Pages

QUOTES: CINTA DAN JODOH



"Tuhan mungkin sedang menguji kita dengan menghadirkan seseorang yang tidak tepat. Mungkin saja dia memang jalan hidayahmu tapi belum tentu dia akan menjadi pendamping hidup dunia akhiratmu."

"Cinta itu ada dua: mengambil kesempatan sbg bukti keberanian atau melepaskan sbg wujud pengorbanan."

"Jodoh itu seperti sepatu, nggak mungkin sebelah kirinya sepatu balet tp kanannya boots. Nggak bakal ketuker."

SURAT UNTUK KAYLILA

FROM GOOGLE


Pagi ini temanya nulis fiksi berbentuk surat

-----
To: Kaylila

Assalamu'alaikum Kaylila
Apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan sehat. Maaf bila aku sudah lancang mengirimkan surat ini padamu. Sebelum kamu marah, mohon bacalah ini sampai habis. Eum, tidak. Mungkin, surat ini tak akan pernah sampai kepadamu. Tapi, izinkan aku tetap menulisnya untukmu. 

Tahukah kamu, Kaylila? Ada sejumput rasa yang telah lama kugembok dalam jeruji hati terdalam. Rasa yang telah membuntuti jiwaku semenjak pertama kali bertemu denganmu. Oh ya, apa kamu masih ingat kapan kali pertama kita bertemu? Ah, mungkin kamu akan ingat tempat itu tapi tak akan pernah ingat padaku.

Setahun yang lalu, kita bertemu di sebuah seminar pra nikah. Saat itu, kamu terlihat sangat manis dengan gamis hijau pupus dan jilbab panjang kuning muda. Hampir saja pandanganku tak mampu lepas darimu. Aku takut bila setan membisikkan hasrat untuk menghampirimu. Semua kutahan, tentunya dengan dzikir panjang. Aku memutuskan untuk pindah ke kursi paling depan. Maksud hati agar aku bisa lebih fokus mengikuti seminar itu karena tujuanku datang bukanlah untuk memandangmu. 

Kaylila, selepas mengikuti seminar itu, aku tak mendapati sosokmu di antara gerombolan peserta foto bersama. Mungkin kamu sudah pulang lebih dulu. Atau, mungkin saja kamu mulai merasa gusar karena aku sempat memperhatikanmu saat kursi kita masih saling berseberangan di awal masuk ruang ber-AC itu. 

Kaylila, sejak saat itu, aku mulai mencari tahu tentang dirimu melalui media sosial. Aku menemukan satu akunmu. Sayangnya, kamu bukanlah tipe orang yang suka menulis status tiap hari. Berandamu itu kamu biarkan terisi oleh berderet-deret status share dari beberapa page muslimah. Dari situ, Tak ada yang bisa kutemukan sehingga aku berkesimpulan bahwa kamu adalah gadis misterius.

Astaga, maaf. Sedari tadi aku mengoceh tanpa memperkenalkan diri. Perkenalkan. Aku adalah seorang pengagum yang bersembunyi di balik media sosial. Seseorang yang memantau dirimu dari belahan bumi berbeda. Aku juga lebih mirip seperti seorang bocah dua belas tahun yang sedang memandangi mobil mainan robot terbaru favoritku di balik etalase toko. Aku sangat ingin membelinya namun sadar itu terlalu mahal bagiku. Kira-kira seperti itu pula yang kurasakan saat mengagumimu.

Entah mengapa, aku merasa sangat sulit mendekatimu. Seolah ada tameng yang berusaha membatasi langkahku. Apakah kamu sempat menyadari keberadaanku saat kita pertama bertemu? Ah, mungkin tidak. Mana mungkin? Kita saja tak pernah berbincang dalam seminar itu. Bagaimana mungkin kamu tahu apalagi merasakan keberadaanku.

Kaylila, kini aku telah kembali ke tanah perantauanku, Jerman. Sementara kamu ada di Indonesia. Aku menempuh kuliah magister kesehatan di sini. Di sini aku selalu tergerak untuk belajar lebih baik. Awalnya, aku berharap setelah lulus nanti, aku akan pulang ke Indonesia lalu mencari dan melamarmu. Tapi, rasa takut jauh melebihi harapanku. Sudikah kamu menerima diriku? Aku memang tak tahu bagaimana kriteria laki-laki atau suami idamanmu. Walaupun demikian, sedikitnya aku paham bahwa seorang muslimah sepertimu tentu menginginkan pendamping yang sekufu terutama dalam hal agama. Aku pun seorang muslim, tapi kurasa... pengetahuan agamamu jauh lebih banyak daripada yang kupunya. Aku bukan seorang berjanggut tipis yang setiap hari rajin mengikuti pengajian. Aku juga bukan pemuda yang suka memakai baju koko yang rajin i'tikaf di masjid. Selama di Jerman, tidak mudah langkahku untuk mengakses masjid. Sangat jauh dari universitas tempatku belajar. Apakah kamu akan menerima pemuda seperti itu?

Ya ampun, ocehanku sudah terlalu berbelit-belit. Baiklah, sekarang aku tak ingin memperpanjang tulisan ini. Aku sadar tak mungkin bisa dengan mudah memilikimu. Aku pernah membaca sebuah hadits. Kini kupaham bahwa aku sudah terlalu banyak membuang waktu memikirkanmu. Aku pun paham bahwa apa yang kusukai, belum tentu baik bagiku. Bukan maksudnya kamu tak baik bagiku. Tapi, bisa saja Tuhan tidak meridai perasaan ini terhadapmu. Oleh karena itu, aku selalu memohon pada Tuhan agar Dia memudahkan aku untuk melepasmu dari dasar hatiku. Aku juga memohon agar Tuhan membiarkanku melupakan semua tentangmu. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus mencintai Tuhan. Jangan sampai, rasa cinta padamu melebihi cinta pada Tuhanku. Jangan pula, rindu ini melampaui kerinduanku pada-Nya.

Kaylila, sekarang setidaknya aku sudah cukup bahagia. Bahagia dengan mengagumi seperti ini. Biarkanlah rasa ini dipimpin oleh Sang Pemilik cinta hingga pada akhirnya berlabuh di dermaga yang tepat. Jika dermaga itu adalah dirimu, aku yakin Tuhan akan memberi kemudahan dan kemurahan-Nya. Jika tidak, aku akan tetap bahagia karena yakin Tuhan akan memberikan cinta yang jauh lebih baik daripada dirimu semata.

Salam kenal,

Pengagum rahasiamu

KAMU

Aku ingat jelas ketika kamu menangis di hari penyatuan cinta kita. Diam-diam, kelenjar mataku menitikkan airnya usai mengucapkan ijab qabul. Bahagia luar biasa, itu yang kurasa ketika berhasil duduk sebagai pendamping hidupmu. Kulihat semburat cerah di wajahmu. Kamu mengangsurkan dahi untuk kucium lembut saat kita duduk berdua di pelaminan. Kamu tersenyum. Walaupun tak secantik putri Indonesia, bagiku kamu tetap istri tercantik di hatiku. Saat kubisikkan kata-kata lembut, kamu merajuk. "Gombal," itu katamu sambil menjawil pipiku.

Sebulan setelah menikah, kita menjalani hubungan jarak jauh. Tidak lama, hanya dua bulan. Ah, itu juga terasa lama bagiku. Setiap hari di sela bimbingan skripsi, kamu selalu menyempatkan waktu untuk meneleponku. Kadang pula aku lebih dulu menyapamu via BBM. Hari demi hari, kucoba berpuasa demi menahan rindu tak terbendung ini. Aku rindu memelukmu, mencium keningmu, menjawil pipi putihmu dan mengganggumu ketika sedang mencuci piring.


Dua bulan kemudian, kamu pun telah menyelesaikan studi S1mu. Kupikir, kamu akan menerima tawaran kerja sebagai dosen di kampus tempatmu kuliah dulu. Akan tetapi, kamu justru memilih untuk menyusulku ke Malang. Sehari sebelum kedatanganmu, aku meneleponku. Aku sempat mengetes keteguhan hatimu. Kamu pun menjawab, "Ke mana pun suami pergi, istri harus mengikutinya." Kalimat itu terasa sangat manis. Persis sepert tahi kucing rasa cokelat. Itulah yang pernah kukatakan ketika aku mulai jatuh cinta padamu. Jatuh cinta yang baru benar-benar muncul ketika kita melewati bulan madu berdua.

Walaupun rumah yang kubeli ini tidak besar dan mewah, kamu tetap bersyukur. Kamu membersihkan setiap pagi usai shalat subuh. Setelah itu, kamu menyeterikakan kemeja dan celana untuk kupakai bekerja. Kamu juga menyiapkan sarapan untukku. Aku tak terbiasa langsung makan nasi jadi kamu menyiapkan dua lembar roti isi selai kacang kesukaanku tiap pagi. Aku juga tak suka kopi dan teh, jadi kamu membuatkanku satu jar kecil jus jeruk. Setelah aku selesai mandi, aroma wangi pun menguar lembut dari seluruh penjuru rumah tipe 36 ini. Itu tandanya kamu telah selesai menyulap rumah ini menjadi istana. 

Sebelum aku memulai sarapan, kamu juga sudah berdandan rapi dan cantik. Setiap pagi, kamu selalu bertanya gamis dan jilbab apa yang menurutku bagus untuk kamu pakai. Aku selalu menjawab dengan kata terserah. Kamu selalu protes bila aku hanya mengatakan itu. Tapi, ujung-ujungnya kamu memilih gamis dan jilbab sesuai seleramu sendiri. Bagiku, tak usahlah menanyakan hal sesepele itu karena apapun yang kamu pakai, kamu tetap terlihat cantik. Asalkan, kamu tidak menggunakan daster batik. Aku akan membolehkannya ketika tidur saja. Kamu baru boleh mengenakan daster atau piyama model apapun ketika tidur.

Ada hal yang lebih genting ingin kutumpahkan. Kita pernah kebingungan karena keuangan kita sedang di ujung tanduk. Padahal, itu belum akhir bulan. Aku merasa sangat tertekan ketika usaha restoran yang kubangun mulai dari nol, terlalap oleh api karena kecerobohan seorang koki. Itu adalah masa di mana Tuhan sedang memperingatkan kita agar berhati-hati menggunakan uang. Untunglah kita masih punya simpanan. Aku tak tahu seberapa mampu uang tersebut menopang hidup kita. Paling tidak, cukup sampai akhir bulan depan. Begitu harapku. Namun, masalah tak hanya berhenti sampai di situ. Aku harus membayar gaji 20 orang karyawan sementara sisa uang kas tak cukup mengimbanginya. Sungguh menyakitkan. Lebih dari setengah jumlah karyawan memutuskan untuk berhenti karena telah memperoleh pekerjaan baru. Mau tak mau, aku harus merelakan kepergian mereka. Sisanya, hanya empat orang yang bertahan dan bersedia membantu kita. Aku sungguh malu pada mereka. Entah terbuat dari apa hati mereka sehingga bersedia mengalihkan gaji mereka untuk membayar sisa gaji karyawan lain yang belum terlunaskan.

Sebagai konsekuensinya, aku pun tak bisa memberikan uang belanja lebih untukmu. Anehnya, kamu tak pernah mengeluh. Aku tahu bahwa rasa kecewa itu ada, tapi kamu tak pernah menampakkannya. Entah bagaimana caraku berterima kasih atas seluruh kebaikan itu. Kebaikan yang membuatmu bertahan di sampingku. Kebaikan yang menawarkan penawar bagi kegamangan dan kesedihanku. 

Sejak peristiwa itu, kita sering makan hanya dengan lauk tahu, tempe dan telur secara bergantian. Setiap hari, kamu hanya sanggup belanja tiga lauk itu. Hanya jenis sayurnya saja yang berbeda. Kamu pun mengolah tiga lauk itu dengan cara berbeda. Kadang digoreng pakai tepung, ditumis dengan sambal atau diorak-arik. Sesekali, kamu memakai uang tabunganmu untuk membeli ikan segar atau seperempat potong ayam. Itu kamu lakukan semata-mata agar aku tidak jenuh dengan masakanmu. Apapun yang kamu masak, aku selalu menghabiskannya. Aku tahu, kamu berjuang keras untuk membahagiakanku termasuk lewat apa yang kamu masak.

Hari-hari di mana roda hidup kita bergelinding ke bawah, aku membutuhkan energi ekstra. Waktu itu, aku selalu berangkat pagi, mencari dan melamar pekerjaan ke mana saja. Ah, sungguh itu bukan kemauanku. Aku tak suka menjadi seorang karyawan. Aku tak bisa bekerja di bawah aturan orang lain. Tapi, untuk kali ini saja aku harus mengalahkan egoku. Aku punya kamu. Aku teringat akan kesusahan demi kesusahan yang kamu rasakan tiap hari. Kamu pernah bilang bahwa aku tak boleh patah semangat. Kamu selalu mendoakan agar kondisi kita pulih dan aku bisa kembali membangun usaha restoran seperti yang selama ini menjadi passionku. Dengan begitu, kamu tak perlu lagi mengikhlaskan tabungan pribadimu untuk kepentingan dapur. Kamu pun juga tak perlu lagi pusing melakukan diet ketat karena aku tak ingin melihatmu kurus. Aku ingin kamu tetap sehat, bukan hanya aku.

Tiga bulan berjalan, aku belum mendapatkan pekerjaan. Semua lamaran yang kumasukkan, tak ada yang tembus. Tak ada yang mau menerimaku. Alasannya sungguh tidak masuk akal. Sebagian besar dari mereka menjadikan kebakaran restoranku sebagai satu-satunya kekurangan fatal yang membuatku di-black list dari daftar lowongan. Mereka menilai itu akibat kelalaianku yang kurang bertanggung jawab. Mereka juga bilang, aku tidak cermat mengamati karyawan. Sakit dada ini mendengarnya. 

Setelah keliling kota hanya untuk mendengarkan omelan ketus para pimpinan HRD tersebut, aku memutuskan untuk pulang. Pasrah. Pesimis. Itu bukanlah bagian dari sifatku, tapi aku merasakannya. Di tengah jalan, aku bertemu seorang pengemis. Kutengok kantong pantalonku. Hanya ada lima ribu rupiah. Itupun sebenarnya ongkos untuk pulang ke rumah. Akhirnya, kuberikan selembar lima ribu itu pada si pengemis setelah dia bilang belum makan apapun sejak kemarin. Melihat pengemis itu, aku tak ingin hal serupa dialami oleh kamu, istriku. Aku tak ingin kamu merasakan kelaparan dan kepayahan sebab tugas utamaku adalah memberimu nafkah. Betapa berdosa diri ini jika aku hanya memikirkan rasa sedih yang kian bergulir dalam dadaku.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki dari perempatan Pizza Hut Ciliwung menuju Perumahan Taman Raya Sulfat. Sangat jauh memang, tapi kupaksakan diri. Aku tak ingin meninggalkanmu di rumah terlalu lama. Di sisi lain, ada kicauan sendu dalam sanubariku. Pantaskah aku pulang tanpa membawa kepastian padamu? Tak ada uang yang bisa kubawa pulang sementara sudah hampir seharian aku mencari pekerjaan ke mana-mana. Aku cemas bila nanti kamu sedih, marah dan... meninggalkanku.

Tak terasa, adzan maghrib pun berkumandang. Sebenarnya perjalananku sudah hampir sampai, tapi aku menepi di masjid sekitar Sulfat untuk shalat sejenak. Dalam doa, aku menyebut namamu. Aku menahan tangis di depan Rabb-ku. "Suami macam apa aku ini?" pekik batinku sambil tertunduk lesu dalam doa. Seusai shalat, aku pulang. Tidak lebih dari dua puluh menit, kakiku sudah berpijak di depan teras rumah. Kamu menyambutku dengan senyuman. Kamu meraih tasku, membukakan sepatuku lalu membawanya masuk. 

Hari itu cuaca sangat dingin menusuk tulang. Itulah sebabnya kamu menyiapkan air panas untukku mandi. Saat di dapur, kamu berdiri sambil tertegun di depan kompor. Tatapanmu fokus ke arah panci berisi air yang sebentar lagi mendidih. Aku datang menghampiri lalu memelukmu. Kamu terkejut dan membalas pelukanku dengan sapuan lembut tanganmu pada pipiku. Aku gemetar ketika ingin menyampaikan bahwa belum ada satupun perusahaan yang mau menerimaku. Tapi ternyata kamu sudah lebih dulu menebaknya. Mungkin karena kita sudah punya ikatan batin satu sama lain sehingga apapun yang kurasakan, kamu juga bisa merabanya.

Kupikir kamu akan benar-benar marah, tapi tidak. Kamu tidak marah padaku. Kamu justru memberi pelukan hangat dan mengusap punggungku yang penat. Kamu tersenyum sambil berbisik, "Sayang, aku bersyukur telah memilikimu." Ya Rabb, bulu romaku bergidik mendengarnya. Malaikat macam apa yang diberikan Tuhan padaku? Kamu masih bisa bersyukur di tengah kemirisin hidup yang kita jalani waktu itu. Ketika kutanya mengapa, kamu memberiku sebuah ayat dari surat Ibrahim dalam Al-Qur'an. Kamu menarik kesimpulan bahwa apapun keadaannya, kita harus bisa bersyukur. Aku pun membalasnya dengan menyebutkan sebuah ayat dari surat Al-Anfal yang semakin meyakinkanku bahwa Allah akan memberikan pertolongan lebih dari yang kita duga. Jika kita mau berusaha dan bersabar, Allah akan memberikan pertolongan yang sangat besar sebagai penyenang dan penenang hati untuk kita berdua.

"Mas, aku bersyukur menjadi istrimu. Apapun kondisi kita sekarang, aku percaya kita mampu melewatinya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kita berdua," ujarmu setelah mematikan kompor waktu itu.

"Benarkah?" tanyaku dengan mata berbinar.

"Iya. Insyaallah," jawabmu lalu beranjak ke kamar mandi sambil menggotong sepanci air panas untuk dicampur dengan air dingin dalam bath up.

Aku juga masih ingat. Pagi hari setelah itu, tepat pukul tujuh, ponselku berdering. Sederet nomor asing mengusik waktu sarapanku. Kamu memintaku untuk mengangkatnya sambil bertutur, "Barangkali yang menelepon itu adalah perantara rezeki kita, Mas." Kubersihkan tanganku dengan serbet lalu mengangkat telepon itu.

"Betul ini dengan Bapak Fandi?" Di seberang sana, terdengar suara perempuan.

Aku menjawab dengan terbata sekaligus menduga-duga, "I-iya betul. Maaf, ini dari siapa ya?"

"Bapak Fandi dimohon untuk datang ke kantor karena Bapak diterima bekerja di perusahaan kami. Kebetulan kami sangat membutuhkan manajer baru."

Aku berbunga-bunga. Setelah perempuan yang mengaku HRD tadi menyebut sebuah nama perusahaan swasta, aku baru ingat ternyata pernah mengirimkan lamaran kerja ke tempat itu juga. Selepas memasukkan ponsel ke dalam saku celana, kamu mendekatiku. Kamu sangat bahagia mendengar kabar ini. Aku tahu, ini pasti berkat doa-doa yang kamu panjatkan dalam tahajjudmu. Sejak saat itulah, kehidupan kita mulai membaik. Gajiku memang tak sebanyak bayaran yang diterima seorang manajer perusahaan milik negeri. Tapi setidaknya, aku bisa kembali menabung untuk membangun restoran kita. Aku juga bisa memberikan modal untuk membuka butik sendiri seperti impianmu. Lebih dari itu, kamu pun hamil. Mungkin, Tuhan baru mempercayakan titipannya ketika kondisi kita sudah pulih.

Sekarang, sepuluh tahun berlalu. Putra pertama kita--Farras--tumbuh besar. Kita juga sudah punya tiga anak. Dua tahun setelah kamu melepas ASI untuk Farras, kamu hamil. Kembar identik perempuan. Kita sepakat memberinya nama Aisyah dan Asiyah. Dua-duanya merupakan nama yang dimuliakan oleh Allah. Nama-nama para bidadari penghuni surga. Kita pun berharap seperti itu. Aduhai, ini benar-benar nikmat yang semakin hari semakin bertambah!  Benar katamu bahwa ketika kita sabar, Allah akan membantu. Selain itu, restoran kita juga sudah berdiri tegak lagi. Sejak itulah, aku memutuskan untuk resign dari posisi manajer dan fokus pada passionku. Tak henti-hentinya kumengucap syukur karena aku yakin ini semua berkat kamu, istriku. Ya, semua berkat doa-doa yang tak putus dari bibir mungilmu.

Malam ini, makan malam dengan seorang perempuan. Dia sangat cantik meskipun tidak berhijab rapat sepertimu. Hijab yang dikenakannya lebih modern dan glamour. Dia juga sangat cerdas, seksi dan mempesona. Dia adalah mantanku waktu SMA. Aku memang pernah pacaran sekali. Kamu pun tahu itu. Tapi, aku tidak menceritakannya padamu tentang pertemuanku dengannya. Ini sudah pertemuan yang entah ke berapa kali. Aku menyembunyikannya karena tak ingin kamu menuduhku selingkuh. 

Beberapa minggu sejak pertemuanku dengan Vina, ada getaran rasa yang mencuat kembali. Mungkin ini yang disebut CLBK. Dia menawarkan kerja sama padaku. Passion kami memang sama, di bidang kuliner. Dia juga punya restoran, bahkan lebih banyak dariku. Itulah mengapa aku kembali tertarik padanya. Aku merasa menemukan teman berbincang yang sejalan. 

Aku dan sang mantan sering jalan bersama. Lagi-lagi, aku tak pernah menceritakan ini padamu, istriku. Anehnya, kamu tak sedikitpun menaruh curiga. Sebegitu besarkah kepercayaanmu padaku? Hampir tiap hari aku pulang malam sebab membincangkan persoalan kerja sama itu sekaligus... memintal kembali rasa yang pernah menggelora.

Di tengah makan malam romantis bersama Vina tadi, aku melihat dua orang pasangan suami istri di restoran yang sama. Mereka sudah tampak renta. Istrinya duduk di kursi roda sementara yang mendorong adalah sang suami. Mereka sedang makan malam bersama anak dan cucu. Ramai sekali. Melihat pemandangan pasangan renta itu, aku teringat akan kamu, istriku. Aku terngiang-ngiang dengan perkataanmu. Kamu pernah bilang, jika aku kelak tak mampu berjalan lagi, kamu berjanji akan merawatku. Aku juga ingat tentang cerita jika kita menua nanti, kita akan merasakan momen berkumpul dengan cucu-cucu kita. Kita akan menceritakan pengalaman manis dan pahit hidup ini sebagai bekal untuk rumah tangga mereka kelak.

Sekarang, aku tersadar. Aku mengingat perjuangan kita berdua melalui ujian demi ujian rumah tangga. Aku pun ingat betapa sabarnya dirimu ketika si kembar Aisyah dan Asiyah harus mendekam tiga minggu di rumah sakit karena terserang demam berdarah. Sementara saat itu, aku justru menikmati liburanku dengan Vina dan beberapa kawan lainnya ke Bali. Kembali suara kecil dalam hatiku berbisik, "Suami macam apa aku ini?" 

Malam ini, mungkin kamu tertidur di sofa ruang tamu sambil menanti kepulanganku. Sudah beberapa hari ini, kamu seperti itu. Kadang, kamu melek hingga tengah malam demi menungguku pulang padahal aku sudah meminta untuk tidak ditunggu. Kamu terus menolak dan yakin bahwa aku akan pulang. Pernah juga sekali aku tak sengaja menyebut nama Vina di tengah rentetan alasanku sering pulang malam. Tapi, kamu masih saja percaya padaku. Kamu percaya bahwa aku bukanlah seorang lelaki yang suka mempermainkan wanita. Kamu percaya bahwa aku tak akan pernah membagi cinta ini untuk orang selain dirimu dan anak-anak kita. Inilah yang membuat mendadak rindu padamu.

Setelah meneguk air mineral lamat-lamat, aku buru-buru pamit pada Vina. Aku menolak untuk meneruskan kerja sama dengannya karena kutahu niatnya sudah tidak baik sedari awal. Dia hanya ingin melampiaskan kesepiannya karena baru saja diceraikan oleh suami keduanya. Ya, Vina sudah menikah dua kali. Setelah kupikir-pikir, betapa bodohnya aku bila termakan bujuk rayu seorang wanita macam dia. Aku juga sadar, secantik apapun Vina, dia tak sebaik dan semulia kamu, Fany. 

"Fany sayang, aku pulang sekarang. Aku tak mau pergi dan pulang malam lagi. Aku janji akan selalu bersamamu, menjaga cinta yang telah kamu beri untukku."



CURHAT ANAK MAPRO PSIKOLOGI: QUALITY TIME

Libur belum tiba
Libur belum tiba
(Nggak) hore
(Nggak) hore....

Seluruh mahasiswa strata satu udah pada libur. Kampus putih jadi sepi, hanya ada kerumunan dosen, para staf dan pegawai. Satu golongan lagi yang belum libur: mahasiswa magister profesi. Saya nggak tahu pasti magister jurusan lain libur apa nggak, tapi untuk magister psikologi bilangnya "nggak libur".

Sebagian besar teman-teman yang berasal dari luar Jawa ataupun luar Malang, pada sebel karena udah homesick. Alhamdulillah, saya nggak ngerasain hal yang sama karena udah pindah dan menetap di Malang. Kalau dulu waktu S1, saya juga jarang pulang (pas masih tinggal di Parepare). Homesick itu pasti, tapi tiap libur kadang ortu yang jengukin ke sini sekaligus mereka pulang kampung. Kalau nggak gitu, saya yang berlibur ke Madiun (di daerah perbatasan Madiun sama Magetan sih sebenarnya), ke rumah Mbah (ortu Mama). Yaah..kebayang lah yaa gimana rasanya merindukan kampung halaman. Meskipun saya sendiri nggak bener-bener native from Parepare, sekarang kerinduan di dada ini makin membuncah. Ya iyalah rindu, orang saya lahir di sana.


Libur yang belum jelas kapan datangnya ini, membuat kami membetahkan diri untuk mengerjakan setumpuk laporan praktikum alat tes. 

Ahh sudah cukup intermezzo soal libur nggak liburnya.

Sekarang lanjut bahas quality time. Quality time yang saya maksud adalah kapan waktu terbaik kita untuk melakukan sesuatu yang bermakna dan bertujuan. Nggak tahu kenapa, saya jadi makin percaya kalau quality time saya itu adalah sore hari. Sejak kuliah, saya sering mengerjakan tugas atau menulis apapun itu pada sore hari. Kalau pagi hari terbiasa dihabiskan dengan agenda bersih-bersih, kadang bantuin masak, nyuci, nonton televisi buat nyari inspirasi dan seringnya juga sambil buka laptop baca-baca e-book atau informasi apapun melalui jejaring internet.

Seperti sekarang-sekarang ini nih. Sejak kuliah lagi, inspirasi untuk menulis laporan itu tuh selalu datang dengan lancar waktu sore. Jadi, sebelum ngerjain tugas, paginya saya browsing baca-baca dulu. Kalau nggak ada buku cetak yang bisa dibeli, saya lebih milih baca buku di internet di google books dulu pagi harinya. Setelah itu tidur siang untuk memulihkan energi. Kalau misal tugasnya bejibun gitu, biasanya saya cicil yang ringan-ringan paginya. Nah, untuk bagian tugas yang bener-bener rumit, butuh pemikiran ekstra baru deh dikerjain pas sore (tapi sebelumnya shalat ashar dulu terus mandi) sampai maghrib. Emang sih sore itu nggak sepanjang pagi apalagi malam. Kalau otak masih bisa kompromi, kadang saya bisa ngerjain sampe paling mentok jam 9 malam. Lewat dari itu, pikiran udah nggak bagus. Kalau dipaksakan, tugas yang dikerjakan nggak bakal bagus hasilnya. Begitupun dengan rutinitas menulis buku, selalu dimulai waktu sore.

Dengan waktu yang terbatas di sore hari, saya juga kadang ngebatasin jadwal menulis/mengerjakan tugas. Biasanya dua-tiga jam. Itu udah berkualitas banget, ide untuk ngerjain tugas bener-bener ngalir dengan enteng. Lebih dari tiga jam, saya suka jenuh. Jadi, untuk mengatasinya saya tutup laptop, istirahat atau ngelakuin hal lain.

Kalau kalian sendiri, kapan quality time kalian? Apa aja yang kalian lakukan di waktu tersebut? Apakah sudah diisi dengan kegiatan bermakna?



HINDARI MENGATUR BERLEBIHAN & MEMBENTAK ANAK

by catatanistri.com
Sekedar intermezzo mengenai gambar di atas, saya peroleh ketika membaca status teman Facebook. Saya sedih melihat ekspresi anak yang menggemaskan itu.
------
Selama praktikum ini, ada banyak sekali kasus-kasus yang bertebaran. Walaupun mayoritas kasusnya masih dalam ranah "problem psikologis" dan nyaris nggak ada yang nemu kasus "disorder", tapi bila diinterpretasikan ke masa depan, problem-problem psikologis yang ada sekarang ini lama-kelamaan akan menjadi gunung es di kemudian hari.

Berbicara soal masalah psikologis pada anak, banyak sekali memang. Ujung-ujungnya, kalau lagi bahas masalah pada anak, pasti kami akan selalu mempertanyakan, "Orangtuanya itu gimana?"

Sebagai contoh, ada 2 kasus pada anak. Satunya problem psikologis, satunya lagi udah dalam taraf gangguan. 
Sebut saja A. Setelah dites, anak bernama A ini memiliki IQ di atas rata-rata. Namun, selama pengetesan IQ, banyak kejanggalan yang terjadi ketika menjawab pertanyaan dari tester. Dengan usia yang telah menginjak 8 tahun, semestinya si A sudah bisa berpikir abstrak (walau masih taraf belajar) dan seharusnya si A juga bisa lebih kreatif karena mengingat IQ-nya di atas rata-rata tadi. Namun, hal tersebut tak ditemukan dalam diri si A. Sebagai contoh, si A sukar menjawab soal pengulangan deret angka dari belakang. A hanya bisa mengerjakan soal pengulangan deret angka dari depan. Kemudian, pada beberapa subtes verbal, si A seringkali memberikan pola-pola jawaban yang dangkal dan kurang mampu meramunya menjadi kalimat-kalimat yang lebih kreatif.

Setelah ditelusuri, menurut sang tester, rupanya di rumah, anak tersebut memang sudah di-setting oleh orangtuanya. Maksudnya, sejak kecil, si A ini bener-bener ditata untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Si A diberi makanan yang bergizi tinggi, kemudian selalu ditata agar menjadi anak yang penurut. Orangtua si A juga sering mengatur-atur si A, harus begini dan begitu tanpa memberikan kesempatan bagi si A untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Akibatnya, si A tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat sistematis, tidak akan mau melakukan sesuatu tanpa disertai aturan yang pasti, kaku dan   kreativitasnya tidak terasah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan antara skor IQ dengan fakta keseharian si anak. Malah beberapa di antara teman kami yang menyimak analisis kasus tersebut sampai menginterpretasi, "Nanti kalau udah gede, bisa gawat apalagi anak cowok. Kalau diatur-atur kayak gitu terus, bisa-bisa si anak jadi suami-suami takut istri lagi." Hahaha... interpretasi yang terlalu jauh tapi masuk akal juga sih hehe.

Kemudian, masalah kedua masih pada anak. Sebut saja B. Dia adalah anak tunggal dari ibu dan bapak yang pendidikannya sama-sama lulusan magister. Sayangnya, si B harus dijebloskan ke dalam RSJ karena terdapat tanda-tanda psikotik yang mengarah pada gangguan skizofrenia. Setelah ditelusuri, ternyata si anak ini selalu dipaksa dan diatur oleh orangtua agar menjadi sesuai keinginan orangtua. Si anak harus mengikuti sejumlah les-les privat akselerasi yang sangat tidak masuk akal. Orangtuanya saat ini sangat menyesal melihat keadaan si B yang makin parah dari hari ke hari.

Dari kedua ilustrasi kasus di atas, mengapa sih tidak boleh mengatur-atur anak disertai paksaan?
Eum, sebenarnya wajar bila orangtua menginginkan agar anaknya tumbuh menjadi sosok terbaik nan membanggakan. Namun, tidak semuanya harus serba diatur. 

Anak juga butuh solitude time (ini istilah pribadi saya aja sih hehe). Dalam solitude time ini, biarkanlah si anak untuk belajar melakukan atau memutuskan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dengan begitu, si anak juga akan belajar konsekuensi dan tanggung jawab dari apa yang sudah dilakukan. Selain itu, orangtua yang notabene pengetahuannya sudah tentu lebih luas daripada sang anak juga sebaiknya mengarahkan anak agar bisa berpikir abstrak, bukan hanya berpikir konkret terutama dalam proses belajar problem solving.

Selain mengatur-atur secara berlebihan, hal lain yang sering dilakukan orangtua terhadap anak adalah membentak. Tindakan membentak anak juga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan fisiknya. Sebuah studi internasional dari Amerika pernah mengadakan penelitian dan telah membuktikan bahwa detak jantung seseorang akan cenderung meningkat ketika menerima atau mendengar suara bernada tinggi. Ketika seseorang kerap mendengar suara-suara bernada tinggi atau yang bernada sentakan, lama-kelamaan denyut jantungnya akan menjadi lebih cepat sehingga menyebabkan jantung gampang lelah.

Selain itu, masih ingatkah kita dengan salah satu bait dalam sebuah petuah lama. Eum, kalau tidak salah intinya itu melarang kita mengasuh anak dengan kemarahan karena ia akan belajar untuk memaki, berontak dan bermusuhan (hehe saya lupa kalimatnya apa).

Dampak secara psikologisnya, si anak yang sering mendapat respon negatif seperti teriakan, amarah dan bentakan akan memicu kegagalan pada fungsi kepribadiannya kelak. Si anak akan tumbuh menjadi individu yang suka minder, tidak percaya diri, pemarah dan pemberontak.

Secara umum memang nggak mudah gitu ya menghadapi anak ketika ia berbuat salah. Banyak orangtua langsung merespon dengan memarahi dan membentak. Sebagai contoh yang pernah saya saksikan pada sepasang suami istri yang menikah muda. Ketika si anak bermain lalu tanpa sengaja menghilangkan barang/benda permainan yang sudah diberikan oleh ibunya, Sebenarnya si ibu bermaksud baik, ingin menasehati agar si anak tidak mengulangi kecerobohannya. Setelah saya tanya diam-diam, rupanya si anak yang masih SD ini mengaku bahwa ia memang sedikit ceroboh dan setiap melakukan kesalahan, si ibu pasti mengomelinya. Si ibu marah-marah dan si anak mundur hingga mepet ke tembok dengan ekspresi takut. Si anak cemas dan berlari pada saya saat itu. Sementara si bapaknya justru diam, hanya bertindak sebagai penonton, nggak ada upaya untuk melerai atau menahan amarah istri. Yaaah... akhirnya, saya secara diam-diam ikut menasehati anak tersebut secara baik-baik. Saya pun mengajaknya bermain agar melupakan kesedihan dan kecemasannya. Setidaknya, saya salut dengan anak tersebut. Masih kecil tapi sudah pandai mengoreksi kesalahannya. Dia juga tergolong cerdas karena secara insidental, saya sudah mengujinya melalui tes-tes psikologi sederhana hingga yang rumit. Anak tersebut juga penurut, mau berubah menjadi lebih baik. Heuuum... entah dari siapa dia mempelajari hal tersebut, tapi dari situ saya melihat ada potensi baik yang akan sayang sekali bila orangtua tidak membantu mengoptimalkannya melalui hal-hal positif.

Nggak mudah memang ya jadi figur ortu yang baik. Tapi, bukan berarti dari sekarang kita nggak mau belajar kan? Untuk mengasah keterampilan dan kesiapanmu menjadi seorang ibu, coba aja deh sekali-kali gitu bergaul dan bermain sama anak kecil. Hehehe... saya sendiri sering bermain sama anak kecil. Di kompleks tempat tinggal baru kami, rata-rata dihuni oleh pasangan suami istri yang udah berumur 30-40 tahun tapi baru dikaruniai anak. Jadi, banyak anak kecil di kompleks rumah kami yang sekarang dan yang tertua di daerah RT 05 ini juga nggak banyak. Mungkin satu dua, termasuk Bapak dan Mama saya yang udah punya anak segede-gede gaban ini heheh.

Saya juga punya ponakan (anak dari sepupu yang nikah muda). Ponakan dari suami tante saya juga punya anak kembar yang masih di bawah tiga tahun. Gemeees banget soalnya kembar cewek cowok. Jadi, kadang kalau ada waktu free, saya mampir ke rumah tante saya (rumah mbakku yang ini berdempetan sama rumah tante di belakang kampus). Tiap ke sana, cuma ada anak-anak kecil jadi bergaulnya sama mereka. Main sama mereka. Kalau sama si kembar, saya lebih akrab sama si little Kenzo. Kenzo sangat aktif, murah senyum dan lebih mudah beradaptasi dengan orang lain. Kalau sama si Keyla, nggak begitu. Keyla malah malu dan agak nggak mau deket-deket saya, kelihatan sih kalau Keyla itu tipenya nggak mudah percaya dan nggak gampang beradaptasi dengan orang lain. Tapi, kalau saya lagi shalat di rumah Mbak gitu, si Keyla sering diam-diam ngintip dan bilang pada ibunya kalau saya lagi shalat. Hehehe lucu...lucu.

Loh kok malah jadi saya yang curhat hehehe.

Begitulah postingan saya kali ini (Sebenarnya ini late post, udah saya jadikan draft sejak bulan Desember lalu tapi baru sempat ngedit lagi pagi ini).

Semoga bermanfaat

Semangat pagi ^___^

BERKAH DARI BELAJAR DAGANG

Alhamdulillah.. Belum lama ini, sekitar Agustus 2014 lalu mulai mencoba untuk berbisnis kecil-kecilan. Yaaah, meski masih tergolong reseller dan marketer tapi karena kedua job ini menyenangkan dan it's about syar'i fashion jadinya happy aja ngejalaninnya.

Dengan ngebuka nama olshop Griya Qafisha, saya jadi belajar banyak hal. Pas awal-awal jualan, saya sempat pesimis karena nggak pernah mengampu pelajaran bisnis dan sama sekali nggak punya skill handal dalam berbisnis. Tapi, karena niatnya emang pengen belajar biar kelak ada pegangan, akhirnya sedikit demi sedikit jadi banyak hal yang saya tahu.


Awal-awal jualan jilbab tuh, yang ngantre beli adalah teman-teman kelas. Belinya nggak cuman satu orang, tapi beberapa. Mulanya, biar ada yang tertarik, saya juga memakai produk yang saya jual agar lebih meyakinkan. Nah, semenjak pakai produk-produk tersebut sendiri dan dilihat sama teman-teman kelas, akhirnya yang lain pada tertarik mau beli. Entah itu karena warnanya yang menarik atau karena dari mereka emang bener-bener pengen berhijab syar'i. Jadi, pas matrikulasi September lalu, saya ke kampus sambil bawa barang dagangan. Nggak cuman jilbab, tapi juga gamis. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa belajar untuk berdagang. 

Sampai-sampai nih si ketua kelas kami, si Mamat sama semua teman-teman cewek di kelas terkekeh dan tersepona (terpesona) tiap saya paparkan jenis-jenis kain dari gamis dan jilbab yang saya jual. Selama ini, mereka cuman tahunya beli, tapi nggak tahu nama bahannya apa. Jadi, kalau mereka membeli barang yang saya jual, saya juga ngasih tahu nama kainnya jenis ini, enak apa nggaknya, sifatnya gini gitu dan segala macam. Nah, setidaknya nambah pengetahuan di saya juga para konsumen sehingga kesannya nggak buta soal fashion lah.

Saya juga bersyukur, berkat belajar berbisnis ini, saya sedikit demi sedikit bisa ngebedain mana bahan (kain) yang bagus dan berkualitas dan mana yang nggak. Saya juga udah nyoba membeli beberapa sampel dari barang yang "punya nama". Di antara barang homemade/branded lokal tersebut, rupanya ada yang cuman menang di pamor nama aja tapi aslinya bahan yang dipakai masih kalah jauh sama yang harganya justru lebih murah dari itu. Makanya ukhtina, kita sebagai konsumen juga kudu pinter milih. Jangan mentang-mentang namanya terkenal. Si pemilik yang personal brandingnya melejit itu belum tentu menang dengan homemade yang namanya nggak terkenal banget-banget loh.

Kalau terhitung sampai sekarang, kira-kira udah 5 bulan lah ya saya jualan. Alhamdulillah barang yang saya order dari owner laris semua jadi untungnya juga banyak. Tapi, saya langsung menggunakan keuntungan tersebut untuk biaya kuliah sih soalnya keuangan saya lagi menipis. Euuung... nah ini mungkin bisa saya masukkan sebagai list kelemahan. Saya sih awalnya mikir, sebaiknya keuntungan dari hasil penjualan bisa saya tabung dan nggak langsung dipakai. Tapi karena kebutuhan kuliah sangat membludak, saya belum mampu deh nahan godaan untuk nggak langsung memakai keuntungan tersebut.

Untuk orderan selanjutnya, saya juga mix sama modal yang dikasih Mama. Tapi, kalau misalkan barang tersebut laku terjual, modal+untungnya yaa saya kasih ke Mama. Ada sih sekali aja saya minta untungnya soalnya waktu itu juga Mama yang nawarin. Rezeki masa' ditolak, hehehe. Trus selanjutnya yaa saya kasih Mama aja.

Banyak deh hal yang saya peroleh dari belajar berdagang ini. Alhamdulillah juga, awal tahun 2015 ini banyak orderan yang datang yaa meski banyaknya belum sebanyak orderan olshop yang udah melanglang buana.  Harapan selanjutnya, semoga saya bisa menekuni proses belajar ini sampai seterusnya, sampai nanti udah nikah, udah punya anak. Kalau perlu, saya pengeeeen banget bisa bikin produk sendiri. Heum, karena nggak pinter desain, jadi cara untuk buat produk sendiri yaa nyari partner yang pinter desain. Saya punya teman baik yang pinter desain waktu kuliah cuman sayangnya dia udah balik ke Flores. Yaah... rencana ini mungkin akan saya pikirkan nanti ketika udah nikah. Sekarang, saya belajar sendiri dulu soalnya juga masih pemula, masih banyak ilmu dan skill yang harus saya tempa.

Saya juga ngucapin banyak terima kasih buat mbak-mbak partner saya sekaligus para owner yang punya barang, udah baiiiiik banget. Udah beberapa kali order, makin banyak dikasih diskon, pelayanannya juga ramah dan sigap. Semoga nanti saya bisa menjadi seperti mereka hihi aamiin ^^.

Makasih juga buat para pelanggan yang udah belanja di Griya Qafisha. Oiya, Griya Qafisha lebih aktif via bbm. Jadi, bila ada yang mau berbelanja, silakan invite pin bb kami ya 736afa60. Orderannya saya alihkan ke bbm karena mumpung always on wifi di rumah dan kampus jadi dimanfaatin bener dah tuh nikmat Allah :D.

MENDAPATKAN TEMAN ITU SANGAT MUDAH, TAPI TIDAK BAGINYA

Sepanjang jalan menuju proses peng-integrasian hasil laporan praktikum alat tes ini, saya jadi kepikiran sama si testee. Sudah lama kenal tapi baru saat ini saya benar-benar memahami apa yang tersembunyi di balik wajah cantik dan polosnya.

Dia sebenarnya cukup cerdas namun dari hasil beberapa tes yang diberikan, ternyata orangnya inferior atau bahasa mudahnya nggak pedean, merasa rendah diri dan cenderung malas action.

Saya baru sadar kalau dia sebenarnya punya banyak sekali unfinished business. Saya juga baru tahu kalau ternyata dia tidak suka diatur. Alhasil, susah juga untuk membuat janji bertemu dengannya. Otomatis, saya yang harus ngalah karena dia sendiri tidak ingin diatur dengan jadwal pertemuan yang saya tentukan. Permasalahannya itu ibarat benang kusut yang udah terulur ke sana kemari namun nggak pernah jelas gimana cara mengembalikannya secara rapi seperti semula. Mulai dari keluarga, akademik hingga persoalan teman pun bermasalah.

Ambil salah satu yaitu persoalan teman. Kalau diamati, dia punya banyak teman. Saya pun juga tergolong temannya karena kami juga satu fakultas (meskipun beda angkatan) dan pernah satu atap dalam organisasi rohis. Namun, dia masih saja merasa kesepian. Ketika ditanya apa arti sahabat, dia sendiri tidak mampu mendefinisikan dan merasa tidak memiliki sahabat atau teman yang benar-benar khusus dan dekat dengannya. Selama ini, dia hanya memendam sendiri masalahnya. Kalaupun cerita, pasti ke orangtua, terutama ibu, itupun juga tidak semua ia tumpahkan.

Seandainya saya ada di posisi benar-benar tidak mengenalnya selama memberikan tes, mungkin saya harus mengerahkan tenaga yang lebih ekstra agar mendapat simpati darinya. Mungkin ini yang saya tarik sebagai salah satu faktor mengapa ia tidak punya banyak teman, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan dan merasa tidak punya sahabat. 

Kira-kira apa sih cara yang bisa kita lakukan, paling tidak agar orang lain tertarik untuk berteman dengan kita? Ya, tersenyum. Itu adalah cara paling mudah. Ketika kita menampakkan/memberikan senyum tulus pada orang lain, maka itu akan menjadi kesan pertama yang baik untuk menjalin hubungan interpersonal selanjutnya. Dengan tersenyum, orang lain pun akan menilai bahwa kita menerima kehadirannya. Inilah yang tidak saya temukan dalam diri si testee. Itu juga keluar dari hasil interpretasi tes maupun hasil dari alloanamnesa. Banyak orang yang menilai dia sombong padahal orangnya baik looh. Bagi yang mengenalnya, kalau dia tersenyum dikiiiit aja, subhanallah cantik dan manis banget. Cuman, dia memang tipe orang yang memiliki wajah cenderung apatis. Jadi, kesan pertama yang muncul ketika kita baru pertama melihatnya pasti akan mengira dia adalah orang yang sombong, tidak ramah atau sejenisnya. Padahal tidak. Ekspresi natural dari wajahnya memang sudah seperti itu dan itu juga diakui oleh orangtuanya.


Soal senyum, dulu saya juga orang yang jarang bisa senyum ke orang lain. Saya juga susah buat senyum kalau emang nggak bener-bener ada yang menarik atau lucu di mata saya. Makanya paman saya suka ngejahilin saya dan bilang kalau saya ini orang yang jutek. Sampai-sampai, paman saya juga bilang, "Cewek jutek nanti nggak ada yang suka looh."

Akhirnya, saya coba belajar senyum dikit-dikit sampai sekarang. Jadi, kalau lagi papasan sama orang asing gitu, nggak ada angin, saya kasih senyum aja (itu kalau papasan sama sesama jenis) atau sama lawan jenis yang usianya sepantaran sama bapak saya (orang tua gitu lah maksud saya). Karena dulu susah senyum, banyak juga orang yang nggak suka sama saya, banyak teman-teman sekolah yang laki-laki suka ngejahilin saya yang menurutnya jutek (padahal niat mereka cuma pengen kalau saya ini bisa senyum).

Gara-gara senyum dan kadang salah senyum ke orang, saya jadi ingat dengan insiden yang sudah beberapa kali saya alami. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan ihwal salah senyum ke orang di blog ini. Belum lagi cerita waktu saya mendadak di-senyumi oleh seorang lawan jenis di masjid karena waktu itu saya sedang bicara disertai senyum canda bersama adik tingkat (perempuan) yang sekarang bergabung dalam rohis yang sama dengan yang pernah saya ikuti dulu. Terakhir, belum lama ini, saya lagi-lagi dilempari senyum (naasnya selalu dari lawan jenis) padahal waktu itu saya sedang memakai masker karena flu batuk dan ekspresi saya juga datar-datar saja di balik masker tersebut. Aneh. Saya pun bingung. Kalau disenyumi ibu-ibu atau perempuan sih udah sering, tapi kenapa sekarang banyak lawan jenis yang ngasih senyum padahal nih ya (bukannya saya mau merendahkan diri tapi ya memang gitu deh yang saya pikirkan) saya itu nggak cantik-cantik amat. Saya nggak habis pikir betapa hebatnya ya efek senyuman itu walaupun berasal dari cewek yang biasa-biasa saja kayak saya hehehe.

Nah, mungkin next time, saya akan coba bilang ke testee agar bisa belajar tersenyum agar mendatangkan banyak teman bahkan sahabat baik untuknya.

Yuk, kita belajar untuk tersenyum kepada siapapun. Senyum yang tulus ya. Senyum bukan hanya mendatangkan simpati dari orang lain. Senyum yang tulus dari kita (nggak peduli kita itu cantik/ganteng atau wajah pas-pasan) bisa membuat orang lain tertarik untuk berhubungan baik dengan kita. Senyum yang tulus juga sangat mungkin mendatangkan rezeki looh. Aku udah mencobanya. Hasilnya walau cuma hal sepele, berkat senyum, saya sering dapat krupuk gratis kalau beli makan di warung waktu masih zaman S1 ngontrak dulu hehehe :D.

Bagaimana dengan kamu?

COMING SOON: MY 1st NOVEL CANDY RENDY

Credit: Paresma

Coming soon!!
Setelah nunggu setahun, akhirnya dapat jatah editor. Baru dua minggu apa seminggu yang lalu gitu dikabarin soal cover. How do you think about that cover? Hmm.. sincerely, saya kurang puas dengan desainnya. Semacam ada yang kurang gitu. Tapi berhubung editor bilang, "Ini sampel cover fix pilihan kami." Ya udah deh, daripada nunggu lama-lama direvisi lagi, molor lagi, akhirnya saya setuju. 

Ini novel debut saya. Nggak tahu deh gimana komentar pembaca nanti. Tapi, saya berharap, dari novel ini bisa dapat banyak masukan dari pembaca biar saya bisa terdorong untuk lebih kreatif lagi dalam menulis novel. Karena ini debut, jadi materi novelnya juga nggak berat. Temanya sih tentang how to move on? Euuung... kisah cinta dewasa awal gitu hahah. Tapi, sesuai dengan selera saya, jadi di dalamnya nggak ada yang namanya pacar-pacaran. 

Karena masih belajar, jadi di novel ini saya pakai tokoh-tokoh yang dekat atau saya kenal. Ada 3 sahabat S1 saya yang jadi tokoh Oki, Diva dan Nadia. Trus, ada teman saya yang jadi tokoh Rendy (karakternya dia itu co-ass, sesuailah dengan profesi aslinya, itu sih dia ceritanya masih co-ass tapi sekarang udah mau UKDI *denger dari temannya yang cewe, dulu satu kelompok KKN sama saya juga). Trus, ada tokoh Erlangga, nah itu memang kakak tingkat saya pas S1, karakternya yaa kira-kira seperti yang ada di novel. Euuum, sama satu lagi tokoh tamu. Kenapa saya sebut tokoh tamu, soalnya minta izinnya khusus sendiri, awalnya bingung mau cari tokoh siapa buat tambahan. Mau mengimajinasikan sendiri tapi nggak bisa bener-bener menghayati jadi saya hapus lagi tokoh sebelumnya. Finally, saya beranikan diri buat izin dulu sama orangnya. Alhamdulillah, responnya ramah banget, boleh-boleh aja. hehehe... Gomawo. Tokoh tamu itu adalah dr. Bram Irfanda. Di novel tadinya saya mau pakai nama samaran, cuman keburu pas dikirim itu saya lupa ganti dan udah disetujui oleh penerbit. Yaaaaa pake nama asli deh dr. Bramastha Aditya (nama belakang nggak saya ikutkan jadi nggak spesifik banget kan) tapi karakternya saya nggak tahu sih karena belum pernah ketemu jadi cuman saya gambarkan sesuai dengan imajinasi saya (hehe ngapunten ya mas dok kalau ada yang nggak sesuai).

Eh..eh..tunggu.. trus tokoh utamanya siapa? Aliyanda Vigra, panggilannya Vigra. Itu siapa? Dari tokoh nyata juga atau pure fiction? Euuung... saya bingung jawabnya. Sebenarnya itu fiktif tapi pas nulis, secara nggak sengaja saya juga nyisipin dikit yang nyerempet diri saya. Jadi, pasti yang baca nanti bakal bilang, "Iiiihh, kamu curcol yaa?" Hehehe... sebagian kecil aja sih saya ambil dari cerita pribadi kira-kira 20% aja. 80%nya fiktif, nggak nyata. Jadi, jangan terburu-buru menyimpulkan, baca dulu yaa dan bagi yang udah kenal saya, yaaah tahulah batas "cerita nyata"-nya sampai bagian mana.

Kisahnya itu ada mellow-nya. Tapi, setidaknya masih ada pelajaran yang bisa dipetik dari situ. Kisahnya itu tentang.... *ah bagian ini cut aja hehehe. Yang penasaran, tungguin aja wes novelnya rilis dan baca sendiri ya :D.
Oke deh. 
Sisa nungguin, kapan tuh novel kelar dicetak. Aslinya rencana terbit tahun 2014 di SPP-nya. Namun, kayaknya Januari baru beredar di tokbuk. Kita tunggu aja lah ya.

Bagi yang udah baca novel ini nanti, saya  mohooon banget kritik, saran, masukan atau apapun itu yang bisa bikin saya push-up belajar lebih banyak lagi buat nulis novel. 

Untuk tahun depan, saya nggak ngeluarin buku dulu soalnya semester dua tahun depan itu ada schedule PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi) di RSJ. So, waktu bakal tersitaaaa banget buat mantengin pasien di RSJ tiap hari plus bikin laporan praktikum alat tes ke pasien nanti. Insya Allah,semester 3 atau 4 gitu, saya akan menulis lagi sembari nyiapin beberapa schedule lain yang menurut saya udah harus dieksekusi *aiiih bahasanya,, hanya Allah dan saya yang tahu hehehe.

Oke deh, cukup sekian dari saya. ^^

PENGUMUMAN PEMBAGIAN BUKU UNTUK GA PARESMA

Karena ketiga peserta dapat masing-masing jatah 1 buku. Jadi, saya putuskan untuk mengundinya dengan sistem kocok dan dimulai dari peserta terakhir yaitu Siska, selanjutnya ArghaLitha dan terakhir Intan.

Ini hasil foto undiannya sesuai urutan nama di atas ya. Cara lihatnya dari gambar kertas sebelah kiri lalu ke kanan.



Jadi, Siska dan ArghaLitha dapat buku Syabab. Intan dapat buku Secangkir Kopi Bully.

Selamat...selamat... hehe... Mohon maaf banget hadiahnya cuman satu tapi semoga bisa ngasih manfaat aamiin.

Pengirimannya nyusul nyari waktu free ya.

PENGUMUMAN HASIL AKHIR GA PARESMA

Setelah menimbang-nimbang enak dan baiknya bagaimana. Karena saya juga pengen sekalian belajar adil, jadi saya putuskan untuk tidak membagi hasil akhir dari GA Paresma ini ke dalam kategori pemenang I dan II. Maksudnya, karena yang daftar hanya 3 peserta, jadi saya ingin agar semua bisa merasakan buah dari usaha mereka. Jadi, intinya ketiga peserta dapat masing-masing 1 buku. Untuk bukunya saya acak tapi yang jelas ada 2 orang yang dapat buku Syabab dan 1 buku Sencangkir Kopi Bully soalnya stok SKB di saya emang dikit dan saya lagi gak ada waktu buat mampir ke tokbuk buat beli SKB.


Nah, untuk fotonya, saya suka tiga-tiganya. Tapi, untuk pemenuhan persyaratan, hanya si Intan N.K. yang kurang memenuhi satu syarat yaitu share info GA ini di blog dan gak ada url link blognya di kolom komentar jadi saya bingung nggak bisa kasih link hidup langsung ke blog Intan deh ini. Kalau 2 peserta itu udah memenuhi semua syarat: ArghaLitha dan Siska Dwyta. Bisa diintip deh langsung blog mereka kayak apa (yang mau BW). Ternyata mereka juga nyeritain proses mendapatkan bukunya padahal gak ada syarat untuk harus cerita. But, makasih banyak yaa.

SELAMAT YA BUAT KETIGA PESERTA. ^___^

Terima kasih buat atensinya karena udah mau meluangkan waktu buat ikutan GA ini. Ternyata dari kisah-kisah mereka, ada yang sampe kesulitan nyari bukunya di Gramedia karena belum dipajang dan karena jarak antar rak ini dan itu berjauhan.

Perkara pengiriman hadiahnya, mohon bersabar untuk beberapa waktu yaa ukhti-ukhti. Saya nunggu hari Sabtu baru gak kuliah baru bisa ngirim ke kantor pos. Entah sabtu ini atau sabtu depan. Yang pasti, kalau hadiahnya sudah dikirim akan saya kabarkan lewat Twitter ya.



GA PARESMA DITUTUP YA

GA Paresma resmi ditutup ya malam ini. Terima kasih buat yang udah ikutan. Eh..eh.. prestasi banget ya, tumbeeeen gitu untuk giveaway kali ini yang ikut hanya 3 orang. Mungkin karena deadlinenya yang kurang panjang kali ya. Tapi, kalo kelamaan saya yang nggak bisa (pada akhirnya semua kembali ke subjektivitas pemegang tampuk GA hehehe). Mungkin juga karena hadiahnya yang terlalu sedikit. Ya saya maklum karena untuk GA kali ini nggak bisa ngasih banyak bukan karena pelit tapi nggak sempet nyari hadiah buat tambahannya (lagi-lagi pakai alasan sibuk kuliah,, yaa tapi itulah apa adanya).

Makasih buat 3 orang yang udah daftar. Karena pesertanya dikit, otomatis, saya jadi mudah dan cepat dalam mengambil keputusan. Malam ini sih saya udah menentukan siapa pemenang I dan II tapi nanti dulu deh postingnya, besok atau lusa aja ya biar penasaran.

Selamat menebar garam jampi-jampi keberuntungan dan keberkahan deh ya buat 3 peserta. Selamat bersabar untuk menunggu pengumuman.

Sekadar info nih, saya berencana untuk mengubah pemenangnya. Niat awalnya, karena cuman ada 3 peserta, saya pengen ngebagi rata hadiahnya masing-masing 1 buku ke 3 peserta. Kasihan juga sih yaa kalau 3 orang, yang satu--yang tereliminasi di antara 2 tuuh berasa kayak dicuekiin gitu nah hehehe :D. Namun, nanti lah ya saya pikirkan lagi mau ngubah sama rata atau tetap seperti semula cuman 2 pemenang.

GIVEAWAY PARESMA



(sticky posting)

Naah kaan.. hehe akhirnya saya buka GA juga. Tadinya sih lagi gak pengen karena buku Secangkir Kopi Bully-nya cuman dapat jatah dikit dari penerbit. Tapi, berkat kehadiran paket buku Syabab, setidaknya cukup membantu untuk kelangsungan GA ini. Tadinya juga mau ngadain GA dengan syarat peserta haru belanja di Griya Qafisha (Olshop saya) namun batal... Sibuuuuukkkk! 

Langsung aja deh. Jadi, alhamdulillah, menjelang akhir tahun ini ada dua buku baru saya yang terbit. Oh ya sekadar info, kalo buku Secangkir Kopi Bully udah in stock di seluruh TB Gramedia dkk. Untuk buku Syabab sendiri, kemarin, Mbak Dewi bilang, bukunya masih baru banget keluar dari percetakan. Jadi, insya Allah untuk Jabotabek, distribusinya seminggu lagi udah in stock di TB. Untuk luar Jabodetabek, maybe pertengahan atau akhir bulan lah yaa udah ready.

Giveaway yang saya adakan kali ini sangat terbatas hadiahnya. Sebenarnya bisa aja minta di-sponsorin lagi, cuman, saya khawatir nggak bisa memanage berhubung jadwal sangat padat. Jadi, giveaway kali ini sangat simple. Hadiahnya pun hanya untuk 2 orang pemenang saja. Jujur, saya pengen banyak pemenangnya dan hadiahnya juga banyak. Namun, karena banyak tugas dan kerjaan, jadi saya batasi. Ngirimnya juga saya nunggu free dulu (itupun free tapi gak full free, hari Sabtu baru bisa ke kantor pos untuk pengirimannya nanti).

Oke ini aturan mainnya:
  1. Follow sosmed saya Twitter @de_Paresma, instagram Yanuarty Paresma Wahyuningsih dan join ke blog saya ini (untuk Facebook, mohon maaf saya tidak menyarankan, bukan udah penuh sih, cuman saya mau membatasi saja. Jadi, tidak diperkenankan mem-follow FB saya ya ^^v).
  2. Para peserta kudu punya blog, karena ntar pengumumannya akan saya posting di blog (selain di Twitter dan IG).
  3. Tugas para peserta SIMPLE BANGET. Jadi, syarat mutlaknya, saya tidak akan minta kalian untuk posting tulisan. Tugas Para Peserta adalah: Share 1 foto kalian bersama dua atau tiga buku saya di toko buku langsung (bagi yang belum nemu buku Syabab, foto dengan buku CKUS+Secangkir Kopi Bully juga gak papa. Kalau kalian ada temen yang punya buku-buku tersebut, gak papa fotonya juga boleh pinjem buku temannya dengan setting di rumah, taman dll.
  4. Fotonya dengan gaya yang eye catching atau lucu/nyentrik/aneh de el el dan kalau bisa sih fotonya itu menyiratkan sebuah cerita bersama buku-buku tersebut. Bagi ukhti-ukhti yang mau ikutan tapi malu difoto, boleh foto dengan badan menyamping atau pake masker tapi bukunya kudu keliatan ya hehe (terserah gayanya gimana, mau nunduk sambil duduk juga gak masalah, yang penting jangan membelakangi).
  5. Share foto kalian di Twitter dan IG dengan men-tag bin mention saya juga ya. Sharenya cukup sekali aja. Pake hashtag #GAParesma di captionnya
  6. Saya akan memilih 2 foto yang memenuhi syarat No.3-5.
  7. Share link info GA ini di Twitter, IG dan blog kalian (sekali aja share-nya).
  8. Daftarin diri dan link fotomu di kolom komentar blog ini ya dengan format Nama asli, Nama sosmed, Alamat asli lengkap beserta kode pos dan Url link foto di Twitter dan IG kamu.
Oke itu deh syaratnya. Simple, kan? 

Hadiahnya: 
untuk 2 orang pemenang
  • Pemenang pertama dapat 1 eks. Buku Secangkir Kopi Bully dan 1 eks. Buku Syabab
  • Pemenang kedua dapat 1 eks Buku Syabab
Bila ada yang berbaik hati ingin men-sponsori tanpa mengharapkan imbalan dari saya alias murni karena kebaikan dan ketulusan hati saudara (hehe), silakan BBM saya ke 7E6AFA60 ya tapi jangan terlalu banyak ngasihnya ya.

Giveaway ini berlangsung mulai 2 November-7 Desember 2014. Masih lama, kan? 

Selamat berlomba bersama Paresma ^^

DIBENTAK OFFICE GIRL

Dua hari yang lalu, pagi sekitar hampir pukul delapan pagi, saya dan seorang teman pergi ke toilet. Saya sih yang punya tujuan: benahin jilbab yang berantakan. Karena toilet di bawah gedung pasca kurang kondusif menurut kami, jadi kami pergi ke toilet di GKB 1 yang lebih bersih dan ada koridornya buat ngaca. 

Sesampainya di toilet, ada 2 office girl yang baru saja selesai membersihkan. Saya hendak masuk, tapi kata salah seorang OG bilang, "Tunggu dulu." Baiklah, kami pun menunggu. Setelah OG tersebut hendak keluar dari pintu seberang, saya pun masuk sambil jinjit sepatu melalui pintu sebelah. Yaaa bermaksud menghargai meskipun kenyataannya sepatu saya tidaklah kotor sama sekali. 


Ketika dua langkah masuk menuju cermin besar di toilet, OG tadi mendadak membentak saya, "Yo opo seh, Mbak iki?!" Suaranya yang nyaring sampai menggelegar membuat saya amat terkejut. Saya pikir, teman saya yang menunggu di depan pintu sedang apa gitu atau ada sesuatu yang terjatuh di lantai. Tidak tahunya, bentakan Mbak tadi ditujukan ke saya.

Saya lihat lantai, bersih, tak ada bekas sepatu. Namun anehnya Mbak itu mengulang pel-nya dengan basah padahal lantai itu sudah lumayan kering. Ya Rabb.... pagi-pagi sudah dibentak. Seumur hidup dan selama dulu punya pembantu di rumah lama, saya tak pernah sedikit pun dibentak oleh pembantu. Tapi hari ini, seorang tak dikenal, usianya masih cukup muda malah seenaknya membentak.

Apa yang saya lakukan? Karena saya begitu malas meladeni orang-orang seperti itu, akhirnya saya putuskan untuk bilang pada Mbak itu, "Loh kan nggak kotor, Mbak, udah mau kering kok. Tapi ya udah deh kalo gitu, saya ke toilet lain aja, Permisi."

Selepas saya keluar, Mbak tadi masih mengomel sendiri. Sejak sebelum saya datang pun, Mbak tadi sudah terdengar menggerutu tidak jelas. Entahlah, dia kenapa. Mungkin saja punya masalah sehingga berdampak pada pekerjaannya atau apa, biarlah dia saja yang tahu.

Dari kejadian ini, mungkin saya juga salah. Salah karena saya masuk dengan OG yang masih ada di dalam. Tapi, saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika S1. Dengan kondisi toilet yang masih dibersihkan, amat kotor dan masih ada OG di dalamnya, OG tersebut sangat ramah mempersilahkan saya yang benar-benar kebelet mau buang air kecil. Jika dibandingkan OG sekarang, OG yang dulu, usianya jauh lebih tua tapi sama sekali nggak pernah menggerutu apalagi membentak seperti OG kemarin itu.

Ya sudahlah. Di sisi lain, saya juga mendapat pelajaran bahwa kalau saja ada kemungkinan bentakan yang keluar itu disebabkan tumpukan masalah pribadi yang diendap lalu terbuang ke tempat yang salah dan berdampak pada orang lain, maka itu sama sekali tidak baik. Masalah pribadi tidak boleh dibawa-bawa pada saat bekerja, begitu juga sebaliknya. Ya, namanya manusia gitu ya, khilaf.

Daripada saya membalas dengan bentakan, lebih baik saya diam. Dulu waktu masih jadi ABG labil, saya mudah terpancing emosi. Apapun yang tidak saya sukai atau mengganggu, maka saya akan terang-terangan menegur baik halus maupun kasar. Nah, dari situ saya belajar dan terus belajar bahwa ternyata menjaga lisan itu punya dampak yang luar biasa dan prosesnya pun tidak mudah.

Sampai sekarang, saya masih terus belajar untuk mengekang lisan agar nggak macam-macam. Mudah-mudahan, kejadian kemarin itu nggak saya alami sendiri dan nggak sampai menyakiti hati orang lain. Bismillah...semoga bisa terus belajar menjadi pribadi lebih baik. Aamiin..