Pages

BAD SILENCE CAN KILL YOUR RELATIONSHIP



Silence is golden
---------

Saya pikir, kalian pasti sering mendengar atau membaca kalimat ini. Benarkah bahwa diam itu identik dengan "emas"? Benarkah bahwa diam itu adalah jalan terbaik? Benarkah diam itu akan menyelamatkan banyak hal? I'm not sure if it will heal everything or be the best thing at all. Kenapa? Because silence can also destroy our relationship with our partner or others. 

Dalam hubungan percintaan, pernikahan, pertemanan dan social relationship lainnya, siapa sih yang tidak bad mood ketika pasangan/teman/rekan kita diam saja? Ketika seseorang sedang dilanda sebuah masalah, respon yang muncul pasti bermacam-macam. Ada yang fight for it tapi ada juga yang flight from it. Diam termasuk salah satu respon flight from it. Terkadang, seseorang memilih untuk diam saat lelah karena ucapannya tidak didengarkan. Ada pula yang diam karena menghindari situasi yang lebih fatal jika mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Biasanya, orang-orang yang tergolong conflict avoider adalah mereka yang takut akan kritik sebagaimana mereka takut dengan penolakan dan amarah. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus maka bisa menyebabkan berkurangnya keintiman atau kedekatan dan memicu kebencian pada pasangan/teman/rekan kerja.

Diam juga tidak salah jika bisa memposisikannya dengan benar dan tidak berlarut-larut. Sebagai contohnya, dalam hubungan percintaan, diam bisa berubah menjadi racun jika hal itu sering terjadi antara kita dengan pasangan. Ketika marah atau tidak suka dengan perilaku/ucapan pasangan, ada orang-orang tertentu yang memilih untuk mendiamkan sejenak. Mostly, mereka berpikir bahwa jika berterus terang, mungkin saja akan keluar kata-kata yang bisa lebih menyakiti pasangannya. Benarkah? Mungkin saja ada benarnya, namun, jika memiliki pasangan yang notabene ekspresif sementara kita cenderung lebih sering menarik diri saat terjadi konflik berdua, maka keeping quiet will only make things worse. Diam dalam hal ini tentu tidak akan pernah bisa menuntaskan masalah. Jika kita diam untuk menenangkan diri sejenak, menunggu sampai suasana hati calm down dan situasi agak tenang, itu tidak masalah. Tapi, diam dan mengabaikan pasangan berlarut-larut sementara pasangan kita sudah mulai membuka diri untuk membahasnya dengan lapang hati dan kepala dingin, maka hal itu bisa membuat pasangan ikut terluka.

What kind of silence which can lead to relationship damaged?

Not responding text messages, no need to explain and hearing or rejecting calls for amount of time

I understand because mostly, it may take us a while to respond a text from our partner or others. Entah karena sedang sibuk bekerja, sedang ada jadwal kuliah dan harus keep your phone silent, sedang mengendarai kendaraan dan terjebak macet atau karena urusan yang reasonable or understandable lainnya. 

Sebelum membahas poin intinya, saya ingin bercerita dahulu.
Terkadang ada sih memang orang yang tidak mau tahu urusan kita apa dan tidak peduli mau kita sedang sibuk atau tidak, ya harus ingat untuk membalas pesan atau menelepon secepatnya. Biasanya hal ini sering terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan atau hubungan yang sifatnya formal/berhubungan dengan pekerjaan. Setiap orang dituntut untuk memberikan performa terbaik dan menuntaskan semua pekerjaanya secepat dan sebagus mungkin. Pressure yang cenderung tinggi di kantor kadang tidak diimbangi dengan relationship yang baik dengan sesama rekan kerja. Apabila atmosfer ini tercipta terus-menerus maka tidak heran sih jika banyak kita temui kasus dimana karyawan hengkang dari kantor. 

Aroma kompetisi antara karyawan pun tidak jarang bisa melukai hubungan kerja mereka. Sebagai contoh, salah seorang kerabat saya pernah bekerja di salah satu bank pemerintah. Namun, karena di tempat kerjanya rata-rata teman kerjanya memiliki jiwa kompetitif yang tidak sehat (I mean, saling menjatuhkan) dan atasannya pun kurang lebih sama seperti itu, kurang peduli terhadap karyawannya. Tidak lama setelah itu dia akhirnya memutuskan untuk resign. Dia tidak tahan dengan banyaknya tuntutan ini-itu sementara atasan dan rekannya tidak pernah mau "mendengar" usulannya dan tidak peduli apapun kondisinya. Padahal dia belum lama bekerja dan posisinya pun cukup bagus. Lebih parahnya lagi, dia sempat mengalami depresi. Ya, depresi yang saya maksud bukan depresi receh yang kadang anehnya serng ditampakkan dengan bangga oleh orang-orang di sosmed hanya untuk mencuri perhatian, melainkan depresi betulan yang sudah terdiagnosa sebagai gangguan jiwa. Depresinya cenderung berat karena sudah ada tanda-tanda gejala psikotik. Bahasa ringannya, sudah setengah gila (karena saya yakin tidak banyak yang familiar dengan kata "skizofrenia" jadi saya pakai bahasa awamnya "orang gila").

Nah, apa sih hal yang bisa dipetik dari sosok rekan kerja yang tidak mau tahu, atasan yang arogan dan tidak mau mendengar penjelasan/keluhan karyawannya sedikit pun seperti kisah di atas? Yap, kembali ke poin pertama dari bentuk silence yang bisa merusak hubungan. Ini sama halnya ketika kita sedang marah dengan pasangan atau teman lantas kemudian enggan membalas pesannya dan me-reject teleponnya berkali-kali bahkan tidak mau mendengar apapun dari dia dalam waktu yang lama.

Jika memang pasangan atau teman kita salah, marah atau tidak suka atas tindakan atau ucapan yang mungkin tanpa sengaja menyakiti kita itu wajar. Namun, jika kita tidak mengkomunikasikannya, malah membiarkan dalam waktu sangat lama sampai pesannya pun tidak dibalas berhari-hari dan teleponnya pun tidak diangkat, itu juga salah. Mungkin sejenak kita lega bisa memberi pelajaran pada pasangan atau teman, hal itu juga sebenarnya bukan hanya akan menyakiti pasangan tapi juga menyakiti diri kita sendiri. Because you both are created to become one, jadi bisa dipastikan rasa sakit yang muncul akan dirasakan berdua, bukan hanya salah satunya. 

Kesalahan yang dibiarkan dan tidak dikonfirmasi akan semakin menyulut banyaknya prasangka lebih dan lebih buruk lagi. Jika kita atau pasangan tidak mau membalas pesan atau tidak ingin berkomunikasi dalam bentuk apapun for a while, baiklah, bisa dimaklumi karena kita juga perlu menenangkan diri. We have to take a time and sometimes want to withdrawl from each other, tapi jika keduanya sama-sama egois, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau berinisiatif untuk meluruskan, tidak ada yang berinisiatif untuk minta maaf lebih dulu, maka I think your relationship will die soon and you should ask yourself first, are you sure your spouse/friend is a better person to be with? 

Jadi, bersyukurlah bila meski semarah apapun kita, pasangan/teman masih mampu untuk mengimbangi. Mengimbangi yang saya maksud bukan harus sama-sama strong atau sama-sama lemah, justru sebaliknya, ketika pasangan/teman kita marah besar dan masih dikuasai oleh egonya, ada baiknya kita yang mengalah. Mengalah bukan berarti pasangan kita yang menang karena dalam relationship tidak ada menang atau kalah. Relationship bukan sarana untuk berkompetisi.

Kemarin, saya sempat mendengarkan siaran di radio. Kayaknya sih Young on Top cuman versi on air radio. Ada sebuah kalimat yang mungkin bisa kita tanamkan untuk diri kita. Billy Boen selaku presenter/pembawa acara Young on Top ini berkata yang kurang lebih seperti ini, "Adalah hal yang patut lo syukuri saat lo melakukan kesalahan tapi atasan lo masih mau negur, ngasih tau ini itu. Kalau atasan lo diemin lo saat lo salah, itu yang berbahaya, bahaya banget itu." 

Kembali pada poin tadi, lalu bagaimana bila pasangan mendiamkan, enggan membalas pesan atau mengangkat telepon/menelepon balik? Ambil waktu sejenak. Tidak masalah untuk mengirimkan pesan sambil menjelaskan perkara yang terjadi. Setelah itu, let it flow, take your time as your spouse/friend does. Jika pasangan/teman butuh waktu sendiri, maka berikanlah haknya. Begitu pula dengan kita, tetap lakukan aktivitas seperti biasa dan di saat-saat seperti ini jangan berlebihan fokus dan terlalu memprioritaskan pasangan/teman. Mereka memang penting tapi bukan berarti kamu melenggang dan mengabaikan pekerjaan atau aktivitas lain yang tidak kalah penting. Kalau saja kita bekerja sebagai seorang dokter dan di saat bersamaan kita sedang konflik dengan pasangan dan di satu sisi ada nyawa pasien yang harus ditangani di ruang operasi, maka kita tidak mungkin kan mengorbankan nyawa pasien karena terus-menerus fokus pada pasangan?

Biarkan kalian sama-sama beristirahat sejenak dan jika dirasa perlu, tetap berikan perhatian kecil pada pasangan, tegur dia untuk sekadar mengingatkan makan atau istirahat (saat sepulang kerja atau setelah suasana mulai calm). Jadi, bukan berarti komunikasinya berhenti total. Kalau yang satu enggan untuk berinisiatif mengirimkan kabar, yang satunya harus proaktif. Ya, kira-kira begitu sih.

Expecting your partner to read your mind

Selain mahasiswa baru yang sering bertanya apakah psikolog itu pandai membaca pikiran dan meramal masa depan, hal serupa juga terjadi pada pasangan atau teman atau rekan yang menganggap kita ini bak "dewa" yang "harus" tahu apa sih yang ada di pikiran mereka?

Biar tidak lompat-lompat, maka saya fokuskan untuk membahas ini dalam ranah hubungan romansa ya (ya walau saya bukan relationship coach, saya hanya berbagi dari apa yang pernah saya dengar, baca, amati dan pernah saya alami sendiri).

Memang sih ketika hubungan dengan pasangan sudah semakin akrab, sudah terjalin cukup lama dan intens, bukan tidak mungkin kita dan pasangan memiliki "kontak batin". Entah bagaimana menjelaskan asal usulnya, tapi kita sering merasa hati dan pikiran kita bertautan dengan milik pasangan, bukan? Ibaratnya seperti seorang ibu yang tahu anaknya sakit walau mereka tinggal berjauhan. 

Jangankan yang tinggalnya berjauhan, yang dekat dan tiap hari bisa ketemu saja, kalau ada apa-apa, pasti kita akan berfirasat. Saya tidak akan mengaitkannya dengan six sense atau indigo atau sejenisnya ya. Kita bahas sebagaimana manusia pada umumnya. Ya, balik lagi, karena kita adalah manusia yang memang diberikan akal untuk menganalisa apa yang sedang terjadi dan mata untuk mengobservasi keadaan, namun menuntut pasangan untuk selalu tahu apa yang kita pikir dan rasa adalah sesuatu yang salah. Kalau di dunia ini semua orang bisa seperti itu, pasti tidak akan ada yang namanya "penasaran", tidak akan ada curiosity, tidak akan ada yang bisa membuat api cinta kita terhadap pasangan jadi lebih greget, tsaaah... (ini kalimat pernah saya dengar dari orang sih, jadi murni bukan saya yang ngomong hehehe).

Saat kita menginginkan sesuatu tapi malah bersikap diam dan berharap pasangan bisa menerkanya, maka tunggulah sampai semua monyet di dunia ini merayakan lebaran. Bagaimana pesan kita pada pasangan bisa nyampe kalau sikap kita seperti itu? Pasangan bukan alien, mereka pun punya perangkat panca indera juga otak sama seperti kita. Jadi, kalau kita ingin agar pasangan tahu apa keinginan dan harapan kita, ya caranya cuma satu: speak up, ngomong, bilang, bicara, sampaikan. Misalnya, saat kita sedang jalan bersama pasangan terus pas ada abang penjual es krim lewat, kita tuh pengen pasangan beliin es krim atau singgah sebentar supaya kita bisa makan es krim sebelum melanjutkan perjalanan. Nah, biar maksud kita nyampe, kan kita tinggal ngomong ke pasangan, "Yang, singgah bentar dong. Aku mau beli es krim nih, lagi pengen makan es krim? Kamu mau juga nggak?" Bukankah ini lebih jelas ya daripada kita diam sambil menatap abang penjual es krim itu lenyap dari hadapan kita lalu marah-marah ke pasangan karena tidak singgah atau tidak bisa baca pikiran kalau kita mau es krim.

Beda lagi jika diam karena ada hal yang kita sembunyikan dari pasangan. Hal ini sebaliknya, sikap diam kita malah bisa membuat pasangan "sembarangan membaca pikiran/perbuatan" kita alias berprasangka buruk, bertanya-tanya dan berpikir negatif terhadap kita. So, try to be honest to your commitment with spouse. Kenapa saya bilang cobalah untuk jujur pada komitmen yang kalian jalin bukannya try to be honest to the person? Karena kalimat kedua seringkali membuat orang malah tidak mau work out. Tuntutan langsung untuk ngomong jujur dan lugas pada pasangan malah seringkali membuat orang withdrawl. Tapi, ketika seseorang memang menganggap komitmen ini penting bagi mereka berdua, maka he or she just go straight to the point and as we know, they still want to work on their relationship with their partner. Kalau kita tetap keukeuh tidak mau menjelaskan yang sebenarnya meski bukti-bukti sudah di tangan, maka ketidakjujuran itu hanya akan melukai pasangan cepat atau lambat. Pasangan akan berpikir negatif dan feels inadequate. Semakin menumpuk pikiran negatif tersebut, maka semakin lebar pula pertanyaan tentang whether the relationship is beyond repair or not

Beruntunglah jika pasangan masih mau menjelaskan atau mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Terkadang, ada orang yang tidak suka diberi penjelasan karena merasa tidak didengarkan atau tidak dipahami oleh pasangan. Sebenarnya, pasangan yang mau menjelaskan dengan sejujur-jujurnya dan sedetil mungkin, mereka bukan berarti tidak mendengar apalagi memahami. Mereka mendengar dan memahami namun mungkin termasuk orang-orang yang butuh untuk menjelaskan terlebih dahulu agar prasangka buruk yang muncul tidak semakin menyebar ke mana-mana.

You don't know how to speak up 

Ini bisa saja terjadi pada orang-orang yang pada dasarnya sangat pendiam dan tidak banyak pengalaman dalam memecahkan masalah ketika sama-sama dihadapkan oleh pasangan yang mendadak diam. Sudah pendiam ditambah punya pasangan yang tiba-tiba bersikap diam, nah kan jadi bingung sendiri, maunya apa dan harus bagaimana? Despite of that, kita juga jangan malah tambah berdiam diri. I mean, di sinilah kemampuan seorang pendiam mulai ditantang. Meskipun kita ini sangat pendiam, tapi saat ada konflik dengan pasangan atau orang lain, lantas kita jadi semakin membiarkan.

Lalu, bagaimana caranya untuk speak up? Awal-awalnya mungkin akan terasa sangat sulit karena orang pendiam tidak terbiasa untuk berbicara banyak. Jangan jadikan sifat pendiam sebagai kelemahan. Sebaliknya, ketika kita tidak tahu harus bilang apa, maka tunjukkan saja dengan perbuatan yang nyata. Biasanya sih, orang-orang yang merasa minder menyusun kata-kata agar "enak" didengar dan tidak menyakiti, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk menunjukkan maksud tersebut melalui sebuah tindakan. 

Ada satu cara lagi, yaitu menunjukkan dengan bahasa tulisan. Nah, karena tidak semua orang lihai dalam berbicara, ada pula sebagian orang yang baru bisa nyaman untuk berkata jujur atau terbuka dengan cara menuliskannya. Ini seperti saya. Saat terlibat konflik, saya cenderung panik, hectic sendiri hingga mendadak saya kerap merasa semua kata yang hendak diucapkan itu lenyap seketika. Lalu, setelah saya tahu bahwa dengan menulis membuat saya lebih rileks, maka saya terbiasa untuk mengungkapkan atau menjelaskan secara detil lewat tulisan. Ya, pernah juga sih saya ceroboh menulis karena kondisi yang tidak kondusif sehingga terjadi kesalahpahaman. Tapi, saya berusaha untuk meluruskannya kembali dan sambil belajar untuk tidak mengulanginya lagi sih. Kalau ada waktu yang tepat, barulah saya akan speak up meskipun mungkin bakal terdengar aneh kalimatnya hehe.

You give silent treatment for each other but revenged by shout it into your social media 

Ini adalah tindakan paling receh yang mungkin hampir setiap orang pernah melakukannya, termasuk saya (ngapunten nyak). Tapi, sekarang-sekarang ini saya berusaha untuk mengontrol untuk tidak share mengenai problem dengan orang terdekat. I mean, pasangan, keluarga dan saudara. Pernah sih share saking tidak tahannya harus curhat pada siapa atau bicara langsung pada mereka. Namun, setelah saya tahu hal itu adalah tindakan yang kurang dewasa, saya pun menghapus semua postingan yang mungkin tanpa sengaja pernah menyinggung atau mungkin orang yang saya singgung adalah si A tapi yang merasa malah si B padahal tidak ada maksud menyinggung si B.

Saling memberikan silent treatment lalu membalas dendam dengan cara mengumumkannya ke sosial media ini jelas-jelas perbuatan yang errrrrrghhhh piye ya hahah... Tapi kalau semisal just share the main topic about those problem without figure out their real names or their real characteristic hanya sekadar sebagai contoh dan untuk mengambil hikmah dari situ sih, masih bisa termaafkan, tidak masalah.

Tapi kalau sudah terang-terangan nyebut merk, nah ini nih yang bahaya. Jangankan yang terangan nyebut merk dulu, yang memposting hal-hal ambigu pun kadang bikin kita jadi ikut penasaran apalagi kalau sedang dalam posisi we got a problem with them, iya kan? Jadi, yang sebenarnya, masalah udah clear tapi karena tidak jelas yang diomongin tuh siapa, untuk siapa padahal itu tujuannya untuk umum dan bukan untuk pihak tertentu, hal ini bisa memicu kesalahpahaman juga.

Seperti halnya ketika saya menulis ini, murni karena beberapa jam lalu di pagi hari saya habis baca artikel. Yang tahu banget kalau saya ini suka baca, pasti mereka bisa paham bahwa tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak tertentu. Kenapa saya tulis dengan huruf bold, agar yang lain tidak salah paham dan tidak menerka-nerka. Tidak semua yang tertulis di sini based on my own stories or because I want to spread out hatred to others. Saya cuman mau sharing dari bacaan yang sudah saya lahap dan sekiranya bisa memberikan inspirasi atau pelajaran bagi kita semua.

Jadi, bila ada konflik, jangan membiasakan diri untuk diam lalu memilih menyebarkannya ke sosmed. Itu memang tidak dibenarkan. Bukannya malah selesai, yang ada masalah akan semakin meruncing dan orang lain pun akan terpancing untuk kepo. Ya, beberapa waktu lalu, saya sempat memposting hal yang kurang baik tapi hanya untuk diri sendiri, namun setelah merenungkannya, walau untuk diri sendiri, itu tetap saja emosi negatif. Kata salah seorang teman baik, emosi itu menular jadi hendaknya sebarkan hal-hal positif, akhirnya saya hapus postingan tersebut. Padahal cuman curhat receh soal diri sendiri hehe..

Your partner need to talk about but you reply her/his with "nothing to say anymore"

It seems like a little sarcastic. Kalau pasangan udah bilang "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi" maka bersiap-siaplah untuk menghadapi kenyataan terpahit. Saya tidak menakut-nakuti. Ya, bisa saja kalimat itu tercetus karena pasangan masih terbawa emosi sehingga serba tidak terkontrol. Tapi, jika kalimat tersebut dikatakan dengan tatapan mata seolah sudah sangat kecewa, sudah waktunya he/she will let you go definitely. Kalau ini terjadi, mungkin saja karena kita tidak pernah belajar untuk memperbaiki diri atau mungkin saja karena kita tidak pernah mau meminta maaf and admit it. Wajar jika pasangan sudah di ambang batas sampai bisa bilang seperti itu.

Tapi, bila situasinya, dibalik. Kita lagi konflik dengan pasangan. Pasangan sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia juga sudah menunjukkan penyesalan melalui tindakan nyata yaitu dimana dia berusaha untuk memperbaiki diri, ucapan dan tingkah lakunya. Masalah pun terjadi karena miskomunikasi atau salah paham dan masih bisa dicari solusinya bersama. Namun, kita tetap saja masih tidak bisa mentolerir sampai kita bilang "Nggak ada lagi yang harus dibicarakan. Bye." tanpa mendengar terlebih dulu penjelasan dan pengakuan dari pasangan, ini juga bisa saja menjadi tindakan yang kurang tepat. Kenapa? Seperti halnya poin pertama, kita tidak mau mendengarkan, kita memilih untuk mengabaikan tanpa memberi kesempatan pada pasangan untuk jujur. Kalau memang pasangan kita terkenal sebagai seseorang yang dapat dipercaya baik perbuatan maupun ucapannya, bukankah mendiamkan hingga berkata tidak ingin bicara apapun lagi adalah hal yang tidak adil bagi pasangan?

Setiap orang punya hak dan kesempatan untuk mengakui, tapi tidak semua orang mau mengakui kesalahannya. Semua orang punya hak untuk didengarkan, tapi tidak semua orang mau mengatakan agar didengarkan. Jika pasangan kita adalah seseorang yang dari dulu memang orang yang buruk, suka berbohong, tidak mau mengakui kebohongannya, dan berulang kali mengulangi kebohongan yang sama, maka mungkin saja tindakan kita untuk tidak mendengarkannya adalah hal tepat. Tepat agar dia menyadari bahwa sikap dia yang sama diamnya dan malah menarik diri tidak mau mengakui adalah hal yang salah. Tapi, jika pasangan pernah berbohong dan sudah mengakui serta tidak lagi mengulangi perbuatannya, atau dia pernah berbuat salah, menyesali kemudian dengan jelas kita amati dia sudah memperbaiki dirinya, maka berilah dia kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati. Barangkali ada maksud/pesan darinya yang ternyata tidak pernah tersampaikan hingga membuat kita juga salah paham dan menuduh-nuduh pasangan. 

Tapi, semua tergantung individu masing-masing. Bila memang yakin hubungan tersebut masih bisa diperbaiki dan dilanjutkan, tidak ada salahnya. Tapi, jika merasa bahwa kita sudah berusaha maksimal namun tidak ada tanda-tanda usaha yang sama dari pasangan, mungkin sudah waktunya kita untuk move on. Karena hubungan itu dijalani oleh dua pihak. Jika salah satu pihak saja yang terus berjuang sementara yang lain ongkang-ongkang kaki, ogah-ogahan, ya itu bukanlah hubungan yang sehat. 

Kita juga jangan lupa berkaca pada diri sendiri. Mungkin saja kita pernah menjadi sosok yang ongkang-ongkang kaki seperti itu, merasa dicintai, dielu-elukan, dibanggakan sementara pasangan sudah memperjuangkan kita mati-matian, membanggakan kita meski kita tidak pernah membalasnya, menantikan kita dalam waktu yang panjang, dan pokoknya dia tu karena saking cintanya bukan tidak realistis tapi justru dialah sosok penyelamat yang kadang kita lupa untuk memperjuangkannya juga, maka kita harus introspeksi diri lagi. Ketika dia sudah berada pada tahap "merasa tidak diinginkan, tidak dihargai, diabaikan terus-menerus" bukan tidak mungkin dia akan pergi perlahan. Pergi karena lelah perjuangannya terasa sia-sia. Pergi karena sikap kita yang egois, maunya menang sendiri. Pergi karena tidak diharapkan. Dan bisa jadi, kita hanya akan menyesal kemudian karena sudah menyia-nyiakan dia yang selalu ada untuk kita.

So, happy contemplation ya guys. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita, biar kita juga introspeksi diri, bukan hanya nimpalin kesalahan pada orang lain atau bahkan mencari-cari kesalahan orang lain.

TES DIRI SENDIRI PAKAI MBTI ONLINE



Beberapa waktu lalu di Instagram, seorang teman saya semasa kuliah strata satu memposting hasil tes kepribadian dirinya. Dia mengikuti tes MBTI online di salah satu situs. Kemudian, saya pun jadi tergerak untuk mengetes diri saya sendiri namun di situs yang berbeda. Saya mengisi tes online di 16personalities.com (english version) sedangkan teman saya tes di situs anthony yang berbahasa Indonesia. Melalui tes tersebut,  hasilnya tidak terlalu mengejutkan karena memang sesuai dengan kepribadian saya in the fact.


Hasil dari tes MBTI mengungkapkan bahwa saya adalah seseorang dengan tipe kepribadian INFJ. Apa sih itu INFJ itu? Kok bisa resultnya pakai huruf-huruf itu? Apakah bisa dipercaya? Yang namanya tes, boleh dipercaya boleh juga tidak. Tapi kalau saya pribadi mengatakan bahwa ini bukan soal percaya atau tidak percaya sebab tes psikologi berbeda dengan ramalan. Pertanyaan yang disodorkan pun bukanlah pertanyaan receh, tapi bedanya dengan tes MBTI konvensional sama tes online ada sedikit perbedaan sih. Kalau yang konvensional pakai lembar soal gitu hasilnya cukup bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena sudah melewati serangkaian penelitian terhadap validitas dan reliabilitasnya dari para pencetusnya kan. Sementara itu untuk tes-tes online kebanyakan, item pernyataan/pertanyaannya memang sekilas tidak jauh beda dengan item yang ada di tes konvensional namun untuk yang online ini terkadang juga diperuntukkan sebagai hiburan, just for fun. Sumbernya dapat dari mana item pernyataan yang dicantumkan pun bisa saja beragam. 

Kembali ke hasil tes saya tadi. INFJ. Apa sih INFJ itu?

INFJ itu singkatan dari Introversion, Intuition, Feeling, Judging.

Secara garis besar, katanya sih, kata tes ini tuh ya INFJ itu adalah seorang protector  dan konselor. Benarkah? Kalau benar adanya, berarti tidak salah dong ya saya masuk psikologi dan jadi psikolog, wkwkwk...

Hasil tes ini menyatakan bahwa saya ini adalah seseorang dengan tipe kepribadian INFJ-A yaitu bak seorang Advokat, Konselor atau Protektor. Are you serious? Advocate. Hahah... masa sih saya ini orang yang bak advokat. Saya agak ketawa saat membaca hasilnya seperti ini. Baiklah, kita next aja ke tahap penjabarannya.
---------------



Seperti yang tertera pada capture gambar di atas, pertama, saya adalah seorang yang introvertYap, saya tidak menyangkalnya karena dari dulu memang introvert. Saya sudah pernah memposting tentang introvert dan ekstrovert di postingan beberapa tahun lalu, bisa searching aja di blog ini. 

Kedua, saya adalah seorang yang intuitif. Eumm.. intuitif ya? Saya akui iya juga sih karena saya seringkali menilai sesuatu berdasarkan apa yang dikatakan oleh intuisi saya. Butuh proses latihan yang tidak sebentar untuk mengasah intuisi. Seringkali sih penilaian berdasarkan intuisi saya ini tidak meleset tapi juga pernah meleset sih. Saya juga mudah peka dengan orang, sometimes, bisa langsung menebak bagaimana sih kepribadian orang yang ada di depan saya atau yang saya lihat meski hanya sekilas. Konon, orang-orang yang intuitif ini seringkali dikirain bisa meramal. No. Tidak. Nggak. Saya tidak bisa meramal dan saya bukan peramal tapi saya juga tidak bisa memungkiri kalau sering tepat sasaran menebak sesuatu atau seseorang. Saya juga pernah berada di masa intuisi yang muncul amat sangat kuat yaitu saat sekolah, mulai SD hingga SMA dan biasanya intuisi itu muncul dengan didahului sebuah mimpi. Sangat tidak nyaman ketika kamu tanpa sadar tahu apa yang akan terjadi kemudian meski kamu tidak ingin menebak itu. Intuisi ini juga berkaitan dengan bagaimana saya terhubung dengan orang-orang terdekat. Biasanya, kalau terjadi sesuatu semisal orang terdekat saya lagi sakit, sedang bad mood atau mengalami hal buruk maupun hal menyenangkan, saya seolah mampu menyerap energi mereka walau saya dan mereka berada dalam tempat berbeda atau terpisah oleh jarak. Saya pikir, soal ini, pasti setiap orang juga memiliki kemampuan berfirasat, cuman beda kadarnya saja.

Ketiga, saya orang yang dominan feeling, hahaha, masa sih? Gampang baper dong yak :p. Tapi saya akui saya memang orang yang mudah tersentuh, sensitif banget apalagi kalau nonton film atau membaca buku yang bertema sedih, uaah udah bisa dipastikan air mata saya meleleh. Begitu pula saat membuat keputusan, kadang sih pakai logika tapi seringnya pakai perasaan. Maksudnya memutuskan pakai perasaan tuh gimana ya? Eung, jadi seperti ini... terkadang ada hal-hal yang tidak bisa diputuskan hanya dengan mengandalkan nalar atau logika. Saya pun termasuk orang yang penuh pertimbangan. Itulah kenapa saya cenderung sedikit lamban dalam memutuskan sesuatu terlebih jika itu adalah hal yang amat sangat penting. Noted it, sangat penting. Jika saya mengalami masalah yang melibatkan orang lain, maka saya terkadang cenderung memikirkan pula perasaan orang tersebut, apakah keputusan ini akan berat sebelah, akan menyakitinya atau tidak. Saya juga lebih tertarik untuk menyelami dan sok kepo mau tahu gimana sih pola pikir dan perasaan orang lain mengenai sesuatu dan bagaimana sih biar saya bisa melakukan sesuatu yang sekiranya akan memotivasi atau menginspirasi perasaan orang lain.

Tapi, kalau datang ndableknya, saya sih bakal keras kepala, tidak peduli akan berpengaruh seperti apa kepada orang lain, cuman hal ini sangat jarang terjadi. Biasanya saya memang akan mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan (berkaitan dengan hubungan dengan lingkungan sosial ya). Eung, mungkin karena saya tipe orang yang tidak menyukai keributan, sehingga kedamaian adalah target yang sering saya ingin capai. Jika keributan yang terjadi di luar (bukan yang terjadi pada saya) membesar di luar kendali, saya biasanya akan diam atau bisa saja menjauh. Jika tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik atau orang lain menolak berkompromi dengan saya maka saya akan bersikap diam dan menjauh. Hemat saya, daripada saya menghabiskan tenaga untuk meladeni keributan dan hal-hal bersifat negatif, lebih baik energinya saya keep untuk kepentingan lainnya. Jadi, saya juga malas meladeni orang-orang yang menyebarkan aura negatif untuk saya, apalagi kalau saya diserang, heuumm.... saya mungkin bisa saja memaafkan tapi untuk kembali memintal hubungan maybe, I don't want

Jadi, yaaa... proses "merasa" saya bakalan terlihat lebih kenceng daripada proses berpikir dengan hanya berdasarkan fakta-fakta objektif. I mean, kadang apa yang tampak oleh mata tidak selalu sesuai seperti yang tampak, dan melihat sesuatu yang sifatnya "tidak kasat mata" juga menjadi salah satu opsi penting bagi saya. Ini mah perempuan banget yak, yang dominan pakai perasaan, wkwkwk... I love being a woman, :p...



Selanjutnya untuk persoalan kerja, perencanaan dan membuat keputusan (yang sifatnya menyangkut pekerjaan), saya tergolong orang yang lebih banyak judging. Eh, judging di sini maksudnya bukan menghakimi loh ya. Judging di sini dijabarkan sebagai seseorang yang organized. Yap, ini mah gue banget. Orang tipe judging adalah mereka yang sebenarnya kurang luwes alias kaku, cenderung mengikuti prosedur, pola sikap yang ditunjukkan pun teratur. Setiap hendak melakukan sesuatu, semua harus serba terencana dan diatur dengan sejelas dan sedetail-detailnya. Tidak jarang sih, saya sering membuat catatan-catatan sendiri saat sedang banyak tugas yang harus dikerjakan. Biasanya, saya kelompokkan mulai dari yang high priorities sampai yang low priorities. Kabar buruknya, entah ini buruk atau gimana, tapi tipe judging ini agak kesulitan untuk mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan. Kalau saya pribadi, untuk pekerjaan sehari-hari semisal pekerjaan rumah tangga yaitu menyapu, mengepel, mencuci pakaian, memasak, masih bisa saya lakukan secara bersamaan dalam satu waktu, misal jam sekian, saya bisa menggoreng sambil menyapu, jadi menunggu gorengan sambil nyapu-nyapu sebentar, hahaha absurd. Tapi untuk pekerjaan yang serius, misal ngerjain tugas, menulis atau tugas dari tempat kerja, saya adalah tipe yang harus diselesaikan satu persatu. Saya lebih prefer menyelesaikan satu pekerjaan tapi hasilnya bisa lebih mendalam daripada mengerjakan dua tugas secara bersamaan namun hasilnya kurang rinci. Itulah kenapa orang tipe judging ini cukup perfeksionis, maunya menyelesaikan sesuatu dengan "sempurna". Sempurna dalam artian bagus, unik, orisinil, kreatif, sistematis dan berbasis kebaruan.

Keempat, saya adalah orang yang assertive. Asertif? Yap, saya lebih suka menyatakan atau menjelaskan sesuatu dengan jujur apa adanya sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan rasakan. Inilah yang sempat menjadi pertentangan dengan teman-teman saya. Karena saya terkadang bisa menjadi orang yang "terlalu jujur" menurut mereka sehingga mereka melihat hal itu sebagai kelemahan saya dan kurang menerima asertivitas saya. Tapi, ada tapinya nih, saya baru akan asertif hanya pada orang-orang yang dekat dengan saya. Saya ini sebenarnya orang yang tidak mudah mengekspresikan sesuatu di depan orang asing, saya juga mudah merasa "sakit" tapi terkadang ada momen dimana saya sulit mengungkapkannya, kecuali kalau saya sudah tidak tahan lagi, saya pasti akan berterus terang, daripada saya empet lama-lama jadi bom atom, mending saya utarakan, namun tentu saja menunggu beberapa waktu dulu sih.

Berikut ini saya tampilkan beberapa capture penjelasan dari tes tadi ya.

Ini Strengthness-nya tipe INFJ







-----------------
Ini Weaknessesnya





---------------------

Ini Tentang Gimana INFJ Membangun Romantic Relationship


Soal ini saya konfirmasi sedikit :p... Saya juga tidak expect kalau hasilnya akan seperti ini sih dari tesnya, tapi memang lebih banyak sesuainya dengan diri saya. Jadi, INFJ adalah seseorang yang akan membina hubungan serius jika itu dalam ranah romantic relationship. Keseriusan saya hanya orang lain sih yang bisa menilai. Hubungan yang serius itu adalah hubungan yang meaningful dan mendalam. INFJ tidak suka jika ada seseorang yang mendekatinya hanya just for fun atau hanya sekadar penasaran dengan who they are. Ketika membina hubungan pun, INFJ lebih dominan mengupayakan dan memberikan sesuatu yang jauh di luar hal-hal fisik yang receh, melainkan lebih suka memberikan/mengupayakan hal-hal yang bisa menentramkan pasangan secara emosional dan melihat pada gimana sih makna dari hubungan tersebut, berusaha menjadi partner yang passionate untuk pasangan dan lebih mengharapkan hubungan tersebut dapat terus dibina sampai ke masa depan.

Dan, pasangan yang INFJ cari adalah seseorang yang bisa satu frekuensi dengannya. Saya pribadi tertarik dengan seseorang yang di awal tampak misterius namun lama-kelamaan bisa terkoneksi dan terbuka seiring berjalannya waktu. Sebab, saya orang yang cukup sulit untuk menyatu dengan pikiran dan perasaan lawan jenis. Saat diajak ngobrol atau pedekate pun, saya juga tidak semudah itu untuk connect. Apalagi kalau misal ada lawan jenis yang saat baru pertama kali kenal dia sudah menunjukkan tanda-tanda yang sama sekali tidak bisa nyambung atau sok sok nyambungin padahal ada sesuatu yang menurut penilaian saya orang tersebut nggak banget lah pokoknya, maka saya memilih untuk cut off them. Jadi kalau ada yang bisa connect dengan saya, mungkin he is the one.

Selain itu, kalau sudah beneran cinta, INFJ cenderung sangat perhatian. Terkadang INFJ juga mencari sesuatu yang baru untuk dibagi ke pasangan atau untuk sekadar menyenangkannya. Ini benar sih, saya banget mah. Ets, tapi, buruknya, kalau saya sedang dilanda kesibukan, saya sering autis dan itulah yang bisa membuat pasangan saya kesal karena saya hilang tiba-tiba, tidak ada kabar, padahal tidak bermaksud menghilang sih. Sebaliknya, kalau pasangan saya yang hilang atau minimal ketika saya menghubungi tapi tidak dibalas, saya masih bisa mentolerir sih, tapi kalau tidak dibalasnya lama kadang jadi bad mood, bingung, sudah berpikir ngalor-ngidul mengira kalau pasangan saya tidak berminat untuk berkomunikasi atau mungkin sedang tidak ingin diganggu atau mungkin lagi bad mood juga tapi tidak mau bilang pada saya.

INFJ juga tidak suka ketika pasangan berbuat curang, entah itu dalam bentuk berbohong atau memanipulasi. Ini pun benar adanya. Dengan intuisi yang saya miliki, saya sering bisa mendeteksi apakah seseorang itu berbohong atau tidak. Kalau sudah berbohong, saya tidak bisa terima sih dibohongi, kecuali jika dia minta maaf dan tidak mengulanginya, saya akan lebih mudah dinego. Sebaliknya, saya lebih suka kalau pasangan bisa jujur, meskipun hal itu mungkin menyakitkan sih, tapi kalau mau jujur dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia katakan dan lakukan, ya saya akan sangat menghargainya. Jadi, kesimpulannya, hal terpenting bagi INFJ dalam mencari pasangan itu adalah keseriusan, komitmen, sincerity, genuine dan trying to become one with their partner in mind, body and soul. Romantis banget kan saya :D .... haha iya sih, saya lebih tampak romantis daripada pasangan saya.










Ada yang sudah tes juga? Kalau kalian termasuk tipe pribadi apa?


Sumber capture: 16personalities.com


KEEP YOUR REAL INNER CIRCLE SMALL

Saya terinsipirasi menulis tentang tema ini karena pernah mengalami hal-hal kurang menyenangkan dalam hubungan pertemanan. I don't mean to hurt people's heart dengan saya menuliskan ini, tapi saya belajar untuk jujur pada diri sendiri. So, now, it is time to change my circle. Perubahan yang saya maksud bukan dalam artian saya membenci sebagian lalu menyukai sebagian lainnya. Perubahan tersebut terjadi sebagaimana adanya, berjalan secara alamiah seiring telah semakin banyaknya pengalaman yang saya lalui.

----------------------------


From aminoapps.com

Jika kalian pernah membaca Secangkir Kopi Bully, kalian sudah pasti tahu bahwa saya pernah menjadi korban bullying sejak TK hingga SMA. Belum lagi saat kuliah pun, saya pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan mengenai pertemanan. Meskipun semua sudah diakhiri secara baik-baik, tapi bukan berarti luka "sobek" yang sempat tergores lantas sembuh dengan sendirinya. Saya memaafkan tapi saya tetap ingat dan I'm very sorry if I have to say goodbye to some people who ever attack behind my back. Goodbye yang saya maksud bukan berarti saya benar-benar tidak mau menegur, hanya saja orang-orang yang saya beri goodbye adalah mereka yang sudah tidak lagi saya jadikan tempat curhat. Hemat saya, untuk apa membuang waktu dengan orang-orang yang hanya mendambakan kelebihan serta kesempurnaan dari orang lain sementara mereka tidak bisa menerima kekurangan pun ketika terjadi sebuah masalah, hanya bisa menyalahkan orang lain, tidak bisa berkaca pada diri sendiri juga dan tak punya inisiatif untuk menyelesaikan dengan baik malah mendendam atau hanya diam membisu. Jadi, beruntunglah orang-orang yang masih saya percayai sebagai partner curhat dan berbagi, sekalipun mungkin ada di antara teman-teman saya yang "nakal" namun karena saya percaya mereka tidak akan menusuk saya dari belakang, mereka tetap aman berada di dalam lingkaran saya.

Siapa sih yang tidak "terluka" ketika dibully di "belakang" apalagi itu disebarkan di media sosial. Orang-orang yang tadinya tidak tahu sama sekali dan tidak kenal sama sekali, namun dengan adanya omongan menyakitkan itu akhirnya orang-orang asing pun jadi semakin mengkompori hal yang seharusnya tidak penting untuk dibahas. Dengan begitu, otomatis, tingkat toleransi saya terhadap mereka yang hanya berani dari belakang semakin dan semakin rendah.

Belum lama ini saya juga mulai mengurangi akun sosmed saya, pelan tapi pasti. Ya, hal ini sempat mengundang tanda tanya besar dan kesalahpahaman di antara orang-orang kesayangan saya. Pernah saya memutuskan untuk pelan-pelan menghilang dari akun Path. Saat itu, Path saya memang benar-benar sedang trouble, kemudian beberapa waktu berikutnya, saya log out dan lupa password. Si abang (saya sebut si abang aja ya biar lebih greget penasarannya hehe, dan saya yakin, pasti dia pernah stalk blog ini) kemudian saya minta untuk mem-follow akun baru saya tapi agaknya enggan. Ya, saya yakin kalau si abang pun jadi salah paham dan dipikirnya saya meng-unfollow dia saja, padahal Path saya memang trouble tapi si abang tidak suka jika saya menjelaskan. Well, saya pun putuskan untuk meng-uninstall Path dari android. Bukan karena si abang, tapi karena di Path itu juga pernah saya mendapati status dari seseorang yang amat sangat menyakiti, menyakiti saya dan menyakiti si abang. Saya yakin si abang masih punya akun Path sampai sekarang, ya mungkin saja, tapi tak masalah. Saya hanya menjauh dari teman-teman yang sudah menularkan hawa negatif untuk saya dan karena saya bukanlah orang yang "betah" berlama-lama membaca postingan buruk dari mereka.

Baru-baru inipun saya akhirnya menghapus akun Facebook saya secara permanen. Why? Si abang sempat bertanya, apakah ada hal-hal aneh lagi? Jujur, sudah tidak ada lagi sih. Hanya saja saya gerah. Sangat gerah dengan Facebook yang isinya sudah semakin sumpek, crowded dan yeah, terlalu banyak orang yang meng-add saya, bukannya saya malah senang, saya malah bisa frustrasi. Kenapa begitu? Kalau orang yang tahu pribadi saya seperti apa, mereka sudah pasti understood. Saya sejak dulu adalah orang yang kurang suka dengan situasi crowded. Kalau disuruh milih, mending saya pergi ke suatu tempat yang tenang dimana tidak banyak orang di tempat itu dan tidak membuat sesak dengan banyaknya mulut yang cas cis cus sana-sini. Eman banget karena di Facebook, saya juga punya akun Fanbase pembaca buku. Hampir semua pembaca saya mengontak melalui Facebook. Bahkan saya juga sempat mendapati ada puluhan, entah berapa puluh message di Facebook dari pembaca yang tidak pernah saya read dan baru saya baca menjelang penghapusan Facebook tersebut. Ya, tidak masalah, toh mereka juga sudah tahu email saya dan mereka masih bisa menghubungi saya via email atau Hangout Google+ jadi bisa chit chat di situ.

Kalau ditanya, sekarang saya punya berapa akun sosmed. Yang benar-benar up to date hanya 2 yaitu Instagram dan of course Whatsapp, sedangkan Line dan Twitter masih ada cuma amat jarang saya buka. Tadinya, jujur saja saya katakan ini, awalnya Instagram hanya saya peruntukkan bagi teman-teman lama, except teman-teman S2. Kenapa? Karena saya sudah menghapus Facebook dan saya mau Instagram isinya tidak beda jauh dengan FB yang mayoritas dipenuhi oleh teman-teman lama, tentu saja teman-teman semasa sekolah ketika masih di Parepare. Di antara mereka pun, ada dua sahabat "kental" saya. Namun, karena satu dan lain hal, saya kembali membuka Instagram saya untuk umum. Saya memutuskan untuk sesekali berbagi informasi seputar psikologi bukan hanya di blog ini tapi juga di sosmed, dan sosmed paling pas untuk tempat sharing ilmu adalah Instagram karena masih bisa menampung tulisan yang panjang, hehe. Jadi, saya buka kembali untuk umum. Namun, memang, dulu saya sempat menghapus semua teman-teman S2 saya dari Instagram dan beberapa teman lainnya.

Selain itu, ada lagi satu hal yang agak mengganggu saya. Saya tidak mungkin menyatakannya secara langsung kepada orang-orang yang saya maksud. Ya, maafkan saya kalau saya seperti ini. Tidak ada maksud, hanya saja saya merasa terganggu. Saya hanya akan memberikan kontak Whatsapp saya untuk orang-orang yang memang pernah masuk dalam lingkaran relationship saya antara lain keluarga tentu saja, kemudian beberapa teman sekolah, teman kuliah strata satu, dosen dan pihak-pihak yang kedudukannya penting, beberapa teman strata dua dan para klien (yang pernah/ingin konseling). Jadi, bila ada teman yang tidak terlalu dekat dengan saya meski pernah kenalan atau pernah berhubungan karena suatu keperluan atau bahkan orang asing yang sama sekali tidak pernah mengenal apalagi bertegur sapa dengan saya, saya kurang suka bila mereka tahu nomor hape saya kemudian sok kenal sok dekat mengontak saya. Lebih lebih lagi jika mereka terus mengirimkan chat. Biasanya, saya akan diam dan men-silent notifikasi yang masuk dari orang-orang yang tidak akrab dengan saya. Kalaupun akhirnya saya memberikan kontak kepada teman atau orang yang dulunya atau sekarang tidak begitu akrab dengan saya atau hanya sekadar teman biasa, saya mohon untuk tidak men-chat dengan aksen seolah ingin bersikap akrab pada saya. Saya mulai tidak bisa sesupel dulu dan mulai tidak lagi seterbiasa itu. Kalaupun saya ikut merespon dengan tawa, ya itu saya lakukan sebagai usaha untuk menghargai lawan bicara. Meski saya tak kenal dan meski saya tampak kurang nyaman tapi saya masih berusaha untuk santun. 

Dan, saya bukanlah orang yang 24 jam standby di sosmed, aktif online terus. Jadi, saya juga kurang nyaman jika ada teman yang tidak begitu akrab menelepon saya via akun sosmed ataupun menelepon via telepon seperti biasa. Saya biasanya akan menolak secara halus. Please, karena saya sudah merasa memahami keperluan mereka jadi setidaknya mereka juga harus mengerti dengan batasan privasi saya. Hahaha, si abang saja sejak sibuk bekerja sangat jarang menelepon, tidak masalah sih, saya paham karena pekerjaannya pun cukup berat. Mungkin juga saya jadi ketularan dia yang kadang malas ditelepon. Bukan malas saat dia yang menelepon loh ya, tapi malas menerima telepon dari orang yang tidak dekat dengan saya. Pernah suatu ketika saya menelepon si abang secara impulsfif karena terjadi kesalahpahaman antara kami. Dia bilang bahwa dia malas dan kalau tidak terjadi apa-apa atau jika memang tidak terjadi suatu masalah yang benar-benar membutuhkan concern untuk dibahas berdua, dia cenderung tidak menelepon. Saya jadi terbiasa dengan ritmenya dan menerapkannya pula untuk orang lain. 

Ya, despite that, saya terus terang rindu dengan si abang. Semakin kecil lingkar relationship dengan orang-orang, saya pun jadi lebih intens menghubungi si abang. Dia menjadi satu-satunya inner circle yang lebih prefer saya hubungi duluan daripada lainnya. Kalau hilang tidak ada kabar, kadang jadi sebel sendiri, rindu-rindu sendiri, bingung sendiri. Rindu karena meskipun setiap hari komunikasi di Whatsapp, tapi kami pun jarang komunikasi via telepon. Akhirnya, saya manut saja. Ya, pikir saya, kalau dia memang mau telepon, saya pasti akan menyambut dengan senang hati, tapi kalau lagi malas telepon karena baginya tidak ada yang urgent banget ya tidak masalah bagi saya. Komunikasi via apapun itu, saya terima. Satu aja sih yang berusaha saya jaga, untuk commit memberi kabar. Kadang, kalau saya benar-benar sibuk, saya jadi amnesia sendiri. Saya masih seperti itu dan masih berusaha untuk beradaptasi. Kalau saya pribadi benar-benar sibuk harus wira-wiri ke mana-mana, mengurusi banyak hal, biasanya saya cenderung menelantarkan hape dalam waktu yang bisa sebentar, bisa juga lama. Seperti halnya dua hari sebelum wisuda, ada banyak kendala saat mengurus administrasi dan perlengkapan di kampus. Sampai akhirnya, saya lupa mengabarinya dan dia pun menghubungi saya sambil kesel gitu. Saya memang sibuk dan hape sempat saya non aktifkan lama. Malam ramah tamah baru saya aktifkan. Dia agak kesal dan terjadilah kesalahpahaman lagi. Sungguh tidak ada maksud untuk tidak mengabari. Hanya saja, saya sering autis sendiri. Maaf ya mijn, aku nggak maksud untuk menghilang kok, aku masih belajar untuk nggak tiba-tiba autis saat sibuk. Kami sebenarnya punya kemiripan sih saat sibuk. Dia, kalau sibuk biasanya akan lebih banyak diam dan ketika di-chat misalnya, hanya di-read dan baru akan dibalas beberapa waktu kemudian. Saya pun sering seperti itu, bahkan lebih parah lagi mungkin dengan menelantarkan hape. Lah kok jadi curcol... :D .... back to the topic...


Yap, meksipun lingkar pertemanan menjadi semakin kecil dan sempit seiring bertambahnya usia, namun saya yakin kualitas pertemanan akan lebih meningkat. Punya banyak link dan teman itu bagus sih, tapi bukan berarti tidak menjadi selektif. Kalau dibilang pemilih, akhirnya, saya berkata yes. Saya memilih hanya orang-orang yang satu frekuensi dengan saya dan bisa memahami satu sama lain. Bukan orang yang bagus dan nyata di depan namun fake di belakang. Yah, say goodbye deh buat orang-orang yang berteman karena punya maksud yang tidak baik atau yang hanya ingin memanfaatkanmu, persis seperti lagu di bawah ini...

Satu lirik lagu unik lagi yang berjudul Panjat Sosial, begini bunyinya...

Hati-hati jaman sekarang
Banyak orang berteman punya maksud tujuan
Mengumbar kedekatan dapetin keuntungan
Abis manis lo dibuang

-----------
Kalaupun ada teman yang awalnya akrab karena suatu keperluan/urusan dan pernah saya jadikan tempat curhat, namun jika mereka tidak open-minded dan tidak satu frekuensi dalam beberapa hal dengan saya, maka mereka tetap bukanlah termasuk dalam inner circle saya. Mereka teman tapi hanya sebatas itu. Teman cerita maybe, tapi tidak untuk menceritakan hal-hal yang sangat privasi.

Literally, saya pun come back ke teman-teman yang membuat saya benar-benar nyaman, yang mana dengan mereka saya tak perlu berubah menjadi orang lain, tetap jadi diri sendiri. Tidak perlu berpura-pura ketika bersama mereka. Mereka yang mau bareng dan tetap ingat kala susah maupun senang dan pastinya mereka tidak berganti rupa di belakang. Jadi, saat ada masalah, bisa terang-terangan, jujur-jujuran walau menyakitkan, habis itu balik lagi deh, tidak bisa pisah, marahnya hilang, keselnya hilang, itu karena mereka sudah melebur dengan saya, saya pun begitu sudah melebur dengan jiwa mereka, kami sudah satu frekuensi, satu radar.

Soal ini, saya jadi tersentuh mendengar sebuah lagu via Radio ketika menuliskan ini. Saya kurang tahu judulnya apa dan siapa penyanyinya. Liriknya begini...

Ku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang kubutuh satu teman
Tempat berbagi cerita
....

Cuman butuh the special one, tempat berbagi semuanya, termasuk berbagi kehidupan hehehe and this is you,  my superman.

KENAPA FOTO KAKI SIH?

"Some people are anchored to this world by their feet, others by their fears."
-John Kramer, Blythe-


Suatu ketika dia nanya, "Kok foto kaki sih?" Saya hanya menjawab, "Haha, nggak papa. Suka aja."
-----------

Saat saya lagi malas selfie, saya malah lebih suka foto kaki. I don't know why, tapi ada rasa nyaman sendiri buat saya saat foto kaki. Kalau diperhatikan, dari beberapa foto kaki saya, background-nya sama semua ya hehe cuman nampakin latar belakang lantai polos meskipun berada di tempat yang berbeda.



Foto di atas itu sewaktu saya masih praktik kerja profesi tahun 2015 lalu tepatnya di SLB Lawang. Saat saya datangnya kepagian, saya kadang iseng selfie atau foto apa aja sendiri di ruang asesmen. Oh ya, ngomong soal sepatu, jujur saya lebih suka flat shoes. Kenapa akhirnya saya beli sepatu itu yang solnya tampak ada sedikit hak-nya kayak foto di atas? Itu karena saat itu saya benar-benar lagi butuh sepatu yang agak formal, namun sesampainya di Mall, saya sempat agak susah mencari yang sama dengan ukuran kaki saya. Malah, saat saya menghampiri salah satu counter sepatu, mbaknya sampai menawarkan untuk melebarkan sepatu dengan sebuah alat. Entah apa namanya, pokoknya itu alat untuk melebarkan. Lah, kalau dilebarkan terus nanti jadi rusak, saya juga nggak mau dong. Akhirnya, saya keliling ke Matahari Matos, nggak dapat yang sesuai selera saya. Terakhir, saya masuk ke Buccheri. Sebenarnya saya menghindari beli yang mahal. Namun, mata saya sulit untuk tidak berpindah ke lain hati lagi saat melihat sepatu warna Tan yang kalian lihat di foto atas ini. Simpel, warnanya natural dan cocok untuk formal. Itulah yang saya cari. Akhirnya, saya putuskan untuk membelinya karena kebetulan tinggal satu-satunya yang size 40. Di tempat lain ada sepatu lain size 40 tapi size-nya entah kenapa kekecilan untuk kaki saya dan Buccheri ini pas banget, nggak kegedean tapi juga nggak kesempitan. Bahannya kokoh. Saya beli itu tahun 2011 atau 2012 ya, saya agak lupa, tapi seingat saya itu waktu saya S1 akhir-akhir skripsi. Saya beli karena berpikir mungkin setelah itu saya kerja, jadi lebih baik beli sekalian. Sampai sekarang, sepatunya masih awet, hanya saja solnya itu agak termakan sedikit sih. Gimana ya ngejelasinnya. Jadi solnya yang tadinya rata, sekarang permukaannya sudah nggak rata. Mungkin gara-gara saya pernah pakai sembari mengendarai motor dan menyentuh aspal saat mengerem. Jadi kalau dilihat sekilas, solnya timpang, nggak rata gitu. Tapi untungnya masih enak sih dipakainya, masih bagus juga. Cuman kulitnya ada yang tergores namun tidak sampai merusak kulitnya, waktu itu beli dengan krim pembersihnya cuman sudah kadaluwarsa mungkin jadi sudah nggak pernah saya bersihkan. Ini bahannya kulit sintetis sih ya jadi lebih awet. Warnanya pun nggak pudar. Intinya, kalau pakai sepatu bagus dan sedikit lebih mahal, saya eman-emani jangan dipakai sembari mengendarai motor apalagi kalau musim hujan, jangan sampai sepatu ikutan kena basah. Jadi, setiap kendarai motor dan dalam setiap musim apapun, mau hujan atau nggak, saya lebih prefer pakai sandal jepit dulu. Jadi, setelah tiba di kampus atau kantor, baru deh saya ganti pakai sepatu.
---------------


Foto ini saya ambil saat berada di stasiun KA Kota Baru, Malang. Waktu itu masih musim praktik namun praktik kali itu di RSJ Menur Surabaya. Mau gak mau setiap Jumat, saya pasti pp Malang-Surabaya. Kalau balik, kadang sendirian, kadang juga bareng teman yang lain. Saat itu saya tengah menunggu kereta sendirian. Gak ada kerjaan, jadi selfoot aja.
---------------


Foto ini saya ambil beberapa bulan lalu saat sedang antre di Richeese Factory samping Poltekes Negeri Malang. Saat itu, Bapak ngajak kami sekeluarga makan di luar. Daripada bete karena antrenya panjang, jadi selfoot lagi deh. Saat itu, tepat di barisan antrean depan saya ada sepasang sejoli. Mereka terlihat begitu serasi, ceweknya cantik dan cowoknya juga tampan. Lucunya, melihat style ceweknya, saya jadi teringat sama para personil JKT 48. Kok bisa keinget itu? Pasalnya, saat itu, si cewek memakai pakaian persis seperti personil JKT 48 ala-ala siswi Jepang, roknya pendek di atas lutut dengan akses rempel dengan motif kotak-kotak berwarna merah hitam kemudian didobel dengan kaos kaki stoking warna hitam transparan, rambutnya pendek sebahu lurus bak habis dicatok lalu dipermanis dengan pita merah. Dia juga memakai cardigan warna hitam. Hidungnya sedikit mancung, matanya sipit dan rupanya manis. Posturnya lebih pendek dan lebih kurus sedikit dari saya. Dia juga mengenakan tas berwarna hitam. Di depan saya, dia bersama sang pacar terlihat saling berangkulan, ngobrol entah apa yang diobrolin seolah dunia hanya milik mereka berdua sementara yang lain ngontrak. Cowoknya pun tampak cuek dengan dunia sekitar. Matanya hanya tertuju pada si ceweknya tadi. Kalau diperhatikan sekilas, cowoknya ini usianya cenderung lebih tua daripada si cewek, maybe seorang mahasiswa. Mengobservasi mereka bikin saya jadi Zzzzzz..... sendiri, bukan ngantuk, maksud saya, saya jadi gimana gitu lihatnya. Kalau dibilang iri sih nggak juga, tapi saya cuman merasa sedikit bahagia tapi sekaligus awkward melihat tingkah mereka. Bahagia karena mereka tersenyum berdua melulu. Awkward-nya karena jarang sih lihat orang pacaran sambil mesran-mesraan sembari antre pula di tempat makan gini :D...
----------------


Foto terakhir ini saya taken tadi siang saat sedang menunggu legalisiran ijazah sekaligus transkrip nilai di kampus 1 Pascasarjana UMM Jl.Bandung. Kok pakai sepatu sandal sih ke kampusnya? Hehe pikir saya karena udah nggak ada kegiatan kuliah jadi ya gak papa lah ya menabrak formalitas. Saya juga lagi malas pakai sepatu sih :D. Tadi sewaktu di kampus, saya melihat salah seorang laki-laki yang mungkin usianya sudah 30-an, saya nggak tahu pasti. Dia duduk di deretan kursi yang berada dua meter di deretan kursi saya. Dia sedang asyik menelepon dan duduk dengan gaya yang sangat nyantai. Hal yang saya observasi dari dia adalah ketika dia meludah dua kali. Kok kesannya kurang sopan gitu ya, meludah di dalam kampus ya walaupun liurnya itu masuk ke sela-sela bolongan besi, tapi kan tetep aja saya kurang setuju. Lagipula jarak antara kursi dan bolongan besi itu sekitar satu meter. Seandainya saat itu, ada orang yang nggak sengaja lewat di depannya terus dia refleks meludah, tentu nggak bisa dimaafkan ya. Saya juga sering sih lihat Bapak yang meludah di jalan. Literally, saya kurang suka sih kalau ada orang apalagi itu cowok yang meludah di jalan atau di tempat umum. Ya, ada baiknya kalau meludah mending ke toilet atau kamar mandi dulu atau kalau mau praktis, sediakan tisu lalu meludahlah dengan tisu sambil menutup mulut. Kita juga nggak tahu kan, barangkali ada orang yang jijik dengan melihat liur kita napak di jalan dan itu bisa jadi menyebarkan virus penyakit yang tidak sehat bagi yang nggak sengaja menginjaknya. 

Saat itu, saya tengah mencari tempat fotocopy lewat GPS, tapi berhubung sinyal lemot, akhirnya saya memutuskan untuk keluar kampus mencari sendiri dulu baru setelah itu kembali lagi. Saya pun dengan santai berjalan lewat tepat di depan orang yang meludah tadi. Dia dengan posisi kaki bak selonjoran (kakinya di rentangkan memanjang hingga hampir mencapai batas jarak dengan bolongan besi di depannya), saya lewati dengan santai tanpa permisi. Kenapa akhirnya saya seperti itu, sebab saya nggak mau jalan di koridor dekat bolongan besi yang sudah dia ludahi tadi. Saya sibuk melihat dan menata map berisi ijazah dan transkrip tapi mata saya sekilas melirik ke arahnya dan orang tersebut melihat saya berjalan di depannya mulai dari saya berdiri hingga saya berlalu beberapa detik dari hadapannya. Ya, memang sih, dia tidak merugikan saya, namun, karena dia sudah mengotori lantai yang harusnya nyaman untuk dilalui orang yang berjalan dengan liurnya, jadi saya berpikir terlalu sopan jika saya berjalan sambil permisi, toh, koridor itu juga jalan umum meski berdempetan dengan kursi tapi orang-orang bebas untuk lewat. Ya, semoga nggak ada lagi orang-orang seperti itu. Kalau ketemunya orang yang buang liur di pasar-pasar sih, saya masih bisa maklum ya karena pasar pun tempatnya seperti itu, tapi ini di kampus. Dan, baru kali ini saya melihat ada orang yang meludah di dalam kampus dan itu posisinya sedang duduk di depan lantai koridor. Kalaupun dia malu meludah, seharusnya lebih mendekat lagi ke bolongan jadi liurnya nggak nyiprat ke mana-mana.





Yap, segitu dulu ya cerita saya di balik foto-foto kaki ini. Memang sih fotonya kurang mencerminkan background ceritanya karena hanya ada kaki dan lantai gitu aja. Tapi, meskipun juga cerita di baliknya hanya cerita receh, paling nggak ada sedikit pesan di antara foto-foto kaki tersebut. 

Kalau kalian suka foto kaki juga apa nggak nih?

EATING WITH A MIRROR, WHY NOT?

Di android saya sudah terinstall aplikasi Flipboard saat pertama kali beli. Tadinya saya kira itu adalah situs chating atau sejenis games. Rupanya Flipboard itu adalah situs yang di dalamnya berisi banyak sekali bahan bacaan dari berbagai web orang. Sekilas seperti majalah atau koran elektronik yang memuat beragam informasi mulai tentang olahraga, pendidikan, pernikahan, relationship, desain, style dan berita-berita umum lainnya. Pagi tadi, saya kembali membuka Flipboard. Saya menemukan bacaan yang cukup menarik di sana yaitu tulisan bertajuk psikologi, membahas fenomena makan sendirian dari perspektif individu lanjut usia. 


Eating alone alias makan sendirian. Gimana menurut kalian? Apakah kalian termasuk orang yang suka melakukan segalanya sendirian termasuk juga soal makan? Atau kalian lebih suka makan bersama dengan yang lain? Salah satu penelitian menyatakan bahwa aktivitas makan itu dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Masing-masing orang mempunyai anggapan yang berbeda soal "rasa" dari makanan yang dikonsumsi. Uniknya lagi, tim peneliti dari Nagoya University menemukan fenomena perbedaan antara orang-orang yang makan sendirian dengan yang sering makan bersama orang lain/ditemani oleh orang-orang terdekatnya. Seseorang yang makan bersama orang terdekatnya semisal keluarga, kekasih atau sahabat cenderung mempersepsikan makanan yang dikonsumsi tampak lezat dan nafsu makan bertambah atau ada keinginan untuk makan lebih dan lebih banyak serta dalam porsi lebih besar. Sebaliknya, orang-orang yang makan sendirian, nafsu makan mereka cenderung menurun, mereka juga cenderung menganggap makanan yang sedang disantap tidaklah lezat sehingga aktivitas makan pun jadi terasa tidak menyenangkan.


Para peneliti dari Nagoya tersebut kemudian berinisiatif dengan melakukan sebuah eksperimen untuk menemukan sebuah solusi, bagaimana caranya agar orang yang meskipun dalam keadaan makan sendirian bisa sama menyenangkannya dengan orang yang makan ditemani orang lain. Makan ditemani orang lain ini disebut sebagai social facilitation of eating dan ini adalah gap yang ingin dipecahkan oleh peneliti tersebut

Dalam eksperimen itu, para peneliti merekrut sekelompok responden individu lanjut usia. Kenapa respondennya lansia sebab berbagai observasi dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lansia itu biasanya frekuensi eating alone-nya lebih tinggi daripada individu range usia lebih muda dari mereka. Kenapa lansia sering terlihat makan sendirian, sebab di masa-masa tua ini mereka dihadapkan pula oleh situasi kehilangan. Kehilangan orang-orang terdekat, entah itu suami atau istri atau situasi dimana mereka harus tinggal jauh dari keluarga atau mungkin sudah tidak punya keluarga. Menikmati makanan ini seperti halnya yang sudah saya jelaskan sebelumnya tadi itu merupakan faktor yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan frekuensi makan sendirian berkorelasi dengan depresi dan kehilangan nafsu makan.

Responden lansia tersebut kemudian diminta untuk makan sendirian tetapi sambil menghadap ke sebuah cermin yang diletakkan di depan mereka. Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan karena ternyata cermin bisa menjadi pengganti social facilitation tadi. Kehadiran bayangan diri sendiri di cermin sama halnya dengan kehadiran orang lain yang menemani mereka ketika makan. Sama halnya ketika para peneliti menempatkan monitor yang memuat foto dari responden tersebut, mereka (responden lansia) menyatakan bahwa aktivitas makan mereka jadi terasa menyenangkan dan keinginan untuk makan lebih banyak juga semakin meningkat. Jadi ternyata teknik self-reflecting menggunakan cermin dapat menjadi the social facilitation of eating meskipun tanpa kehadiran orang lain/orang terdekat untuk menemani seseorang tersebut makan. Self-reflection ini menyebabkan makanan akan tampak terasa lezat dan rasa ingin "nambah" jadi lebih meningkat. Begitulah sekilas penelitian dari Nagoya University yang dipublikasikan pada 2017 ini. 

Nah, menarik bukan? So, kalau kalian merasa kesepian saat harus makan sendirian dan pingin agar aktivitas makan bisa tetap menyenangkan? Coba saja makan sambil bercermin. Selamat mencoba eksperimen ini ya.

Sumber: 
en.nagoya-u.ac.id.jp/research/activities/news/2017/06/lost-your-appetite-try-inviting-yourself-to-dinner.html

OFFICIALLY M.PSI DAN REVIEW MAPRO PSIKOLOGI

Latepost banget dan baru sekarang ceritainnya. M.Psi alias Magister Psikologi Profesi. Gelar yang alhamdulillah udah saya dapatkan pada 26 April 2017 lalu (tertanggal lulus ujian tesis). Saya juga sudah wisuda pada 20 Mei 2017 lalu. Awesome? Bersyukur tapi kalau dibilang awesome nggak juga sih karena saya lulusnya 3 tahun sedangkan teman-teman lain ada yang 2 tahun dan ada pula yang 2,5 tahun. Dibilang kesal, sempat sih. Saya pun sudah banyak cerita pada postingan sebelumnya gimana cobaan yang saya dapatkan selama pengerjaan tesis. Ada masanya mengeluh, jenuh, malas, marah, sedih, senang, semua campur jadi satu. Mulai dari problem dengan dospem, harus ganti data subjek yang mana sama dengan terjun lapangan lagi, belum lagi hasil penelitian yang berbeda dari hasil sebelumnya dan sempat tidak diterima oleh dospem II dan urusan administrasi yang seharusnya mudah malah jadi diribetkan sama beberapa pihak kampus. Yap, tapi sudah sampai pada titik ini, saya patut bersyukur. Alhamdulillah sudah selesai.


Kalau masih ada yang bertanya kuliah di program magister psikologi profesi itu seperti apa? Kalian bisa scroll postingan terdahulu di Label Psychology . Di situ kalian bisa baca beberapa curhatan saya selama kuliah di mapro.

Sedikit akan saya review kembali. Bagi kalian yang berminat kuliah mapro psikologi, siapkan segalanya. Segala yang saya maksud adalah tentu saja biaya yang tidak sedikit dan tiap universitas range biaya juga beragam. Jika kalian ingin belajar untuk mengikuti tes masuk mapro, as your pleasure. Saya dulu jujur, tidak belajar sama sekali. Waktu itu, saya baru saja memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai dosen di Parepare lalu menuju ke Malang untuk kuliah lagi. Saat sudah ada di Malang, tiap pagi setiap harinya saya direpotkan dengan beragam urusan masak-memasak untuk mengganti mama yang biasa menyiapkan sarapan buat bapak. Belum lagi, rumah saya juga cukup jauh dari kampus sehingga selama tes berlangsung, saya meminta izin pada bapak untuk menginap di kos teman saya yang dekat dari kampus. Tesnya dilaksanakan pada pagi hari. Saya jelas tidak mau telat dong ya makanya sampai nginap di kos teman. Saat itu kos teman yang saya inapin lagi kosong karena dia pulang kampung dan dia juga sudah lulus mapro lebih dulu (teman kelas saya saat strata satu dulu). Jenis tesnya apa saja. Mungkin tiap universitas beda atau gimana, saya juga kurang tahu. Kalau di UMM, tes masuk mapro ya ada tes TPA (potensi akademik), tes pengetahuan seputar psikologi, tes kepribadian dan terakhir adalah tes wawancara. Waktu itu saya tesnya dari pagi sampai sore hari dan saya kedapetan urutan terakhir wawancara karena saya juga alumni UMM sebelumnya jadi saat wawancara yang ada malah ngobrol lepas sama dosen saya. Sekali lagi, saya tidak belajar, hehehe... Tapi mungkin karena sebelumnya saya juga mengajar di salah satu kampus, jadi beberapa materi umum alhamdulillah masih saya ingat tapi entah bagus atau tidak sih hasil tesnya waktu itu, saya juga tidak tahu :D...

Oh ya, di UMM itu untuk mapronya konsentrasi hanya klinis ya. Jadi, yang nanya apakah PIO atau perkembangan ada di UMM, saya tidak jawab ya hehe karena memang hanya fokus konsentrasi klinis. Konsentrasi lainnya bisa kalian dapatkan di kampus lain, semisal untuk mapro PIO kalian bisa kuliah di Unair dan sebagainya. Rajin-rajin browsing aja. Banyak kok mahasiswa mapro yang juga punya blog dan ceritain kisah-kisah mereka.

Kemudian siapkan fisik dan mental sebab bebannya lebih berat daripada waktu kuliah S1 Psikologi. Kenapa saya bilang bebannya berat? Pertama, jadwal kuliah yang padat mulai dari hari Senin sampai Jumat, dari pagi hingga sore. Matrikulasinya pun biasanya dilangsungkan pada hari Sabtu dan Minggu. Matrikulasi ini akan kalian jalani pada saat pertama kali setelah dinyatakan lulus tes masuk. Matrikulasi ngapain aja? Selama marikulasi, kita belajar bahasa inggris, terus.... dikasih kuliah tamu juga plus psikodiagnostik yang isinya alat tes untuk mapro ya (kalo sains tidak ada psikodiagnostik), hampir semua alat tes yang familiar dipelajari dimulai dari bagaimana cara mengadministrasikannya pada klien, skoring sampai cara menginterpretasi. Gampang kah? Unnnch...unnnch...hahaha kalau saya pribadi, mudah kok, yang sulit itu adalah sesi saat belajar tes Rorscach dan Wartegg, Sulitnya terletak pada skoringnya dan untuk pengadministrasian untuk asesmen klien juga sangat jarang ada yang pakai tes Ro dan Wartegg tapi especially Tes Ro punya kelebihan tersendiri karena cukup dalam satu alat tes ini kita bisa mendapatkan banyak informasi dari klien mulai dari inteligensinya, status mentalnya apakah ada kerentanan abnormalitas, kepribadiannya, gimana dia bersosialisasi dengan lingkungan dan sebagainya. Cuman yang bikin males ya skoringnya itu, karena gak mudah. Walaupun sudah dapat buku manual skoringnya dari kampus, tapi saya pribadi, masih belum berani untuk memberikannya sebagai instrumen asesmen bagi klien kecuali memang diwajibkan untuk memenuhi tugas kuliah yang saat itu disuruh nyari klien dan ngadministrasikan tes Ro itu sih.

Setelah matrikulasi selesai, perkuliahan pun dimulai. Senin sampai Jumat masuk kelas, mendengarkan ceramah dari para dosen. Kalau pengalaman saya di UMM, hanya selama dua semester (semester satu dan dua) kita duduk di kelasnya lebih banyak, selebihnya masih tetap turun lapangan mencari klien dan semester tiga dan empat mulai Praktik Kerja Profesi Psikologi (PKPP).

PKPP ngapain aja? Ini beda dengan Kuliah Kerja Nyata atau PKL ya. PKPP dilaksanakan sebanyak tiga putaran di tiga tempat berbeda. Tempat tersebut antara lain Sekolah SLB atau Lapas, RSJ, dan terakhir Puskesmas. Ngapain aja di tiga tempat itu? Ya praktik dong ya, berhadapan langsung dengan pekerjaan. Pekerjaannya adalah nanganin klien. Jadi, selama PKPP, kami diwajibkan mencari 7 kasus yang nantinya akan dilaporkan secara resmi dalam ujian HIMPSI. Saat praktik berlangsung, pastinya bukan hanya 7 kasus saja yang kita peroleh, melainkan sangat banyak kasus dan diharapkan tetap ditangani semua satu persatu meski ada kasus yang tidak diangkat sebagai 7 laporan kasus. Kasus apa saja yang dicari? Kasus gangguan anak, kasus gangguan dewasa, kasus keluarga, kasus kelompok, kasus komunitas, problem individu anak dan problem individu dewasa. Bedanya kasus gangguan dan problem, yang jelas problem itu bukan kasus gangguan (haha ya iyalah), problem itu ya kasus yang terkait dengan masalah-masalah psikologis tetapi belum masuk dalam taraf gangguan/disorder. Paham kan maksud saya? Ya, pasti paham lah ya. Jadi 7 kasus itu dicari di tiga tempat yang sudah saya sebutkan tadi.

Setelah PKPP, kemudian baru masuk Tesis. Sebenarnya selama PKPP berlangsung, bagi yang sudah ada judul dan konsep yang mantap untuk tesis malah lebih bagus jika bisa dijalankan keduanya. Tapi, bagi yang sanggup sih. Sebab, saya ngerti kok gimana rasanya memikirkan dan mengerjakan tujuh laporan kasus apalagi kalau mau ujian HIMPSI dan dituntut untuk revisi ketujuh-tujuhnya. HUooow... itu saja sudah menyita banyak waktu, kan. Kalau ada yang bilang, aah... itu mah biasa, ah.. itu mah gampil. Ya, silakan saja deh ya dirasakan sendiri. Make sure, jangan goyah selama pertarungan deh ya karena pas masuk PKPP sampai tesis itu, godaannya makin kencang. Godaan apa? Rasa malas, jenuh, lelah, sakit-sakitan dan lainnya. Jadi, kuatkanlah raga dan hati.

Setelah tesis kelar, wisuda deh. Setelah wisuda, menunggu jadwal untuk sumpah profesi yang mana dalam sumpah tersebut, kita dinobatkan secara resmi dengan sebutan Psikolog di belakang gelar M.Psi, dan dari sumpah tersebut, kita akan mendapatkan sertifikat sebutan psikolog serta SIPP (Surat Izin Praktik Psikologi). Jadi, bagi yang mau buka biro, buka klinik, praktik pribadi di rumah atau kerja di manapun bisa karena sudah ada SIPP dan sertifikat tersebut sebagai keabsahannya.

Yak, sekian ya review saya mengenai kuliah mapro psikologi semoga bisa membantu.

NB: Doain ya supaya buku baru saya bisa kelar saya kerjakan. Masih sangat molor karena butuh mood bagus untuk ngerjain. InshaAllah bukunya bisa bermanfaat bagi teman-teman yang masih bingung dan mau nanya-nanya terkait kuliah di jurusan psikologi. 

GANGGUAN TIC, APAKAH ITU?

Gangguan Tic--Image by Paresma

Kalian pernah gak sih lihat orang yang sering mengedipkan matanya berkali-kali? Atau apakah kalian pernah melihat seseorang yang menggerakkan bagian tubuhnya secara berulang hingga tak terkendali? Jika iya, waspada sejenak, bisa saja orang tersebut mengalami gangguan Tic.


Bagi kalian yang sudah pernah membaca mengenai gangguan tersebut lalu bertanya, apakah gangguan Tic itu sama dengan Sindrom Tourette? Saya pernah share tentang ini di Instagram saya April 2017 lalu. Di sini, saya akan menuliskannya kembali. Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita ketahui dulu, apa sih yang dimaksud dengan gangguan Tic? Mungkin kalian akan dengan mudah meng-googling tentang gangguan tersebut dan setelah saya browsing di beberapa situs juga banyak yang mengulas sampai menuliskan kriteria diagnostiknya. Di sini, saya akan membahasnya secara singkat dan semoga bisa dipahami ya.

Gangguan Tic itu adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai dengan gerakan sekelompok otot yang muncul tanpa disadari, kompulsif, tidak bertujuan, dadakan, dan terjadi terus-menerus baik dalam waktu singkat maupun lama. Tic juga dapat terjadi karena meniru gerakan/suara orang lain dan baru akan mereda ketika tidur.

Kalau tadi ada pertanyaan, apakah gangguan Tic ini sama dengan Tourette? Jawabannya adalah, gangguan Tic yang tidak ditangani dengan baik maka akan berkembang menjadi sindrom Tourette. Tidak hanya itu, gangguan Tic yang sudah parah hingga sudah masuk dalam stadium sindrom Tourette bisa saja muncul disertai gangguan lainnya atau bahasa ilmiahnya memiliki komorbiditas dengan gangguan mental lain diantaranya Obsessive Compulsive Disorder, ADHD, dan dalam tingkat derajat kronis, Tic bisa muncul disertai Conduct Disorder (bahasa awamnya gangguan perilaku kekerasan) sampai pada Self-Injury Behavior (Perilaku melukai/menyakiti diri sendiri). Serem amat yak?

Pada usia berapa sih gangguan Tic bisa diidentifikasi? Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoder atau DSM atau kitab sakti gangguan mental, Tic ini dapat terjadi pada usia onset 18 tahun.

Jenis-jenis gangguan Tic itu seperti apa sih?
Secara garis besar, Tic itu terdiri dari 2 jenis yaitu tic motorik (berupa gerakan di bagian tubuh) dan tic vokal (berupa suara) dan derajat keparahannya mulai dari ringan (mild) hingga sangat berat (severe). Gangguan Tic ini bisa terjadi selama satu tahun atau kurang dari satu tahun. Gangguan Tic ini beda tipis dengan gerakan yang kerap dilakukan oleh kebanyakan orang namun punya kemiripan dengan gerakan seperti mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tangan atau kaki tanpa tujuan dan terjadi secara berulang (bukan kejang). Namun, yang pasti, gerakan-gerakan yang terjadi pada gangguan Tic ini seringkali disertai dengan kecemasan berlebih sehingga gerakan tersebut akan semakin sulit untuk dikendalikan dan akan terus terjadi dan entah ini berita baik atau buruk, gerakan ini baru akan berhenti saat tertidur.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya gangguan Tic?
Tic bisa terjadi karena berbagai faktor antara lain:
  1. Aktivitas sistem syaraf pusat yang abnormal
  2. Ada masalah selama periode kehamilan, contohnya merokok, stress, obesitas dan konsumsi kafein selama kehamilan
  3. Buruknya kesehatan anak ketika lahir
  4. Stres sehari-hari pada anak yang terus berulang atau emosi kegembiraan yang ekstrem
  5. Modeling yang salah dari lingkungan
  6. Adanya disfungsi dalam keluarga (contohnya konflik pada orangtua, perceraian yang tidak berjalan baik pada orangtua atau ada trouble lain yang terjadi antar anggota keluarga di rumah)
  7. Trauma yang terjadi di sekolah pada anak-anak yang kemudian mempengaruhi cara dia dalam mengekspresikan dirinya.
Orang dengan gangguan Tic dan sindrom Tourette ini memerlukan penanganan yang serius. Penanganan yang diperlukan mulai dari terapi biomedis atau dengan obat-obatan (obat yang biasa diberikan oleh psikiater adalah sejenis pimozide atau huvoxamine, dan masih banyak lagi jenisnya). Selain biomedis, penanganan berupa psikoterapi juga diperlukan diantaranya pemberian Habits Revearsal Training untuk melatih agar bisa mengontrol atau mengurangi gerakan yang dilakukan, maupun langkah preventif sedini mungkin seperti penatalaksanaan Intervensi Psikoedukasi Keluarga mengenai gangguan Tic serta Intervensi akademik dan okupasi bagi anak dengan gangguan Tic yang bersekolah.

Agar lebih jelas lagi mengetahui tentang gangguan Tic ini, kalian bisa browsing video di Youtube, ketikkan kata kunci Tic atau Tourette, maka kalian akan menemukan cukup banyak video tentang topik ini. Saya pun pernah menonton salah satu video di Youtube tentang kisah nyata seorang anak (yang sekarang sudah berusia dewasa) yang berusaha mati-matian menyembuhkan gangguan Tic ini bersama kedua orangtuanya. Anak tersebut bahkan teramat sulit mengendalikan gerakan-gerakan yang muncul hingga rumahnya tampak seperti "kapal pecah" akibat gerakan yang dilakukan dan tentu saja hal itu di luar kontrolnya. Sampai akhirnya, mereka satu keluarga bertemu dan berkonsultasi dengan salah satu psikolog dan gangguan Ticnya berangsur-angsur tertangani.

Yap, sekian dari saya ^_^ Happy fasting