang diri bahwa kita mampu menyamai atau bahkan melebihi orang yang pernah menjadi penyebab kita iri.

Kadang saya jadi mikir, apakah para motivator itu tercipta dan makin banyak menjamur karena dulunya mereka juga sama, berada di posisi yang persis kayak kita sekarang? Tapi dengan benign envy yang dimiliki orang-orang itu dan tentunya pengamatan dan pengalamannya bertemu dan berelasi dengan orang banyak akhirnya mereka bisa jauh lebih sukses daripada yang dulu. Bisa jadi sih.

Eh eh, saya jadi teringat dengan postingan Instagram simbak pembawa berita yang termashur itu. Postingannya panjang lebar namun intinya menyarankan pada generasi muda Indonesia untuk menemukan passionnya dan nggak hanya sekadar mau kerja sebagai PNS atau kerja di perusahaan ternama. Tapi, bisa menghasilkan sebuah karya abadi yang mempunyai daya pakai, daya jual, dan daya daya lainnya (apaan sih Ma) di masa depan. Lalu, postingan itu diserang bertubi-tubi oleh netizen. Netijen mikirnya seakan-akan simbak tadi banding-bandingin profesi ini dan itu dan akhirnya nggak terima kok dibanding-bandingin padahal tanpa adanya karyawan di perusahaan itu dan tanpa adanya PNS, ya proses perekonomian dan terlebih kehidupan mana bisa jalan. Kita memang perlu bercita-cita setinggi mungkin, kita boleh aja bermimpi menjadi seorang bos, tapi kita juga nggak bisa bekerja jika tanpa adanya bawahan dan di mana-mana tangga karir yang normal itu selalu dimulai dari level paling bawah dulu supaya bisa sampai ke puncak. Ah, simbak pasti paham namun mungkin sih, mungkin caranya mengemas caption terlalu berbelit-belit padahal maksudnya itu bukan untuk menjatuhkan profesi tertentu dan meninggikan derajat entrepeneur. Jadi, netijen pada salah paham kan yak bacanya.

Kadang juga saya mikir, mungkin ada benarnya kali ya teorinya si Adler itu bahwa seseorang sejak lahir mempunyai bawaan yang disebut dengan inferiority. Perasaan kecil, minder, nggak percaya diri ditambah dengan makin banyaknya komparasi yang dilakukan maka lama-kelamaan memunculkan effort untuk meraih superiority dengan cara masing-masing. Tapi kalau dibahas dari sudut pandang Fitrah Based Education, jelas jauh timpang. Kalau di FBE, dijelasin bahwa sejak lahir, manusia itu sudah mempunyai fitrah yang terdiri dari 8 macam, salah satunya adalah fitrah bakat dan kepemimpinan. Supaya seseorang bisa menjadi what they want to be and being as superior as its purpose, tinggal diasah dan diarahkan aja fitrahnya itu dan pastinya memerlukan "kepekaan" juga kerja sama dari berbagai ekosistem, nggak hanya dari orangtua tapi juga lingkungan sekolah, peer group, lingkungan sosial yang lebih luas dan sebagainya.



Pada akhirnya kita nanti nggak akan dikenal dan dikenang melalui apa yang kita makan dan apa yang kita pakai atau hanya sebatas makna artifisial, melainkan kita perlu mencari makna sebagai apakah kita ingin dikenal dan dikenang kelak.

Namun melihat realita jaman now, belom juga iri, komen baik-baik atau ngucapin selamat ke orang yang berhasil aja udah di-negative thinking-in, masuk ke lambe turah, netijen jadi julid. Pas udah iri, terjadilah perang dunia ke lima, main bunuh-bunuhan, perang-perangan sosmed, balas-balasan tik toh, eh..., saling blokir memblokir. Ah, itulah... sekarang tampaknya kok ya disepelekan banget, urusan komunikasi dan relasi jadi semudah menekan tombol ON dan OFF. Suka nggak suka dikit, iri nggak iri, tinggal Block.

Maka, irilah dan bandingkan dirimu dengan orang lain jika rasa iri itu dapat membangkitkan gairahmu untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya, not to impress others but to show it to yourself that you can and done it well.

(Next post mungkin bisa kita bahas untuk versi jealous-nya)

Sampai jumpa lagi

HOW TO HANDLE WORKPLACE CONFLICT

"Speaking without Thinking is like Shooting without Aiming." 
-Ancient Proverb- 


Long time no see...
Thanks for all my silent reader in here..
Sudah memasuki bulan Mei. So excited soalnya Mei itu adalah momennya si blog ini ulang tahun. Blog ini sejak Mei 2011 mulai beroperasi (tsaah... kek mau launching mobil aja ya pake kata beroperasi). Sekarang udah 2018 jadi udah 7 tahun. Wow... 7 tahun saya ngeblog meskipun dengan time schedule yang berantakan, maksud saya, udah mulai jarang-jarang ngeblognya karena harus multi-tasking.



Alhamdulillah tepat di bulan blog anniversary ini, saya juga udah dua bulan lebih bekerja di kampus. Kampus mana? UMM lagi cuy. Hahaha... Kalo ada yang bilang, kok di situ-situ aja sih? Kok nggak nyoba ke luar aja sih? Udah gans, tapi ya untuk saat ini rejekinya berlabuh di kampus sendiri. Yaa.. untuk saat ini saya berkiprah di sini dulu sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih saya kepada salah satu dosen saya (yang udah nawarin saya pekerjaan ini walaupun bukan dia pimpinan langsungnya). Alhamdulillah juga, status pekerjaan saya sekarang lumayan naik level dikit lah jadi instruktur lab psikologi dengan embel-embel universitas, which is setara dengan karyawan UMM pada umumnya. Karena masih baru, jadi SK-nya masih belum turun jadi belum bisa ngurus ID Card sama lainnya. But, it's seems..not bad lah, daripada saya luntang-lantung di rumah cuman ngerjain itu-itu aja.

Kok agak nggak nyambung sama judulnya ya.

Kembali ke topik yang mau kita bahas. Judul ini bukan semata-mata saya comot dari pikiran mentang-mentang karena saya udah dapat kerjaan, bukan juga pengen gibah karena ini lagi ramadhan (oya betewe, happy fasting ya) dan bukan juga karena saya mau sok-sok jadi pakar resolusi konflik. Bukan. Kepikiran buat nulis tentang topik ini karena... di mana pun kita kerja dan apapun pekerjaannya, pasti akan ada konflik. Konflik apakah itu? Pastinya berbeda tiap orang tiap lembaga tiap perusahaan.

Konflik adalah situasi dimana terdapat suatu ketidaknyamanan atau adanya tujuan, emosi atau kognisi yang tidak kompatibel di dalam sebuah perusahaan/lembaga/tempat kerja atau antara individu atau kelompok yang mengarah pada interaksi oposisi. Konflik bisa terjadi karena adanya ketidaksesuaian/pertentangan dengan pihak atau orang lain menyangkut kebutuhan. keinginan, persepsi, nilai, gagasan, sumber daya, minat, tujuan, kepribadian dan pendekatan dalam penyelesaian masalah. Dan... konflik adalah sesuatu yang normal terjadi sebagai bagian dari kehidupan berorganisasi, bekerja dan berinteraksi.

Di awal-awal semester genap ini, saya sudah menghadapi konflik. Sebagai instruktur yang tugasnya menjadi perantara dosen dengan mahasiswa, banyak hal yang bisa aja terjadi. Miskomunikasi terkait jadwal perkuliahan, RPS, hingga terkait cara mengajar dosen ditambah mahasiswa jaman now yang udah kalo ibarat Bon Cabe tuh mungkin udah di atas level 30. Why? Mahasiswa jaman now itu udah nyaris-nyaris setara aja sama seorang kritikus, apa-apa dikomen, dapat tugas dari dosen susah sedikit aja dikomenin, dikeluhin de es be de es be...Syukurlah mereka nggak kayak penyanyi dangdut yang ngomenin segala sesuatunya pake dilagukan. Padahal teknologi tu udah canggih. Antara instruktur, mahasiswa dan dosen udah diwadahi Grup Whatsapp. Eh, tapi ada aja alasan mahasiswa nih, yang kalo buka WA saking udah panjang banget notifnya jadi males baca. Ya, salah siapa dong kalo ketinggalan info???

Di semester ini, saya kedapetan matkul Tes Psikologi Lanjut yang isinya adalah praktikum tes proyektif. Dua dosen yang saya dampingi pun mempunyai karakter/ciri khas mengajar yang sedikit berbeda dibanding dosen-dosen lain dalam jajaran pengampu matkul itu. Jadi, saya awalnya juga udah nggak shock karena udah tahu jam terbang dosen-dosen tersebut dan pola pikirnya dan lainnya. Yang jadi konflik adalah bagaimana memenej supaya meskipun ada dosen yang keurutan RPS berbeda dari dosen lainnya, mahasiswa tetap memperoleh tugas yang sama dan jadwal praktikum seperti kelas yang diampu dosen lain.

Overall, semua bisa saya atasi. Mahasiswa pun udah paham, dan saya juga sering berpesan dan mengabarkan kepada dosen pengampu bahwa ketika mereka nggak masuk dan saya yang mengisi materi, saya selalu minta untuk dikoreksi apabila ada penjelasan saya yang nggak match atau menyimpang banget. Alhamdulillah dosen-dosen tersebut pun juga memahami bahwa meskipun saya udah S2 tapi nggak menutup kemungkinan kesalahan dalam penyampaian maksud dan tujuan iu muncul karena berbagai sebab.

Selain konflik terkait perkuliahan, saya pun juga merasakan (mungkin orang lain juga pernah merasakan hal serupa dengan saya) satu problem. I mean, problem antar pribadi. Sebenarnya nggak ada konflik yang gimana-gimana banget sih dengan rekan sekerja. Cuman secara personal dan di luar teknis pekerjaan, ada values dan persepsi yang mana saya nggak bisa match dengan rekan. Apakah itu? Berhubung saat ini badan saya masih kurus, jadi saya kerap mendapatkan "bualan" tentang body shamming di tempat kerja. Saya pribadi sih udah terbiasa dipanggil kurus, karena toh in fact, i'm thin. Namun, satu yang cukup saya pahami bukan berarti saya membenarkan "bualan" atau candaan dari orang lain adalah komponen kata yang dirangkai membentuk sebuah persepsi. Persepsi itulah yang membuat saya gerah. Iya, karena sungguh, saya juga pengen banget kok gemuk. Saya juga nggak tahu kenapa track record BMI saya jadi menurun meski udah makan dan ngemil banyak dan hepi aja. Mungkin karena riwayat kesehatan saya dulu yang buruk jadi efeknya baru terasa ketika saya benar-benar berubah jadi kurus.

Saya nggak bisa terima saat mereka berkata bahwa saya "memelihara cacing". Note it, tiap tahun saya minum obat cacing loh ya. Dan ada timing dimana saya memperbanyak buah-buahan bervitamin tinggi agar imun saya bisa terjaga sekalipun saya sedang sakit-sakitnya.


Saya juga nggak bisa terima saat mereka berkata bahwa saya "nggak doyan makan", "nggak doyan ngemil". What? Bahkan kalian boleh kok liat sendiri porsi saya sekali makan itu jauh lebih banyak dibanding orang gendut kalo lagi makan. Toh, mereka nggak tiap 24 jam penuh melihat saya kan, jadi di luar jam kerja, mereka juga nggak tahu kan saya makan apa aja dan berapa banyak.


Tapi lama-lama saya mencoba untuk "bodo amat" dengan persepsi mereka yang kayak gitu. Dalam hal ini saya mencoba sejenak berpikir pragmatis demi well-being saya sendiri. What? Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa lagi-lagi setiap orang punya "warna" nya sendiri-sendiri dan buat saya, kebahagiaan saya nggak boleh dicarut-marutkan hanya karena dan oleh omongan sarkas dan sinisme dari orang lain. Ya know mereka ingin juga menyampaikan maksud di baliknya semacam ada sisipan bahwa rumput tetangga (read: berat badan) orang lain jauh lebih hijau (read: ideal/bagus/bohai) daripada rumput sendiri. Tapi, kalo saya terus-terusan berpatokan pada hal itu, lalu saya nggak bahagia hanya gara-gara omongan itu, kapan saya mau hidup tenang? Iya nggak sih?

Saya bahkan selalu menampik dengan ujaran pujian untuk menghargai diri sendiri sambil berceloteh begini, "Ah, iya sekarang aku kan lagi latihan jadi girl band ala-ala korea gitu deh, yang BBnya sama semua."

Ada masanya bunga itu bersemi dan daun meranggas. Ada masanya pula kok saya bisa gemuk. Ya, saya yakin. Bisa gemuk suatu hari nanti dan nggak perlulah saya mengucap mereka akan terkesima melihat saya in the future. Hahahah... kepedean gueh.. Ini hanya menggurau aja kok supaya intimidasi tersebut nggak bakal ngefek ke persepsi saya terhadap diri sendiri. Atau dengan kata lain, saya nggak ingin membiarkan persepsi orang lain kemudian membuat saya benci pada diri sendiri.


Next, how to handle when workplace conflict exist?

Coba deh kalian baca salah satu buku terbitan McGraw-Hill tentang sumber dan resolusi konflik. Atau, kalo kalian pernah baca Five Conflict Management Style yang diidentifikasi oleh Thoman dan Kilmann, maka mungkin kalian bisa mencobanya tuh.


Conflict Management Styles | Michelle Bañuelos | Pulse | LinkedIn


Jadi, menurut Thoman dan Kilmann, gaya manajemen konflik itu ada 5 tipe. Nah, melalui 5 tipe tadi, kita juga bisa mengidentifikasi orang ini nih termasuk asertif ataukah kooperatif dalam memenej konflik (seperti gambar di atas tuh. Mau dibahas satu-satu nggak? Okke, kita bahas deh ya.

  1. Accomodating, Orang dengan tipe ini persis seperti slogan, mendahulukan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Dibilang ngalahan, nggak juga sih. Cuman lebih bisa membangun emosi yang positif dengan lebih mendengarkan apa yang dibutuhkan orang lain dan perusahaan, percaya bahwa relasi itu adalah hal penting daripada hal lainnya, dan pendekatan accomodating ini dalam penyelesaian masalah akan efektif apabila pihak lain sudah mempunyai solusi terbaik sehingga bisa beradaptasi dengan keputusan atau solusi yang disepakati bersama.
  2. Avoiding, tipe pendekatan dimana seseorang dengan ciri seperti ini tidak ingin terlibat dalam konflik apapun. Bagi mereka, saat ada konflik, mereka membiarkan orang lain yang memutuskan dengan catatan asalkan diri mereka nggak disangkutpautkan dengan masalah yang terjadi. Orang kayak gini juga cenderung mengutamakan keuntungan pribadi atas solusi yang ditetapkan oleh orang lain namun dirinya sendiri nggak mau berkontribusi.
  3. Collaborating, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang tidak berparadigma win and lose, buat mereka saat ada masalah, nggak ada yang untung atau rugi dan nggak ada yang menang dan kalah. Bagi mereka, bekerja/berusaha mencapai tujuan bersama dan "menang" bersama merupakan hal pokok. Orang kayak gini juga pandai mencari solusi yang dapat disepakati atau dapat bermanfaat bagi kepentingan bersama, mampu memantai ketika ada kres dalam relasi antar individu atau kelompok dan mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
  4. Competing, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak. Mereka ingin didengarkan dan dipenuhi kehendaknya tanpa memikirkan orang lain, nggak bisa diajak kooperatif alias keras kepala banget, mudah mengacaukan suasana dan relasi dan paradigma win and lose itu kepake banget. Tapi sebenarnya pendekatan ini akan berguna jika memang outcomenya sangat penting dan memang ada dalam situasi sangat mendesak alias harus mengambil keputusan dalam waktu singkat.
  5. Compromising, ini merupakan level pendekatan yang moderate, nggak yang asertif tapi juga nggak kooperatif. Orang seperti ini menganut paham bahwa ketika berada dalam situasi mencekam dan solusi yang diputuskan tidak cukup baik, maka semua orang mau nggak mau harus ngerasain "ketidakbaikan" atas konsekuensi dari solusi itu nantinya. Dengan kata lain, apapun solusinya dan konsekuensinya, akhirnya kudu sama-sama impas dah daripada nggak sama sekali.


Nah, apapun pendekatan manajemen konflik yang digunakan, semua pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal kita aja yang siap apa nggak menghadapi dan memutuskan.


Oke, sekian dulu ya, semoga bermanfaat.

UNEMPLOYED: MELAMAR GURU BK



Jumat yang lalu saya coba berkelana untuk masukin lamaran lagi. Saat itu target saya adalah sekolahan. Saya ceritain sample aja ya. Salah satu sekolah yang saya tuju adalah sekolahan swasta di kota Malang. Sekolahnya sih bagus dan tampaknya high class. Saya pikir wah kalo high class berarti sistemnya juga bagus dan mungkin aja lagi ngebutuhin psikolog prefer than just as Guru BK. Cuman.. tujuan saya ke sana emang masukin lamaran sebagai guru BK soalnya lagi pas banget gitu mereka open recruitment beberapa posisi. 

Paginya, saya menelepon salah seorang sahabat yang letak rumahnya gak jauh dari sekolah itu. Pas udah dapat ancer-ancer alamatnya langsunglah saya cuuus ke situ. Sesampainya di sana, saya diarahkan oleh seorang security ke ruang yang lebih mirip TU (Tata Usaha).




Pas udah ngucapin salam, masuk, lalu nyampein maksud kedatangan, saya pun langsung ngasih berkas ke salah satu staf yang ada di situ. Ibunya bilang mau dikroscek dulu kelengkapan berkasnya. Pas si ibunya ngebuka dan melihat ijazah saya, dia nanya, "Mbak mau melamar untuk posisi apa?" Saya dengan lugas menjawab bahwa saya ingin apply posisi Guru Bimbingan Konseling. Sontak, gak lama setelah ibunya baca ijazah S1 dan S2 saya, ibunya bilang bahwa kualifikasi saya gak relevan dengan posisi yang saya lamar.

What??? Gak relevan gimana sih maksudnya? Ibunya kemudian menjelaskan bahwa untuk posisi BK ini harus dari lulusan pure BK atau Psikologi Sekolah/Pendidikan. Sedangkan ijazah saya sudah psikolog (walau memang saya gak bilang kalo konsentrasi saya klinis). 

Udah ya, habis itu, dengan lugunya, si ibu nanya, berkas saya apakah mau ditinggal aja atau dibawa pulang? Langsung aja saya bilang, saya bawa pulang aja. 

Sedih? IYA
Kenapa seorang psikolog gak bisa melamar untuk posisi Guru BK? Ini sekalian mau menjawab pertanyaan teman-teman yang sering banget muncul: Bisa gak sih lulusan psikologi berkarir sebagai Guru BK?



Untuk case ini, mungkin beda lagi kalo saya lamarnya di Sekolah ABK, mungkin masih bisa dipertimbangkan. Masih mungkin sih soalnya dulu pas saya praktek di SLB, pihak sana nyeletuk semisal pengen magang atau coba melamar di sini, dipersilahkan nanti bisa jadi bahan pertimbangan.

Tapi untuk sekolah umum atau swasta dengan murid non-ABK, mungkin... mungkin ya, memang sekarang aturannya harus berasal dari lulusan BK atau psikologi pendidikan. Nah, psikologi pendidikan itu yang kayak gimana sih maksudnya? 

Saya pun jadi sempat mikir sembari jalan ke parkiran. Psikologi pendidikan? Mungkin untuk yang pernah ambil magister psikologi pendidikan di universitas tertentu bisa qualified untuk jadi guru BK. Emang ada ya jurusan Psikologi Pendidikan? Ada. Universitas tertentu ada kok jurusan itu cuman setahu saya program Magisternya, tapi kalau S1 jurusan Psikologi Pendidikan, saya kurang ngeh, ada apa gak. CMIIW.

Kalau jaman old kayaknya udah banyak banget guru BK yang berlatar belakang pendidikan S1 Psikologi namun kemudian melanjutkan S2 Psikologi Pendidikan (khusus orang pendidikan) atau yang lebih benernya lagi apa nih?

Kalau berkiblat dari kualifikasi lamaran kerja di sekolahan yang saya tuju kemarin sih gitu bunyinya: Berasal dari S1 BK atau psikologi sekolah. Nah, yang jadi pertanyaan saya ini psikologi sekolah ini yang masih ambigu jadi kemarin itu saya mikirnya mungkin kalau udah bergelar psikolog bisa kali ya? Haha wkwk ini asumsi saya aja. Jadi kemarin itu saya mungkin terlalu pede berangkat dengan gelar psikolog.

Nah, nah... jika mengacu pada Permendiknas No.27 Tahun 2008 dan peraturan dari Himpsi Pusat, kualifikasi akademik Guru BK harus memenuhi standar dan kompetensi konselor.

Bunyi Permendiknas No.27 Tahun 2008 mengenai standar dan kompetensi konselor tuh begini nih:
Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. 
Kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: 

  1.  Sarjana pendidikan S1 dalam bidang Bimbingan dan Konseling
  2. Berpendidikan profesi konselor

Lalu, gimana nasib para senior, maksud saya mereka yang udah lama berkecimpung dalam karir guru BK namun tidak sesuai dengan standar kompetensi Permendiknas? Gimana dengan guru BK yang dia adalah lulusan S1 Psikologi murni dan kemudian mengikuti akta IV untuk sertifikasi BK?

Sampai saat ini saya juga kurang paham, bagaimana alternatif solusinya. Tapi usut punya usut nih, kalo misalkan ada sekolah yang membuka lowongan kerja lalu mempekerjakan guru yang gak sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh Diknas maka hal itu bakalan mempersulit proses akreditasi sekolah tersebut. Jadi, satu-satunya cara yang menurut saya ini masih menjadi jalan yang pasti akan sulit untuk dilalui adalah dengan kuliah lagi.

Kuliah lagi? Emangnya gampang? Mudah kalo ada biaya dan emang mau belajar. Kendalanya mungkin hanya persoalan waktu dimana harus mengulang ikut kuliah dari ngambil S1 Bimbingan Konseling lalu lanjut S2 Profesi Konselor. Belum lagi sekarang pendidikan S1 itu memakan waktu minimal 4 tahun dan S2 minimal 2-3 tahun. Kalo ditotal sekitar 6-7 tahun baru kelar. Bukan kendala sih kalo emang passion-nya di situ.

Lalu bagi lulusan Psikologi sama juga. Kalo dari lulusan S2 Psikologi Sekolah/Pendidikan mungkin masih bisa jadi pertimbangan untuk menduduki jabatan guru BK. Sedangkan bagi lulusan profesi bidang peminatan lain, lebih baik, jaga-jaga aja daripada nantinya udah terlanjut terjun terus pas akreditasi lembaga kita dianggap "biang" karena gak sesuai sama standar kompetensi mending carilah lahan yang memang untuk profesi kita.

Tapi sejauh ini sih, kalo soal lamar kerja, saya masih sering ngirim-ngirim lamaran ke perusahaan padahal itu kan ranahnya profesi Psikolog Industri dan Organisasi ya. Heheh.. Bukannya mau merebut lahan teman sendiri. Tapi sering ada juga loh lowongan yang tulisannya sih lagi nyari Psikolog Klinis ehtapi lah kok kompetensi dasarnya mirip profesi PIO ya.

Ini mungkin jadi PR juga ya buat pemerintah supaya lekas-lekas ngatur perundang-undangan yang jelas dan sah buat para psikolog, bukan cuma itu tapi dipetakan juga lapangan kerja bagi lulusan profesi bidang klinis, IO, pendidikan, perkembangan, sosial dan lain-lain supaya nantinya gak terkesan "ngerebut lahan sejawat". Yah beda lagi sih kalo emang mau beralih peminatan. Kalo dulu saya juga sering dapat cerita dari alumni psikologi yang banyak berkecimpung di dunia industri padahal mah bidang peminatannya di pendidikan, sosial dan lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka harus beradaptasi dengan peraturan yang ada. Ya mau gak mau harus pedagogik gitu belajar sendiri supaya bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan oleh lembaga tempatnya bekerja.

Tetap semangat. Kalo emang udah mentok, mending langsung buka lapangan kerja sendiri atau berbisnis. Someday sih saya juga pengen bisa berbisnis sendiri. Amin. Sekarang pengen nambah pengalaman dulu, semoga segera.


KENAPA NULIS TENTANG PSIKOLOGI?



Sering banget saya dapat email yang isinya nanyain tentang kuliah di fakultas psikologi itu kayak gimana, atau kalimat pujian something yang bagi saya, saya masih jauh belum apa-apa dibanding pujian yang mereka haturkan. Tapi, makasih ya buat semua pembaca yang udah sering mampir ke sini.

Kenapa sih kok saya bikin blog yang isinya banyakan postingan tentang psikologi? Kenapa gak ikutin blog lain yang isinya tentang printilan make up atau product review? Apakah awalnya bikin blog itu emang buat personal branding di bidang psikologi? Nyaman gak sih nulis yang bertema psikologi? Apa gak pusing tuh kudu nyari bahan tulisan dulu? Kudu baca jurnal dulu ya baru nulis?

Hmm... mungkin banyak yang sepintas nanya kayak gitu. Tapi, bentar ya, saya jelasin dulu. Awal saya ngeblog itu tahun 2011 kalo gak salah. Pada waktu itu, saya masih kuliah semester 8 dan masih magang di UPT BK kampus. Karena gak setiap hari dapat job, maka waktu luangnya justru lebih banyak dan itu kadang bikin saya cepet bosan. Terus, kepikiranlah buat bikin blog. Dulu pas ikut program aplinet dari kampus sih udah dapat tugas disuruh bikin blog cuman saya udah lupa passwordnya karena saat itu saya pake platform wordpress.com. Kemudian, saya akhirnya bikin lagi pake Blogspot karena menurut saya platform ini lebih simpel menunya dan enak aja gitu (bagi saya aja sih).

Awal-awal postingannya isinya tentang hal-hal yang bertema Islami. Ternyata postingan itu mendapat banyak view di luar dugaan. Tapi, makin lama, saya makin gak nyaman. Toh, simpel aja, saya juga bukan ahli agama. Kalo saya sok-sok an nulis tentang agama, pertanggungjawabannya nanti juga besar. Kalopun pernah saya nulis buku yang pake basic pengetahuan agama, itu karena saya tertarik untuk ngupas dari sudut pandang agama dan emang pas aja momennya.

Tapi, habis itu saya udah hapus sih beberapa postingan yang banyak pengunjungnya itu? Kenapa dihapus? Soalnya ada banyak komen pertanyaan juga dan saya gak expert jadi daripada salah jawab, lebih baik saya hapus. Hahaha flight mode on wkwkwk. Gak sih, beneran takut aja kalo salah jawab. Kan maluuu. 

Lambat laun, saya jenuh. Saya mulai memperbarui isinya dengan postingan curhat pribadi. Yah... isinya kisah saya selama (masih) berprofesi sebagai Dosen LB dulu. Saya juga mulai merampungkan tiga draft buku lama saya sebelum pindah ke Malang.

Makin hari, saya makin bosan dengan isi postingan yang itu-itu aja. Akhirnya kepikiranlah, kenapa gak posting hal-hal yang berhubungan dengan mata kuliah psikologi aja ya? Lagipula itu sih pikir saya, bisa lebih enjoyable karena selain nulis, saya bisa sekalian berbagi ilmu.

Yap, saya eksekusilah harapan itu. Jadilah, satu per satu postingan bernada nyikologis mulai publish. Dikit-dikit kalo ada cerita yang saya dapat dulu pas kuliah S1, saya tulis. Nah, pas saya mutusin lanjut kuliah profesi, maka makin banyaklah bahan yang bisa saya tulis berhubung rata-rata di kelas, kami gak cuman dapat materi tapi juga cerita-cerita yang bersinggungan dengan daily living namun masih nyikologis juga. Belum lagi, makin banyak email yang saya dapat dari temen-temen yang udah diam-diam mampir ke blog ini. Makin antusiaslah saya untuk menulis topik-topik psikologi sebanyak yang saya mampu.

Kalo ada yang nanya, apakah saya kudu buka jurnal dulu, kudu survei dulu, kudu belajar dulu sebelum nulis? Jujur aja, saya orang yang kalo lagi bosan itu suka banget buka-buka internet, baca artikel di berbagai situs. Gak jarang, saya juga baca artikel semi jurnal di beberapa situs internasional. Ternyata ada banyak penelitian baru yang menurut saya itu akan sangat bermanfaat bila saya mau bagi di sini dan saya tulis ulang versi bahasa saya. Banyaaak banget dan sayang kalo gak dibagi.

Saya juga gak merasa terbebani dengan tulisan yang saya posting karena saya memang orang yang suka belajar hal-hal baru. Tiap ada event/peristiwa atau artikela menarik berbau psikologi yang saya alami, baca atau dengar, saya langsung draft ke blog. Alhamdulillah kalo banyak yang tertarik baca. Tapi gak jarang juga sih mungkin ada yang malas baca karena kadang saya juga nulis hal-hal yang isinya tuh hasil-hasil penelitian.

Trus soal personal branding, saya pribadi awalnya mikir pengennya sih gitu. Mumpung mungkin gak banyak blogger yang mau rajin posting hal-hal berkaitan dengan keilmuan psikologi. Kalopun ada, mungkin bahasanya copast jadi agak berat dibaca. Awalnya. Tapi lama-lama, ngalir aja sih. Kalo saya on demand kayak gitu, mungkin saya gak bakal bisa dan mau nulis dari dulu. Soalnya kalo personal branding, buat saya itu kalimat yang berat untuk saya cerna. Berat karena ada tanggung jawab profesional yang mungkin kudu diemban. Harus merhatiin syarat ini itu segala macam. Bagi saya, udah ah, gak usah gitu-gitu, biar ngalir aja. Kalopun ada yang sebut saya kayak gitu alhamdulillah. Kalopun akhirnya saya tulis tagline blog ini sebagai blog psikologi atau blogger psikologi, anggap aja buat lucu-lucuan. Seru aja gitu, hehehe...


Kalo saya boleh kasih saran nih, kalo mau nulis ya nulis aja. Jangan menulis sesuatu yang membuat kita merasa terbebani atau at least gak bener-bener paham tentang itu. Perkara nulisnya mau pake survei dulu, baca jurnal dulu, atau jungkir balik dulu, ya gak masalah. Yang terpenting kita happy dan menikmati apa yang kita tulis. Semua orang punya style dan metode nulis yang beda-beda. Gak bisa dipukul rata kudu dan mesti sama. Kalo saya pribadi untuk tulisan bertajuk psikologi memang ada yang saya sertakan dengan hasil penelitian, ada yang saya cantumkan sumbernya dan ada yang gak saya cantumin namun saya sertakan nama penelitinya siapa (jadi pembaca bisa cari sendiri pake keyword nama itu di google supaya jari-jarinya dan pikirannya terlatih untuk curious wkwk), ada yang merupakan review dari artikel yang udah saya baca dan ada juga yang berasal dari obrolan sehari-hari yang masih berkaitan dengan fenomena psikologi.

Okke, sekian dulu ya. Semoga hari ini dilancarkan segala urusan kita, amin...

KULIAH PSIKOLOGI, EMANG ENAK? (PART 1)



Banyak banget yang nanya ke saya, "Kak, kuliah di psikologi ya? Gimana suka duka kuliahnya? Enak ya Kak kuliah psikologi?"

Pertanyaan itu tuh seolah-olah kayak trending topic banget. Banyak banget yang bolak balik nanya kayak gitu.

Jadi, beneran enak nggak sih kuliah psikologi? Worth it kah? Suka dukanya apa? Ah, banyak banget.
Kalau saya ceritain semua mungkin nggak bakal cukup nih satu postingan doang. Tapi, saya cuman mau bilang, jangan kuliah kalau cuman ikut-ikutan atau hanya karena kamu menilai itu tuh jurusannya bagus, bergengsi atau banyak diminati orang lain. Jangan! Kuliah itu nggak kayak sesantai yang kalian lihat di sinetron-sinetron. Bahkan dulu saat SMP, saya pernah ditanyain temen, "Ma, nanti kamu mau kuliah atau langsung nikah?" Saya tentu jawab kuliah, terus temen saya itu bilang, "Ah, kuliah mah santai pasti, Ma. Coba kamu lihat di FTV, anak-anak kuliahannya begitu semua." Yee.. itu mah fiksi, namanya juga sinetron, film, nggak semua yang kita lihat itu adalah fakta.


Kuliah psikologi, mata kuliahnya ngebosenin nggak sih? Menarik nggak? Menarik nggaknya itu depend on banyak sebab. Mulai dari dosennya, isi dari mata kuliah itu, atmosfer di kelas dan masih banyak lagi. Saya pribadi dari awal lebih tertarik sama mata kuliah klinis. Mungkin karena dulunya saya pernah punya cita-cita masa kecil nggak kesampaian untuk jadi dokter. Karena keterbatasan biaya dan karena saya yang nggak jago Matematika dan karena karena lainnya, saya lepas impian itu.

Saya juga pernah ambil kelas tambahan PIO (Psikologi Industri dan Organisasi) yaitu Anajab (Analisa Jabatan). Saya nyasar ke kelas PIO karena semua kelas tambahan klinis sudah saya ambil dan nggak ada lagi yang baru. Temen saya yang lain banyak ambil kelas Perkembangan tapi saya aja yang menganggap kelas Perkembangan itu ngebosenin (buat saya sih, yang lain fine fine wae). Nyasarlah ke kelas PIO. Kesasaran saya itu bukan nggak membuahkan hasil sama sekali. Justru saya senang, bisa keluar sesekali dari zona klinis. Bertemu dengan teman-teman baru ya walaupun nggak baru-baru banget sih karena sebelumnya pun saya juga udah kenal dan tau hampir semua teman seangkatan. Di kelas itu saya berteman sama satu kakak tingkat dan akhirnya kami ngerjain project bareng. Itu mengantarkan saya pada seseorang yang juga sangat baik dan nilai tambahnya adalah ketemu orang cakep hahahah...wkwkwk.. Ya, mata nggak bisa bohon lah ya kalau ketemu orang cakep mah. Banyak subject baru yang saya pelajari di kelas itu deh pokoknya. Seenggaknya punya sedikit wawasan kalau-kalau saya semisalnya nanti bekerja di perusahaan. (Amin)

Sejak kuliah Psikologi, saya juga hobi ke perpus sendiri. Bolak-balik pinjam dan baca buku di perpus. Saya juga pernah sampai terkunci di perpus, nggak bisa keluar karena lagi break sholat Jumat, perpus dikunci untuk sementara waktu dan nggak akan bisa keluar kalau nggak ada petugas yang jagain. Bahkan.. hahaha.. saya juga heran sendiri ngelihat diri saya, kok saya sering banget gitu ya sok-sokan baca dan pinjam buku yang mana itu tuh English text semua. Ngaco banget. Tapi pikir saya, memang referensi atau buku psikologi yang bagus itu ya yang English version karena banyak yang langsung rekomendasi dari APA kan.

Trus, saya juga pernah nangis. Iya nangis pas praktikum. Oiya, Psikologi itu banyak praktikumnya. Jangan bermimpi untuk loncat S2 Profesi dulu deh ya. Bayangin aja dulu praktikum di masa S1 yang nggak kalah... melelahkan sekaligus menyenangkan. Saya pernah nangis hanya karena "dikerjain" sama kakak tingkat dengan alasan baju praktikum saya nggak appropriate padahal baju saya udah panjang, udah sesuai ukurannya, nggak press body. Jiah emang dasar saya aja yang gampang nangis, Tapi emang kakak tingkat itu super duper usil gak masuk akal memang, dan akhirnya pas saya mau nyusul praktikum, kakak tingkat itu dimarahin. KAPOOK LU! Maap ya, itulah siapa yang menabur pasti bakal menuai. Siapa yang ngerjain, bakal kena batunya bweek...

Trus kalo KKN (Kuliah Kerja Nyata) gimana? Kalo itu yang pasti mahasiswa/i ditempatkan di berbagai daerah tersebar yang udah ditentuin sama kampus, dan pastinya di daerah pelosok. Eum, kalau dulu sih, bagi yang lagi hamil dikasih keringanan bisa KKN Tematik, maksudnya bisa milih atau dipilihkan di tempat yang nggak jauh dari rumah atau tempat tinggalnya gitu. Ya, itu kembali disesuaikan dengan kebijakan masing-masing universitas yah.

Menariknya, kuliah di fakultas psikologi juga kita bisa "berbuat iseng" hahaha bisa sekali-kali pake jurus observasinya gitu. Haahaha... Kalau misal lihat orang lagi ngapain gitu ya, atau misal salah kostum gitu atau apalah yang bisa dianggap nyeleneh oleh mata, anak psikologi pasti bawaannya kepengen ngomen merhatiin dari atas sampai bawah. Kalau saya sih, ambil sisi positifnya aja. Anggap aja latihan buat observasi supaya bisa mendeskripsikan target dan peristiwa secara lebih detail. Tsaakeeeep! Wkkwkwk.. Hahaha, kalau orang atau target observasinya nyadar kamera alias nyadar kalau lagi diamati dan ngerasa awkward, saat itulah tugas kita buat cabuuuut dari tempat itu atau pura-pura nggak tahu kalau lagi dinyinyirin balik. Huhuhu.. habis gimana lagi, resiko kalau lagi nugas di lapangan, sudah pasti bersinggungan dengan subjek yang bernama manusia, jadi mau nggak mau harus siap semisal kita sebagai observer justru dinyinyirin balik atau misal lagi ngelakuin observasi non partisipan terus diperhatiin balik atau bahkan mungkin ditinggalin.. Jiaah, nyari subjek lain deh kan.

To be continue....

Q AND A SEPUTAR PSIKOLOGI UMM

Hai,
Belakangan ini nggak tahu kenapa gitu ya saya jadi hobi banget kepoin Youtube ketimbang nonton drama Korea. Banyak tayangan dari beberapa vlogger yang bikin saya amazed and inspired. Haha...
Dan, beberapa waktu ini saya sering banget nonton vlogger yang bikin semacam Q & A a.k.a. Questions and Answers gitu deh. Jadi, saya pengen aja gitu ya bikin yang serupa cuman ini bedanya via Blog. Gapapa ya, saya juga nggak punya channel Ytube.

Q and A kali ini saya ambil dari beberapa email yang pernah masuk ke saya. Q and A ini khusus membahas tentang email-email seputar kuliah di psikologi ataupun yang pernah nanya tempat saya kuliah. Semoga bisa membantu. Mungkin ini gak semua sih, saya coba posting yang saya ingat dan masih saya simpan aja ya.


  • RV: saya pengen nanya soal ujian masuk mapro psikologi UMM dan jadwal pendaftarannya kapan ya mbak? Saya juga tertarik sama mapro klinis anak, ada tips dan tricks buat FGD dan wawancara?
Jadwal pendaftaran mapro ngikutin jadwal pendaftaran maba di kampus/universitas terkait ya. Kalau di UMM, jadwal daftar maba itu dibagi menjadi 3 gelombang, gelombang pertama itu sekitar bulan Maret, gelombang kedua bulan Mei dan gelombang ketiga bulan Juli/Agustus.

Ujian masuk mapro nggak jauh beda sama ujian pas masuk jadi maba, kalau di mapro tesnya ada tes TPA (potensi akademik), tes pengetahuan seputar psikologi, wawancara, tes kepribadian, dan untuk FGD itu optional sih, kalau saya dulu nggak pake FGD, nggak tahu deh kalau jaman sekarang, pakai apa nggak.

Tips wawancara, nggak ada deh kayaknya. Hahaha... tapi yang pasti nanti ditanyain kenapa pilih mapro, ada biaya nggak buat kuliah mapro, apa siap keluar dari pekerjaan kalau kuliah mapro. Kalau saya dulu, karena saya juga alumni UMM S1, jadi pas wawancara nggak ditanyain aneh2, cuman ngobrol-ngobrol ringan soal aktivitas sehari-hari aja.
  • QP: Untuk biaya SPP di UMM berapa ya mba sekarang? Dan untuk persiapan tes masuknya kira-kira seperti apa saja tesnya mbak?
SPP di UMM untuk psikologi S1 berapa ya, hahaha... soal angka i'm not sure... lupa sih.. Coba aja langsung tanya ke bagian pendaftaran, nanti dikasih brosur yang isinya ada list biaya per fakultas. Kalau tes S1 sama aja kayak tes-tes SMPB atau yang setara dengan itu ya.
  • NCN: Biasanya banyak ya mbak yang daftar di UMM dan tesnya apa saja?
Hahaha... buanyak gengs... Bisa sampai ribuan. Tesnya seperti tes SPMB pada umumnya, tes pengetahuan umum, tes psikotes de el el..
  • DP: Di UMM untuk profesinya khusus klinis ya dan untuk magister psikologinya khusus apa saja? Apa ada pendidikan?
Iya, di UMM khusus klinis karena ingin beradaptasi menyetarakan dengan standar APA (American Psychological Association) yang menyebutkan bahwa profesi psikolog itu adalah psikolog klinis. Kalau untuk konsentrasi yang lain untuk mapro nggak ada, cuman klinis aja. Kalau pengen pelajari banyak konsentrasi/minat lain, bisa ambil magister sains psikologi ya.
  • FD: Saya baca opini publik tuh begini, ngapain ambil jurusan psikologi, 10-15 tahun ke depan bakal serba robot, trus gunanya psikolog apa dong. Opini yang membuat saya bertanya-tanya apakah benar atau tidak. Kalau menurut Kakak bagaimana?
Ya, itu kan opini. Tiap orang punya pandangan/pendapat masing-masing. Kalau kita bergerak hanya karena "nurutin opini" orang lain terus, lalu kapan bisa ambil keputusan dong?! Coba deh baca, sekarang ini bukan hanya penyakit fisik saja yang makin bervariasi, tapi gangguan/sakit mental pun mulai menjadi bahan perbincangan sekaligus perhatian dunia terutama dari WHO. Udah tahu kan kalau tiap tahun ada digelar Hari Kesehatan Mental Sedunia? Gunanya psikolog ya untuk membantu mereka-mereka yang mengalami gangguan mental atau minimal mengedukasi masyarakat yang masih awal mengenai gangguan psikologis supaya bisa ditegakkan fungsi preventif sedini mungkin.
  • AF: Saya ingin tau Kak bagaimana jurusan psikologi itu? motivasi kak, saya kelas 12 bentar lagi mau kuliah.
Jurusan psikologi bagaimana? Gimana-gimananya, mending dijalanin sendiri deh, nanti bakal tahu kuliahnya kayak gimana.. Hehehe.. kalau saya ngejelasin, nanti jadinya subjektif.
  • RP: Kalau di UMM itu psikologinya untuk IPA bukan? Soalnya pas aku baca blog kakak kayaknya IPA gitu, koreksi kalau salah ya. Oh ya, aku juga pernah denger kalo psikolog anak itu masuk ke klinis, bener nggak? Tapi di sisi lain aku juga ingin masuk ke jurusan neuroscience and psychology. Aku tahu jurusan ini karena unsur ketidaksengajaan.
Kalau di UMM, gak mesti IPA, IPS atau lainnya. Mau kamu dari jurusan Bahasa pun nggak masalah. Oh, kalau pernah baca blog saya, emang saya ini dulunya SMA jurusan IPA jadi mungkin yang saya tampilkan di postingan lebih banyak tulisan-tulisan yang mengarah ke klinis ya.. heheh ya itu karena saya memang ambil klinis dan sejak S1 saya memang meminati bidang klinis.

Neuroscience, bagus tuh, dan masih jarang banget yang menguasai bidang itu. Saya pernah denger di Universitas Brawijaya Malang ada mata kuliah sekaligus dosen yang khusus mengajarkan tentang neurosains.
  • AD: Saya baru mau masuk di UMM juga jadi belajar tesnya pada waktu matrikulasi? Tapi ada yang bilang kalau matrikulasi itu isinya perkuliahan umum saja seperti pengenalan iptek dan lain-lain. Selain itu perkuliahan nanti belajar apa saja mbak? Dan apakah kalau selesai nanti ada ujian untuk mendapatkan gelar psikolognya sendiri?
Belajar tes waktu matrikulasi, what do you mean? Nggak paham nih sama pertanyaannya. Matrikulasi pas mapro itu (khusus mapro UMM ya) kita belajar perdalam penguasaan alat-alat tes, administrasinya, skoring dan interpretasinya ditambah belajar pengetahuan umum seperti bahasa inggris dan aplikasi internet.

Di perkuliahan belajar apa aja? Waduh banyak, hahaha... kayaknya nggak mungkin deh saya sebutin semua. Supaya lebih greget mending langsung eksekusi, daftar aja ya dan nikmati sensasinya hehehe...

Ujian untuk mendapatkan gelar psikolog, ada. Namanya ujian HIMPSI tapi sebelumnya, saya mau ngejelasin rentetannya. Pas semester tiga dan empat, sudah mulai PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi) di tiga tempat yang diacak secara random meliputi Sekolah/SLB atau Lapas, RSJ dan terakhir di Puskesmas (ini untuk klinis ya, karena di UMM klinis, kalau di univ lain mungkin berbeda karena peminatannya beragam juga). Nah selama tiga putaran PKPP itu akan ada ujian kasus. Ujian kasusnya banyak, ada ujian Internal setiap dua minggu, ada ujian Komprehensif untuk menguji kelayakan tujuh kasus, dan terakhir ujian HIMPSI untuk menguji apakah layak/tidak dinyatakan sebagai psikolog dengan seluruh arsip pengalaman PKPP yang dijalankan itu. Baru setelah itu lanjut ngerjain Tesis untuk dapatin gelar M.Psinya. Jadi pas lulus nanti, akan ada Sumpah Profesi Psikolog. Dari prosesi sumpah, kita diberikan Sertifikat Sebutan Psikolog atau SSP dan Surat Izin Praktek Psikologi atau SIPP.
  • FF: Kak, apakah kalau ingin menjadi psikolog harus S1 dan S2 profesi? Kalau misal S1nya dari jurusan non psikologi, apa boleh nanti kuliah S2 ambil psikologi?
Iyap, harus linier. S1 psikologi dan S2 Profesi Psikologi untuk menjadi Psikolog. Kalau S1 non psikologi boleh kok ambil S2 Sains Psikologi tapi bukan untuk menjadi profesi psikolog ya, tapi jadi ilmuwan psikologi.

TEMAN YANG COMPASSIONATE ITU PENTING



Mainstream memang saat kita dengar orang bilang, "Kalau berteman itu jangan pilih-pilih."
Ada benarnya tapi bagi sebagian orang yang lain mungkin menerapkan prinsip berbeda, maksud saya sebagian orang yang lain mungkin lebih selektif dalam memilih teman dan ada juga sih orang yang memilih berteman sama si anu atau si inu karena punya "level" yang sama. Level yang saya maksud di sini adalah level status sosial, harta, jabatan/kedudukan, pendidikan dan sejenisnya.


Saya pribadi, untuk inner circle, saya memang selektif memilih teman, teman dalam artian yang benar-benar akrab atau biasa disebut sebagai sahabat. Tapi, kalau cuman teman se-perkenalan doang, saya tidak menerapkan standar harus begini begitu. Kenalan dengan siapa saja, tapi teman yang benar-benar saya anggap teman dan yang tahu/paham saya mungkin hanya sedikit.


Despite of that, saya nggak menyeleksi inner circle pertemanan berdasarkan hal-hal yang bersifat fisikal atau artifisial seperti status, profesi, pendidikan dan sejenisnya itu. Di dalam inner circle saya adalah mereka, orang-orang yang sangat berharga bagi saya.

Kenapa mereka so precious for me? Karena mereka bisa berempati dan paham bagaimana cara berempati. Sebagian yang lain menurut saya juga ada yang sudah masuk dalam tahap compassionate friend. Jadi, bukan sekadar empati, melainkan mereka tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan tepat. Tepat dalam artian memenuhi komponen compassion yang sesungguhnya.

Ya, intinya, kenapa punya teman yang compassionate itu penting dan kenapa menjadi orang compassionate itu baik? Berikut ya saya jelasin apa itu compassion.

Before that, saya mau cerita dulu. Kemarin saya emang nulis tesis yang mana salah satu variabelnya adalah self-compassion. Sebenernya, self-compassion ini tuh berasal dari filosofi Buddhism atau Buddha. Kok saya ngambil itu, mau belajar Buddha kah? Heheh pertanyaan ini se-frontal pertanyaan dosen pembimbing II saya saat itu yang mempertanyakan kenapa sih pilih variabel yang menurutnya berseberangan. You know what I mean, tapi literally, variabel ini loh umum, udah banyak penelitian yang pakai variabel itu tapi belum banyak yang mengaitkannya dengan variabel lain, include self-care ability.

Sekilas terlihat sama namun sebenernya self-compassion dan self-care ability itu beda loh ya dan memang sejauh ini belum saya temuin penelitian yang bener-bener ngungkap hubungan keduanya. Ya karena saya pakai variabel terikat Life satisfaction (terutama pada lanjut usia) jadi variabel self-compassion saya posisikan sebagai moderator, soalnya kalau sebagai variabel bebas biasa, saya nggak nemuin jurnal pendukungnya dengan self-care.

Memang saya suka dengan hal-hal yang menurut saya masih awam atau minimal belum banyak yang pakai di lingkungan kampus, gitu aja lah. Dan, ternyata variabel self-compassion (mungkin) belum familiar di kampus saya, kecuali pernah satu dosen saya zaman S1 dulu, ada tuh penelitiannya mengenai compassion yang dikaitkan dengan variabel lain atau mungkin ada mahasiswa yang pernah neliti cuman saya aja yang nggak tahu.

Dari penelitian saya ini, saya banyak belajar dari variabel compassion or self-compassion. Beyond our empathy, ternyata compassion is further than that. Ternyata, setelah saya baca, empati itu semacam gateaway to compassion, semacam pondasi awal sebelum akhirnya orang bisa atau layak mencapai tahap yang disebut dengan compassionate. Keren kah ih istilahnya, ketjeh parah gimana gitu, hahah...

Compassionate is study-able. Sangat bisa dipelajari atau diasah. Ya, dengan banyak-banyak dan sering-sering berempati, sama diri sendiri juga kepada orang lain. Oiya, selain itu, compassion ini juga bisa diasah dengan cara meditasi. Iya, meditasi. Kalau nggak ngerti apa itu meditasi, coba deh baca-baca tentang Adjie Silarus, dia itu salah satu pakar meditasi di Indonesia loh dan udah banyak memberikan training kepada orang maupun instansi.

Meditasi itu memberikan manfaat yang sangat baik gengs. Salah satunya adalah mendatangkan kedamaian di hati. Nah, orang-orang yang compassionate itu cenderung tenang, nggak neko-neko, cinta damai, segala sesuatu berusaha dipikirkan dengan tenang dan matang.

Baca: Meditasi Oleh Adjie Silarus

Jadi, empati itu adalah how we feel what someone feel by imagine their position, their problems. 

Tapi, compassion jauh dari itu lagi.

Compassion is we know what others feel, we accept it, we holding it, and we realize that we all want or pass the same things out of this world. Jadi, compassion itu terdiri atas tiga komponen pembentuknya. Memperlakukan diri dengan baik atau penuh kasih sayang dan begitu pula memperlakukan orang lain (Self-Kindness); Menerima bahwa permasalahan, penderitaan, kesulitan, musibah/bencana, ujian yang terjadi merupakan salah satu bagian dari kehidupan dan dialami juga oleh orang lain. Hal inilah yang membuat kita bisa merasakan kasih sayang kepada sesama. Inilah yang dinamakan Common Humanity; serta menyadari dan menerima berbagai peristiwa yang terjadi juga menerima pikiran dan perasaan positif maupun negatif yang muncul tanpa menghakimi, menyangkal atau melebih-lebihkan/over-identifikasi (Mindfulness).

Udah jelas kan kira-kira, compassion itu seperti apa?

Right!!

Teman yang compassionate itu nggak mesti kok berasal dari background pendidikan yang tinggi, nggak harus dia itu orang yang berpenampilan rapi, nggak mesti kok dia itu orang yang berasal dari keluarga terpandang atau punya status sosial dan profesi di tempatnya. NGGAK MESTI.

Sometimes, kita justru menemukan teman atau orang-orang compassionate yang hidup atau penampilannya sederhana, atau mungkin dia yang diberi label "nakal" tapi di belakang layar dia banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat buat orang-orang sekitarnya meski orang lain nggak pernah tahu atau melihat kehidupannya dengan dekat. Who knows ya.

Seseorang yang compassionate bisa mengerti cara berpikir dan perasaan orang lain. Lebih dari sekadar empati. Dia juga memahami bahwa menghakimi orang lain atau hidup orang lain secara sepihak itu bukanlah hal yang baik. Karena setiap orang pasti mengalami fase dimana hidupnya berada di "atas" maupun di "bawah", terpuruk maupun bahagia, menjadi buruk maupun menjadi baik. Dia meyakini bahwa itu semua adalah proses yang pasti dialami oleh semua manusia di dunia namun hanya saja beragam bentuk permasalahan dalam hidupnya. Orang yang compassionate juga bisa mengerti bahwa setiap orang punya hak untuk diterima, hak untuk dicintai, hak untuk diperlakukan secara adil, hak untuk diberi kebebasan dan hak-hak lainnya.

Teman yang compassionate kira-kira kayak gitu deh. Sekilas mungkin definisinya tampak sempurna, tapi yang namanya manusia nggak ada yang bisa sesempurna itu tanpa cacat. Tapi setidaknya, teman yang compassionate nggak akan dengan mudah menghakimi. Ketika kita terjatuh atau sedang mengalami kesulitan atau sedang menghadapi masalah besar, dia nggak akan mempertanyakan seolah nggak percaya kalau kita benar-benar kesulitan. Dia nggak akan banyak nanya, tapi justru merangkul dan memberikan penguatan atau dorongan supaya kita bisa menghadapi situasi serta mengambil keputusan dengan baik tanpa dia perlu ikut campur atau tanpa dia bilang "Nggak mau tahu."

Terutama teman untuk si keras kepala. Seseorang yang keras kepala cenderung punya pendirian yang teguh, sekali A tetap A sekalipun sudah dibilangi atau dilarang, tetap saja dia gaspol. Ketika ada temannya yang berkata "Nggak mau tahu" atau "Terserah" atau mungkin mengatakan sesuatu yang mencerminkan pemaksaan kehendak, kemungkinan temannya itu belum bisa menjadi teman yang baik untuk si keras kepala ini. Semua orang memang bebas untuk melakukan atau memutuskan apapun tapi ya mungkin kalimat yang harusnya dikatakan oleh si teman ini alangkah baiknya diproses dulu. Ada beberapa orang yang nggak tahan mendengar kalimat negatif, tapi ada juga yang kuat-kuat aja. Kalau dia memang betul-betul temannya si keras kepala ini, seharusnya dia nggak berkata kayak gitu. Kalau memang dia nggak mau ikut campur, seharusnya nggak berkata-kata seperti itu. Ya, tapi orang mah terserah lah ya, mulut-mulutnya... Cuman itu aja sih, kita boleh-boleh aja punya ciri khas frontal tapi kalau mau frontal, liat dulu siapa orang yang kita hadapi, nggak semua orang bakal bisa menerima kefrontalan kita loh dan begitu pula sebaliknya nggak semua orang juga bisa menerima kejujuran kita. Intinya, lagi-lagi berhati-hati jugalah dalam "berucap".

Yap, teman yang compassionate itu tahu cara menempatkan ucapan dan tindakannya pada timing yang tepat.

Nah, gimana kalau contohnya kita berhadapan dengan teman yang lagi kesusahan. Susah dalam hal finansial contohnya. Kemudian, misalnya kita ngajak dia hangout atau ikut acara tertentu yang berbayar. Kemudian teman kita yang lagi susah ini menolak karena memang lagi susah. Pantas nggak kalau kita ngomong, "Emang seberapa mahal sih cuman bayar segitu aja?" Gimana kalau kita ada di posisinya lalu dikatain kayak gitu, apa nggak mikir kalau teman kita ini bakalan tersinggung.

Kata-kata tadi "Cuman bayar segitu aja." seolah-olah sok nganggap semua orang yang ada di dalam lingkup kita adalah orang yang sama. Mungkin, mungkin pendidikan atau profesi sama, tapi bukan berarti harus disama-samain dalam beberapa hal lainnya. Kita nggak tahu kan, barangkali dia lagi susah karena sedang banyak keperluan, sedang mendapat musibah, sedang kehabisan tabungan, atau lainnya. Apakah akal kita sependek itu untuk langsung men-judge kayak tadi? Toh, bukan kita yang dirugikan kan? Memangnya, dengan ngomong kayak gitu, kita mau bayarin dia? Sudi kah? Belum tentu kan? Jadi, udah deh ah, santai aja gitu loh, toh hidup-hidup orang jangan sampai segitunya dicampurin.

Sekalipun misal kita sama dia ini satu profesi, sependidikan, kita nggak bisa dong ya pukul rata bahwa semua orang yang ada di sekitar kita punya "standar" dan "kondisi" yang sama atau "harus disama-samain". Jadi, mending pikir dulu deh sebelum ngomong kayak gitu. 

Dan satu hal lagi, teman yang compassionate itu bukan teman yang tukang gosip. Saya juga pernah sih dikasih petuah atau lebih tepatnya larangan atau alarm atau reminder dari si abang superman.

He said, "Usst... jangan suka gosip, nggak baik, jangan ulangi lagi ya." Yap, he always teach me some good things and I feel grateful." 

Jadi, kalaupun saya mau curhat sama dia, saya udah jarang bahkan mungkin hampir nggak pernah lagi sih curhat atau cerita-cerita gosip yang gajebo yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Ya, ya, ya... kalau dia tahu saya nulis macam terima kasih ke dia, pasti dia bakal besar kepala (emang kepalanya gede).. haha.. canda ding, But, itu emang bener. Sejauh ini, dengan apa yang udah terjadi, dia udah banyak ngajarin ini itu. Kadang kalau saya lagi bersikap annoying, dia ngajarinnya ekstrem, dibalas nggak baik kayak semacam proyeksiin apa yang saya lakukan, HAHAHA...but it works on me! 

Mungkin bukan pure ngebalas, cuman mau mencerminkan aja perilaku saya yang jelek itu yang udah bikin kesel itu kayak gimana supaya saya sadar dan nggak ngulangi lagi. Aiiih, okay deh. Gracias, Mijn.

Udah ya, segitu aja dulu tulisan dari saya. Heehehe... peace...



SALAHKAH MEMVONIS ORANG LAIN



Beberapa minggu yang lalu, saya menonton salah satu tayangan di televisi yang berbasis reality show. Ada scene dimana seorang ibu (dengan fisik kurang sempurna) ingin melaksanakan sholat di sebuah masjid. Saat ibu itu hendak memasuki masjid, tiba-tiba keluar seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya nggak jauh beda lah sama ibu itu. Bapak itu mengangkat tangan kanannya dengan posisi ibu jari menunjuk ke depan wajah sang ibu tadi sambil melarang si ibu tadi sholat. Alasannya? Bapak itu dengan entengnya bilang karena ibu itu kotor (Bapak itu secara frontal bilang si ibu itu kotor karena melihat si ibu berjalan dengan tangan dan maaf memang nggak punya kaki).


Saya nontonnya aja pakai nangis segala loh, terus saya juga sempat share ke si abang dan dia lebih jengkel lagi sewaktu saya ceritain. Tahukah apa yang dia bilang? Si abang bilang terkadang orang yang menuduh seperti itu mau dikata paling suci padahal imannya bisa aja nol.

WOW!! Saya tercengang juga sih dia bilang gitu, but it's just opinion, don't take it personally ya.

Belum lagi di media sosial yang nggak dipungkiri kita bisa dengan sangat mudah menelusuri laman gosip hanya dengan sekali klik. Lebih-lebih lagi di Instagram.

Saya agak gerah juga sih membaca postingan akun-akun gosip... ya you know lah ya, nggak usah saya jabarin satu-satu di sini. Entah itu bahasan atau singgungan atau battle-an antara haters-nya si ini dan si itu yang katanya suaminya selingkuh (wallahu'alam), ataupun soal artis atau aktor yang salah kostum, tattoo-nya dikomenin atau yang ngubah bentuk hidungnya pakai injeksi filler de el el.. de el el...

VONIS?

Please, ini bukan lagi pengen posting soal hukum atau pengadilan. Kenapa saya pakai kata "Vonis"? Biar greget aja sih, hahaha...

Nggak gitu juga sih. Kata vonis ini agak mirip-mirip gitu sama kata "menghakimi" atau jugding. Berhubung bosan pakai kata judge terus jadi sekali-kali tak apalah yeu. *Alasan aja*

Ahh... sudahlah.

Actually, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, vonis berarti putusan hakim pada sidang pengadilan yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan. Memvonis diartikan sebagai menuduh melakukan perbuatan melanggar hukum.

Jadi, biar ngebahasnya lebih enak, nyantai dan nyikologis sesuai tema blog ini, maka saya pakai terjemahan dari kata memvonis tersebut aja ya.

Siapapun kita, dari status sosial macam apapun dan usia berapapun, I believe many of us pernah lidahnya kepleset ngomentarin bahkan menuduh atau memvonis orang lain? Kayaknya nggak ada deh yang nggak pernah nuduh orang lain kecuali kalau orang itu memang malaikat yang turun ke bumi dan pura-pura menjelma jadi manusia. Halah apaan coba...

Sebelum kita ngobrol santai pakai contoh di kehidupan sehari-hari, coba deh kita sama-sama telaah dulu sebenarnya salah nggak sih kalau memvonis orang lain? 

Kapan vonis atau judging itu bisa dipakai dengan tanpa menyinggung orang lain? 

Apa ada yang namanya vonis positif? Judgment positif?

Terus, apa bedanya ya judging dengan assess dan evaluating dalam ranah profesionalisme?

Pada penasaran kan.. Penasaran kaaan?

Iya saya juga sih. Makanya, saya juga sempat kepoin akun-akun Psychology Today dan beberapa akun lain yang pernah membahas tentang itu demi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Kata vonis tadi sudah saya paparkan ya definisinya. Jadi, kata vonis itu lebih sering digunakan dalam ranah hukum. Saya nggak tahu apa-apa soal hukum jadi CMIIW ya. Cuman, menurut saya, vonis dalam ranah hukum ini sifatnya profesionalisme dan ada syaratnya sehingga ya bisa dianggap sah. Seorang hakim bukan asal ujug-ujug ngejatuhin vonis bagi terdakwa/terpidana. Pastinya ada proses yang panjang sebelum vonis ini bisa ditetapkan *sambil ketok palu*. Vonis ini menentukan hukuman atau tindakan apa yang akan diberikan kepada pihak yang terhukum, entah itu vonis hukuman penjara, bayar denda, hukuman mati, dan lain-lain.

Kata vonis juga sering kita dengar kan ya kalau nonton sinetron-sinetron yang ada scene dokter sama pasien (ketahuan ye kan suka nonton sinetron).... Kata-kata yang sering kita dengar, bahwa si dokter ini memvonis si itu umurnya nggak lama lagi melihat rekam medis dan penyakit yang diderita si itu.

Kok memvonis umurnya nggak lama lagi sih? Emangnya dokter itu Tuhan? Kenapa sih di sinetron atau pembaca berita kadang lebay gitu pilihan katanya harus pakai vonis memvonis segala? Saya juga nggak tahu tapi kayaknya kalau di dunia medis nggak jauh-jauh amat sama psikologi klinis yang pakai kata diagnosa/diagnosis.

Terus, kata vonis? Entah mungkin kata itu dipakai buat nge-hype-in kancah persinetronan dan per-gosipan dan per-socmed-an supaya yang baca jadi greget. 

Tapi, tapi... barangkali habis ini ada mahasiswa kedokteran yang main ke sini, jangan lupa komen ya hehehe.. dan saya mau tahu aja gitu, apa benar kalau di dunia kedokteran itu, para dokter memvonis usia si pasien sekian bulan, sekian tahun bla bla bla? Ya, supaya kita nggak kemakan sama influence dari sinetron dan infotainment dan sosmed aja sih nih karena kadang orang awam yang nggak tahu apa-apa pasti langsung nelan gitu aja informasi atau statement yang mereka dengar.

Nah, kalau di dunia psikologi sendiri. Seumur-umur sih, saya nggak pernah ya denger ada pembaca berita gitu yang menyiarkan bahwa "....si psikolog ini memvonis kliennya mengalami skizofrenia katatonik...." Misalnya aja. Nggak pernah kan denger kayak gitu? Ya semoga aja nggak ada yang begitu karena emang psikolog bukan orang yang kerjanya memvonis.

Di dalam ranah psikologi, kita mengenal kata judging/judgment, assessing/assessment dan evaluation. Ketiga hal itu apakah sama aja artinya? Kalau beda, bedanya apa dong?

Kadang, orang-orang awam pun asal ceplas-ceplos aja tanpa tahu kata judge itu apa sih maknanya dan asesmen juga evaluasi itu bukannya hampir mirip-mirip aja ya dengan kata judge. Dan kenapa sih orang-orang lebih suka pakai kata judge juga sekalian suka nge-judge orang lain?

Merujuk pada definisi yang tertera pada Wikipedia, judgment diartikan sebagai sebuah evaluasi dari berbagai sumber bukti guna pengambilan keputusan. Di Wikipedia-Judgment, judgment itu ada banyak term-nya loh ternyata antara lain informal judgment, informal and psychological judgment, legal judgment, dan religious judgment dan satu additional meaning yaitu personality judgment.

Informal judgment, yaitu opini yang diekspresikan sebagai sebuah fakta.

Informal and psychological judgment, digunakan untuk menyebutkan kualitas kemampuan kognitif maupun kemampuan ajudikasi seseorang, biasanya disebut sebagai kebijakan.

Legal judgment, digunakan dalam konteks persidangan hukum yang merujuk pada pernyataan akhir atau putusan berdasarkan pertimbangan berat ringannya bukti.

Religious judgment, digunakan dalam konsep ajudikasi Tuhan untuk menentukan baik buruknya, surga dan nerakanya setiap manusia.

Additionalnya, yaitu Personality judgment yang diartikan sebagai fenomena psikologis dimana seseorang membentuk sebuah opini tentang orang lain.

I guess, the last additional term of judgment adalah bentuk vonis atau judge yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan mungkin juga kita pernah melakukannya. Ya, we judge other people and we (sometimes) take it personally, namun seringkali menilai orang lain tanpa berdasarkan bukti yang nyata/jelas/pasti yang kemudian judgement/judging ini dianggap sebagai sebuah kata dan sikap negatif. 

Padahal, merujuk pada definisinya di Wikipedia saja, saya pikir sudah cukup jelas sih bahwa judgment itu dipakai dalam empat kondisi tertentu seperti yang saya jelaskan di atas ya. Kata vonis sendiri, itu masuk pada legal judgment ya.

Personality judgment itu memang sangat rawan. RAWAN GHIBAH, RAWAN GOSIP, RAWAN TERHADAP TUDUHAN YANG SIFATNYA FITNAH YANG BERARTI TANPA BUKTI NYATA, TANPA PERTANGGUNGJAWABAN, DAN DENGAN TUJUAN YANG SIFATNYA DESTRUKTIF.

Dalam keilmuan psikologi, para psikolog biasanya lebih menggunakan kata asesmen. Seorang psikolog terlebih dahulu melakukan asesmen yang artinya menilai individu atau kliennya dalam berbagai aspek, baik itu aspek kognitifnya, afeksi, psikomotorik, kepribadian, hubungan sosialnya dan masih banyak lagi. 

Asesmen yang dilakukan pun tentunya dibantu dengan instrumen berupa alat-alat tes psikologi juga melalui proses wawancara dan observasi sesuai dengan kebutuhan serta permasalahan klien. Proses asesmen yang berlangsung pun nggak semata melibatkan klien aja ya, melainkan juga significant others dari si klien yang berarti bisa saja itu adalah keluarganya, temannya, sahabatnya, saudaranya, pacarnya, suami atau istrinya, gurunya, dosennya, rekan kerjanya, dan mungkin juga WIL DAN PIL-nya (pada beberapa kasus juga ada loh yang begini) bahkan mungkin sampai pada pembantu atau tukang sapu jalanan yang sekiranya dapat memberikan informasi tentang diri klien dan pernah berhubungan dengan klien.

Melalui hasil asesmen inilah nantinya, psikolog menemukan simpulan atau putusan akhir guna dicocokkan dengan kriteria diagnosis sehingga memperoleh gangguan atau problem apakah yang sebenarnya dialami oleh si klien serta how or what kind of treatment yang sebaiknya diberikan pada klien untuk mengatasi problem atau gangguan tersebut.

Gimana udah lumayan jelas ya soal-menyoal judgment ini. Jadi, asesmen itu juga merupakan proses judging atau evaluasi tapi dalam ranah legal judgment sama seperti putusan hakim atau diagnosa dokter.

Tapi, semakin ke sini, penggunaan kata judge ini udah banyak disalahartikan karena nggak tahu term of-nya tadi sehingga dicap sebagai negatif. Padahal nggak gitu juga kali. Makanya di zaman sosmed modern sekarang ini kata judge yang kerap dipakai, diumbar, diungkit-ungkit, di-hype-in sampai sebegitunya ya yang sifatnya personality. Seseorang langsung menilai hanya lewat diri/personal/kepribadian orang lain sehingga jatuhnya udah bukan murni evaluasi yang bisa membangun atau penilaian yang akurat tapi justru penghakiman sepihak hanya berdasarkan pendapat.

Yang namanya pendapat itu bisa benar bisa salah ye kan? Namanya juga pendapat, orang pun bisa asal bunyi aja tanpa peduli yang sebenarnya terjadi dan tanpa tahu background dari orang atau sesuatu yang dinilainya. 

Orang bisa aja gitu ngomentarin mie yang dimasak sama si anu itu ya nggak sedap karena nggak ada garamnya padahal dia nggak tahu di balik proses pembuatan mie itu bisa aja si tukang masaknya sengaja kasih garam sedikit karena takut keasinan atau karena takut selera orang beda-beda atau dia mungkin lupa kasih garam.

Orang bisa aja ngomen ih si anu nah kok dia nikahnya sama si itu sih, si itu lo jelek, nggak cantik, nggak ganteng, apanya sih yang dia lihat dari si itu? Kenapa nggak pilih si ini aja sih yang udah jelas bebet, bobot, bibit dari genus dan marga tanaman apa. Ups...

Ngutaraian pendapat itu amat sangat mudah banget. Ada yang pakai diolah dulum ditimbang dulu, sampai ada juga yang nggak perlu ngolah langsung jebret udah deh kelar lo kena komen gue! Misalnya ya.

Tapi, makin ke sini kita karena mungkin kebanyakan makan micin juga jadi mudah mengambil atau terhasut sama pendapat yang kita dengar atau baca. Kalau kita beneran punya otak, harusnya dipikir dulu sebelum menerima informasi, diolah dulu, caranya ya cari tahu sendiri, cari tahu ke banyak orang termasuk cari tahu ke orangnya sendiri, tanya sendiri gimana sih yang bener, biar kita tuh tahu real, fact, nyata, pastinya kayak gimana. Kalau cuman diawang-awang apalagi cuman dengerin celotehan orang yang nggak bermutu, lama-lama proses kognitif kita jadi nggak bisa berjalan baik lagi, karena lebih mudah kehasut sama yang buruk-buruk, pasti bakal sulit nerima informasi yang baik, membangun dan berkualitas. Iya nggak?

Daripada sibuk mantengin akun gosip mulu, coba deh kita lebih sering lihat diri kita. Kadang emang kita khilaf sih, khilaf buat komenin orang lain. Kalau saya pribadi, kadang greget ngasih tahu orang lain, bukannya komen sih tapi lebih kepada ngasih tahu. Ngasih tahu kalau misalkan si ini atau si itu ngelakuin hal yang salah. Ngingetin sih lebih tepatnya. Cuman kadang juga jatuhnya malah dikira cerewetin, ngomen padahal sifatnya positif. Ini juga yang suka jadi bahan sebel-sebelan, Orang ada yang komen, niatnya baik, cuman mau ngasih tahu tapi orang lain pandangannya beda malah ngira si orang tadi tu cuman komen nggak jelas, cuman mau ikut campur aja.

Saya juga mulai agak berhati-hati. At least, saya pun pernah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari orang-orang yang sempat saya anggap sebagai teman. Tapi ternyata di belakang, mereka memberikan personality judgment. Saya memang diam, karena bagi saya, nggak ada gunanya juga ngebalas komenin balik. Kalaupun saya pernah komen balik itu amat sangat jarang dan thankful to God sekarang udah nggak lagi ngurusin begituan. 

Bukan apa-apa, saya jadi teringat, saya ini psikolog, kalau saya ikut-ikutan kayak gitu, gimana saya mau membangun hubungan personal serta diri yang baik supaya saya bisa kerja dengan baik, aman, nyaman, tenteram nanti? 

Kalau saya kayak gitu nggak ada bedanya dong, saya sama anjing yang menggonggong, nggak ada bedanya dong sama akun gosip atau hater yang seringkali menebarkan isu-isu miring, kalau kayak gitu, lalu kenapa saya jadi psikolog, nggak pantes deh kayaknya jadi psikolog tapi sikapnya childish tiap ada masalah main belakang kayak gitu. YA, ITULAH. Saya mikir ke situ. Bukan untuk dinilai orang tapi semata saya hanya ingin care pada diri saya sendiri. Kasihan saya kalau terus-menerus ngurusin orang yang pernah fitnah saya, jahatin saya bahkan nyemprot saya di sosmednya berkali-kali. Mungkin saya nggak bisa negur langsung, karena personally, saya pun tahu kalau rasanya ditegur di hadapan orang banyak itu sifatnya mempermalukan dan saya pun nggak mau melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah orang lakuin pada saya. I don't deserve it. 

Jadi, buat orang-orang yang sebaliknya ya bukan lagi tukang komen tapi justru sering kena komen, sering di-bully secara verbal ataupun kena cyberbullying, percayalah bahwa dirimu itu sangat berharga, lebih berharga daripada tukang komen itu. Kalaupun kamu pernah salah, ketika kamu sudah admit kamu memang salah bukan salah yang karena pengen nyari sensasi biar dapat banyak komen, kamu berhak memperbaiki dirimu tanpa perlu mengkonfirmasikannya kepada si tukang komen. Nggak perlu. Nggak penting. 

Kita nggak perlu konfirmasi untuk menunjukkan eksistensi kita. Kita nggak perlu konfirmasi agar orang lain percaya sama kita. Kalau emang orang lain nggak percaya ya terus percuma aja kan konfirmasi sebab ada pepatah yang bilang, orang yang membenci kita nggak peduli mau kita bilang apapun, mereka tetap akan membenci kita. Sebaliknya orang yang memang baik pada kita dan peduli juga sayang dan tahu kita siapa sebenarnya, tanpa kita ngasih tahu, tanpa pake acara konferensi pers pun mereka akan tetap menyayangi kita. Itulah yang namanya unconditional positive regard. Menghargai tanpa syarat. 

Kalau mau berubah setelah melakukan kesalahan, nggak perlulah pakai acara konfirmasi. Biarkan dan tunjukkan saja dengan sikap yang secara alamiah kamu bentuk, kamu upayakan, dengan begitu jalannya pun bisa lebih enteng. 

Kalau kebanyakan konfirmasi, itu nggak ada bedanya kamu dengan akun gosip itu. Kebanyakan konfirmasi bisa aja kamu nggak bener-bener berubah. Kebanyakan konfirmasi bisa aja nanti jatuhnya kamu cuman mau cari popularitas. Buat apa? Buat apa dengerin dan mengharap populer di mata orang lain? Kalau niatnya sudah begitu, ya silakan aja sih jalan... nanti juga tahu kan ujungnya, hasilnya gimana.

Terus juga, saya greget bin gengges banget kalau ada orang yang dengan gampangnya bilang eh kamu itu kafir banget ya bla bla bla.. Eh eh... emang situ Tuhan kah? Kok enak banget ya bilangin orang kafir? Emang situ tahu kafir itu definisinya apa dan kayak gimana? Emang Tuhan pernah ngasih tahu situ kalau orang yang situ judge bakalan masuk neraka atau kafir? Emang pernah? NGGAK KAN??! Jadi, ngapain sih pakai acara ngatain orang lain kafir segala. Ya ampun, kita ini manusia biasa biangnya dosa dan salah loh. Bisa aja kan diri kita ini punya dosa yang jauh lebih besar, who knows, jadi mending jangan sok gitu deh.

Sempat juga dulu di sosmed ada salah satu orang yang saya tahu. Saya nggak bilang kenal tapi tahu. Mungkin saya kenal tapi nggak sepenuhnya saya kenal dia karena nggak pernah 100 persen berinteraksi penuh sama orang itu. Orang tersebut dengan entengnya nge-judge orang lain yang pakai jilbab syar'i dan laki-laki yang biasa disebut ikhwan yang pakai celana cingkrang/di atas mata kaki. Kenapa sih? Kok lancar jaya banget ya ngatain si hijaber syar'i itu sok suci, sok inilah itulah. LAGI DAN LAGI, emang situ Tuhan kah?

Kenapa juga sih selalu sukanya ngungkit-ungkit masa lalu orang lain? Apa orang lain nggak pernah keluar dari kenistaan di masa lalu dan meraih masa depan yang cerah? Why? Kenapa dengan mudahnya kita menebar kebencian cuman gegara orang itu, si anu dan si inu punya masa lalu yang jelek, yang bangsat. Banyak loh orang lain di luar sana yang akhirnya bisa jadi ulama, bisa jadi orang baik sebaik-baiknya di mata Allah padahal dulunya dia ngelakuin kejahatan yang naudzubillah bahkan mungkin kita jijik nggak mau maafin. Dan, pernah baca kan kisah seorang pelacur yang hanya karena dia ngasih minum anak anjing yang kehausan, lalu kemudian dia bisa masuk surga... Nah, lalu apa hak kita buat nge-judge kayak gitu tadi? Kalau belum paham, coba deh baca, dan tolong jangan langkahin hak prerogatif Tuhan untuk menetapkan legal judgment bagi manusianya ya.

Sebagai seorang psikolog pun, saya nggak mau munafik. Pastinya nggak bakal lepas dari yang namanya judgment tapi dalam ranah profesionalisme yaitu asesmen. Iya, bayangin aja selama kuliah kita ini ditempa banget belajar gimana caranya asesmen, gimana caranya menginterpretasi hasil skoring dari tes psikologi dari klien kita.

Kita diajarin cara interpretasi, gimana cara melaporkan hasil observasi itupun dengan pemilihan kata yang tepat, nggak boleh langsung nembak ngedeskripsiin pribadi orangnya, dan itu kudu hati-hati banget. Saya kasih contoh nih ya, semisal lagi ngeobservasi dua orang, orang pertama lagi nangis dan orang kedua semisal lagi nyubit orang pertama, misal aja loh ya.

Nah, untuk mendeskripsikannya ke dalam laporan, kita nggak boleh menjabarkan bahwa orang pertama menangis karena dicubit oleh orang kedua. Deskripsinya kudu detil dan nggak boleh pakai kata-kata direct yang langsung nge-judge perbuatan si orang kedua. Caranya? Panjang bok ya kalau dijabarin. Misal gini deskripsinya, nyubit dan nangis itu diganti dengan kalimat orang kedua mengarahkan tangannya ke arah lengan atas orang pertama dengan posisi ibu jari dan jari telunjuk mengapit kulit lengan orang pertama kemudian kedua jari tersebut diputar ke kanan dan ke kiri bergantian sebanyak dua kali. Lalu, tampak air keluar dari celah-celah kedua mata orang pertama dan dia membuka lebar mulutnya sambil berkata "haaa.." dengan nada tinggi.

Gimana? Susah kan? Nggak kepikiran kan kalau harus sedetil itu. Iya, itu adalah hasil observasi. Belum kalau disuruh nulis hasil asesmen wawancara dan hasil tes juga sama-sama nggak boleh langsung nge-judge. Seringkali biar lebih aman pakai kata "cenderung" atau kata-kata indirect.

Kenapa harus gitu? Sebab persepsi orang tentu beda-beda dan agar penilaiannya tidak timpang kanan dan kiri dan bisa bersifat netral tanpa menghakimi. Yap karena katakan aja orang kedua mencubit dan orang pertama menangis? Bisa aja karena momennya pas barengan, orang kedua lagi gemes sama orang pertama, tapi orang pertama menangis misalnya karena kehabisan diskon di toko atau barusan nonton film korea. Bisa juga karena emang orang kedua niat bikin orang pertama nangis. dan bla bla masih banyak kemungkinan interpretasinya ye kan?

Jangan dipikir itu pekerjaan yang gampang loh ya. Sama kayak dokter, taruhannya adalah kesejahteraan bahkan hidup manusia a.k.a klien loh.

Kalau salah asesmen, sampai pada treatmentnya pun pasti bakal salah, dan apa iya kita mau bertanggung jawab kalau sampai klien kita udah salah perlakuan terus misalkan berubah jadi nggak waras, nggak sehat atau bahkan mengakhiri hidupnya. Nggak mau kan kalau sampai itu terjadi?

Jadi, let's be smart aja sih. Sekian dulu ya tulisan saya, semoga bermanfaat.