Pages

TES DIRI SENDIRI PAKAI MBTI ONLINE



Beberapa waktu lalu di Instagram, seorang teman saya semasa kuliah strata satu memposting hasil tes kepribadian dirinya. Dia mengikuti tes MBTI online di salah satu situs. Kemudian, saya pun jadi tergerak untuk mengetes diri saya sendiri namun di situs yang berbeda. Saya mengisi tes online di 16personalities.com (english version) sedangkan teman saya tes di situs anthony yang berbahasa Indonesia. Melalui tes tersebut,  hasilnya tidak terlalu mengejutkan karena memang sesuai dengan kepribadian saya in the fact.


Hasil dari tes MBTI mengungkapkan bahwa saya adalah seseorang dengan tipe kepribadian INFJ. Apa sih itu INFJ itu? Kok bisa resultnya pakai huruf-huruf itu? Apakah bisa dipercaya? Yang namanya tes, boleh dipercaya boleh juga tidak. Tapi kalau saya pribadi mengatakan bahwa ini bukan soal percaya atau tidak percaya sebab tes psikologi berbeda dengan ramalan. Pertanyaan yang disodorkan pun bukanlah pertanyaan receh, tapi bedanya dengan tes MBTI konvensional sama tes online ada sedikit perbedaan sih. Kalau yang konvensional pakai lembar soal gitu hasilnya cukup bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena sudah melewati serangkaian penelitian terhadap validitas dan reliabilitasnya dari para pencetusnya kan. Sementara itu untuk tes-tes online kebanyakan, item pernyataan/pertanyaannya memang sekilas tidak jauh beda dengan item yang ada di tes konvensional namun untuk yang online ini terkadang juga diperuntukkan sebagai hiburan, just for fun. Sumbernya dapat dari mana item pernyataan yang dicantumkan pun bisa saja beragam. 

Kembali ke hasil tes saya tadi. INFJ. Apa sih INFJ itu?

INFJ itu singkatan dari Introversion, Intuition, Feeling, Judging.

Secara garis besar, katanya sih, kata tes ini tuh ya INFJ itu adalah seorang protector  dan konselor. Benarkah? Kalau benar adanya, berarti tidak salah dong ya saya masuk psikologi dan jadi psikolog, wkwkwk...

Hasil tes ini menyatakan bahwa saya ini adalah seseorang dengan tipe kepribadian INFJ-A yaitu bak seorang Advokat, Konselor atau Protektor. Are you serious? Advocate. Hahah... masa sih saya ini orang yang bak advokat. Saya agak ketawa saat membaca hasilnya seperti ini. Baiklah, kita next aja ke tahap penjabarannya.
---------------



Seperti yang tertera pada capture gambar di atas, pertama, saya adalah seorang yang introvertYap, saya tidak menyangkalnya karena dari dulu memang introvert. Saya sudah pernah memposting tentang introvert dan ekstrovert di postingan beberapa tahun lalu, bisa searching aja di blog ini. 

Kedua, saya adalah seorang yang intuitif. Eumm.. intuitif ya? Saya akui iya juga sih karena saya seringkali menilai sesuatu berdasarkan apa yang dikatakan oleh intuisi saya. Butuh proses latihan yang tidak sebentar untuk mengasah intuisi. Seringkali sih penilaian berdasarkan intuisi saya ini tidak meleset tapi juga pernah meleset sih. Saya juga mudah peka dengan orang, sometimes, bisa langsung menebak bagaimana sih kepribadian orang yang ada di depan saya atau yang saya lihat meski hanya sekilas. Konon, orang-orang yang intuitif ini seringkali dikirain bisa meramal. No. Tidak. Nggak. Saya tidak bisa meramal dan saya bukan peramal tapi saya juga tidak bisa memungkiri kalau sering tepat sasaran menebak sesuatu atau seseorang. Saya juga pernah berada di masa intuisi yang muncul amat sangat kuat yaitu saat sekolah, mulai SD hingga SMA dan biasanya intuisi itu muncul dengan didahului sebuah mimpi. Sangat tidak nyaman ketika kamu tanpa sadar tahu apa yang akan terjadi kemudian meski kamu tidak ingin menebak itu. Intuisi ini juga berkaitan dengan bagaimana saya terhubung dengan orang-orang terdekat. Biasanya, kalau terjadi sesuatu semisal orang terdekat saya lagi sakit, sedang bad mood atau mengalami hal buruk maupun hal menyenangkan, saya seolah mampu menyerap energi mereka walau saya dan mereka berada dalam tempat berbeda atau terpisah oleh jarak. Saya pikir, soal ini, pasti setiap orang juga memiliki kemampuan berfirasat, cuman beda kadarnya saja.

Ketiga, saya orang yang dominan feeling, hahaha, masa sih? Gampang baper dong yak :p. Tapi saya akui saya memang orang yang mudah tersentuh, sensitif banget apalagi kalau nonton film atau membaca buku yang bertema sedih, uaah udah bisa dipastikan air mata saya meleleh. Begitu pula saat membuat keputusan, kadang sih pakai logika tapi seringnya pakai perasaan. Maksudnya memutuskan pakai perasaan tuh gimana ya? Eung, jadi seperti ini... terkadang ada hal-hal yang tidak bisa diputuskan hanya dengan mengandalkan nalar atau logika. Saya pun termasuk orang yang penuh pertimbangan. Itulah kenapa saya cenderung sedikit lamban dalam memutuskan sesuatu terlebih jika itu adalah hal yang amat sangat penting. Noted it, sangat penting. Jika saya mengalami masalah yang melibatkan orang lain, maka saya terkadang cenderung memikirkan pula perasaan orang tersebut, apakah keputusan ini akan berat sebelah, akan menyakitinya atau tidak. Saya juga lebih tertarik untuk menyelami dan sok kepo mau tahu gimana sih pola pikir dan perasaan orang lain mengenai sesuatu dan bagaimana sih biar saya bisa melakukan sesuatu yang sekiranya akan memotivasi atau menginspirasi perasaan orang lain.

Tapi, kalau datang ndableknya, saya sih bakal keras kepala, tidak peduli akan berpengaruh seperti apa kepada orang lain, cuman hal ini sangat jarang terjadi. Biasanya saya memang akan mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan (berkaitan dengan hubungan dengan lingkungan sosial ya). Eung, mungkin karena saya tipe orang yang tidak menyukai keributan, sehingga kedamaian adalah target yang sering saya ingin capai. Jika keributan yang terjadi di luar (bukan yang terjadi pada saya) membesar di luar kendali, saya biasanya akan diam atau bisa saja menjauh. Jika tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik atau orang lain menolak berkompromi dengan saya maka saya akan bersikap diam dan menjauh. Hemat saya, daripada saya menghabiskan tenaga untuk meladeni keributan dan hal-hal bersifat negatif, lebih baik energinya saya keep untuk kepentingan lainnya. Jadi, saya juga malas meladeni orang-orang yang menyebarkan aura negatif untuk saya, apalagi kalau saya diserang, heuumm.... saya mungkin bisa saja memaafkan tapi untuk kembali memintal hubungan maybe, I don't want

Jadi, yaaa... proses "merasa" saya bakalan terlihat lebih kenceng daripada proses berpikir dengan hanya berdasarkan fakta-fakta objektif. I mean, kadang apa yang tampak oleh mata tidak selalu sesuai seperti yang tampak, dan melihat sesuatu yang sifatnya "tidak kasat mata" juga menjadi salah satu opsi penting bagi saya. Ini mah perempuan banget yak, yang dominan pakai perasaan, wkwkwk... I love being a woman, :p...



Selanjutnya untuk persoalan kerja, perencanaan dan membuat keputusan (yang sifatnya menyangkut pekerjaan), saya tergolong orang yang lebih banyak judging. Eh, judging di sini maksudnya bukan menghakimi loh ya. Judging di sini dijabarkan sebagai seseorang yang organized. Yap, ini mah gue banget. Orang tipe judging adalah mereka yang sebenarnya kurang luwes alias kaku, cenderung mengikuti prosedur, pola sikap yang ditunjukkan pun teratur. Setiap hendak melakukan sesuatu, semua harus serba terencana dan diatur dengan sejelas dan sedetail-detailnya. Tidak jarang sih, saya sering membuat catatan-catatan sendiri saat sedang banyak tugas yang harus dikerjakan. Biasanya, saya kelompokkan mulai dari yang high priorities sampai yang low priorities. Kabar buruknya, entah ini buruk atau gimana, tapi tipe judging ini agak kesulitan untuk mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan. Kalau saya pribadi, untuk pekerjaan sehari-hari semisal pekerjaan rumah tangga yaitu menyapu, mengepel, mencuci pakaian, memasak, masih bisa saya lakukan secara bersamaan dalam satu waktu, misal jam sekian, saya bisa menggoreng sambil menyapu, jadi menunggu gorengan sambil nyapu-nyapu sebentar, hahaha absurd. Tapi untuk pekerjaan yang serius, misal ngerjain tugas, menulis atau tugas dari tempat kerja, saya adalah tipe yang harus diselesaikan satu persatu. Saya lebih prefer menyelesaikan satu pekerjaan tapi hasilnya bisa lebih mendalam daripada mengerjakan dua tugas secara bersamaan namun hasilnya kurang rinci. Itulah kenapa orang tipe judging ini cukup perfeksionis, maunya menyelesaikan sesuatu dengan "sempurna". Sempurna dalam artian bagus, unik, orisinil, kreatif, sistematis dan berbasis kebaruan.

Keempat, saya adalah orang yang assertive. Asertif? Yap, saya lebih suka menyatakan atau menjelaskan sesuatu dengan jujur apa adanya sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan. Inilah yang sempat menjadi pertentangan dengan teman-teman saya. Karena saya terkadang bisa menjadi orang yang "terlalu jujur" menurut mereka sehingga mereka melihat hal itu sebagai kelemahan saya dan kurang menerima asertivitas saya. Tapi, ada tapinya nih, saya baru akan asertif hanya pada orang-orang yang dekat dengan saya. Saya ini sebenarnya orang yang tidak mudah mengekspresikan sesuatu di depan orang asing, saya juga mudah merasa "sakit" tapi terkadang ada momen dimana saya sulit mengungkapkannya, kecuali kalau saya sudah tidak tahan lagi, saya pasti akan berterus terang, daripada saya empet lama-lama jadi bom atom, mending saya utarakan, namun tentu saja menunggu beberapa waktu dulu sih.

Berikut ini saya tampilkan beberapa capture penjelasan dari tes tadi ya.

Ini Strengthness-nya tipe INFJ







-----------------
Ini Weaknessesnya





---------------------

Ini Tentang Gimana INFJ Membangun Romantic Relationship


Soal ini saya konfirmasi sedikit :p... Saya juga tidak expect kalau hasilnya akan seperti ini sih dari tesnya, tapi memang lebih banyak sesuainya dengan diri saya. Jadi, INFJ adalah seseorang yang akan membina hubungan serius jika itu dalam ranah romantic relationship. Keseriusan saya hanya orang lain sih yang bisa menilai. Hubungan yang serius itu adalah hubungan yang meaningful dan mendalam. INFJ tidak suka jika ada seseorang yang mendekatinya hanya just for fun atau hanya sekadar penasaran dengan who they are. Ketika membina hubungan pun, INFJ lebih dominan mengupayakan dan memberikan sesuatu yang jauh di luar hal-hal fisik yang receh, melainkan lebih suka memberikan/mengupayakan hal-hal yang bisa menentramkan pasangan secara emosional dan melihat pada gimana sih makna dari hubungan tersebut, berusaha menjadi partner yang passionate untuk pasangan dan lebih mengharapkan hubungan tersebut dapat terus dibina sampai ke masa depan.

Dan, pasangan yang INFJ cari adalah seseorang yang bisa satu frekuensi dengannya. Saya pribadi tertarik dengan seseorang yang di awal tampak misterius namun lama-kelamaan bisa terkoneksi dan terbuka seiring berjalannya waktu. Sebab, saya orang yang cukup sulit untuk menyatu dengan pikiran dan perasaan lawan jenis. Saat diajak ngobrol atau pedekate pun, saya juga tidak semudah itu untuk connect. Apalagi kalau misal ada lawan jenis yang saat baru pertama kali kenal dia sudah menunjukkan tanda-tanda yang sama sekali tidak bisa nyambung atau sok sok nyambungin padahal ada sesuatu yang menurut penilaian saya orang tersebut nggak banget lah pokoknya, maka saya memilih untuk cut off them. Jadi kalau ada yang bisa connect dengan saya, mungkin he is the one.

Selain itu, kalau sudah beneran cinta, INFJ cenderung sangat perhatian. Terkadang INFJ juga mencari sesuatu yang baru untuk dibagi ke pasangan atau untuk sekadar menyenangkannya. Ini benar sih, saya banget mah. Ets, tapi, buruknya, kalau saya sedang dilanda kesibukan, saya sering autis dan itulah yang bisa membuat pasangan saya kesal karena saya hilang tiba-tiba, tidak ada kabar, padahal tidak bermaksud menghilang sih. Sebaliknya, kalau pasangan saya yang hilang atau minimal ketika saya menghubungi tapi tidak dibalas, saya masih bisa mentolerir sih, tapi kalau tidak dibalasnya lama kadang jadi bad mood, bingung, sudah berpikir ngalor-ngidul mengira kalau pasangan saya tidak berminat untuk berkomunikasi atau mungkin sedang tidak ingin diganggu atau mungkin lagi bad mood juga tapi tidak mau bilang pada saya.

INFJ juga tidak suka ketika pasangan berbuat curang, entah itu dalam bentuk berbohong atau memanipulasi. Ini pun benar adanya. Dengan intuisi yang saya miliki, saya sering bisa mendeteksi apakah seseorang itu berbohong atau tidak. Kalau sudah berbohong, saya tidak bisa terima sih dibohongi, kecuali jika dia minta maaf dan tidak mengulanginya, saya akan lebih mudah dinego. Sebaliknya, saya lebih suka kalau pasangan bisa jujur, meskipun hal itu mungkin menyakitkan sih, tapi kalau mau jujur dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia katakan dan lakukan, ya saya akan sangat menghargainya. Jadi, kesimpulannya, hal terpenting bagi INFJ dalam mencari pasangan itu adalah keseriusan, komitmen, sincerity, genuine dan trying to become one with their partner in mind, body and soul. Romantis banget kan saya :D .... haha iya sih, saya lebih tampak romantis daripada pasangan saya.










Ada yang sudah tes juga? Kalau kalian termasuk tipe pribadi apa?


Sumber capture: 16personalities.com


KEEP YOUR REAL INNER CIRCLE SMALL

Saya terinsipirasi menulis tentang tema ini karena pernah mengalami hal-hal kurang menyenangkan dalam hubungan pertemanan. I don't mean to hurt people's heart dengan saya menuliskan ini, tapi saya belajar untuk jujur pada diri sendiri. So, now, it is time to change my circle. Perubahan yang saya maksud bukan dalam artian saya membenci sebagian lalu menyukai sebagian lainnya. Perubahan tersebut terjadi sebagaimana adanya, berjalan secara alamiah seiring telah semakin banyaknya pengalaman yang saya lalui.

----------------------------


From aminoapps.com

Jika kalian pernah membaca Secangkir Kopi Bully, kalian sudah pasti tahu bahwa saya pernah menjadi korban bullying sejak TK hingga SMA. Belum lagi saat kuliah pun, saya pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan mengenai pertemanan. Meskipun semua sudah diakhiri secara baik-baik, tapi bukan berarti luka "sobek" yang sempat tergores lantas sembuh dengan sendirinya. Saya memaafkan tapi saya tetap ingat dan I'm very sorry if I have to say goodbye to some people who ever attack behind my back. Goodbye yang saya maksud bukan berarti saya benar-benar tidak mau menegur, hanya saja orang-orang yang saya beri goodbye adalah mereka yang sudah tidak lagi saya jadikan tempat curhat. Hemat saya, untuk apa membuang waktu dengan orang-orang yang hanya mendambakan kelebihan serta kesempurnaan dari orang lain sementara mereka tidak bisa menerima kekurangan pun ketika terjadi sebuah masalah, hanya bisa menyalahkan orang lain, tidak bisa berkaca pada diri sendiri juga dan tak punya inisiatif untuk menyelesaikan dengan baik malah mendendam atau hanya diam membisu. Jadi, beruntunglah orang-orang yang masih saya percayai sebagai partner curhat dan berbagi, sekalipun mungkin ada di antara teman-teman saya yang "nakal" namun karena saya percaya mereka tidak akan menusuk saya dari belakang, mereka tetap aman berada di dalam lingkaran saya.

Siapa sih yang tidak "terluka" ketika dibully di "belakang" apalagi itu disebarkan di media sosial. Orang-orang yang tadinya tidak tahu sama sekali dan tidak kenal sama sekali, namun dengan adanya omongan menyakitkan itu akhirnya orang-orang asing pun jadi semakin mengkompori hal yang seharusnya tidak penting untuk dibahas. Dengan begitu, otomatis, tingkat toleransi saya terhadap mereka yang hanya berani dari belakang semakin dan semakin rendah.

Belum lama ini saya juga mulai mengurangi akun sosmed saya, pelan tapi pasti. Ya, hal ini sempat mengundang tanda tanya besar dan kesalahpahaman di antara orang-orang kesayangan saya. Pernah saya memutuskan untuk pelan-pelan menghilang dari akun Path. Saat itu, Path saya memang benar-benar sedang trouble, kemudian beberapa waktu berikutnya, saya log out dan lupa password. Si abang (saya sebut si abang aja ya biar lebih greget penasarannya hehe, dan saya yakin, pasti dia pernah stalk blog ini) kemudian saya minta untuk mem-follow akun baru saya tapi agaknya enggan. Ya, saya yakin kalau si abang pun jadi salah paham dan dipikirnya saya meng-unfollow dia saja, padahal Path saya memang trouble tapi si abang tidak suka jika saya menjelaskan. Well, saya pun putuskan untuk meng-uninstall Path dari android. Bukan karena si abang, tapi karena di Path itu juga pernah saya mendapati status dari seseorang yang amat sangat menyakiti, menyakiti saya dan menyakiti si abang. Saya yakin si abang masih punya akun Path sampai sekarang, ya mungkin saja, tapi tak masalah. Saya hanya menjauh dari teman-teman yang sudah menularkan hawa negatif untuk saya dan karena saya bukanlah orang yang "betah" berlama-lama membaca postingan buruk dari mereka.

Baru-baru inipun saya akhirnya menghapus akun Facebook saya secara permanen. Why? Si abang sempat bertanya, apakah ada hal-hal aneh lagi? Jujur, sudah tidak ada lagi sih. Hanya saja saya gerah. Sangat gerah dengan Facebook yang isinya sudah semakin sumpek, crowded dan yeah, terlalu banyak orang yang meng-add saya, bukannya saya malah senang, saya malah bisa frustrasi. Kenapa begitu? Kalau orang yang tahu pribadi saya seperti apa, mereka sudah pasti understood. Saya sejak dulu adalah orang yang kurang suka dengan situasi crowded. Kalau disuruh milih, mending saya pergi ke suatu tempat yang tenang dimana tidak banyak orang di tempat itu dan tidak membuat sesak dengan banyaknya mulut yang cas cis cus sana-sini. Eman banget karena di Facebook, saya juga punya akun Fanbase pembaca buku. Hampir semua pembaca saya mengontak melalui Facebook. Bahkan saya juga sempat mendapati ada puluhan, entah berapa puluh message di Facebook dari pembaca yang tidak pernah saya read dan baru saya baca menjelang penghapusan Facebook tersebut. Ya, tidak masalah, toh mereka juga sudah tahu email saya dan mereka masih bisa menghubungi saya via email atau Hangout Google+ jadi bisa chit chat di situ.

Kalau ditanya, sekarang saya punya berapa akun sosmed. Yang benar-benar up to date hanya 2 yaitu Instagram dan of course Whatsapp, sedangkan Line dan Twitter masih ada cuma amat jarang saya buka. Tadinya, jujur saja saya katakan ini, awalnya Instagram hanya saya peruntukkan bagi teman-teman lama, except teman-teman S2. Kenapa? Karena saya sudah menghapus Facebook dan saya mau Instagram isinya tidak beda jauh dengan FB yang mayoritas dipenuhi oleh teman-teman lama, tentu saja teman-teman semasa sekolah ketika masih di Parepare. Di antara mereka pun, ada dua sahabat "kental" saya. Namun, karena satu dan lain hal, saya kembali membuka Instagram saya untuk umum. Saya memutuskan untuk sesekali berbagi informasi seputar psikologi bukan hanya di blog ini tapi juga di sosmed, dan sosmed paling pas untuk tempat sharing ilmu adalah Instagram karena masih bisa menampung tulisan yang panjang, hehe. Jadi, saya buka kembali untuk umum. Namun, memang, dulu saya sempat menghapus semua teman-teman S2 saya dari Instagram dan beberapa teman lainnya.

Selain itu, ada lagi satu hal yang agak mengganggu saya. Saya tidak mungkin menyatakannya secara langsung kepada orang-orang yang saya maksud. Ya, maafkan saya kalau saya seperti ini. Tidak ada maksud, hanya saja saya merasa terganggu. Saya hanya akan memberikan kontak Whatsapp saya untuk orang-orang yang memang pernah masuk dalam lingkaran relationship saya antara lain keluarga tentu saja, kemudian beberapa teman sekolah, teman kuliah strata satu, dosen dan pihak-pihak yang kedudukannya penting, beberapa teman strata dua dan para klien (yang pernah/ingin konseling). Jadi, bila ada teman yang tidak terlalu dekat dengan saya meski pernah kenalan atau pernah berhubungan karena suatu keperluan atau bahkan orang asing yang sama sekali tidak pernah mengenal apalagi bertegur sapa dengan saya, saya kurang suka bila mereka tahu nomor hape saya kemudian sok kenal sok dekat mengontak saya. Lebih lebih lagi jika mereka terus mengirimkan chat. Biasanya, saya akan diam dan men-silent notifikasi yang masuk dari orang-orang yang tidak akrab dengan saya. Kalaupun akhirnya saya memberikan kontak kepada teman atau orang yang dulunya atau sekarang tidak begitu akrab dengan saya atau hanya sekadar teman biasa, saya mohon untuk tidak men-chat dengan aksen seolah ingin bersikap akrab pada saya. Saya mulai tidak bisa sesupel dulu dan mulai tidak lagi seterbiasa itu. Kalaupun saya ikut merespon dengan tawa, ya itu saya lakukan sebagai usaha untuk menghargai lawan bicara. Meski saya tak kenal dan meski saya tampak kurang nyaman tapi saya masih berusaha untuk santun. 

Dan, saya bukanlah orang yang 24 jam standby di sosmed, aktif online terus. Jadi, saya juga kurang nyaman jika ada teman yang tidak begitu akrab menelepon saya via akun sosmed ataupun menelepon via telepon seperti biasa. Saya biasanya akan menolak secara halus. Please, karena saya sudah merasa memahami keperluan mereka jadi setidaknya mereka juga harus mengerti dengan batasan privasi saya. Hahaha, si abang saja sejak sibuk bekerja sangat jarang menelepon, tidak masalah sih, saya paham karena pekerjaannya pun cukup berat. Mungkin juga saya jadi ketularan dia yang kadang malas ditelepon. Bukan malas saat dia yang menelepon loh ya, tapi malas menerima telepon dari orang yang tidak dekat dengan saya. Pernah suatu ketika saya menelepon si abang secara impulsfif karena terjadi kesalahpahaman antara kami. Dia bilang bahwa dia malas dan kalau tidak terjadi apa-apa atau jika memang tidak terjadi suatu masalah yang benar-benar membutuhkan concern untuk dibahas berdua, dia cenderung tidak menelepon. Saya jadi terbiasa dengan ritmenya dan menerapkannya pula untuk orang lain. 

Ya, despite that, saya terus terang rindu dengan si abang. Semakin kecil lingkar relationship dengan orang-orang, saya pun jadi lebih intens menghubungi si abang. Dia menjadi satu-satunya inner circle yang lebih prefer saya hubungi duluan daripada lainnya. Kalau hilang tidak ada kabar, kadang jadi sebel sendiri, rindu-rindu sendiri, bingung sendiri. Rindu karena meskipun setiap hari komunikasi di Whatsapp, tapi kami pun jarang komunikasi via telepon. Akhirnya, saya manut saja. Ya, pikir saya, kalau dia memang mau telepon, saya pasti akan menyambut dengan senang hati, tapi kalau lagi malas telepon karena baginya tidak ada yang urgent banget ya tidak masalah bagi saya. Komunikasi via apapun itu, saya terima. Satu aja sih yang berusaha saya jaga, untuk commit memberi kabar. Kadang, kalau saya benar-benar sibuk, saya jadi amnesia sendiri. Saya masih seperti itu dan masih berusaha untuk beradaptasi. Kalau saya pribadi benar-benar sibuk harus wira-wiri ke mana-mana, mengurusi banyak hal, biasanya saya cenderung menelantarkan hape dalam waktu yang bisa sebentar, bisa juga lama. Seperti halnya dua hari sebelum wisuda, ada banyak kendala saat mengurus administrasi dan perlengkapan di kampus. Sampai akhirnya, saya lupa mengabarinya dan dia pun menghubungi saya sambil kesel gitu. Saya memang sibuk dan hape sempat saya non aktifkan lama. Malam ramah tamah baru saya aktifkan. Dia agak kesal dan terjadilah kesalahpahaman lagi. Sungguh tidak ada maksud untuk tidak mengabari. Hanya saja, saya sering autis sendiri. Maaf ya mijn, aku nggak maksud untuk menghilang kok, aku masih belajar untuk nggak tiba-tiba autis saat sibuk. Kami sebenarnya punya kemiripan sih saat sibuk. Dia, kalau sibuk biasanya akan lebih banyak diam dan ketika di-chat misalnya, hanya di-read dan baru akan dibalas beberapa waktu kemudian. Saya pun sering seperti itu, bahkan lebih parah lagi mungkin dengan menelantarkan hape. Lah kok jadi curcol... :D .... back to the topic...


Yap, meksipun lingkar pertemanan menjadi semakin kecil dan sempit seiring bertambahnya usia, namun saya yakin kualitas pertemanan akan lebih meningkat. Punya banyak link dan teman itu bagus sih, tapi bukan berarti tidak menjadi selektif. Kalau dibilang pemilih, akhirnya, saya berkata yes. Saya memilih hanya orang-orang yang satu frekuensi dengan saya dan bisa memahami satu sama lain. Bukan orang yang bagus dan nyata di depan namun fake di belakang. Yah, say goodbye deh buat orang-orang yang berteman karena punya maksud yang tidak baik atau yang hanya ingin memanfaatkanmu, persis seperti lagu di bawah ini...

Satu lirik lagu unik lagi yang berjudul Panjat Sosial, begini bunyinya...

Hati-hati jaman sekarang
Banyak orang berteman punya maksud tujuan
Mengumbar kedekatan dapetin keuntungan
Abis manis lo dibuang

-----------
Kalaupun ada teman yang awalnya akrab karena suatu keperluan/urusan dan pernah saya jadikan tempat curhat, namun jika mereka tidak open-minded dan tidak satu frekuensi dalam beberapa hal dengan saya, maka mereka tetap bukanlah termasuk dalam inner circle saya. Mereka teman tapi hanya sebatas itu. Teman cerita maybe, tapi tidak untuk menceritakan hal-hal yang sangat privasi.

Literally, saya pun come back ke teman-teman yang membuat saya benar-benar nyaman, yang mana dengan mereka saya tak perlu berubah menjadi orang lain, tetap jadi diri sendiri. Tidak perlu berpura-pura ketika bersama mereka. Mereka yang mau bareng dan tetap ingat kala susah maupun senang dan pastinya mereka tidak berganti rupa di belakang. Jadi, saat ada masalah, bisa terang-terangan, jujur-jujuran walau menyakitkan, habis itu balik lagi deh, tidak bisa pisah, marahnya hilang, keselnya hilang, itu karena mereka sudah melebur dengan saya, saya pun begitu sudah melebur dengan jiwa mereka, kami sudah satu frekuensi, satu radar.

Soal ini, saya jadi tersentuh mendengar sebuah lagu via Radio ketika menuliskan ini. Saya kurang tahu judulnya apa dan siapa penyanyinya. Liriknya begini...

Ku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang kubutuh satu teman
Tempat berbagi cerita
....

Cuman butuh the special one, tempat berbagi semuanya, termasuk berbagi kehidupan hehehe and this is you,  my superman.

KENAPA FOTO KAKI SIH?

"Some people are anchored to this world by their feet, others by their fears."
-John Kramer, Blythe-


Suatu ketika dia nanya, "Kok foto kaki sih?" Saya hanya menjawab, "Haha, nggak papa. Suka aja."
-----------

Saat saya lagi malas selfie, saya malah lebih suka foto kaki. I don't know why, tapi ada rasa nyaman sendiri buat saya saat foto kaki. Kalau diperhatikan, dari beberapa foto kaki saya, background-nya sama semua ya hehe cuman nampakin latar belakang lantai polos meskipun berada di tempat yang berbeda.



Foto di atas itu sewaktu saya masih praktik kerja profesi tahun 2015 lalu tepatnya di SLB Lawang. Saat saya datangnya kepagian, saya kadang iseng selfie atau foto apa aja sendiri di ruang asesmen. Oh ya, ngomong soal sepatu, jujur saya lebih suka flat shoes. Kenapa akhirnya saya beli sepatu itu yang solnya tampak ada sedikit hak-nya kayak foto di atas? Itu karena saat itu saya benar-benar lagi butuh sepatu yang agak formal, namun sesampainya di Mall, saya sempat agak susah mencari yang sama dengan ukuran kaki saya. Malah, saat saya menghampiri salah satu counter sepatu, mbaknya sampai menawarkan untuk melebarkan sepatu dengan sebuah alat. Entah apa namanya, pokoknya itu alat untuk melebarkan. Lah, kalau dilebarkan terus nanti jadi rusak, saya juga nggak mau dong. Akhirnya, saya keliling ke Matahari Matos, nggak dapat yang sesuai selera saya. Terakhir, saya masuk ke Buccheri. Sebenarnya saya menghindari beli yang mahal. Namun, mata saya sulit untuk tidak berpindah ke lain hati lagi saat melihat sepatu warna Tan yang kalian lihat di foto atas ini. Simpel, warnanya natural dan cocok untuk formal. Itulah yang saya cari. Akhirnya, saya putuskan untuk membelinya karena kebetulan tinggal satu-satunya yang size 40. Di tempat lain ada sepatu lain size 40 tapi size-nya entah kenapa kekecilan untuk kaki saya dan Buccheri ini pas banget, nggak kegedean tapi juga nggak kesempitan. Bahannya kokoh. Saya beli itu tahun 2011 atau 2012 ya, saya agak lupa, tapi seingat saya itu waktu saya S1 akhir-akhir skripsi. Saya beli karena berpikir mungkin setelah itu saya kerja, jadi lebih baik beli sekalian. Sampai sekarang, sepatunya masih awet, hanya saja solnya itu agak termakan sedikit sih. Gimana ya ngejelasinnya. Jadi solnya yang tadinya rata, sekarang permukaannya sudah nggak rata. Mungkin gara-gara saya pernah pakai sembari mengendarai motor dan menyentuh aspal saat mengerem. Jadi kalau dilihat sekilas, solnya timpang, nggak rata gitu. Tapi untungnya masih enak sih dipakainya, masih bagus juga. Cuman kulitnya ada yang tergores namun tidak sampai merusak kulitnya, waktu itu beli dengan krim pembersihnya cuman sudah kadaluwarsa mungkin jadi sudah nggak pernah saya bersihkan. Ini bahannya kulit sintetis sih ya jadi lebih awet. Warnanya pun nggak pudar. Intinya, kalau pakai sepatu bagus dan sedikit lebih mahal, saya eman-emani jangan dipakai sembari mengendarai motor apalagi kalau musim hujan, jangan sampai sepatu ikutan kena basah. Jadi, setiap kendarai motor dan dalam setiap musim apapun, mau hujan atau nggak, saya lebih prefer pakai sandal jepit dulu. Jadi, setelah tiba di kampus atau kantor, baru deh saya ganti pakai sepatu.
---------------


Foto ini saya ambil saat berada di stasiun KA Kota Baru, Malang. Waktu itu masih musim praktik namun praktik kali itu di RSJ Menur Surabaya. Mau gak mau setiap Jumat, saya pasti pp Malang-Surabaya. Kalau balik, kadang sendirian, kadang juga bareng teman yang lain. Saat itu saya tengah menunggu kereta sendirian. Gak ada kerjaan, jadi selfoot aja.
---------------


Foto ini saya ambil beberapa bulan lalu saat sedang antre di Richeese Factory samping Poltekes Negeri Malang. Saat itu, Bapak ngajak kami sekeluarga makan di luar. Daripada bete karena antrenya panjang, jadi selfoot lagi deh. Saat itu, tepat di barisan antrean depan saya ada sepasang sejoli. Mereka terlihat begitu serasi, ceweknya cantik dan cowoknya juga tampan. Lucunya, melihat style ceweknya, saya jadi teringat sama para personil JKT 48. Kok bisa keinget itu? Pasalnya, saat itu, si cewek memakai pakaian persis seperti personil JKT 48 ala-ala siswi Jepang, roknya pendek di atas lutut dengan akses rempel dengan motif kotak-kotak berwarna merah hitam kemudian didobel dengan kaos kaki stoking warna hitam transparan, rambutnya pendek sebahu lurus bak habis dicatok lalu dipermanis dengan pita merah. Dia juga memakai cardigan warna hitam. Hidungnya sedikit mancung, matanya sipit dan rupanya manis. Posturnya lebih pendek dan lebih kurus sedikit dari saya. Dia juga mengenakan tas berwarna hitam. Di depan saya, dia bersama sang pacar terlihat saling berangkulan, ngobrol entah apa yang diobrolin seolah dunia hanya milik mereka berdua sementara yang lain ngontrak. Cowoknya pun tampak cuek dengan dunia sekitar. Matanya hanya tertuju pada si ceweknya tadi. Kalau diperhatikan sekilas, cowoknya ini usianya cenderung lebih tua daripada si cewek, maybe seorang mahasiswa. Mengobservasi mereka bikin saya jadi Zzzzzz..... sendiri, bukan ngantuk, maksud saya, saya jadi gimana gitu lihatnya. Kalau dibilang iri sih nggak juga, tapi saya cuman merasa sedikit bahagia tapi sekaligus awkward melihat tingkah mereka. Bahagia karena mereka tersenyum berdua melulu. Awkward-nya karena jarang sih lihat orang pacaran sambil mesran-mesraan sembari antre pula di tempat makan gini :D...
----------------


Foto terakhir ini saya taken tadi siang saat sedang menunggu legalisiran ijazah sekaligus transkrip nilai di kampus 1 Pascasarjana UMM Jl.Bandung. Kok pakai sepatu sandal sih ke kampusnya? Hehe pikir saya karena udah nggak ada kegiatan kuliah jadi ya gak papa lah ya menabrak formalitas. Saya juga lagi malas pakai sepatu sih :D. Tadi sewaktu di kampus, saya melihat salah seorang laki-laki yang mungkin usianya sudah 30-an, saya nggak tahu pasti. Dia duduk di deretan kursi yang berada dua meter di deretan kursi saya. Dia sedang asyik menelepon dan duduk dengan gaya yang sangat nyantai. Hal yang saya observasi dari dia adalah ketika dia meludah dua kali. Kok kesannya kurang sopan gitu ya, meludah di dalam kampus ya walaupun liurnya itu masuk ke sela-sela bolongan besi, tapi kan tetep aja saya kurang setuju. Lagipula jarak antara kursi dan bolongan besi itu sekitar satu meter. Seandainya saat itu, ada orang yang nggak sengaja lewat di depannya terus dia refleks meludah, tentu nggak bisa dimaafkan ya. Saya juga sering sih lihat Bapak yang meludah di jalan. Literally, saya kurang suka sih kalau ada orang apalagi itu cowok yang meludah di jalan atau di tempat umum. Ya, ada baiknya kalau meludah mending ke toilet atau kamar mandi dulu atau kalau mau praktis, sediakan tisu lalu meludahlah dengan tisu sambil menutup mulut. Kita juga nggak tahu kan, barangkali ada orang yang jijik dengan melihat liur kita napak di jalan dan itu bisa jadi menyebarkan virus penyakit yang tidak sehat bagi yang nggak sengaja menginjaknya. 

Saat itu, saya tengah mencari tempat fotocopy lewat GPS, tapi berhubung sinyal lemot, akhirnya saya memutuskan untuk keluar kampus mencari sendiri dulu baru setelah itu kembali lagi. Saya pun dengan santai berjalan lewat tepat di depan orang yang meludah tadi. Dia dengan posisi kaki bak selonjoran (kakinya di rentangkan memanjang hingga hampir mencapai batas jarak dengan bolongan besi di depannya), saya lewati dengan santai tanpa permisi. Kenapa akhirnya saya seperti itu, sebab saya nggak mau jalan di koridor dekat bolongan besi yang sudah dia ludahi tadi. Saya sibuk melihat dan menata map berisi ijazah dan transkrip tapi mata saya sekilas melirik ke arahnya dan orang tersebut melihat saya berjalan di depannya mulai dari saya berdiri hingga saya berlalu beberapa detik dari hadapannya. Ya, memang sih, dia tidak merugikan saya, namun, karena dia sudah mengotori lantai yang harusnya nyaman untuk dilalui orang yang berjalan dengan liurnya, jadi saya berpikir terlalu sopan jika saya berjalan sambil permisi, toh, koridor itu juga jalan umum meski berdempetan dengan kursi tapi orang-orang bebas untuk lewat. Ya, semoga nggak ada lagi orang-orang seperti itu. Kalau ketemunya orang yang buang liur di pasar-pasar sih, saya masih bisa maklum ya karena pasar pun tempatnya seperti itu, tapi ini di kampus. Dan, baru kali ini saya melihat ada orang yang meludah di dalam kampus dan itu posisinya sedang duduk di depan lantai koridor. Kalaupun dia malu meludah, seharusnya lebih mendekat lagi ke bolongan jadi liurnya nggak nyiprat ke mana-mana.





Yap, segitu dulu ya cerita saya di balik foto-foto kaki ini. Memang sih fotonya kurang mencerminkan background ceritanya karena hanya ada kaki dan lantai gitu aja. Tapi, meskipun juga cerita di baliknya hanya cerita receh, paling nggak ada sedikit pesan di antara foto-foto kaki tersebut. 

Kalau kalian suka foto kaki juga apa nggak nih?

EATING WITH A MIRROR, WHY NOT?

Di android saya sudah terinstall aplikasi Flipboard saat pertama kali beli. Tadinya saya kira itu adalah situs chating atau sejenis games. Rupanya Flipboard itu adalah situs yang di dalamnya berisi banyak sekali bahan bacaan dari berbagai web orang. Sekilas seperti majalah atau koran elektronik yang memuat beragam informasi mulai tentang olahraga, pendidikan, pernikahan, relationship, desain, style dan berita-berita umum lainnya. Pagi tadi, saya kembali membuka Flipboard. Saya menemukan bacaan yang cukup menarik di sana yaitu tulisan bertajuk psikologi, membahas fenomena makan sendirian dari perspektif individu lanjut usia. 


Eating alone alias makan sendirian. Gimana menurut kalian? Apakah kalian termasuk orang yang suka melakukan segalanya sendirian termasuk juga soal makan? Atau kalian lebih suka makan bersama dengan yang lain? Salah satu penelitian menyatakan bahwa aktivitas makan itu dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Masing-masing orang mempunyai anggapan yang berbeda soal "rasa" dari makanan yang dikonsumsi. Uniknya lagi, tim peneliti dari Nagoya University menemukan fenomena perbedaan antara orang-orang yang makan sendirian dengan yang sering makan bersama orang lain/ditemani oleh orang-orang terdekatnya. Seseorang yang makan bersama orang terdekatnya semisal keluarga, kekasih atau sahabat cenderung mempersepsikan makanan yang dikonsumsi tampak lezat dan nafsu makan bertambah atau ada keinginan untuk makan lebih dan lebih banyak serta dalam porsi lebih besar. Sebaliknya, orang-orang yang makan sendirian, nafsu makan mereka cenderung menurun, mereka juga cenderung menganggap makanan yang sedang disantap tidaklah lezat sehingga aktivitas makan pun jadi terasa tidak menyenangkan.


Para peneliti dari Nagoya tersebut kemudian berinisiatif dengan melakukan sebuah eksperimen untuk menemukan sebuah solusi, bagaimana caranya agar orang yang meskipun dalam keadaan makan sendirian bisa sama menyenangkannya dengan orang yang makan ditemani orang lain. Makan ditemani orang lain ini disebut sebagai social facilitation of eating dan ini adalah gap yang ingin dipecahkan oleh peneliti tersebut

Dalam eksperimen itu, para peneliti merekrut sekelompok responden individu lanjut usia. Kenapa respondennya lansia sebab berbagai observasi dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lansia itu biasanya frekuensi eating alone-nya lebih tinggi daripada individu range usia lebih muda dari mereka. Kenapa lansia sering terlihat makan sendirian, sebab di masa-masa tua ini mereka dihadapkan pula oleh situasi kehilangan. Kehilangan orang-orang terdekat, entah itu suami atau istri atau situasi dimana mereka harus tinggal jauh dari keluarga atau mungkin sudah tidak punya keluarga. Menikmati makanan ini seperti halnya yang sudah saya jelaskan sebelumnya tadi itu merupakan faktor yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan frekuensi makan sendirian berkorelasi dengan depresi dan kehilangan nafsu makan.

Responden lansia tersebut kemudian diminta untuk makan sendirian tetapi sambil menghadap ke sebuah cermin yang diletakkan di depan mereka. Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan karena ternyata cermin bisa menjadi pengganti social facilitation tadi. Kehadiran bayangan diri sendiri di cermin sama halnya dengan kehadiran orang lain yang menemani mereka ketika makan. Sama halnya ketika para peneliti menempatkan monitor yang memuat foto dari responden tersebut, mereka (responden lansia) menyatakan bahwa aktivitas makan mereka jadi terasa menyenangkan dan keinginan untuk makan lebih banyak juga semakin meningkat. Jadi ternyata teknik self-reflecting menggunakan cermin dapat menjadi the social facilitation of eating meskipun tanpa kehadiran orang lain/orang terdekat untuk menemani seseorang tersebut makan. Self-reflection ini menyebabkan makanan akan tampak terasa lezat dan rasa ingin "nambah" jadi lebih meningkat. Begitulah sekilas penelitian dari Nagoya University yang dipublikasikan pada 2017 ini. 

Nah, menarik bukan? So, kalau kalian merasa kesepian saat harus makan sendirian dan pingin agar aktivitas makan bisa tetap menyenangkan? Coba saja makan sambil bercermin. Selamat mencoba eksperimen ini ya.

Sumber: 
en.nagoya-u.ac.id.jp/research/activities/news/2017/06/lost-your-appetite-try-inviting-yourself-to-dinner.html

OFFICIALLY M.PSI DAN REVIEW MAPRO PSIKOLOGI

Latepost banget dan baru sekarang ceritainnya. M.Psi alias Magister Psikologi Profesi. Gelar yang alhamdulillah udah saya dapatkan pada 26 April 2017 lalu (tertanggal lulus ujian tesis). Saya juga sudah wisuda pada 20 Mei 2017 lalu. Awesome? Bersyukur tapi kalau dibilang awesome nggak juga sih karena saya lulusnya 3 tahun sedangkan teman-teman lain ada yang 2 tahun dan ada pula yang 2,5 tahun. Dibilang kesal, sempat sih. Saya pun sudah banyak cerita pada postingan sebelumnya gimana cobaan yang saya dapatkan selama pengerjaan tesis. Ada masanya mengeluh, jenuh, malas, marah, sedih, senang, semua campur jadi satu. Mulai dari problem dengan dospem, harus ganti data subjek yang mana sama dengan terjun lapangan lagi, belum lagi hasil penelitian yang berbeda dari hasil sebelumnya dan sempat tidak diterima oleh dospem II dan urusan administrasi yang seharusnya mudah malah jadi diribetkan sama beberapa pihak kampus. Yap, tapi sudah sampai pada titik ini, saya patut bersyukur. Alhamdulillah sudah selesai.


Kalau masih ada yang bertanya kuliah di program magister psikologi profesi itu seperti apa? Kalian bisa scroll postingan terdahulu di Label Psychology . Di situ kalian bisa baca beberapa curhatan saya selama kuliah di mapro.

Sedikit akan saya review kembali. Bagi kalian yang berminat kuliah mapro psikologi, siapkan segalanya. Segala yang saya maksud adalah tentu saja biaya yang tidak sedikit dan tiap universitas range biaya juga beragam. Jika kalian ingin belajar untuk mengikuti tes masuk mapro, as your pleasure. Saya dulu jujur, tidak belajar sama sekali. Waktu itu, saya baru saja memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai dosen di Parepare lalu menuju ke Malang untuk kuliah lagi. Saat sudah ada di Malang, tiap pagi setiap harinya saya direpotkan dengan beragam urusan masak-memasak untuk mengganti mama yang biasa menyiapkan sarapan buat bapak. Belum lagi, rumah saya juga cukup jauh dari kampus sehingga selama tes berlangsung, saya meminta izin pada bapak untuk menginap di kos teman saya yang dekat dari kampus. Tesnya dilaksanakan pada pagi hari. Saya jelas tidak mau telat dong ya makanya sampai nginap di kos teman. Saat itu kos teman yang saya inapin lagi kosong karena dia pulang kampung dan dia juga sudah lulus mapro lebih dulu (teman kelas saya saat strata satu dulu). Jenis tesnya apa saja. Mungkin tiap universitas beda atau gimana, saya juga kurang tahu. Kalau di UMM, tes masuk mapro ya ada tes TPA (potensi akademik), tes pengetahuan seputar psikologi, tes kepribadian dan terakhir adalah tes wawancara. Waktu itu saya tesnya dari pagi sampai sore hari dan saya kedapetan urutan terakhir wawancara karena saya juga alumni UMM sebelumnya jadi saat wawancara yang ada malah ngobrol lepas sama dosen saya. Sekali lagi, saya tidak belajar, hehehe... Tapi mungkin karena sebelumnya saya juga mengajar di salah satu kampus, jadi beberapa materi umum alhamdulillah masih saya ingat tapi entah bagus atau tidak sih hasil tesnya waktu itu, saya juga tidak tahu :D...

Oh ya, di UMM itu untuk mapronya konsentrasi hanya klinis ya. Jadi, yang nanya apakah PIO atau perkembangan ada di UMM, saya tidak jawab ya hehe karena memang hanya fokus konsentrasi klinis. Konsentrasi lainnya bisa kalian dapatkan di kampus lain, semisal untuk mapro PIO kalian bisa kuliah di Unair dan sebagainya. Rajin-rajin browsing aja. Banyak kok mahasiswa mapro yang juga punya blog dan ceritain kisah-kisah mereka.

Kemudian siapkan fisik dan mental sebab bebannya lebih berat daripada waktu kuliah S1 Psikologi. Kenapa saya bilang bebannya berat? Pertama, jadwal kuliah yang padat mulai dari hari Senin sampai Jumat, dari pagi hingga sore. Matrikulasinya pun biasanya dilangsungkan pada hari Sabtu dan Minggu. Matrikulasi ini akan kalian jalani pada saat pertama kali setelah dinyatakan lulus tes masuk. Matrikulasi ngapain aja? Selama marikulasi, kita belajar bahasa inggris, terus.... dikasih kuliah tamu juga plus psikodiagnostik yang isinya alat tes untuk mapro ya (kalo sains tidak ada psikodiagnostik), hampir semua alat tes yang familiar dipelajari dimulai dari bagaimana cara mengadministrasikannya pada klien, skoring sampai cara menginterpretasi. Gampang kah? Unnnch...unnnch...hahaha kalau saya pribadi, mudah kok, yang sulit itu adalah sesi saat belajar tes Rorscach dan Wartegg, Sulitnya terletak pada skoringnya dan untuk pengadministrasian untuk asesmen klien juga sangat jarang ada yang pakai tes Ro dan Wartegg tapi especially Tes Ro punya kelebihan tersendiri karena cukup dalam satu alat tes ini kita bisa mendapatkan banyak informasi dari klien mulai dari inteligensinya, status mentalnya apakah ada kerentanan abnormalitas, kepribadiannya, gimana dia bersosialisasi dengan lingkungan dan sebagainya. Cuman yang bikin males ya skoringnya itu, karena gak mudah. Walaupun sudah dapat buku manual skoringnya dari kampus, tapi saya pribadi, masih belum berani untuk memberikannya sebagai instrumen asesmen bagi klien kecuali memang diwajibkan untuk memenuhi tugas kuliah yang saat itu disuruh nyari klien dan ngadministrasikan tes Ro itu sih.

Setelah matrikulasi selesai, perkuliahan pun dimulai. Senin sampai Jumat masuk kelas, mendengarkan ceramah dari para dosen. Kalau pengalaman saya di UMM, hanya selama dua semester (semester satu dan dua) kita duduk di kelasnya lebih banyak, selebihnya masih tetap turun lapangan mencari klien dan semester tiga dan empat mulai Praktik Kerja Profesi Psikologi (PKPP).

PKPP ngapain aja? Ini beda dengan Kuliah Kerja Nyata atau PKL ya. PKPP dilaksanakan sebanyak tiga putaran di tiga tempat berbeda. Tempat tersebut antara lain Sekolah SLB atau Lapas, RSJ, dan terakhir Puskesmas. Ngapain aja di tiga tempat itu? Ya praktik dong ya, berhadapan langsung dengan pekerjaan. Pekerjaannya adalah nanganin klien. Jadi, selama PKPP, kami diwajibkan mencari 7 kasus yang nantinya akan dilaporkan secara resmi dalam ujian HIMPSI. Saat praktik berlangsung, pastinya bukan hanya 7 kasus saja yang kita peroleh, melainkan sangat banyak kasus dan diharapkan tetap ditangani semua satu persatu meski ada kasus yang tidak diangkat sebagai 7 laporan kasus. Kasus apa saja yang dicari? Kasus gangguan anak, kasus gangguan dewasa, kasus keluarga, kasus kelompok, kasus komunitas, problem individu anak dan problem individu dewasa. Bedanya kasus gangguan dan problem, yang jelas problem itu bukan kasus gangguan (haha ya iyalah), problem itu ya kasus yang terkait dengan masalah-masalah psikologis tetapi belum masuk dalam taraf gangguan/disorder. Paham kan maksud saya? Ya, pasti paham lah ya. Jadi 7 kasus itu dicari di tiga tempat yang sudah saya sebutkan tadi.

Setelah PKPP, kemudian baru masuk Tesis. Sebenarnya selama PKPP berlangsung, bagi yang sudah ada judul dan konsep yang mantap untuk tesis malah lebih bagus jika bisa dijalankan keduanya. Tapi, bagi yang sanggup sih. Sebab, saya ngerti kok gimana rasanya memikirkan dan mengerjakan tujuh laporan kasus apalagi kalau mau ujian HIMPSI dan dituntut untuk revisi ketujuh-tujuhnya. HUooow... itu saja sudah menyita banyak waktu, kan. Kalau ada yang bilang, aah... itu mah biasa, ah.. itu mah gampil. Ya, silakan saja deh ya dirasakan sendiri. Make sure, jangan goyah selama pertarungan deh ya karena pas masuk PKPP sampai tesis itu, godaannya makin kencang. Godaan apa? Rasa malas, jenuh, lelah, sakit-sakitan dan lainnya. Jadi, kuatkanlah raga dan hati.

Setelah tesis kelar, wisuda deh. Setelah wisuda, menunggu jadwal untuk sumpah profesi yang mana dalam sumpah tersebut, kita dinobatkan secara resmi dengan sebutan Psikolog di belakang gelar M.Psi, dan dari sumpah tersebut, kita akan mendapatkan sertifikat sebutan psikolog serta SIPP (Surat Izin Praktik Psikologi). Jadi, bagi yang mau buka biro, buka klinik, praktik pribadi di rumah atau kerja di manapun bisa karena sudah ada SIPP dan sertifikat tersebut sebagai keabsahannya.

Yak, sekian ya review saya mengenai kuliah mapro psikologi semoga bisa membantu.

NB: Doain ya supaya buku baru saya bisa kelar saya kerjakan. Masih sangat molor karena butuh mood bagus untuk ngerjain. InshaAllah bukunya bisa bermanfaat bagi teman-teman yang masih bingung dan mau nanya-nanya terkait kuliah di jurusan psikologi. 

GANGGUAN TIC, APAKAH ITU?

Gangguan Tic--Image by Paresma

Kalian pernah gak sih lihat orang yang sering mengedipkan matanya berkali-kali? Atau apakah kalian pernah melihat seseorang yang menggerakkan bagian tubuhnya secara berulang hingga tak terkendali? Jika iya, waspada sejenak, bisa saja orang tersebut mengalami gangguan Tic.


Bagi kalian yang sudah pernah membaca mengenai gangguan tersebut lalu bertanya, apakah gangguan Tic itu sama dengan Sindrom Tourette? Saya pernah share tentang ini di Instagram saya April 2017 lalu. Di sini, saya akan menuliskannya kembali. Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita ketahui dulu, apa sih yang dimaksud dengan gangguan Tic? Mungkin kalian akan dengan mudah meng-googling tentang gangguan tersebut dan setelah saya browsing di beberapa situs juga banyak yang mengulas sampai menuliskan kriteria diagnostiknya. Di sini, saya akan membahasnya secara singkat dan semoga bisa dipahami ya.

Gangguan Tic itu adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai dengan gerakan sekelompok otot yang muncul tanpa disadari, kompulsif, tidak bertujuan, dadakan, dan terjadi terus-menerus baik dalam waktu singkat maupun lama. Tic juga dapat terjadi karena meniru gerakan/suara orang lain dan baru akan mereda ketika tidur.

Kalau tadi ada pertanyaan, apakah gangguan Tic ini sama dengan Tourette? Jawabannya adalah, gangguan Tic yang tidak ditangani dengan baik maka akan berkembang menjadi sindrom Tourette. Tidak hanya itu, gangguan Tic yang sudah parah hingga sudah masuk dalam stadium sindrom Tourette bisa saja muncul disertai gangguan lainnya atau bahasa ilmiahnya memiliki komorbiditas dengan gangguan mental lain diantaranya Obsessive Compulsive Disorder, ADHD, dan dalam tingkat derajat kronis, Tic bisa muncul disertai Conduct Disorder (bahasa awamnya gangguan perilaku kekerasan) sampai pada Self-Injury Behavior (Perilaku melukai/menyakiti diri sendiri). Serem amat yak?

Pada usia berapa sih gangguan Tic bisa diidentifikasi? Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoder atau DSM atau kitab sakti gangguan mental, Tic ini dapat terjadi pada usia onset 18 tahun.

Jenis-jenis gangguan Tic itu seperti apa sih?
Secara garis besar, Tic itu terdiri dari 2 jenis yaitu tic motorik (berupa gerakan di bagian tubuh) dan tic vokal (berupa suara) dan derajat keparahannya mulai dari ringan (mild) hingga sangat berat (severe). Gangguan Tic ini bisa terjadi selama satu tahun atau kurang dari satu tahun. Gangguan Tic ini beda tipis dengan gerakan yang kerap dilakukan oleh kebanyakan orang namun punya kemiripan dengan gerakan seperti mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tangan atau kaki tanpa tujuan dan terjadi secara berulang (bukan kejang). Namun, yang pasti, gerakan-gerakan yang terjadi pada gangguan Tic ini seringkali disertai dengan kecemasan berlebih sehingga gerakan tersebut akan semakin sulit untuk dikendalikan dan akan terus terjadi dan entah ini berita baik atau buruk, gerakan ini baru akan berhenti saat tertidur.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya gangguan Tic?
Tic bisa terjadi karena berbagai faktor antara lain:
  1. Aktivitas sistem syaraf pusat yang abnormal
  2. Ada masalah selama periode kehamilan, contohnya merokok, stress, obesitas dan konsumsi kafein selama kehamilan
  3. Buruknya kesehatan anak ketika lahir
  4. Stres sehari-hari pada anak yang terus berulang atau emosi kegembiraan yang ekstrem
  5. Modeling yang salah dari lingkungan
  6. Adanya disfungsi dalam keluarga (contohnya konflik pada orangtua, perceraian yang tidak berjalan baik pada orangtua atau ada trouble lain yang terjadi antar anggota keluarga di rumah)
  7. Trauma yang terjadi di sekolah pada anak-anak yang kemudian mempengaruhi cara dia dalam mengekspresikan dirinya.
Orang dengan gangguan Tic dan sindrom Tourette ini memerlukan penanganan yang serius. Penanganan yang diperlukan mulai dari terapi biomedis atau dengan obat-obatan (obat yang biasa diberikan oleh psikiater adalah sejenis pimozide atau huvoxamine, dan masih banyak lagi jenisnya). Selain biomedis, penanganan berupa psikoterapi juga diperlukan diantaranya pemberian Habits Revearsal Training untuk melatih agar bisa mengontrol atau mengurangi gerakan yang dilakukan, maupun langkah preventif sedini mungkin seperti penatalaksanaan Intervensi Psikoedukasi Keluarga mengenai gangguan Tic serta Intervensi akademik dan okupasi bagi anak dengan gangguan Tic yang bersekolah.

Agar lebih jelas lagi mengetahui tentang gangguan Tic ini, kalian bisa browsing video di Youtube, ketikkan kata kunci Tic atau Tourette, maka kalian akan menemukan cukup banyak video tentang topik ini. Saya pun pernah menonton salah satu video di Youtube tentang kisah nyata seorang anak (yang sekarang sudah berusia dewasa) yang berusaha mati-matian menyembuhkan gangguan Tic ini bersama kedua orangtuanya. Anak tersebut bahkan teramat sulit mengendalikan gerakan-gerakan yang muncul hingga rumahnya tampak seperti "kapal pecah" akibat gerakan yang dilakukan dan tentu saja hal itu di luar kontrolnya. Sampai akhirnya, mereka satu keluarga bertemu dan berkonsultasi dengan salah satu psikolog dan gangguan Ticnya berangsur-angsur tertangani.

Yap, sekian dari saya ^_^ Happy fasting

NANO-NANO UJIAN TESIS

"As the facts change, change your thesis. Don't be a stubborn mule, or you'll get killed."
-Barry Sternlicht-


Dua puluh enam April 2017, saya resmi menyandang gelar M.Psi, Psikolog., di belakang nama. Sama seperti tahun 2012 lalu, ujian skripsi berlangsung di bulan April dan sekarang tesis pun demikian, di bulan April juga.

Saya benar-benar cengeng. Setelah ujian selesai dan menunggu pengumuman sampai dipanggil masuk kembali ke dalam ruang ujian, saya menangis di depan dosen pembimbing dan penguji. Kenapa saya menangis? Beginilah ceritanya...

Selasa sore saat baru bangun tidur, handphone jadul saya berdering. Salah satu petugas Tata Usaha Pasca menelepon untuk memberitahukan bahwa besok yaitu hari Rabu pagi jam 08.00. Malam harinya saya belajar membaca kembali tesis yang sudah saya tulis. Keesokan harinya, saya berangkat dari rumah pukul 06.40. Kenapa pagi sekali? Karena rumah saya jauh dari kampus. Sebagai seorang pengendara yang nggak berani ngebut di jalan, saya harus menempuh waktu sekitar kurang lebih 30-40 menit untuk tiba di kampus. Rumah saya di Sawojajar dan kampus saya, UMM terletak di Jalan Tlogomas yang sedikit lagi menuju kota Batu (tapi bukan di Batu ya).

Saya langsung masuk ke ruang Workshop yang ada di dalam ruang Tata Usaha. Saya kemudian menyiapkan laptop dan menyalakan LCD Proyektor. Saya duduk sambil membaca bahan presentasi saya agar tidak gugup nantinya. Pagi itu entah kenapa saya tidak merasa panik ataupun gundah gulana. Saya tampak begitu santai, tidak ada deg-degan sama sekali.

Dosen-dosen pembimbing sudah datang, disusul oleh salah satu dosen penguji. Jam sudah menunjukkan pukul 07.53 namun satu dosen penguji lainnya belum juga datang. Salah satu pembimbing saya menelepon ibu penguji itu dan ternyata si penguji itu lupa, dikiranya ujian berlangsung pukul 08.30 padahal harusnya pukul 08.00. Molor lah sekitar 15-20 menit baru pembimbing membuka ujian.

Saya diminta untuk berdoa lalu mempresentasikan hasil penelitian selama 15 menit namun saya rasa tidak sampai 15 menit juga kok saya presentasi. Alhamdulillah lancar, apa yang saya sampaikan menurut saya cukup bisa dipahami.

Setelah itu lanjut pada sesi pengujian. Dosen penguji pertama (si ibu dosen yang telat datang tadi) memberikan banyak sekali pertanyaan. Ya, namanya juga diuji gitu ya. Namun, saya sempat kesal karena beliau bertanya bertubi-tubi sebelum saya benar-benar menuntaskan jawaban dari satu pertanyaan. Beliau juga tidak menampakkan raut senyum, wajahnya benar-benar kaku. Ya, kami semua tahu background beliau yang cukup menyita perhatian jadi wajar saja bila beliau tidak memiliki sifat keibuan. Akhirnya, saya sempat down dan lelah menjawabnya, lebih banyak diam dan mengiyakan. Apa saja yang ditanyakan. Ya mulai dari teori, konteks, konsep dan definisi dari variabel, alat ukur, metode, sampai penulisan kalimat. Yaa semuanya dari awal sampai akhir lembar tesis ditanyakan. 

Lalu dosen penguji kedua (laki-laki), beliau cukup humoris sehingga saya terhibur dan perasaan down saya luntur pelan-pelan. Saya mendapat banyak masukan dan perbaikan dari penguji kedua. Sungguh kontras dengan penguji pertama, yang hanya bertanya namun tidak memberi pelurusan atas jawaban saya, apakah sudah tepat atau perlu dibenahi.

Ada satu hal yang saya sesali dan itu hanya masalah teknis dari tesis ini. Saya pun dinyatakan tidak mengulang a.k.a lulus ujian namun dengan catatan revisi yang cukup banyak. Sempat berharap dan yakin bisa dapat nilai A, namun harapan itu tampaknya luruh seketika setelah saya menangis pada saat pengumuman.

Saya menangis karena pertama, saya terharu dan memang kebiasaan saya setiap sedang ada sesuatu, pasti akan menangis terlepas dari apakah itu sedih atau senang tapi bukan masalah sedih atau senang. Air mata saya memang cukup mudah keluar, itulah kenapa saya mudah nangis. Teman-teman saya pun tahu dan sudah mengerti dengan kondisi saya yang seperti itu. Kedua, saya menangis karena merasa tampaknya saya gagal mendapatkan nilai A dengan kesalahan teknis di akhir yang bagi saya ya kenapa tidak saya cek sebelum pengumpulan dan seharusnya saya tidak patuh dengan aturan format itu.

Saat menangis, dosen pembimbing bertanya bagaimana perasaan saya selama tesis ini. Saya sebenarnya ingin bercerita panjang namun saya juga malu bila harus curhat di depan dosen. Saya hanya mengatakan apa yang pertama kali tersirat di pikiran yaitu saya cukup senang dan lega karena sudah menyelesaikan tesis tersebut walaupun hasilnya ternyata tidak sesuai dengan teori sebelumnya namun hal itu bisa jadi bahan pembelajaran bagi penelitian selanjutnya bila ada yang ingin meneliti tentang apa yang sudah saya angkat.

Dan, setelah teman saya pun selesai ujian, siangnya, ada satu teman geng saya yang datang membawakan bunga. Itu kali pertama saya mendapatkan bunga mawar setelah ujian dan diberi selamat langsung pasca ujian. Kami bertiga pun berfoto untuk kenang-kenangan lalu pulang setelahnya ke rumah masing-masing (tidak sempat makan siang bareng karena teman geng saya harus pulang sebab ada anak dan suami yang harus dia urus).

Begitulah cerita pas saya ujian tesis. Saat ini sisa menunggu wisuda kemudian menunggu jadwal sumpah profesi berikutnya untuk mendapatkan Surat Izin Praktik Psikologi. Yap, I'm officially being a psychologist.

NGOMONG SENDIRI, PERLU GAK SIH

"Self-talk reflects your innermost feelings" 
-Asa Don Brown-


Apakah berbicara pada diri sendiri selalu dicap abnormal? Tentu tidak. Berbicara pada diri sendiri atau yang dalam bahasa Inggris disebut self-talk ini memiliki beberapa manfaat. Berbicara sendiri yang dilakukan oleh orang dengan gangguan psikotik dan self-talk yang saya maksud itu berbeda ya.


Menurut Professor Psikologi, Gary Lupyan dari Universitas Wisconsin, self-talk bukanlah perilaku abnormal. Seorang psikolog di bidang pertanian yaitu Anne Wilson Schaef dan psikolog dari Universitas Michigan yaitu Ethan Kross menambahkan bahwa berbicara pada diri sendiri atau self-talk yang semisal dilakukan oleh seseorang di depan cermin, bisa memberikan manfaat. Manfaat tersebut antara lain membantu seseorang menguatkan memorinya mengenai hal yang dibicarakan. Kok bisa? Saya yakin kita semua pernah melakukannya, sadar atau tidak. Seperti saat hendak berdiri di panggung untuk melakukan sebuah pidato, sebagian orang ada yang memilih untuk menghapalkan naskah pidatonya dengan cara self-talk, berdiri di depan cermin kemudian melihat apa yang telah ditulisnya di kertas lalu menghapalkannya sedikit demi sedikit. Teknik seperti ini cukup membantunya untuk memahami serta mengingat apa saja poin-poin penting atau isi yang ingin disampaikan melalui pidatonya. 

Self-talk ini membuat kita bisa mengorganisir dan memfilter mana hal-hal yang prioritas, mana yang penting namun bisa ditunda dan mana yang benar-benar tidak penting. Melalui self-talk, kita bisa memahami dan menguasai diri sendiri. Ketika kita baru saja mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, pasti akan berpikir bagaimana cara untuk menghindari agar tidak gagal/salah kedua kalinya, menerima dan mengakui kesalahan itu dengan jujur, memaafkan diri, membuat planning dan memberi motivasi untuk teguh mewujudkan planning tersebut ke dalam perbuatan nyata bahkan menciptakan produk kreatif yang mungkin bisa memberi manfaat bagi orang lain juga. Kita pun bisa menemukan hal mengejutkan terjadi pada diri kita apabila konsisten dan commit melakukan berbagai perbaikan diri dan itu semua bermula hanya dari self-talk.

Manfaat lainnya adalah menenangkan seseorang sehingga dapat mengontrol emosinya ketika akan atau tengah menghadapi bahaya. Nah, ini biasanya yang paling sering terjadi. Saat kita dalam keadaan under pressure atau sedang dalam situasi tertekan, cemas berlebihan maka tidak jarang akan keluar kalimat-kalimat tertentu dari bibir kita. Ada yang bersumpah serapah sampai mulutnya penuh dengan kebun binatang dan ada pula yang memilih kalimat-kalimat positif seperti, "sabar", "kuat, "aku pasti bisa", "semangat" dan sebagainya. Iya, nggak? Kalimat-kalimat positif dalam self-talk yang kita lakukan ini bisa memantik rasa percaya diri seseorang sehingga mampu menghadapi situasi tekanan tersebut.

Self-talk ini juga merupakan salah satu teknik dari psikoterapi dengan pendekatan perilaku atau behaviorisme dan ini sering digunakan oleh para ahli ataupun psikolog kepada kliennya. 

Self-talk bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak harus menunggu ada situasi penuh tekanan dulu kok. Setiap malam sebelum tidur, saya pribadi pun sangat sering melakukan self-talk. Bukan karena mentang-mentang saya tidur di kamar sendiri tapi saya memang orang yang cukup sering berbicara pada diri sendiri sebagai sebuah bagian dari proses introspeksi, refleksi, atau kontemplasi atas kesalahan, kegagalan, keberhasilan dan apapun yang terjadi pada hari itu. Ya, pikir saya, tidak perlu menunggu orang lain untuk memberi pujian atau menyemangati diri kita. Kitalah yang sangat paham terhadap diri kita dan kita pulalah yang terlebih dahulu harus menyemangati diri sendiri.

Sudahkah kita self-talk?

CERITA SEMHAS TESIS (PSIKOLOGI PROFESI S2)

"I agree that exam has its own pressure, but not in my dictionary. In my dictionary, no exam no pressure there is only one word and that is happiness." 
-M. Rishad Sakhi-


Ini late post banget. Semhasnya udah dari kapan tapi baru sharing sekarang. Tapi, izinkanlah saya untuk mengisi kekosongan blog ini lah ya setelah sekian lama. Saya tahu di sini banyak silent reader yang juga suka baca seputar kehidupan per-kampus-an saya. Mumpung saya masih berstatus sebagai mahasiswi (yang sebentar lagi bakal out karena selesai) jadi gak papalah di detik-detik terakhir begini saya mulai cerita-cerita lagi.



Semhas alias seminar hasil. Kalau dulu zaman saya S1 nggak ada yang namanya semhas-semhasan. Setelah seminar proposal, langsung sidang skripsi. Tapi karena peraturan perkampusan semakin memperbaharui diri jadilah ada chapter yang namanya semhas.

Gimana semhas kemarin? Hahaha kalau aja ada opsi jawaban yang lebih baik maka kayaknya nggak ditanya pun juga nggak papa. Tapi, ini perlu ditanyakan sebab dari jawaban yang akan saya lampiaskan di sini, agaknya bakal jadi kisah yag sedikit ngenes.

Yap, saya berdua dengan teman saya ibarat ekor yang tertinggal. Banyak yang udah pada ujian dan wisuda, tapi karena kami berdua pergerakannya lamban disebabkan satu dan lain hal hasilnya ketinggalan untuk ujian.

Ngurus semhas pun sempat maju mundur karena pada hari dimana teman-teman pada ujian, saya dan teman saya tersebut masih harus ngejar dosen buat bimbingan dan memastikan layakkah kita nyusul nyelempit di sela-sela ujian bareng teman-teman lain. And finally, bagi yang ngikutin cerita saya, pasti udah tahu jawabannya kalau dosen pembimbing 2 sempat nggak ngasih lampu hijau buat ikut ujian. Keluar dari ruang bimbingan pun saya pakai adegan menangis segala ditambah pelukan salah seorang teman geng yang bikin air mata saya makin meleleh karena sensitif. Flashback ke hari-hari itu bikin saya ketawa sekaligus nyeletuk sendiri, ih kok saya segitu banget ya, ih nggak banget deh saya cengeng kayak gitu. Bahkan saya pun sempat posting hal-hal yang mellow di Instagram seolah kejatuhan bencana. Hahah lebay, tapi sudahlah, masa-masa itu udah lewat.

Saya masih ingat, gimana rempongnya saya mengejar untuk tanda tangan semhas dosen pembimbing 2. Saat itu saya lagi ditinggal sendirian di rumah karena semua orang rumah pada ke Madiun buat acara 100 harinya simbah kakung. Teman saya juga nginap di rumah saya buat nemenin dan kami pagi-pagi sudah go to kampus buat ngejar pembimbing 2. Pagi itu sampai pusing, nungguin di GKB lantai 5, belum juga ada tanda-tanda beliau datang. Nggak tahunya dapat sms kalau ibunya ada di Puskesmas lagi ngantri dan saya disuruh cabut nyusul ke situ. Eh, nggak sampai dua menit, ternyata pas saya baru turun dari mobil teman saya, ibunya udah cabut. Saya pikir balik ke kampus, udah ditungguin nggak tahunya baru balas WA kalau beliau pulang ke rumah dan diminta ke rumahnya.

Dengan jantung dag dig dug seeer, saya sampai menyuguhkan naskah saya dan menawarkan apakah beliau ingin baca dulu. Tapi sungguh sangat tidak mengenakkan jawaban ketika beliau bilang, "Nggak usah nanti aja pas ujian." Padahal ini kan baru mau semhas dan belum ujian. Entah ini hati jadi trenyuh atau cekit-cekit, rasanya satu sisi lega karena dapat tanda-tangan buat buku merahnya tapi di sisi lain mendengar ucapan beliau seolah masih menandakan ketidakrelaannya memberi izin buat semhas.

Sebelum itu lebih heboh lagi ceritanya. Jadi, saya ke kampus itu bener-bener nggak niat ngampus karena cuman buat nemenin teman saya si ibuk (yang sekarang udah lulus duluan). Saya ke kampus cuman bawa tas kecil ditambah pakai sandal jepit. Iya sandal jepit meeeeen... sandal yang bener-bener jepit. Jangan ditiru ya, bener dah jangan ditiru. Lalu, saya ketemu dengan teman saya itu yang sebimbingan dengan saya. Dia emang dasarnya udah niat banget buat maju sedangkan saya sempat babibu mundur karena sebelumnya melihat respon pembimbing 2 yang aduhai bikin jantung mau copot dan nangis darah. Tidak lama pas teman saya sudah menghadap dosen pembimbing 1, tetiba pas dia keluar, teman saya itu bilang kalau saya dicariin oleh pembimbing 1. Ibunya bahkan ujug-ujug sempat nengok dan nyamperin pembimbing 2 dan minta agar kami berdua segera semhas, tapi posisinya di saat itu pembimbing 2 ogah ngasih persetujuan karena alasannya sibuk untuk ngeladenin ujian-ujian mahasiswa lain yang memang lebih didahulukan.

Saya duduk-duduk di balkon lantai lima sambil nemenin si ibuk buat ketemu sama dospemnya buat minta salinan spss. Eh, tak berapa lama, dospem 1 saya keluar dan nyamperin saya, "Kamu sudah siap semhas nggak?" Dengan berat sekaligus senang sekaligus sedih juga saya menjawab dengan agak nggak niat, "Siap, Buk." Bu dospem tersebut cuman ketawa senyumin saya tapi mungkin juga sekaligus senyumnya itu buat memotivasi agar saya bisa maju lagi dan nggak nyerah cuman gegara dospem 2. Benar lah adanya, akhirnya sampai ngebut kelarin naskah buat ikut semhas.

Dan... entah malam ke berapa saya masih sendiri di rumah. Belum lagi harus beli kue buat dosen dan para undangan. Soalnya syaratnya harus ada tamu/mahasiswa minimal 5 orang yang ikut nimbrung buat ngehadirin semhas kami. Alamat di hari sebelumnya kami memang sudah mengundang beberapa teman untuk hadir meski gak semua. Tapi, apa yang terjadi pas hari H? Mereka yang notabene lebih banyak merupakan anak bimbingan dosen lain yaitu Pak La, tiba-tiba di jam yang sama dengan jam semhas kami mereka bimbingan di Kampus 1. Alhasil, siapakah yang datang??? Hanya si tante teman saya yang datang. Selebihnya, pagi-pagi itu saya dan teman saya harus nyari tambahan personil. Kami berdua kelilingin GKB nanya apakah ada yang bersedia ikut. Nyatanya kami ditolak. Tapi, kami nggak nyerah. Kami pun mencar. Saya turun ke GKB lantai 3,5 dan mendapatkan dua orang mas-mas yang lagi santai duduk sambil main hape. Saya tawarkan apakah mereka sudi kiranya dan alhamdulillah bersedia. Malah mas yang satunya baik banget mau manggilin satu temannya lagi walau akhirnya nggak bisa datang temannya. Dan jumlah audiensnya berapa??? Lima orang. Ya ngepas banget yak lima biji sesuai standar minimal. Duh miris-miris.

Tapi meskipun demikian, ada sebuah keajaiban yang terjadi (menurut saya aja sih). Dospem 2 nggak turut hadir karena sakit sehingga yang datang hanya dospem 1 kami. Eh..eh.. ini bukan keajaiban tapi kemirisan, hehehe...

Keajaiban yang saya maksud adalah, saya jadi mikir dan merasa-rasa, kok saya bisa lancar ya ngejelasinnya, to the point ngomongnya, dan nggak njelimet mutar bolak-balik kayak biasanya. Padahal, seperti yang sudah pernah saya posting waktu dulu kalau saya ini cukup kurang di komunikasi lisan, I mean berantakan banget ketimbang saya nulis, masih lebih baik tulisan saya dibaca daripada kalau dengerin saya ngomong. Mungkin karena berkat draft yang saya tulis di memo note sebelumnya kali ya jadi saya hapalin dan akhirnya saya lumayan lancar dan lugas ngejelasinnya. Alhamdulillah teman-teman audiens yang memang mereka berempat itu adalah dari fakultas non psikologi jadi lebih mudah paham maksud penjelesan saya.

Hasil semhasnya gimana? Inilah bagian yang awalnya tidak saya duga bisa seperti itu. Ibarat kata nih harus turun lapangan lagi karena kriteria usia yang saya gunakan agak melenceng dan dospem 1 saya pun juga bilang ini kecolongan nggak diperiksa lagi saya beliau juga apakah layak atau nggak pakai kriteria dinkes itu. Akhirnya, tidak mengapa karena saya punya banyak isian kuesioner jadi nggak masalah walau harus revisi jor-joran.

Semhas itu adalah semi-semi sidang akhir. Sebenarnya selama ini kerap ditambahin embel-embel menakutkan bin menegangkan. Tapi, sebenarnya nggak bakal ada sesuatu yang menakutkan kok kalau kita bisa me-nyantai-kan dan merilekskan diri di hari sebelumnya ditambah persiapan yang baik dan lengkap, momok ujian atau sidang yang nakutin insha Allah nggak bakal ada kok.

Saya sempat sedikit desperate sebab hasil penelitian saya jauh di luar dugaan. Yang biasanya di penelitian lain untuk korelasi x dan y nya itu positif mulu ya, tapi di penelitian saya jadi negatif hanya saja setelah ada peran moderator, maka moderasinya jadi positif sesuai dengan perkiraan.

Membutuhkan waktu lama bagi saya untuk bisa menghadap bimbingan kembali karena nyari jurnal pendukung x ke y yang agak susah. Awalnya saya dapat korelasi yang kebalikannya, namun syukurlah ada penelitian yang menjelaskan kenapa akhirnya korelasinya tersebut bisa saja bernilai negatif signifikan karena faktor di lingkungan pun juga nggak bisa kita kendalikan kan. Apalagi penelitian tentang lansia, jangan harap bakalan sama plek hasilnya dengan penelitian di Barat karena kondisi lansia tipe tanah air ini unik-unik jadi hasilnya pun bisa jauh berbeda dari hipotesis.

Well, menurut saya juga menurut dosen pembimbing 1 saya nggak ada yang disalahkan sebab penelitian itu memang sejatinya nggak mesti selamanya sesuai dengan hipotesis karena satu dan lain faktor yang sometimes memang nggak bisa kita kontrol.

Apapun itu, baik itu semhas atau sidang, nggak ada yang perlu ditakutkan. Kedua hal tersebut adalah sama-sama wadah untuk proses belajar, belajar ngomong, belajar presentasi, belajar menyampaikan hasil dari penelitian yang sudah dilakukan, belajar buat jawabin pertanyaan penguji dan belajar belajar lainnya, heheh

Btw, doain saya yah, inshaAllah sisa minta acc tanda tangan buat buku merah dan daftar buat ujian aja. Semoga maksimal minggu ini atau minggu depan udah ujian jadi bisa lebih cepat kelar urusan perkampusannya.

Ini sekarang lagi bingung mo bikin poster karena teman-teman kalau ujian kudu pakai poster. Ribet juga sih ya. Omaygat, saya aja nanya sama pangeran kodok, cuman nanya poin-poin yang dimasukkan buat di poster apa aja nggak dijawab, ya ampuuun cuman dibilangin sama dia buat usaha dulu. Omaygat, beginilah ya kalau punya pangeran kodok yang kelewat nggemesin, disuruh mandiri, nanya pun kadang nggak mau dijawab. Ya ya, saya ngerti kok karena dia itu selalu ngingetin buat usaha sendiri dulu, bikin sendiri nggak usah banyak nanya, begitulah prinsipnya dia. Nggak papa juga sih karena memang dia itu walau kebangetan tapi sebenernya mau saya bisa lebih mandiri dan langsung bertindak cepat daripada kebanyakan nanya.

Oke fix.
Ini cerita saya pas semhas/seminar hasil. Gimana dengan kamu? Semoga menyenangkan ya hehehe ^_^

FINALLY, HATINYA LULUH

"In three words, I can sum up everything I've learned about life: It Goes On." 
 -Robert Frost-


Alhamdulillah 'ala kulli haal... Di pagi yang cerah ini izinkan saya untuk menulis sesuatu yang mencerahkan pula.


Kalau kalian rajin mantengin cerita saya soal perkuliahan pasti bisa mengendus hal apa yang akan saya tulis. Yaaaappp... saya sangat excited. Jumat kemarin, dengan langkah terhuyung-huyung dan mata yang tampak berkunang-kunang nyaris pingsan karena masih belum sembuh dari thypus, saya sudah menghadap ke pembimbing dua. Alhamdulillah tidak banyak pertanyaan yang diajukan dan semua sudah fix. Hari ini seharusnya saya ke kampus untuk bayar sidang tesis dan minta tanda tangan, but lemme to take a few rest sehari saja.

Saya sangat lelah karena hari Minggu kemarin menghadiri acara mantenan tante saya (adek bungsu bapak) dan ditambah kepala saya masih pusing entah kenapa plus juga jerawatan muncul membludak di pipi dan dahi saya (dan saya pun sedikit malu karena pas vcall sama pangeran kodok semalam, saya diledekin jerawatan...jerawatan... sama dia).

Allah Maha Baik. Pas saya bimbingan Jumat tempo hari udah sambil gemetaran dan keringat dingin karena masih efek dari sakit juga. Saya pikir bakal dicecar habis karena lama gak ketemu beliau. Eh, akhirnya hati beliau luluh juga seluluh dia bertanya pada saya, "Kamu sakit ta?" Hahah saya waktu bimbingan udah kedip-kedipin mata berkali-kali bukan buat menggoda tapi karena pandangan mata saya tiba-tiba menggelap dan rasanya seperti berkunang-kunang.

Selesai lah ya perkara dosen pembimbing 2. Yang lebih romantisnya lagi, Dosen pembimbing 1 so sweet banget sampai nanyain kabar saya dan satu teman yang memang kami berdua udah lama sekali bimbingannya tapi katut gak ikut wisuda Februari kemarin. Dospem tersebut sampai nyariin kita seharusnya kita sudah ujian minggu lalu atau minggu ini. Sampai-sampai beliau nanyain kita ke mahasiswa sains (memang anak sains kenal sama saya? hahah kalau si Mbak Din mungkin mereka kenal, lah kalau Bu Diah nanyain saya ya mana ngerti mereka yang mana orangnya).

Insha Allah bismillah sebentar lagi bakal ujian. Saya udah rela serela-relanya bakal dibantai atau nggaknya pas ujian nanti karena saya udah ngerjain semaksimal mungkin namun memang hasilnya agak berbeda dari penelitian-penelitian yang sebelumnya dan itu karena kondisi di Indonesia berbeda jauh dari cerminan penduduk di Western apalagi lansianya. 

Saya hanya berharap semoga hasil penelitian saya ini setidaknya bisa sedikit memberikan manfaat lah ya bagi lansia-lansia di Indonesia khususnya di kota Malang ini, hehehe. Yah, habis ini mulai memikirkan mau ke mana setelah sumpah nanti? Tadinya keukeuh pengen kerja di rumah sakit, tapi kok kata pangeran kodok, ada yang kerja di rumah sakit, gajinya kecil banget ya. Hmm... selain soal pekerjaan, saya pun harus segera menyelesaikan draft buku baru. Semoga bukunya bisa lolos sensor untuk terbit jadi tahun depan saya punya karya baru lagi. Dan, satu hal lagi, tampaknya saya agak kalah gerak karena beberapa waktu lalu saya menemukan ada sebuah novel baru yang diterbitkan oleh penerbit tempat saya nulis juga dan di novel itu pakai setting Austria... Ckckck... padahal saya juga pengen banget bisa nulis novel lagi dan latarnya pakai negara Austria. Ayo dah, pelan-pelan, satu-satu dulu dikerjain, bismillah semoga nanti ada kesempatan bisa nerbitin novel lagi.

Saya juga ngerasa sepi banget kayaknya pembaca ni gegara saya kelamaan vakum dan itu juga sampai kerasa di pendapatan saya hahaha... Iya lah, habisnya bingung juga sih ya kalau pemasukan dari hasil menulis kosong bolong ploong, terus apa yang mau dilaporkan pas SPT Tahunan. Nah loh. Makanya kudu semangat. Nggak boleh kalah sama pangeran kodok yang udah punya kerjaan tetap. Saya juga mau ikut sukses biar bisa nabung buat masa depan. Nabung buat nikah juga hiihihi... aah, nikah ntar dulu. Coba untuk sedikit memapankan diri dulu lah ya biar bisa lebih dewasa lagi. Masih mau perbaiki diri juga lebih dan lebih lagi. InshaAllah kalau diri kita baik maka pangeran kita pun nanti akan turut memperbaiki dirinya.

Semangaaaat

STILL HERE, STILL WAITING

"If I die, I will wait for you, do you understand? No matter how long. I will watch from beyond to make sure you live every year you have to its fullest, and then we'll have so much to talk about when I see you again." 
-Bones- 

I'm still here without complaining
Waiting for such a good thing
Even if the rain is not falling
This green coat, I'll always bringing
If the rain is coming
I'll never leave this bench until you come and sitting
I want to hear what the answer you'll showing
Will it be nothing or completing
Will it be arguing or saving
I just can't saying
The words in my throat are stopping
I just wanna you knowing
I hope you'll be here, beside me, hold my hand tightly, make a joke with a silly face, forever... and let the time will revealing
Sincerely, I just can't moving
Even if a second in timing
It will be a hard thing
To sweep all my feeling
Even if I always trying
So, could you just be with me in staying?
Or, if you wanna going (somewhere)
Could you just picking (me up)
I know I have the other things for choosing
But I just don't wanna open my eyes for seeing
Cause the other captures is always better in drawing
Without you, I'm so tiring