Pages

HINDARI MENGATUR BERLEBIHAN & MEMBENTAK ANAK

by catatanistri.com
Sekedar intermezzo mengenai gambar di atas, saya peroleh ketika membaca status teman Facebook. Saya sedih melihat ekspresi anak yang menggemaskan itu.
------
Selama praktikum ini, ada banyak sekali kasus-kasus yang bertebaran. Walaupun mayoritas kasusnya masih dalam ranah "problem psikologis" dan nyaris nggak ada yang nemu kasus "disorder", tapi bila diinterpretasikan ke masa depan, problem-problem psikologis yang ada sekarang ini lama-kelamaan akan menjadi gunung es di kemudian hari.

Berbicara soal masalah psikologis pada anak, banyak sekali memang. Ujung-ujungnya, kalau lagi bahas masalah pada anak, pasti kami akan selalu mempertanyakan, "Orangtuanya itu gimana?"

Sebagai contoh, ada 2 kasus pada anak. Satunya problem psikologis, satunya lagi udah dalam taraf gangguan. 
Sebut saja A. Setelah dites, anak bernama A ini memiliki IQ di atas rata-rata. Namun, selama pengetesan IQ, banyak kejanggalan yang terjadi ketika menjawab pertanyaan dari tester. Dengan usia yang telah menginjak 8 tahun, semestinya si A sudah bisa berpikir abstrak (walau masih taraf belajar) dan seharusnya si A juga bisa lebih kreatif karena mengingat IQ-nya di atas rata-rata tadi. Namun, hal tersebut tak ditemukan dalam diri si A. Sebagai contoh, si A sukar menjawab soal pengulangan deret angka dari belakang. A hanya bisa mengerjakan soal pengulangan deret angka dari depan. Kemudian, pada beberapa subtes verbal, si A seringkali memberikan pola-pola jawaban yang dangkal dan kurang mampu meramunya menjadi kalimat-kalimat yang lebih kreatif.

Setelah ditelusuri, menurut sang tester, rupanya di rumah, anak tersebut memang sudah di-setting oleh orangtuanya. Maksudnya, sejak kecil, si A ini bener-bener ditata untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Si A diberi makanan yang bergizi tinggi, kemudian selalu ditata agar menjadi anak yang penurut. Orangtua si A juga sering mengatur-atur si A, harus begini dan begitu tanpa memberikan kesempatan bagi si A untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Akibatnya, si A tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat sistematis, tidak akan mau melakukan sesuatu tanpa disertai aturan yang pasti, kaku dan   kreativitasnya tidak terasah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan antara skor IQ dengan fakta keseharian si anak. Malah beberapa di antara teman kami yang menyimak analisis kasus tersebut sampai menginterpretasi, "Nanti kalau udah gede, bisa gawat apalagi anak cowok. Kalau diatur-atur kayak gitu terus, bisa-bisa si anak jadi suami-suami takut istri lagi." Hahaha... interpretasi yang terlalu jauh tapi masuk akal juga sih hehe.

Kemudian, masalah kedua masih pada anak. Sebut saja B. Dia adalah anak tunggal dari ibu dan bapak yang pendidikannya sama-sama lulusan magister. Sayangnya, si B harus dijebloskan ke dalam RSJ karena terdapat tanda-tanda psikotik yang mengarah pada gangguan skizofrenia. Setelah ditelusuri, ternyata si anak ini selalu dipaksa dan diatur oleh orangtua agar menjadi sesuai keinginan orangtua. Si anak harus mengikuti sejumlah les-les privat akselerasi yang sangat tidak masuk akal. Orangtuanya saat ini sangat menyesal melihat keadaan si B yang makin parah dari hari ke hari.

Dari kedua ilustrasi kasus di atas, mengapa sih tidak boleh mengatur-atur anak disertai paksaan?
Eum, sebenarnya wajar bila orangtua menginginkan agar anaknya tumbuh menjadi sosok terbaik nan membanggakan. Namun, tidak semuanya harus serba diatur. 

Anak juga butuh solitude time (ini istilah pribadi saya aja sih hehe). Dalam solitude time ini, biarkanlah si anak untuk belajar melakukan atau memutuskan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dengan begitu, si anak juga akan belajar konsekuensi dan tanggung jawab dari apa yang sudah dilakukan. Selain itu, orangtua yang notabene pengetahuannya sudah tentu lebih luas daripada sang anak juga sebaiknya mengarahkan anak agar bisa berpikir abstrak, bukan hanya berpikir konkret terutama dalam proses belajar problem solving.

Selain mengatur-atur secara berlebihan, hal lain yang sering dilakukan orangtua terhadap anak adalah membentak. Tindakan membentak anak juga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan fisiknya. Sebuah studi internasional dari Amerika pernah mengadakan penelitian dan telah membuktikan bahwa detak jantung seseorang akan cenderung meningkat ketika menerima atau mendengar suara bernada tinggi. Ketika seseorang kerap mendengar suara-suara bernada tinggi atau yang bernada sentakan, lama-kelamaan denyut jantungnya akan menjadi lebih cepat sehingga menyebabkan jantung gampang lelah.

Selain itu, masih ingatkah kita dengan salah satu bait dalam sebuah petuah lama. Eum, kalau tidak salah intinya itu melarang kita mengasuh anak dengan kemarahan karena ia akan belajar untuk memaki, berontak dan bermusuhan (hehe saya lupa kalimatnya apa).

Dampak secara psikologisnya, si anak yang sering mendapat respon negatif seperti teriakan, amarah dan bentakan akan memicu kegagalan pada fungsi kepribadiannya kelak. Si anak akan tumbuh menjadi individu yang suka minder, tidak percaya diri, pemarah dan pemberontak.

Secara umum memang nggak mudah gitu ya menghadapi anak ketika ia berbuat salah. Banyak orangtua langsung merespon dengan memarahi dan membentak. Sebagai contoh yang pernah saya saksikan pada sepasang suami istri yang menikah muda. Ketika si anak bermain lalu tanpa sengaja menghilangkan barang/benda permainan yang sudah diberikan oleh ibunya, Sebenarnya si ibu bermaksud baik, ingin menasehati agar si anak tidak mengulangi kecerobohannya. Setelah saya tanya diam-diam, rupanya si anak yang masih SD ini mengaku bahwa ia memang sedikit ceroboh dan setiap melakukan kesalahan, si ibu pasti mengomelinya. Si ibu marah-marah dan si anak mundur hingga mepet ke tembok dengan ekspresi takut. Si anak cemas dan berlari pada saya saat itu. Sementara si bapaknya justru diam, hanya bertindak sebagai penonton, nggak ada upaya untuk melerai atau menahan amarah istri. Yaaah... akhirnya, saya secara diam-diam ikut menasehati anak tersebut secara baik-baik. Saya pun mengajaknya bermain agar melupakan kesedihan dan kecemasannya. Setidaknya, saya salut dengan anak tersebut. Masih kecil tapi sudah pandai mengoreksi kesalahannya. Dia juga tergolong cerdas karena secara insidental, saya sudah mengujinya melalui tes-tes psikologi sederhana hingga yang rumit. Anak tersebut juga penurut, mau berubah menjadi lebih baik. Heuuum... entah dari siapa dia mempelajari hal tersebut, tapi dari situ saya melihat ada potensi baik yang akan sayang sekali bila orangtua tidak membantu mengoptimalkannya melalui hal-hal positif.

Nggak mudah memang ya jadi figur ortu yang baik. Tapi, bukan berarti dari sekarang kita nggak mau belajar kan? Untuk mengasah keterampilan dan kesiapanmu menjadi seorang ibu, coba aja deh sekali-kali gitu bergaul dan bermain sama anak kecil. Hehehe... saya sendiri sering bermain sama anak kecil. Di kompleks tempat tinggal baru kami, rata-rata dihuni oleh pasangan suami istri yang udah berumur 30-40 tahun tapi baru dikaruniai anak. Jadi, banyak anak kecil di kompleks rumah kami yang sekarang dan yang tertua di daerah RT 05 ini juga nggak banyak. Mungkin satu dua, termasuk Bapak dan Mama saya yang udah punya anak segede-gede gaban ini heheh.

Saya juga punya ponakan (anak dari sepupu yang nikah muda). Ponakan dari suami tante saya juga punya anak kembar yang masih di bawah tiga tahun. Gemeees banget soalnya kembar cewek cowok. Jadi, kadang kalau ada waktu free, saya mampir ke rumah tante saya (rumah mbakku yang ini berdempetan sama rumah tante di belakang kampus). Tiap ke sana, cuma ada anak-anak kecil jadi bergaulnya sama mereka. Main sama mereka. Kalau sama si kembar, saya lebih akrab sama si little Kenzo. Kenzo sangat aktif, murah senyum dan lebih mudah beradaptasi dengan orang lain. Kalau sama si Keyla, nggak begitu. Keyla malah malu dan agak nggak mau deket-deket saya, kelihatan sih kalau Keyla itu tipenya nggak mudah percaya dan nggak gampang beradaptasi dengan orang lain. Tapi, kalau saya lagi shalat di rumah Mbak gitu, si Keyla sering diam-diam ngintip dan bilang pada ibunya kalau saya lagi shalat. Hehehe lucu...lucu.

Loh kok malah jadi saya yang curhat hehehe.

Begitulah postingan saya kali ini (Sebenarnya ini late post, udah saya jadikan draft sejak bulan Desember lalu tapi baru sempat ngedit lagi pagi ini).

Semoga bermanfaat

Semangat pagi ^___^

BERKAH DARI BELAJAR DAGANG

Alhamdulillah.. Belum lama ini, sekitar Agustus 2014 lalu mulai mencoba untuk berbisnis kecil-kecilan. Yaaah, meski masih tergolong reseller dan marketer tapi karena kedua job ini menyenangkan dan it's about syar'i fashion jadinya happy aja ngejalaninnya.

Dengan ngebuka nama olshop Griya Qafisha, saya jadi belajar banyak hal. Pas awal-awal jualan, saya sempat pesimis karena nggak pernah mengampu pelajaran bisnis dan sama sekali nggak punya skill handal dalam berbisnis. Tapi, karena niatnya emang pengen belajar biar kelak ada pegangan, akhirnya sedikit demi sedikit jadi banyak hal yang saya tahu.


Awal-awal jualan jilbab tuh, yang ngantre beli adalah teman-teman kelas. Belinya nggak cuman satu orang, tapi beberapa. Mulanya, biar ada yang tertarik, saya juga memakai produk yang saya jual agar lebih meyakinkan. Nah, semenjak pakai produk-produk tersebut sendiri dan dilihat sama teman-teman kelas, akhirnya yang lain pada tertarik mau beli. Entah itu karena warnanya yang menarik atau karena dari mereka emang bener-bener pengen berhijab syar'i. Jadi, pas matrikulasi September lalu, saya ke kampus sambil bawa barang dagangan. Nggak cuman jilbab, tapi juga gamis. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa belajar untuk berdagang. 

Sampai-sampai nih si ketua kelas kami, si Mamat sama semua teman-teman cewek di kelas terkekeh dan tersepona (terpesona) tiap saya paparkan jenis-jenis kain dari gamis dan jilbab yang saya jual. Selama ini, mereka cuman tahunya beli, tapi nggak tahu nama bahannya apa. Jadi, kalau mereka membeli barang yang saya jual, saya juga ngasih tahu nama kainnya jenis ini, enak apa nggaknya, sifatnya gini gitu dan segala macam. Nah, setidaknya nambah pengetahuan di saya juga para konsumen sehingga kesannya nggak buta soal fashion lah.

Saya juga bersyukur, berkat belajar berbisnis ini, saya sedikit demi sedikit bisa ngebedain mana bahan (kain) yang bagus dan berkualitas dan mana yang nggak. Saya juga udah nyoba membeli beberapa sampel dari barang yang "punya nama". Di antara barang homemade/branded lokal tersebut, rupanya ada yang cuman menang di pamor nama aja tapi aslinya bahan yang dipakai masih kalah jauh sama yang harganya justru lebih murah dari itu. Makanya ukhtina, kita sebagai konsumen juga kudu pinter milih. Jangan mentang-mentang namanya terkenal. Si pemilik yang personal brandingnya melejit itu belum tentu menang dengan homemade yang namanya nggak terkenal banget-banget loh.

Kalau terhitung sampai sekarang, kira-kira udah 5 bulan lah ya saya jualan. Alhamdulillah barang yang saya order dari owner laris semua jadi untungnya juga banyak. Tapi, saya langsung menggunakan keuntungan tersebut untuk biaya kuliah sih soalnya keuangan saya lagi menipis. Euuung... nah ini mungkin bisa saya masukkan sebagai list kelemahan. Saya sih awalnya mikir, sebaiknya keuntungan dari hasil penjualan bisa saya tabung dan nggak langsung dipakai. Tapi karena kebutuhan kuliah sangat membludak, saya belum mampu deh nahan godaan untuk nggak langsung memakai keuntungan tersebut.

Untuk orderan selanjutnya, saya juga mix sama modal yang dikasih Mama. Tapi, kalau misalkan barang tersebut laku terjual, modal+untungnya yaa saya kasih ke Mama. Ada sih sekali aja saya minta untungnya soalnya waktu itu juga Mama yang nawarin. Rezeki masa' ditolak, hehehe. Trus selanjutnya yaa saya kasih Mama aja.

Banyak deh hal yang saya peroleh dari belajar berdagang ini. Alhamdulillah juga, awal tahun 2015 ini banyak orderan yang datang yaa meski banyaknya belum sebanyak orderan olshop yang udah melanglang buana.  Harapan selanjutnya, semoga saya bisa menekuni proses belajar ini sampai seterusnya, sampai nanti udah nikah, udah punya anak. Kalau perlu, saya pengeeeen banget bisa bikin produk sendiri. Heum, karena nggak pinter desain, jadi cara untuk buat produk sendiri yaa nyari partner yang pinter desain. Saya punya teman baik yang pinter desain waktu kuliah cuman sayangnya dia udah balik ke Flores. Yaah... rencana ini mungkin akan saya pikirkan nanti ketika udah nikah. Sekarang, saya belajar sendiri dulu soalnya juga masih pemula, masih banyak ilmu dan skill yang harus saya tempa.

Saya juga ngucapin banyak terima kasih buat mbak-mbak partner saya sekaligus para owner yang punya barang, udah baiiiiik banget. Udah beberapa kali order, makin banyak dikasih diskon, pelayanannya juga ramah dan sigap. Semoga nanti saya bisa menjadi seperti mereka hihi aamiin ^^.

Makasih juga buat para pelanggan yang udah belanja di Griya Qafisha. Oiya, Griya Qafisha lebih aktif via bbm. Jadi, bila ada yang mau berbelanja, silakan invite pin bb kami ya 736afa60. Orderannya saya alihkan ke bbm karena mumpung always on wifi di rumah dan kampus jadi dimanfaatin bener dah tuh nikmat Allah :D.

MENDAPATKAN TEMAN ITU SANGAT MUDAH, TAPI TIDAK BAGINYA

Sepanjang jalan menuju proses peng-integrasian hasil laporan praktikum alat tes ini, saya jadi kepikiran sama si testee. Sudah lama kenal tapi baru saat ini saya benar-benar memahami apa yang tersembunyi di balik wajah cantik dan polosnya.

Dia sebenarnya cukup cerdas namun dari hasil beberapa tes yang diberikan, ternyata orangnya inferior atau bahasa mudahnya nggak pedean, merasa rendah diri dan cenderung malas action.

Saya baru sadar kalau dia sebenarnya punya banyak sekali unfinished business. Saya juga baru tahu kalau ternyata dia tidak suka diatur. Alhasil, susah juga untuk membuat janji bertemu dengannya. Otomatis, saya yang harus ngalah karena dia sendiri tidak ingin diatur dengan jadwal pertemuan yang saya tentukan. Permasalahannya itu ibarat benang kusut yang udah terulur ke sana kemari namun nggak pernah jelas gimana cara mengembalikannya secara rapi seperti semula. Mulai dari keluarga, akademik hingga persoalan teman pun bermasalah.

Ambil salah satu yaitu persoalan teman. Kalau diamati, dia punya banyak teman. Saya pun juga tergolong temannya karena kami juga satu fakultas (meskipun beda angkatan) dan pernah satu atap dalam organisasi rohis. Namun, dia masih saja merasa kesepian. Ketika ditanya apa arti sahabat, dia sendiri tidak mampu mendefinisikan dan merasa tidak memiliki sahabat atau teman yang benar-benar khusus dan dekat dengannya. Selama ini, dia hanya memendam sendiri masalahnya. Kalaupun cerita, pasti ke orangtua, terutama ibu, itupun juga tidak semua ia tumpahkan.

Seandainya saya ada di posisi benar-benar tidak mengenalnya selama memberikan tes, mungkin saya harus mengerahkan tenaga yang lebih ekstra agar mendapat simpati darinya. Mungkin ini yang saya tarik sebagai salah satu faktor mengapa ia tidak punya banyak teman, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan dan merasa tidak punya sahabat. 

Kira-kira apa sih cara yang bisa kita lakukan, paling tidak agar orang lain tertarik untuk berteman dengan kita? Ya, tersenyum. Itu adalah cara paling mudah. Ketika kita menampakkan/memberikan senyum tulus pada orang lain, maka itu akan menjadi kesan pertama yang baik untuk menjalin hubungan interpersonal selanjutnya. Dengan tersenyum, orang lain pun akan menilai bahwa kita menerima kehadirannya. Inilah yang tidak saya temukan dalam diri si testee. Itu juga keluar dari hasil interpretasi tes maupun hasil dari alloanamnesa. Banyak orang yang menilai dia sombong padahal orangnya baik looh. Bagi yang mengenalnya, kalau dia tersenyum dikiiiit aja, subhanallah cantik dan manis banget. Cuman, dia memang tipe orang yang memiliki wajah cenderung apatis. Jadi, kesan pertama yang muncul ketika kita baru pertama melihatnya pasti akan mengira dia adalah orang yang sombong, tidak ramah atau sejenisnya. Padahal tidak. Ekspresi natural dari wajahnya memang sudah seperti itu dan itu juga diakui oleh orangtuanya.


Soal senyum, dulu saya juga orang yang jarang bisa senyum ke orang lain. Saya juga susah buat senyum kalau emang nggak bener-bener ada yang menarik atau lucu di mata saya. Makanya paman saya suka ngejahilin saya dan bilang kalau saya ini orang yang jutek. Sampai-sampai, paman saya juga bilang, "Cewek jutek nanti nggak ada yang suka looh."

Akhirnya, saya coba belajar senyum dikit-dikit sampai sekarang. Jadi, kalau lagi papasan sama orang asing gitu, nggak ada angin, saya kasih senyum aja (itu kalau papasan sama sesama jenis) atau sama lawan jenis yang usianya sepantaran sama bapak saya (orang tua gitu lah maksud saya). Karena dulu susah senyum, banyak juga orang yang nggak suka sama saya, banyak teman-teman sekolah yang laki-laki suka ngejahilin saya yang menurutnya jutek (padahal niat mereka cuma pengen kalau saya ini bisa senyum).

Gara-gara senyum dan kadang salah senyum ke orang, saya jadi ingat dengan insiden yang sudah beberapa kali saya alami. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan ihwal salah senyum ke orang di blog ini. Belum lagi cerita waktu saya mendadak di-senyumi oleh seorang lawan jenis di masjid karena waktu itu saya sedang bicara disertai senyum canda bersama adik tingkat (perempuan) yang sekarang bergabung dalam rohis yang sama dengan yang pernah saya ikuti dulu. Terakhir, belum lama ini, saya lagi-lagi dilempari senyum (naasnya selalu dari lawan jenis) padahal waktu itu saya sedang memakai masker karena flu batuk dan ekspresi saya juga datar-datar saja di balik masker tersebut. Aneh. Saya pun bingung. Kalau disenyumi ibu-ibu atau perempuan sih udah sering, tapi kenapa sekarang banyak lawan jenis yang ngasih senyum padahal nih ya (bukannya saya mau merendahkan diri tapi ya memang gitu deh yang saya pikirkan) saya itu nggak cantik-cantik amat. Saya nggak habis pikir betapa hebatnya ya efek senyuman itu walaupun berasal dari cewek yang biasa-biasa saja kayak saya hehehe.

Nah, mungkin next time, saya akan coba bilang ke testee agar bisa belajar tersenyum agar mendatangkan banyak teman bahkan sahabat baik untuknya.

Yuk, kita belajar untuk tersenyum kepada siapapun. Senyum yang tulus ya. Senyum bukan hanya mendatangkan simpati dari orang lain. Senyum yang tulus dari kita (nggak peduli kita itu cantik/ganteng atau wajah pas-pasan) bisa membuat orang lain tertarik untuk berhubungan baik dengan kita. Senyum yang tulus juga sangat mungkin mendatangkan rezeki looh. Aku udah mencobanya. Hasilnya walau cuma hal sepele, berkat senyum, saya sering dapat krupuk gratis kalau beli makan di warung waktu masih zaman S1 ngontrak dulu hehehe :D.

Bagaimana dengan kamu?

COMING SOON: MY 1st NOVEL CANDY RENDY

Credit: Paresma

Coming soon!!
Setelah nunggu setahun, akhirnya dapat jatah editor. Baru dua minggu apa seminggu yang lalu gitu dikabarin soal cover. How do you think about that cover? Hmm.. sincerely, saya kurang puas dengan desainnya. Semacam ada yang kurang gitu. Tapi berhubung editor bilang, "Ini sampel cover fix pilihan kami." Ya udah deh, daripada nunggu lama-lama direvisi lagi, molor lagi, akhirnya saya setuju. 

Ini novel debut saya. Nggak tahu deh gimana komentar pembaca nanti. Tapi, saya berharap, dari novel ini bisa dapat banyak masukan dari pembaca biar saya bisa terdorong untuk lebih kreatif lagi dalam menulis novel. Karena ini debut, jadi materi novelnya juga nggak berat. Temanya sih tentang how to move on? Euuung... kisah cinta dewasa awal gitu hahah. Tapi, sesuai dengan selera saya, jadi di dalamnya nggak ada yang namanya pacar-pacaran. 

Karena masih belajar, jadi di novel ini saya pakai tokoh-tokoh yang dekat atau saya kenal. Ada 3 sahabat S1 saya yang jadi tokoh Oki, Diva dan Nadia. Trus, ada teman saya yang jadi tokoh Rendy (karakternya dia itu co-ass, sesuailah dengan profesi aslinya, itu sih dia ceritanya masih co-ass tapi sekarang udah mau UKDI *denger dari temannya yang cewe, dulu satu kelompok KKN sama saya juga). Trus, ada tokoh Erlangga, nah itu memang kakak tingkat saya pas S1, karakternya yaa kira-kira seperti yang ada di novel. Euuum, sama satu lagi tokoh tamu. Kenapa saya sebut tokoh tamu, soalnya minta izinnya khusus sendiri, awalnya bingung mau cari tokoh siapa buat tambahan. Mau mengimajinasikan sendiri tapi nggak bisa bener-bener menghayati jadi saya hapus lagi tokoh sebelumnya. Finally, saya beranikan diri buat izin dulu sama orangnya. Alhamdulillah, responnya ramah banget, boleh-boleh aja. hehehe... Gomawo. Tokoh tamu itu adalah dr. Bram Irfanda. Di novel tadinya saya mau pakai nama samaran, cuman keburu pas dikirim itu saya lupa ganti dan udah disetujui oleh penerbit. Yaaaaa pake nama asli deh dr. Bramastha Aditya (nama belakang nggak saya ikutkan jadi nggak spesifik banget kan) tapi karakternya saya nggak tahu sih karena belum pernah ketemu jadi cuman saya gambarkan sesuai dengan imajinasi saya (hehe ngapunten ya mas dok kalau ada yang nggak sesuai).

Eh..eh..tunggu.. trus tokoh utamanya siapa? Aliyanda Vigra, panggilannya Vigra. Itu siapa? Dari tokoh nyata juga atau pure fiction? Euuung... saya bingung jawabnya. Sebenarnya itu fiktif tapi pas nulis, secara nggak sengaja saya juga nyisipin dikit yang nyerempet diri saya. Jadi, pasti yang baca nanti bakal bilang, "Iiiihh, kamu curcol yaa?" Hehehe... sebagian kecil aja sih saya ambil dari cerita pribadi kira-kira 20% aja. 80%nya fiktif, nggak nyata. Jadi, jangan terburu-buru menyimpulkan, baca dulu yaa dan bagi yang udah kenal saya, yaaah tahulah batas "cerita nyata"-nya sampai bagian mana.

Kisahnya itu ada mellow-nya. Tapi, setidaknya masih ada pelajaran yang bisa dipetik dari situ. Kisahnya itu tentang.... *ah bagian ini cut aja hehehe. Yang penasaran, tungguin aja wes novelnya rilis dan baca sendiri ya :D.
Oke deh. 
Sisa nungguin, kapan tuh novel kelar dicetak. Aslinya rencana terbit tahun 2014 di SPP-nya. Namun, kayaknya Januari baru beredar di tokbuk. Kita tunggu aja lah ya.

Bagi yang udah baca novel ini nanti, saya  mohooon banget kritik, saran, masukan atau apapun itu yang bisa bikin saya push-up belajar lebih banyak lagi buat nulis novel. 

Untuk tahun depan, saya nggak ngeluarin buku dulu soalnya semester dua tahun depan itu ada schedule PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi) di RSJ. So, waktu bakal tersitaaaa banget buat mantengin pasien di RSJ tiap hari plus bikin laporan praktikum alat tes ke pasien nanti. Insya Allah,semester 3 atau 4 gitu, saya akan menulis lagi sembari nyiapin beberapa schedule lain yang menurut saya udah harus dieksekusi *aiiih bahasanya,, hanya Allah dan saya yang tahu hehehe.

Oke deh, cukup sekian dari saya. ^^

PENGUMUMAN PEMBAGIAN BUKU UNTUK GA PARESMA

Karena ketiga peserta dapat masing-masing jatah 1 buku. Jadi, saya putuskan untuk mengundinya dengan sistem kocok dan dimulai dari peserta terakhir yaitu Siska, selanjutnya ArghaLitha dan terakhir Intan.

Ini hasil foto undiannya sesuai urutan nama di atas ya. Cara lihatnya dari gambar kertas sebelah kiri lalu ke kanan.



Jadi, Siska dan ArghaLitha dapat buku Syabab. Intan dapat buku Secangkir Kopi Bully.

Selamat...selamat... hehe... Mohon maaf banget hadiahnya cuman satu tapi semoga bisa ngasih manfaat aamiin.

Pengirimannya nyusul nyari waktu free ya.

PENGUMUMAN HASIL AKHIR GA PARESMA

Setelah menimbang-nimbang enak dan baiknya bagaimana. Karena saya juga pengen sekalian belajar adil, jadi saya putuskan untuk tidak membagi hasil akhir dari GA Paresma ini ke dalam kategori pemenang I dan II. Maksudnya, karena yang daftar hanya 3 peserta, jadi saya ingin agar semua bisa merasakan buah dari usaha mereka. Jadi, intinya ketiga peserta dapat masing-masing 1 buku. Untuk bukunya saya acak tapi yang jelas ada 2 orang yang dapat buku Syabab dan 1 buku Sencangkir Kopi Bully soalnya stok SKB di saya emang dikit dan saya lagi gak ada waktu buat mampir ke tokbuk buat beli SKB.


Nah, untuk fotonya, saya suka tiga-tiganya. Tapi, untuk pemenuhan persyaratan, hanya si Intan N.K. yang kurang memenuhi satu syarat yaitu share info GA ini di blog dan gak ada url link blognya di kolom komentar jadi saya bingung nggak bisa kasih link hidup langsung ke blog Intan deh ini. Kalau 2 peserta itu udah memenuhi semua syarat: ArghaLitha dan Siska Dwyta. Bisa diintip deh langsung blog mereka kayak apa (yang mau BW). Ternyata mereka juga nyeritain proses mendapatkan bukunya padahal gak ada syarat untuk harus cerita. But, makasih banyak yaa.

SELAMAT YA BUAT KETIGA PESERTA. ^___^

Terima kasih buat atensinya karena udah mau meluangkan waktu buat ikutan GA ini. Ternyata dari kisah-kisah mereka, ada yang sampe kesulitan nyari bukunya di Gramedia karena belum dipajang dan karena jarak antar rak ini dan itu berjauhan.

Perkara pengiriman hadiahnya, mohon bersabar untuk beberapa waktu yaa ukhti-ukhti. Saya nunggu hari Sabtu baru gak kuliah baru bisa ngirim ke kantor pos. Entah sabtu ini atau sabtu depan. Yang pasti, kalau hadiahnya sudah dikirim akan saya kabarkan lewat Twitter ya.



GA PARESMA DITUTUP YA

GA Paresma resmi ditutup ya malam ini. Terima kasih buat yang udah ikutan. Eh..eh.. prestasi banget ya, tumbeeeen gitu untuk giveaway kali ini yang ikut hanya 3 orang. Mungkin karena deadlinenya yang kurang panjang kali ya. Tapi, kalo kelamaan saya yang nggak bisa (pada akhirnya semua kembali ke subjektivitas pemegang tampuk GA hehehe). Mungkin juga karena hadiahnya yang terlalu sedikit. Ya saya maklum karena untuk GA kali ini nggak bisa ngasih banyak bukan karena pelit tapi nggak sempet nyari hadiah buat tambahannya (lagi-lagi pakai alasan sibuk kuliah,, yaa tapi itulah apa adanya).

Makasih buat 3 orang yang udah daftar. Karena pesertanya dikit, otomatis, saya jadi mudah dan cepat dalam mengambil keputusan. Malam ini sih saya udah menentukan siapa pemenang I dan II tapi nanti dulu deh postingnya, besok atau lusa aja ya biar penasaran.

Selamat menebar garam jampi-jampi keberuntungan dan keberkahan deh ya buat 3 peserta. Selamat bersabar untuk menunggu pengumuman.

Sekadar info nih, saya berencana untuk mengubah pemenangnya. Niat awalnya, karena cuman ada 3 peserta, saya pengen ngebagi rata hadiahnya masing-masing 1 buku ke 3 peserta. Kasihan juga sih yaa kalau 3 orang, yang satu--yang tereliminasi di antara 2 tuuh berasa kayak dicuekiin gitu nah hehehe :D. Namun, nanti lah ya saya pikirkan lagi mau ngubah sama rata atau tetap seperti semula cuman 2 pemenang.

GIVEAWAY PARESMA



(sticky posting)

Naah kaan.. hehe akhirnya saya buka GA juga. Tadinya sih lagi gak pengen karena buku Secangkir Kopi Bully-nya cuman dapat jatah dikit dari penerbit. Tapi, berkat kehadiran paket buku Syabab, setidaknya cukup membantu untuk kelangsungan GA ini. Tadinya juga mau ngadain GA dengan syarat peserta haru belanja di Griya Qafisha (Olshop saya) namun batal... Sibuuuuukkkk! 

Langsung aja deh. Jadi, alhamdulillah, menjelang akhir tahun ini ada dua buku baru saya yang terbit. Oh ya sekadar info, kalo buku Secangkir Kopi Bully udah in stock di seluruh TB Gramedia dkk. Untuk buku Syabab sendiri, kemarin, Mbak Dewi bilang, bukunya masih baru banget keluar dari percetakan. Jadi, insya Allah untuk Jabotabek, distribusinya seminggu lagi udah in stock di TB. Untuk luar Jabodetabek, maybe pertengahan atau akhir bulan lah yaa udah ready.

Giveaway yang saya adakan kali ini sangat terbatas hadiahnya. Sebenarnya bisa aja minta di-sponsorin lagi, cuman, saya khawatir nggak bisa memanage berhubung jadwal sangat padat. Jadi, giveaway kali ini sangat simple. Hadiahnya pun hanya untuk 2 orang pemenang saja. Jujur, saya pengen banyak pemenangnya dan hadiahnya juga banyak. Namun, karena banyak tugas dan kerjaan, jadi saya batasi. Ngirimnya juga saya nunggu free dulu (itupun free tapi gak full free, hari Sabtu baru bisa ke kantor pos untuk pengirimannya nanti).

Oke ini aturan mainnya:
  1. Follow sosmed saya Twitter @de_Paresma, instagram Yanuarty Paresma Wahyuningsih dan join ke blog saya ini (untuk Facebook, mohon maaf saya tidak menyarankan, bukan udah penuh sih, cuman saya mau membatasi saja. Jadi, tidak diperkenankan mem-follow FB saya ya ^^v).
  2. Para peserta kudu punya blog, karena ntar pengumumannya akan saya posting di blog (selain di Twitter dan IG).
  3. Tugas para peserta SIMPLE BANGET. Jadi, syarat mutlaknya, saya tidak akan minta kalian untuk posting tulisan. Tugas Para Peserta adalah: Share 1 foto kalian bersama dua atau tiga buku saya di toko buku langsung (bagi yang belum nemu buku Syabab, foto dengan buku CKUS+Secangkir Kopi Bully juga gak papa. Kalau kalian ada temen yang punya buku-buku tersebut, gak papa fotonya juga boleh pinjem buku temannya dengan setting di rumah, taman dll.
  4. Fotonya dengan gaya yang eye catching atau lucu/nyentrik/aneh de el el dan kalau bisa sih fotonya itu menyiratkan sebuah cerita bersama buku-buku tersebut. Bagi ukhti-ukhti yang mau ikutan tapi malu difoto, boleh foto dengan badan menyamping atau pake masker tapi bukunya kudu keliatan ya hehe (terserah gayanya gimana, mau nunduk sambil duduk juga gak masalah, yang penting jangan membelakangi).
  5. Share foto kalian di Twitter dan IG dengan men-tag bin mention saya juga ya. Sharenya cukup sekali aja. Pake hashtag #GAParesma di captionnya
  6. Saya akan memilih 2 foto yang memenuhi syarat No.3-5.
  7. Share link info GA ini di Twitter, IG dan blog kalian (sekali aja share-nya).
  8. Daftarin diri dan link fotomu di kolom komentar blog ini ya dengan format Nama asli, Nama sosmed, Alamat asli lengkap beserta kode pos dan Url link foto di Twitter dan IG kamu.
Oke itu deh syaratnya. Simple, kan? 

Hadiahnya: 
untuk 2 orang pemenang
  • Pemenang pertama dapat 1 eks. Buku Secangkir Kopi Bully dan 1 eks. Buku Syabab
  • Pemenang kedua dapat 1 eks Buku Syabab
Bila ada yang berbaik hati ingin men-sponsori tanpa mengharapkan imbalan dari saya alias murni karena kebaikan dan ketulusan hati saudara (hehe), silakan BBM saya ke 7E6AFA60 ya tapi jangan terlalu banyak ngasihnya ya.

Giveaway ini berlangsung mulai 2 November-7 Desember 2014. Masih lama, kan? 

Selamat berlomba bersama Paresma ^^

DIBENTAK OFFICE GIRL

Dua hari yang lalu, pagi sekitar hampir pukul delapan pagi, saya dan seorang teman pergi ke toilet. Saya sih yang punya tujuan: benahin jilbab yang berantakan. Karena toilet di bawah gedung pasca kurang kondusif menurut kami, jadi kami pergi ke toilet di GKB 1 yang lebih bersih dan ada koridornya buat ngaca. 

Sesampainya di toilet, ada 2 office girl yang baru saja selesai membersihkan. Saya hendak masuk, tapi kata salah seorang OG bilang, "Tunggu dulu." Baiklah, kami pun menunggu. Setelah OG tersebut hendak keluar dari pintu seberang, saya pun masuk sambil jinjit sepatu melalui pintu sebelah. Yaaa bermaksud menghargai meskipun kenyataannya sepatu saya tidaklah kotor sama sekali. 


Ketika dua langkah masuk menuju cermin besar di toilet, OG tadi mendadak membentak saya, "Yo opo seh, Mbak iki?!" Suaranya yang nyaring sampai menggelegar membuat saya amat terkejut. Saya pikir, teman saya yang menunggu di depan pintu sedang apa gitu atau ada sesuatu yang terjatuh di lantai. Tidak tahunya, bentakan Mbak tadi ditujukan ke saya.

Saya lihat lantai, bersih, tak ada bekas sepatu. Namun anehnya Mbak itu mengulang pel-nya dengan basah padahal lantai itu sudah lumayan kering. Ya Rabb.... pagi-pagi sudah dibentak. Seumur hidup dan selama dulu punya pembantu di rumah lama, saya tak pernah sedikit pun dibentak oleh pembantu. Tapi hari ini, seorang tak dikenal, usianya masih cukup muda malah seenaknya membentak.

Apa yang saya lakukan? Karena saya begitu malas meladeni orang-orang seperti itu, akhirnya saya putuskan untuk bilang pada Mbak itu, "Loh kan nggak kotor, Mbak, udah mau kering kok. Tapi ya udah deh kalo gitu, saya ke toilet lain aja, Permisi."

Selepas saya keluar, Mbak tadi masih mengomel sendiri. Sejak sebelum saya datang pun, Mbak tadi sudah terdengar menggerutu tidak jelas. Entahlah, dia kenapa. Mungkin saja punya masalah sehingga berdampak pada pekerjaannya atau apa, biarlah dia saja yang tahu.

Dari kejadian ini, mungkin saya juga salah. Salah karena saya masuk dengan OG yang masih ada di dalam. Tapi, saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika S1. Dengan kondisi toilet yang masih dibersihkan, amat kotor dan masih ada OG di dalamnya, OG tersebut sangat ramah mempersilahkan saya yang benar-benar kebelet mau buang air kecil. Jika dibandingkan OG sekarang, OG yang dulu, usianya jauh lebih tua tapi sama sekali nggak pernah menggerutu apalagi membentak seperti OG kemarin itu.

Ya sudahlah. Di sisi lain, saya juga mendapat pelajaran bahwa kalau saja ada kemungkinan bentakan yang keluar itu disebabkan tumpukan masalah pribadi yang diendap lalu terbuang ke tempat yang salah dan berdampak pada orang lain, maka itu sama sekali tidak baik. Masalah pribadi tidak boleh dibawa-bawa pada saat bekerja, begitu juga sebaliknya. Ya, namanya manusia gitu ya, khilaf.

Daripada saya membalas dengan bentakan, lebih baik saya diam. Dulu waktu masih jadi ABG labil, saya mudah terpancing emosi. Apapun yang tidak saya sukai atau mengganggu, maka saya akan terang-terangan menegur baik halus maupun kasar. Nah, dari situ saya belajar dan terus belajar bahwa ternyata menjaga lisan itu punya dampak yang luar biasa dan prosesnya pun tidak mudah.

Sampai sekarang, saya masih terus belajar untuk mengekang lisan agar nggak macam-macam. Mudah-mudahan, kejadian kemarin itu nggak saya alami sendiri dan nggak sampai menyakiti hati orang lain. Bismillah...semoga bisa terus belajar menjadi pribadi lebih baik. Aamiin..

GHIBAH MEMUTUS SILATURAHMI

Senin kemarin di kelas profesi sedang heboh membahas argumen terkait figur yang menjadi buah bibir.

Ketika heboh terdengar omongan miring mengenai seseorang, teman-teman lain yang awalnya tidak paham, akhirnya harus mendengar.

Jujur, saya beruntung memiliki teman-teman (yang biasanya kami duduk dalam barisan kursi yang sama dan yang paling sering diajakin bertukar pikiran) baik dan bijaksana. Terus terang, kami sebenarnya risih ketika di sekeliling kami terdengar beragam ghibah mulai A sampai Z. Akhirnya, selasa kemarin, mbak yang biasa kami panggil "ibu" (soalnya usianya lebih tua dan udah punya dua anak serta lebih dewasa daripada semua) serta "tante" (mbak yang udah punya anak satu tapi masih agak muda usianya) memberikan nasehat kepada kami.

Benar juga. Apa sih yang kami ketahui? Padahal, tidak begitu dekat dengan orang tersebut meski memang orang tersebut pernah berbuat salah.

Beberapa dari kami yang kontra dengan omongan miring tersebut sungguh sangat kecewa. Kecewa karena ghibah tersebut ternyata disebarkan oleh teman baik dari orang yang menjadi buah bibir. Seperti kisah dalam sinetron Jilbab I'm in Love yang sering kami nonton tiap maghrib. Kok ada ya yang udah lama berteman bahkan bersahabat, tapi sering su'udzan bahkan tega membuka aib temannya sendiri kepada teman/orang lain yang sama sekali belum mengenalnya.

Menurut kami, jika memang apa yang dibincangkan tentang orang tersebut adalah benar, tidak seharusnya diberitahukan pada orang lain. Saya juga hampir saja termakan oleh ghibah itu kalau saja tidak ada teman-teman baik dan bijak seperti si ibu dan si tante yang menguraikan nasehat mengenai hal tersebut kemarin. Saya pun berpikir ulang, memang betul bahwa kita tidak boleh seenaknya men-judge seseorang hanya karena salah satu sikapnya yang kurang baik.

Seharusnya, kita saling mengingatkan
Bukan dengan menusuk dari belakang
Seharusnya, kita saling mengajak untuk berbenah diri bersama
Bukan dengan menyudutkan satu atau beberapa pihak yang tersalah
Seharusnya, kita bisa melihat orang yang memiliki salah tersebut dari sudut pandang lain
Memang, sikapnya tak mengenakkan hati
Namun, bukankah lebih baik jika tidak diadakan ghibah disertai kebencian yang mendalam sampai ingin menjauhinya
Jika sudah menjauh, bisakah kita bayangkan bila berada di posisinya

Saya pernah merasakan hal itu
Mengalami saat berada di posisi terpuruk, menjadi buah bibir ketika masih sekolah
Dijauhi teman-teman hanya karena satu oknum yang menyebarkan berita salah tentang saya
Rasanya sakit? Tapi, saya berusaha untuk terus memaafkan bahkan berani meminta maaf pada orang yang sudah memfitnah saya. Mungkin, saya kurang mengoreksi diri sehingga terjadilah fitnah itu atau mungkin waktu sekolah dulu, saya pernah menyakiti hati yang memfitnah. Semua bisa saja diselidiki makna di baliknya asalkan mau tekun mengoreksi diri.

Tak habis pikir...
Mengapa belakangan ini banyak terjadi ghibah?

Dari uraian ini, saya bisa menyimpulkan agar kita lebih selektif dalam mencari teman.
Bukan berarti kita memblokir diri dari semua teman.
Kita tetap harus menghormati teman atau siapapun yang ada di sekitar kita
Namun, untuk bersahabat, sebaiknya pilihlah teman yang benar-benar sholeh, bukan sekadar baik
Sebab, teman adalah cerminan tentang siapa diri kita
Kita bisa dinilai dari siapa teman kita, dengan siapa kita bergaul dan berbincang setiap harinya
Jadi, jangan asal pilih teman dekat deh ya

Kita juga harus berhati-hati ketika mempunyai teman (biasa) yang hobinya menceritakan aib orang lain. Sebab, tidak dimungkiri, suatu hari, nama kita bisa saja akan menjadi salah satu bagian dari ghibahnya. Ini ada kok dalam hadits (hehe saya lupa bunyinya).

Semoga kita bisa menjaga lisan kita ya
Sungguh, manusia itu tempatnya khilaf dan salah
Saya pun manusia jadi sangat mungkin untuk berbuat salah dan khilaf
Yang terpenting adalah, ketika berbuat salah, kita berani menyelami diri, mengakui, mengoreksi dan berbenah (berubah).

EDISI RINDU

Tak terasa sudah 11 bulan menetap di Malang, meninggalkan tanah kelahiran, kota Parepare. Kerinduan itu makin membuncah ketika beberapa waktu lalu melihat ada begitu banyak perubahan di tempat saya mengajar dulu, STAIN Parepare.

Mahasiswa/i yang pernah belajar bersama kelas saya mengalami banyak perubahan baik yang sangat signifikan. Semenjak saya resign, salah satu mahasiswa di kelas Kesehatan Mental saya dulu ada yang berhasil tembus ke program Dai Muda Indonesia di MNC TV. Walaupun tidak berhasil jadi juara, namun antusiasme dari masyarakat Parepare, Makassar dan Sulawesi sangat tergambar jelas ketika Fajar (nama mahasiswa tersebut) pulang pasca tereliminasi dari Dai Muda. Meskipun tidak maju sebagai pemenang, berkat ketenaran Fajar sebagai salah satu Dai Muda di Parepare, alhamdulillah preman-preman pasar dan sekelompok "penjahat" yang dulu beraksi di Parepare mau berguru dan belajar bersama Fajar di masjid tiap usai shalat subuh. Subhanallah.. barakallah.. Saya sendiri takjub melihat perubahan positif tersebut.

Hal kedua yang berubah adalah Guidance Club BKI (Bimbingan Konseling Islam). GC ini pertama kali dibuka ketika saya juga diminta untuk pertama kali menjadi mentor di STAIN sebelum resmi mengajar sebagai dosen. September 2012 lalu itulah pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Sejak saya mengajar sebagai dosen, mulai Januari 2013, GC makin meredup. Bukan karena sengaja ditutup, tapi makin hari pesertanya makin hilang. Yang bertahan hanya beberapa orang saja. Alhamdulillah, sejak saya resign, semangat GC bangkit. Lagi-lagi berkat bantuan Fajar. Ah, Fajar lagi... Dia memang salah satu mahasiswa terbaik di kampus itu, yang menurut saya mempunyai kapasitas intelektual melebihi teman-temannya yang lain sehingga lebih tanggap dalam hal problem solving. Sampai sekarang, mereka masih mengirimkan kabar seputar kajian GC pada saya. Kami juga berteman di grup BKI di BBM. Semoga saja keakraban ini akan terus terjalin deh ya, aamiin.

Kemarin pun, waktu saya sedang chat di BBM dengan mereka, ada yang nyeletuk, ngedoain saya segera dapat jodoh. Hehehe ya ya ya...alhamdulillah didoain baik-baik sama para kesayangan. Bahkan ada mahasiswa (cowok) yang--entah dia bercanda atau serius--meminta pada saya agar dijadikan pager bagus ketika saya nikah nanti. Hehehe.. yaa ampuuun... mereka itu seperti adik-adik saya, tak peduli cewek maupun cowok, kalau sudah ketemu saya, seperti anak kecil, ngegodain gak ada habis-habisnya. 

Saya juga bersyukur, perkembangan keterampilan mereka makin meningkat. Menurut kabar yang saya terima, insyaAllah saat ini mereka sedang menggarap project film pendek dengan tema yang nggak jauh dari BKI. Mereka rencananya pengen survey permasalahan remaja di sekitar Parepare lalu memuatnya dan membahasnya dalam sebuah film (semacam dokumenter) untuk keperluan GC dan kampus. Kami juga sempat diskusi di BBM mengenai temanya.

Dari semua hal itu, saya sungguh nggak nyangka, ya Rabb... saya ngerasa jadi istimewa karena masih dilibatkan oleh diskusi mereka, sekalipun saya sudah tak lagi duduk sebagai dosen mereka. Kemarin, mereka juga sempat nyeletuk terus, berharap agar saya kembali mengajar di sana. Bukannya tak mau, namun saya sampaikan niatan bahwa saya di sini juga sekalian ingin mencari jodoh. Hehehe.. Ya Rabb... Nggak tahu kenapa tapi selama saya kuliah di Malang waktu S1 dulu sampai saya balik dan menetap di Malang lagi, saya jadi ngerasa rezeki saya lebih banyak di sini. Sejak resign dan pindah, buku-buku saya diterima sama penerbit (nggak ditolak lagi), sejak saya resign, saya jadi merasa lebih baik. Ah, sugesti mungkin tapi inilah yang saya rasakan.

One day, kalau saya sudah nikah, saya pengen ngajak suami main ke Parepare, njenguk kampus yang pernah menerima kehadiran saya, njenguk mahasiswa/i yang sangat saya rindukan sekaligus melepas rindu pada tanah kelahiran. Oh Parepare.... pantai, seafood, sahabat-sahabat terbaik, rumah (yaa walaupun udah dibeli orang sih) rinduuuuu semua itu.

Saya sangat berterima kasih pada semua sahabat, rekan-rekan dosen senior dan mahasiswa/i yang dulu pernah memberikan kesempatan pada saya untuk belajar, bercanda dan menangis bersama mereka.

Terima kasih semua..
Terima kasih Allah...
Nikmat-Mu ini sungguh indah...
Punya orang-orang terkasih rasanya seperti dicintai oleh seribu malaikat, ya merekalah malaikat-malaikat itu :)

CURHAT ANAK MAPRO DI KELAS FILSAFAT

Pagi tadi kami kuliah filsafat ilmu tambahan.
Nah si ibu dosen tuh sambil menerangkan materi terakhir, beliau bercerita banyak.
Nama dosen kami Bu Ida. Anak Bu Ida kan punya PR tapi kasihan banget karena pulang sekolahnya udah maghrib jadi ga bisa ngerjain PR sekolah karena udah capeeek dan ngantuk berat. Padahal PR itu dikumpul hari ini. Jadi Bu Ida berbaik hati bantu ngerjain tugas puteranya.
Tugasnya tuh susaaah, disuruh wawancarain orang yang pernah hidup dalam masa penjajahan sebelum kemerdekaan. Beruntung Mamanya Bu Ida masih hidup dan beliau dulu masih ingat apa aja yang terjadi di zaman penjajahan meski masih kanak-kanak.

Dari cerita ortu Bu Ida, kami jadi bener-bener ngerasain betapaaa kasihan banget dan dibodohi oleh penjajah.

Jadi, zaman dulu itu yang namanya orang bersekolah itu cuman bisa dihitung jari. Para penjajah memblokir akses pendidikan bagi orang pribumi. Alhasil, masyarakat Indonesia dulu hampir gak ada yang cerdas.
Salah satu pembodohan yang dilakukan penjajah dulu padahal cuman hal sepele yang berdampak besar. Jadi, ketika penduduk mendengar suara pesawat melintas, mereka disuruh untuk keluar dari rumah dan bersembunyi ke tempat yang jauh. Alasannya agar aman dari bahaya yang mungkin saja datang. Seketika pesawat/helikopter penjajah melintas, masyarakat manut-manut aja gitu. Mereka berbondong keluar dari rumah menuju tempat persembunyian. Ketika sudab gak terdengar suara pesawat, mereka baru diperbolehkan pulang. Namun, apa yang terjadi? Mereka mendapati lumbung padi dan hasil panen lainnya ludes. Meski demikian, lucunya mereka tidak mengeluh, melainkan pasrah. Akhirnya, mereka pun harus bersusah payah menanam dari awal lagi. Kejadian inj terjadi setiap mereka telah selesai panen. Jadinya mereka tuh gak pernah bener-bener ngerasain hasil panen sendiri dan malah makan ares. Ares? Dimakan? Itu doaang?? Ngenes banget gak sih?
Ckckck... selama kurang lebih 350 tahun kita dijajah. Selama 5 turunan itu pula, bangsa kita menderita. Bangsa Eropa dan Amerika semakin bebas memeras sumber daya alam Indonesia. Contohnya saja Eropa yang hanya merasakan 1 kali musim panas hanya dalam 3 bulan tiap tahunnya. Dengan udara dingin seperti itu, mereka tentu membutuhkan penghangat. Salah satunya adalah minuman aja. Minuman jahe. Lahan di Eropa kan gak bisa ditanami rempah kayak jahe. Sehingga untum memenuhi kebutuhan itu, cara termudah adalah dengan memanfaatkan negara tropis: Indonesia.
Iya ya. Kita ini aslinya kaya raya loh. Segala macam bisa tumbuh di tanah air kita. Kita punya banyak pantai, pegunungan, lahan yang subur. Tapi sayangnya gak diimbangi dengan sumber daya manusia yang memadai.
Oleh karena itu, sebagai seorang ilmuwan atau orang berpendidikan kayak kita-kita ini, harusnya tidak menyia-nyiakan potensi yang kita miliki. Manfaatkanlah itu untum memajukan bangsa kita. Gampangnya, dimuai dari diri kita dulu dan dimulai dari hal paling kecil.
Hendaknya, ilmu yang kita miliki mampu membantu pembangunan sistem peradaban bangsa kita. Selain itu, sebagai generasi muda, kita juga harus selalu mawas diri terhadap pengaruh brainstorming dari budaya Barat yang sama sekali gak selaras dengan falsafah hidup kita yang merupakan orang beradat ketimuran dan beragama.
Yuk kita bareng-bareng memajukan bangsa ini dengan potensi yang kita punya. Sebagai penulis, yuk kita sebarkan ilmu yang bermanfat melalui jari jemari kita. Ilmu yang positif akan memberikan perubahan hidup dan cara pandang yang juga positif.

CURHAT ANAK MAPRO: HIDDEN WAR?

Menjelang siang, baru satu jam ngerjain tugas take home UTS kualitatif, baru satu nomor dan itu jawabannya puanjaaaang semuaaaa (ibu dosen emang niat banget gitu yaa nyuruh kita menulis). Biar gak suntuk, saya mau sharing bentar sekalian update blog.

Isinya lagi-lagi curhat sih. 

Ini bermula dari presentasi kami di kelas. Kemarin pagi, saya sama seorang teman kebagian jatah presentasi metpen bagian pengumpulan data. Nah, pas giliran saya yang ngejelasin, emang saya niatkan tuh dari awal, jelasin panjang lebar, lebih detail dan lebih lengkap biar semua bisa paham jadi gak banyak yang nanya. Eeeeeh.... nggak tahunya, di sesi diskusi, kami berdua diborong oleh banyaaak pertanyaan dari banyak orang.

Untungnya, kami berdua mampu survive, hehe..maksudnya bisa menjawab semua dengan baik. Nggak sia-sia dong ya bangun jam setengah tiga pagi nge-print terus prepare presentasi. Nah, dari sekian banyaknya penanya, ada seorang teman yang pertanyaannya itu hanya masalah teknis saja. Itupun dipertanyakan sampai berbusa-busa. Kami berdua masih dengan kepala dingin berusaha menjelaskan, bahwa kami memang salah dalam menyajikan salah satu slide sehingga membuat persepsi beberapa teman jadi ambigu. Namun, anehnya, sebagian kecil dari mereka yang ambigu itu malah bingung dengan pertanyaannya sendiri.

Rekan saya di presentasi kali itu pun sudah panas, hampir aja buku itu melayang, katanya. Haha... saya pun, sudah berkali-kali meluruskan dan memohon maaf kepada penanya untuk satu kesalahan teknis yang sebenarnya itu tidak menjadi persoalan besar. Naah... ketika sudah dijelaskan berulang kali, si penanya tadi bilang gini, "Udah paham sih,,, tapi..." 

Sampai teman-teman yang lain ada yang turut memberi masukan. Kami tampung. Ada pula yang berkomentar gini, "Saya nggak habis pikir dengan mereka itu. Kok sikap mereka seperti itu ya. Tahu sudah paham, tapi masih saja mencari-cari kesalahan padahal itu sudah jelas diakui oleh kelompok presentasi bahwa itu adalah kesalahan teknis. Kenapa diperdebatkan panjang lebar padahal masih banyak pertanyaan yang lebih berbobot daripada itu?"

Yaa..sudahlaah...
Selepas presentasi, kami berdua sih senyum dan ketawa-ketawa aja. Fenomena yang lucu. Lucu sekali. Bukannya mengejek, tapi yaa ngapain juga coba mendebatkan apa yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan? Kalau saja posisinya, penjelasan kami yang salah dan fatal terkait materi, naaah itu baru deh sebuah kesalahan besar. Bukan juga kami meremehkan kesalahan kecil. Tapi, posisinya, kami berdua pun sudah minta maaf dan sebenarnya itu juga tidak perlu dimintain maaf sih karena gaya penulisan kami dalam slide presentasi mengikuti aturan dalam buku. Ini tuh cuma soal gaya penulisan.

Yaa ampuun sampai heboh yaa...
Ibu dosen juga sudah menjelaskan dan bisa menerima gaya penulisan kami. Kami juga menyampaikan bahwa memang sebaiknya penulisannya ditata lagi untuk penomorannya biar ada klasifikasi yang jelas. 

-----
Saya akhirnya jadi kasihan pada mereka yang terlalu sensitif seperti beberapa penanya tadi. Dengan sikap demikian, jadi banyak teman lain yang kurang respek terhadap mereka. Ada juga yang berargumen bahwa mereka sedang mencari-cari kesalahan. Yaaa apapun itu, mereka tetap teman kami. Saya pribadi juga terkadang kurang setuju dengan sikap mereka, namun bukan berarti harus membenci dirinya kan? 

Bukan hanya pada kasus ini saja, tapi masih ada beberapa peristiwa di kelas yang memang sempat menyulut komentar buruk dari teman-teman lain terhadap mereka dan itu secara terang-terangan loooh diucapkan. Bayangkan gimana sakitnya dikomentarin pedes, negatif dan mengejek dirinya secara terang-terangan? Yang ngomong teman lawan jenis pula!
-----

Psikolog memang manusia
Tapi, jangan menjadikan itu sebagai alasan untuk berbuat keburukan
Di manapun dan kapanpun, etika dan moral akan selalu menjadi ujian terberat kita
------
Semoga lain waktu, gak akan ada lagi deh kejadian kayak gini.
Kasihan kan kalau belum jadi psikolog tapi udah banyak cap negatifnya
Walau mungkin konteksnya bercanda, sebaiknya jangan berlebihan deh
Kalau timbul permusuhan, gimana?
Sayang, kan?