Pages

KENAPA FOTO KAKI SIH?

"Some people are anchored to this world by their feet, others by their fears."
-John Kramer, Blythe-


Suatu ketika dia nanya, "Kok foto kaki sih?" Saya hanya menjawab, "Haha, nggak papa. Suka aja."
-----------

Saat saya lagi malas selfie, saya malah lebih suka foto kaki. I don't know why, tapi ada rasa nyaman sendiri buat saya saat foto kaki. Kalau diperhatikan, dari beberapa foto kaki saya, background-nya sama semua ya hehe cuman nampakin latar belakang lantai polos meskipun berada di tempat yang berbeda.



Foto di atas itu sewaktu saya masih praktik kerja profesi tahun 2015 lalu tepatnya di SLB Lawang. Saat saya datangnya kepagian, saya kadang iseng selfie atau foto apa aja sendiri di ruang asesmen. Oh ya, ngomong soal sepatu, jujur saya lebih suka flat shoes. Kenapa akhirnya saya beli sepatu itu yang solnya tampak ada sedikit hak-nya kayak foto di atas? Itu karena saat itu saya benar-benar lagi butuh sepatu yang agak formal, namun sesampainya di Mall, saya sempat agak susah mencari yang sama dengan ukuran kaki saya. Malah, saat saya menghampiri salah satu counter sepatu, mbaknya sampai menawarkan untuk melebarkan sepatu dengan sebuah alat. Entah apa namanya, pokoknya itu alat untuk melebarkan. Lah, kalau dilebarkan terus nanti jadi rusak, saya juga nggak mau dong. Akhirnya, saya keliling ke Matahari Matos, nggak dapat yang sesuai selera saya. Terakhir, saya masuk ke Buccheri. Sebenarnya saya menghindari beli yang mahal. Namun, mata saya sulit untuk tidak berpindah ke lain hati lagi saat melihat sepatu warna Tan yang kalian lihat di foto atas ini. Simpel, warnanya natural dan cocok untuk formal. Itulah yang saya cari. Akhirnya, saya putuskan untuk membelinya karena kebetulan tinggal satu-satunya yang size 40. Di tempat lain ada sepatu lain size 40 tapi size-nya entah kenapa kekecilan untuk kaki saya dan Buccheri ini pas banget, nggak kegedean tapi juga nggak kesempitan. Bahannya kokoh. Saya beli itu tahun 2011 atau 2012 ya, saya agak lupa, tapi seingat saya itu waktu saya S1 akhir-akhir skripsi. Saya beli karena berpikir mungkin setelah itu saya kerja, jadi lebih baik beli sekalian. Sampai sekarang, sepatunya masih awet, hanya saja solnya itu agak termakan sedikit sih. Gimana ya ngejelasinnya. Jadi solnya yang tadinya rata, sekarang permukaannya sudah nggak rata. Mungkin gara-gara saya pernah pakai sembari mengendarai motor dan menyentuh aspal saat mengerem. Jadi kalau dilihat sekilas, solnya timpang, nggak rata gitu. Tapi untungnya masih enak sih dipakainya, masih bagus juga. Cuman kulitnya ada yang tergores namun tidak sampai merusak kulitnya, waktu itu beli dengan krim pembersihnya cuman sudah kadaluwarsa mungkin jadi sudah nggak pernah saya bersihkan. Ini bahannya kulit sintetis sih ya jadi lebih awet. Warnanya pun nggak pudar. Intinya, kalau pakai sepatu bagus dan sedikit lebih mahal, saya eman-emani jangan dipakai sembari mengendarai motor apalagi kalau musim hujan, jangan sampai sepatu ikutan kena basah. Jadi, setiap kendarai motor dan dalam setiap musim apapun, mau hujan atau nggak, saya lebih prefer pakai sandal jepit dulu. Jadi, setelah tiba di kampus atau kantor, baru deh saya ganti pakai sepatu.
---------------


Foto ini saya ambil saat berada di stasiun KA Kota Baru, Malang. Waktu itu masih musim praktik namun praktik kali itu di RSJ Menur Surabaya. Mau gak mau setiap Jumat, saya pasti pp Malang-Surabaya. Kalau balik, kadang sendirian, kadang juga bareng teman yang lain. Saat itu saya tengah menunggu kereta sendirian. Gak ada kerjaan, jadi selfoot aja.
---------------


Foto ini saya ambil beberapa bulan lalu saat sedang antre di Richeese Factory samping Poltekes Negeri Malang. Saat itu, Bapak ngajak kami sekeluarga makan di luar. Daripada bete karena antrenya panjang, jadi selfoot lagi deh. Saat itu, tepat di barisan antrean depan saya ada sepasang sejoli. Mereka terlihat begitu serasi, ceweknya cantik dan cowoknya juga tampan. Lucunya, melihat style ceweknya, saya jadi teringat sama para personil JKT 48. Kok bisa keinget itu? Pasalnya, saat itu, si cewek memakai pakaian persis seperti personil JKT 48 ala-ala siswi Jepang, roknya pendek di atas lutut dengan akses rempel dengan motif kotak-kotak berwarna merah hitam kemudian didobel dengan kaos kaki stoking warna hitam transparan, rambutnya pendek sebahu lurus bak habis dicatok lalu dipermanis dengan pita merah. Dia juga memakai cardigan warna hitam. Hidungnya sedikit mancung, matanya sipit dan rupanya manis. Posturnya lebih pendek dan lebih kurus sedikit dari saya. Dia juga mengenakan tas berwarna hitam. Di depan saya, dia bersama sang pacar terlihat saling berangkulan, ngobrol entah apa yang diobrolin seolah dunia hanya milik mereka berdua sementara yang lain ngontrak. Cowoknya pun tampak cuek dengan dunia sekitar. Matanya hanya tertuju pada si ceweknya tadi. Kalau diperhatikan sekilas, cowoknya ini usianya cenderung lebih tua daripada si cewek, maybe seorang mahasiswa. Mengobservasi mereka bikin saya jadi Zzzzzz..... sendiri, bukan ngantuk, maksud saya, saya jadi gimana gitu lihatnya. Kalau dibilang iri sih nggak juga, tapi saya cuman merasa sedikit bahagia tapi sekaligus awkward melihat tingkah mereka. Bahagia karena mereka tersenyum berdua melulu. Awkward-nya karena jarang sih lihat orang pacaran sambil mesran-mesraan sembari antre pula di tempat makan gini :D...
----------------


Foto terakhir ini saya taken tadi siang saat sedang menunggu legalisiran ijazah sekaligus transkrip nilai di kampus 1 Pascasarjana UMM Jl.Bandung. Kok pakai sepatu sandal sih ke kampusnya? Hehe pikir saya karena udah nggak ada kegiatan kuliah jadi ya gak papa lah ya menabrak formalitas. Saya juga lagi malas pakai sepatu sih :D. Tadi sewaktu di kampus, saya melihat salah seorang laki-laki yang mungkin usianya sudah 30-an, saya nggak tahu pasti. Dia duduk di deretan kursi yang berada dua meter di deretan kursi saya. Dia sedang asyik menelepon dan duduk dengan gaya yang sangat nyantai. Hal yang saya observasi dari dia adalah ketika dia meludah dua kali. Kok kesannya kurang sopan gitu ya, meludah di dalam kampus ya walaupun liurnya itu masuk ke sela-sela bolongan besi, tapi kan tetep aja saya kurang setuju. Lagipula jarak antara kursi dan bolongan besi itu sekitar satu meter. Seandainya saat itu, ada orang yang nggak sengaja lewat di depannya terus dia refleks meludah, tentu nggak bisa dimaafkan ya. Saya juga sering sih lihat Bapak yang meludah di jalan. Literally, saya kurang suka sih kalau ada orang apalagi itu cowok yang meludah di jalan atau di tempat umum. Ya, ada baiknya kalau meludah mending ke toilet atau kamar mandi dulu atau kalau mau praktis, sediakan tisu lalu meludahlah dengan tisu sambil menutup mulut. Kita juga nggak tahu kan, barangkali ada orang yang jijik dengan melihat liur kita napak di jalan dan itu bisa jadi menyebarkan virus penyakit yang tidak sehat bagi yang nggak sengaja menginjaknya. 

Saat itu, saya tengah mencari tempat fotocopy lewat GPS, tapi berhubung sinyal lemot, akhirnya saya memutuskan untuk keluar kampus mencari sendiri dulu baru setelah itu kembali lagi. Saya pun dengan santai berjalan lewat tepat di depan orang yang meludah tadi. Dia dengan posisi kaki bak selonjoran (kakinya di rentangkan memanjang hingga hampir mencapai batas jarak dengan bolongan besi di depannya), saya lewati dengan santai tanpa permisi. Kenapa akhirnya saya seperti itu, sebab saya nggak mau jalan di koridor dekat bolongan besi yang sudah dia ludahi tadi. Saya sibuk melihat dan menata map berisi ijazah dan transkrip tapi mata saya sekilas melirik ke arahnya dan orang tersebut melihat saya berjalan di depannya mulai dari saya berdiri hingga saya berlalu beberapa detik dari hadapannya. Ya, memang sih, dia tidak merugikan saya, namun, karena dia sudah mengotori lantai yang harusnya nyaman untuk dilalui orang yang berjalan dengan liurnya, jadi saya berpikir terlalu sopan jika saya berjalan sambil permisi, toh, koridor itu juga jalan umum meski berdempetan dengan kursi tapi orang-orang bebas untuk lewat. Ya, semoga nggak ada lagi orang-orang seperti itu. Kalau ketemunya orang yang buang liur di pasar-pasar sih, saya masih bisa maklum ya karena pasar pun tempatnya seperti itu, tapi ini di kampus. Dan, baru kali ini saya melihat ada orang yang meludah di dalam kampus dan itu posisinya sedang duduk di depan lantai koridor. Kalaupun dia malu meludah, seharusnya lebih mendekat lagi ke bolongan jadi liurnya nggak nyiprat ke mana-mana.





Yap, segitu dulu ya cerita saya di balik foto-foto kaki ini. Memang sih fotonya kurang mencerminkan background ceritanya karena hanya ada kaki dan lantai gitu aja. Tapi, meskipun juga cerita di baliknya hanya cerita receh, paling nggak ada sedikit pesan di antara foto-foto kaki tersebut. 

Kalau kalian suka foto kaki juga apa nggak nih?

EATING WITH A MIRROR, WHY NOT?

Di android saya sudah terinstall aplikasi Flipboard saat pertama kali beli. Tadinya saya kira itu adalah situs chating atau sejenis games. Rupanya Flipboard itu adalah situs yang di dalamnya berisi banyak sekali bahan bacaan dari berbagai web orang. Sekilas seperti majalah atau koran elektronik yang memuat beragam informasi mulai tentang olahraga, pendidikan, pernikahan, relationship, desain, style dan berita-berita umum lainnya. Pagi tadi, saya kembali membuka Flipboard. Saya menemukan bacaan yang cukup menarik di sana yaitu tulisan bertajuk psikologi, membahas fenomena makan sendirian dari perspektif individu lanjut usia. 


Eating alone alias makan sendirian. Gimana menurut kalian? Apakah kalian termasuk orang yang suka melakukan segalanya sendirian termasuk juga soal makan? Atau kalian lebih suka makan bersama dengan yang lain? Salah satu penelitian menyatakan bahwa aktivitas makan itu dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Masing-masing orang mempunyai anggapan yang berbeda soal "rasa" dari makanan yang dikonsumsi. Uniknya lagi, tim peneliti dari Nagoya University menemukan fenomena perbedaan antara orang-orang yang makan sendirian dengan yang sering makan bersama orang lain/ditemani oleh orang-orang terdekatnya. Seseorang yang makan bersama orang terdekatnya semisal keluarga, kekasih atau sahabat cenderung mempersepsikan makanan yang dikonsumsi tampak lezat dan nafsu makan bertambah atau ada keinginan untuk makan lebih dan lebih banyak serta dalam porsi lebih besar. Sebaliknya, orang-orang yang makan sendirian, nafsu makan mereka cenderung menurun, mereka juga cenderung menganggap makanan yang sedang disantap tidaklah lezat sehingga aktivitas makan pun jadi terasa tidak menyenangkan.


Para peneliti dari Nagoya tersebut kemudian berinisiatif dengan melakukan sebuah eksperimen untuk menemukan sebuah solusi, bagaimana caranya agar orang yang meskipun dalam keadaan makan sendirian bisa sama menyenangkannya dengan orang yang makan ditemani orang lain. Makan ditemani orang lain ini disebut sebagai social facilitation of eating dan ini adalah gap yang ingin dipecahkan oleh peneliti tersebut

Dalam eksperimen itu, para peneliti merekrut sekelompok responden individu lanjut usia. Kenapa respondennya lansia sebab berbagai observasi dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lansia itu biasanya frekuensi eating alone-nya lebih tinggi daripada individu range usia lebih muda dari mereka. Kenapa lansia sering terlihat makan sendirian, sebab di masa-masa tua ini mereka dihadapkan pula oleh situasi kehilangan. Kehilangan orang-orang terdekat, entah itu suami atau istri atau situasi dimana mereka harus tinggal jauh dari keluarga atau mungkin sudah tidak punya keluarga. Menikmati makanan ini seperti halnya yang sudah saya jelaskan sebelumnya tadi itu merupakan faktor yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan frekuensi makan sendirian berkorelasi dengan depresi dan kehilangan nafsu makan.

Responden lansia tersebut kemudian diminta untuk makan sendirian tetapi sambil menghadap ke sebuah cermin yang diletakkan di depan mereka. Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan karena ternyata cermin bisa menjadi pengganti social facilitation tadi. Kehadiran bayangan diri sendiri di cermin sama halnya dengan kehadiran orang lain yang menemani mereka ketika makan. Sama halnya ketika para peneliti menempatkan monitor yang memuat foto dari responden tersebut, mereka (responden lansia) menyatakan bahwa aktivitas makan mereka jadi terasa menyenangkan dan keinginan untuk makan lebih banyak juga semakin meningkat. Jadi ternyata teknik self-reflecting menggunakan cermin dapat menjadi the social facilitation of eating meskipun tanpa kehadiran orang lain/orang terdekat untuk menemani seseorang tersebut makan. Self-reflection ini menyebabkan makanan akan tampak terasa lezat dan rasa ingin "nambah" jadi lebih meningkat. Begitulah sekilas penelitian dari Nagoya University yang dipublikasikan pada 2017 ini. 

Nah, menarik bukan? So, kalau kalian merasa kesepian saat harus makan sendirian dan pingin agar aktivitas makan bisa tetap menyenangkan? Coba saja makan sambil bercermin. Selamat mencoba eksperimen ini ya.

Sumber: 
en.nagoya-u.ac.id.jp/research/activities/news/2017/06/lost-your-appetite-try-inviting-yourself-to-dinner.html

OFFICIALLY M.PSI DAN REVIEW MAPRO PSIKOLOGI

Latepost banget dan baru sekarang ceritainnya. M.Psi alias Magister Psikologi Profesi. Gelar yang alhamdulillah udah saya dapatkan pada 26 April 2017 lalu (tertanggal lulus ujian tesis). Saya juga sudah wisuda pada 20 Mei 2017 lalu. Awesome? Bersyukur tapi kalau dibilang awesome nggak juga sih karena saya lulusnya 3 tahun sedangkan teman-teman lain ada yang 2 tahun dan ada pula yang 2,5 tahun. Dibilang kesal, sempat sih. Saya pun sudah banyak cerita pada postingan sebelumnya gimana cobaan yang saya dapatkan selama pengerjaan tesis. Ada masanya mengeluh, jenuh, malas, marah, sedih, senang, semua campur jadi satu. Mulai dari problem dengan dospem, harus ganti data subjek yang mana sama dengan terjun lapangan lagi, belum lagi hasil penelitian yang berbeda dari hasil sebelumnya dan sempat tidak diterima oleh dospem II dan urusan administrasi yang seharusnya mudah malah jadi diribetkan sama beberapa pihak kampus. Yap, tapi sudah sampai pada titik ini, saya patut bersyukur. Alhamdulillah sudah selesai.


Kalau masih ada yang bertanya kuliah di program magister psikologi profesi itu seperti apa? Kalian bisa scroll postingan terdahulu di Label Psychology . Di situ kalian bisa baca beberapa curhatan saya selama kuliah di mapro.

Sedikit akan saya review kembali. Bagi kalian yang berminat kuliah mapro psikologi, siapkan segalanya. Segala yang saya maksud adalah tentu saja biaya yang tidak sedikit dan tiap universitas range biaya juga beragam. Jika kalian ingin belajar untuk mengikuti tes masuk mapro, as your pleasure. Saya dulu jujur, tidak belajar sama sekali. Waktu itu, saya baru saja memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai dosen di Parepare lalu menuju ke Malang untuk kuliah lagi. Saat sudah ada di Malang, tiap pagi setiap harinya saya direpotkan dengan beragam urusan masak-memasak untuk mengganti mama yang biasa menyiapkan sarapan buat bapak. Belum lagi, rumah saya juga cukup jauh dari kampus sehingga selama tes berlangsung, saya meminta izin pada bapak untuk menginap di kos teman saya yang dekat dari kampus. Tesnya dilaksanakan pada pagi hari. Saya jelas tidak mau telat dong ya makanya sampai nginap di kos teman. Saat itu kos teman yang saya inapin lagi kosong karena dia pulang kampung dan dia juga sudah lulus mapro lebih dulu (teman kelas saya saat strata satu dulu). Jenis tesnya apa saja. Mungkin tiap universitas beda atau gimana, saya juga kurang tahu. Kalau di UMM, tes masuk mapro ya ada tes TPA (potensi akademik), tes pengetahuan seputar psikologi, tes kepribadian dan terakhir adalah tes wawancara. Waktu itu saya tesnya dari pagi sampai sore hari dan saya kedapetan urutan terakhir wawancara karena saya juga alumni UMM sebelumnya jadi saat wawancara yang ada malah ngobrol lepas sama dosen saya. Sekali lagi, saya tidak belajar, hehehe... Tapi mungkin karena sebelumnya saya juga mengajar di salah satu kampus, jadi beberapa materi umum alhamdulillah masih saya ingat tapi entah bagus atau tidak sih hasil tesnya waktu itu, saya juga tidak tahu :D...

Oh ya, di UMM itu untuk mapronya konsentrasi hanya klinis ya. Jadi, yang nanya apakah PIO atau perkembangan ada di UMM, saya tidak jawab ya hehe karena memang hanya fokus konsentrasi klinis. Konsentrasi lainnya bisa kalian dapatkan di kampus lain, semisal untuk mapro PIO kalian bisa kuliah di Unair dan sebagainya. Rajin-rajin browsing aja. Banyak kok mahasiswa mapro yang juga punya blog dan ceritain kisah-kisah mereka.

Kemudian siapkan fisik dan mental sebab bebannya lebih berat daripada waktu kuliah S1 Psikologi. Kenapa saya bilang bebannya berat? Pertama, jadwal kuliah yang padat mulai dari hari Senin sampai Jumat, dari pagi hingga sore. Matrikulasinya pun biasanya dilangsungkan pada hari Sabtu dan Minggu. Matrikulasi ini akan kalian jalani pada saat pertama kali setelah dinyatakan lulus tes masuk. Matrikulasi ngapain aja? Selama marikulasi, kita belajar bahasa inggris, terus.... dikasih kuliah tamu juga plus psikodiagnostik yang isinya alat tes untuk mapro ya (kalo sains tidak ada psikodiagnostik), hampir semua alat tes yang familiar dipelajari dimulai dari bagaimana cara mengadministrasikannya pada klien, skoring sampai cara menginterpretasi. Gampang kah? Unnnch...unnnch...hahaha kalau saya pribadi, mudah kok, yang sulit itu adalah sesi saat belajar tes Rorscach dan Wartegg, Sulitnya terletak pada skoringnya dan untuk pengadministrasian untuk asesmen klien juga sangat jarang ada yang pakai tes Ro dan Wartegg tapi especially Tes Ro punya kelebihan tersendiri karena cukup dalam satu alat tes ini kita bisa mendapatkan banyak informasi dari klien mulai dari inteligensinya, status mentalnya apakah ada kerentanan abnormalitas, kepribadiannya, gimana dia bersosialisasi dengan lingkungan dan sebagainya. Cuman yang bikin males ya skoringnya itu, karena gak mudah. Walaupun sudah dapat buku manual skoringnya dari kampus, tapi saya pribadi, masih belum berani untuk memberikannya sebagai instrumen asesmen bagi klien kecuali memang diwajibkan untuk memenuhi tugas kuliah yang saat itu disuruh nyari klien dan ngadministrasikan tes Ro itu sih.

Setelah matrikulasi selesai, perkuliahan pun dimulai. Senin sampai Jumat masuk kelas, mendengarkan ceramah dari para dosen. Kalau pengalaman saya di UMM, hanya selama dua semester (semester satu dan dua) kita duduk di kelasnya lebih banyak, selebihnya masih tetap turun lapangan mencari klien dan semester tiga dan empat mulai Praktik Kerja Profesi Psikologi (PKPP).

PKPP ngapain aja? Ini beda dengan Kuliah Kerja Nyata atau PKL ya. PKPP dilaksanakan sebanyak tiga putaran di tiga tempat berbeda. Tempat tersebut antara lain Sekolah SLB atau Lapas, RSJ, dan terakhir Puskesmas. Ngapain aja di tiga tempat itu? Ya praktik dong ya, berhadapan langsung dengan pekerjaan. Pekerjaannya adalah nanganin klien. Jadi, selama PKPP, kami diwajibkan mencari 7 kasus yang nantinya akan dilaporkan secara resmi dalam ujian HIMPSI. Saat praktik berlangsung, pastinya bukan hanya 7 kasus saja yang kita peroleh, melainkan sangat banyak kasus dan diharapkan tetap ditangani semua satu persatu meski ada kasus yang tidak diangkat sebagai 7 laporan kasus. Kasus apa saja yang dicari? Kasus gangguan anak, kasus gangguan dewasa, kasus keluarga, kasus kelompok, kasus komunitas, problem individu anak dan problem individu dewasa. Bedanya kasus gangguan dan problem, yang jelas problem itu bukan kasus gangguan (haha ya iyalah), problem itu ya kasus yang terkait dengan masalah-masalah psikologis tetapi belum masuk dalam taraf gangguan/disorder. Paham kan maksud saya? Ya, pasti paham lah ya. Jadi 7 kasus itu dicari di tiga tempat yang sudah saya sebutkan tadi.

Setelah PKPP, kemudian baru masuk Tesis. Sebenarnya selama PKPP berlangsung, bagi yang sudah ada judul dan konsep yang mantap untuk tesis malah lebih bagus jika bisa dijalankan keduanya. Tapi, bagi yang sanggup sih. Sebab, saya ngerti kok gimana rasanya memikirkan dan mengerjakan tujuh laporan kasus apalagi kalau mau ujian HIMPSI dan dituntut untuk revisi ketujuh-tujuhnya. HUooow... itu saja sudah menyita banyak waktu, kan. Kalau ada yang bilang, aah... itu mah biasa, ah.. itu mah gampil. Ya, silakan saja deh ya dirasakan sendiri. Make sure, jangan goyah selama pertarungan deh ya karena pas masuk PKPP sampai tesis itu, godaannya makin kencang. Godaan apa? Rasa malas, jenuh, lelah, sakit-sakitan dan lainnya. Jadi, kuatkanlah raga dan hati.

Setelah tesis kelar, wisuda deh. Setelah wisuda, menunggu jadwal untuk sumpah profesi yang mana dalam sumpah tersebut, kita dinobatkan secara resmi dengan sebutan Psikolog di belakang gelar M.Psi, dan dari sumpah tersebut, kita akan mendapatkan sertifikat sebutan psikolog serta SIPP (Surat Izin Praktik Psikologi). Jadi, bagi yang mau buka biro, buka klinik, praktik pribadi di rumah atau kerja di manapun bisa karena sudah ada SIPP dan sertifikat tersebut sebagai keabsahannya.

Yak, sekian ya review saya mengenai kuliah mapro psikologi semoga bisa membantu.

NB: Doain ya supaya buku baru saya bisa kelar saya kerjakan. Masih sangat molor karena butuh mood bagus untuk ngerjain. InshaAllah bukunya bisa bermanfaat bagi teman-teman yang masih bingung dan mau nanya-nanya terkait kuliah di jurusan psikologi. 

GANGGUAN TIC, APAKAH ITU?

Gangguan Tic--Image by Paresma

Kalian pernah gak sih lihat orang yang sering mengedipkan matanya berkali-kali? Atau apakah kalian pernah melihat seseorang yang menggerakkan bagian tubuhnya secara berulang hingga tak terkendali? Jika iya, waspada sejenak, bisa saja orang tersebut mengalami gangguan Tic.


Bagi kalian yang sudah pernah membaca mengenai gangguan tersebut lalu bertanya, apakah gangguan Tic itu sama dengan Sindrom Tourette? Saya pernah share tentang ini di Instagram saya April 2017 lalu. Di sini, saya akan menuliskannya kembali. Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita ketahui dulu, apa sih yang dimaksud dengan gangguan Tic? Mungkin kalian akan dengan mudah meng-googling tentang gangguan tersebut dan setelah saya browsing di beberapa situs juga banyak yang mengulas sampai menuliskan kriteria diagnostiknya. Di sini, saya akan membahasnya secara singkat dan semoga bisa dipahami ya.

Gangguan Tic itu adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai dengan gerakan sekelompok otot yang muncul tanpa disadari, kompulsif, tidak bertujuan, dadakan, dan terjadi terus-menerus baik dalam waktu singkat maupun lama. Tic juga dapat terjadi karena meniru gerakan/suara orang lain dan baru akan mereda ketika tidur.

Kalau tadi ada pertanyaan, apakah gangguan Tic ini sama dengan Tourette? Jawabannya adalah, gangguan Tic yang tidak ditangani dengan baik maka akan berkembang menjadi sindrom Tourette. Tidak hanya itu, gangguan Tic yang sudah parah hingga sudah masuk dalam stadium sindrom Tourette bisa saja muncul disertai gangguan lainnya atau bahasa ilmiahnya memiliki komorbiditas dengan gangguan mental lain diantaranya Obsessive Compulsive Disorder, ADHD, dan dalam tingkat derajat kronis, Tic bisa muncul disertai Conduct Disorder (bahasa awamnya gangguan perilaku kekerasan) sampai pada Self-Injury Behavior (Perilaku melukai/menyakiti diri sendiri). Serem amat yak?

Pada usia berapa sih gangguan Tic bisa diidentifikasi? Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoder atau DSM atau kitab sakti gangguan mental, Tic ini dapat terjadi pada usia onset 18 tahun.

Jenis-jenis gangguan Tic itu seperti apa sih?
Secara garis besar, Tic itu terdiri dari 2 jenis yaitu tic motorik (berupa gerakan di bagian tubuh) dan tic vokal (berupa suara) dan derajat keparahannya mulai dari ringan (mild) hingga sangat berat (severe). Gangguan Tic ini bisa terjadi selama satu tahun atau kurang dari satu tahun. Gangguan Tic ini beda tipis dengan gerakan yang kerap dilakukan oleh kebanyakan orang namun punya kemiripan dengan gerakan seperti mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tangan atau kaki tanpa tujuan dan terjadi secara berulang (bukan kejang). Namun, yang pasti, gerakan-gerakan yang terjadi pada gangguan Tic ini seringkali disertai dengan kecemasan berlebih sehingga gerakan tersebut akan semakin sulit untuk dikendalikan dan akan terus terjadi dan entah ini berita baik atau buruk, gerakan ini baru akan berhenti saat tertidur.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya gangguan Tic?
Tic bisa terjadi karena berbagai faktor antara lain:
  1. Aktivitas sistem syaraf pusat yang abnormal
  2. Ada masalah selama periode kehamilan, contohnya merokok, stress, obesitas dan konsumsi kafein selama kehamilan
  3. Buruknya kesehatan anak ketika lahir
  4. Stres sehari-hari pada anak yang terus berulang atau emosi kegembiraan yang ekstrem
  5. Modeling yang salah dari lingkungan
  6. Adanya disfungsi dalam keluarga (contohnya konflik pada orangtua, perceraian yang tidak berjalan baik pada orangtua atau ada trouble lain yang terjadi antar anggota keluarga di rumah)
  7. Trauma yang terjadi di sekolah pada anak-anak yang kemudian mempengaruhi cara dia dalam mengekspresikan dirinya.
Orang dengan gangguan Tic dan sindrom Tourette ini memerlukan penanganan yang serius. Penanganan yang diperlukan mulai dari terapi biomedis atau dengan obat-obatan (obat yang biasa diberikan oleh psikiater adalah sejenis pimozide atau huvoxamine, dan masih banyak lagi jenisnya). Selain biomedis, penanganan berupa psikoterapi juga diperlukan diantaranya pemberian Habits Revearsal Training untuk melatih agar bisa mengontrol atau mengurangi gerakan yang dilakukan, maupun langkah preventif sedini mungkin seperti penatalaksanaan Intervensi Psikoedukasi Keluarga mengenai gangguan Tic serta Intervensi akademik dan okupasi bagi anak dengan gangguan Tic yang bersekolah.

Agar lebih jelas lagi mengetahui tentang gangguan Tic ini, kalian bisa browsing video di Youtube, ketikkan kata kunci Tic atau Tourette, maka kalian akan menemukan cukup banyak video tentang topik ini. Saya pun pernah menonton salah satu video di Youtube tentang kisah nyata seorang anak (yang sekarang sudah berusia dewasa) yang berusaha mati-matian menyembuhkan gangguan Tic ini bersama kedua orangtuanya. Anak tersebut bahkan teramat sulit mengendalikan gerakan-gerakan yang muncul hingga rumahnya tampak seperti "kapal pecah" akibat gerakan yang dilakukan dan tentu saja hal itu di luar kontrolnya. Sampai akhirnya, mereka satu keluarga bertemu dan berkonsultasi dengan salah satu psikolog dan gangguan Ticnya berangsur-angsur tertangani.

Yap, sekian dari saya ^_^ Happy fasting

NANO-NANO UJIAN TESIS

"As the facts change, change your thesis. Don't be a stubborn mule, or you'll get killed."
-Barry Sternlicht-


Dua puluh enam April 2017, saya resmi menyandang gelar M.Psi, Psikolog., di belakang nama. Sama seperti tahun 2012 lalu, ujian skripsi berlangsung di bulan April dan sekarang tesis pun demikian, di bulan April juga.

Saya benar-benar cengeng. Setelah ujian selesai dan menunggu pengumuman sampai dipanggil masuk kembali ke dalam ruang ujian, saya menangis di depan dosen pembimbing dan penguji. Kenapa saya menangis? Beginilah ceritanya...

Selasa sore saat baru bangun tidur, handphone jadul saya berdering. Salah satu petugas Tata Usaha Pasca menelepon untuk memberitahukan bahwa besok yaitu hari Rabu pagi jam 08.00. Malam harinya saya belajar membaca kembali tesis yang sudah saya tulis. Keesokan harinya, saya berangkat dari rumah pukul 06.40. Kenapa pagi sekali? Karena rumah saya jauh dari kampus. Sebagai seorang pengendara yang nggak berani ngebut di jalan, saya harus menempuh waktu sekitar kurang lebih 30-40 menit untuk tiba di kampus. Rumah saya di Sawojajar dan kampus saya, UMM terletak di Jalan Tlogomas yang sedikit lagi menuju kota Batu (tapi bukan di Batu ya).

Saya langsung masuk ke ruang Workshop yang ada di dalam ruang Tata Usaha. Saya kemudian menyiapkan laptop dan menyalakan LCD Proyektor. Saya duduk sambil membaca bahan presentasi saya agar tidak gugup nantinya. Pagi itu entah kenapa saya tidak merasa panik ataupun gundah gulana. Saya tampak begitu santai, tidak ada deg-degan sama sekali.

Dosen-dosen pembimbing sudah datang, disusul oleh salah satu dosen penguji. Jam sudah menunjukkan pukul 07.53 namun satu dosen penguji lainnya belum juga datang. Salah satu pembimbing saya menelepon ibu penguji itu dan ternyata si penguji itu lupa, dikiranya ujian berlangsung pukul 08.30 padahal harusnya pukul 08.00. Molor lah sekitar 15-20 menit baru pembimbing membuka ujian.

Saya diminta untuk berdoa lalu mempresentasikan hasil penelitian selama 15 menit namun saya rasa tidak sampai 15 menit juga kok saya presentasi. Alhamdulillah lancar, apa yang saya sampaikan menurut saya cukup bisa dipahami.

Setelah itu lanjut pada sesi pengujian. Dosen penguji pertama (si ibu dosen yang telat datang tadi) memberikan banyak sekali pertanyaan. Ya, namanya juga diuji gitu ya. Namun, saya sempat kesal karena beliau bertanya bertubi-tubi sebelum saya benar-benar menuntaskan jawaban dari satu pertanyaan. Beliau juga tidak menampakkan raut senyum, wajahnya benar-benar kaku. Ya, kami semua tahu background beliau yang cukup menyita perhatian jadi wajar saja bila beliau tidak memiliki sifat keibuan. Akhirnya, saya sempat down dan lelah menjawabnya, lebih banyak diam dan mengiyakan. Apa saja yang ditanyakan. Ya mulai dari teori, konteks, konsep dan definisi dari variabel, alat ukur, metode, sampai penulisan kalimat. Yaa semuanya dari awal sampai akhir lembar tesis ditanyakan. 

Lalu dosen penguji kedua (laki-laki), beliau cukup humoris sehingga saya terhibur dan perasaan down saya luntur pelan-pelan. Saya mendapat banyak masukan dan perbaikan dari penguji kedua. Sungguh kontras dengan penguji pertama, yang hanya bertanya namun tidak memberi pelurusan atas jawaban saya, apakah sudah tepat atau perlu dibenahi.

Ada satu hal yang saya sesali dan itu hanya masalah teknis dari tesis ini. Saya pun dinyatakan tidak mengulang a.k.a lulus ujian namun dengan catatan revisi yang cukup banyak. Sempat berharap dan yakin bisa dapat nilai A, namun harapan itu tampaknya luruh seketika setelah saya menangis pada saat pengumuman.

Saya menangis karena pertama, saya terharu dan memang kebiasaan saya setiap sedang ada sesuatu, pasti akan menangis terlepas dari apakah itu sedih atau senang tapi bukan masalah sedih atau senang. Air mata saya memang cukup mudah keluar, itulah kenapa saya mudah nangis. Teman-teman saya pun tahu dan sudah mengerti dengan kondisi saya yang seperti itu. Kedua, saya menangis karena merasa tampaknya saya gagal mendapatkan nilai A dengan kesalahan teknis di akhir yang bagi saya ya kenapa tidak saya cek sebelum pengumpulan dan seharusnya saya tidak patuh dengan aturan format itu.

Saat menangis, dosen pembimbing bertanya bagaimana perasaan saya selama tesis ini. Saya sebenarnya ingin bercerita panjang namun saya juga malu bila harus curhat di depan dosen. Saya hanya mengatakan apa yang pertama kali tersirat di pikiran yaitu saya cukup senang dan lega karena sudah menyelesaikan tesis tersebut walaupun hasilnya ternyata tidak sesuai dengan teori sebelumnya namun hal itu bisa jadi bahan pembelajaran bagi penelitian selanjutnya bila ada yang ingin meneliti tentang apa yang sudah saya angkat.

Dan, setelah teman saya pun selesai ujian, siangnya, ada satu teman geng saya yang datang membawakan bunga. Itu kali pertama saya mendapatkan bunga mawar setelah ujian dan diberi selamat langsung pasca ujian. Kami bertiga pun berfoto untuk kenang-kenangan lalu pulang setelahnya ke rumah masing-masing (tidak sempat makan siang bareng karena teman geng saya harus pulang sebab ada anak dan suami yang harus dia urus).

Begitulah cerita pas saya ujian tesis. Saat ini sisa menunggu wisuda kemudian menunggu jadwal sumpah profesi berikutnya untuk mendapatkan Surat Izin Praktik Psikologi. Yap, I'm officially being a psychologist.

NGOMONG SENDIRI, PERLU GAK SIH

"Self-talk reflects your innermost feelings" 
-Asa Don Brown-


Apakah berbicara pada diri sendiri selalu dicap abnormal? Tentu tidak. Berbicara pada diri sendiri atau yang dalam bahasa Inggris disebut self-talk ini memiliki beberapa manfaat. Berbicara sendiri yang dilakukan oleh orang dengan gangguan psikotik dan self-talk yang saya maksud itu berbeda ya.


Menurut Professor Psikologi, Gary Lupyan dari Universitas Wisconsin, self-talk bukanlah perilaku abnormal. Seorang psikolog di bidang pertanian yaitu Anne Wilson Schaef dan psikolog dari Universitas Michigan yaitu Ethan Kross menambahkan bahwa berbicara pada diri sendiri atau self-talk yang semisal dilakukan oleh seseorang di depan cermin, bisa memberikan manfaat. Manfaat tersebut antara lain membantu seseorang menguatkan memorinya mengenai hal yang dibicarakan. Kok bisa? Saya yakin kita semua pernah melakukannya, sadar atau tidak. Seperti saat hendak berdiri di panggung untuk melakukan sebuah pidato, sebagian orang ada yang memilih untuk menghapalkan naskah pidatonya dengan cara self-talk, berdiri di depan cermin kemudian melihat apa yang telah ditulisnya di kertas lalu menghapalkannya sedikit demi sedikit. Teknik seperti ini cukup membantunya untuk memahami serta mengingat apa saja poin-poin penting atau isi yang ingin disampaikan melalui pidatonya. 

Self-talk ini membuat kita bisa mengorganisir dan memfilter mana hal-hal yang prioritas, mana yang penting namun bisa ditunda dan mana yang benar-benar tidak penting. Melalui self-talk, kita bisa memahami dan menguasai diri sendiri. Ketika kita baru saja mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, pasti akan berpikir bagaimana cara untuk menghindari agar tidak gagal/salah kedua kalinya, menerima dan mengakui kesalahan itu dengan jujur, memaafkan diri, membuat planning dan memberi motivasi untuk teguh mewujudkan planning tersebut ke dalam perbuatan nyata bahkan menciptakan produk kreatif yang mungkin bisa memberi manfaat bagi orang lain juga. Kita pun bisa menemukan hal mengejutkan terjadi pada diri kita apabila konsisten dan commit melakukan berbagai perbaikan diri dan itu semua bermula hanya dari self-talk.

Manfaat lainnya adalah menenangkan seseorang sehingga dapat mengontrol emosinya ketika akan atau tengah menghadapi bahaya. Nah, ini biasanya yang paling sering terjadi. Saat kita dalam keadaan under pressure atau sedang dalam situasi tertekan, cemas berlebihan maka tidak jarang akan keluar kalimat-kalimat tertentu dari bibir kita. Ada yang bersumpah serapah sampai mulutnya penuh dengan kebun binatang dan ada pula yang memilih kalimat-kalimat positif seperti, "sabar", "kuat, "aku pasti bisa", "semangat" dan sebagainya. Iya, nggak? Kalimat-kalimat positif dalam self-talk yang kita lakukan ini bisa memantik rasa percaya diri seseorang sehingga mampu menghadapi situasi tekanan tersebut.

Self-talk ini juga merupakan salah satu teknik dari psikoterapi dengan pendekatan perilaku atau behaviorisme dan ini sering digunakan oleh para ahli ataupun psikolog kepada kliennya. 

Self-talk bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak harus menunggu ada situasi penuh tekanan dulu kok. Setiap malam sebelum tidur, saya pribadi pun sangat sering melakukan self-talk. Bukan karena mentang-mentang saya tidur di kamar sendiri tapi saya memang orang yang cukup sering berbicara pada diri sendiri sebagai sebuah bagian dari proses introspeksi, refleksi, atau kontemplasi atas kesalahan, kegagalan, keberhasilan dan apapun yang terjadi pada hari itu. Ya, pikir saya, tidak perlu menunggu orang lain untuk memberi pujian atau menyemangati diri kita. Kitalah yang sangat paham terhadap diri kita dan kita pulalah yang terlebih dahulu harus menyemangati diri sendiri.

Sudahkah kita self-talk?

CERITA SEMHAS TESIS (PSIKOLOGI PROFESI S2)

"I agree that exam has its own pressure, but not in my dictionary. In my dictionary, no exam no pressure there is only one word and that is happiness." 
-M. Rishad Sakhi-


Ini late post banget. Semhasnya udah dari kapan tapi baru sharing sekarang. Tapi, izinkanlah saya untuk mengisi kekosongan blog ini lah ya setelah sekian lama. Saya tahu di sini banyak silent reader yang juga suka baca seputar kehidupan per-kampus-an saya. Mumpung saya masih berstatus sebagai mahasiswi (yang sebentar lagi bakal out karena selesai) jadi gak papalah di detik-detik terakhir begini saya mulai cerita-cerita lagi.



Semhas alias seminar hasil. Kalau dulu zaman saya S1 nggak ada yang namanya semhas-semhasan. Setelah seminar proposal, langsung sidang skripsi. Tapi karena peraturan perkampusan semakin memperbaharui diri jadilah ada chapter yang namanya semhas.

Gimana semhas kemarin? Hahaha kalau aja ada opsi jawaban yang lebih baik maka kayaknya nggak ditanya pun juga nggak papa. Tapi, ini perlu ditanyakan sebab dari jawaban yang akan saya lampiaskan di sini, agaknya bakal jadi kisah yag sedikit ngenes.

Yap, saya berdua dengan teman saya ibarat ekor yang tertinggal. Banyak yang udah pada ujian dan wisuda, tapi karena kami berdua pergerakannya lamban disebabkan satu dan lain hal hasilnya ketinggalan untuk ujian.

Ngurus semhas pun sempat maju mundur karena pada hari dimana teman-teman pada ujian, saya dan teman saya tersebut masih harus ngejar dosen buat bimbingan dan memastikan layakkah kita nyusul nyelempit di sela-sela ujian bareng teman-teman lain. And finally, bagi yang ngikutin cerita saya, pasti udah tahu jawabannya kalau dosen pembimbing 2 sempat nggak ngasih lampu hijau buat ikut ujian. Keluar dari ruang bimbingan pun saya pakai adegan menangis segala ditambah pelukan salah seorang teman geng yang bikin air mata saya makin meleleh karena sensitif. Flashback ke hari-hari itu bikin saya ketawa sekaligus nyeletuk sendiri, ih kok saya segitu banget ya, ih nggak banget deh saya cengeng kayak gitu. Bahkan saya pun sempat posting hal-hal yang mellow di Instagram seolah kejatuhan bencana. Hahah lebay, tapi sudahlah, masa-masa itu udah lewat.

Saya masih ingat, gimana rempongnya saya mengejar untuk tanda tangan semhas dosen pembimbing 2. Saat itu saya lagi ditinggal sendirian di rumah karena semua orang rumah pada ke Madiun buat acara 100 harinya simbah kakung. Teman saya juga nginap di rumah saya buat nemenin dan kami pagi-pagi sudah go to kampus buat ngejar pembimbing 2. Pagi itu sampai pusing, nungguin di GKB lantai 5, belum juga ada tanda-tanda beliau datang. Nggak tahunya dapat sms kalau ibunya ada di Puskesmas lagi ngantri dan saya disuruh cabut nyusul ke situ. Eh, nggak sampai dua menit, ternyata pas saya baru turun dari mobil teman saya, ibunya udah cabut. Saya pikir balik ke kampus, udah ditungguin nggak tahunya baru balas WA kalau beliau pulang ke rumah dan diminta ke rumahnya.

Dengan jantung dag dig dug seeer, saya sampai menyuguhkan naskah saya dan menawarkan apakah beliau ingin baca dulu. Tapi sungguh sangat tidak mengenakkan jawaban ketika beliau bilang, "Nggak usah nanti aja pas ujian." Padahal ini kan baru mau semhas dan belum ujian. Entah ini hati jadi trenyuh atau cekit-cekit, rasanya satu sisi lega karena dapat tanda-tangan buat buku merahnya tapi di sisi lain mendengar ucapan beliau seolah masih menandakan ketidakrelaannya memberi izin buat semhas.

Sebelum itu lebih heboh lagi ceritanya. Jadi, saya ke kampus itu bener-bener nggak niat ngampus karena cuman buat nemenin teman saya si ibuk (yang sekarang udah lulus duluan). Saya ke kampus cuman bawa tas kecil ditambah pakai sandal jepit. Iya sandal jepit meeeeen... sandal yang bener-bener jepit. Jangan ditiru ya, bener dah jangan ditiru. Lalu, saya ketemu dengan teman saya itu yang sebimbingan dengan saya. Dia emang dasarnya udah niat banget buat maju sedangkan saya sempat babibu mundur karena sebelumnya melihat respon pembimbing 2 yang aduhai bikin jantung mau copot dan nangis darah. Tidak lama pas teman saya sudah menghadap dosen pembimbing 1, tetiba pas dia keluar, teman saya itu bilang kalau saya dicariin oleh pembimbing 1. Ibunya bahkan ujug-ujug sempat nengok dan nyamperin pembimbing 2 dan minta agar kami berdua segera semhas, tapi posisinya di saat itu pembimbing 2 ogah ngasih persetujuan karena alasannya sibuk untuk ngeladenin ujian-ujian mahasiswa lain yang memang lebih didahulukan.

Saya duduk-duduk di balkon lantai lima sambil nemenin si ibuk buat ketemu sama dospemnya buat minta salinan spss. Eh, tak berapa lama, dospem 1 saya keluar dan nyamperin saya, "Kamu sudah siap semhas nggak?" Dengan berat sekaligus senang sekaligus sedih juga saya menjawab dengan agak nggak niat, "Siap, Buk." Bu dospem tersebut cuman ketawa senyumin saya tapi mungkin juga sekaligus senyumnya itu buat memotivasi agar saya bisa maju lagi dan nggak nyerah cuman gegara dospem 2. Benar lah adanya, akhirnya sampai ngebut kelarin naskah buat ikut semhas.

Dan... entah malam ke berapa saya masih sendiri di rumah. Belum lagi harus beli kue buat dosen dan para undangan. Soalnya syaratnya harus ada tamu/mahasiswa minimal 5 orang yang ikut nimbrung buat ngehadirin semhas kami. Alamat di hari sebelumnya kami memang sudah mengundang beberapa teman untuk hadir meski gak semua. Tapi, apa yang terjadi pas hari H? Mereka yang notabene lebih banyak merupakan anak bimbingan dosen lain yaitu Pak La, tiba-tiba di jam yang sama dengan jam semhas kami mereka bimbingan di Kampus 1. Alhasil, siapakah yang datang??? Hanya si tante teman saya yang datang. Selebihnya, pagi-pagi itu saya dan teman saya harus nyari tambahan personil. Kami berdua kelilingin GKB nanya apakah ada yang bersedia ikut. Nyatanya kami ditolak. Tapi, kami nggak nyerah. Kami pun mencar. Saya turun ke GKB lantai 3,5 dan mendapatkan dua orang mas-mas yang lagi santai duduk sambil main hape. Saya tawarkan apakah mereka sudi kiranya dan alhamdulillah bersedia. Malah mas yang satunya baik banget mau manggilin satu temannya lagi walau akhirnya nggak bisa datang temannya. Dan jumlah audiensnya berapa??? Lima orang. Ya ngepas banget yak lima biji sesuai standar minimal. Duh miris-miris.

Tapi meskipun demikian, ada sebuah keajaiban yang terjadi (menurut saya aja sih). Dospem 2 nggak turut hadir karena sakit sehingga yang datang hanya dospem 1 kami. Eh..eh.. ini bukan keajaiban tapi kemirisan, hehehe...

Keajaiban yang saya maksud adalah, saya jadi mikir dan merasa-rasa, kok saya bisa lancar ya ngejelasinnya, to the point ngomongnya, dan nggak njelimet mutar bolak-balik kayak biasanya. Padahal, seperti yang sudah pernah saya posting waktu dulu kalau saya ini cukup kurang di komunikasi lisan, I mean berantakan banget ketimbang saya nulis, masih lebih baik tulisan saya dibaca daripada kalau dengerin saya ngomong. Mungkin karena berkat draft yang saya tulis di memo note sebelumnya kali ya jadi saya hapalin dan akhirnya saya lumayan lancar dan lugas ngejelasinnya. Alhamdulillah teman-teman audiens yang memang mereka berempat itu adalah dari fakultas non psikologi jadi lebih mudah paham maksud penjelesan saya.

Hasil semhasnya gimana? Inilah bagian yang awalnya tidak saya duga bisa seperti itu. Ibarat kata nih harus turun lapangan lagi karena kriteria usia yang saya gunakan agak melenceng dan dospem 1 saya pun juga bilang ini kecolongan nggak diperiksa lagi saya beliau juga apakah layak atau nggak pakai kriteria dinkes itu. Akhirnya, tidak mengapa karena saya punya banyak isian kuesioner jadi nggak masalah walau harus revisi jor-joran.

Semhas itu adalah semi-semi sidang akhir. Sebenarnya selama ini kerap ditambahin embel-embel menakutkan bin menegangkan. Tapi, sebenarnya nggak bakal ada sesuatu yang menakutkan kok kalau kita bisa me-nyantai-kan dan merilekskan diri di hari sebelumnya ditambah persiapan yang baik dan lengkap, momok ujian atau sidang yang nakutin insha Allah nggak bakal ada kok.

Saya sempat sedikit desperate sebab hasil penelitian saya jauh di luar dugaan. Yang biasanya di penelitian lain untuk korelasi x dan y nya itu positif mulu ya, tapi di penelitian saya jadi negatif hanya saja setelah ada peran moderator, maka moderasinya jadi positif sesuai dengan perkiraan.

Membutuhkan waktu lama bagi saya untuk bisa menghadap bimbingan kembali karena nyari jurnal pendukung x ke y yang agak susah. Awalnya saya dapat korelasi yang kebalikannya, namun syukurlah ada penelitian yang menjelaskan kenapa akhirnya korelasinya tersebut bisa saja bernilai negatif signifikan karena faktor di lingkungan pun juga nggak bisa kita kendalikan kan. Apalagi penelitian tentang lansia, jangan harap bakalan sama plek hasilnya dengan penelitian di Barat karena kondisi lansia tipe tanah air ini unik-unik jadi hasilnya pun bisa jauh berbeda dari hipotesis.

Well, menurut saya juga menurut dosen pembimbing 1 saya nggak ada yang disalahkan sebab penelitian itu memang sejatinya nggak mesti selamanya sesuai dengan hipotesis karena satu dan lain faktor yang sometimes memang nggak bisa kita kontrol.

Apapun itu, baik itu semhas atau sidang, nggak ada yang perlu ditakutkan. Kedua hal tersebut adalah sama-sama wadah untuk proses belajar, belajar ngomong, belajar presentasi, belajar menyampaikan hasil dari penelitian yang sudah dilakukan, belajar buat jawabin pertanyaan penguji dan belajar belajar lainnya, heheh

Btw, doain saya yah, inshaAllah sisa minta acc tanda tangan buat buku merah dan daftar buat ujian aja. Semoga maksimal minggu ini atau minggu depan udah ujian jadi bisa lebih cepat kelar urusan perkampusannya.

Ini sekarang lagi bingung mo bikin poster karena teman-teman kalau ujian kudu pakai poster. Ribet juga sih ya. Omaygat, saya aja nanya sama pangeran kodok, cuman nanya poin-poin yang dimasukkan buat di poster apa aja nggak dijawab, ya ampuuun cuman dibilangin sama dia buat usaha dulu. Omaygat, beginilah ya kalau punya pangeran kodok yang kelewat nggemesin, disuruh mandiri, nanya pun kadang nggak mau dijawab. Ya ya, saya ngerti kok karena dia itu selalu ngingetin buat usaha sendiri dulu, bikin sendiri nggak usah banyak nanya, begitulah prinsipnya dia. Nggak papa juga sih karena memang dia itu walau kebangetan tapi sebenernya mau saya bisa lebih mandiri dan langsung bertindak cepat daripada kebanyakan nanya.

Oke fix.
Ini cerita saya pas semhas/seminar hasil. Gimana dengan kamu? Semoga menyenangkan ya hehehe ^_^

FINALLY, HATINYA LULUH

"In three words, I can sum up everything I've learned about life: It Goes On." 
 -Robert Frost-


Alhamdulillah 'ala kulli haal... Di pagi yang cerah ini izinkan saya untuk menulis sesuatu yang mencerahkan pula.


Kalau kalian rajin mantengin cerita saya soal perkuliahan pasti bisa mengendus hal apa yang akan saya tulis. Yaaaappp... saya sangat excited. Jumat kemarin, dengan langkah terhuyung-huyung dan mata yang tampak berkunang-kunang nyaris pingsan karena masih belum sembuh dari thypus, saya sudah menghadap ke pembimbing dua. Alhamdulillah tidak banyak pertanyaan yang diajukan dan semua sudah fix. Hari ini seharusnya saya ke kampus untuk bayar sidang tesis dan minta tanda tangan, but lemme to take a few rest sehari saja.

Saya sangat lelah karena hari Minggu kemarin menghadiri acara mantenan tante saya (adek bungsu bapak) dan ditambah kepala saya masih pusing entah kenapa plus juga jerawatan muncul membludak di pipi dan dahi saya (dan saya pun sedikit malu karena pas vcall sama pangeran kodok semalam, saya diledekin jerawatan...jerawatan... sama dia).

Allah Maha Baik. Pas saya bimbingan Jumat tempo hari udah sambil gemetaran dan keringat dingin karena masih efek dari sakit juga. Saya pikir bakal dicecar habis karena lama gak ketemu beliau. Eh, akhirnya hati beliau luluh juga seluluh dia bertanya pada saya, "Kamu sakit ta?" Hahah saya waktu bimbingan udah kedip-kedipin mata berkali-kali bukan buat menggoda tapi karena pandangan mata saya tiba-tiba menggelap dan rasanya seperti berkunang-kunang.

Selesai lah ya perkara dosen pembimbing 2. Yang lebih romantisnya lagi, Dosen pembimbing 1 so sweet banget sampai nanyain kabar saya dan satu teman yang memang kami berdua udah lama sekali bimbingannya tapi katut gak ikut wisuda Februari kemarin. Dospem tersebut sampai nyariin kita seharusnya kita sudah ujian minggu lalu atau minggu ini. Sampai-sampai beliau nanyain kita ke mahasiswa sains (memang anak sains kenal sama saya? hahah kalau si Mbak Din mungkin mereka kenal, lah kalau Bu Diah nanyain saya ya mana ngerti mereka yang mana orangnya).

Insha Allah bismillah sebentar lagi bakal ujian. Saya udah rela serela-relanya bakal dibantai atau nggaknya pas ujian nanti karena saya udah ngerjain semaksimal mungkin namun memang hasilnya agak berbeda dari penelitian-penelitian yang sebelumnya dan itu karena kondisi di Indonesia berbeda jauh dari cerminan penduduk di Western apalagi lansianya. 

Saya hanya berharap semoga hasil penelitian saya ini setidaknya bisa sedikit memberikan manfaat lah ya bagi lansia-lansia di Indonesia khususnya di kota Malang ini, hehehe. Yah, habis ini mulai memikirkan mau ke mana setelah sumpah nanti? Tadinya keukeuh pengen kerja di rumah sakit, tapi kok kata pangeran kodok, ada yang kerja di rumah sakit, gajinya kecil banget ya. Hmm... selain soal pekerjaan, saya pun harus segera menyelesaikan draft buku baru. Semoga bukunya bisa lolos sensor untuk terbit jadi tahun depan saya punya karya baru lagi. Dan, satu hal lagi, tampaknya saya agak kalah gerak karena beberapa waktu lalu saya menemukan ada sebuah novel baru yang diterbitkan oleh penerbit tempat saya nulis juga dan di novel itu pakai setting Austria... Ckckck... padahal saya juga pengen banget bisa nulis novel lagi dan latarnya pakai negara Austria. Ayo dah, pelan-pelan, satu-satu dulu dikerjain, bismillah semoga nanti ada kesempatan bisa nerbitin novel lagi.

Saya juga ngerasa sepi banget kayaknya pembaca ni gegara saya kelamaan vakum dan itu juga sampai kerasa di pendapatan saya hahaha... Iya lah, habisnya bingung juga sih ya kalau pemasukan dari hasil menulis kosong bolong ploong, terus apa yang mau dilaporkan pas SPT Tahunan. Nah loh. Makanya kudu semangat. Nggak boleh kalah sama pangeran kodok yang udah punya kerjaan tetap. Saya juga mau ikut sukses biar bisa nabung buat masa depan. Nabung buat nikah juga hiihihi... aah, nikah ntar dulu. Coba untuk sedikit memapankan diri dulu lah ya biar bisa lebih dewasa lagi. Masih mau perbaiki diri juga lebih dan lebih lagi. InshaAllah kalau diri kita baik maka pangeran kita pun nanti akan turut memperbaiki dirinya.

Semangaaaat

STILL HERE, STILL WAITING

"If I die, I will wait for you, do you understand? No matter how long. I will watch from beyond to make sure you live every year you have to its fullest, and then we'll have so much to talk about when I see you again." 
-Bones- 

I'm still here without complaining
Waiting for such a good thing
Even if the rain is not falling
This green coat, I'll always bringing
If the rain is coming
I'll never leave this bench until you come and sitting
I want to hear what the answer you'll showing
Will it be nothing or completing
Will it be arguing or saving
I just can't saying
The words in my throat are stopping
I just wanna you knowing
I hope you'll be here, beside me, hold my hand tightly, make a joke with a silly face, forever... and let the time will revealing
Sincerely, I just can't moving
Even if a second in timing
It will be a hard thing
To sweep all my feeling
Even if I always trying
So, could you just be with me in staying?
Or, if you wanna going (somewhere)
Could you just picking (me up)
I know I have the other things for choosing
But I just don't wanna open my eyes for seeing
Cause the other captures is always better in drawing
Without you, I'm so tiring

LITTLE THINGS YOU FORGET

"The little things you forget, kill me."
 -Pleasefindthis: I Wrote This For You-



Ada yang tertinggal di sudut ruang
Ia bernama kehilangan
Belum habis kukupas kulitnya
Hingga durinya tak kulihat ikut meregang


Ada yang tertinggal di separuh jalan
Ia bernama kerinduan
Belum sampai pada batas meyakinkan
Hingga nyaris pupus harapan

Ada yang tertinggal di dalam hati
Ia bernama yang berakhiran huruf serupa menulis melati
Belum sampai kututup semua jendelanya
Hingga ia menutup dan membuka lagi

Menetaplah atau berhenti
Bertahan atau lari

Dua yang tak sempat kusebut satu
Harap kusebut satu
Tapi, belum cukup menyatu

Tuhan
Izinkan aku duduk terdiam
Izinkan aku berdamai dalam-dalam
Karena perih tak mampu kukubur dalam kelam

Tuhan
Hanya padaMu, Kau tahu apa yang aku tahu
Aku tahu bahwa yang tak kutahu pasti akan lebih membiru
Seperti langit yang akan menggantung menggantikan kelabu

Aku hanya rindu
Tapi ia yang di sana perlahan seraya lupa padaku
Lupa pada hal-hal kecil tentangku


Sincerely,
A girl with a hidden hopes that only Allah knows it.

UJIAN TESIS AKAN TIBA PADA MASANYA

"Raihlah mimpimu. Jangan ragu dengan kemampuanmu. Jika dengan terjatuh membuatmu ragu, maka ingatlah bahwa kamu bisa terjatuh di setiap waktu meski telah meraih mimpi itu" 
-Instagram: Kalimat_PH-
Alhamdulillah, barakallah atas semhas dan juga sidang tesis teman-teman mapro UMM angkatan 2014 yang berlangsung sejak kemarin hingga hari minggu besok. Selamat buat teman-teman yang telah genap memperoleh gelar M.Psi, Psikolog. Semoga kalian pun akan mendoakan hal yang sama terhadap saya di sini.

Maaf jika saya tidak datang saat kalian ujian. Tidak menjadi supporter bagi teman-teman terdekat. Jujur, saya malu, ada pula rasa iri melihat kalian yang sudah menyelesaikan perjalanan. Ternyata memang benar apa kata mantan Kaprodi kemarin bahwa perjalanan tesis tiap mahasiswa itu beda-beda. Baru kemarin saya bertemu beliau dan saya ditanya lagi, "Kamu sudah sampai mana?" Saya tahu ekspresi beliau agak gimana gitu ya saat saya mengatakan bahwa masih proses bimbingan hasil yang belum nembus acc pembimbing dua.

Kemarin pun usai semhas salah satu teman dekat, salah seorang dari kami memeluk saya ketika dia bertanya, "Gimana, Em?" Dan, saya hanya menggelengkan kepala. Memang sore itu saya berdua dengan satu teman yang memang punya dua pembimbing yang sama. Namun, pembimbing II saya tampak mempersulit saya dan teman saya tersebut padahal pembimbing I sudah membukakan jalan untuk sisa acc saja. Entah harus berkata apa lagi. Semua kemampuan sudah dikerahkan semaksimal mungkin hingga saya drop lagi. Belum lagi pembimbing I yang akhirnya bilang bahwa kami berdua bisa ikut semhas dan sidang ujian tesis februari namun tidak bisa ikut wisuda periode februari, melainkan nanti ikut wisuda Mei.

Saya sempat ingin mundur dan menepi sejenak. Entah kapan kepastian kami bisa diberikan acc. Memang sih harapan itu masih menyala tetapi saya pun tak ingin jika harapan itu membunuh saya perlahan. Itulah akhirnya saya menggantungkan seluruh asa hanya pada Sang Pemilik kehidupan ini. Ini semua sudah diatur oleh-Nya dan sudah sesuai dengan skenario terbaik-Nya. Jadi, saya hanya perlu menjalankan dan menghadapinya saja.

Tapi, semakin lama saya pun mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Mungkin memang inilah yang terbaik. Berkaca dari pengalaman semasa skripsi S1 dulu, saya ke mana-mana sendiri. Di antara 20 orang kelompok bimbingan tesis, hanya saya sendiri yang berjalan sementara teman lain masih sibuk dengan urusan masing-masing bahkan beberapa yang sempat maju bersama saya akhirnya mundur karena beberapa alasan. Saya terpisah dari teman kelas F karena memang awalnya saya ini masuk dalam daftar kelas A namun karena dulu sebelum mulai perkuliahan diadakan kembali tes masuk kelas bilingual yaitu kelas F, akhirnya saya masuk kelas F dan bergabung dengan teman-teman yang sedikit namun solid. Sayangnya, kami semua memang tidak ada yang benar-benar satu kelas hingga pada saat skripsi harus berpencar. Sendirian, tak ada teman. Namun untungnya pas wisuda, saya bisa ada mengurusnya bersama dengan seorang teman. Minimal kebersamaan itu bisa menghilangkan kejenuhan karena selalu sendiri menghadapi semuanya.

Bedanya saat masa tesis begini, saya sering memulai dengan teman-teman yang satu kelompok pembimbing. Ke mana-mana bareng. Namun, saya juga tak enak hati dengan teman saya tersebut sebab dia punya geng sendiri dan semua teman gengnya sudah pada lulus sidang hari ini. Makanya saya selalu bilang padanya untuk tidak mengikuti jejak saya jika memang saya sedang prokrastinasi.

Saya juga kerap menunda revisi karena pemikiran yang masih tersangkut dalam kotak "idealis". Jujur, saya juga tidak ingin hasil yang akan saya peroleh akan sia-sia bila hanya menampilkan seadanya. Saya butuh waktu lebih untuk memikirkan segala sesuatunya sampai harus berani mengambil risiko tetap pada variabel penelitian yang memang di kampus saya sendiri mungkin masih sangat minim digunakan. Buktinya, dosen-dosen saya tidak banyak tahu mengenai variabel tersebut. Ya semoga saja, saya berharap saat semhas maupun ujian tesis nanti, minimal saya bisa memberikan sebuah pengetahuan baru yang belum banyak diketahui oleh mereka.

Jarak antara turun lapangan dengan try out pun memang jauh. Saya butuh waktu sekitar satu bulan untuk mengurus kelengkapan surat izin. Memang sudah dimudahkan namun karena mengikuti prosedur akhirnya mau tak mau harus menunggu, bolak-balik ngecek, hasilnya nihil, belum selesai diterbitkan suratnya, apalah, apalah, sampai akhirnya saya baru bisa mengambil data penelitian di malam tahun baru 2017 sampai tanggal 1 Januari. Bersyukur saya punya sahabat yang baik yang mau menemani dan membantu saya terjun ke lapangan. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan hatinya. Saya pun mendoakan agar dia juga segera lekas seminar proposal tesis dan bisa lulus tahun ini sebab dia sudah menunda lama karena ketakutannya (tapi kami beda universitas dan beda jurusan, namun dulu dia adalah sahabat saya semasa SMA di Parepare).

Down? Iya. Gak bersemangat? Juga sempat begitu. Tapi, saya yakin semua ini adalah yang terbaik. Saya juga bersyukur karena punya orangtua yang sangat-sangat memahami dan tiada henti mendoakan. Semoga esok akan ada kepastian terutama dari pembimbing II. Saya tak tahu harus berkata apa, namun, selama tesis ini berjalan saya merasa tidak terbantu dengan adanya pembimbing II, beda dengan pembimbing I yang memang sudah saya kenal baik dan dulunya juga menjadi pembimbing I saya semasa skripsi. Sedih? Iya, tapi mungkin ini adalah ujian agar saya bisa naik level lagi. 

Yap, semoga tidak akan menyerah dan bisa sampai pada tahap akhir yaitu sidang ujian tesis. Yah, entahlah, saya juga tak masalah jika memang di hari itu tidak akan ada yang datang walau hanya sekadar melihat saya selesai sidang atau menunggu saya, karena saya pun hari ini tidak bisa menampakkan wajah di hadapan mereka.

Gak papa, inilah lika-liku ngambil mapro. Saya telat saja ternyata masih ada kakak tingkat yang lebih telat lagi karena berbagai macam penyebab. Semoga saja mereka bisa selesai segera. Barangkali Mei nanti mereka juga bisa wisuda bareng kita yang masih tertinggal ini. Insha Allah, aamiin ya rabbal alamin...


BUKAN BERARTI SOMBONG

"He who does not understand your silence will probably not understand your words."  
-Elbert Hubbard-

Sebagai seorang pendiam dan introvert terkadang kerap dicap sebagai orang yang cuek, jutek dan sombong. Hal minusnya sih seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah jadi bagian dari diri saya.



Maaf bila ada saat dimana saya benar-benar terdiam, sunyi, tidak menjawab rentetan pertanyaan atau bahkan menjauh sejenak dari hal-hal yang biasa dilakukan. Saya senang membantu mendengarkan keluh kesah orang lain a.k.a. dengerin orang curhat dan meminta pendapat. Ada kalanya juga saya diam dan tidak menjawab. Ya, ada saat dimana saya benar-benar terdiam sampai tidak membalas pertanyaan yang ditujukan pada saya ataupun akhirnya tidak memberikan solusi sesuai yang diminta oleh orang lain. Jika saya melakukan itu bukan berarti saya sombong.

Saat saya mulai lebih banyak diam, sudah pasti banyak hal yang sedang saya pikirkan. Tidak semua harus saya jawab saat itu juga apalagi jika dirunut sesuai skala prioritas sekalipun membantu menuntaskan masalah orang lain pun tak kalah penting, namun saya juga tak bisa memaksa diri untuk lekas mengeluarkan suara.

Saya terkadang berpikir apakah orang lain akan mengatakan bahwa saya kurang dewasa dengan sikap seperti itu. Tapi, saya memang seperti itu. Saya kerap autis dengan dunia saya sendiri. Kadang saat jenuh melanda atau sedang banyak masalah, saya lebih memilih untuk diam lebih lama.

Jujur, saya orangnya sedikit panikan jika dirundung masalah. Kalau benar-benar butuh someone, saya bakal curhat sama teman atau sahabat terdekat. Kalau lagi butuh sendiri, mentok-mentok nangis ngurung diri di kamar sambil mikir baiknya gimana, harus ngapain aja de el el...

Saat ditampar oleh sebuah masalah yang cukup rumit, saya akan berdiam diri sejenak dan menjauh tapi bukan menjauh dalam artian flight alias lari dari masalah loh ya.

Minusnya jadi orang introvert bin rada polos itu juga kerap dikambinghitamkan... Ini adalah penilaian saya saja. Bukan maksud untuk berburuk sangka tapi memang beginilah adanya. Saya paling benci bagian dimana orang-orang mengalihkan seluruh kesalahan pada saya padahal saya tidak melakukan apa yang dituduhkan. Sudah sering mengalami seperti itu. Siapapun yang pernah menyalahkan saya seperti itu, saya pasti akan lebih jaga jarak lagi dengan orang-orang itu agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Kalau sudah punya suami nanti, nah saya kurang tahu lagi akan jadi seperti apa. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin juga saya bisa setega itu sampai cuekin belahan jiwa dan hidup saya hahai.. Prinsipnya cuman satu sih, semakin cuek saya berarti saat tiba timing untuk memberikan perhatian maka saya akan benar-benar mencurahkan seluruh perhatian hanya pada satu pusat tersebut. Kalau digambar pakai kurva, agak-agaknya sih cenderung ekstrem kiri dan kanan semua ya. Pas cuek, bisa cuek banget. Pas perhatian bisa perhatian banget. Kalau ada saat dimana perhatian saya tidak dihargai, yaa mungkin saya juga akan menjadi lebih diam dari sebelumnya. Bukan mekanisme pertahanan diri juga sih cuman, kalian pasti ngerti kan gimana rasanya ketika perhatian kita tidak dihargai tapi saat cuek kita malah dikejar-kejar. Ya begitulah.

CINTA: FRAPPE, RISTRETTO, GUILLERMO, AFFOGATO

Dulu. Cinta seringkali datang dengan suguhan rasa seperti frappe. Dingin. Beku. Serutan es batu bahkan nyaris memudarkan rasa khas dari cinta itu sendiri.

Dulu. Cinta juga hadir dengan rasa yang mirip ristretto. Volume dari espresso cinta yang murni bahkan dibatasi hanya setengah. Cinta yang kurasa hanya sepotong-sepotong. Seduhan air yang sedikit disertai leburan rasa pekat, manis dan singkat membuatku tersedak saat menyeruputnya.

Kelak, akan tiba musim penghujan menggugurkan bulir-bulir cinta yang lebih berwarna. Rasanya? Aku berharap seperti secangkir guillermo. Aroma espresso yang kuat disertai irisan jeruk nipisnya semoga mampu menyeimbangkan langkahku menghadapi getir hari-hari berat. Atau, seperti affogato. Tambahan es krim vanilla membuat mimpi buruk yang hadir tak kan teramat pahit rasanya.

Frappe. Ristretto. Guillermo. Affogato. Bila takdir mempertemukan dua rasa yang lama dengan dua rasa baru di musim penghujan nanti, mana yang akan kupilih? Satu rasa bahkan belum tentu akan kupilih, apalagi jika keempat rasa itu mengetuk pintu bersamaan.

Sejenak aku berbisik, "Tuhan, jika boleh meminta. Rasa yang belum usai kutenggak dahulu, tak perlu Kau suguhkan lagi. Aku ingin berbetah-betah hanya dengan satu rasa. Menyeruputnya setiap hari hingga napasku tak lagi dapat mencium aromanya. Tentunya dengan rasa pilihanMu."