Pages

SALAHKAH MEMVONIS ORANG LAIN



Beberapa minggu yang lalu, saya menonton salah satu tayangan di televisi yang berbasis reality show. Ada scene dimana seorang ibu (dengan fisik kurang sempurna) ingin melaksanakan sholat di sebuah masjid. Saat ibu itu hendak memasuki masjid, tiba-tiba keluar seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya nggak jauh beda lah sama ibu itu. Bapak itu mengangkat tangan kanannya dengan posisi ibu jari menunjuk ke depan wajah sang ibu tadi sambil melarang si ibu tadi sholat. Alasannya? Bapak itu dengan entengnya bilang karena ibu itu kotor (Bapak itu secara frontal bilang si ibu itu kotor karena melihat si ibu berjalan dengan tangan dan maaf memang nggak punya kaki).


Saya nontonnya aja pakai nangis segala loh, terus saya juga sempat share ke si abang dan dia lebih jengkel lagi sewaktu saya ceritain. Tahukah apa yang dia bilang? Si abang bilang terkadang orang yang menuduh seperti itu mau dikata paling suci padahal imannya bisa aja nol.

WOW!! Saya tercengang juga sih dia bilang gitu, but it's just opinion, don't take it personally ya.

Belum lagi di media sosial yang nggak dipungkiri kita bisa dengan sangat mudah menelusuri laman gosip hanya dengan sekali klik. Lebih-lebih lagi di Instagram.

Saya agak gerah juga sih membaca postingan akun-akun gosip... ya you know lah ya, nggak usah saya jabarin satu-satu di sini. Entah itu bahasan atau singgungan atau battle-an antara haters-nya si ini dan si itu yang katanya suaminya selingkuh (wallahu'alam), ataupun soal artis atau aktor yang salah kostum, tattoo-nya dikomenin atau yang ngubah bentuk hidungnya pakai injeksi filler de el el.. de el el...

VONIS?

Please, ini bukan lagi pengen posting soal hukum atau pengadilan. Kenapa saya pakai kata "Vonis"? Biar greget aja sih, hahaha...

Nggak gitu juga sih. Kata vonis ini agak mirip-mirip gitu sama kata "menghakimi" atau jugding. Berhubung bosan pakai kata judge terus jadi sekali-kali tak apalah yeu. *Alasan aja*

Ahh... sudahlah.

Actually, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, vonis berarti putusan hakim pada sidang pengadilan yang berkaitan dengan persengketaan di antara pihak yang maju ke pengadilan. Memvonis diartikan sebagai menuduh melakukan perbuatan melanggar hukum.

Jadi, biar ngebahasnya lebih enak, nyantai dan nyikologis sesuai tema blog ini, maka saya pakai terjemahan dari kata memvonis tersebut aja ya.

Siapapun kita, dari status sosial macam apapun dan usia berapapun, I believe many of us pernah lidahnya kepleset ngomentarin bahkan menuduh atau memvonis orang lain? Kayaknya nggak ada deh yang nggak pernah nuduh orang lain kecuali kalau orang itu memang malaikat yang turun ke bumi dan pura-pura menjelma jadi manusia. Halah apaan coba...

Sebelum kita ngobrol santai pakai contoh di kehidupan sehari-hari, coba deh kita sama-sama telaah dulu sebenarnya salah nggak sih kalau memvonis orang lain? 

Kapan vonis atau judging itu bisa dipakai dengan tanpa menyinggung orang lain? 

Apa ada yang namanya vonis positif? Judgment positif?

Terus, apa bedanya ya judging dengan assess dan evaluating dalam ranah profesionalisme?

Pada penasaran kan.. Penasaran kaaan?

Iya saya juga sih. Makanya, saya juga sempat kepoin akun-akun Psychology Today dan beberapa akun lain yang pernah membahas tentang itu demi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

Kata vonis tadi sudah saya paparkan ya definisinya. Jadi, kata vonis itu lebih sering digunakan dalam ranah hukum. Saya nggak tahu apa-apa soal hukum jadi CMIIW ya. Cuman, menurut saya, vonis dalam ranah hukum ini sifatnya profesionalisme dan ada syaratnya sehingga ya bisa dianggap sah. Seorang hakim bukan asal ujug-ujug ngejatuhin vonis bagi terdakwa/terpidana. Pastinya ada proses yang panjang sebelum vonis ini bisa ditetapkan *sambil ketok palu*. Vonis ini menentukan hukuman atau tindakan apa yang akan diberikan kepada pihak yang terhukum, entah itu vonis hukuman penjara, bayar denda, hukuman mati, dan lain-lain.

Kata vonis juga sering kita dengar kan ya kalau nonton sinetron-sinetron yang ada scene dokter sama pasien (ketahuan ye kan suka nonton sinetron).... Kata-kata yang sering kita dengar, bahwa si dokter ini memvonis si itu umurnya nggak lama lagi melihat rekam medis dan penyakit yang diderita si itu.

Kok memvonis umurnya nggak lama lagi sih? Emangnya dokter itu Tuhan? Kenapa sih di sinetron atau pembaca berita kadang lebay gitu pilihan katanya harus pakai vonis memvonis segala? Saya juga nggak tahu tapi kayaknya kalau di dunia medis nggak jauh-jauh amat sama psikologi klinis yang pakai kata diagnosa/diagnosis.

Terus, kata vonis? Entah mungkin kata itu dipakai buat nge-hype-in kancah persinetronan dan per-gosipan dan per-socmed-an supaya yang baca jadi greget. 

Tapi, tapi... barangkali habis ini ada mahasiswa kedokteran yang main ke sini, jangan lupa komen ya hehehe.. dan saya mau tahu aja gitu, apa benar kalau di dunia kedokteran itu, para dokter memvonis usia si pasien sekian bulan, sekian tahun bla bla bla? Ya, supaya kita nggak kemakan sama influence dari sinetron dan infotainment dan sosmed aja sih nih karena kadang orang awam yang nggak tahu apa-apa pasti langsung nelan gitu aja informasi atau statement yang mereka dengar.

Nah, kalau di dunia psikologi sendiri. Seumur-umur sih, saya nggak pernah ya denger ada pembaca berita gitu yang menyiarkan bahwa "....si psikolog ini memvonis kliennya mengalami skizofrenia katatonik...." Misalnya aja. Nggak pernah kan denger kayak gitu? Ya semoga aja nggak ada yang begitu karena emang psikolog bukan orang yang kerjanya memvonis.

Di dalam ranah psikologi, kita mengenal kata judging/judgment, assessing/assessment dan evaluation. Ketiga hal itu apakah sama aja artinya? Kalau beda, bedanya apa dong?

Kadang, orang-orang awam pun asal ceplas-ceplos aja tanpa tahu kata judge itu apa sih maknanya dan asesmen juga evaluasi itu bukannya hampir mirip-mirip aja ya dengan kata judge. Dan kenapa sih orang-orang lebih suka pakai kata judge juga sekalian suka nge-judge orang lain?

Merujuk pada definisi yang tertera pada Wikipedia, judgment diartikan sebagai sebuah evaluasi dari berbagai sumber bukti guna pengambilan keputusan. Di Wikipedia-Judgment, judgment itu ada banyak term-nya loh ternyata antara lain informal judgment, informal and psychological judgment, legal judgment, dan religious judgment dan satu additional meaning yaitu personality judgment.

Informal judgment, yaitu opini yang diekspresikan sebagai sebuah fakta.

Informal and psychological judgment, digunakan untuk menyebutkan kualitas kemampuan kognitif maupun kemampuan ajudikasi seseorang, biasanya disebut sebagai kebijakan.

Legal judgment, digunakan dalam konteks persidangan hukum yang merujuk pada pernyataan akhir atau putusan berdasarkan pertimbangan berat ringannya bukti.

Religious judgment, digunakan dalam konsep ajudikasi Tuhan untuk menentukan baik buruknya, surga dan nerakanya setiap manusia.

Additionalnya, yaitu Personality judgment yang diartikan sebagai fenomena psikologis dimana seseorang membentuk sebuah opini tentang orang lain.

I guess, the last additional term of judgment adalah bentuk vonis atau judge yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan mungkin juga kita pernah melakukannya. Ya, we judge other people and we (sometimes) take it personally, namun seringkali menilai orang lain tanpa berdasarkan bukti yang nyata/jelas/pasti yang kemudian judgement/judging ini dianggap sebagai sebuah kata dan sikap negatif. 

Padahal, merujuk pada definisinya di Wikipedia saja, saya pikir sudah cukup jelas sih bahwa judgment itu dipakai dalam empat kondisi tertentu seperti yang saya jelaskan di atas ya. Kata vonis sendiri, itu masuk pada legal judgment ya.

Personality judgment itu memang sangat rawan. RAWAN GHIBAH, RAWAN GOSIP, RAWAN TERHADAP TUDUHAN YANG SIFATNYA FITNAH YANG BERARTI TANPA BUKTI NYATA, TANPA PERTANGGUNGJAWABAN, DAN DENGAN TUJUAN YANG SIFATNYA DESTRUKTIF.

Dalam keilmuan psikologi, para psikolog biasanya lebih menggunakan kata asesmen. Seorang psikolog terlebih dahulu melakukan asesmen yang artinya menilai individu atau kliennya dalam berbagai aspek, baik itu aspek kognitifnya, afeksi, psikomotorik, kepribadian, hubungan sosialnya dan masih banyak lagi. 

Asesmen yang dilakukan pun tentunya dibantu dengan instrumen berupa alat-alat tes psikologi juga melalui proses wawancara dan observasi sesuai dengan kebutuhan serta permasalahan klien. Proses asesmen yang berlangsung pun nggak semata melibatkan klien aja ya, melainkan juga significant others dari si klien yang berarti bisa saja itu adalah keluarganya, temannya, sahabatnya, saudaranya, pacarnya, suami atau istrinya, gurunya, dosennya, rekan kerjanya, dan mungkin juga WIL DAN PIL-nya (pada beberapa kasus juga ada loh yang begini) bahkan mungkin sampai pada pembantu atau tukang sapu jalanan yang sekiranya dapat memberikan informasi tentang diri klien dan pernah berhubungan dengan klien.

Melalui hasil asesmen inilah nantinya, psikolog menemukan simpulan atau putusan akhir guna dicocokkan dengan kriteria diagnosis sehingga memperoleh gangguan atau problem apakah yang sebenarnya dialami oleh si klien serta how or what kind of treatment yang sebaiknya diberikan pada klien untuk mengatasi problem atau gangguan tersebut.

Gimana udah lumayan jelas ya soal-menyoal judgment ini. Jadi, asesmen itu juga merupakan proses judging atau evaluasi tapi dalam ranah legal judgment sama seperti putusan hakim atau diagnosa dokter.

Tapi, semakin ke sini, penggunaan kata judge ini udah banyak disalahartikan karena nggak tahu term of-nya tadi sehingga dicap sebagai negatif. Padahal nggak gitu juga kali. Makanya di zaman sosmed modern sekarang ini kata judge yang kerap dipakai, diumbar, diungkit-ungkit, di-hype-in sampai sebegitunya ya yang sifatnya personality. Seseorang langsung menilai hanya lewat diri/personal/kepribadian orang lain sehingga jatuhnya udah bukan murni evaluasi yang bisa membangun atau penilaian yang akurat tapi justru penghakiman sepihak hanya berdasarkan pendapat.

Yang namanya pendapat itu bisa benar bisa salah ye kan? Namanya juga pendapat, orang pun bisa asal bunyi aja tanpa peduli yang sebenarnya terjadi dan tanpa tahu background dari orang atau sesuatu yang dinilainya. 

Orang bisa aja gitu ngomentarin mie yang dimasak sama si anu itu ya nggak sedap karena nggak ada garamnya padahal dia nggak tahu di balik proses pembuatan mie itu bisa aja si tukang masaknya sengaja kasih garam sedikit karena takut keasinan atau karena takut selera orang beda-beda atau dia mungkin lupa kasih garam.

Orang bisa aja ngomen ih si anu nah kok dia nikahnya sama si itu sih, si itu lo jelek, nggak cantik, nggak ganteng, apanya sih yang dia lihat dari si itu? Kenapa nggak pilih si ini aja sih yang udah jelas bebet, bobot, bibit dari genus dan marga tanaman apa. Ups...

Ngutaraian pendapat itu amat sangat mudah banget. Ada yang pakai diolah dulum ditimbang dulu, sampai ada juga yang nggak perlu ngolah langsung jebret udah deh kelar lo kena komen gue! Misalnya ya.

Tapi, makin ke sini kita karena mungkin kebanyakan makan micin juga jadi mudah mengambil atau terhasut sama pendapat yang kita dengar atau baca. Kalau kita beneran punya otak, harusnya dipikir dulu sebelum menerima informasi, diolah dulu, caranya ya cari tahu sendiri, cari tahu ke banyak orang termasuk cari tahu ke orangnya sendiri, tanya sendiri gimana sih yang bener, biar kita tuh tahu real, fact, nyata, pastinya kayak gimana. Kalau cuman diawang-awang apalagi cuman dengerin celotehan orang yang nggak bermutu, lama-lama proses kognitif kita jadi nggak bisa berjalan baik lagi, karena lebih mudah kehasut sama yang buruk-buruk, pasti bakal sulit nerima informasi yang baik, membangun dan berkualitas. Iya nggak?

Daripada sibuk mantengin akun gosip mulu, coba deh kita lebih sering lihat diri kita. Kadang emang kita khilaf sih, khilaf buat komenin orang lain. Kalau saya pribadi, kadang greget ngasih tahu orang lain, bukannya komen sih tapi lebih kepada ngasih tahu. Ngasih tahu kalau misalkan si ini atau si itu ngelakuin hal yang salah. Ngingetin sih lebih tepatnya. Cuman kadang juga jatuhnya malah dikira cerewetin, ngomen padahal sifatnya positif. Ini juga yang suka jadi bahan sebel-sebelan, Orang ada yang komen, niatnya baik, cuman mau ngasih tahu tapi orang lain pandangannya beda malah ngira si orang tadi tu cuman komen nggak jelas, cuman mau ikut campur aja.

Saya juga mulai agak berhati-hati. At least, saya pun pernah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari orang-orang yang sempat saya anggap sebagai teman. Tapi ternyata di belakang, mereka memberikan personality judgment. Saya memang diam, karena bagi saya, nggak ada gunanya juga ngebalas komenin balik. Kalaupun saya pernah komen balik itu amat sangat jarang dan thankful to God sekarang udah nggak lagi ngurusin begituan. 

Bukan apa-apa, saya jadi teringat, saya ini psikolog, kalau saya ikut-ikutan kayak gitu, gimana saya mau membangun hubungan personal serta diri yang baik supaya saya bisa kerja dengan baik, aman, nyaman, tenteram nanti? 

Kalau saya kayak gitu nggak ada bedanya dong, saya sama anjing yang menggonggong, nggak ada bedanya dong sama akun gosip atau hater yang seringkali menebarkan isu-isu miring, kalau kayak gitu, lalu kenapa saya jadi psikolog, nggak pantes deh kayaknya jadi psikolog tapi sikapnya childish tiap ada masalah main belakang kayak gitu. YA, ITULAH. Saya mikir ke situ. Bukan untuk dinilai orang tapi semata saya hanya ingin care pada diri saya sendiri. Kasihan saya kalau terus-menerus ngurusin orang yang pernah fitnah saya, jahatin saya bahkan nyemprot saya di sosmednya berkali-kali. Mungkin saya nggak bisa negur langsung, karena personally, saya pun tahu kalau rasanya ditegur di hadapan orang banyak itu sifatnya mempermalukan dan saya pun nggak mau melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah orang lakuin pada saya. I don't deserve it

Jadi, buat orang-orang yang sebaliknya ya bukan lagi tukang komen tapi justru sering kena komen, sering di-bully secara verbal ataupun kena cyberbullying, percayalah bahwa dirimu itu sangat berharga, lebih berharga daripada tukang komen itu. Kalaupun kamu pernah salah, ketika kamu sudah admit kamu memang salah bukan salah yang karena pengen nyari sensasi biar dapat banyak komen, kamu berhak memperbaiki dirimu tanpa perlu mengkonfirmasikannya kepada si tukang komen. Nggak perlu. Nggak penting. 

Kita nggak perlu konfirmasi untuk menunjukkan eksistensi kita. Kita nggak perlu konfirmasi agar orang lain percaya sama kita. Kalau emang orang lain nggak percaya ya terus percuma aja kan konfirmasi sebab ada pepatah yang bilang, orang yang membenci kita nggak peduli mau kita bilang apapun, mereka tetap akan membenci kita. Sebaliknya orang yang memang baik pada kita dan peduli juga sayang dan tahu kita siapa sebenarnya, tanpa kita ngasih tahu, tanpa pake acara konferensi pers pun mereka akan tetap menyayangi kita. Itulah yang namanya unconditional positive regard. Menghargai tanpa syarat. 

Kalau mau berubah setelah melakukan kesalahan, nggak perlulah pakai acara konfirmasi. Biarkan dan tunjukkan saja dengan sikap yang secara alamiah kamu bentuk, kamu upayakan, dengan begitu jalannya pun bisa lebih enteng. 

Kalau kebanyakan konfirmasi, itu nggak ada bedanya kamu dengan akun gosip itu. Kebanyakan konfirmasi bisa aja kamu nggak bener-bener berubah. Kebanyakan konfirmasi bisa aja nanti jatuhnya kamu cuman mau cari popularitas. Buat apa? Buat apa dengerin dan mengharap populer di mata orang lain? Kalau niatnya sudah begitu, ya silakan aja sih jalan... nanti juga tahu kan ujungnya, hasilnya gimana.

Terus juga, saya greget bin gengges banget kalau ada orang yang dengan gampangnya bilang eh kamu itu kafir banget ya bla bla bla.. Eh eh... emang situ Tuhan kah? Kok enak banget ya bilangin orang kafir? Emang situ tahu kafir itu definisinya apa dan kayak gimana? Emang Tuhan pernah ngasih tahu situ kalau orang yang situ judge bakalan masuk neraka atau kafir? Emang pernah? NGGAK KAN??! Jadi, ngapain sih pakai acara ngatain orang lain kafir segala. Ya ampun, kita ini manusia biasa biangnya dosa dan salah loh. Bisa aja kan diri kita ini punya dosa yang jauh lebih besar, who knows, jadi mending jangan sok gitu deh.

Sempat juga dulu di sosmed ada salah satu orang yang saya tahu. Saya nggak bilang kenal tapi tahu. Mungkin saya kenal tapi nggak sepenuhnya saya kenal dia karena nggak pernah 100 persen berinteraksi penuh sama orang itu. Orang tersebut dengan entengnya nge-judge orang lain yang pakai jilbab syar'i dan laki-laki yang biasa disebut ikhwan yang pakai celana cingkrang/di atas mata kaki. Kenapa sih? Kok lancar jaya banget ya ngatain si hijaber syar'i itu sok suci, sok inilah itulah. LAGI DAN LAGI, emang situ Tuhan kah?

Kenapa juga sih selalu sukanya ngungkit-ungkit masa lalu orang lain? Apa orang lain nggak pernah keluar dari kenistaan di masa lalu dan meraih masa depan yang cerah? Why? Kenapa dengan mudahnya kita menebar kebencian cuman gegara orang itu, si anu dan si inu punya masa lalu yang jelek, yang bangsat. Banyak loh orang lain di luar sana yang akhirnya bisa jadi ulama, bisa jadi orang baik sebaik-baiknya di mata Allah padahal dulunya dia ngelakuin kejahatan yang naudzubillah bahkan mungkin kita jijik nggak mau maafin. Dan, pernah baca kan kisah seorang pelacur yang hanya karena dia ngasih minum anak anjing yang kehausan, lalu kemudian dia bisa masuk surga... Nah, lalu apa hak kita buat nge-judge kayak gitu tadi? Kalau belum paham, coba deh baca, dan tolong jangan langkahin hak prerogatif Tuhan untuk menetapkan legal judgment bagi manusianya ya.

Sebagai seorang psikolog pun, saya nggak mau munafik. Pastinya nggak bakal lepas dari yang namanya judgment tapi dalam ranah profesionalisme yaitu asesmen. Iya, bayangin aja selama kuliah kita ini ditempa banget belajar gimana caranya asesmen, gimana caranya menginterpretasi hasil skoring dari tes psikologi dari klien kita.

Kita diajarin cara interpretasi, gimana cara melaporkan hasil observasi itupun dengan pemilihan kata yang tepat, nggak boleh langsung nembak ngedeskripsiin pribadi orangnya, dan itu kudu hati-hati banget. Saya kasih contoh nih ya, semisal lagi ngeobservasi dua orang, orang pertama lagi nangis dan orang kedua semisal lagi nyubit orang pertama, misal aja loh ya.

Nah, untuk mendeskripsikannya ke dalam laporan, kita nggak boleh menjabarkan bahwa orang pertama menangis karena dicubit oleh orang kedua. Deskripsinya kudu detil dan nggak boleh pakai kata-kata direct yang langsung nge-judge perbuatan si orang kedua. Caranya? Panjang bok ya kalau dijabarin. Misal gini deskripsinya, nyubit dan nangis itu diganti dengan kalimat orang kedua mengarahkan tangannya ke arah lengan atas orang pertama dengan posisi ibu jari dan jari telunjuk mengapit kulit lengan orang pertama kemudian kedua jari tersebut diputar ke kanan dan ke kiri bergantian sebanyak dua kali. Lalu, tampak air keluar dari celah-celah kedua mata orang pertama dan dia membuka lebar mulutnya sambil berkata "haaa.." dengan nada tinggi.

Gimana? Susah kan? Nggak kepikiran kan kalau harus sedetil itu. Iya, itu adalah hasil observasi. Belum kalau disuruh nulis hasil asesmen wawancara dan hasil tes juga sama-sama nggak boleh langsung nge-judge. Seringkali biar lebih aman pakai kata "cenderung" atau kata-kata indirect.

Kenapa harus gitu? Sebab persepsi orang tentu beda-beda dan agar penilaiannya tidak timpang kanan dan kiri dan bisa bersifat netral tanpa menghakimi. Yap karena katakan aja orang kedua mencubit dan orang pertama menangis? Bisa aja karena momennya pas barengan, orang kedua lagi gemes sama orang pertama, tapi orang pertama menangis misalnya karena kehabisan diskon di toko atau barusan nonton film korea. Bisa juga karena emang orang kedua niat bikin orang pertama nangis. dan bla bla masih banyak kemungkinan interpretasinya ye kan?

Jangan dipikir itu pekerjaan yang gampang loh ya. Sama kayak dokter, taruhannya adalah kesejahteraan bahkan hidup manusia a.k.a klien loh.

Kalau salah asesmen, sampai pada treatmentnya pun pasti bakal salah, dan apa iya kita mau bertanggung jawab kalau sampai klien kita udah salah perlakuan terus misalkan berubah jadi nggak waras, nggak sehat atau bahkan mengakhiri hidupnya. Nggak mau kan kalau sampai itu terjadi?

Jadi, let's be smart aja sih. Sekian dulu ya tulisan saya, semoga bermanfaat.

WHAT IF



Lebaran itu identik sama silaturahmi ya dan biasanya di momen ini nggak jarang juga muncul proses saling banding-membandingkan antar kerabat dalam keluarga. Sikap membanding-bandingkan inipun nggak jarang bikin bikez alias bikin kezel karena dari comparison itu, pintu-pintu anxiety makin terbuka lebar di kepala. Kecemasan inilah yang saya mau bahas dan saya kemas dalam kalimat WHAT IF... Dan yak, tulisan ini bakal saya sangkut-pautkan antara perbandingan-kecemasan-keluhan yang kemudian bisa melahirkan what if.

Saya yakin semua orang, kamu, kamu dan kamu juga saya sendiri pasti pernah memendam what if. Apalagi perempuan yang cenderung lebih emosional ketimbang laki-laki jadi pasti segala sesuatunya dipikirin, dirasain, ditimbang-timbang dulu. Jadi jangan heran kalau perempuan dua kali lebih rentan cemas daripada laki-laki.

Saya masih ingat dulu ketika baru saja lulus SMA dan ingin memilih jurusan kuliah. Salah satu saudara keluarga ada yang berkomentar miring saat saya ingin mengambil jurusan psikologi. Orang tersebut berkata, "Huh, psikologi, mau jadi apa kamu ambil psikologi? Mau kerja apa? Susah kayaknya itu kerjanya."

Saat itu saya geram tapi untungnya saya masih punya hati sehingga bisa menekan untuk tidak marah-marah di depan orang tersebut. Saya cuman mikir dulu kan jurusan psikologi masih belum se-primadona kayak sekarang bahkan di tempat tinggal saya di Parepare dulu, denger kata psikolog aja, mereka masih suka nyamain sama paranormal.

Saya pun dulu kerap dibanding-bandingkan. Di keluarga bapak maupun mama, saya memang cucu pertama. Tapi khusus keluarga bapak, saya bukan cucu yang lahir pertama karena adik-adik bapak yang perempuan sudah lebih dulu menikah meski bapak adalah anak sulung. Sementara dari keluarga mama, saya adalah cucu yang pertama lahir dan adik-adik sepupu saya semua usianya di bawah saya. Perbandingan pun lebih sering muncul di antara keluarga bapak. Tapi di keluarga mama (dari garis keluarga jauh) juga masih ada yang suka banding-bandingin sih.

Ya, saya akui memang banyak saudara dari keluarga jauh saya yang anak-anaknya jauh lebih sukses, semuanya sekolah dan kuliah di kampus negeri bergengsi, dipenuhi fasilitas yang memadai, berkali-kali dapat beasiswa, jurusan kuliahnya pun yang bisa dengan sangat mudahnya dapat kerja setelah lulus dan tetek bengek lainnya. Saya akui itu dan saya pribadi pun bangga dengan mereka. Bangga memiliki saudara-saudara yang tangguh dan cerdas seperti mereka dan saya jadi termotivasi untuk lebih berprestasi semasa sekolah dulu.

Saya pun kadang dibandingin hanya karena nggak nikah muda, hanya karena saya lebih memilih fight untuk sekolah sampai S2 yang actually di garis keluarga inti mama dan bapak memang cuman saya yang sekolah sampai strata dua (tapi kalau dijejer sampai garis keluarga jauh baik itu dari tante om nya mama atau dari keluarga ipar sih memang ada yang S2 cuman saya ngebahasnya dari garis keluarga inti aja). Sepupu saya dari keluarga bapak semua nikah muda bahkan udah pada punya anak. Jadi, kalau ketemu mereka pun saya juga kurang bisa luwes dan kurang akrab, karena concern kita beda, cara berpikir kita beda dan beberapa dari mereka masih ada yang old-fashioned.

Tapi, saya menghormati pendapat dan pemikiran mereka kok. Bisa dimaklumi lah karena adik-adik bapak punya track record nikah muda jadi nggak terlalu saya ambil pusing. Cuman saya sempat merasa sedikit kecewa aja ketika mereka bertanya begitu, bapak terlihat seolah disudutkan karena bapak anak sulung sedangkan anaknya kami-kami ini lebih fight for study. Saya kurang setuju dengan cara mereka yang kadang kurang tepat dalam menyampaikan pertanyaan atau pendapat. Mungkin mereka lupa bahwa masing-masing orang punya rezeki dan waktu sendiri-sendiri bukan?

Jadi, ya baiknya berkomentar sih berkomentar aja, asal tepat pada batasannya, nggak yang sampai bernada menyudutkan apalagi memaksa. ✔

Kalau di jajaran keluarga mama, saya lebih leluasa untuk berpendapat dan bersikap sesuai dengan cita-cita dan prinsip saya karena mereka lebih open-minded. Mereka memang lebih ceplas-ceplos tapi nyaris nggak pernah tuh saya dengerin pertanyaan dari jajaran keluarga mama, "Kapan kamu nikah? Kok sekolah terus sih?" Justru saya senang karena salah satu adik sepupu saya juga alhamdulillah bisa sampai strata satu jadi saya lebih merasa punya teman sebaya yang beneran sebaya di keluarga mama daripada keluarga bapak. CMIIW ya. Bukan berarti saya lebih berat sebelah. Saya hanya berkata sesuai fakta dan apa yang saya rasakan.

Ohya, selain itu saya bukannya orang yang suka gembar-gemborkan prestasi saya juga sih tapi kalau diminta sebutin bakal saya jembrengin semua HAHAHA... *pengennya belagak songong tapi lihat diri sendiri ngalem begini tetep aja nggak bisa. Itulah kenapa mereka nggak pernah tahu kalau semasa sekolah saya pun pernah dapat beasiswa, juara di berbagai lomba, pernah jadi siswi teladan, dan lainnya, tapi saya diam. Diam karena saya paham bahwa everybody will blossom in their own season. Menurut saya, kita nggak perlu sih banding-bandingin diri sampai sebegitunya dengan orang lain karena kita punya "waktu" masing-masing dan kita akan berjalan sesuai dengan waktu tersebut.



Saya jadi ingat beberapa hari lalu dan memang sih tulisan ini juga terinspirasi berkat kiriman chat dari salah seorang teman sekolah di grup Whatsapp kelas kami. Dan, yang intinya, teman saya menuliskan, "Setiap orang punya zona waktu masing-masing dan seseorang bisa meraih banyak hal dengan kecepatan masing-masing. Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaanya sendiri-sendiri, jalurnya sendiri-sendiri, dalam waktunya masing-masing. Obama pun pensiun dari presiden di usianya yang ke-55 tahun sementara Trump terpilih sebagai presiden di usianya ke-70 tahun. Kita tidak terlambat, tidak juga lebih cepat karena kita punya waktu masing-masing."

Overall, saya setuju banget sama tulisan kiriman dari teman saya itu. 4 THUMBS UP FOR IT!! 

Beside that, saya dulu memang sempat cemas. Banyak hal yang saya pikirkan termasuk mikirin perkataan saudara yang tadi. Jadilah akhirnya muncul what if what if di kepala saya. Gimana nanti kalau ternyata bener saya bakal susah dapat kerja karena saya kuliah di jurusan psikologi? Gimana ya kalau nanti ternyata bener, saya justru semakin dibanding-bandingin sama beliau karena nggak bisa seperti anak-anaknya? Gimana ya kalau saya kerjanya cuman ongkang kaki di rumah doang? Gimana kalau orang lain bakal nge-judge dan ngejekin saya hanya karena saya salah jurusan, salah pilih kerjaan dan salah-salah lainnya? HOW?? WHAT IF.....?

Tapi, lama-kelamaan, saya skip kecemasan itu dan mulai sadar setelah saya belajar sendiri di psikologi. Justru berkat kuliah di jurusan psikologi lah seenggaknya saya bisa lebih mengontrol untuk nggak kebanyakan micin mikir negatif. Sebelum kuliah pun saya sempat ragu karena what if tadi. Desperate dan upset sih iya pasti tapi in another side, saya berpikir lagi, kalau saya terus-terusan mengeluh, ngurusin judgment orang lain dan mencoba untuk mencari jurusan lain saat itu, mungkin saya nggak bakal betah kuliahnya atau mungkin saya mau saja ambil jurusan lain tapi nggak bakal selesai sampai lulus kuliahnya, naudzubillah deh.

Sampai saat inipun, saya tahu keluarga saya itu memang nggak sepenuhnya bisa menghargai semua usaha saya. Meskipun saya pernah mengajar sebagai dosen saat lulus S1, meski saya pernah menulis 4 buku dan bisa dapat penghasilan dari hobi saya sendiri, meski saya pernah jadi lulusan terbaik waktu S1 dan meskipun sekarang saya sudah jadi psikolog ya mungkin di matanya, terang saja masih jauh lebih sukses anak-anaknya dibanding saya. Despite of that, saya nggak terlalu pusingin karena toh orang punya jalannya sendiri, rezekinya masing-masing dan punya battle masing-masing. Dan saya jadi ingat sama nasehat dari teman baik saya bahwa kita nggak akan pernah bisa meraih simpati, memenuhi harapan dan tuntutan apalagi ngebahagiain semua orang? WHAT A SUCH IMPOSSIBLE THING.



Emang sangat gampang kalau kita mau nyari bahan untuk dikeluhkan. Mengeluh karena hidup kita dinilai nggak sebagus dan seindah inces-inces di negeri dongeng. Mengeluh dan berandai-andai karena pusingin perkataan orang lain.

Ya cukup dengan melihat "rumput" di rumah orang lain maka secara otomatis keluhan itu muncul dengan banyak rupa. Betapa capeknya kalau hidup seperti itu, melulu dengerin judgment orang yang nggak ada habis-habisnya, melulu melihat ke atas, banding-bandingin diri sama milik orang lain.

Mengeluhkan hidup yang kita hadapi dan jalani saat ini pun juga nggak baik. Allah saja udah berfirman bahwa setiap manusia itu diuji sesuai kadar kemampuan masing-masing. Menurut saya, mengeluh itu wajar tapi jangan berlebihan dan terus-terusan. Kalau hari ini masih aja kita ngeluh, misalnya ngeluh karena kok ya nggak selesai-selesai kuliahnya padahal udah mati-matian berjuang, kok ya pekerjaan kita susah banget ya di kantor, kok ya gaji yang didapetin dikit banget ya, kok ya kita nggak dilamar-lamar sih sama pujaan hati kita, kok ya masih nganggur aja sih bosen deh, dan kok ya.. kok ya.. lainnya.

Kalau udah gitu ya, hasrat untuk menjadi seperti orang lain pasti muncul. Iya nggak? Orang lain kok ya hidupnya selow nyaman dan sejahteran wae gitu ya sedangkan kita msaih gini-gini aja? Belum tentu. Belum tentu mereka senyaman dan se-sejahtera yang kita pikir loh. Inget lagi bahwa setiap orang dan setiap rumah itu punya ujian masing-masing. Belum tentu juga kan kalau kita ngotot harus seperti orang lain, kita bakal sanggup dan mau ngejalanin ujian yang dialami orang itu di balik kisahnya yang mana kita cuma bisa lihat dia di cover sehingga kita amazed sama orang itu. 

Kalau ternyata mereka sukses dan kaya tapi di sisi lain hidupnya berantakan dan terlibat kasus kriminal, apa kita mau kayak gitu? Kalau memang mereka punya kerjaan bagus dengan gaji yang menggiurkan tapi ternyata di tempat kerja mereka diuji dengan kehadiran "mulut-mulut singa" yang hobinya nge-bully mereka tiap hari tiada henti, apa kita sanggup? Belum tentu juga kan.

Kenapa sih harus ada drama kepengen kayak orang lain? Kenapa harus khawatir kalau nggak kayak mereka kita bakal sengsara dan nggak hidup dengan layak? Kenapa nggak mencoba untuk be the best of own self aja sih? Bukankah melihat sisi positif dari diri kita jauh lebih berharga daripada terus-terusan khawatir dan berandai-andai 

Di lain sisi, kalau kita termasuk orang yang hobinya menilai orang, coba deh belajar nge-rem. Ya, kita memang paling bisa menilai orang lain, takjub  atau ngeremehin orang lain tapi kita nggak pernah mencoba untuk nge-break down sisi-sisi tantangan/cobaan yang dihadapi orang tersebut, gimana usaha dia untuk sampai pada titik itu dan hal positif apa yang bisa bikin kita untuk menghargai orang tersebut.



Nggak menutup kemungkinan orang yang kebanyakan ngeremehin sebenarnya deep in their heart mereka sangat jealous dan karena dialah yang membuat hidupnya merasa bosan sampai kurang kerjaan keluhin diri sendiri lalu ngeremehin orang lain. Saya bukannya ngejek tapi kebanyakan sih seperti itu. Dari sini saya pun berpikir memang bener sih untuk selalu remind ourselves to not taking something for granted. Jangan. Jangan biasain nggak ngehargain atau ngeremehin hidup orang lain lalu menyimpulkan sendiri sesuai persepsi kita kayak gitu padahal kita nggak tahu di balik layarnya kayak gimana. Jangan juga biasain untuk ngeluhin hidup kita sendiri karena kitalah yang benar-benar tahu bahwa sebenarnya ada usaha yang pernah atau sedang kita kencengin demi bisa sampai pada tahap saat ini kan? Kita nggak pernah tahu kalau hidup yang kerap kita keluhkan adalah the things that someone else is praying for loh.

Kalau kita masih aja suka komen soal hidup orang lain, coba deh dikontrol karena itu bisa membahayakan hidup orang lain. Awal-awalnya sih mereka bakal keep in mind banget sama komentar kita, tapi lama-kelamaan kalau pikirannya udah kacau, yang tadinya orang itu bukan pencemas lama-lama bisa ngalamin gangguan kecemasan kan bahaya juga buat hidupnya. Jangan dikira gangguan kecemasan itu adalah hal yang receh loh ya. Nggak tahu kan nyembuhinnya pake terapi ke psikolog atau psikiater bayarnya berapa?

Kalian juga nggak tahu kan gimana tersiksanya kalau ternyata kecemasan yang dia derita berkembang menjadi depresi dan harus divonis minum antidepresan dalam jangka panjang efeknya kayak gimana? Dan ada juga loh orang yang sulit untuk kembali normal meski udah ikut terapi model apapun. Kalau kayak gitu apa kita nggak takut dosa?

Gimana caranya biar what if  di kepala kita berkurang?

Gimana caranya biar kita nggak ngomentarin hidup orang lagi?

Dan, gimana caranya biar kita nggak ngeluhin hidup diri sendiri?

Jawabannya nggak lain adalah bersyukur. Ingatlah bahwa di antara makhluk lain, manusia, kita ini adalah makhluk dalam penciptaan paling sempurna. Ingatlah bahwa kita ini masih dikasih oksigen gratis loh, masih bisa napas lega. Coba deh lihat orang-orang yang harus dibantu pernapasannya pake selang oksigen, yang cuman bisa terkapar di pembaringan, yang udah kena stroke sampai stuck nggak bisa ngapa-ngapain? Nah, kalaupun mau banding-bandingin diri, maka rajin-rajin tengok ke bawah. Bandingin sama orang lain jauh di bawah kita, maka kita bisa lebih mudah nemuin something to be thankful.

Daripada cuman fokus ngeluh yang akhirnya bikin makin cemas dan makin berandai-andai ngawur buat mirip-miripin sama hidup orang lain, mungkin kita perlu perbanyak luangkan waktu untuk mendekatkan diri sama Tuhan, minta ampunan-Nya. Mungkin kita juga perlu lebih kreatif. Kenapa saya bilang kreatif karena orang yang suka ngeluh biasanya cenderung mudah bosan. Sebab bosan bisa bikin kita menyalahkan keadaan padahal orang bosan itu ya karena dia sendiri yang membuat hidupnya membosankan, nggak pernah do or challenging their selves to do something new. Kreatif bukan berarti musti nyiptain pesawat kayak Pak BJ Habibie atau musti bikin kreasi kerajinan tangan. Kreatif yang saya maksud sebagai contoh misal kalau tiap hari kita ngeluh karena gaji dari pekerjaan nggak cukup untuk menuhi hidup, jangan pernah ragu untuk membuka usaha sendiri, bisa dari hobi atau cari kesibukan lain yang sekiranya bisa menghasilkan juga di luar pekerjaan di kantor. Atau contoh lain, semisal kita ngeluh karena tiap kali beli bensin di pom yang sama selalu antre panjang, maka cobalah sesekali beli ke pom lain meskipun agak jauh. Selain memungkinkan untuk nggak antre panjang di pom lain itu, kita jadi bisa melihat pemandangan di sekitar jalan yang jarang atau bahkan nggak pernah kita lewati. Barangkali bukan cuman dapet bensin tapi juga dapat rezeki lain. Heheh... ngaco deh.

Ya udah segitu aja sih tulisan saya kali ini. Semoga bermanfaat ya.

APA YANG DILAKUKAN SAAT KESEPIAN?

"Let me tell you this: If you met a loner, no matter what they tell you, it's not because they enjoy solitude. It's because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them." 
-Jodi Picoult in My Sister's Keeper- 


-------------

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba ngerasa kesepian? Padahal loh ya lingkungan tempatmu berada cukup ramai. Meanwhile, kamu ngerasa trapped by your empty feeling and you don't know why it attacks?

Dulu saya juga pernah merasa kayak gitu. Suddenly, I feel like I've to be even more isolated than before. Entah mungkin itu karena saya yang notabene melancholic person atau karena ada hal lain yang melatarbelakangi perasaan tersebut. Perasaan kosong tersebut membuat saya withdrawal, mengurung diri di kamar, lebih banyak tidur, menjauhi interaksi dengan orang lain terutama di dunia maya (jadi saya bisa tahan untuk tidak aktif di media sosial selama beberapa waktu), menolak ajakan teman untuk hangout, tidak bergairah dan bila saat rasa sepi tersebut melanda dan di saat yang sama saya masih berusaha untuk berinteraksi dengan orang lain namun orang tersebut mengabaikan/mendiamkan/tidak ada timpalan balik, maka saya akan merasa seolah tidak diinginkan, tidak dicintai dan tidak dihargai saat itu juga. 

Ya, saya tahu tanda-tanda dari loneliness jika nggak diatasi akan berakibat fatal. Karena saya sudah bertahun-tahun belajar psikologi, maka saya pun juga tahu bagaimana memposisikan diri. Oleh sebab itu, saat kesepian dan perasaan kosong itu menghampiri, I try to resolve it properly.

Kalau kita membaca dari berbagai buku maupun artikel di web, loneliness atau kesepian itu diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang merasa sendiri, tidak diperhatikan, tidak dianggap berharga/penting, tidak dicintai dan disconnected to their environment. Jadi, perasaan kesepian ini merupakan subjective experience, so if the people think they are lonely, then they lonely

Lalu, apa bedanya perasaan kesepian dengan perasaan terisolasi dari lingkungan? Kedua hal ini sebenarnya tidak jauh beda, namun perasaan terisolasi dari lingkungan ini terjadi karena mereka gagal terhubung atau gagal menjalin kontak dengan orang lain. Contohnya itu seperti ketika kita berada di sebuah tempat, kita lagi hangout nih ceritanya. Di sekeliling kita ada banyak teman, namun kita merasa "hampa", yang semestinya kita ikutan nyambung ngobrol sama mereka, tapi tiba-tiba kita merasa kok jiwa kita lagi nggak di tempat itu kenapa ya? Alhasil, kita jadi sulit untuk terkoneksi dengan lingkungan.

On the other hand, perasaan kesepian juga berkaitan dengan intraversi dan depresi. Orang dengan tipe kepribadian introvert cenderung lebih rentan mengalami kesepian serta tidak jarang ada yang bisa sampai pada tahap depresi. Di beberapa literatur juga menyebutkan bahwa orang dengan kepribadian introvert ini punya tendensi anti-sosial.

Baca: TIPE APAKAH KAMU: INTROVERT ATAU EXTROVERT

Perasaan kesepian ini cenderung meningkat ketika memasuki masa penuaan karena pada masa itu seseorang mulai mengalami fase kehilangan atau keterpisahan dengan orang-orang terdekat, anak-anak sudah pada berkeluarga semua sehingga tinggal berjauhan/tidak satu rumah lagi dan nggak jarang ada juga orang usia lanjut yang semakin kurang berminat terhadap kegiatan sosial. Jangankan orang lanjut usia yang masih tinggal dengan keluarga, mereka yang tinggal di panti wredha bisa jadi jauh lebih tinggi lagi perasaan kesepiannya apalagi kalau mereka baru awal-awal dialihkan masuk ke panti wredha. Bukan hanya perasaan kesepian saja, perasaan terisolasi karena terpaksa dialihkan ke panti wredha juga mereka alami.

Ngomong-ngomong soal lanjut usia, tahun 2016 lalu saat saya masih kuliah dan PKPP di Puskesmas, saya punya dua orang klien lansia. Sebut saja Mbah Mawar dan Mbah Melati (nama disamarkan yak). Mbah Mawar ini sudah menjanda dan sebatang kara sejak tahun 90-an. Beliau pernah menikah dan bercerai sebanyak tujuh kali. Usut punya usut, setiap kali menikah, Mbah Mawar akhirnya menggugat dan digugat cerai karena tidak bisa menghasilkan keturunan. Semenjak masih muda, Mbah Mawar ini sehat dan baik-baik saja. Beliaupun pernah memeriksakan kondisi rahimnya ke dokter dan saat itu dokter mengatakan tidak ada masalah. Namun, entah pernikahan yang keberapa gitu ya, Mbah Mawar coba memeriksakan kembali dan dokter memvonis ada masalah di rahimnya tetapi Mbah Mawar lupa namanya apa, yang jelas bukan kanker. Mbah Mawar pun berjuang hidup sendirian. Beliau pun membuka dagangan kecil di serambi rumahnya. Beliau sangat kuat. Tapi, nggak jarang juga sih banyak orang asing datang dan memberikan sedekah untuknya. Beliau juga menjadikan satu kamarnya sebagai kamar kos sehingga cukup untuk makan sehari-hari buat simbahnya. Selama beberapa kali pertemuan, kenapa akhirnya saya nggak menjadikan Mbah Mawar sebagai klien untuk kasus yang saya angkat di PKPP sebab lama-kelamaan simbah tersebut menjadi kurang ramah. Beberapa kali terakhir saya datang, karena saya pikir, saya sudah cukup memberikan konseling, mengingatkannya untuk rutin berobat namun hanya terkadang saja didengarnya, jadi saya juga udah nggak pernah bawa buah tangan tiap ngunjungin beliau. Dan.... kalian tahu respon beliau apa? Pernah suatu ketika saya ke sana lagi dengan seorang teman yang sedang membutuhkan klien lansia dan Mbah Mawar saya rekomendasikan. Namun, Mbah Mawar mengusir kami. Ngusir loh ya. Saya agak nggak enak juga akhirnya sama teman alias adik tingkat saya itu karena sebelumnya, simbah nggak pernah kayak gitu. Mbah Mawar saat itu nyeletuk pakai bahasa Jawa yang artinya kok saya datang terus tapi nggak dikasih apa-apa. Dokter juga bukan, jadi nggak dapet obat, kalau cuman ngomong-ngomong ya nggak usah aja. Pulang aja. Gitu katanya. Nyelekit sih ya, tapi ya sudahlah. Saya juga agak beruntung karena urusan dengan simbah itu sudah selesai. Saya menilainya baik-baik saja dan simbah itu pun merasa udah nggak butuh bantuan saya lagi. Oke, fine.

Mbah yang kedua, sebut saja Mbah Melati. Mbah ini jauh lebih baik, lebih ramah dan lebih kalem daripada Mbah Mawar. Memang sih pas akhir-akhir seusai follow-up, saya juga agak kesulitan menemui Mbah Melati karena beliau akhirnya sudah bisa pergi ke rumah saudaranya yang jauh. Saya kurang tahu di mana. Mbah Melati ini juga mengalami problem yang sama yaitu kesepian. Di DSM-5 memang nggak masuk daftar Gangguan, namun termasuk dalam salah satu problem psikologis yang memerlukan perhatian khusus. Jadi, saya awalnya fix menjadikan Mbah Melati sebagai klien. Setelah beberapa kali asesmen, saya juga menemukan problem lainnya yaitu problem dengan kebermaknaan hidupnya dan yang saya pakai dalam laporan kasus waktu itu adalah problem makna hidup, bukan kesepiannya. Sebab, kesepiannya ini hanya menjadi salah satu akibat dari problem kebermaknaan hidupnya itu. Kisahnya pun lebih memilukan daripada Mbah Mawar. Semasa kecil, orangtua Mbah Melati bercerai. Mbah Melati pernah menikah namun tidak punya anak bukan karena sakit, tapi mungkin memang Tuhan berkehendak lain dengan tidak dikaruniakan padanya keturunan. Saat ini dia juga tinggal dengan kerabat angkat, beda ras dan beda agamanya dengannya. Saat mengunjungi rumah beliau di sebuah gang kecil, saya juga agak miris karena rumahnya tersebut adalah toko. Iya, Mbah Melati dibuatkan kamar di sebuah toko milik keluarga yang mengangkatnya itu. Beberapa cerita darinya juga dari tetangga menyatakan kalau keluarga angkatnya ini kadang bertindak kasar terhadapnya. Mbah Melati orangnya kalem banget jadi kalau dikasari atau dibentak sedikit, pasti beliau kepikiran dan ngerasa pilu. Hal ini juga terlihat di hasil asesmen waktu itu (saya menggunakan alat tes TAT). Oh ya, kenapa Mbah Melati menganggap hidupnya nggak bermakna karena dia dua kali menikah dan kedua suaminya pun meninggal lebih dulu darinya ditambah lagi dengan tidak mempunyai keturunan dan jauh dari saudara-saudara kandungnya. Akhirnya, Mbah Melati merasa kesepian. Beliau jika diamati memang lebih banyak mengurung diri di rumah. Beberapa waktu selama asesmen hingga terapi, Mbah Melati juga susah berjalan karena kaki kirinya reumatik. Untunglah di depan gang rumah ada Puskesmas pembantu (Puskesmas cabang dari puskesmas tempat saya praktek) sehingga simbah bisa kontrol ke dokter untuk mengobati kakinya. Beliau bener-bener sabar. Kalau saya ke sana, nggak jarang simbahnya menangis, menangis bukan karena ingin dikasihani tapi karena sering terngiang-ngiang dengan masa lalu yang pahit ditambah perlakuan keluarga angkat yang kadang kurang baik terhadapnya.

Baca: WALAU INTROVERT, JANGAN JADI PENYENDIRI

Kesepian pun bisa terjadi karena alienasi atau keterasingan. Keterasingan yang dimaksud di sini adalah seseorang yang merasa dirinya berbeda daripada orang pada umumnya, sehingga tidak banyak yang bisa menerima kekurangan serta kelebihan dirinya. Keunikan atau tipe pribadi tertentu juga rentan terhadap kesepian loh. Orang-orang yang jadi korban bully oleh lingkungan, dimana mereka iasingkan dan tidak dianggap juga rentan mengalami kesepian. Sepi karena dianggap tidak berharga, keberadaannya tidak diakui dan malah dianggap sebagai "musuh" atau "sampah" yang hanya bisa diolok-olok dan dibuang.

Baca: STOP BULLYING

Kalau ditanya, ada nggak sih di dunia ini orang yang nggak pernah merasa kesepian dan nggak pernah merasa sendirian meskipun cuman punya sedikit teman? Saya pikir ada dan saya sering bertemu dengan beberapa orang seperti itu. Ada yang memang mengakui kalau dia sulit untuk mencari teman yang bener-bener "teman". Ada juga yang merasa seolah tidak butuh banyak teman karena baginya banyak teman hanya akan semakin menambah banyak masalah. Wow, sadis. Tapi memang ada loh.

Beberapa tahun terakhir juga pernah ada yang mengirimkan email pada saya lalu mereka curhat. Rata-rata mereka itu adalah tipe introvert tapi memiliki self-esteem alias harga diri rendah. Bahkan ada juga salah satu dari mereka mengaku sangat tertekan karena takut bersosialisasi dengan orang lain sehingga hanya mengurung diri di rumah dan hanya keluar saat sekolah/kerja. Di sekolah atau di kantor pun mereka tampak kurang ramah dan nggak jarang gemetar saat harus berhadapan dengan orang banyak.

Orang yang self-esteem atau harga dirinya terganggu ini hampir mirip sih dengan orang introvert, tapi orang yang harga dirinya rendah cenderung merasa sangat tidak nyaman jika dihadapkan oleh situasi sosial yang baginya itu dianggap mencekam/membahayakan sehingga kerap menghindari berhadapan dengan banyak orang apalagi kalau orang-orang yang mereka temui tidak satupun dikenal dan lingkungan tempat mereka berada adalah lingkungan yang baru (baru pertama kali ada di lingkungan tersebut).

Adalah hal umum bila kita mendapati orang-orang yang mengalami kesepian ini terhambat dari segi keterampilan sosialnya, lambat dalam merespon interaksi/menjalin hubungan yang lebih intim dengan seseorang, pasif atau tidak banyak mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaannya di depan orang lain dan nggak jarang juga sih mereka yang kesepian dianggap garing karena pola interaksinya kaku (karena nggak punya cukup pengalaman dalam hal menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain).

Baca: MENDAPATKAN TEMAN ITU SANGAT MUDAH, TAPI TIDAK BAGINYA

Penyebab kesepian selanjutnya adalah kondisi dimana seseorang harus tinggal jauh dari keluarga inti. Misalnya saja seorang mahasiswa atau karyawan yang merantau jauh dari keluarga. Seperti halnya saya. Saat awal-awal hijrah dan menetap di Malang, saya merasa sepi karena mayoritas teman-teman saya ada di Parepare dan Makassar. Saya pun semakin sulit menjangkau mereka karean selain jauh juga karena tuntutan kuliah yang mengharuskan saya untuk fokus dan tidak ke mana-mana. Saya pun sewaktu strata satu pernah nggak pulang selama dua tahun. Dua tahun itu saya bener-bener stay di Malang. Menghabiskan waktu di kos. Sesekali saya berkunjung ke rumah mbah di Sawojajar 1 atau mudik ke Madiun seorang diri. Walau demikian saya masih merasa kesepian karena jauh dari keluarga inti: Mama, Bapak, adik-adik dan teman sejawat. Jadi, selama dua tahun itu saya habiskan dengan part time di salah satu lembaga kampus, lebih aktif organisasi, lebih banyak tersita waktu saya untuk mengerjakan tugas-tugas kelompok dengan teman kuliah (yang memang waktu semester itu lagi padat-padatnya) ditambah saya baru sembuh dari sakit (karena ketularan sih jadi mau nggak mau saya pun pernah izin dua minggu nggak masuk kuliah dan nggak bisa pulang) ditambah lagi waktu itu saya kecelakaan (saya izin lagi nggak kuliah selama beberapa waktu karena di atas mata kaki sebelah kanan masih bolong, iya bolong, bener-bener bolong kena aspal jadi harus istirahat total dan tangan kanan pun belum bisa beraktivitas berat karena lukanya cukup serius)

Mereka yang sering pindah-pindah rumah dan pindah sekolah juga rentan mengalami kesepian karena tidak punya cukup teman yang sama untuk bersosialisasi dalam waktu yang cukup. Mereka harus pindah dari satu kota ke kota lain, bertemu terus dengan orang-orang baru dan orang baru yang dihadapi pun belum tentu sejalan dengan pemikiran mereka, belum tentu bisa menjadi teman yang baik buat mereka sehingga mereka bisa saja merasa terasing dan kesepian.

Penyebab terakhir yang sering kita jumpai juga adalah karena status perkawinan. Orang-orang yang belum menikah (karena memang belum bertemu jodohnya) dan orang yang bercerai juga rentan mengalami kesepian. Itu karena manusia kan makhluk sosial ya, yang saling membutuhkan satu sama lain. Seindividualis dan semandiri apapun seseorang, toh juga pasti butuh kehadiran pasangan di sisinya. Ketiadaan pasangan atau kehilangan hubungan perkawinan akibat perceraian ini bisa memunculkan emosi negatif. Ada masa-masanya mereka merasa tidak dicintai, diabaikan, tidak dihargai, tidak dibutuhkan dan tidak..tidak lainnya. Emosi dan pikiran negatif yang lama-kelamaan menumpuk ini bila tidak segera diatasi bisa berbuah menjadi trauma emosional loh, terutama pada orang-orang yang bercerai. Sewaktu strata satu dulu saya meneliti tentang perceraian untuk tugas skripsi saya. Dari hasil penelitian itu, salah satu kesimpulan yang saya peroleh bahwa dari sekian banyaknya proses penyesuaian yang mereka hadapai pasca perceraian, mostly, mereka cenderung fokus untuk mengatasi trauma emosionalnya lebih dulu. Ya, trauma emosional adalah urutan pertama yang mereka perangi setelah kehilangan status perkawinan baik itu cerai hidup atau cerai mati. Trauma menjalin hubungan dengan orang yang baru dan memilih bertahan dalam kesendirian dalam waktu cukup lama dan yang seperti ini cenderung dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Salah satu dari klien saya dulu ada yang betah untuk tidak menikah lagi sampai sekarang dan dia perempuan. Kenapa? Karena trauma disakiti. Dia nggak mau salah pilih pasangan lagi, nggak mau dikhianati lagi sehingga memilih untuk being single mother. Padahal ada beberapa orang yang sempat mendekatinya untuk nikah tapi dia memilih untuk say no.

Selanjutnya, faktor kedua yang mereka perangi pasca perceraian adalah perasaan kesepian. Sepi karena harus memulai dari awal lagi, tidur sendiri, kerja banting tulang buat anak-anaknya sendiri dan perasaan kesepian ini lebih banyak dialami oleh laki-laki. Karena nggak mau ngerasa kesepian lama-lama, klien saya yang laki-laki semua memutuskan untuk menikah lagi. Dari hasil penelitian itu sih, klien laki-laki cenderung mudah mengalami depresi kalau sendirian terus akhirnya salah satu jalan praktis untuk mengusir kesepian itu ya dengan mencari istri baru. Tapi, tentunya didasari oleh banyak pertimbangan terlebih karena mereka punya anak, jadi harus nanya ke anak juga, mau nggak nih kalau Papanya nikah lagi. Kalau diizinkan, ya maju, kalau nggak, ya mereka mencoba bertahan walau sulit dan demi menjaga perasaan anak-anak (tapi jarang sih ada laki-laki yang bercerai terus nggak nikah lagi, beda sama perempuan yang tingkat ketahanannya jauh lebih kuat daripada laki-laki. Ini bukan kata saya, tapi hasil dari penelitian saya ya, hehe, biar nggak sok tahu gitu).

Apa sih yang bisa dilakukan saat perasaan kesepian itu datang?
Banyak cara mulai dari yang ringan sampai cara yang lebih serius sih.
❤Bagi yang berkepribadian intraversi, walau memang terbiasa fokus pada hal-hal yang bersifat internal dan menyukai suasana yang tenang dan sepi, tapi jangan menjadi penyendiri. Tetap bergaul seperti biasa. Jika masih sulit bergaul dengan orang lain, minimal keluar rumahlah untuk sekadar menghirup udara segar atau jogging dengan hewan piaraan.
❤Tidak masalah tidak punya banyak teman karena kesepian itu bukan cuman soal banyak atau sedikitnya teman. Orang-orang yang punya inner circle kecil pun, jika dia pandai memposisikan diri dan bisa mengontrol perasaannya dengan baik, maka perasaan kesepian bisa diatasi. Terkadang punya banyak teman tapi kalau nggak bisa nyambung dengan mereka ya kemungkinan perasaan terisolasi itu pasti ada. Jadi, tetap bergaul dengan inner circle yang memang tahu diri kita ini siapa dan kita ini orang yang seperti apa. Setidaknya orang-orang di inner circle kita sudah satu frekuensi dan bisa saling memahami juga saling support saat ada masalah
If at the same time, orang-orang terdekat atau orang tercinta sedang sibuk dengan urusannya sehingga lebih banyak mengabaikan, jangan berkecil hati dan tetap berusaha positive thinking. Mungkin saja mereka punya problem dengan pekerjaan sehingga seluruh perhatian hanya terpusat pada apa yang mereka kerjakan. Saat mereka kurang memperhatikan, maka tugas kita adalah memperhatikan diri sendiri. Sebab, kebahagiaan kita bukan tanggung jawab orang lain. Orang terdekat memang perlu membahagiakan satu sama lain tapi tanggung jawab sepenuhnya ada pada diri sendiri. Jika orang lain kurang memperlakukan kita dengan baik, maka giliran kita yang harus meluangkan waktu untuk mempedulikan kesejahteraan psikologis diri sendiri.
❤Saat kita tiba-tiba merasa inadequate dan disconnected dengan lingkungan, luangkan waktu sejenak untuk menjauh tapi hanya untuk sementara. Renungkan apa sih yang menyebabkan perasaan kesepian dan inadekuasi itu muncul. Mungkin kita sedang lelah atau bosan. Tidak ada salahnya untuk menyendiri sekejap, introspeksi apa saja sih yang harus dan tidak harus dilakukan. Berkreasilah dengan hal-hal baru atau hal-hal yang bisa membuncahkan semangat kita lagi, misalnya membuat kerajinan tangan, mendaki gunung hingga ke puncak bersama teman-teman lama atau lainnya
❤Bisa juga dengan cara menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang kurang mampu. Etts.. jangan salah. Membantu orang lain ini selain berpahala juga bisa menjadi obat hati buat kita yang lagi sumpek. Dengan melihat ke bawah, kita jadi berpikir ulang untuk mengeluh. Kenapa? Karena kita sadar kalau masih banyak orang yang penderitaan dan permasalahannya jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan dengan perasaan kesepian yang kita alami. Selain itu, kita jadi bisa memperbanyak syukur. Salah satunya juga bersyukur karena masih punya perasaan. Maksud saya, orang yang merasa kesepian kan tandanya masih peka, masih sensitif. Coba lihat orang-orang dengan gangguan psikotik, mereka bahkan sudah terputus kontaknya dengan dunia sekitar dan coba lihat orang-orang dengan gangguan anti-sosial berat, contohnya psikopat, mereka dibilang tidak berperasaan, iya karena membunuh dan merasa puas setelah melakukannya.
❤Jika perasaan kesepian yang dialami sudah memunculkan gejala depresi, maka tidak ada salahnya mencari bantuan pada ahlinya, maybe ke psikiater, psikolog, atau konselor untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
❤Luangkan waktu untuk beribadah lebih khusyuk. Jadikan perasaan sepi ini sebagai momen untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan mungkin juga lupa berdoa pada Tuhan. Dengan adanya rasa kesepian ini mungkin itu adalah cara Tuhan untuk say hello and get we back to Lord. Ya, Tuhan pasti punya maksud tertentu mengapa menimpakan kesulitan dan perasaan negatif pada kita. Bukan karena Dia membenci kita, justru karena rasa sayang-Nya, Dia ingin agar kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengingat-Nya.

Yap, sekian dulu artikel kali ini. Semoga bermanfaat. Yang lagi kesepian, semoga lekas terusir ya rasa sepinya.

KENAPA KITA MERASA BOSAN?



Why we get bored?
------------



Apa sih bosan itu?

Bosan atau kebosanan atau bahasa ketjehnya boredom yaitu suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan ditandai dengan hilangnya minat dan sulitnya berkonsentrasi pada aktivitas yang kita lakukan. Kebosanan juga diartikan sebagai kondisi yang berhubungan dengan kecemasan dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.

Kebosanan ini merupakan kondisi yang pasti semua orang pernah mengalaminya. Ada yang bosan hanya dalam waktu sekejap tetapi ada pula yang merasakannya berlarut-larut. Rasa bosan ini bisa muncul dalam banyak situasi, antara lain bosan dengan pekerjaan, bosan sekolah, bosan belajar, bosan bermain bahkan bosan menjalin hubungan dengan seseorang. Rasa bosan sering ditandai dengan kita mulai menarik diri dalam melakukan aktivitas yang biasanya disenangi. Dilansir dari laman psychologytoday.com, kebosanan yang tidak ditangani dengan baik bisa menjadi bumerang yang menjerumuskan seseorang untuk melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya seperti mengonsumsi obat-obatan, minum alkohol atau praktik perjudian kompulsif misalnya. Rasa bosan juga berkaitan erat dengan kekhawatiran, kesepian, kemarahan dan kesedihan. Kalau kebosanan itu terjadi saat menjalin hubungan dengan seseorang, maka bukan tidak mungkin jika "bosan" tersebut berkelanjutan akan dengan mudah menghancurkan hubungan tersebut. Di kemudian hari, rasa bosan yang semakin menumpuk karena tidak diatasi akan berkembang menjadi rasa malas dan bisa menyerang kepercayaan diri seseorang juga loh.

Bagaimana bosan bisa dialami oleh seseorang? Seorang pakar neurosains, Dr. Irving Biederman menjelaskan bahwa kebosanan ini muncul sama seperti siklus yang terjadi pada seseorang yang kecanduan opioid. Di dalam otak manusia terdapat zat kimia yang melepaskan hormon kesenangan. Hormon kesenangan ini akan terangsang dan diproduksi ketika seseorang melakukan atau menemukan sebuah pengalaman baru. Pengalaman atau aktivitas baru tersebut merupakan sebuah tantangan yang menyebabkan otak terstimulasi untuk mencari tahu lebih banyak. Namun, seseorang lama-kelamaan bisa saja merasa bosan karena sudah terbiasa dengan pengalaman tersebut sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang waw! Akibatnya, seseorang bisa mengalami kebosanan, hatinya gamang.

Apa saja yang bisa menyebabkan seseorang menjadi bosan?

Buah dari Aktivitas atau Tugas yang Repetitif dan Monoton

Penyebab ini adalah yang paling umum terjadi. Jika seseorang sudah berada pada tahap di mana setiap harinya ia menjalani rutinitas yang sama terus-menerus tanpa ada peningkatan atau perubahan dari apa yang dikerjakannya, rasa bosan bisa saja muncul. Sebagai contohnya seorang pegawai yang setiap hari kerjaannya melayani customer, menerima telepon, merapikan pembukuan tanpa diselingin aktivitas lain, dan setelah pulang kerja dia makan, mandi kemudian tertidur dan begitu terus setiap harinya. Lama-kelamaan ia akan merasa bosan dengan rutinitasnya itu. Ia menganggap bahwa pekerjaannya itu itu saja. Pekerjaan yang awalnya dianggap sebagai hal yang menantang, namun karena tidak ada progress yang signifikan, ia bisa saja merasa jenuh. Ia pun jadi malas-malasan alias tidak sepenuh hati mengerjakan tugasnya dan mungkin lebih banyak menunda akibatnya bisa jadi ia akan kehilangan pekerjaannya. Di saat seperti ini, seseorang bisa saja bertahan melakukan aktivitas monoton setiap harinya karena alasan tuntutan pekerjaan dan takut kehilangan penghasilan.

Kurangnya Pilihan atau Kontrol Terhadap Aktivitas dan Situasi 

Rasa bosan juga menghampiri bukan karena suatu penyebab yang besar atau fatal, melainkan hanya karena seseorang tidak tahu dengan apa yang dilakukannya. Terkadang, seseorang melakukan sesuatu karena tidak punya pilihan lain. Sama seperti poin pertama tadi, seseorang terjebak dalam perangkap pikiran dan perasaannya sendiri. Kita kadang merasa kebingungan dengan motif mengapa kita melakukan pekerjaan tersebut dan kenapa berada dalam situasi tersebut. Kita sangat paham bahwa kita memiliki skill yang tidak perlu diragukan lagi. Kita juga bisa melakukan segala hal tanpa ada kekurangan sedikit pun atau dengan kata lain pekerjaan kita selalu sempurna. Rasa bosan yang menyelinap bisa saja disebabkan karena kurangnya stimulasi yang kita peroleh dari pekerjaan atau situasi yang dihadapi. Kita bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut namun, kita nyaris tidak pernah dihadapkan oleh hal baru di luar pekerjaan dan situasi tersebut atau karena kita tidak pernah mau mencoba menelusuri hal baru apa sih yang bisa kita kembangkan dari pekerjaan itu.

Kadang, kita juga merasa bosan sebab tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pasti kita pernah menghadapi satu momen dimana kita tiba-tiba stuck, terdiam tanpa paham sebabnya apa. Ingin melakukan ini itu, namun tidak berminat. Bahkan kita cenderung ingin menjauh dari lingkungan sekitar termasuk orang-orang di dalam lingkungan itu. Kita merasa bingung ingin melakukan apa ya. Kita tidak punya cukup banyak pilihan. Mungkin karena kita kurang kreatif atau kurang jeli untuk melihat sisi lain dari rutinitas yang kita hadapi setiap harinya.

Memaksa Diri untuk Melakukan Hal yang Tidak Disukai

Poin ini persis seperti seseorang yang salah masuk jurusan ketika kuliah atau salah memilih pekerjaan. Sebenarnya ada juga sih orang-orang yang tergolong sulit untuk berbaur dengan hal baru atau tantangan apabila hal itu tidak sesuai dengan passion mereka. Iya, passion. Kenapa saya bilang passion, sebab hanya passion yang bisa membuat seseorang bekerja dengan penuh cinta, dan meskipun tidak dibayar sekalipun, dengan passion, orang tersebut akan terus bekerja tanpa kenal lelah. Ketika dihadapkan dengan hal-hal yang tidak disukai atau bukan passion-nya, orang-orang seperti ini cenderung lebih mudah bosan.

Seseorang yang memaksa atau dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disukai atau tidak diminati tentu saja akan merasa gundah, gairahnya akan menurun dan menganggap tidak ada lagi kejutan yang bisa mereka dapatkan dari pekerjaan tersebut. Akibatnya, mereka tidak akan berkembang.

Kondisi yang Tidak Menyenangkan

Ada banyak kondisi tidak menyenangkan yang bisa menyebabkan kebosanan muncul. Salah satunya adalah kesendirian. Ya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi atau hubungan dengan manusia lainnya. Seperti lagu Kuntoaji, "Terlalu Lama Sendiri". Kondisi dimana seseorang terus-menerus berada dalam kesendirian yang berkepanjangan bisa menimbulkan rasa bosan. Bosan karena tidak ada seseorang yang bisa diajak untuk menjalin komitmen bersama. Bosan karena tidak ada seseorang tempatnya bersandar, Eaaaa... Bukan tidak mungkin, orang tersebut sudah punya segalanya, bisa melakukan pekerjaan yang menyenangkan, mapan, cantik atau tampan ditambah memiliki hati yang baik. Namun, karena kesendirian yang dirasakan sudah terlalu dalam dan lama, kesepian pun tidak jarang melanda dan tentu rasa bosan bisa saja menghampiri.

Kondisi lainnya yang seringkali menyebabkan kebosanan antara lain menganggur, tidak punya uang, terkekang, berada di lingkungan yang salah, berhadapan dengan orang yang tidak sesuai ekspektasinya atau orang yang tidak diinginkan, dan masih banyak lagi.

Kurang Menghargai dan Mensyukuri Pencapaian

Bisa traveling pakai uang sendiri. Bisa mengerjakan pekerjaan dengan "sempurna". Bisa memperoleh predikat cumlaude semasa kuliah. Bisa dapat beasiswa karena memenangkan lomba bergengsi. Ketika semua pencapaian yang telah berada di genggaman lantas kita remehkan, kita anggap sebagai hal yang biasa, maka tak dipungkiri rasa bosan bisa saja muncul. Kenapa? Karena kita kurang bersyukur atas segala pencapaian tersebut. Kita terlalu menyepelekan apa yang sudah kita raih. Kita haus akan pujian dan penghormatan dari orang lain sementara kita hampir tidak pernah mau menghargai perjuangan diri sendiri. Kita nyaris lupa untuk bersyukur bahwa semua itu tidak lain juga buah dari pertolongan dan karunia Tuhan.

Terlalu Memaksa Diri Meraih Banyak Hal dalam Satu Waktu

Punya impian itu baik karena dengan impian, kita jadi punya tujuan. Tujuan itulah yang akan mendorong kita untuk bersemangat menjalani hidup. Namun, apa jadinya kalau kita punya terlalu banyak impian? Apa jadinya jika kita memaksa diri untuk mewujudkan seluruh rentetan mimpi tersebut hanya dalam satu waktu? Bukannya mustahil jika memang Tuhan berkehendak. Namun, keinginan yang kurang realistis dengan memaksa diri untuk mewujudkan semua dalam waktu sebentar jelas-jelas adalah hal yang kurang baik. Terlalu banyak tujuan dan keinginan hanya akan mempercepat munculnya kebosanan dalam hidup. Seandainya semua hal itu benar-benar bisa diwujudkan dalam satu waktu, mungkin saja setelah itu kita akan merasakan kelelahan yang kronis. Lelah karena terlalu memforsir diri. Lelah dan bosan karena semua sudah kita raih, lalu apa lagi yang bisa diraih? Ingatlah bahwa kita ini hanyalah manusia. Sehebat apapun diri ini, kita juga harus tetap realistis. Jalani dan hadapi semua satu per satu. Alangkah lebih baik jika punya satu tujuan lalu berusaha merealisasikannya dengan sungguh-sungguh daripada punya banyak tujuan tetapi tidak ada satupun bisa diwujudkan hanya karena kita terlalu tamak menginginkannya. Atau, jika memang punya impian yang banyak, petakan dan wujudkan step by step. Bagi-bagilah tujuan besar itu ke dalam pieces yang lebih kecil. Dengan tujuan-tujuan kecil tersebut, mungkin rasa bosan tidak akan cepat muncul karena di setiap hal-hal kecil, pasti kita akan menemukan banyak hal baru untuk dipecahkan.

Kurang Percaya Diri untuk Menguji Kemampuan Diri

Seseorang yang takut out of the box, takut gagal, dan betah pada zona nyaman cenderung mudah bosan. Keragu-raguan atas kemampuan personal bisa membunuh rasa percaya diri sehingga takut untuk menghadapi tantangan dan menilai hidup ini biasa-biasa saja, begitu-begitu saja. Sesekali cobalah untuk menguji kemampuan diri sendiri, bukan untuk mendapat penghargaan dari orang lain, tetapi cobalah itu untuk meningkatkan performa diri kita, menaikkan kemampuan kita pada level yang lebih tinggi lagi. Kalau perlu, rombaklah resolusi dan introspeksi diri.

Kurang Istirahat atau Kurang Menghibur Diri Sendiri

Rasa bosan juga bisa terjadi karena seseorang sudah berada pada tingkat kelelahan yang "sangat". Lelah karena setiap hari melakukan rutinitas, bertemu dengan tantangan hidup yang tiada habisnya, dan menghadapi manusia dengan beragam karakter. Saat seperti ini, mungkin saja kita merasa bosan bukan karena orang yang kita temui, bukan karena rutinitas yang monoton dan bukan karena tantangannya, melainkan bosan karena kurang istirahat. Jadi, berhenti sejenak, menjauh sejenak, istirahat sejenak dan luangkan waktu untuk menghibur diri sendiri bisa menjadi alternatif untuk mengusir kebosanan. Menghibur diri bisa dengan cara mendengarkan musik, meningkatkan kualitas ibadah, menonton tivi, membaca buku dengan topik yang digemari atau melakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan, misalnya saja mencoba memasak dengan resep kreasi sendiri, kursus menyetir mobil, mendaki gunung atau lainnya, Terlalu sering memperhatikan kebutuhan orang lain tanpa mempedulikan kesejahteraan diri sendiri juga tidak baik, bukan?

Mood yang Patologis

Apakah kita sudah tahu apa itu kepanjangan dari bete? Kalau tahu, apakah kita juga paham kenapa bete bisa terjadi? Bete itu jika ditelisik lebih dalam lagi sebenarnya lebih kronis daripada rasa bosan yang biasa dijumpai. Bete itu adalah singkatan dari Bored Totally. Jika kita merasa bete alias boring total, coba ditelaah kembali, apakah rasa bosan itu muncul sewajarnya seperti yang dialami kebanyakan orang? Ataukah bete yang muncul disebabkan oleh mood alias suasana hati yang patologis? Yap, mood yang patologis atau mungkin bahasa kecenya mood swing memang bisa saja dialami oleh seseorang. Bisa terjadi karena orang tersebut menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan sama seperti poin sebelum-sebelumnya yang sudah dijelaskan di atas. Namun, perasaan bored totally ini juga menjadi tanda atau gejala yang biasanya teramati dari orang-orang yang mengalami depresi. Individu dengan gangguan depresi lebih banyak melaporkan bahwa diri mereka tidak berminat melakukan aktivitas apapun, menarik diri daripada biasanya, lebih sering menyendiri, dan tidak tertarik untuk menjalin relasi dengan siapapun. Saat kita menemui orang atau mungkin diri kita sendiri mengalami bored totally dan terjadi dalam kurun waktu lama bahkan tidak ada niat dan minat untuk keluar dari rasa bosan itu, maka tidak ada salahnya untuk mencari bantuan pada seorang ahli karena bisa saja orang tersebut bukan lagi merasa bosan yang "wajar", melainkan depresi atau gangguan suasana hati lainnya.

Baca: GANGGUAN MOOD PART 1 (DEPRESI)

Sumber:
Fisher, C.D. (1987). Boredom: Construct, cause and consequences. Human Resources Research. Diambil  pada 18 Juni 2017 dari http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a182937.pdf.
www.psychologytoday.com
www.healthline.com


BAD SILENCE CAN KILL YOUR RELATIONSHIP



Silence is golden
---------

Saya pikir, kalian pasti sering mendengar atau membaca kalimat ini. Benarkah bahwa diam itu identik dengan "emas"? Benarkah bahwa diam itu adalah jalan terbaik? Benarkah diam itu akan menyelamatkan banyak hal? I'm not sure if it will heal everything or be the best thing at all. Kenapa? Because silence can also destroy our relationship with our partner or others. 

Dalam hubungan percintaan, pernikahan, pertemanan dan social relationship lainnya, siapa sih yang tidak bad mood ketika pasangan/teman/rekan kita diam saja? Ketika seseorang sedang dilanda sebuah masalah, respon yang muncul pasti bermacam-macam. Ada yang fight for it tapi ada juga yang flight from it. Diam termasuk salah satu respon flight from it. Terkadang, seseorang memilih untuk diam saat lelah karena ucapannya tidak didengarkan. Ada pula yang diam karena menghindari situasi yang lebih fatal jika mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Biasanya, orang-orang yang tergolong conflict avoider adalah mereka yang takut akan kritik sebagaimana mereka takut dengan penolakan dan amarah. Hal ini jika dibiarkan terus-menerus maka bisa menyebabkan berkurangnya keintiman atau kedekatan dan memicu kebencian pada pasangan/teman/rekan kerja.

Diam juga tidak salah jika bisa memposisikannya dengan benar dan tidak berlarut-larut. Sebagai contohnya, dalam hubungan percintaan, diam bisa berubah menjadi racun jika hal itu sering terjadi antara kita dengan pasangan. Ketika marah atau tidak suka dengan perilaku/ucapan pasangan, ada orang-orang tertentu yang memilih untuk mendiamkan sejenak. Mostly, mereka berpikir bahwa jika berterus terang, mungkin saja akan keluar kata-kata yang bisa lebih menyakiti pasangannya. Benarkah? Mungkin saja ada benarnya, namun, jika memiliki pasangan yang notabene ekspresif sementara kita cenderung lebih sering menarik diri saat terjadi konflik berdua, maka keeping quiet will only make things worse. Diam dalam hal ini tentu tidak akan pernah bisa menuntaskan masalah. Jika kita diam untuk menenangkan diri sejenak, menunggu sampai suasana hati calm down dan situasi agak tenang, itu tidak masalah. Tapi, diam dan mengabaikan pasangan berlarut-larut sementara pasangan kita sudah mulai membuka diri untuk membahasnya dengan lapang hati dan kepala dingin, maka hal itu bisa membuat pasangan ikut terluka.

What kind of silence which can lead to relationship damaged?

Not responding text messages, no need to explain and hearing or rejecting calls for amount of time

I understand because mostly, it may take us a while to respond a text from our partner or others. Entah karena sedang sibuk bekerja, sedang ada jadwal kuliah dan harus keep your phone silent, sedang mengendarai kendaraan dan terjebak macet atau karena urusan yang reasonable or understandable lainnya. 

Sebelum membahas poin intinya, saya ingin bercerita dahulu.
Terkadang ada sih memang orang yang tidak mau tahu urusan kita apa dan tidak peduli mau kita sedang sibuk atau tidak, ya harus ingat untuk membalas pesan atau menelepon secepatnya. Biasanya hal ini sering terjadi dalam hubungan antara atasan dan bawahan atau hubungan yang sifatnya formal/berhubungan dengan pekerjaan. Setiap orang dituntut untuk memberikan performa terbaik dan menuntaskan semua pekerjaanya secepat dan sebagus mungkin. Pressure yang cenderung tinggi di kantor kadang tidak diimbangi dengan relationship yang baik dengan sesama rekan kerja. Apabila atmosfer ini tercipta terus-menerus maka tidak heran sih jika banyak kita temui kasus dimana karyawan hengkang dari kantor. 

Aroma kompetisi antara karyawan pun tidak jarang bisa melukai hubungan kerja mereka. Sebagai contoh, salah seorang kerabat saya pernah bekerja di salah satu bank pemerintah. Namun, karena di tempat kerjanya rata-rata teman kerjanya memiliki jiwa kompetitif yang tidak sehat (I mean, saling menjatuhkan) dan atasannya pun kurang lebih sama seperti itu, kurang peduli terhadap karyawannya. Tidak lama setelah itu dia akhirnya memutuskan untuk resign. Dia tidak tahan dengan banyaknya tuntutan ini-itu sementara atasan dan rekannya tidak pernah mau "mendengar" usulannya dan tidak peduli apapun kondisinya. Padahal dia belum lama bekerja dan posisinya pun cukup bagus. Lebih parahnya lagi, dia sempat mengalami depresi. Ya, depresi yang saya maksud bukan depresi receh yang kadang anehnya serng ditampakkan dengan bangga oleh orang-orang di sosmed hanya untuk mencuri perhatian, melainkan depresi betulan yang sudah terdiagnosa sebagai gangguan jiwa. Depresinya cenderung berat karena sudah ada tanda-tanda gejala psikotik. Bahasa ringannya, sudah setengah gila (karena saya yakin tidak banyak yang familiar dengan kata "skizofrenia" jadi saya pakai bahasa awamnya "orang gila").

Nah, apa sih hal yang bisa dipetik dari sosok rekan kerja yang tidak mau tahu, atasan yang arogan dan tidak mau mendengar penjelasan/keluhan karyawannya sedikit pun seperti kisah di atas? Yap, kembali ke poin pertama dari bentuk silence yang bisa merusak hubungan. Ini sama halnya ketika kita sedang marah dengan pasangan atau teman lantas kemudian enggan membalas pesannya dan me-reject teleponnya berkali-kali bahkan tidak mau mendengar apapun dari dia dalam waktu yang lama.

Jika memang pasangan atau teman kita salah, marah atau tidak suka atas tindakan atau ucapan yang mungkin tanpa sengaja menyakiti kita itu wajar. Namun, jika kita tidak mengkomunikasikannya, malah membiarkan dalam waktu sangat lama sampai pesannya pun tidak dibalas berhari-hari dan teleponnya pun tidak diangkat, itu juga salah. Mungkin sejenak kita lega bisa memberi pelajaran pada pasangan atau teman, hal itu juga sebenarnya bukan hanya akan menyakiti pasangan tapi juga menyakiti diri kita sendiri. Because you both are created to become one, jadi bisa dipastikan rasa sakit yang muncul akan dirasakan berdua, bukan hanya salah satunya. 

Kesalahan yang dibiarkan dan tidak dikonfirmasi akan semakin menyulut banyaknya prasangka lebih dan lebih buruk lagi. Jika kita atau pasangan tidak mau membalas pesan atau tidak ingin berkomunikasi dalam bentuk apapun for a while, baiklah, bisa dimaklumi karena kita juga perlu menenangkan diri. We have to take a time and sometimes want to withdrawl from each other, tapi jika keduanya sama-sama egois, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau berinisiatif untuk meluruskan, tidak ada yang berinisiatif untuk minta maaf lebih dulu, maka I think your relationship will die soon and you should ask yourself first, are you sure your spouse/friend is a better person to be with? 

Jadi, bersyukurlah bila meski semarah apapun kita, pasangan/teman masih mampu untuk mengimbangi. Mengimbangi yang saya maksud bukan harus sama-sama strong atau sama-sama lemah, justru sebaliknya, ketika pasangan/teman kita marah besar dan masih dikuasai oleh egonya, ada baiknya kita yang mengalah. Mengalah bukan berarti pasangan kita yang menang karena dalam relationship tidak ada menang atau kalah. Relationship bukan sarana untuk berkompetisi.

Kemarin, saya sempat mendengarkan siaran di radio. Kayaknya sih Young on Top cuman versi on air radio. Ada sebuah kalimat yang mungkin bisa kita tanamkan untuk diri kita. Billy Boen selaku presenter/pembawa acara Young on Top ini berkata yang kurang lebih seperti ini, "Adalah hal yang patut lo syukuri saat lo melakukan kesalahan tapi atasan lo masih mau negur, ngasih tau ini itu. Kalau atasan lo diemin lo saat lo salah, itu yang berbahaya, bahaya banget itu." 

Kembali pada poin tadi, lalu bagaimana bila pasangan mendiamkan, enggan membalas pesan atau mengangkat telepon/menelepon balik? Ambil waktu sejenak. Tidak masalah untuk mengirimkan pesan sambil menjelaskan perkara yang terjadi. Setelah itu, let it flow, take your time as your spouse/friend does. Jika pasangan/teman butuh waktu sendiri, maka berikanlah haknya. Begitu pula dengan kita, tetap lakukan aktivitas seperti biasa dan di saat-saat seperti ini jangan berlebihan fokus dan terlalu memprioritaskan pasangan/teman. Mereka memang penting tapi bukan berarti kamu melenggang dan mengabaikan pekerjaan atau aktivitas lain yang tidak kalah penting. Kalau saja kita bekerja sebagai seorang dokter dan di saat bersamaan kita sedang konflik dengan pasangan dan di satu sisi ada nyawa pasien yang harus ditangani di ruang operasi, maka kita tidak mungkin kan mengorbankan nyawa pasien karena terus-menerus fokus pada pasangan?

Biarkan kalian sama-sama beristirahat sejenak dan jika dirasa perlu, tetap berikan perhatian kecil pada pasangan, tegur dia untuk sekadar mengingatkan makan atau istirahat (saat sepulang kerja atau setelah suasana mulai calm). Jadi, bukan berarti komunikasinya berhenti total. Kalau yang satu enggan untuk berinisiatif mengirimkan kabar, yang satunya harus proaktif. Ya, kira-kira begitu sih.

Expecting your partner to read your mind

Selain mahasiswa baru yang sering bertanya apakah psikolog itu pandai membaca pikiran dan meramal masa depan, hal serupa juga terjadi pada pasangan atau teman atau rekan yang menganggap kita ini bak "dewa" yang "harus" tahu apa sih yang ada di pikiran mereka?

Biar tidak lompat-lompat, maka saya fokuskan untuk membahas ini dalam ranah hubungan romansa ya (ya walau saya bukan relationship coach, saya hanya berbagi dari apa yang pernah saya dengar, baca, amati dan pernah saya alami sendiri).

Memang sih ketika hubungan dengan pasangan sudah semakin akrab, sudah terjalin cukup lama dan intens, bukan tidak mungkin kita dan pasangan memiliki "kontak batin". Entah bagaimana menjelaskan asal usulnya, tapi kita sering merasa hati dan pikiran kita bertautan dengan milik pasangan, bukan? Ibaratnya seperti seorang ibu yang tahu anaknya sakit walau mereka tinggal berjauhan. 

Jangankan yang tinggalnya berjauhan, yang dekat dan tiap hari bisa ketemu saja, kalau ada apa-apa, pasti kita akan berfirasat. Saya tidak akan mengaitkannya dengan six sense atau indigo atau sejenisnya ya. Kita bahas sebagaimana manusia pada umumnya. Ya, balik lagi, karena kita adalah manusia yang memang diberikan akal untuk menganalisa apa yang sedang terjadi dan mata untuk mengobservasi keadaan, namun menuntut pasangan untuk selalu tahu apa yang kita pikir dan rasa adalah sesuatu yang salah. Kalau di dunia ini semua orang bisa seperti itu, pasti tidak akan ada yang namanya "penasaran", tidak akan ada curiosity, tidak akan ada yang bisa membuat api cinta kita terhadap pasangan jadi lebih greget, tsaaah... (ini kalimat pernah saya dengar dari orang sih, jadi murni bukan saya yang ngomong hehehe).

Saat kita menginginkan sesuatu tapi malah bersikap diam dan berharap pasangan bisa menerkanya, maka tunggulah sampai semua monyet di dunia ini merayakan lebaran. Bagaimana pesan kita pada pasangan bisa nyampe kalau sikap kita seperti itu? Pasangan bukan alien, mereka pun punya perangkat panca indera juga otak sama seperti kita. Jadi, kalau kita ingin agar pasangan tahu apa keinginan dan harapan kita, ya caranya cuma satu: speak up, ngomong, bilang, bicara, sampaikan. Misalnya, saat kita sedang jalan bersama pasangan terus pas ada abang penjual es krim lewat, kita tuh pengen pasangan beliin es krim atau singgah sebentar supaya kita bisa makan es krim sebelum melanjutkan perjalanan. Nah, biar maksud kita nyampe, kan kita tinggal ngomong ke pasangan, "Yang, singgah bentar dong. Aku mau beli es krim nih, lagi pengen makan es krim? Kamu mau juga nggak?" Bukankah ini lebih jelas ya daripada kita diam sambil menatap abang penjual es krim itu lenyap dari hadapan kita lalu marah-marah ke pasangan karena tidak singgah atau tidak bisa baca pikiran kalau kita mau es krim.

Beda lagi jika diam karena ada hal yang kita sembunyikan dari pasangan. Hal ini sebaliknya, sikap diam kita malah bisa membuat pasangan "sembarangan membaca pikiran/perbuatan" kita alias berprasangka buruk, bertanya-tanya dan berpikir negatif terhadap kita. So, try to be honest to your commitment with spouse. Kenapa saya bilang cobalah untuk jujur pada komitmen yang kalian jalin bukannya try to be honest to the person? Karena kalimat kedua seringkali membuat orang malah tidak mau work out. Tuntutan langsung untuk ngomong jujur dan lugas pada pasangan malah seringkali membuat orang withdrawl. Tapi, ketika seseorang memang menganggap komitmen ini penting bagi mereka berdua, maka he or she just go straight to the point and as we know, they still want to work on their relationship with their partner. Kalau kita tetap keukeuh tidak mau menjelaskan yang sebenarnya meski bukti-bukti sudah di tangan, maka ketidakjujuran itu hanya akan melukai pasangan cepat atau lambat. Pasangan akan berpikir negatif dan feels inadequate. Semakin menumpuk pikiran negatif tersebut, maka semakin lebar pula pertanyaan tentang whether the relationship is beyond repair or not

Beruntunglah jika pasangan masih mau menjelaskan atau mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Terkadang, ada orang yang tidak suka diberi penjelasan karena merasa tidak didengarkan atau tidak dipahami oleh pasangan. Sebenarnya, pasangan yang mau menjelaskan dengan sejujur-jujurnya dan sedetil mungkin, mereka bukan berarti tidak mendengar apalagi memahami. Mereka mendengar dan memahami namun mungkin termasuk orang-orang yang butuh untuk menjelaskan terlebih dahulu agar prasangka buruk yang muncul tidak semakin menyebar ke mana-mana.

You don't know how to speak up 

Ini bisa saja terjadi pada orang-orang yang pada dasarnya sangat pendiam dan tidak banyak pengalaman dalam memecahkan masalah ketika sama-sama dihadapkan oleh pasangan yang mendadak diam. Sudah pendiam ditambah punya pasangan yang tiba-tiba bersikap diam, nah kan jadi bingung sendiri, maunya apa dan harus bagaimana? Despite of that, kita juga jangan malah tambah berdiam diri. I mean, di sinilah kemampuan seorang pendiam mulai ditantang. Meskipun kita ini sangat pendiam, tapi saat ada konflik dengan pasangan atau orang lain, lantas kita jadi semakin membiarkan.

Lalu, bagaimana caranya untuk speak up? Awal-awalnya mungkin akan terasa sangat sulit karena orang pendiam tidak terbiasa untuk berbicara banyak. Jangan jadikan sifat pendiam sebagai kelemahan. Sebaliknya, ketika kita tidak tahu harus bilang apa, maka tunjukkan saja dengan perbuatan yang nyata. Biasanya sih, orang-orang yang merasa minder menyusun kata-kata agar "enak" didengar dan tidak menyakiti, akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk menunjukkan maksud tersebut melalui sebuah tindakan. 

Ada satu cara lagi, yaitu menunjukkan dengan bahasa tulisan. Nah, karena tidak semua orang lihai dalam berbicara, ada pula sebagian orang yang baru bisa nyaman untuk berkata jujur atau terbuka dengan cara menuliskannya. Ini seperti saya. Saat terlibat konflik, saya cenderung panik, hectic sendiri hingga mendadak saya kerap merasa semua kata yang hendak diucapkan itu lenyap seketika. Lalu, setelah saya tahu bahwa dengan menulis membuat saya lebih rileks, maka saya terbiasa untuk mengungkapkan atau menjelaskan secara detil lewat tulisan. Ya, pernah juga sih saya ceroboh menulis karena kondisi yang tidak kondusif sehingga terjadi kesalahpahaman. Tapi, saya berusaha untuk meluruskannya kembali dan sambil belajar untuk tidak mengulanginya lagi sih. Kalau ada waktu yang tepat, barulah saya akan speak up meskipun mungkin bakal terdengar aneh kalimatnya hehe.

You give silent treatment for each other but revenged by shout it into your social media 

Ini adalah tindakan paling receh yang mungkin hampir setiap orang pernah melakukannya, termasuk saya (ngapunten nyak). Tapi, sekarang-sekarang ini saya berusaha untuk mengontrol untuk tidak share mengenai problem dengan orang terdekat. I mean, pasangan, keluarga dan saudara. Pernah sih share saking tidak tahannya harus curhat pada siapa atau bicara langsung pada mereka. Namun, setelah saya tahu hal itu adalah tindakan yang kurang dewasa, saya pun menghapus semua postingan yang mungkin tanpa sengaja pernah menyinggung atau mungkin orang yang saya singgung adalah si A tapi yang merasa malah si B padahal tidak ada maksud menyinggung si B.

Saling memberikan silent treatment lalu membalas dendam dengan cara mengumumkannya ke sosial media ini jelas-jelas perbuatan yang errrrrrghhhh piye ya hahah... Tapi kalau semisal just share the main topic about those problem without figure out their real names or their real characteristic hanya sekadar sebagai contoh dan untuk mengambil hikmah dari situ sih, masih bisa termaafkan, tidak masalah.

Tapi kalau sudah terang-terangan nyebut merk, nah ini nih yang bahaya. Jangankan yang terangan nyebut merk dulu, yang memposting hal-hal ambigu pun kadang bikin kita jadi ikut penasaran apalagi kalau sedang dalam posisi we got a problem with them, iya kan? Jadi, yang sebenarnya, masalah udah clear tapi karena tidak jelas yang diomongin tuh siapa, untuk siapa padahal itu tujuannya untuk umum dan bukan untuk pihak tertentu, hal ini bisa memicu kesalahpahaman juga.

Seperti halnya ketika saya menulis ini, murni karena beberapa jam lalu di pagi hari saya habis baca artikel. Yang tahu banget kalau saya ini suka baca, pasti mereka bisa paham bahwa tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak tertentu. Kenapa saya tulis dengan huruf bold, agar yang lain tidak salah paham dan tidak menerka-nerka. Tidak semua yang tertulis di sini based on my own stories or because I want to spread out hatred to others. Saya cuman mau sharing dari bacaan yang sudah saya lahap dan sekiranya bisa memberikan inspirasi atau pelajaran bagi kita semua.

Jadi, bila ada konflik, jangan membiasakan diri untuk diam lalu memilih menyebarkannya ke sosmed. Itu memang tidak dibenarkan. Bukannya malah selesai, yang ada masalah akan semakin meruncing dan orang lain pun akan terpancing untuk kepo. Ya, beberapa waktu lalu, saya sempat memposting hal yang kurang baik tapi hanya untuk diri sendiri, namun setelah merenungkannya, walau untuk diri sendiri, itu tetap saja emosi negatif. Kata salah seorang teman baik, emosi itu menular jadi hendaknya sebarkan hal-hal positif, akhirnya saya hapus postingan tersebut. Padahal cuman curhat receh soal diri sendiri hehe..

Your partner need to talk about but you reply her/his with "nothing to say anymore"

It seems like a little sarcastic. Kalau pasangan udah bilang "Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi" maka bersiap-siaplah untuk menghadapi kenyataan terpahit. Saya tidak menakut-nakuti. Ya, bisa saja kalimat itu tercetus karena pasangan masih terbawa emosi sehingga serba tidak terkontrol. Tapi, jika kalimat tersebut dikatakan dengan tatapan mata seolah sudah sangat kecewa, sudah waktunya he/she will let you go definitely. Kalau ini terjadi, mungkin saja karena kita tidak pernah belajar untuk memperbaiki diri atau mungkin saja karena kita tidak pernah mau meminta maaf and admit it. Wajar jika pasangan sudah di ambang batas sampai bisa bilang seperti itu.

Tapi, bila situasinya, dibalik. Kita lagi konflik dengan pasangan. Pasangan sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dia juga sudah menunjukkan penyesalan melalui tindakan nyata yaitu dimana dia berusaha untuk memperbaiki diri, ucapan dan tingkah lakunya. Masalah pun terjadi karena miskomunikasi atau salah paham dan masih bisa dicari solusinya bersama. Namun, kita tetap saja masih tidak bisa mentolerir sampai kita bilang "Nggak ada lagi yang harus dibicarakan. Bye." tanpa mendengar terlebih dulu penjelasan dan pengakuan dari pasangan, ini juga bisa saja menjadi tindakan yang kurang tepat. Kenapa? Seperti halnya poin pertama, kita tidak mau mendengarkan, kita memilih untuk mengabaikan tanpa memberi kesempatan pada pasangan untuk jujur. Kalau memang pasangan kita terkenal sebagai seseorang yang dapat dipercaya baik perbuatan maupun ucapannya, bukankah mendiamkan hingga berkata tidak ingin bicara apapun lagi adalah hal yang tidak adil bagi pasangan?

Setiap orang punya hak dan kesempatan untuk mengakui, tapi tidak semua orang mau mengakui kesalahannya. Semua orang punya hak untuk didengarkan, tapi tidak semua orang mau mengatakan agar didengarkan. Jika pasangan kita adalah seseorang yang dari dulu memang orang yang buruk, suka berbohong, tidak mau mengakui kebohongannya, dan berulang kali mengulangi kebohongan yang sama, maka mungkin saja tindakan kita untuk tidak mendengarkannya adalah hal tepat. Tepat agar dia menyadari bahwa sikap dia yang sama diamnya dan malah menarik diri tidak mau mengakui adalah hal yang salah. Tapi, jika pasangan pernah berbohong dan sudah mengakui serta tidak lagi mengulangi perbuatannya, atau dia pernah berbuat salah, menyesali kemudian dengan jelas kita amati dia sudah memperbaiki dirinya, maka berilah dia kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati. Barangkali ada maksud/pesan darinya yang ternyata tidak pernah tersampaikan hingga membuat kita juga salah paham dan menuduh-nuduh pasangan. 

Tapi, semua tergantung individu masing-masing. Bila memang yakin hubungan tersebut masih bisa diperbaiki dan dilanjutkan, tidak ada salahnya. Tapi, jika merasa bahwa kita sudah berusaha maksimal namun tidak ada tanda-tanda usaha yang sama dari pasangan, mungkin sudah waktunya kita untuk move on. Karena hubungan itu dijalani oleh dua pihak. Jika salah satu pihak saja yang terus berjuang sementara yang lain ongkang-ongkang kaki, ogah-ogahan, ya itu bukanlah hubungan yang sehat. 

Kita juga jangan lupa berkaca pada diri sendiri. Mungkin saja kita pernah menjadi sosok yang ongkang-ongkang kaki seperti itu, merasa dicintai, dielu-elukan, dibanggakan sementara pasangan sudah memperjuangkan kita mati-matian, membanggakan kita meski kita tidak pernah membalasnya, menantikan kita dalam waktu yang panjang, dan pokoknya dia tu karena saking cintanya bukan tidak realistis tapi justru dialah sosok penyelamat yang kadang kita lupa untuk memperjuangkannya juga, maka kita harus introspeksi diri lagi. Ketika dia sudah berada pada tahap "merasa tidak diinginkan, tidak dihargai, diabaikan terus-menerus" bukan tidak mungkin dia akan pergi perlahan. Pergi karena lelah perjuangannya terasa sia-sia. Pergi karena sikap kita yang egois, maunya menang sendiri. Pergi karena tidak diharapkan. Dan bisa jadi, kita hanya akan menyesal kemudian karena sudah menyia-nyiakan dia yang selalu ada untuk kita.

So, happy contemplation ya guys. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita, biar kita juga introspeksi diri, bukan hanya nimpalin kesalahan pada orang lain atau bahkan mencari-cari kesalahan orang lain.