Pages

JANGAN TANYA AKU. TANYALAH DIRIMU

Ketika semua tampak berubah dan berbeda dari biasanya, jangan tanyakan "mengapa" padaku. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, apa yang telah kamu lakukan/ucapkan sehingga membuat semuanya berubah.

Pergi tanpa menjelaskan sebenarnya adalah cara yang hanya akan semakin membuat orang tersakiti. Jadi, jelaskanlah karena pendengaranku sudah cukup ditempa dengan sabar untuk menjadi pendengar yang baik.

Walau kecewa, selalu ada sisa ruang di hati untuk memaafkan dan ridha. Sebab, mungkin akan ada rencana lain yang lebih indah daripada semua ini.


#QuotesOfTheDay
#inspirasisiang
#inspirasiLamaDariSahabat


QUOTES: KECEWA

Hati yang dikecewakan tak akan pernah kembali sama lagi "detaknya" seperti semula



#cumaQuotes
#Inspirasidarioranglain

TEMAN ITU SEPERTI INIKAH?

Nggak tahu juga kenapa
Teman... Apa sih definisi teman?
Apa teman itu ada hanya di saat butuh aja atau di saat susah juga?
Di saat susah? Yakin?

Entah aku yang salah memahami atau bagaimana...
Mereka yang kusangka lebih individualis terhadap teman-temannya sendiri, rupanya masih bisa "ada" ketika teman lain dari mereka yang membutuhkan support atau bantuan.



Bersaing dan berjuang. Dua hal yang membutuhkan partner. Bersaing sendiri, mana bisa? Begitu juga dengan berjuang, seindividualismenya seseorang, ketika berjuang ia tetap membutuhkan support dari lingkungan. Minimal ada yang bisa ngasih evaluasi, saran ataupun kritik padanya.

Ketika yang lain bisa saling sharing kasus atau tugas dengan teman-teman mereka, betapa itu adalah hal langka bagi saya dan itu dimulai dari sekarang.

Saya pikir, sesibuk apapun kita, kalau teman membutuhkan bantuan, dia sebisa mungkin akan ada di samping kita.
Saya pikir, sekalipun teman punya gebetan baru, kalau temannya lagi butuh dia walau hanya sekadar nongkrong bersama dalam friend time, dia pasti lebih memilih teman yang udah lama bersamanya daripada gebetannya.
Kira-kira mana sih yang lebih mudah dicari, teman atau gebetan?
Kira-kira mana sih yang lebih mudah untuk tidak dipedulikan, teman atau gebetan?

Selama ini, sejak dulu, seindividualisnya diri ini, saya tetap akan mencari seseorang yang bisa menemani saya "ke mana-mana". Minimal, ada yang bisa diajak ngobrol, sharing, ada yang bisa ngasih saran atau kritik.
Tapi sekarang, kenapa tampaknya sangat sulit mencari seorang teman dari lingkungan terdekat. Justru teman lama atau baru yang jauh, yang hanya bisa disapa lewat gadget justru lebih peduli daripada teman yang ada di depan mata.
Sesibuk apapun, kalau teman butuh bantuan, saya selalu berusaha ada untuk mereka.
Ya, saya baru sadar sih. Mungkin saya yang pamrih atau terlalu berharap bahwa mereka juga akan ada saat saya mengalami kesulitan.

Tapi, bener juga sih. Berharap pada manusia itu kadang membuat kita kecewa.

Yaaa dan kenapa diam dan terkadang walau hanya mengadu pada Allah itu lebih nikmat daripada ke orang lain, karena Allah nggak pernah tidur, nggak pernah ninggalin sesibuk apapun Dia mengurus seluruh ciptaan-Nya :)


TIGA MINGGU PKPP DI SLB LAWANG

Alhamdulillah udah genap tiga minggu dan nyaris sebulan kami bertiga PKPP di Lawang. Pengalaman mulai dari yang nggak enak sampai yang uenaak adaa semua di dalam perjalanan praktek kami.

Nggak enaknya, harus berpanas-panasan tiap hari. Ngendarai motor di bawah terik panas matahari ditambah kondisi jalan di daerah Lawang tuh gersang, pohonnya nggak banyak jadi bisa dipastikan tangan saya gosong. Berasa nggak mempan gitu udah pakai sarung tangan, maskeran sama pakai lotion. Sebagai cewek wajarlah ya menggerutu. Nggak enak banget dilihatnya kalau warna kulit belang gini. Apalagi tangan saya. Duuuh...ampun.



Enak dan serunya, di sana banyak kejadian lucu hingga mengharukan yang kami alami maupun amati. Di sekolah itu ada bapak guru muda berkacamata. Jadi, kami bertiga memanggilnya Bapak 'Dikta'. Alasannya karena saya ngefans banget sama si Dikta personil Yovie&Nuno, jadi kalau ada cowok cakep plus berkacamata, saya panggil Dikta. Eh setelah saya selidiki, ternyata Bapak Dikta yang saya ketahui kemudian namanya Andhika, dia itu seumuran dengan saya. Malah lebih muda tiga bulan dari saya. Saya Januari, dia Maret. Sayangnya, dia tunawicara. Entah tunarungu juga apa nggak, yang jelas kekurangannya itu. Saya juga udah selidiki, eeh.. dia udah punya pacar. Baiklaaaah. Hanya untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki.

Jumat kemarin, kami bertiga sehabis senam, ke ruang aula. Di situ, ada yang lagi main badminton. Saya waktu itu masih duduk di depan aula, duduk berbaur sama adek-adek yang lagi nonton pramuka-an anak SD. Nggak lama, saya lihat si Bapak Dikta masuk aula. Kedua teman saya udah duluan masuk ke situ. Jadi, saya nunggu waktu yang tepat untuk ikut masuk. Pas masuk, kedua teman saya pun main badminton. Bapak Dikta duduk di sebelah saya. Sempat berdiri dia sebentar terus duduk lagi. Eh, duduknya bergeser haha.. yang tadinya kita dipisahkan oleh dua kursi, itu cuman dipisahin satu kursi. Di kursi kosong itu ada hape teman saya, jadi dia sungkan mau duduk di situ. Haha.. so sweet gitu yaa, makin dekat aja. Dan sempat juga saya ngobrol sedikit dengan dia walau saya nggak paham dia ngomong apa tapi saya cuman bisa senyumin dan bilang, "Iya." Lalu, saya nanya ke dia, "Bapak nggak mau main badminton?" Dia jawab sambil angguk-angguk lalu dia maju deh main sama kedua teman saya. Saya sempat ditawarin sama bapak guru lain yang udah capek main, tapi saya menolak karena malu. Hahaha nanti salting ai di depan si Bapak Dikta.

Oiya, soal klien-klien kami juga lucu-lucu. Jadi, di sana itu kami sangat terhibur. Bukan ngetawain mereka yang tiap jawab pertanyaan tuh nggak bisa. Tapi, ada aja tingkah dan respon verbal mereka yang bikin kita tuh ngakak. Saya sendiri menangani klien anak SMPLB. Satu kelas itu ada tiga orang. Ketiga-tiganya adalah klien saya. Yaa walaupun cuman dua aja nanti yang kasus dilaporkan sebagai laporan PKPP putaran pertama ini. Mereka semua laki-laki. Dua orang usianya 18 tahun dan satunya 17 tahun. Tapi, yang lebih dominan dan agak dewasa dikiiit itu malah yang usia 17 tahun dan emang postur tubuhnya juga lebih tinggi.

Yang usia 17 tahun ini itulah anak yang pertama kali saya datang ke SLB, langsung jabat tangan saya dan minta pin BBM saya. Ceritanya udah pernah saya sharing di postingan sebelumnya. Hahaha... Dia ternyata punya jiwa sosial yang tinggi, peduli banget sama orang lain, sama kondisi di sekitarnya. Tapi, sekali ngomong beuuuh... nggak bisa berhenti udah kayak kereta api dan anaknya gampang terpengaruh dengan hal-hal kasar. Satunya lagi adalah kasus CP yang RM. Ini klien utama saya. Karena CP jadi ada hambatan di komunikasinya. Saya kaget waktu tadi pagi dia cerita kalau kemarin malam tuh dia nongkrong sampai jam dua pagi baru pulang. Herannya, nggak dicariin sama ortunya. Ortunya malah ngebiarin. Satunya lagi itu klien saya. Dia ini seriiiiing banget berkata kasar dan kurang sopan. Sekalinya ngomong kasar atau nggak sopan gitu, dia langsung nutup mulut sambil bangkit dari bangkunya lalu senyam-senyum sendiri. Yang lucunya pas pelajaran tadi, guru nanya, "Sudut itu apa?" Trus dia malah meragakan orang shalat sambil sujud. Haha spontan laah saya dan guru tertawa terus ngingetin, "Sudut dan sujud itu beda." Dia tahunya bahasa Jawa, sudut itu pojok. Lucu..lucu... Kedua anak yang usianya 18 tahun ini mereka dimanjain sama ortunya. Beda yang 17 tahun ini malah mandiri. Udah bisa mikir menabung buat beli handphone katanya. Terus kadang dia juga yang negur kalo dua anak 18 tahun ini berantem atau yang suka berkata kasar ini ngejekin si temannya yang CP (Cerebral Palsy). Kadang juga malah ikut-ikutan mojokin temannya yang CP ini. Kasihan juga.

Eh oh ya, anyway, di SLB kan banyak pohon mangga tuh. Kita aja sampai manjatin pohon mangga dan rujak party sama guru-guru. Hehe seru deh selama kita di sana. Alhamdulillah diterima dengan baik dan semoga ke depannya lancar sampai kita bisa intervensi anak-anak di sana hingga kasus selesai. Aamiin

SECOND DAY PKPP (PRAKTEK KERJA PROFESI PSIKOLOGI)

Foto di ruang asesmen a.k.a ruang yang dipinjamkan untuk kita tempati bila ada keperluan konseling
Bila ada yang protes dengan warna jasnya, loh kok putih? Kok kayak kedokteran? Nah ini kami hanya menjalankan perintah dari kampus yang turun-temurun memang warna putih jasnya. Di SLB pun kami sempat ditanyain baik oleh murid maupun guru, "Ini kedokteran atau psikologi?"
Hiaaaa
Yaah, apa boleh buat. Kami hanya menjalankan tugas dan yang pentingnya niatnya untuk membantu orang aja sudah. Perkara warna jas, itu mah urusan akhir, kagak usah dipusingin yak.

Sedih sih, psikologi belum mendapat tempat penuh di kalangan masyarakat dan belum ada UU resminya. Tapi, saya pribadi bangga menjadi bagian dari perkembangan psikologi sekaligus sebagai calon psikolog.
Doakan kami yaa... semoga lancar masa PKPP-nya di tiga tempat selama satu semester ini. Doakan juga kami yang sembari ngejar tesis. Semoga kami bisa lulus bareng-bareng dan sukses bareng-bareng. Aaamiiin....

FIRST DAY PKPP

Terhitung 21 September 2015, kami udah mulai terjun ke lapangan a.k.a internship alias Praktek Kerja Profesi Psikologi. Putaran pertama ini saya prakteknya di Malang dulu, tepatnya di SLB Lawang. Dulu zaman S1 Saya udah pernah magang di SLB ini. Nah, sekarang praktek di sini lagi. Enjoy aja sih soalnya lokasinya juga nyaman banget dan pihak SLB pun welcome.

Saya magang di SLB ini bersama dengan dua orang teman. Sebelumnya saya jelasin dulu. Kami itu dipecah menjadi dua kelompok besar. Dua belas orang praktek di RSJ Menur dan tujuh orang di Malang. Ketujuh orang termasuk saya ini dipecah lagi menjadi tiga kelompok dan ditempatkan di tiga tempat berbeda. Saya dan dua teman saya ditempatkan di SLB Lawang. Dua teman selanjutnya di YPAC dan dua lainnya lagi di SLB Dr. Idayu Pakis.



Hari pertama ini, kami janjian sama Supervisor lapangan dari kampus yaitu Bu Ani (btw, ibunya sosialita binggooo dan cuanteeek lagi) serta Bu Nur. Janjiannya sih jam 8.

Saya berangkat dari rumah. Kalo masalah jarak dan waktu sama aja kayak saya berangkat kuliah dari rumah ke kampus, memakan waktu sekitar 30-40 menitan. Jadi, satu jam lebih maju saya udah berangkat dari rumah. Untungnya dari rumah bisa potong kompas lewat Sulfat menuju arah Arjosari untuk nembus ke Lawang. Pagi tadi berangkat jam tujuh. Nyampe pertigaan Arojsari-Lawang maceeeet pemirsaaaah. Jalan udah kayak kura-kura. Ternyata kemacetan disebabkan ada satu tronton mogok di tengah jalan beberapa meter dari Fly Over.

Waaah... rasanya kayak nano-nano. Saya dulu sih udah pernah bolak-balik Lawang juga karena subjek skripsi dulu banyak tinggal di Lawang sama Singosari. Tapi itu masih takut bawa motor. Sekarang mau nggak mau harus PP rumah-Lawang, beradu dengan debu, asap knalpot, terik mentari, bus, truk gandeng, mobil, motor, becak dan segala jenis kendaraan. Syukurnya lokasi SLB berada di kiri jalan jadi nggak perlu nyetir ambil lajur kanan yang notabene harus dengan kecepatan tinggi. Saya akui emang rada cemas kalo udah berhadapan sama jalan besar apalagi yang menuntut kecepatan tinggi ditambah ketemu sama bus dan truk. Kenapa? Dulu pernah kecelakaan, terseret jauh dan nyaris ketabrak truk dari belakang. Itulah masa-masa trauma S1 saya.

Well, lanjut... nyampe sekolah, Ry dan Mba Yu udah nyampe duluan. Beberapa menit kemudian kita nungguin para supervisor baru kemudian masuk ke lobby bertemu sama Bu Sofi (Supervisor di SLB) dan Kepsek. Ternyata Kepseknya udah ganti. Kalo dulu seringnya laki-laki, sekarang ini dapat perempuan. Jadi, masuk ruangan beliau tuh wangiii, ada anggrek macan ungunya pula di atas meja. Kalo zaman saya magang S1, Kepseknya laki-laki dan masuk ruangan tuh berasa bau asap rokok.

Setelah ngobrol bareng Kepsek, Bu Sofi dan para supervisor, kami pun keluar dari ruangan Kepsek. Setelah itu, lanjut keliling ke kelas-kelas sekaligus berkenalan dengan para guru.

Next, kami kumpul lagi di lobby depan bersama dua supervisor. Di situ kami ngobrol-ngobrol mengenai strategi dan apa aja yang perlu kami lakukan selama masa pkpp ini. Kami juga dikasih arahan serta nasehat oleh para supervisor. Tidak berapa lama kemudian, di sela-sela perbincangan muncul salah seorang murid SMPLB. Postur tubuhnya tingi, kulitnya sawo matang dan berjerawat. Dia nyamperin saya sambil menjabat tangan saya dan berkata, "Mbak..."

Saya awalnya canggung sekaligus shock. Kok cuman saya aja yang disamperin. Sampai Bu Ani, salah satu supervisor kami yang sosialita tuh nyeletuk, "Loh, kok cuman satu yang disamperin?" Bu Ani nyeletuk gitu berharap anak tadi tuh denger. Nggak denger ternyata anaknya dan langsung nyelonong pergi.

Murid itu pergi, kami pun lanjut berbincang lagi. Belum ada lima menit kemudian, murid tadi datang lagi. Kok saya lagi yang disamperin. Dia nanya, "Mbak dari mana?" Saya spontan jawab aja, "Saya dari UMM." Anak itu pun pergi lagi keluar dari lobby.

Selang beberapa menit kemudian, datang lagi untuk ketiga kalinya. Lucunya murid tadi menyodorkan kepada saya selembar kertas buram warna putih yang dilipat dua namun dengan satu sisi terlihat sudah robek. Dia bilang, "Minta pin bbm. Nanti tak bbm."

Mendengar murid tadi minta pin, saya sempat linglung kagak tahu mau ngomong apa. Saya pikir minta saya untuk menuliskan nama. Eh nggak tahunya minta pin bbm. Si Ry nyeletuk bantuin jawab, "Bilang aja paketan data lagi nggak ada, Mbak Em." Akhirnya, saya jawab, "Nanti aja ya, Dek." Dia pun pergi dengan tangan kosong dan mungkin sedikit kecewa.

Haha.. pengalaman pertama, belum apa-apa udah ada yang naksir. Astaga. Tapi, kami bertiga senang sih bisa dapat tempat di SLB. Kami pun diberi satu ruang khusus yang bisa kami gunakan untuk keperluan konseling. Ruang kesiswaan di pojok kanan seberang sekolah itu kosong dan biasanya cuma dipakai untuk kebutuhan asesmen aja. Jadilah kami kalo capek bisa istirahat di situ. Ada AC-nya pula.

Kami juga sudah berkenalan dengan psikolog yang ada di SLB tersebut. Namanya Bu Lely. Ibunya ramah dan bisa lah jadi informan kami selama praktek ini.

WANNA GO TO AUSTRIA

Jangan salah terka dulu. Impian ke Austria ini sudah lama terbendung dalam hati. 2013 lalu saat browsing di internet, saya sedang mencari setting untuk novel baru. Bingung, mau milih Prancis, sudah banyak. Apalagi Korea. Lalu, tergiringlah saya ke sebuah situs all about Austria. Menurut sejarah, Austria itu adalah tempatnya musik klasik. Banyak bangunan tua bersejarah di sana. Kotanya adem, nyaman dan di sana ada universitas yang cukup populer yaitu Sigmund Freud Universitat. 


Saya memang masih tetap ingin fokus menulis dengan bumbu psikologi meski dalam bentuk novel. Jadi, kota Ausria sangat pas untuk saya jadikan latar dalam novel baru nanti. Di sana pun ada universitas Bapak Psikologi, Freud (Ya walaupun saya tidak berkiblat padanya sih).

Dari situlah saya mulai menulis beberapa hal mengenai Austria. Sekarang, impian itu menyala lagi. Sedikit-sedikit, saya coba untuk belajar bahasa Jerman. Bersyukur bisa menemukan workbook bahasa Jerman gratis. 

Yaah, entah ini akan terwujud atau tidak, saya akan tetap mencoba nulis novel berlatar Austria nantinya. Beberapa spot udah masuk ke list saya. Salah satunya kota Salzburg dan Vienna. Dua kota itu yang nantinya akan coba saya munculkan dalam novel, tapi tetap diawali dengan latar Indonesia sebagai pembukaan karena tokoh-tokohnya berasal dari Indonesia.

Barangkali ketika novel itu sudah selesai, akan ada PH yang melirik. Aamiin (yang kenceng). Sapa tahu aja ada produser yang berminat untuk mengangkatnya dalam film layar lebar. Sapa tahu juga saya bisa dapat sponsor jadi bisa gratis ke sananya.

Ya itulah impian saya. Selain pengen ke Mekkah, saya juga pengen ke Austria. Semoga terwujud, aamiin. Kun fayakun.

KE RSJ MENUR-NYA DITUNDA

Dua hari lalu, Pak Zai (salah satu dosen kami) memberikan kabar bahwa saat ini RSJ Menur Surabaya belum bisa menerima mahasiswa praktek sekaligus dalam jumlah banyak. Karena kami sekelas berjumlah 19 orang, maka dipecah menjadi dua kelompok. 

Senin lalu, kami survey kos ke Surabaya. Kami berpencar dalam dua mobil. Mobil pertama itu diisi oleh aku,  Mba Qi, Ry, Zu, Mba Ni dan Mameto. Kami awalnya susah mendapatkan kos-kosan. Untuk sementara kami tertarik dengan apartment Gunawangsa karena itu satu-satunya tempat yang nggak terlalu jauh dari Menur. Sementara itu, mobil kedua diisi oleh delapan teman kami lainnya. Mereka ternyata sudah memberikan DP kos-kosan di daerah Unair sekitar Gubeng. Sedikit jauh memang. Karena mereka sudah terlanjut DP, akhirnya yang ke RSJ Menur lebih dulu adalah mereka ditambah dengan tiga teman double degree. Sementara Mameto dan satu teman laki-laki lainnya mungkin akan tetap stay di Malang bersama dengan kami.


Pak Zai menginformasikan bahwa yang praktek di Malang akan dipencar ke beberapa SLB dan YPAC. Jadi, selesai di tempat itu, dua bulan kemudian gantian kami yang di RSJ. Alhamdulillah juga sih karena berhubung kami belum mendapatkan kos-kosan. Mungkin Allah mendengarkan doa-doa khusus kami bertujuh kemarin. Walaupun demikian, alhamdulillah saya pribadi udah dapat CP Pak Danang (Psikolog yang kerja di RSJ Menur). Pak Danang itu alumni UMM yang praktek di RSJ Menur. Saya mendapatkan nomornya dari Mbak Galuh (kakak tingkat saya sejak S1 sekaligus kakak tingkat di rohis). Mbak Galuh Andina ini adalah teman kelas Pak Danang. Saat saya pusing nanya-nanya kos, Mbak Galuh pun nanya juga ke Pak Danang. Syukurnya, saya dikasih CP yang punya kos-kosan dekat Menur. Selain itu, ada juga Mbak Lia yang bersuamikan dokter. Suaminya punya rekan dokter yang dulu berpraktek di Menur. Saya juga diberikan CP kos-kosan oleh Mbak Lia. Setidaknya, nanti pas kami praktek di Menur, kami udah punya banyak list pilihan mau kos di mana.

InsyaAllah mulai tanggal 21 September besok kami semua serentak PKPP. Sebagian di Malang dan sebagian lagi di Menur. Minggu ini kami sedang menunggu jadwal ujian proposal tesis. Semua serba cepat, entah maksimal apa nggaknya, sistem kampus mengharuskan seperti ini.

Mumpung masih di Malang, semoga saya bisa sekalian survey komunitas Karang Wredha untuk tempat saya mengerjakan tesis nanti. Sekalian revisi proposal jika memang ada yang perlu direvisi. Saya sih berharap, semoga pas ujian nanti, saya masih bisa mempertahankan variabel-variabel penelitian saya. Tema yang saya angkat memang masih terbilang jarang. Saya tertarik untuk meneliti lansia tapi melalui perspektif orientasi mereka terhadap kesehatan dan kebahagiaan. Di Indonesia, penelitian mengenai lansia itu kan nggak jauh dari loneliness, gangguan kognitif, religiusitas, kebermaknaan hidup dan sejenisnya. Nah, dalam tesis, saya mau meneliti dari perspektif yang agak berbeda, kebetulan juga di lapangan banyak lansia yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian saya.

Bismillah...
Mohon doanya ya, semoga semuanya lancar
Dalam waktu enam bulan atau lebih ini kami memang dalam masa internship. Semoga dalam waktu tersebut, kami bisa menyelesaikan laporan tujuh kasus dan bisa ikut ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sehingga kami nggak perlu ngeluarin uang untuk biaya ujian sendiri kalau telat.
Aamiin.

GOES TO SURABAYA TO INTERNSHIP

Insya Allah 21 September 2015 nanti, kelas magister psikologi profesi angkatan 2014 akan berbondong-bondong menuju kota pahlawan, Surabaya, tepatnya ke RSJ Menur. Tujuannya nggak lain adalah keperluan PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi). Nama lainnya, kalau di dunia medis itu, internship.

Kenapa nggak di RSJ Lawang? Soalnya di sana lagi persiapan akreditasi sehingga belum bisa menerima praktek dari manapun. Akhirnya, para dosen pun survey ke Menur. Yeah... we got it. Buatku sih, sedih juga karena jauh. Jauh karena tiap minggu kita pun harus bolak-balik ke Malang untuk bimbingan kasus. Semua di luar dugaan. Aku pribadi memang belum tahu sistem Menur kayak gimana jadi belum ada gambaran. Kalau aja jadi di RSJ Lawang, udah banyaaaak persiapannya. Yaa, terima dan dijalani aja.



Senin besok ini nih, insyaAllah kita sekelas bakal survey kos-kosan di dekat Menur. Doain yaaa semoga dapat kos yang nggak jauh dari Menur. Aku juga nggak bakal diizinkan bawa motor dari Malang jadi setidaknya kalau dapat kos deket, nggak perlu jauh-jauh naik kendaraan lagi.

Satu setengah bulan mendatang, semoga semua dimudahkan. Semoga masih sempat juga untuk bimbingan tesis ataupun try out skala dan lainnya.

Oiya, sebelum itu, minggu ini kita akan ujian proposal tesis. Semoga semoga nggak perlu revisi banyak-banyak. Aku sih masih pengen mempertahankan variabel-variabelku karena penelitiannya masih terbatas dan terbilang cukup baru. Jadi, semoga aku bisa meyakinkan dosen-dosen penguji nanti, aaaamiiiiiin.

Semoga selama PKPP, aku bisa dapat minimal 3 kasus yang home visit-nya nggak terlalu jauh jadi bisa menej waktu dan menekan biaya yang nggak perlu-perlu banget.

Give me five! Yeeeey...
Semangat
Semoga bisa selesai tahun depan
Wisuda tepat waktu

BERUJUNG MISTERIUS

Randi....
Dulu kita berteman
Meski beda jurusan
Aku psikologi, kamu kedokteran
Dulu kita saling menyapa
Dulu kita pernah bercanda
Pertama berkenal dari P2KK
Setelah itu, Tuhan pertemukan secara tak sengaja di kelompok KKN yang sama
Dulu dan sekarang
Sangatlah berbeda

Randi....
Jika kamu berpikir aku menyapamu kemarin karena ingin mengejarmu, kamu salah besar
Empat tahun lalu, aku tidak tahu apa yang kurasakan terhadapmu
Hanya karena Moon dan Okha sering ngejekin kita berdua
Aku acuh, lebih lagi kamu
Aku tak bisa bilang aku menyukaimu atau tidak menyukaimu
Karena...
Aku memang tidak tahu
Tidak bisa mendefinisikan
Tapi, jika kamu menyalahartikan sapaanku dan kebaikanku dari dulu hingga sekarang, betapa menyedihkan bagiku
Mengapa kamu begitu?
Menyapa bukan berarti aku menginginkanmu
Aku hanya ingin kita berteman baik
Berteman biasa saja
Karena aku juga paham kamu tak menyukaiku

Dengan sikapmu kemarin yang seolah menganggapku makhluk tak kasat mata
Baiklah
Aku anggap itu tanda besar bahwa kamu tidak lagi ingin aku berkeliaran di sekitarmu
Entah kamu memang tanpa sengaja ingin memutus silaturahmi kita
Tapi, andai aku bisa berkata
Aku cuma ingin menyampaikan, aku hanya ingin kita berteman seperti empat tahun lalu
Hanya itu
Tanpa aku memendam perasaan apapun padamu
Tanpa kamu mencurigai setiap kebaikanku padamu

Tapi
Tampaknya percuma
Takdir ternyata bergerak secara misterius
Semua berawal dan berakhir dengan penuh tanda tanya
Kadang kamu perhatian, tapi aku tak menganggapnya lebih
Kadang kamu pun begitu tak peduli, tapi aku masih menganggapmu biasa seperti lainnya

Jika kamu memang menginginkan semua seperti ini
Baiklah
Aku akan berdoa
Semoga Tuhan tak akan pernah mempertemukan kita lagi
Karena dulu, kita sering bertemu tanpa sengaja
Maka dari itu, aku tak ingin lagi ada pertemuan sengaja atau tidak di antara kita
Aku tak ingin lagi ada kata kebetulan

Anggap saja kita tak saling mengenal
Anggap saja begitu
Jika itu memang maumu

Terima kasih
Pernah menjadi temanku

Semua tentangmu sudah kuabadikan dalam buku pertama dan buku keempatku
Tapi aku sangat yakin, tangan dan matamu tak akan pernah sudi membacanya
Sudahlah
Aku tak menyesal pernah mengenalmu
Aku hanya kecewa dengan sikapmu
Sisa reaksi masa lalu kini berujung misterius
Biarlah
Semoga Tuhan menyudahi

RUMAHKU (BUKAN) SURGAKU

Hasil gambar untuk RUMAHKU SURGAKU

Setiap postingan, selalu menggunakan kata saya. Izinkan kali ini berganti pakai aku ya.

Sejak pindah ke Malang, banyak masalah berhamburan, menyeruak, menggerutu tiada henti. Aku awalnya memang tidak pernah bilang setuju atau tidak setuju atas rencana kepindahan ini. Ini adalah ide bapak, kami hanya follower. Emang nggak enak ya jadi follower doang. 

Aku ngerasa bapak kurang bersyukur. Di Parepare, kami sudah punya rumah yang nyaman, telah berkali-kali renovasi hingga menghabiskan tabungan hidup. Aku dan adik-adik bisa punya kamar pribadi masing-masing. Aku juga punya spot di mana tiap sore, pasti aku duduk di meja belajar ruangan itu untuk menuntaskan tulisan-tulisanku. Kamarku sangat nyaman, ventilasinya sangat memadai dan cahaya matahari bisa masuk leluasa sebab langsung berhadapan dengan teras lantai dua. Selain itu, rezeki kami sangat melimpah ketika tinggal di sana. Walaupun tinggal jauh dari keluarga besar, tapi hampir tiap tahun kami mudik ke Jawa. 

Bukan berarti aku nggak mau keluar dari zona nyaman. Justru kami di Parepare--maksudnya orangtuaku--pun adalah perantau. Mereka sudah berpuluh tahun berjuang untuk hidup di sana. Bisnis penjualan pakaian mama pun laris manis tiap tahunnya karena sudah banyak pelanggan yang selalu sedia mampir berbelanja di kiosnya. Aku juga merasakan lebih mudah aja sih nyari pekerjaan, bukan mencari malah ditawari seperti momen di mana aku pernah mengajar di STAIN kemarin. Bapak nggak usah pusing mau memarkir mobilnya di sebelah mana karena parking area kantor cabang Bank Mandiri Parepare cukup luas. Mau makan seafood, nggak susah, banyak yang segar karena dekat dengan laut. Keuangan keluarga pun cukup terkendali.

Meski memang kota pesisi Parepare itu nggak ada mall apalagi Gramedia atau toko buku besar, tapi aku tetap bersyukur pernah tinggal di sana. Tiap pagi, aku bisa jogging baik sendiri maupun bersama mahasiswi, start dari perumahan sampai ke belakang, pas di pinggir pantai. Ya, di belakang perumahan itu ada pantai. Kalau nggak gitu, aku juga bisa gowes tiap subuh.

Pindah ke Malang, bukan aku nggak bersyukur. Tapi, aku ngerasa kepindahan ini adalah ujian dari Allah. Maaf, tapi nggak bisa kuceritakan sedetilnya apa permasalahan utama karena itu adalah privasi keluarga. Pindah ke Malang pun, aku malah berubah alergi. Ya, alergi udara dingin. Dulu ketika S1, aku masih bisa bertahan. Tapi, mulai pindah total ke sini, justru alergi makin menjadi. Aku juga takut tapi semoga nggak sampai mengalami sinusitis apalagi rhinitis. Semoga aja.

Meskipun aku anak sulung, tapi sebagai perempuan aku tetap saja makhluk yang lebih lemah daripada laki-laki. Aku juga nggak habis pikir, punya adik laki-laki manja. Lagi dan lagi, tiap ada masalah, aku yang jadi sorotan pelampiasan kesalahan. Seolah aku yang nggak bisa memberikan contoh, bla bla bla... Aku muak. Aku muak ketika mendengar teriakan. Aku muak dengan situasi yang terkadang seperti sedang berada di dalam "kapal pecah". Dulu, aku sedih karena nggak ada teman kuliah yang sudi mampir ke rumah pamanku (saat aku masih S1 dan masih tinggal di rumah paman) karena alasan jauh dari kampus. Sekarang, setelah S2, aku sangat bersyukur punya sahabat yang mau berkunjung jauh-jauh ke rumahku. Tapi, terkadang aku berpikir, takut dan nggak mau kalau mereka datang ke rumah. Kenapa? Aku cuma nggak mau, jika saja mereka datang pada saat rumah ini berubah menjadi "kapal pecah". Aku takut ketika mereka datang lalu setelah itu mereka menjauhiku. Tapi, terima kasih buat sahabat-sahabatku yang pernah berkunjung ke rumah tanpa diminta, pernah nganterin aku pulang waktu sakit dan pernah bela-belain nyari alamat rumahku padahal aku lagi nggak ada di rumah. Terima kasih sudah mau mengunjungi tempat pribadiku yang penuh dengan wajah kekurangan ini.

Aku bercita-cita, suatu hari nanti akan keluar dari rumah ini. Jika perlu merantau. Kalau sudah menikah nanti, aku ingin tinggal bukan di kota ini. Aku merasa lebih nyaman ketika merantau seperti saat masih S1 dulu. Aku bisa ngontrak, nyari makan sendiri, masak sendiri, jarang ketemu orangtua dan adik-adik. Itu lebih baik. Dengan berpisahnya kami dalam beberapa waktu dan dengan jarangnya kami bertatap muka, justru itu menjadikan suasana rumah lebih kondusif ketika berkumpul kembali. Beda ketika setiap hari bertemu tapi terkadang harus seperti ini.

Selain itu, aku ingin keluar dari kota Malang juga untuk menyembuhkan alergi dingin ini. Aku benar-benar tersiksa sampai belum berani check-up ke dokter. Aku mau tinggal di daerah tropis, panas. Aku mau sembuh.

Aku juga nggak tahu dan nggak bisa cerita pada siapapun termasuk sahabatku. Blog ini cukuplah jadi ruang kedap udaraku untuk menumpahkan keresahan. Tak peduli akan ada yang membaca atau tidak. Kalaupun ada yang membaca, mereka pasti nggak akan paham atau bahkan mungkin udah salah paham dengan apa yang kutulis ini. Jadi, sudahlah. Aku tak perlu banyak bicara. Biarkan ini jadi privasi saja karena nggak semua harus diceritakan pada orang lain yang memang nggak ada sangkut-pautnya.

Rumahku, surgaku.
Itu adalah kalimat yang selalu kuagungkan saat masih tinggal di Parepare.
Setelah pindah di Malang, kalimat itu terasa hambar.
Rumahku, antara surga dan bukan. 
Mungkin ini yang pantas.
Ya, aku nggak menampik, kadang kala aku lebih suka menginap di rumah teman daripada pulang ke rumah. Kadang, aku lebih suka menghabiskan waktu di luar mencari inspirasi atau hangout bersama teman-teman dekat daripada memilih untuk cepat-cepat pulang.
Dicari atau ditanya kapan pulang, aku suka kalimat itu
Ketika orang rumah mencari, benar-benar mencari bukan dengan alasan yang nggak bisa kuterima, aku menyukainya.
Tapi jika orang rumah mencari atau menahan dengan alasan yang sulit untuk diterima oleh hatiku, itu hal yang kubenci.
Kadang...
Sudahlah
Jalani saja
Sekarang, mencoba bersyukur dengan ujian di depan mata
Ini bukan soal rumah yang sempit. Jika hati lapang, rumah seukuran apapun tetap akan membuat nyaman, bukan? Bukan itu yang kupermasalahkan.
Hanya saja, cara pandang dan cahaya yang ada di dalam rumah itu... kadang nggak bisa menyatu... kadang remang-remang.. Itu yang membuat rumah ini seperti tempat persinggahan yang kurang dirindukan.
Maaf jika aku harus menulis seperti ini karena saat ini, inilah yang terjadi.
Tapi, aku juga berharap semoga masalah ini bisa segera teratasi, kalau bisa nggak harus nunggu sepuluh tahun lagi seperti kata orang rumah.
Semoga Allah membukakan jalan aamiin.

sumber gambar: youtube.com

KECERDASAN PEREMPUAN



Kita selalu mendengar
Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh jua
Atau mendengar ini...
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga
Tapi...
Tahukah kau ada yang lebih pandai dari tupai atau si penyelundup bangkai?
Ya...
Perempuan lebih pandai dibanding mereka semua
Mengapa?
Perempuan itu cerdas
Perempuan pandai mengubur kekaguman sekaligus kecintaannya pada seseorang
Menatanya dalam titik pusat labirin yang selalu sulit untuk dicari
Menanamnya dalam sebidang hati tak terbaca
Hanya ia dan Sang Pencipta saja yang paham

Namun, perempuan juga mudah rapuh
Ketika cemburu membakar dirinya
Ia sering tak sadar telah menumpahkannya secara frontal, mungkin juga brutal
Anehnya, sekalipun tak berdaya untuk memiliki
Rasa negatif ini muncul begitu saja tanpa aba-aba

Seperti nasihat dari salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Ali bin Abi Thalib, "Wanita mampu memendam perasaan cinta selama 40 tahun, tetapi tidak mampu memendam rasa cemburu walau sesaat."




(images from rizkyekawahyuni's blog)

LAGU BISA MENYESATKAN

Pernah dengar atau pernah tahu lagu Gloomy Sunday yang heboh di era 1940-an? Ya ya ya.... lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi jazz, Billy Holiday ini menuai kontroversi  karena di Inggris dan beberapa negara lain, banyak korban berjatuhan akibat bunuh diri setelah mendengarkan lagu ini. Ada yang bilang suara si penyanyinya seolah mampu menyihir dan menghasut untuk bunuh diri. Huaaah...tapi memang liriknya itu ngenes banget sih.

Bukan cuman lagu Gloomy Sunday, Nina Bobo juga ternyata menyimpan misteri. Beberapa minggu lalu, saya pernah membaca postingan seseorang di Facebook mengenai misteri lagu Nina Bobo ini. Hiii... menurut penjelasan dari artikel itu, kalau nyanyiin lagu Nina Bobo sama aja kayak manggil arwah si Nina. Hiiii sereem yaa.

Baru dua atau tiga hari kemarin gitu, di grup WA akhwat LISFA (grup yang terdiri dari seluruh akhwat yang pernah tergabung dalam lembaga rohis zaman S1 dulu mulai dari angkatan baheula sampai angkatan terkini), saya memperoleh pemberitahuan dari salah seorang akhwat yang dulu pernah jadi MR saya. Beliau menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati terhadap salah satu lagu Barat. Saya nggak usah sebutin deh judulnya. Tapi, senada dengan lagu Gloomy Sunday, lirik lagu yang ini nih ternyata bisa menyesatkan kalau disenandungkan apalagi dihayati. Parahnya kalau orang yang dengerin lagu ini sok-sok English tapi nggak tahu artinya apa, bisa-bisa.....

Salah satu bagian liriknya seperti berikut ini:

There's no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I'm makin'
Will keep you by my side
And keep you from walkin' out the door

Sebagai seorang yang punya keyakinan agama, terutama Islam (karena saya muslimah jadi saya pakai sudut pandang agama sendiri), lagu ini bisa menyebabkan orang murtad loh. Naudzubillahi min dzalik. That's why, kenapa pada postingan sebelumnya mengenai lagu juga, saya udah pernah bilang kalau musik dan Al-Qur'an itu bisa saling mengusir. Ketika seseorang lebih banyak mendengarkan plus menyanyikan lagu, hapalan Al-Qur'an yang ada dalam hatinya lama-kelamaan bisa saja terkikis. Ini udah hapalan Al-Qur'an, gimana kalau udah keimanan seseorang? Wiiiiw.... haduuh parah..parah....

Bagi teman-teman yang masih suka denger lagu, hati-hati saja apalagi yang cinta banget sama lagu Barat atau Korea yang notabene berbeda bahasanya. Kalau udah suka sama sebuah lagu, mending cermati dulu arti tuh lagu apa sih. Kalau udah tahu liriknya bisa menyesatkan walaupun musiknya aduhai, mending tinggalin.

Itu saja sih yang mau saya sampaikan. Sekali lagi, hati-hati. Lebih baik, kurangi atau tinggalkan. Mungkin agak sulit ya untuk benar-benar menghindari lagu. Ketika kita pengennya nggak dengerin lagu tapi di satu tempat (di restoran, kafe atau lainnya) ada yang muter lagu, yaa kita juga nggak bisa seenaknya melarang mereka. Tapi, minimal kalau lagi sendirian, lagi sedih, jangan biasakan menyembuhkan luka batin dengan mendengarkan lagu. Lebih baik, mulai dari sekarang biasakan diri ketika sedih atau banyak masalah, larinya dengan cara yang baik dan positif seperti membaca buku-buku bermanfaat atau sekalian membaca Al-Qur'an, ambil wudhu dan shalat.