Pages

(UN)EMPLOYED: SUDAH KERJA DI MANA?

"Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do"
-Pele-

Welcome 2018 
Sudah lama sekali nggak update blog lagi.
Apa kabarnya di awal tahun ini?
Alhamdulillah di awal tahun ini tepatnya Januari lalu, saya sudah genap 28 tahun. Meski sudah memasuki tahun genap lagi, namun mungkin saya masih harus berperang melawan keadaan.

Beberapa hari kemarin, saya sempat berbincang dengan sahabat karib ter-soulmate saya yaitu Nawira. Ya, memang sih, kami berdua agak senasib untuk soal pekerjaan cuma bedanya dia sudah menikah sedangkan saya belum. Saya tahu semua orang punya keputusan masing-masing, termasuk sahabat saya. Hehehe.. skip...

Minggu lalu di saat saya dan Nawira memutuskan untuk istirahat sejenak dari dunia per-lowongan-pekerjaan alias nggak kirim-kirim lamaran dulu untuk beberapa waktu, di saat benar-benar hampir menyerah itu, tiba-tiba dosen yang dulu juga bisa dibilang wali kelas saya sekaligus ex-dosen pembimbing PKPP saya menelepon. Saya kira beliau mau order artikel lagi, ternyata dia menelepon dengan maksud berbeda.

Dosen saya itu menawarkan saya untuk jadi tutor di Fapsi UMM. Beliau meminta saya untuk menghubungi salah satu dosen yang saat ini diangkat menjadi kepala Laboratorium Psikologi yang ternyata tidak lain adalah ex-dosen pembimbing tesis kemarin.  Setelah meminta brosurnya, saya lihat ternyata lowongan tutor sudah tutup beberapa jam lalu setelah dosen ex pembimbing PKPP saya itu telepon. Tapi kemudian saya bilang ke dosen ex pembimbing tesis bahwa saya direkomendasikan untuk daftar. Puji syukurnya, beliau memperbolehkan saya menaruh berkas di keesokan harinya dan langsung diterima. Begitu pula dengan wawancaranya, semacam ngobrol biasa karena sama dosen sendiri. 

Entah harus senang atau sedih. Ketika bersinggungan dengan yang namanya gaji. Saya sempat ditanya oleh dosen pas wawancara, apa yang saya harapkan dengan menjadi tutor sebab gajinya nggak banyak? Jawaban saya keluar begitu saja dari mulut dan itulah yang saya katakan. Tapi akhirnya juga diterima. Hanya saja, banyak orang termasuk orangtua dan si abang yang awalnya kurang setuju saya bekerja di kampus. Belum lagi sistemnya kontrak selama 6 bulan. Tapi, di sisi lain, sahabat saya, Nawira mendukung sepenuhnya karena menurut dia, lebih bagus lagi, setidaknya bisa dijadikan portofolio tambahan relevansi pengalaman, sekaligus menambah link, sekaligus siapa tahu someday di kampus ada pembukaan rekrutmen dosen lagi sehingga saya bisa direkomendasikan lagi (mungkin aja.. mungkin..) dan lebih bagus lagi karena sistemnya kontrak diperbarui setelah 6 bulan, jadi kalaupun mau out dan bekerja di tempat lain setelah 6 bulan berlalu, masih cukup leluasa.



Sejenak saya merenung dan memang cenderung sensitif jika ada orang yang menanyakan soal pekerjaan pada saya. Kalau biasanya saya suka iseng update di sosmed sehabis ikut tes ini itu di sini di situ, kali ini nggak sama sekali dan orang non-keluarga yang tahu pun cuma 3 orang, si abang, Nawira, dan satu lagi sahabat saya yaitu Ayu.

Kenapa nggak daftar dosen sih waktu UMM pas buka itu? Saya telat memasukkan berkas pemirsaah... karena ternyata di luar ekspektasi pas awal buka langsung banyak pendaftar yang menyerbu sehingga saya nggak mendapat tempat bahkan untuk wawancarapun udah nggak dipanggil meskipun di brosurnya lowongan itu masih lama baru berakhir. Lagi, lagi mungkin belum rejeki.

Kenapa nggak coba daftar di perusahaan? Setelah pengalaman ikut-ikutan melamar dan tes di salah satu perusahaan kemarin dan setelah sekian banyaknya saya apply di perusahaan lain juga, saya berpikir mungkin memang saya belum pantas untuk bekerja di perusahaan. Sebab, saya sama sekali belum punya pengalaman bekerja di perusahaan sebelumnya, ditambah basicly saya lulusan klinis dengan beberapa tempat magang dan praktek dulu pun berbau klinis semua. Kalaupun kelak saya mau mencoba kembali melamar ke perusahaan, minimal saya harus belajar tentang PIO entah itu saya ikut magang dulu atau belajar otodidak. Dan, kalaupun saya sudah menambah pengalaman itu, kenyataannya perusahaan terutama BUMN nggak banyak juga yang mau menerima lulusan maksimal usianya 28 tahun kayak saya. Kalaupun ada, itu harus benar-benar lowongan pekerjaan yang mencantumkan kualifikasi S2 dengan usia maksimal 30 atau 35 tahun atau sama seperti CPNS.

Lets see. Pengalaman kerja saya masih terbilang kurang. Saya merasanya begitu. Selain psikologi, skill lain yang saya punya pun dan tidak cukup nge-trend untuk saya gembar-gemborkan saat wawancara hanya writing (menulis). Mungkin kalau di perusahaan, pikir mereka, kalau skill menulis, semua orang juga bisa. Mereka bukan mencari itu, tapi mencari yang setidaknya paham PIO atau minimal pernah berkecimpung di dunia industri organisasi sebelumnya. Kalaupun nyatanya ada juga teman yang dulunya sama-sama klinis tapi berhasil nyasar di perusahaan, mungkin ada faktor lain yang belum saya ketahui kenapa dia bisa diterima bekerja di situ meski dia juga tidak punya pengalaman yang terbilang banyak dan relevan.

Ya Tuhan, maaf, bukan saya tak bersyukur. Kalau dibilang senang, nggak begitu senang banget sih. Tapi saya akan coba untuk menjalani hari-hari sebagai tutor sekaligus asisten dosen dulu untuk saat ini. Entah setelah 6 bulan nanti apakah saya memilih untuk coba melamar di tempat lain atau memilih tetap bekerja di situ, saya juga belum tahu. Saya memang senang mengajar dan sebelumnya pun sudah punya pengalaman sebagai dosen LB. Cuma untuk bisa menabung lebih banyak, saya harus memutar otak, mencari cara. Kira-kira setelah ini apa yang bisa saya lakukan.

Beberapa malam kemarin, saya berkeinginan jualan kue gitu. Waktu saya bikin kue tempo hari, Bapak bilang kue bikinin saya kali itu enak rasanya. Dan, itu kali pertama kue bikinin saya benar-benar berhasil dan dinilai enak sampai ludes. Jadi sempat terpikir, apakah saya coba jualan kue juga ya? Jadi kuenya dititipin ke penjual sayur gitu di dekat rumah kan banyak tuh penjual sayur. Mengingat untuk area Sawojajar 2 ini pun belum ada yang jual kue kayak yang saya pengen jual itu. Jadi, bisa saya modif dengan resep yang simpel tapi tetap enak dan kemasannya dibikin bagus. Lagi-lagi saya harus menganalisis lebih lanjut.

Saya memang bukan laki-laki sih tapi entah kenapa kalau ada quote yang bilang bahwa harga diri laki-laki itu adalah bekerja, maka saya pun juga merasa seperti itu. To be honest, setelah sekian lama hidup seperti ini, sekarang saya bukanlah the old emma. Terus terang aja, saya kadang banyak nggak cocoknya sama teman perempuan yang saya kenali di sekitar. Itulah kenapa makin ke sini, sahabat perempuan saya makin sedikit dan yang benar-benar cocok pun hanya dua orang seperti yang sudah saya sebutkan namanya. Hanya mereka sahabat yang bisa menerima perubahan dan cara berpikir saya sekarang meski kenyataannya mereka masih sama seperti perempuan kebanyakan.



Dari dulu, saya kerap mendengar mindset lingkungan yang mengatakan bahkan mungkin bisa dibilang menjudge bahwa perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi, ga perlu kerja sampai dapat posisi yang bagus, cukup jadi perempuan ngalem untuk dipersiapkan ngurusin rumah tangga, ngurusin suami, ngurusin anak. Itupun sama persis dengan yang saya dengar dari orang sekeliling saya bahkan sebagian besar dari keluarga Bapak, sepupu-sepupu saya kayaknya semuanya pada nikah muda. But, it's not me literally. I'm not the same with them. Saya nggak bisa memaksakan diri sama seperti mereka. Bahkan sebagian teman S2 pun beberapa waktu ada yang nyeletuk nyuruh saya cepat nikah ini itu, gak usah ngoyo cari kerja karena toh itu tugas suami kita nantinya dan mereka notabene ada yang udah lama nikah maupun yang baru aja nikah (bisa ngomen begitu ke saya).

Bagi saya, tanpa mengesampingkan kodrat laki-laki dan perempuan, dan tanpa embel-embel feminisme ya, perempuan itu juga bisa berkontribusi untuk sekitarnya atau nggak usah kejauhan deh, minimal buat ngembangin dirinya sendiri. Laki-laki memang sudah kodratnya memimpin, mengayomi dan melindungi. Tapi, itu bukan berarti perempuan nggak boleh sekolah tinggi juga kan? Minimal, dengan sekolah tinggi, perempuan bisa memperoleh ilmu yang baik, nah kelak kan juga pasti kepake ilmunya buat anak-anak. Perempuan juga bukanlah boneka yang dicetak persis seperti pada zaman jahiliyah hanya sebagai pemuas nafsu atau malah dibunuh saja deh karena dianggap nggak bisa ikut andil dalam peperangan. Buktinya toh banyak banget kan para pejuang kemerdekaan yang berjenis kelamin perempuan. Banyak perempuan-perempuan yang bisa menginspirasi sesama perempuan lain.

Oke fix. Dan, saya akhirnya sedikit menjauh. Menjauh karena saya nggak bisa memaksakan diri untuk mengabulkan alias memberikan jawaban sama seperti yang mereka lakoni, ya sama seperti teman-teman perempuan saya kebanyakan. Menjauh dalam artian, sudah nggak se-terbuka itu kalo curhat bahkan mungkin nggak pernah lagi curhat. Jika mereka bertanya, saya jawab seperlunya sembari menahan emosi agar saya bisa tetap berdiri tanpa tercabik karena mindset mereka itu. Saya tetap menghargai cara pandang dan keputusan mereka tapi bukan berarti saya harus tenggelam menerima mentah-mentah apa yang mereka sampaikan. Mereka boleh mengkritik tapi tentunya nggak boleh memaksa dong ya, hehehe.

Saya bukannya nggak tahu sunnah. Saya paham jelas. Hanya saja terkadang ada beberapa hal yang memang saya nggak sejalan pemikiran sama mereka aja. Syukurnya, di keluarga mama yang mana saya cucu tertua sementara adek-adek sepupu masih banyak yang kecil-kecil, justru mereka sangat menghormati keputusan saya. Mereka justru mendukung apa yang saya lakoni, saya mau apa, ini dan itu. Padahal, latar belakang pendidikan dan pekerjaan mereka pun mayoritas ibu rumah tangga, dan kalau paman saya yang laki-laki pun juga nggak se-wah itu. Mereka sangat mendukung saya bisa bekerja dan mandiri. I see, mereka mampu memahami tanpa banyak tapi.

Di saat tak bisa apa-apa, saya merasa harga diri saya turun telak. Belum lagi kalau ada teman-teman yang memancing obrolan dengan nada memaksakan kehendak sampai mengiba tapi dengan nada sinis seperti beberapa waktu lalu. Saya sempat tidak senang mendengar teman SMA berkata demikian kepada saya tapi saya masih bisa maklumi karena saya sudah sangat lama tidak pernah kontak dengannya lagi pasca lulus.

Bukan berarti saya lantas memutuskan seluruh kontak komunikasi dengan orang lain. Bukan. Hanya saja, saya butuh waktu untuk membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu lebih baik daripada yang mereka sangka. Saya nggak mau membuktikan ke mereka karena toh kalau tujuannya berpusat pada orang lain, nggak bakal ada habisnya, saya jelas nggak akan selalu bisa memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya. Tapi, untuk diri saya, saya wajib berproses lebih baik, dengan bekerja saya bisa meningkatkan atau mendapatkan banyak skill, menantang diri sendiri untuk melihat seberapa mampukah saya untuk menghadapi konsekuensi yang jauh berbeda dari sebelumnya dan memegang kendali atas diri saya bahkan di saat-saat penuh tekanan.

Kenapa saya keukeuh mau begitu? Karena umur saya sudah terlewat jauh. Saya merasa lambat memulai. Di saat orang lain di usia segini sudah pada matang, saya pribadi merasa tertinggal jauh. Tapi, saya jadi ingat kembali dengan salah satu buku yang pernah saya baca bahwa setiap orang punya timing-nya masing-masing layaknya bunga yang punya musim kapan dia akan bermekaran dan kapan dia harus berguguran sejenak. Mungkin, sekarang ini belum timing yang tepat bagi saya. Kalau dulu saat saya sudah berhasil melampaui satu harapan yaitu menulis buku solo, ternyata memang benar sekali bahwa sukses itu dimulai dari konsistensi. Karena dulu saya stuck dengan kuliah profesi, nggak bisa mikir nulis buku lagi, saya pun nggak konsisten lagi dan saat itulah saya merasa roda hidup saya mungkin akan bergeser ke bawah karena memutuskan untuk tidak menulis buku untuk waktu yang panjang, dua setengah tahun lamanya. Ibarat bintang, saya hanya bersinar sekejap di malam hari, dan perlahan sinarnya meredup dan lenyap ketika memasuki pagi atau kala mendung dan hujan.

Saya juga jadi ingat waktu reuni dengan teman S1 tahun lalu. Di antara semuanya, kenapa saya yang tampak ngenes sendiri: pengangguran, datang basah-basah karena kehujanan di jalan (malah dikira gembel karena itu restoran sedikit mahal), belum lagi pas tukar kado, yang lain dapat barang yang bisa disimpan lama, saya dapat sabun mandi batangan. Bukannya nggak bersyukur dan bukannya mau ngomel karena sebelumnya juga ketentuannya cuma disuruh bawa kado-kadoan dengan range harga maksimal sekian. Bukan kadonya yang saya maksud tapi nilainya, valuenya. Dan itu, ketika yang lain pada share kado di grup, lagi-lagi saya mungkin ditertawai karena dapat sabun mandi.



Saya jadi teringat pasca lulus S1 dulu. Entah kenapa agak mirip kayak sekarang. Dulu lamar di mana-mana pun nggak ada yang nyantol dan baru setelah itu pekerjaan yang mendatangi saya. Salah seorang kakaknya teman menawari untuk bekerja sebagai tutor plus motivator di Guidance Club STAIN dan saya terima. Tapi mungkin lebih ngenes dari sekarang sebab dulu saya digaji 50 ribu per pertemuan dan saat mahasiswa lagi mager nggak datang, saya pun nggak bisa dapat fee. Hingga akhirnya saya diminta untuk micro teaching dan karena memang lagi butuh dosen pengajar matkul psikologi, saya pun mendapat SK mengajar. Syukurnya, karena kampusnya terletak di seberang kompleks rumah sehingga saya cukup berjalan kaki dan nggak keluar uang sepeser pun. Tapi ya itu, gajiannya tiap 6 bulan sekali. Setidaknya saya syukuri karena setelah resign, uangnya bisa saya pakai untuk jajan kuliah.

Satu sisi, sahabat saya bilang, mungkin memang terkadang rejeki yang mengejar kita, bukan kita yang mengejar rejeki. Saat saya coba mengejar rejeki ke sana kemari dengan harapan bisa langsung dapat tempat bagus, gaji bagus, namun kenyataannya yang saya kejar, justru menjauh. Tapi, di saat saya mencoba berhenti mengejar sejenak, justru rejeki yang menghampiri meski jumlahnya (kalau di mata orang lain) sedikit bahkan mungkin mereka nilai kurang pantas.

Saya juga nggak ngeh kenapa begini, tapi mungkin jalan rejeki saya salah satunya juga berasal dari perantara "tangan" orang lain. Dulu saya daftar SNMPTN nggak lolos, tapi sekalinya diperkenalin sama ex-mahasiswa UMM yang mana itu juga adalah ex-pacarnya tante saya dan saya lolosnya di UMM. Kemudian, saya juga baru ngeh, ketika saya coba menulis artikel psikologi dengan lebih fokus, saya juga dapat tawaran untuk nulis artikel di salah satu website yang cukup terkenal (nggak usah saya sebut tapi mungkin orang juga udah pada tahu kali ya hihi) meski nggak ada kaitannya sama psikologi samsek tapi saya sering kaitkan juga dengan psikologi. Belum lagi beberapa waktu ini, dosen ex pembimbing PKPP saya sering order tulisan ke saya dan sering pas banget, saat saya sedang kekurangan, lagi-lagi datang orderan. Ya, itu sih, sisi positif yang saya syukuri.

Entah apa yang terjadi 6 bulan berikutnya, tapi untuk sekarang, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sebagai tutor mengabdi di kampus dulu. Saya berharap semoga ke depannya, saya bisa dapat pekerjaan tetap, bisa menabung lebih banyak, bisa punya asuransi kesehatan sendiri (karena saya sudah tidak bisa ikut lagi dengan asuransi tanggungan ortu) dan saya juga berharap kelak bisa punya usaha sendiri yang mana dari usaha itu, saya juga bisa pergunakan hasilnya untuk lebih rajin sedekah. Pikir dan harap saya, sebelum menjadi istri, minimal saya harus bisa belajar mengelola uang, sedikit ataupun banyak, saya perlu belajar cari uang sendiri, menghidupi diri sendiri untuk mempersiapkan hal-hal di luar dugaan. Saya ingin membahagiakan diri sendiri dulu, bahagiain orangtua dulu sebelum membahagiakan keluarga kecil saya sendiri nantinya. Minimal saya punya value agar kelak suami saya bangga memiliki saya sebagai pendampingnya (*colek si abang superman).



PENGALAMAN TES TPA DI PT DAHANA (PERSERO)

"Life is either daring adventure or nothing at all"
-Helen Keller-


Sebelum masuk ke cerita inti, saya tahu bahwa perjalanan karir saya masih stuck di sini-sini saja. Ibarat kata, pengen naik ke lantai 12 di suatu apartemen, saya bahkan baru berjalan mencari lift supaya bisa menuju ke lantai 12 tersebut. Orang-orang terdekat sudah merong-rong untuk segera bekerja. Bukan atas dasar mencari gaji, bukan masalah materi, melainkan agar ilmu, gelar, ijazah yang sudah saya peroleh selama kuliah tak lantas terbuang percuma dan satu lagi, agar saya bisa mandiri dan bisa mulai belajar mengatur keuangan. Kalau alasan kedua sih itu adalah kalimat yang tercetus dari diri sendiri. Jujur saja, meskipun saya juga mengisi kekosongan alias ke-menganggur-an saya dengan menjadi freelance writer, upah yang saya dapat belumlah cukup untuk membuat saya menabung lebih sering dengan jumlah yang konstan dan sedikit lebih besar dari biasanya.


Terhitung sejak wisuda Mei dan sumpah profesi pada November lalu, entah sudah berapa banyak lamaran yang saya apply. Entah itu lewat jobstreet hingga memberanikan diri ikut CPNS sama si abang (cuman kita menargetkan wilayah kerja yang berbeda namun dengan formasi sama yaitu dosen psikologi).

Terhitung sejak mengirimkan lamaran, waktu demi waktu berlalu, yang datang adalah penolakan dari stasiun TV ternama. Kemudian berlanjut dengan saya mengikuti seleksi CPNS Kemenag untuk formasi dosen psikologi di UIN Malang sini, pun nilai saya hanya kurang sedikit saja dan langsung gagal di TKD. Saya bahkan mencoba kembali ikut seleksi dosen non PNS di universitas itu lagi, namun ternyata, mungkin dugaan saya dan teman-teman lainnya yang ikut dalam seleksi itu benar bahwa menyertakan campur tangan "orang dalam" hingga akhirnya sekeras apapun saya berusaha, yang menang adalah yang jelas-jelas punya link. Kalaupun mengandalkan link sepenuhnya, saya bukannya angkuh tapi saya pun bisa dengan enteng memilih, mau masuk UB atau UIN, tapi untuk awal, hati nurani saya berbicara, untuk awal perjalanan, saya pun ingin belajar memulai semua dari nol, belajar berjuang sendiri agar tahu bagaimana rasanya orang lain berjuang di luar sana.

Setelah gagal untuk ke sekian kalinya, saya kembali mendapat panggilan atau lebih tepatnya orderan menerjemahkan artikel kemudian me-review dan menggubahnya menjadi sebuah artikel untuk klien. Alhamdulillah ternyata Allah juga tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan saya saat itu, saat saya benar-benar kehabisan uang buat beli sabun dan perlengkapan/kebutuhan pribadi wkwkw.. Okelah, dengan senang hati saya terima job sampingan tersebut dan bersyukur dengan upah yang saya dapat walau tak banyak.

Silih waktu berganti, saya shock ketika bertepatan dengan pengumuman kegagalan tes dosen itu, terbitlah sebuah email dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang saya saja nyaris lupa kalau pernah mengirimkan lamaran ke sana. Dan, yang wonderful plus bikin saya girang sebab ini kali pertama saya mendapatkan respon baik dari lamaran yang saya tujukan khususnya menyasar ke perusahaan. Oh God, saya cukup senang sebenarnya meski awal-awalnya sempat dilema. Dilema karena jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal. Yap, saya diundang untuk ikut seleksi tahap pertama ke Jakarta.

Saat itu, saya coba minta izin pada orangtua, tapi mama sempat menolak namun bapak sih ngijinin aja. Karena masih ada urusan mendesak yang harus saya urus, mau tidak mau, saya harus berangkat menggunakan pesawat. Tapi, dengan syarat, harus ada yang menemani saya dan itu mama. Okaylah, tapi tumben aja gitu saya jadi anak mami, biasanya juga boleh pergi sendirian. 

Saya jadi ingat kata-kata si abang. Dia bilang kalau seandainya saya memilih untuk tidak berangkat untuk ini saja, bisa-bisa perjalanan karir saya hanya di situ-situ saja dan tidak ada kemajuan. Sahabat saya juga mengatakan hal serupa, dicoba saja karena kita tidak tahu di mana dan dari mana rezeki itu berada/datang.

Berangkatlah saya ke Jakarta dengan destinasi Jakarta Selatan. Saya menginap di sebuah griya kecil Airy Room di daerah Asem Baris, Tebet. Dari situ, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai ke Menara Hijau. Yang tadinya sih tesnya di kantornya yang di MTH namun entah karena alasan apa, 13 Januari lalu, saya mendapatkan email revisi tempat seleksi dan itu di Menara Hijau.

Saat hari H, memang tesnya dibagi dua kloter. Kloter pertama pukul 08.00-13.00 dan saya mendapat giliran tes di kloter kedua yaitu pukul 13.00-17.00. Awalnya saya sempat ternganga kok lama sekali ya tesnya sampai sore. Setelah saya ikuti, oh rupanya ada menu lain yang disampaikan oleh pihak HRDnya sebelum tes inti berlangsung. Kita terlebih dahulu diberikan sambutan kemudian mendapat suguhan video singkat mengenai profil PT Dahana dan kemudian mulai masuk ke tes intinya.

Saat saya bilang ingin mengikuti seleksi di PT Dahana, orang-orang terdekat yang saya beritahu bahkan tidak tahu sama sekali perusahaan apa itu Dahana dan bergerak di sektor apa. Ya, memang sih, tapi meski begitu saya sering kok lihat logo Dahana nampang di beberapa spot tertentu. Cuma ketika menyimak profilnya dan browsing di internet, saya baru tahu kalau PT Dahana bergerak di sektor industri khususnya produksi bahan peledak, selain di pertambangan. Ya, begitulah kilasnya ya. Tapi, sebagai informasi saja, PT Dahana juga termasuk salah satu BUMN jadi pastilah perusahaan ini sangat bonafid ya kayak perusahaan BUMN lainnya.

Ketika tes berlangsung, saya sempat kaget karena soal-soalnya begitu banyak. Ada ratusan soal yang harus dikerjakan hingga pukul 17.00. Wow, emejing. Untuk sub-subnya saya pikir serupalah dengan tes TPA yang biasa kita hadapi kalau ikut tes di perusahaan atau di tempat lain, hanya saja yang membedakan tiap tempat/perusahaan/lembaga mungkin jumlah soal dan tingkat kesulitannya saja.

Kemarin, jujur, saya berusaha mengisi dan menjawab soal-soal yang saya ketahui pasti benar jawabannya. Namun, kalau ditanya berapa soal yang tidak saya jawab, banyak juga sih. Karena banyak juga soal yang menyertakan narasi panjang, dan beberapa saya lompati. Saya pun berpikir, kalau nilai tiap soal sama, saya tidak perlu membuang waktu untuk terpaku pada soal yang narasinya terlalu panjang dan saya tidak yakin itu benar. Tapi sebagiannya sih saya coba jawab meski belum tahu apakah itu benar atau salah.

Selain TPA, pihak HRD pun menjelaskan bahwa masih banyak rangkaian tes yang harus dihadapi. Setelah pengumuman TPA ini keluar, yang lolos ke babak selanjutnya akan mengikuti Psikotes (kalau FGD saya kurang tahu apakah tahun ini diadakan atau tidak). Setelah itu lanjut Personal Screening. Kemudian lanjut Interview User dan Interview HRD, Interview Direksi maybe. Nah, pihak HRD juga bilang, jangka waktu keseluruhan tes maksimal harus bisa selesai dilaksanakan hingga Maret 2018 ini sebab April mendatang akan mulai memberikan menu Management Traineenya untuk masa percobaan. Etts.... untuk masa percobaan, akan diuji selama tiga bulan, kalau tidak salah dengar berlokasi di Subang, kantor pusatnya. Kemudian kalau performa selama masa percobaan dinyatakan baik dan lulus, maka bisa lanjut ke masa OJT sekitar 9 bulan lalu kontrak kerja selama 2 tahun untuk awal.

Banyak orang terdekat saya yang berharap saya bisa lolos hingga tes tahap akhir. Saya pasrah dan hanya bisa berusaha juga berdoa. Kalau memang rezeki saya di Dahana, inshaallah, pasti saya akan bagikan lagi cerita-cerita selanjutnya di blog ini. Namun mengingat saat tes kemarin, khusus untuk formasi S2 Psikologi, jumlah peserta yang hadir amat sangat sedikit yaitu hanya sekitar lima orang yang hadir sementara lainnya absen. Padahal di daftar hadir waktu tanda tangan mungkin ada sekitar 8 atau 10 orang khusus Psikologi. Dan itu tandanya, persaingan sagat ketat, bukan?

Yah, selagi menunggu pengumuman, saya juga selalu meluangkan waktu untuk back to be a freelance heheh. Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya juga sudah mengirim lagi satu tulisan untuk salah satu website klien dan diterima. Setelah ini, saya harus mencari ide tulisan baru lagi, supaya bisa kirim lagi, lagi dan terus. Yang saya senangi dan syukuri adalah, sewaktu mengirimkan tulisan di web tersebut, adminnya sungguh ramah dan menyatakan bahwa tulisan saya mumpuni, beliau pun meminta saya untuk terus menulis. Thanks coach admin.


UNEMPLOYED: MELAMAR GURU BK



Jumat yang lalu saya coba berkelana untuk masukin lamaran lagi. Saat itu target saya adalah sekolahan. Saya ceritain sample aja ya. Salah satu sekolah yang saya tuju adalah sekolahan swasta di kota Malang. Sekolahnya sih bagus dan tampaknya high class. Saya pikir wah kalo high class berarti sistemnya juga bagus dan mungkin aja lagi ngebutuhin psikolog prefer than just as Guru BK. Cuman.. tujuan saya ke sana emang masukin lamaran sebagai guru BK soalnya lagi pas banget gitu mereka open recruitment beberapa posisi. 

Paginya, saya menelepon salah seorang sahabat yang letak rumahnya gak jauh dari sekolah itu. Pas udah dapat ancer-ancer alamatnya langsunglah saya cuuus ke situ. Sesampainya di sana, saya diarahkan oleh seorang security ke ruang yang lebih mirip TU (Tata Usaha).




Pas udah ngucapin salam, masuk, lalu nyampein maksud kedatangan, saya pun langsung ngasih berkas ke salah satu staf yang ada di situ. Ibunya bilang mau dikroscek dulu kelengkapan berkasnya. Pas si ibunya ngebuka dan melihat ijazah saya, dia nanya, "Mbak mau melamar untuk posisi apa?" Saya dengan lugas menjawab bahwa saya ingin apply posisi Guru Bimbingan Konseling. Sontak, gak lama setelah ibunya baca ijazah S1 dan S2 saya, ibunya bilang bahwa kualifikasi saya gak relevan dengan posisi yang saya lamar.

What??? Gak relevan gimana sih maksudnya? Ibunya kemudian menjelaskan bahwa untuk posisi BK ini harus dari lulusan pure BK atau Psikologi Sekolah/Pendidikan. Sedangkan ijazah saya sudah psikolog (walau memang saya gak bilang kalo konsentrasi saya klinis). 

Udah ya, habis itu, dengan lugunya, si ibu nanya, berkas saya apakah mau ditinggal aja atau dibawa pulang? Langsung aja saya bilang, saya bawa pulang aja. 

Sedih? IYA
Kenapa seorang psikolog gak bisa melamar untuk posisi Guru BK? Ini sekalian mau menjawab pertanyaan teman-teman yang sering banget muncul: Bisa gak sih lulusan psikologi berkarir sebagai Guru BK?



Untuk case ini, mungkin beda lagi kalo saya lamarnya di Sekolah ABK, mungkin masih bisa dipertimbangkan. Masih mungkin sih soalnya dulu pas saya praktek di SLB, pihak sana nyeletuk semisal pengen magang atau coba melamar di sini, dipersilahkan nanti bisa jadi bahan pertimbangan.

Tapi untuk sekolah umum atau swasta dengan murid non-ABK, mungkin... mungkin ya, memang sekarang aturannya harus berasal dari lulusan BK atau psikologi pendidikan. Nah, psikologi pendidikan itu yang kayak gimana sih maksudnya? 

Saya pun jadi sempat mikir sembari jalan ke parkiran. Psikologi pendidikan? Mungkin untuk yang pernah ambil magister psikologi pendidikan di universitas tertentu bisa qualified untuk jadi guru BK. Emang ada ya jurusan Psikologi Pendidikan? Ada. Universitas tertentu ada kok jurusan itu cuman setahu saya program Magisternya, tapi kalau S1 jurusan Psikologi Pendidikan, saya kurang ngeh, ada apa gak. CMIIW.

Kalau jaman old kayaknya udah banyak banget guru BK yang berlatar belakang pendidikan S1 Psikologi namun kemudian melanjutkan S2 Psikologi Pendidikan (khusus orang pendidikan) atau yang lebih benernya lagi apa nih?

Kalau berkiblat dari kualifikasi lamaran kerja di sekolahan yang saya tuju kemarin sih gitu bunyinya: Berasal dari S1 BK atau psikologi sekolah. Nah, yang jadi pertanyaan saya ini psikologi sekolah ini yang masih ambigu jadi kemarin itu saya mikirnya mungkin kalau udah bergelar psikolog bisa kali ya? Haha wkwk ini asumsi saya aja. Jadi kemarin itu saya mungkin terlalu pede berangkat dengan gelar psikolog.

Nah, nah... jika mengacu pada Permendiknas No.27 Tahun 2008 dan peraturan dari Himpsi Pusat, kualifikasi akademik Guru BK harus memenuhi standar dan kompetensi konselor.

Bunyi Permendiknas No.27 Tahun 2008 mengenai standar dan kompetensi konselor tuh begini nih:
Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. 
Kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: 

  1.  Sarjana pendidikan S1 dalam bidang Bimbingan dan Konseling
  2. Berpendidikan profesi konselor

Lalu, gimana nasib para senior, maksud saya mereka yang udah lama berkecimpung dalam karir guru BK namun tidak sesuai dengan standar kompetensi Permendiknas? Gimana dengan guru BK yang dia adalah lulusan S1 Psikologi murni dan kemudian mengikuti akta IV untuk sertifikasi BK?

Sampai saat ini saya juga kurang paham, bagaimana alternatif solusinya. Tapi usut punya usut nih, kalo misalkan ada sekolah yang membuka lowongan kerja lalu mempekerjakan guru yang gak sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh Diknas maka hal itu bakalan mempersulit proses akreditasi sekolah tersebut. Jadi, satu-satunya cara yang menurut saya ini masih menjadi jalan yang pasti akan sulit untuk dilalui adalah dengan kuliah lagi.

Kuliah lagi? Emangnya gampang? Mudah kalo ada biaya dan emang mau belajar. Kendalanya mungkin hanya persoalan waktu dimana harus mengulang ikut kuliah dari ngambil S1 Bimbingan Konseling lalu lanjut S2 Profesi Konselor. Belum lagi sekarang pendidikan S1 itu memakan waktu minimal 4 tahun dan S2 minimal 2-3 tahun. Kalo ditotal sekitar 6-7 tahun baru kelar. Bukan kendala sih kalo emang passion-nya di situ.

Lalu bagi lulusan Psikologi sama juga. Kalo dari lulusan S2 Psikologi Sekolah/Pendidikan mungkin masih bisa jadi pertimbangan untuk menduduki jabatan guru BK. Sedangkan bagi lulusan profesi bidang peminatan lain, lebih baik, jaga-jaga aja daripada nantinya udah terlanjut terjun terus pas akreditasi lembaga kita dianggap "biang" karena gak sesuai sama standar kompetensi mending carilah lahan yang memang untuk profesi kita.

Tapi sejauh ini sih, kalo soal lamar kerja, saya masih sering ngirim-ngirim lamaran ke perusahaan padahal itu kan ranahnya profesi Psikolog Industri dan Organisasi ya. Heheh.. Bukannya mau merebut lahan teman sendiri. Tapi sering ada juga loh lowongan yang tulisannya sih lagi nyari Psikolog Klinis ehtapi lah kok kompetensi dasarnya mirip profesi PIO ya.

Ini mungkin jadi PR juga ya buat pemerintah supaya lekas-lekas ngatur perundang-undangan yang jelas dan sah buat para psikolog, bukan cuma itu tapi dipetakan juga lapangan kerja bagi lulusan profesi bidang klinis, IO, pendidikan, perkembangan, sosial dan lain-lain supaya nantinya gak terkesan "ngerebut lahan sejawat". Yah beda lagi sih kalo emang mau beralih peminatan. Kalo dulu saya juga sering dapat cerita dari alumni psikologi yang banyak berkecimpung di dunia industri padahal mah bidang peminatannya di pendidikan, sosial dan lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka harus beradaptasi dengan peraturan yang ada. Ya mau gak mau harus pedagogik gitu belajar sendiri supaya bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan oleh lembaga tempatnya bekerja.

Tetap semangat. Kalo emang udah mentok, mending langsung buka lapangan kerja sendiri atau berbisnis. Someday sih saya juga pengen bisa berbisnis sendiri. Amin. Sekarang pengen nambah pengalaman dulu, semoga segera.


UNEMPLOYED: SABAR DAN TERUS USAHA


------------------------ 
"You'll be fine. You are 25. Feeling (unsure) and lost is part of your path. Don't avoid it. See what those feelings are showing you and use it. Take a breath. You'll be okay, even if you don't feel okay all the time"
-Louis CK-


Sumber: Pixabay

Usia 20-30 tahun  adalah masa-masa produktif seseorang. Gak jarang juga orang dengan usia segitu mengalami banyak permasalahan. Salah satunya karir. Giliran udah wisuda jadi fresh graduate, tapi belum dapat kerja. Ada yang udah dapat kerja, tapi harus resign karena lagi hamil dan repot ngurusin anak. Ada juga yang rela bertahan di tempat kerja meski gak sesuai sama minatnya (bukan passion-nya) dan karena takut gak berpenghasilan lagi kalo sampe resign. 

Dua puluh tujuh menjelang 28 pada Januari tahun depan, saya masih begini-begini aja. Udah lima bulan saya nganggur pasca wisuda Mei lalu. Banyak lamaran pekerjaan yang udah saya apply, tapi belum ada yang kunjung memanggil untuk tes dan wawancara. Yang ada saya malah mendapat penolakan lantaran pernah apply ke salah satu perusahaan televisi swasta namun kualifikasi pendidikan saya dianggap ketinggian (karena saya pakai ijazah S2 sementara yang dicari minimal S1 tapi job desc-nya itu lebih pantas dikerjakan oleh lulusan S2 profesi). Ya udin lah. Mungkin emang bukan rejeki saya kerja di pertelevisian.




Satu dua bulan ngerasain nganggur sih masih biasa-biasa aja. Tapi lama-kelamaan, saya pun jenuh. Jenuh karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan rutinitas yang gak ada bedanya dengan hari-hari kemarin. Nyapu, ngepel, masak (kadang), nyuci, makan, tidur, main hape, baca-baca, liat youtube, anter Mama ke pasar. On repeat. Again and again.

Pernah sih berkunjung ke kampus pas ada job kilat dari salah satu dosen. Saya diminta bantuin revisiin jurnal beliau dan dari itu saya dapat sangu. Lumayan lah buat dipake beli kebutuhan pribadi. Jadi, lumayan juga buat ngendaliin diri gak minta duit ke Mama. Malu lah. Gini-gini saya juga tahu diri. Sebagai anak pertama, masa harus minta melulu. 

Di saat-saat nganggur gini, selain dapat ujian "sulitnya mencari pekerjaan", kesabaran hati pun diuji. Beberapa waktu lalu, salah seorang teman chat. Tumben-tumben juga sih dia nge-chat duluan. Saya pikir dia mau ngundang acara, tapi ternyata niatnya pengen silaturahmi. Awalnya sih saya nanya, apa aja kesibukannya. Lama gak denger kabar, rupanya dia lumayan memperlebar sayap. Dia banyak ikut event psikologi dan pekerjaan sosial. Trus si deseu ngomong kalo dia sebenarnya pengen ngajak saya untuk nimbrung di acara psikologi-psikologi gitu tapi deseu takut ngasih tahu karena dikiranya saya cuma mau ikut kalo kerjaan itu menghasilkan duit. Ya Allah... gak segitunya juga kali. Realistis emang perlu. Gimanapun kita butuh uang untuk melanjutkan hidup, buat makan biar ada energi untuk beraktivitas. Tapi sesekali bekerja untuk masyarakat juga perlu supaya kita tahu cara menghargai hidup, tahu gimana itu hidup susah, bisa ngerti posisi orang lain, sekaligus ngajarin diri gimana cara ngabdi dengan ngaplikasiin ilmu secara lebih efektif ke masyarakat meski tanpa fee.


Balik lagi soal kesabaran yang diuji. Saya juga gak mau munafik tapi juga gak mau iri hati. Saya pun juga manusia yang kadang saat melihat manusia lainnya bisa lebih berkembang, saya jadi ngerasa minder dengan diri saya yang justru belum apa-apa. Saya belum juga dapat kerja, mereka udah punya kerjaan. Mereka bisa dengan mudahnya ikut event namun saya... saya pun sebenarnya pengen ikutan tapi uang dari mana? Gak lucu kalo saya harus minta lagi dan lagi ke Mama. Pas saya lagi ada uangpun, saya bela-belain untuk disimpan lebihnya supaya saya bisa beli sabun, skincare dan barang kebutuhan pribadi lainnya tanpa harus minta ke Mama. Ya, kadang sih kalo pas saya bener-bener gak ada uang, Mama beliin saya pembalut atau apalah itu yang sifatnya personal.

Melihat teman udah selangkah menuju sukses, membuat saya gak lantas langsung iri, melainkan jadi bikin saya banyak mikir. Mikir kira-kira waktu yang sangat luang ini saya gunakan untuk apa ya. Saya pun udah nyoba ngirim beberapa tulisan ke situs online cuman mungkin gak bisa seterusnya karena gak ada perjanjian yang solid untuk jadi kontributor di situ sih. Belum lagi, uang dari hasil buku (yang saya tulis sendiri) udah gak sebanyak dulu bahkan sering juga sih gak dapat bayaran. Saya juga pernah hanya sekali dibayar oleh salah satu penerbit dan setelah tahun berganti, saya gak pernah lagi dapat bayaran atau minimal laporan penjualan (ada penjualan atau gaknya) dari penerbit yang bersangkutan. 

Dari empat buku yang saya pernah tulis, ada tiga penerbit berbeda yang menaungi saya. Penerbit pertama dan kedua transparan tapi penerbit yang saya titipin satu buku saya ini, seolah raib, udah gak pernah ngasih laporan apapun ke saya dan kurang respect entah kenapa sih kalo ditanyain gitu. Jadi, ya udah deh, saya maafin. Anggap aja, mungkin buku saya di penerbit itu udah gak laku sama sekali, jadi semuanya dihibahkan, mungkin ya mungkin tapi gak tahu lagi. Saya juga cukup tercekik dengan besarnya pajak royalti dari menulis buku dan jadi mikir, mau nulis lagi apa gak ya habis ini? 

Dengan pajak yang sangat besar (yang persoalan ini pernah diangkat oleh Bang Tere Liye di akun sosmednya), penulis cuman dapat sedikit. Kalo saya bilang sih dikit banget. Selebihnya royalti itu dibayar ke penerbit, buat pajak di tokonya juga, biaya produksi dan lain-lain. Kalo ditanya fair gak? Gak tahu juga sih harus jawab iya atau gak. Cuman yaa... ambil positifnya aja. Tiap pekerjaan  dan sistem kerja samanya itu pasti ada plus dan minusnya.


Supaya semangat gak down, saya kadang baca-baca biografi orang-orang sukses. Banyak sih menurut saya, orang-orang yang dulunya dipecat dari kerjaannya, resign bahkan menganggur dalam waktu lama. Tapi, mereka bisa memanfaatkan waktu luangnya itu dengan menciptakan sebuah pemikiran dan produk baru yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Contohnya aja si Bapak Suiciro Honda. Beliau dulunya dipecat dari tempatnya bekerja kemudian mendirikan perusahaan otomotifnya sendiri. Beliau sangat meminati dunia otomotif dan waktu nganggurnya digunakan dengan sangat baik. Si Bapak Honda sampe bikin skuter, bikin velg, dan alat-alat lain. Banyak banget gagasan baru yang langsung dieksekusi oleh Bapak Honda. Belum lagi, beliau juga punya skill marketing yang hebat sehingga bisa mengantarkan dia pada kesuksesan memasarkan produk-produk ciptaannya itu. Beliau juga pernah kok ngerasain masalah finansial sampe bangkrut tapi setelah itu dia bangkit lagi dan memperlebar karirnya hingga terjun ke Formula 1. Produk-produknya pun sampai sekarang masih bisa kita pakai. Yap, motor dan sparepart-nya dengan atas namanya itu.

Meski nganggur, emang harus tetap produktif. Produktif dalam arti mencari dan mewujudkan ide-ide kreatif nan segar, berani menantang diri untuk melakukan hal berbeda dari waktu ke waktu. Contoh kecilnya aja, kalo sebelum-sebelumnya gak pernah bikin kue (kayak saya), biar gak bosen ngelakuin itu-itu doang, coba sesekali eksperimen bikin kue. Failed sih pasti ada, tapi nanti lama-lama juga pasti bisa.

Saya juga kembali nekuni menulis karena udah lama dianggurin juga blog ini. Gapapa lah berbagi cerita dan pengetahuan ya.

Saya juga gak lupa berterima kasih buat orang-orang yang senantiasa nyemangatin dan gak ninggalin saya walau saat ini saya belum jadi apa-apa. Buat si doi, makasih ya udah selalu ngasih support, saat saya gagal ikut tes kemarin, dia juga berusaha nyemangatin, bilang anggap aja itu pengalaman buat ke depan. Kalo saya panik, dia juga sering ingetin supaya saya bisa slow down. Makasih yah. Doain saya lah ya supaya bisa cepet dapat kerja juga. Saya kan juga pengen gitu bantu cari duit buat bekal kita nikah nanti gitu. Amin.

Makasih juga buat dua sahabat yang selalu ngasih wejangan dan motivasi walau raga kita berjauhan. Dua temen SMA ini ngebuat saya jadi merasa punya kakak dan sahabat. Mereka berdua adalah orang yang sampe detik ini masih kontak saya. Saya juga bersyukur punya mereka dalam hidup saya. Makasih ya. Semoga kalian di sana sukses juga. Amin.

Buat kita-kita yang masih nganggur, tetep semangat, sabar, usaha dan doa. Gak ada yang gak mungkin kok kalo kita terus usaha. Seperti kata Bapak Honda, "Kesuksesan itu dihasilkan dari 99% kegagalan dan 1% usaha."

Bismillah semoga someday, saya bisa kerja, di mana pun itu, semoga gak lama lagi saya udah bisa kerja. Uppss.. lebih tepatnya semoga bisa berkarir dan berpenghasilan. Bisa nabung buat masa depan. Bisa investasi. Bisa buka usaha mewujudkan impian lainnya. Amin.

MATEMATIKA: YAY OR NAY

"Do not worry about your difficulties in Mathematics. I can assure you mine are still greater."
-Albert Einstein-

Saya pikir, tidak ada mata pelajaran/mata kuliah yang mengajarkan hal buruk pada manusia. Namun, gak semua mata pelajaran atau mata kuliah bakal disenangi oleh semua orang, kan? 

Gimana dengan Matematika? Mata pelajaran satu ini pasti bakal kita temui di mana pun, bahkan mulai dari TK hingga kuliah, kita pasti bakal ketemu sama pelajaran satu itu. Ya kan? Kalian yang udah kuliah pun pasti bakal ketemu Matematika dalam bentuk Statistik meskipun kuliahnya di jurusan yang berhubungan dengan ilmu sosial.





Flashback ketika masih sekolah dulu. Waktu TK hingga SD, saya suka banget belajar berhitung, ya penambahan, ya pengurangan, perkalian sampai pembagian. Senang aja gitu rasanya pas belajar Matematika, apalagi waktu guru ngasih pertanyaan, siapa yang bisa jawab harus ngacungin tangan supaya bisa dapat nilai. Saya juga masih ingat pas kelas 4 SD, saking semangatnya, saya sampai dimarahin guru karena angkat tangan terus pas guru saya ngasih pertanyaan. Kok yang jawab, saya mulu, yang ngacung pertama saya mulu, yang lain ke mana??? Sian deh gueeh.. Kok ya lagi semangat-semangatnya mau jawab pertanyaan di saat semua murid lagi malas, eh malah kena marah. Ya udin deh ah ya, saya diam aja habis itu.

Tapi, pas masuk SMP, saya merasa pelajaran Matematikanya kok ya makin rumit ya. Gimanapun juga, mau gak mau saya harus lebih giat belajar Matematika karena saat itu saya terpilih sebagai wakil sekolah untuk mengikuti ajang pemilihan siswa dan siswi teladan. Tiada hari tanpa briefing dan pengayaan. Tiap pulang sekolah, saat semua teman udah pada pulang, saya dan satu teman saya yang jadi wakil untuk siswa (laki-laki) gak bisa langsung pulang karena masih harus ikut pengayaan, belajar materi-materi soal yang akan diujikan saat perlombaan. Kebayang malas dan capeknya otak ini Tuhan digenjot tiap hari. Tapi, udah lumayan sih pas terpilih jadi juara III murid teladan bareng temen saya yang cowok itu. Seneng sih iya, cuman sayangnya saya jadi ketinggalan banyak pelajaran di kelas karena setiap minggu, gak pasti hari apa, pasti bakal diijinin cabut dari kelas buat ikut briefing,  pengayaan, dan lomba. Lombanya waktu itupun memakan waktu berpekan-pekan. Yah, kebayang dah rasanya sekolah, masuk cuman bentar habis itu disuruh ke kantor depdiknas, habis itu disuruh balik sekolah lagi ikut pengayaan di saat yang lain udah pada pulang ke rumah.

Saya juga masih ingat waktu kelas VIII atau II SMP, saya pernah mendapat penghargaan karena terpilih sebagai siswi dengan peringkat I umum sekolah. Sontak, temen-temen pada lingak-linguk heran, kaget, speechless, sisanya ikut seneng, sisanya lagi gengges bin gempar gak terima saya dapat rangking I umum. Bahkan temen sekelas yang merasa saya rebut kedudukannya juga sempat gak terima kenapa saya rangking I??? Zzz.... okay, sabar aja ya. Pikir saya, di mana pun sekolahnya, di mana pun berada, pasti ada kok orang yang suka dan gak suka sama diri kita.

Horornya, pernah saya dihadang salah seorang yang fans berat sama temen saya yang selalu rangking I di sekolah itu. Nah, pas giliran sehabis pengumuman, dia tahu rangking I umum itu jatuh ke tangan saya, dia gak terima. Dia sampe gak tanggung-tanggung ngehadang saya pas pulang sekolah terus nodong saya pake sejumlah pertanyaan. Bahkan parahnya lagi, dia menuduh saya pakai jampi-jampi dan itu dia pake acara teriak-teriak di depan umum. DI DEPAN UMUM, DI DEPAN ORANG BANYAK LO YA, dia teriak, EHHHH EMMA PAKE JAMPI-JAMPI, MUSTAHIL DIA RANGKING SATU. ITU FITNAH!!!

Ya, yang namanya manusia, saya kezel dong ya. Yang bikin saya makin kezel adalah dia itu laki-laki (tapi rada bences) yang mirip kayak lambe turah. Gak habis pikir, gimana ekspresi dan reaksi orang-orang sekitar ketika dia dengan heboh dan garingnya ngata-ngatain saya kayak gitu. Dia udah mempermalukan dan memfitnah saya di depan murid-murid seantero sekolah. Tapi, temen-temen saya yang baik pada saya bilang ke saya untuk gak usah ngehirauin apa kata orang. Mereka meyakinkan bahwa pemilihan itu sifatnya fair dan gak ada satupun yang berhak merasa dirugikan.



Semenjak itu, saya jadi mulai malas belajar Matematika. Malas lantaran beberapa minggu setelah pergantian semester, ada beberapa orang yang menyebarkan isu gak benar mengenai pemilihan peringkat umum sebelumnya. Beberapa teman ada pula yang ikut termakan isu itu sampai meragukan kemampuan saya. Saya hampir berada pada titik tersudutkan, terpojokkan. Bayangin aja, pagi-pagi baru tiba di sekolah, beberapa murid udah kongkow di depan kelas sambil bisik-bisik tapi matanya sinis ke saya. Bodohnya, saya merasa semakin ngenes. Gimana gak ngenes karena teman saya yang selalu rangking dulu itu adalah kelompok belajar saya di kelas (dulu kami sistemnya di kelas adalah duduk berkelompok-kelompok mulai awal hingga akhir semester). Acapkali dia masih mecucu bin mendelik yang kemudian membuat saya ingin saja tukaran kelompok. Tapi, teman-teman yang lain senantiasa nguatin saya diam-diam, minta saya untuk gak nyerah gitu aja dan yakin pasti kelak si teman saya yang marah tadi bakal sadar bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh posisi terbaik di sekolah dengan kemampuan belajarnya yang mumpuni.

Saya ngangguk-ngangguk aja dan pasrah. Belum lagi, makin banyak tugas kelompok yang terbengkalai cuman gara-gara masalah "rangking". Yang tadinya si temen saya yang marah itu adalah ketua kelompok, mendadak mau ngundurin diri dari posisinya dan melimpahkan tugas presentasi ke saya. Saya cuman gak habis pikir kalo ternyata bersekolah pada masa itu sangat kompetitif dan gak mudah untuk bisa pertahanin posisi yang udah diraih mati-matian.

Kejadian beneran. Ketika tiba hari presentasi tugas kelompok Matematika, dengan langkah gontai, saya maju ke depan kelas. Bapak guru Matematika (yang mana beliau adalah mantan guru Mama sekaligus teman Mama jaman dulu) sempat menertawai saya yang bertingkah sok lemah lunglai pas presentasi. Pas kelompok lain mengajukan pertanyaan, saya sebagai ketua tentu punya rasa gengsi jika harus terus melimpahkan tugas menjawab pertanyaan ke teman-teman. Minimal sih saya harus menguasai bahan dan bisa menjawab dengan tegas. 

Namun, belum juga saya jawab, semangat saya langsung down ketika Bapak guru nyuruh saya untuk jawab semua pertanyaan tanpa harus minta persetujuan atau bantuan opsi jawaban dari anggota kelompok. MAMPUS gak sih? Udah diketawain guru, temen saya yang masih marah itu acuh gak acuh, belum lagi sorak-sorai dari kelompok lain yang nungguin jawaban dari saya. 

Dengan kekuatan bulan dan bintang bismillah, dengan kalimat terbata-bata, saya mencoba menjawab. Saya paham jika ada teman yang masih gak sreg sama jawaban yang saya kasih tapi alhamdulillahnya tanpa diminta, mereka mengerti posisi dan keluhan saya. Mereka ternyata udah tahu mengenai isu yang beredar tapi sebagian dari mereka justru memaklumi. Maklum jika saya gak bisa maksimal presentasi karena satu, saya gak expert untuk pelajaran Matematika, dua, saya masih terjebak dalam suasana tidak menyenangkan pasca pengumuman peringkat di semester lalu.


Sehabis presentasi, si Bapak guru nepuk pundak saya sambil ngasih wejangan. Wejangannya apa? Saya disuruh lebih gigih lagi belajar Matematika. Belum sempat saya mau ngucap syukur karena tadinya saya kira bakal dimarahin, eh gak taunya si Bapak guru bilang, "Yan, nanti kamu yang jadi wakil di lomba Olimpiade Matematika ya. Kamu harus ikut. Saya udah usulkan kamu." Errrfffgghh..... Entah harus sedih atau marah atau bahagia. Rasanya campur aduk aja perasaan kala itu. Belum lagi disuruh ikut Olimpiade Matematika. MATEMATIKA LAGI??? Padahal jauh-jauh hari, saya udah minta izin ke guru Biologi buat didaftarin Olimpiade Biologi. Saya udah persiapkan untuk Biologi, mati-matian belajar Biologi supaya nilai saya gak meragukan dan supaya bisa ikut sebagai wakil Olimpiade Biologi. Tapi, lagi-lagi, mengapa saya harus dipaksa untuk gak memilih? Mengapa harus Matematika lagi???

Saya cuman senyum dengan raut wajah yang jelas gak ikhlas sewaktu dengerin usulan si Bapak guru tadi. Pengen ngelus dada aja, Pak...

Berasa mimpi buruk tau gak sih. Pagi-pagi harus selesaiin tugas kelompok Matematika yang terbengkalai, harus presentasi dadakan, diketawain, dan disuruh ikut Olimpiade Matematika. Purrrrfeect...

Berjalannya waktu, saya jadi dapat pelajaran berharga. Saya udah pasti dan sangat jelas gagal maju ke babak final Olimpiade Matematika. Belum lagi nilai ulangan blok Matematika saya belakangan banyak yang hancur. Terang aja sih kondisi psikologis saya serasa goyah tak menentu. Bahasa hiperbolanya, seolah sedang berada di titik nadir. Gak tahu kudu semangat dengan cara apa lagi. 

Belum lagi, di ujian Bahasa Inggris, (bukannya sombong tapi ini cerita sebenarnya), kebetulan saya dapat nilai paling tinggi di antara seluruh kelas, dan kemudian guru meminta saya untuk ngajarin teman-teman yang membutuhkan, belum lagi saya kudu diminta pertahanin nilai itu hingga akhir sekolah. Belum lagi ada guru Bahasa Inggris satunya yang minta saya untuk gak pelit bagi ilmu. Apa Pak? Jadi, Bapak pikir saya pelit? Saya gak pelit Pak, cuman saya berusaha untuk gak memberikan contekan, sebisa mungkin supaya tetep fair dan saya juga berusaha untuk gak pernah mau nyontek lagi kalo ada ulangan Matematika (iya dulu saya sempat nyontek sih, tapi udah belajar ngendaliin diri). 

Inilah hidup, menjadi manusia yang sewaras mungkin menyadari bahwa hidup gak melulu harus optimis. Kadang, terlalu optimis itu juga gak baik. Kadang, apa yang kita harapkan ternyata gak kenyataan. Bukan karena salah kita yang gak memperbanyak usaha namun karena situasi yang mengharuskan kita untuk gak membuat banyak pilihan. Seperti halnya ketika saya harus terjebak mengikuti Olimpiade Matematika, harus memikul amanah rangking I umum, mendapatkan nilai Bahasa Inggris (yang kebetulan pada saat itu) nilainya sempurna di antara ratusan murid di sekolah dan masih banyak lagi peristiwa kurang menyenangkan yang bersinggungan dengan dunia akademis di sekolah saat itu.


Bersyukurnya, pas udah mau lulus SMP, teman saya udah gak marah lagi. Kami juga udah gak sekelas lagi karena yang masuk peringkat 10 besar diacak untuk menempati beberapa kelas. Saya waktu itu kedapatan masuk di kelas III.1 (waktu kelas III SMP). Saya merasa merindukan aroma kompetisi yang dulu karena terbukti di kelas tiga, saya teramat santai, sering dapat rangking 1 kelas, ngerasa kekurangan challenges. Ya, saya bersyukur aja sih punya teman-teman pintar dan pernah disinisin teman pintar. Itu berarti saya masih punya kemampuan dan saya menghargai kemampuan saya itu.

Saya pun sadar, mungkin saya gak suka sama pelajaran Matematika akibat pengalaman masa lalu yang gak banget terkait Matematika. Akhirnya, saya malas-malasan setiap ketemu dengan deretan angka yang banyak.

Buat kamu yang gak suka sama pelajaran Matematika, gak masalah kok. Hidupmu gak lantas bakal ending. Kamu masih bisa pelajari dan kembangkan potensi di subject lain yang kamu minati. Mungkin pada bidang ilmu sosial atau bahasa. Kamu juga gak mesti kok jadi anak IPA. Entah keajaiban apa waktu SMA saya bisa masuk kelas IPA. Jujur, saya sering dapat nilai bagus pada matpel Fisika dan Kimia kala itu tapi gak banget untuk Matematika. Nilai ilmu pengetahuan sosial saya pun jauh melambung tinggi namun saya harus mati-matian untuk tetap survive di kelas IPA.



Saya petik aja sebagai pelajaran. Kalo udah tahu saya lebih pintar di ilmu sosial, seandainya saya masuk kelas IPS dulu ya, mungkin saya akan selalu merasa puas, mungkin saya hanya bakal semakin terjebak dengan zona nyaman seperti waktu kelas III SMP. 

Pas masuk SMA kelas IPA, saya semakin kewalahan. Sempat dapat rangking III umum, tapi setelah itu makin menurun. Entah karena semangat yang juga kian surut atau hal lain.

Sekali lagi, saya katakan, gak masalah kamu gak suka Matematika. Tapi, ketika tiba waktunya kamu harus berhadapan lagi dengan subject itu, maka persiapkan diri, challenge dirimu sendiri sebagai ajang untuk menambah wawasan dan meningkatkan kualitas diri. Gak papa kok kalo nilai Matematika rendah. Yang penting ada niat untuk terus belajar.

Bila perlu, coba temukan metode belajar yang bisa membuat kalian betah dengan Matematika. Belajar kan gak harus selalu di dalam kelas. Bisa belajar dari objek-objek yang ditemuin di kehidupan sehari-hari, belajar bareng temen, belajar di internet atau lainnya. 

Kalo kamu pernah membaca artikel bahwa ada penelitian yang menyatakan anak yang gak pintar di Matematika itu karena kekurangan zat besi atau salah ibunya mengandung, stop, jangan terlalu terhasut oleh hasil penelitian. Sekalipun mungkin itu benar, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk ogah belajar sama sekali.

Saya juga gitu. Sampai saat ini, saya masih terus belajar. Kadang iseng-iseng nyoba jawab soal-soal yang ada di internet. Itung-itung buat jaga-jaga aja barangkali someday saya dapat panggilan kerja, berharap bisa mendapatkan nilai lebih baik lagi pas ikut tes kerja.

Intinya, jangan pernah menyerah. Terus belajar tingkatkan kualitas diri, minimal dari diri dan untuk diri sendiri. Gak usah dengerin kata-kata orang yang menyudutkan. Tetap recharge diri sendiri dengan hal-hal yang positif dan optimislah dengan kadar sewajarnya.

Yap, sekian dulu ya cerita kali ini. Terima kasih udah nyimak.


KEEP YOUR REAL INNER CIRCLE SMALL

Saya terinsipirasi menulis tentang tema ini karena pernah mengalami hal-hal kurang menyenangkan dalam hubungan pertemanan. I don't mean to hurt people's heart dengan saya menuliskan ini, tapi saya belajar untuk jujur pada diri sendiri. So, now, it is time to change my circle. Perubahan yang saya maksud bukan dalam artian saya membenci sebagian lalu menyukai sebagian lainnya. Perubahan tersebut terjadi sebagaimana adanya, berjalan secara alamiah seiring telah semakin banyaknya pengalaman yang saya lalui.

----------------------------


From aminoapps.com

Jika kalian pernah membaca Secangkir Kopi Bully, kalian sudah pasti tahu bahwa saya pernah menjadi korban bullying sejak TK hingga SMA. Belum lagi saat kuliah pun, saya pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan mengenai pertemanan. Meskipun semua sudah diakhiri secara baik-baik, tapi bukan berarti luka "sobek" yang sempat tergores lantas sembuh dengan sendirinya. Saya memaafkan tapi saya tetap ingat dan I'm very sorry if I have to say goodbye to some people who ever attack behind my back. Goodbye yang saya maksud bukan berarti saya benar-benar tidak mau menegur, hanya saja orang-orang yang saya beri goodbye adalah mereka yang sudah tidak lagi saya jadikan tempat curhat. Hemat saya, untuk apa membuang waktu dengan orang-orang yang hanya mendambakan kelebihan serta kesempurnaan dari orang lain sementara mereka tidak bisa menerima kekurangan pun ketika terjadi sebuah masalah, hanya bisa menyalahkan orang lain, tidak bisa berkaca pada diri sendiri juga dan tak punya inisiatif untuk menyelesaikan dengan baik malah mendendam atau hanya diam membisu. Jadi, beruntunglah orang-orang yang masih saya percayai sebagai partner curhat dan berbagi, sekalipun mungkin ada di antara teman-teman saya yang "nakal" namun karena saya percaya mereka tidak akan menusuk saya dari belakang, mereka tetap aman berada di dalam lingkaran saya.

Siapa sih yang tidak "terluka" ketika dibully di "belakang" apalagi itu disebarkan di media sosial. Orang-orang yang tadinya tidak tahu sama sekali dan tidak kenal sama sekali, namun dengan adanya omongan menyakitkan itu akhirnya orang-orang asing pun jadi semakin mengkompori hal yang seharusnya tidak penting untuk dibahas. Dengan begitu, otomatis, tingkat toleransi saya terhadap mereka yang hanya berani dari belakang semakin dan semakin rendah.

Belum lama ini saya juga mulai mengurangi akun sosmed saya, pelan tapi pasti. Ya, hal ini sempat mengundang tanda tanya besar dan kesalahpahaman di antara orang-orang kesayangan saya. Pernah saya memutuskan untuk pelan-pelan menghilang dari akun Path. Saat itu, Path saya memang benar-benar sedang trouble, kemudian beberapa waktu berikutnya, saya log out dan lupa password. Si abang (saya sebut si abang aja ya biar lebih greget penasarannya hehe, dan saya yakin, pasti dia pernah stalk blog ini) kemudian saya minta untuk mem-follow akun baru saya tapi agaknya enggan. Ya, saya yakin kalau si abang pun jadi salah paham dan dipikirnya saya meng-unfollow dia saja, padahal Path saya memang trouble tapi si abang tidak suka jika saya menjelaskan. Well, saya pun putuskan untuk meng-uninstall Path dari android. Bukan karena si abang, tapi karena di Path itu juga pernah saya mendapati status dari seseorang yang amat sangat menyakiti, menyakiti saya dan menyakiti si abang. Saya yakin si abang masih punya akun Path sampai sekarang, ya mungkin saja, tapi tak masalah. Saya hanya menjauh dari teman-teman yang sudah menularkan hawa negatif untuk saya dan karena saya bukanlah orang yang "betah" berlama-lama membaca postingan buruk dari mereka.

Baru-baru inipun saya akhirnya menghapus akun Facebook saya secara permanen. Why? Si abang sempat bertanya, apakah ada hal-hal aneh lagi? Jujur, sudah tidak ada lagi sih. Hanya saja saya gerah. Sangat gerah dengan Facebook yang isinya sudah semakin sumpek, crowded dan yeah, terlalu banyak orang yang meng-add saya, bukannya saya malah senang, saya malah bisa frustrasi. Kenapa begitu? Kalau orang yang tahu pribadi saya seperti apa, mereka sudah pasti understood. Saya sejak dulu adalah orang yang kurang suka dengan situasi crowded. Kalau disuruh milih, mending saya pergi ke suatu tempat yang tenang dimana tidak banyak orang di tempat itu dan tidak membuat sesak dengan banyaknya mulut yang cas cis cus sana-sini. Eman banget karena di Facebook, saya juga punya akun Fanbase pembaca buku. Hampir semua pembaca saya mengontak melalui Facebook. Bahkan saya juga sempat mendapati ada puluhan, entah berapa puluh message di Facebook dari pembaca yang tidak pernah saya read dan baru saya baca menjelang penghapusan Facebook tersebut. Ya, tidak masalah, toh mereka juga sudah tahu email saya dan mereka masih bisa menghubungi saya via email atau Hangout Google+ jadi bisa chit chat di situ.

Kalau ditanya, sekarang saya punya berapa akun sosmed. Yang benar-benar up to date hanya 2 yaitu Instagram dan of course Whatsapp, sedangkan Line dan Twitter masih ada cuma amat jarang saya buka. Tadinya, jujur saja saya katakan ini, awalnya Instagram hanya saya peruntukkan bagi teman-teman lama, except teman-teman S2. Kenapa? Karena saya sudah menghapus Facebook dan saya mau Instagram isinya tidak beda jauh dengan FB yang mayoritas dipenuhi oleh teman-teman lama, tentu saja teman-teman semasa sekolah ketika masih di Parepare. Di antara mereka pun, ada dua sahabat "kental" saya. Namun, karena satu dan lain hal, saya kembali membuka Instagram saya untuk umum. Saya memutuskan untuk sesekali berbagi informasi seputar psikologi bukan hanya di blog ini tapi juga di sosmed, dan sosmed paling pas untuk tempat sharing ilmu adalah Instagram karena masih bisa menampung tulisan yang panjang, hehe. Jadi, saya buka kembali untuk umum. Namun, memang, dulu saya sempat menghapus semua teman-teman S2 saya dari Instagram dan beberapa teman lainnya.

Selain itu, ada lagi satu hal yang agak mengganggu saya. Saya tidak mungkin menyatakannya secara langsung kepada orang-orang yang saya maksud. Ya, maafkan saya kalau saya seperti ini. Tidak ada maksud, hanya saja saya merasa terganggu. Saya hanya akan memberikan kontak Whatsapp saya untuk orang-orang yang memang pernah masuk dalam lingkaran relationship saya antara lain keluarga tentu saja, kemudian beberapa teman sekolah, teman kuliah strata satu, dosen dan pihak-pihak yang kedudukannya penting, beberapa teman strata dua dan para klien (yang pernah/ingin konseling). Jadi, bila ada teman yang tidak terlalu dekat dengan saya meski pernah kenalan atau pernah berhubungan karena suatu keperluan atau bahkan orang asing yang sama sekali tidak pernah mengenal apalagi bertegur sapa dengan saya, saya kurang suka bila mereka tahu nomor hape saya kemudian sok kenal sok dekat mengontak saya. Lebih lebih lagi jika mereka terus mengirimkan chat. Biasanya, saya akan diam dan men-silent notifikasi yang masuk dari orang-orang yang tidak akrab dengan saya. Kalaupun akhirnya saya memberikan kontak kepada teman atau orang yang dulunya atau sekarang tidak begitu akrab dengan saya atau hanya sekadar teman biasa, saya mohon untuk tidak men-chat dengan aksen seolah ingin bersikap akrab pada saya. Saya mulai tidak bisa sesupel dulu dan mulai tidak lagi seterbiasa itu. Kalaupun saya ikut merespon dengan tawa, ya itu saya lakukan sebagai usaha untuk menghargai lawan bicara. Meski saya tak kenal dan meski saya tampak kurang nyaman tapi saya masih berusaha untuk santun. 

Dan, saya bukanlah orang yang 24 jam standby di sosmed, aktif online terus. Jadi, saya juga kurang nyaman jika ada teman yang tidak begitu akrab menelepon saya via akun sosmed ataupun menelepon via telepon seperti biasa. Saya biasanya akan menolak secara halus. Please, karena saya sudah merasa memahami keperluan mereka jadi setidaknya mereka juga harus mengerti dengan batasan privasi saya. Hahaha, si abang saja sejak sibuk bekerja sangat jarang menelepon, tidak masalah sih, saya paham karena pekerjaannya pun cukup berat. Mungkin juga saya jadi ketularan dia yang kadang malas ditelepon. Bukan malas saat dia yang menelepon loh ya, tapi malas menerima telepon dari orang yang tidak dekat dengan saya. Pernah suatu ketika saya menelepon si abang secara impulsfif karena terjadi kesalahpahaman antara kami. Dia bilang bahwa dia malas dan kalau tidak terjadi apa-apa atau jika memang tidak terjadi suatu masalah yang benar-benar membutuhkan concern untuk dibahas berdua, dia cenderung tidak menelepon. Saya jadi terbiasa dengan ritmenya dan menerapkannya pula untuk orang lain. 

Ya, despite that, saya terus terang rindu dengan si abang. Semakin kecil lingkar relationship dengan orang-orang, saya pun jadi lebih intens menghubungi si abang. Dia menjadi satu-satunya inner circle yang lebih prefer saya hubungi duluan daripada lainnya. Kalau hilang tidak ada kabar, kadang jadi sebel sendiri, rindu-rindu sendiri, bingung sendiri. Rindu karena meskipun setiap hari komunikasi di Whatsapp, tapi kami pun jarang komunikasi via telepon. Akhirnya, saya manut saja. Ya, pikir saya, kalau dia memang mau telepon, saya pasti akan menyambut dengan senang hati, tapi kalau lagi malas telepon karena baginya tidak ada yang urgent banget ya tidak masalah bagi saya. Komunikasi via apapun itu, saya terima. Satu aja sih yang berusaha saya jaga, untuk commit memberi kabar. Kadang, kalau saya benar-benar sibuk, saya jadi amnesia sendiri. Saya masih seperti itu dan masih berusaha untuk beradaptasi. Kalau saya pribadi benar-benar sibuk harus wira-wiri ke mana-mana, mengurusi banyak hal, biasanya saya cenderung menelantarkan hape dalam waktu yang bisa sebentar, bisa juga lama. Seperti halnya dua hari sebelum wisuda, ada banyak kendala saat mengurus administrasi dan perlengkapan di kampus. Sampai akhirnya, saya lupa mengabarinya dan dia pun menghubungi saya sambil kesel gitu. Saya memang sibuk dan hape sempat saya non aktifkan lama. Malam ramah tamah baru saya aktifkan. Dia agak kesal dan terjadilah kesalahpahaman lagi. Sungguh tidak ada maksud untuk tidak mengabari. Hanya saja, saya sering autis sendiri. Maaf ya mijn, aku nggak maksud untuk menghilang kok, aku masih belajar untuk nggak tiba-tiba autis saat sibuk. Kami sebenarnya punya kemiripan sih saat sibuk. Dia, kalau sibuk biasanya akan lebih banyak diam dan ketika di-chat misalnya, hanya di-read dan baru akan dibalas beberapa waktu kemudian. Saya pun sering seperti itu, bahkan lebih parah lagi mungkin dengan menelantarkan hape. Lah kok jadi curcol... :D .... back to the topic...


Yap, meksipun lingkar pertemanan menjadi semakin kecil dan sempit seiring bertambahnya usia, namun saya yakin kualitas pertemanan akan lebih meningkat. Punya banyak link dan teman itu bagus sih, tapi bukan berarti tidak menjadi selektif. Kalau dibilang pemilih, akhirnya, saya berkata yes. Saya memilih hanya orang-orang yang satu frekuensi dengan saya dan bisa memahami satu sama lain. Bukan orang yang bagus dan nyata di depan namun fake di belakang. Yah, say goodbye deh buat orang-orang yang berteman karena punya maksud yang tidak baik atau yang hanya ingin memanfaatkanmu, persis seperti lagu di bawah ini...

Satu lirik lagu unik lagi yang berjudul Panjat Sosial, begini bunyinya...

Hati-hati jaman sekarang
Banyak orang berteman punya maksud tujuan
Mengumbar kedekatan dapetin keuntungan
Abis manis lo dibuang

-----------
Kalaupun ada teman yang awalnya akrab karena suatu keperluan/urusan dan pernah saya jadikan tempat curhat, namun jika mereka tidak open-minded dan tidak satu frekuensi dalam beberapa hal dengan saya, maka mereka tetap bukanlah termasuk dalam inner circle saya. Mereka teman tapi hanya sebatas itu. Teman cerita maybe, tapi tidak untuk menceritakan hal-hal yang sangat privasi.

Literally, saya pun come back ke teman-teman yang membuat saya benar-benar nyaman, yang mana dengan mereka saya tak perlu berubah menjadi orang lain, tetap jadi diri sendiri. Tidak perlu berpura-pura ketika bersama mereka. Mereka yang mau bareng dan tetap ingat kala susah maupun senang dan pastinya mereka tidak berganti rupa di belakang. Jadi, saat ada masalah, bisa terang-terangan, jujur-jujuran walau menyakitkan, habis itu balik lagi deh, tidak bisa pisah, marahnya hilang, keselnya hilang, itu karena mereka sudah melebur dengan saya, saya pun begitu sudah melebur dengan jiwa mereka, kami sudah satu frekuensi, satu radar.

Soal ini, saya jadi tersentuh mendengar sebuah lagu via Radio ketika menuliskan ini. Saya kurang tahu judulnya apa dan siapa penyanyinya. Liriknya begini...

Ku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang kubutuh satu teman
Tempat berbagi cerita
....

Cuman butuh the special one, tempat berbagi semuanya, termasuk berbagi kehidupan hehehe and this is you,  my superman.

KENAPA FOTO KAKI SIH?

"Some people are anchored to this world by their feet, others by their fears."
-John Kramer, Blythe-


Suatu ketika dia nanya, "Kok foto kaki sih?" Saya hanya menjawab, "Haha, nggak papa. Suka aja."
-----------

Saat saya lagi malas selfie, saya malah lebih suka foto kaki. I don't know why, tapi ada rasa nyaman sendiri buat saya saat foto kaki. Kalau diperhatikan, dari beberapa foto kaki saya, background-nya sama semua ya hehe cuman nampakin latar belakang lantai polos meskipun berada di tempat yang berbeda.



Foto di atas itu sewaktu saya masih praktik kerja profesi tahun 2015 lalu tepatnya di SLB Lawang. Saat saya datangnya kepagian, saya kadang iseng selfie atau foto apa aja sendiri di ruang asesmen. Oh ya, ngomong soal sepatu, jujur saya lebih suka flat shoes. Kenapa akhirnya saya beli sepatu itu yang solnya tampak ada sedikit hak-nya kayak foto di atas? Itu karena saat itu saya benar-benar lagi butuh sepatu yang agak formal, namun sesampainya di Mall, saya sempat agak susah mencari yang sama dengan ukuran kaki saya. Malah, saat saya menghampiri salah satu counter sepatu, mbaknya sampai menawarkan untuk melebarkan sepatu dengan sebuah alat. Entah apa namanya, pokoknya itu alat untuk melebarkan. Lah, kalau dilebarkan terus nanti jadi rusak, saya juga nggak mau dong. Akhirnya, saya keliling ke Matahari Matos, nggak dapat yang sesuai selera saya. Terakhir, saya masuk ke Buccheri. Sebenarnya saya menghindari beli yang mahal. Namun, mata saya sulit untuk tidak berpindah ke lain hati lagi saat melihat sepatu warna Tan yang kalian lihat di foto atas ini. Simpel, warnanya natural dan cocok untuk formal. Itulah yang saya cari. Akhirnya, saya putuskan untuk membelinya karena kebetulan tinggal satu-satunya yang size 40. Di tempat lain ada sepatu lain size 40 tapi size-nya entah kenapa kekecilan untuk kaki saya dan Buccheri ini pas banget, nggak kegedean tapi juga nggak kesempitan. Bahannya kokoh. Saya beli itu tahun 2011 atau 2012 ya, saya agak lupa, tapi seingat saya itu waktu saya S1 akhir-akhir skripsi. Saya beli karena berpikir mungkin setelah itu saya kerja, jadi lebih baik beli sekalian. Sampai sekarang, sepatunya masih awet, hanya saja solnya itu agak termakan sedikit sih. Gimana ya ngejelasinnya. Jadi solnya yang tadinya rata, sekarang permukaannya sudah nggak rata. Mungkin gara-gara saya pernah pakai sembari mengendarai motor dan menyentuh aspal saat mengerem. Jadi kalau dilihat sekilas, solnya timpang, nggak rata gitu. Tapi untungnya masih enak sih dipakainya, masih bagus juga. Cuman kulitnya ada yang tergores namun tidak sampai merusak kulitnya, waktu itu beli dengan krim pembersihnya cuman sudah kadaluwarsa mungkin jadi sudah nggak pernah saya bersihkan. Ini bahannya kulit sintetis sih ya jadi lebih awet. Warnanya pun nggak pudar. Intinya, kalau pakai sepatu bagus dan sedikit lebih mahal, saya eman-emani jangan dipakai sembari mengendarai motor apalagi kalau musim hujan, jangan sampai sepatu ikutan kena basah. Jadi, setiap kendarai motor dan dalam setiap musim apapun, mau hujan atau nggak, saya lebih prefer pakai sandal jepit dulu. Jadi, setelah tiba di kampus atau kantor, baru deh saya ganti pakai sepatu.
---------------


Foto ini saya ambil saat berada di stasiun KA Kota Baru, Malang. Waktu itu masih musim praktik namun praktik kali itu di RSJ Menur Surabaya. Mau gak mau setiap Jumat, saya pasti pp Malang-Surabaya. Kalau balik, kadang sendirian, kadang juga bareng teman yang lain. Saat itu saya tengah menunggu kereta sendirian. Gak ada kerjaan, jadi selfoot aja.
---------------


Foto ini saya ambil beberapa bulan lalu saat sedang antre di Richeese Factory samping Poltekes Negeri Malang. Saat itu, Bapak ngajak kami sekeluarga makan di luar. Daripada bete karena antrenya panjang, jadi selfoot lagi deh. Saat itu, tepat di barisan antrean depan saya ada sepasang sejoli. Mereka terlihat begitu serasi, ceweknya cantik dan cowoknya juga tampan. Lucunya, melihat style ceweknya, saya jadi teringat sama para personil JKT 48. Kok bisa keinget itu? Pasalnya, saat itu, si cewek memakai pakaian persis seperti personil JKT 48 ala-ala siswi Jepang, roknya pendek di atas lutut dengan akses rempel dengan motif kotak-kotak berwarna merah hitam kemudian didobel dengan kaos kaki stoking warna hitam transparan, rambutnya pendek sebahu lurus bak habis dicatok lalu dipermanis dengan pita merah. Dia juga memakai cardigan warna hitam. Hidungnya sedikit mancung, matanya sipit dan rupanya manis. Posturnya lebih pendek dan lebih kurus sedikit dari saya. Dia juga mengenakan tas berwarna hitam. Di depan saya, dia bersama sang pacar terlihat saling berangkulan, ngobrol entah apa yang diobrolin seolah dunia hanya milik mereka berdua sementara yang lain ngontrak. Cowoknya pun tampak cuek dengan dunia sekitar. Matanya hanya tertuju pada si ceweknya tadi. Kalau diperhatikan sekilas, cowoknya ini usianya cenderung lebih tua daripada si cewek, maybe seorang mahasiswa. Mengobservasi mereka bikin saya jadi Zzzzzz..... sendiri, bukan ngantuk, maksud saya, saya jadi gimana gitu lihatnya. Kalau dibilang iri sih nggak juga, tapi saya cuman merasa sedikit bahagia tapi sekaligus awkward melihat tingkah mereka. Bahagia karena mereka tersenyum berdua melulu. Awkward-nya karena jarang sih lihat orang pacaran sambil mesran-mesraan sembari antre pula di tempat makan gini :D...
----------------


Foto terakhir ini saya taken tadi siang saat sedang menunggu legalisiran ijazah sekaligus transkrip nilai di kampus 1 Pascasarjana UMM Jl.Bandung. Kok pakai sepatu sandal sih ke kampusnya? Hehe pikir saya karena udah nggak ada kegiatan kuliah jadi ya gak papa lah ya menabrak formalitas. Saya juga lagi malas pakai sepatu sih :D. Tadi sewaktu di kampus, saya melihat salah seorang laki-laki yang mungkin usianya sudah 30-an, saya nggak tahu pasti. Dia duduk di deretan kursi yang berada dua meter di deretan kursi saya. Dia sedang asyik menelepon dan duduk dengan gaya yang sangat nyantai. Hal yang saya observasi dari dia adalah ketika dia meludah dua kali. Kok kesannya kurang sopan gitu ya, meludah di dalam kampus ya walaupun liurnya itu masuk ke sela-sela bolongan besi, tapi kan tetep aja saya kurang setuju. Lagipula jarak antara kursi dan bolongan besi itu sekitar satu meter. Seandainya saat itu, ada orang yang nggak sengaja lewat di depannya terus dia refleks meludah, tentu nggak bisa dimaafkan ya. Saya juga sering sih lihat Bapak yang meludah di jalan. Literally, saya kurang suka sih kalau ada orang apalagi itu cowok yang meludah di jalan atau di tempat umum. Ya, ada baiknya kalau meludah mending ke toilet atau kamar mandi dulu atau kalau mau praktis, sediakan tisu lalu meludahlah dengan tisu sambil menutup mulut. Kita juga nggak tahu kan, barangkali ada orang yang jijik dengan melihat liur kita napak di jalan dan itu bisa jadi menyebarkan virus penyakit yang tidak sehat bagi yang nggak sengaja menginjaknya. 

Saat itu, saya tengah mencari tempat fotocopy lewat GPS, tapi berhubung sinyal lemot, akhirnya saya memutuskan untuk keluar kampus mencari sendiri dulu baru setelah itu kembali lagi. Saya pun dengan santai berjalan lewat tepat di depan orang yang meludah tadi. Dia dengan posisi kaki bak selonjoran (kakinya di rentangkan memanjang hingga hampir mencapai batas jarak dengan bolongan besi di depannya), saya lewati dengan santai tanpa permisi. Kenapa akhirnya saya seperti itu, sebab saya nggak mau jalan di koridor dekat bolongan besi yang sudah dia ludahi tadi. Saya sibuk melihat dan menata map berisi ijazah dan transkrip tapi mata saya sekilas melirik ke arahnya dan orang tersebut melihat saya berjalan di depannya mulai dari saya berdiri hingga saya berlalu beberapa detik dari hadapannya. Ya, memang sih, dia tidak merugikan saya, namun, karena dia sudah mengotori lantai yang harusnya nyaman untuk dilalui orang yang berjalan dengan liurnya, jadi saya berpikir terlalu sopan jika saya berjalan sambil permisi, toh, koridor itu juga jalan umum meski berdempetan dengan kursi tapi orang-orang bebas untuk lewat. Ya, semoga nggak ada lagi orang-orang seperti itu. Kalau ketemunya orang yang buang liur di pasar-pasar sih, saya masih bisa maklum ya karena pasar pun tempatnya seperti itu, tapi ini di kampus. Dan, baru kali ini saya melihat ada orang yang meludah di dalam kampus dan itu posisinya sedang duduk di depan lantai koridor. Kalaupun dia malu meludah, seharusnya lebih mendekat lagi ke bolongan jadi liurnya nggak nyiprat ke mana-mana.





Yap, segitu dulu ya cerita saya di balik foto-foto kaki ini. Memang sih fotonya kurang mencerminkan background ceritanya karena hanya ada kaki dan lantai gitu aja. Tapi, meskipun juga cerita di baliknya hanya cerita receh, paling nggak ada sedikit pesan di antara foto-foto kaki tersebut. 

Kalau kalian suka foto kaki juga apa nggak nih?