Foto di ruang asesmen a.k.a ruang yang dipinjamkan untuk kita tempati bila ada keperluan konseling
Bila ada yang protes dengan warna jasnya, loh kok putih? Kok kayak kedokteran? Nah ini kami hanya menjalankan perintah dari kampus yang turun-temurun memang warna putih jasnya. Di SLB pun kami sempat ditanyain baik oleh murid maupun guru, "Ini kedokteran atau psikologi?"
Hiaaaa
Yaah, apa boleh buat. Kami hanya menjalankan tugas dan yang pentingnya niatnya untuk membantu orang aja sudah. Perkara warna jas, itu mah urusan akhir, kagak usah dipusingin yak.
Sedih sih, psikologi belum mendapat tempat penuh di kalangan masyarakat dan belum ada UU resminya. Tapi, saya pribadi bangga menjadi bagian dari perkembangan psikologi sekaligus sebagai calon psikolog.
Doakan kami yaa... semoga lancar masa PKPP-nya di tiga tempat selama satu semester ini. Doakan juga kami yang sembari ngejar tesis. Semoga kami bisa lulus bareng-bareng dan sukses bareng-bareng. Aaamiiin....
Terhitung 21 September 2015, kami udah mulai terjun ke lapangan a.k.a internship alias Praktek Kerja Profesi Psikologi. Putaran pertama ini saya prakteknya di Malang dulu, tepatnya di SLB Lawang. Dulu zaman S1 Saya udah pernah magang di SLB ini. Nah, sekarang praktek di sini lagi. Enjoy aja sih soalnya lokasinya juga nyaman banget dan pihak SLB pun welcome.
Saya magang di SLB ini bersama dengan dua orang teman. Sebelumnya saya jelasin dulu. Kami itu dipecah menjadi dua kelompok besar. Dua belas orang praktek di RSJ Menur dan tujuh orang di Malang. Ketujuh orang termasuk saya ini dipecah lagi menjadi tiga kelompok dan ditempatkan di tiga tempat berbeda. Saya dan dua teman saya ditempatkan di SLB Lawang. Dua teman selanjutnya di YPAC dan dua lainnya lagi di SLB Dr. Idayu Pakis.
Hari pertama ini, kami janjian sama Supervisor lapangan dari kampus yaitu Bu Ani (btw, ibunya sosialita binggooo dan cuanteeek lagi) serta Bu Nur. Janjiannya sih jam 8.
Saya berangkat dari rumah. Kalo masalah jarak dan waktu sama aja kayak saya berangkat kuliah dari rumah ke kampus, memakan waktu sekitar 30-40 menitan. Jadi, satu jam lebih maju saya udah berangkat dari rumah. Untungnya dari rumah bisa potong kompas lewat Sulfat menuju arah Arjosari untuk nembus ke Lawang. Pagi tadi berangkat jam tujuh. Nyampe pertigaan Arojsari-Lawang maceeeet pemirsaaaah. Jalan udah kayak kura-kura. Ternyata kemacetan disebabkan ada satu tronton mogok di tengah jalan beberapa meter dari Fly Over.
Waaah... rasanya kayak nano-nano. Saya dulu sih udah pernah bolak-balik Lawang juga karena subjek skripsi dulu banyak tinggal di Lawang sama Singosari. Tapi itu masih takut bawa motor. Sekarang mau nggak mau harus PP rumah-Lawang, beradu dengan debu, asap knalpot, terik mentari, bus, truk gandeng, mobil, motor, becak dan segala jenis kendaraan. Syukurnya lokasi SLB berada di kiri jalan jadi nggak perlu nyetir ambil lajur kanan yang notabene harus dengan kecepatan tinggi. Saya akui emang rada cemas kalo udah berhadapan sama jalan besar apalagi yang menuntut kecepatan tinggi ditambah ketemu sama bus dan truk. Kenapa? Dulu pernah kecelakaan, terseret jauh dan nyaris ketabrak truk dari belakang. Itulah masa-masa trauma S1 saya.
Well, lanjut... nyampe sekolah, Ry dan Mba Yu udah nyampe duluan. Beberapa menit kemudian kita nungguin para supervisor baru kemudian masuk ke lobby bertemu sama Bu Sofi (Supervisor di SLB) dan Kepsek. Ternyata Kepseknya udah ganti. Kalo dulu seringnya laki-laki, sekarang ini dapat perempuan. Jadi, masuk ruangan beliau tuh wangiii, ada anggrek macan ungunya pula di atas meja. Kalo zaman saya magang S1, Kepseknya laki-laki dan masuk ruangan tuh berasa bau asap rokok.
Setelah ngobrol bareng Kepsek, Bu Sofi dan para supervisor, kami pun keluar dari ruangan Kepsek. Setelah itu, lanjut keliling ke kelas-kelas sekaligus berkenalan dengan para guru.
Next, kami kumpul lagi di lobby depan bersama dua supervisor. Di situ kami ngobrol-ngobrol mengenai strategi dan apa aja yang perlu kami lakukan selama masa pkpp ini. Kami juga dikasih arahan serta nasehat oleh para supervisor. Tidak berapa lama kemudian, di sela-sela perbincangan muncul salah seorang murid SMPLB. Postur tubuhnya tingi, kulitnya sawo matang dan berjerawat. Dia nyamperin saya sambil menjabat tangan saya dan berkata, "Mbak..."
Saya awalnya canggung sekaligus shock. Kok cuman saya aja yang disamperin. Sampai Bu Ani, salah satu supervisor kami yang sosialita tuh nyeletuk, "Loh, kok cuman satu yang disamperin?" Bu Ani nyeletuk gitu berharap anak tadi tuh denger. Nggak denger ternyata anaknya dan langsung nyelonong pergi.
Murid itu pergi, kami pun lanjut berbincang lagi. Belum ada lima menit kemudian, murid tadi datang lagi. Kok saya lagi yang disamperin. Dia nanya, "Mbak dari mana?" Saya spontan jawab aja, "Saya dari UMM." Anak itu pun pergi lagi keluar dari lobby.
Selang beberapa menit kemudian, datang lagi untuk ketiga kalinya. Lucunya murid tadi menyodorkan kepada saya selembar kertas buram warna putih yang dilipat dua namun dengan satu sisi terlihat sudah robek. Dia bilang, "Minta pin bbm. Nanti tak bbm."
Mendengar murid tadi minta pin, saya sempat linglung kagak tahu mau ngomong apa. Saya pikir minta saya untuk menuliskan nama. Eh nggak tahunya minta pin bbm. Si Ry nyeletuk bantuin jawab, "Bilang aja paketan data lagi nggak ada, Mbak Em." Akhirnya, saya jawab, "Nanti aja ya, Dek." Dia pun pergi dengan tangan kosong dan mungkin sedikit kecewa.
Haha.. pengalaman pertama, belum apa-apa udah ada yang naksir. Astaga. Tapi, kami bertiga senang sih bisa dapat tempat di SLB. Kami pun diberi satu ruang khusus yang bisa kami gunakan untuk keperluan konseling. Ruang kesiswaan di pojok kanan seberang sekolah itu kosong dan biasanya cuma dipakai untuk kebutuhan asesmen aja. Jadilah kami kalo capek bisa istirahat di situ. Ada AC-nya pula.
Kami juga sudah berkenalan dengan psikolog yang ada di SLB tersebut. Namanya Bu Lely. Ibunya ramah dan bisa lah jadi informan kami selama praktek ini.
Jangan salah terka dulu. Impian ke Austria ini sudah lama terbendung dalam hati. 2013 lalu saat browsing di internet, saya sedang mencari setting untuk novel baru. Bingung, mau milih Prancis, sudah banyak. Apalagi Korea. Lalu, tergiringlah saya ke sebuah situs all about Austria. Menurut sejarah, Austria itu adalah tempatnya musik klasik. Banyak bangunan tua bersejarah di sana. Kotanya adem, nyaman dan di sana ada universitas yang cukup populer yaitu Sigmund Freud Universitat.
Saya memang masih tetap ingin fokus menulis dengan bumbu psikologi meski dalam bentuk novel. Jadi, kota Ausria sangat pas untuk saya jadikan latar dalam novel baru nanti. Di sana pun ada universitas Bapak Psikologi, Freud (Ya walaupun saya tidak berkiblat padanya sih).
Dari situlah saya mulai menulis beberapa hal mengenai Austria. Sekarang, impian itu menyala lagi. Sedikit-sedikit, saya coba untuk belajar bahasa Jerman. Bersyukur bisa menemukan workbook bahasa Jerman gratis.
Yaah, entah ini akan terwujud atau tidak, saya akan tetap mencoba nulis novel berlatar Austria nantinya. Beberapa spot udah masuk ke list saya. Salah satunya kota Salzburg dan Vienna. Dua kota itu yang nantinya akan coba saya munculkan dalam novel, tapi tetap diawali dengan latar Indonesia sebagai pembukaan karena tokoh-tokohnya berasal dari Indonesia.
Barangkali ketika novel itu sudah selesai, akan ada PH yang melirik. Aamiin (yang kenceng). Sapa tahu aja ada produser yang berminat untuk mengangkatnya dalam film layar lebar. Sapa tahu juga saya bisa dapat sponsor jadi bisa gratis ke sananya.
Ya itulah impian saya. Selain pengen ke Mekkah, saya juga pengen ke Austria. Semoga terwujud, aamiin. Kun fayakun.
Dua hari lalu, Pak Zai (salah satu dosen kami) memberikan kabar bahwa saat ini RSJ Menur Surabaya belum bisa menerima mahasiswa praktek sekaligus dalam jumlah banyak. Karena kami sekelas berjumlah 19 orang, maka dipecah menjadi dua kelompok.
Senin lalu, kami survey kos ke Surabaya. Kami berpencar dalam dua mobil. Mobil pertama itu diisi oleh aku, Mba Qi, Ry, Zu, Mba Ni dan Mameto. Kami awalnya susah mendapatkan kos-kosan. Untuk sementara kami tertarik dengan apartment Gunawangsa karena itu satu-satunya tempat yang nggak terlalu jauh dari Menur. Sementara itu, mobil kedua diisi oleh delapan teman kami lainnya. Mereka ternyata sudah memberikan DP kos-kosan di daerah Unair sekitar Gubeng. Sedikit jauh memang. Karena mereka sudah terlanjut DP, akhirnya yang ke RSJ Menur lebih dulu adalah mereka ditambah dengan tiga teman double degree. Sementara Mameto dan satu teman laki-laki lainnya mungkin akan tetap stay di Malang bersama dengan kami.
Pak Zai menginformasikan bahwa yang praktek di Malang akan dipencar ke beberapa SLB dan YPAC. Jadi, selesai di tempat itu, dua bulan kemudian gantian kami yang di RSJ. Alhamdulillah juga sih karena berhubung kami belum mendapatkan kos-kosan. Mungkin Allah mendengarkan doa-doa khusus kami bertujuh kemarin. Walaupun demikian, alhamdulillah saya pribadi udah dapat CP Pak Danang (Psikolog yang kerja di RSJ Menur). Pak Danang itu alumni UMM yang praktek di RSJ Menur. Saya mendapatkan nomornya dari Mbak Galuh (kakak tingkat saya sejak S1 sekaligus kakak tingkat di rohis). Mbak Galuh Andina ini adalah teman kelas Pak Danang. Saat saya pusing nanya-nanya kos, Mbak Galuh pun nanya juga ke Pak Danang. Syukurnya, saya dikasih CP yang punya kos-kosan dekat Menur. Selain itu, ada juga Mbak Lia yang bersuamikan dokter. Suaminya punya rekan dokter yang dulu berpraktek di Menur. Saya juga diberikan CP kos-kosan oleh Mbak Lia. Setidaknya, nanti pas kami praktek di Menur, kami udah punya banyak list pilihan mau kos di mana.
InsyaAllah mulai tanggal 21 September besok kami semua serentak PKPP. Sebagian di Malang dan sebagian lagi di Menur. Minggu ini kami sedang menunggu jadwal ujian proposal tesis. Semua serba cepat, entah maksimal apa nggaknya, sistem kampus mengharuskan seperti ini.
Mumpung masih di Malang, semoga saya bisa sekalian survey komunitas Karang Wredha untuk tempat saya mengerjakan tesis nanti. Sekalian revisi proposal jika memang ada yang perlu direvisi. Saya sih berharap, semoga pas ujian nanti, saya masih bisa mempertahankan variabel-variabel penelitian saya. Tema yang saya angkat memang masih terbilang jarang. Saya tertarik untuk meneliti lansia tapi melalui perspektif orientasi mereka terhadap kesehatan dan kebahagiaan. Di Indonesia, penelitian mengenai lansia itu kan nggak jauh dari loneliness, gangguan kognitif, religiusitas, kebermaknaan hidup dan sejenisnya. Nah, dalam tesis, saya mau meneliti dari perspektif yang agak berbeda, kebetulan juga di lapangan banyak lansia yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian saya.
Bismillah...
Mohon doanya ya, semoga semuanya lancar
Dalam waktu enam bulan atau lebih ini kami memang dalam masa internship. Semoga dalam waktu tersebut, kami bisa menyelesaikan laporan tujuh kasus dan bisa ikut ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sehingga kami nggak perlu ngeluarin uang untuk biaya ujian sendiri kalau telat.
Insya Allah 21 September 2015 nanti, kelas magister psikologi profesi angkatan 2014 akan berbondong-bondong menuju kota pahlawan, Surabaya, tepatnya ke RSJ Menur. Tujuannya nggak lain adalah keperluan PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi). Nama lainnya, kalau di dunia medis itu, internship.
Kenapa nggak di RSJ Lawang? Soalnya di sana lagi persiapan akreditasi sehingga belum bisa menerima praktek dari manapun. Akhirnya, para dosen pun survey ke Menur. Yeah... we got it. Buatku sih, sedih juga karena jauh. Jauh karena tiap minggu kita pun harus bolak-balik ke Malang untuk bimbingan kasus. Semua di luar dugaan. Aku pribadi memang belum tahu sistem Menur kayak gimana jadi belum ada gambaran. Kalau aja jadi di RSJ Lawang, udah banyaaaak persiapannya. Yaa, terima dan dijalani aja.
Senin besok ini nih, insyaAllah kita sekelas bakal survey kos-kosan di dekat Menur. Doain yaaa semoga dapat kos yang nggak jauh dari Menur. Aku juga nggak bakal diizinkan bawa motor dari Malang jadi setidaknya kalau dapat kos deket, nggak perlu jauh-jauh naik kendaraan lagi.
Satu setengah bulan mendatang, semoga semua dimudahkan. Semoga masih sempat juga untuk bimbingan tesis ataupun try out skala dan lainnya.
Oiya, sebelum itu, minggu ini kita akan ujian proposal tesis. Semoga semoga nggak perlu revisi banyak-banyak. Aku sih masih pengen mempertahankan variabel-variabelku karena penelitiannya masih terbatas dan terbilang cukup baru. Jadi, semoga aku bisa meyakinkan dosen-dosen penguji nanti, aaaamiiiiiin.
Semoga selama PKPP, aku bisa dapat minimal 3 kasus yang home visit-nya nggak terlalu jauh jadi bisa menej waktu dan menekan biaya yang nggak perlu-perlu banget.
Give me five! Yeeeey... Semangat Semoga bisa selesai tahun depan Wisuda tepat waktu
Setiap postingan, selalu menggunakan kata saya. Izinkan kali ini berganti pakai aku ya.
Sejak pindah ke Malang, banyak masalah berhamburan, menyeruak, menggerutu tiada henti. Aku awalnya memang tidak pernah bilang setuju atau tidak setuju atas rencana kepindahan ini. Ini adalah ide bapak, kami hanya follower. Emang nggak enak ya jadi follower doang.
Aku ngerasa bapak kurang bersyukur. Di Parepare, kami sudah punya rumah yang nyaman, telah berkali-kali renovasi hingga menghabiskan tabungan hidup. Aku dan adik-adik bisa punya kamar pribadi masing-masing. Aku juga punya spot di mana tiap sore, pasti aku duduk di meja belajar ruangan itu untuk menuntaskan tulisan-tulisanku. Kamarku sangat nyaman, ventilasinya sangat memadai dan cahaya matahari bisa masuk leluasa sebab langsung berhadapan dengan teras lantai dua. Selain itu, rezeki kami sangat melimpah ketika tinggal di sana. Walaupun tinggal jauh dari keluarga besar, tapi hampir tiap tahun kami mudik ke Jawa.
Bukan berarti aku nggak mau keluar dari zona nyaman. Justru kami di Parepare--maksudnya orangtuaku--pun adalah perantau. Mereka sudah berpuluh tahun berjuang untuk hidup di sana. Bisnis penjualan pakaian mama pun laris manis tiap tahunnya karena sudah banyak pelanggan yang selalu sedia mampir berbelanja di kiosnya. Aku juga merasakan lebih mudah aja sih nyari pekerjaan, bukan mencari malah ditawari seperti momen di mana aku pernah mengajar di STAIN kemarin. Bapak nggak usah pusing mau memarkir mobilnya di sebelah mana karena parking area kantor cabang Bank Mandiri Parepare cukup luas. Mau makan seafood, nggak susah, banyak yang segar karena dekat dengan laut. Keuangan keluarga pun cukup terkendali.
Meski memang kota pesisi Parepare itu nggak ada mall apalagi Gramedia atau toko buku besar, tapi aku tetap bersyukur pernah tinggal di sana. Tiap pagi, aku bisa jogging baik sendiri maupun bersama mahasiswi, start dari perumahan sampai ke belakang, pas di pinggir pantai. Ya, di belakang perumahan itu ada pantai. Kalau nggak gitu, aku juga bisa gowes tiap subuh.
Pindah ke Malang, bukan aku nggak bersyukur. Tapi, aku ngerasa kepindahan ini adalah ujian dari Allah. Maaf, tapi nggak bisa kuceritakan sedetilnya apa permasalahan utama karena itu adalah privasi keluarga. Pindah ke Malang pun, aku malah berubah alergi. Ya, alergi udara dingin. Dulu ketika S1, aku masih bisa bertahan. Tapi, mulai pindah total ke sini, justru alergi makin menjadi. Aku juga takut tapi semoga nggak sampai mengalami sinusitis apalagi rhinitis. Semoga aja.
Meskipun aku anak sulung, tapi sebagai perempuan aku tetap saja makhluk yang lebih lemah daripada laki-laki. Aku juga nggak habis pikir, punya adik laki-laki manja. Lagi dan lagi, tiap ada masalah, aku yang jadi sorotan pelampiasan kesalahan. Seolah aku yang nggak bisa memberikan contoh, bla bla bla... Aku muak. Aku muak ketika mendengar teriakan. Aku muak dengan situasi yang terkadang seperti sedang berada di dalam "kapal pecah". Dulu, aku sedih karena nggak ada teman kuliah yang sudi mampir ke rumah pamanku (saat aku masih S1 dan masih tinggal di rumah paman) karena alasan jauh dari kampus. Sekarang, setelah S2, aku sangat bersyukur punya sahabat yang mau berkunjung jauh-jauh ke rumahku. Tapi, terkadang aku berpikir, takut dan nggak mau kalau mereka datang ke rumah. Kenapa? Aku cuma nggak mau, jika saja mereka datang pada saat rumah ini berubah menjadi "kapal pecah". Aku takut ketika mereka datang lalu setelah itu mereka menjauhiku. Tapi, terima kasih buat sahabat-sahabatku yang pernah berkunjung ke rumah tanpa diminta, pernah nganterin aku pulang waktu sakit dan pernah bela-belain nyari alamat rumahku padahal aku lagi nggak ada di rumah. Terima kasih sudah mau mengunjungi tempat pribadiku yang penuh dengan wajah kekurangan ini.
Aku bercita-cita, suatu hari nanti akan keluar dari rumah ini. Jika perlu merantau. Kalau sudah menikah nanti, aku ingin tinggal bukan di kota ini. Aku merasa lebih nyaman ketika merantau seperti saat masih S1 dulu. Aku bisa ngontrak, nyari makan sendiri, masak sendiri, jarang ketemu orangtua dan adik-adik. Itu lebih baik. Dengan berpisahnya kami dalam beberapa waktu dan dengan jarangnya kami bertatap muka, justru itu menjadikan suasana rumah lebih kondusif ketika berkumpul kembali. Beda ketika setiap hari bertemu tapi terkadang harus seperti ini.
Selain itu, aku ingin keluar dari kota Malang juga untuk menyembuhkan alergi dingin ini. Aku benar-benar tersiksa sampai belum berani check-up ke dokter. Aku mau tinggal di daerah tropis, panas. Aku mau sembuh.
Aku juga nggak tahu dan nggak bisa cerita pada siapapun termasuk sahabatku. Blog ini cukuplah jadi ruang kedap udaraku untuk menumpahkan keresahan. Tak peduli akan ada yang membaca atau tidak. Kalaupun ada yang membaca, mereka pasti nggak akan paham atau bahkan mungkin udah salah paham dengan apa yang kutulis ini. Jadi, sudahlah. Aku tak perlu banyak bicara. Biarkan ini jadi privasi saja karena nggak semua harus diceritakan pada orang lain yang memang nggak ada sangkut-pautnya.
Rumahku, surgaku.
Itu adalah kalimat yang selalu kuagungkan saat masih tinggal di Parepare.
Setelah pindah di Malang, kalimat itu terasa hambar.
Rumahku, antara surga dan bukan.
Mungkin ini yang pantas.
Ya, aku nggak menampik, kadang kala aku lebih suka menginap di rumah teman daripada pulang ke rumah. Kadang, aku lebih suka menghabiskan waktu di luar mencari inspirasi atau hangout bersama teman-teman dekat daripada memilih untuk cepat-cepat pulang.
Dicari atau ditanya kapan pulang, aku suka kalimat itu
Ketika orang rumah mencari, benar-benar mencari bukan dengan alasan yang nggak bisa kuterima, aku menyukainya.
Tapi jika orang rumah mencari atau menahan dengan alasan yang sulit untuk diterima oleh hatiku, itu hal yang kubenci.
Kadang...
Sudahlah
Jalani saja
Sekarang, mencoba bersyukur dengan ujian di depan mata
Ini bukan soal rumah yang sempit. Jika hati lapang, rumah seukuran apapun tetap akan membuat nyaman, bukan? Bukan itu yang kupermasalahkan.
Hanya saja, cara pandang dan cahaya yang ada di dalam rumah itu... kadang nggak bisa menyatu... kadang remang-remang.. Itu yang membuat rumah ini seperti tempat persinggahan yang kurang dirindukan.
Maaf jika aku harus menulis seperti ini karena saat ini, inilah yang terjadi. Tapi, aku juga berharap semoga masalah ini bisa segera teratasi, kalau bisa nggak harus nunggu sepuluh tahun lagi seperti kata orang rumah. Semoga Allah membukakan jalan aamiin.
Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua
Atau mendengar ini...
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga
Tapi...
Tahukah kau ada yang lebih pandai dari tupai atau si penyelundup bangkai?
Ya...
Perempuan lebih pandai dibanding mereka semua
Mengapa?
Perempuan itu cerdas
Perempuan pandai mengubur kekaguman sekaligus kecintaannya pada seseorang
Menatanya dalam titik pusat labirin yang selalu sulit untuk dicari
Menanamnya dalam sebidang hati tak terbaca
Hanya ia dan Sang Pencipta saja yang paham
Namun, perempuan juga mudah rapuh
Ketika cemburu membakar dirinya
Ia sering tak sadar telah menumpahkannya secara frontal, mungkin juga brutal
Anehnya, sekalipun tak berdaya untuk memiliki
Rasa negatif ini muncul begitu saja tanpa aba-aba
Seperti nasihat dari salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Ali bin Abi Thalib, "Wanita mampu memendam perasaan cinta selama 40 tahun, tetapi tidak mampu memendam rasa cemburu walau sesaat."
Pernah dengar atau pernah tahu lagu Gloomy Sunday yang heboh di era 1940-an? Ya ya ya.... lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz, Billy Holiday ini menuai kontroversi karena di Inggris dan beberapa negara lain, banyak korban berjatuhan akibat bunuh diri setelah mendengarkan lagu ini. Ada yang bilang suara si penyanyinya seolah mampu menyihir dan menghasut untuk bunuh diri. Huaaah...tapi memang liriknya itu ngenes banget sih.
Bukan cuman lagu Gloomy Sunday, Nina Bobo juga ternyata menyimpan misteri. Beberapa minggu lalu, saya pernah membaca postingan seseorang di Facebook mengenai misteri lagu Nina Bobo ini. Hiii... menurut penjelasan dari artikel itu, kalau nyanyiin lagu Nina Bobo sama aja kayak manggil arwah si Nina. Hiiii sereem yaa.
Baru dua atau tiga hari kemarin gitu, di grup WA akhwat LISFA (grup yang terdiri dari seluruh akhwat yang pernah tergabung dalam lembaga rohis zaman S1 dulu mulai dari angkatan baheula sampai angkatan terkini), saya memperoleh pemberitahuan dari salah seorang akhwat yang dulu pernah jadi MR saya. Beliau menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati terhadap salah satu lagu Barat. Saya nggak usah sebutin deh judulnya. Tapi, senada dengan lagu Gloomy Sunday, lirik lagu yang ini nih ternyata bisa menyesatkan kalau disenandungkan apalagi dihayati. Parahnya kalau orang yang dengerin lagu ini sok-sok English tapi nggak tahu artinya apa, bisa-bisa.....
Salah satu bagian liriknya seperti berikut ini:
There's no religion that could save me No matter how long my knees are on the floor So keep in mind all the sacrifices I'm makin' Will keep you by my side And keep you from walkin' out the door
Sebagai seorang yang punya keyakinan agama, terutama Islam (karena saya muslimah jadi saya pakai sudut pandang agama sendiri), lagu ini bisa menyebabkan orang murtad loh. Naudzubillahi min dzalik. That's why, kenapa pada postingan sebelumnya mengenai lagu juga, saya udah pernah bilang kalau musik dan Al-Qur'an itu bisa saling mengusir. Ketika seseorang lebih banyak mendengarkan plus menyanyikan lagu, hapalan Al-Qur'an yang ada dalam hatinya lama-kelamaan bisa saja terkikis. Ini udah hapalan Al-Qur'an, gimana kalau udah keimanan seseorang? Wiiiiw.... haduuh parah..parah....
Bagi teman-teman yang masih suka denger lagu, hati-hati saja apalagi yang cinta banget sama lagu Barat atau Korea yang notabene berbeda bahasanya. Kalau udah suka sama sebuah lagu, mending cermati dulu arti tuh lagu apa sih. Kalau udah tahu liriknya bisa menyesatkan walaupun musiknya aduhai, mending tinggalin.
Itu saja sih yang mau saya sampaikan. Sekali lagi, hati-hati. Lebih baik, kurangi atau tinggalkan. Mungkin agak sulit ya untuk benar-benar menghindari lagu. Ketika kita pengennya nggak dengerin lagu tapi di satu tempat (di restoran, kafe atau lainnya) ada yang muter lagu, yaa kita juga nggak bisa seenaknya melarang mereka. Tapi, minimal kalau lagi sendirian, lagi sedih, jangan biasakan menyembuhkan luka batin dengan mendengarkan lagu. Lebih baik, mulai dari sekarang biasakan diri ketika sedih atau banyak masalah, larinya dengan cara yang baik dan positif seperti membaca buku-buku bermanfaat atau sekalian membaca Al-Qur'an, ambil wudhu dan shalat.
Judul aslinya, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Tapi, biar lebih ekstrim jadi saya ganti menjadi membodohi yang dekat.
Coba deh nonton video ini....
Gimana perasaan kalian? Apa yang kalian pikir?
Yap, zaman semakin bergerak maju, semakin canggih alat-alat komunikasi dan teknologi. Tapi, justru manusia semakin terbelakang karena dikuasai oleh gadget.
Pertama kali punya handphone dulu pas SMP. Itu juga beli dengan uang sendiri, sisa dari beasiswa. Tapi, nggak tiap menit pegangnya karena namanya juga hape jadul, masih monokrom, cuman bisa buat SMS, telepon pun nyaris nggak pernah kalau bukan sama keluarga. Main games ular-ularan sih iya, itu juga jarang banget. Bergeser pas kuliah S1, saya mulai mengenal Friendster. Kenalnya karena dikasih tau teman, akhirnya ikut-ikutan sign up. Merembet hingga masa-masa selanjutnya, punya hape yang makin canggih. Pernah dulu saya kecanduan chatting. Bisa dibilang parah banget. Bukan hampir lagi, tapi tiap hari pasti beli pulsa, minimal 10.000. Jadi, hitung aja tuh sebulan habis berapa pulsa? Pulsa itu cuman habis dipakai buat chatting, mulai dari pagi sampai pagi lagi, ON, meskipun dalam keadaan tidur. Melek-melek ngechat lagi. Pernah juga saking candunya, sampai-sampai saya membawa hape ke kamar mandi, cuman biar nggak telat balas chat dari teman.
Saat itu, menjelang 2010, saya terkena cacar air. Nggak kuliah selama beberapa pekan. Istirahat total. Itu juga karena ketularan adek sepupu yang kena cacar air duluan. Sejak itulah, saya akhirnya lepas dari candu chatting. Entah bagaimana caranya, tapi bersyukur karena berkat sakit itulah saya semacam reinkarnasi menjadi normal lagi, nggak kecanduan lagi.
Sedih memang ketika melihat video itu. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, saya akui pernah menjadi orang ter-idiot yang pernah dibodohi oleh gadget. Demi apa coba?
Saya memang punya banyak akun. Hampir semua beragam akun sosmed saya punya. Tapi, alhamdulillah tidak kecanduan seperti dulu. Beruntung kuliah S2 ini, saking padatnya, saya sampai sering diomeli, dikirimin PING! sama teman-teman cuman gegara saya nggak buka handphone kalau pas lagi ada di kampus mulai pagi sampai sore.
Punya banyak teman di dunia maya? Apakah itu patut dibanggakan? Menurut saya tidak. Justru saya berani menjudge bahwa orang yang paling banyak teman sosmednya ditambah penggila gadget adalah orang yang teramat kesepian dalam hidupnya. Mengenai ini, saya beberapa kali mendapat email atau komentar di blog tentang tulisan saya yang berjudul anti sosial atau apalah itu saya lupa. Semua yang curhat adalah penggila gadget. Parahnya, mereka sangat susah beranjak dari monitor cuman demi akrab-akraban dengan teman/kenalan mereka. Padahal di dunia nyata, mereka nggak pernah keluar rumah. Bahkan ada yang sampai takut keluar rumah dan bertemu orang banyak tapi punya banyak sekali teman sosmed. Mereka mengaku... kesepian. Sakit rasanya, ungkap mereka. Ada juga loh yang sampai depresi dan nyaris bunuh diri karena udah fobia sosial.
Okelah, kita punya banyak teman sosmed tapi masih mending kalau mereka memang orang-orang yang bisa kita jumpai setiap hari atau minimal sekali setahun lah. Tapi, bukankah miris jika berteman di sosmed tapi pada akhirnya misalnya nggak sengaja ketemu di dunia nyata, tahu-tahunya merasa nggak kenal karena mereka nggak pernah pasang foto asli atau lebih parahnya mereka hanyalah akun palsu.
Saya sendiri, memang anak rumahan. Saya memang jarang keluar rumah kalau nggak ada keperluan mendesak. Saya hanya keluar saat kuliah, diajak kumpul atau reuni dengan teman atau kerja kelompok dan diajak keluarga bepergian. Selebihnya, kalau keluar nongkrong duduk diem di pelataran, ngapain? Nggak penting. Meskipun demikian, saya pun akhirnya menyadari. Meskipun anak rumahan dan sudah difasilitasi oleh berbagai gadget canggih, saya tetap berusaha menyisihkan waktu untuk keluar dengan teman, sahabat dan keluarga. Memang, saya ini nggak betah berlama-lama di tempat yang sangat ramai dan sesak akan lalu-lalang orang. Tapi, kalau di tempat itu, saya sedang berjalan bersama teman-teman atau keluarga, setidaknya hati saya lebih tenteram daripada sendirian.
Tahu nggak sih? Jauh lebih indah jika kita mau menyempatkan diri mematikan seluruh gadget ketika orang-orang terdekat membutuhkan kita. Saya sendiri kalau pas lagi pergi liburan ke Madiun (kampung Mama) atau ke tempat mana gitu, dua hape memang saya bawa, kadang juga bawa laptop kalau pas mau sekalian ngerjain laporan. Tapi sesampai di sana, karena sinyalnya rada susah... alhasil saya memang sengaja menggeletakkan hape di rak atau di tas. Pagi hari bangun tidur, langsung cuap-cuap sama keluarga atau sepupu. Rasanya tenteram banget kalau pas lupa sama gadget gitu. Jadi, kalau liburan, saya memang akan sangat susah dihubungi.
Dan, tahu nggak sih? Jauh lebih indah ketika kita berhasil ngobrol face to face, dapat kenalan baru di jalan/di mana saja daripada jatuh cinta pada seseorang di dunia maya, dipisahkan oleh ruang dan waktu. Itu lebih sakit dan rasanya flat... datar.... Iya, orang yang kita sukai/kagumi misalkan, cuman bisa dilihat lewat monitor meen... Belum tentu juga orang itu beneran asli ada. Kalau itu hanya akun ilusi, kita tertipu, benar-benar... jadi orang idiot dah. Coba aja kamu dilamar sama orang yang kamu sukai tapi lewat gadget, haduuuh... feel-nya mana? Nggak ada ekspresi nyata. Cuman emoticon, itupun kalau benar-benar tulus (nggak bohongan).
Ah, coba deh sesekali, kita mematikan gadget. Kalaupun harus ON, semisal ngerjain tugas pakai laptop, baiknya jangan ngunci diri di kamar atau ruang tertutup. Kalau masih bisa konsentrasi, coba sesekali nyalakan laptop, ngerjain tugas di ruang keluarga/ruang makan. Jadi, kalau diajak ngobrol sama keluarga, bisa sesekali noleh, jawab pertanyaan mereka. Ya, kalau emang bisanya konsen di ruang tertutup dan damai tanpa bising, batasi aja jamnya. Jadi, jangan dari pagi sampai pagi lagi cuman natap monitor. Tiap beberapa jam gitu, keluar kamar dulu, nonton kek, ibadah kek atau makan di dining room sama keluarga.
Memang, gadget itu praktis, memudahkan kita, mendekatkan yang jauh. Tapi, kalau ada yang dekat, nggak usah ngobrol pake line, wa, path, IG, FB atau SMS segala kali padahal cuman dipisahin sekat ruang atau cuman dipisahin satu kursi kosong doang. Itu berlebihan banget namanya hahaha.
Heeumm, idealnya memang, kita yang harusnya pandai mengatur gadget, bukan sebaliknya kita yang diatur oleh gadget sendiri. Sebelum terlambat seperti kisah para pengirim email yang udah punya kecenderungan gangguan anti sosial, makanya coba deh dikurangi. Kalaupun memang karena tuntutan pekerjaan harus bawa gadget ke mana-mana, coba sesekali ketemu klien face to face.
Eh iya, ngomong soal klien yaa.... saya sering banget dapat klien via email. Rasanya itu.... hambar banget. Nggak banyak yang bisa saya amati dari klien. Mau berempati atau benar-benar memahami pribadi klien dan masalahnya juga harus kerja dua kali karena dibatasi jarak dan waktu. Jadi, kalau nanti saya udah resmi jadi psikolog dan berpraktek, saya maunya ketemu klien face to face. Kalau kliennya jauh, mungkin yaa gimana lagi cuman bisa via email. Tapi, kalau harus mengikuti terapi gitu yaa wajib ketemu langsung.
Coba kita flashback ke masa lalu
Saat masih kanak-kanak
Pada seneng-senengnya main petak umpet, lari-larian, manjat pohon, main ini itu sampai lutut lecet dan berdarah
Main perang-perangan pakai tembakan air, peluru plastik
Saat di belakang kita, ada teman yang bantu ngayunin ayunan yang kita naikin
Main jungkat-jungkit rame-rame sampai heboh terjadi perebutan daerah kekuasaan
Itu jauuuh lebih indah
Jauh lebih asyik
Daripada menjadi generasi milennium
yang jago maen DOTA
yang jago maen game Assasin
Cuman berhadapan sama user, sama komputer...
Semua tergantung kita
Mau pilih yang mana
Kalau saya pribadi sih, lebih happy ketika masa kanak-kanak dan sekolah
Belajar tetep jalan, tapi saat maen, ya maen sama anak-anak tetangga sampai lecet sampai diomelin sama ortu
Jadi cewek tomboy yang hobinya panjatin pohon, makan belimbing rame-rame sama temen-temen
Sekalipun akhirnya kena bully terus
Aaah, itu semua jadi terkesan manis dibanding pahitnya kalau ingat di masa kini
Lebih baik gitu
Daripada jadi generasi cyber, berteman banyak tapi sebenarnya temannya cuman satu
Siang ini, saya masih kuliah. Rasanya bosan dan ngantuk. Saya cuma mau sharing saja. Tadi pagi kami kuliah Karya Ilmiah II dengan pengampu Pak La. Oya, saya juga baru menyadari bahwa sebagian besar tulisan dalam blog belakangan ini, inspirasinya berasa dari kelas Pak La. Ada...saja yang Bapak itu katakan. Sesuatu yang awalnya tak pernah terpikirkan, malah terceletuk di benak beliau. Unik, menarik dan sangat menginspirasi meskipun hanya hal sepele.
Tadi pagi, Pak La me-review tugas proposal tesis kami. Eeeettt... jangan kaget dulu ya. Kami memang sudah diminta untuk membuat proposal tesis di semester dua ini karena semester 3 mendatang, kami akan full praktek kerja profesi di beberapa tempat seperti RSJ, Puskesmas, Lapas atau Dinsos.
Di sela-sela review oleh Pak La, ada seorang teman yang mengangkat tema tesis yaitu agresivitas dan penyesuaian diri. Pak La nyeletuk, "Loh, dalam rumah tangga itu kok bisa terjadi KDRT?" Kenapa itu digolongkan agresivitas dan lebih sering dilakukan oleh suami terhadap istri? Sebab, agresivitas yang suami lakukan adalah sebagai bentuk pembelaan diri. Jadi, agresivitas yang dilakukan suami terhadap istri itu adalah bentuk agresivitas aktif yang dapat meliputi bentakan, pukulan, makian dan lain-lain. Nah, kalau perempuan? Apakah para perempuan tidak tergolong makhluk yang agresif juga? Gimana, ada yang bisa menjawab?
Yap, sebenarnya, perempuan itu juga agresif. Ettss, tapi bentuknya mungkin berbeda dengan laki-laki. Perempuan itu melakukan bentuk agresivitas atau pembelaan diri dengan cara diam atau pasif. Seorang perempuan itu dapat menarik perhatian laki-laki atau orang lain kan bukan dengan cara berkoar-koar tapi dengan cara yang smooth.
Pada intinya, agresivitas itu sebenarnya tidak selalu bermakna negatif. Agresivitas juga bisa bermakna positif. Kalau yang saya pahami, mungkin mirip dengan konsep ambisi gitu kali ya. Contohnya saja apabila rajin bertanya itu dapat meningkatkan nilai akademik seorang siswa, maka ia harus bertindak agresif dengan cara rajin mengacungkan tangan untuk bertanya. Mungkin sederhananya seperti itu kali ya. Kalau misalkan kita ingin mencapai puncak prestasi tertentu, maka kita harus agresif melakukan berbagai upaya untuk meraihnya. Kalau hanya diam, tentu tidak akan tercapai. Agresivitas itu bisa bermakna negatif ketika dilakukan secara berlebihan, sudah masuk taraf mengganggu dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Cukup sekian dulu hasil sharing dari saya. Jika ada kesalahan, mohon dikoreksi ya.
Selalu. Kayaknya sebagian besar postingan berbau materi psikologi untuk belakangan ini sering bersumber dari cerita Pak La. Begitu pula pada postingan hari ini. Saya sebenarnya juga sudah share di FB mengenai materi perbedaan antara empati, simpati dan partisipasi.
Well, sebelumnya saya mo cerita dulu lah buat intermezzo. Jumat kemarin, kami kuliah Intervensi Komunitas. Pak La yang mengampunya. Full seharian bersama beliau mulai jam 8.00 am sampai 15.00 pm. Beliau itu memang disiplin, ketat banget. Makanya tiap hari, saya selalu berangkat satu jam sebelum perkuliahan dimulai. Beliau kalau masuk kelas, kalau belum tepat jam 8, beliau duduk-duduk sambil ngobrol bercanda sama kami. Tepat jam 8 barulah dimulai dengan ucapan Assalamu'alaikum. Itu tandanya materi dimulai. Kami kuliah dari jam 8 sampai 10 pagi. Jam 10 istirahat sekitar 10 menit. Lalu pukul 11.00, kami istirahat+shalat. Beliau dan dua orang teman laki-laki kami shalat Jumat di masjid kampus. Lucunya, waktu jam 11 itu, hape Pak La bergetar tanda alarm berbunyi. Di alarm tersebut tertulis, "Sudah selesai." Jadi nggak boleh bicara lagi haha, lucu banget bikin kami sampai ketawa-tawa. Masuk lagi tepat jam 1 siang.
Materi yang kami pelajari adalah Konseling Kelompok. Dimulai dari teknik-teknik konseling paling mendasar. Itupun materi yang diajarkan oleh Pak La adalah teknik yang sangat sederhana. Seperti teknik bagaimana mengangguk secara profesional bagi psikolog/konselor sebagai bentuk acceptance terhadap klien. Kata Pak La, latihan mengangguk aja. Anggukan psikolog itu profesional, katanya. Jangan seperti orang India, geleng-geleng terus, nanti kliennya pada kabur. Kemudian teknik understanding, bagaimana psikolog/konselor memahami dengan cara menerima apa yang diungkapkan, dipikirkan dan dirasakan oleh klien. Dan teknik re-statement, yaitu mengulangi pernyataan yang dikemukakan oleh klien guna mengetahui apa maksud sesungguhnya dari pernyataan klien tersebut.
Setelah itu, masuk pada tahap empathy.
Nah, beliau bertanya, "Apa bedanya empati, simpati dan partisipasi?"
Salah seorang teman kami, Mbak Ni menjawab, "Empati itu ikut merasakan apa yang dirasakan oleh klien."
Pak La membalas, "Jadi, kalau klien merasa gembira berarti konselor juga harus merasa gembira. Kalau klien sedih gimana? Konselor apa juga harus merasa sedih? Kalau kliennya ngamuk-ngamuk, konselor juga ngamuk?"
Kami tertawa lagi sampai nggak jelas antara rasa kantuk yang kami alami semua dengan perasaan geli gara-gara candaan Pak La.
Lalu, Pak La memberikan jawaban dengan ilustrasi nasi goreng. Beliau bertanya pada barisan tempat duduk sebelah kiri. "Suka makan nasi goreng?" "Suka, Pak." "Biasanya pakai lauk apa?" "Ayam, disuwir-suwir, Pak." "Sayur." "Kubis, Pak." "Telur." Terus, Pak La kemudian bertanya lagi, "Loh tadi ayamnya itu apa masih hidup, masih jalan terus ditangkap, atau gimana?" "Nggak, Bapak... Udah mati. Udah digoreng, disuwir-suwir." "Nah, itu. Konselor itu ndak boleh kayak ayam. Ayam itu mengorbankan jiwa raganya untuk dimasak buat dicampur sama nasi goreng. Kata ayamnya, wes, kasihan dia itu lapar, ya udah potong saya saja."
Contoh ayam pada nasi goreng ini adalah bentuk simpati. Jadi, singkatnya, simpati itu adalah mengorbankan jiwa raga, larut dan hanyut ke dalam pikiran dan perasaan seseorang.
"Terus, telurnya tadi, apa masih hidup? Diambil dulu dari ayam apa gimana?" "Nggak, Pak. Udah mati. Digoreng." "Nah, itu. Psikolog juga ndak boleh kayak telur. Telur itu sebenarnya ndak tahu, saya ini mau diapakan to, ndak mengerti itu. Jadi, udah nyumbangin diri aja."
Contoh telur ini adalah bentuk partisipasi. Singkatnya, partisipasi itu adalah menyumbangkan diri tanpa tahu tujuan yang jelas.
"Nah, misal ada Si A lihat temennya si B lagi makan nasi goreng. Si A bilang, "Wah, kamu ini makannya banyak banget ya. Ob.. saya memahami kalau kamu itu lapar banget jadi makannya banyak."
Contoh orang A inilah yang dinamakan empati. Jadi, empati itu adalah memahami apa yang dipikirkan, dirasakan dan dialami oleh klien.
Jelas banget kan perbedaannya? Contoh ilustrasinya rada aneh, unik tapi cukup mengena. Ya emang gitulah Pak La kalau ngasih contoh. Ada saja yang nggak pernah terpikirkan oleh kita.
Oke, demikianlah sharing hari ini. Semoga bermanfaat.
Kuliah intervensi komunitas kemarin, kami dapat ilmu baru dari Pak La. Kali ini, saya akan sharing tentang konsultasi?
The question is, pernahkah Anda melihat plang-plang konsultasi di pinggir jalan? Itu konteksnya gimana ya? Atau, pernahkah Anda melihat plang konsultasi psikologi?
Ternyata, konsultasi itu memiliki banyak sekali pengertian, tergantung konteksnya dan siapa yang melakukannya. Anyway, konsultasi dari kacamata awam dan konsultasi psikologi itu beda banget loh. Mungkin, kalian pernah gitu lihat atau ketemu sama lulusan dari jurusan mana saja. Kemudian, dia menawarkan jasa konsultasi sesuai dengan background pendidikannya. Lalu, apa bedanya sih sama konsultasi dalam bidang psikologi?
Konsultasi menurut pengertian awam adalah memberikan penjelasan tentang suatu masalah. Oke, noted.
Nah, konsultasi dalam konteks profesi khususnya profesi psikolog atau profesi apapun--(kalo bicara profesi berarti orangnya itu udah dilatih secara profesional dan memperoleh sertifikat atas profesinya tersebut)--adalah interaksi antara konsultee dan konsultan untuk membicarakan masalah-masalah klien. Nah..udah ketahuan kan bedanya dari pengertian awam sama profesi?
Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam konsultasi profesi itu melibatkan tiga pihak: konsultan, konsultee dan klien. Dulu saya mengira bahwa konsultasi profesi itu hanya melibatkan dua pihak yaitu konsultan dan klien. Ternyata sebetulnya ada 3 pihak.
Penjabaran rincinya, klienitu adalah orang yang punya masalah pribadi. Konsulteeadalah orang atau pihak yang me-manage klien. Konsultee juga punya masalah, tapi masalahnya adalah masalah seputar kliennya atau lembaganya. Sedangkan, konsultanadalah orang yang memberikan bantuan.
Next, konsultasi dalam bingkai profesi itu mempunyai 2 sifat: langsung dan tidak langsung. Tapi, yang paling umum itu adalah bersifat tidak langsung. Berikut ini poin-poin penjelasannya, mengapa konsultasi itu ada yang bersifat tidak langsung.
Antara konsultan dan konsultee tidak berhubungan secara langsung. Maksudnya, di antara mereka ada sekat atau batas yang harus ditaati. Yaa begitulah peraturan sebenarnya.
Konsultan tidak boleh memaksakan kehendak pada konsultee. Jadi, hubungan mereka setara. Tidak ada yang menekan dan ditekan, tidak ada yang berkuasa dan dikuasai, tidak ada yang paling tinggi otoritasnya. Contohnya aja seorang arstiek. Ketika konsultee mempunyai klien yang ingin membangun rumah minimalis bergaya Eropa, misalnya, maka konsultee datang pada arsitek (konsultan) untuk berkonsultasi tentang bagaimanakah desain dari gambar rumah minimalis bergaya Eropa itu. Tugas arsitek hanyalah mendesain/menggambar rumah minimalis untuk ditunjukkan kepada konsultee. Ketika konsultee keberatan karena ada beberapa bagian dari desain yang tidak sesuai dengan maksud/pikirannya, maka konsultan harus menggantinya sesuai dengan yang dimaksud konsultee. Jadi, konsultan tidak berhak mengkritisi.
Konsultan juga tidak boleh mencampuri urusan-urusan pribadi konsultee apalagi urusan klien si konsultee. Konsultan tidak berhak menanyakan bagaimana kondisi klien karena itu adalah area milik konsultee. (Ini menyangkut kode etik seorang konsultan profesional).
Konsultan itu orientasinya adalah problem focused. Langsung to the point apa solusinya, tidak boleh bertanya "Why?" dan tidak perlu bertanya atau menggali sebab-akibat dari masalah tersebut.
Sekarang pertanyaannya, jadi seorang psikolog itu apakah sama dengan konsultan?? Psikolog itu bisa saja menjadi konsultan, tapi bisa juga berdiri sendiri sebagai psikolog. Namun, psikolog pada dasarnya ya psikolog. Psikolog juga punya kode etik. Bedanya konsultan dari profesi lain sama yang dari profesi psikologi adalah: Psikolog diberikan hak/kewenangan oleh profesinya (sudah menjadi kode etik) untuk "menelanjangi" semua urusan pribadi klien. Jadi, psikolog yang posisinya sebagai konsultan ataupun psikolog umum, tetap diperbolehkan untuk bertanya sebab-akibat dari masalah yang ditangani, bertanya tentang semua rahasia-rahasia klien. Dalam proses konseling dan psikoterapi pun demikian. Psikolog harus tahu semua masalah personal klien dari akar-akarnya.
Begitulah materi yang kami dapatkan dari Pak La. Kalo dihubungkan dengan matkul Intervensi Komunitas, kita bisa menari simpulan bahwa teknik intervensi untuk komunitas itu ada yang bersifat langsung pada orang-orang yang ditangani dalam sebuah komunitas dan ada pula yang hanya berorientasi pada lembaga. Menangani klien dalam konteks intervensi komunitas itu, tidak harus langsung pada klien. Penanganannya pun bisa cukup sekali atau dua kali saja dilakukan dengan orientasi target yang lebih banyak. Jadi, sebisa mungkin 1 intervensi efektif untuk 1000 orang dalam sebuah komunitas.