Pages

LITTLE THINGS YOU FORGET

"The little things you forget, kill me."
 -Pleasefindthis: I Wrote This For You-



Ada yang tertinggal di sudut ruang
Ia bernama kehilangan
Belum habis kukupas kulitnya
Hingga durinya tak kulihat ikut meregang


Ada yang tertinggal di separuh jalan
Ia bernama kerinduan
Belum sampai pada batas meyakinkan
Hingga nyaris pupus harapan

Ada yang tertinggal di dalam hati
Ia bernama yang berakhiran huruf serupa menulis melati
Belum sampai kututup semua jendelanya
Hingga ia menutup dan membuka lagi

Menetaplah atau berhenti
Bertahan atau lari

Dua yang tak sempat kusebut satu
Harap kusebut satu
Tapi, belum cukup menyatu

Tuhan
Izinkan aku duduk terdiam
Izinkan aku berdamai dalam-dalam
Karena perih tak mampu kukubur dalam kelam

Tuhan
Hanya padaMu, Kau tahu apa yang aku tahu
Aku tahu bahwa yang tak kutahu pasti akan lebih membiru
Seperti langit yang akan menggantung menggantikan kelabu

Aku hanya rindu
Tapi ia yang di sana perlahan seraya lupa padaku
Lupa pada hal-hal kecil tentangku


Sincerely,
A girl with a hidden hopes that only Allah knows it.

UJIAN TESIS AKAN TIBA PADA MASANYA

"Raihlah mimpimu. Jangan ragu dengan kemampuanmu. Jika dengan terjatuh membuatmu ragu, maka ingatlah bahwa kamu bisa terjatuh di setiap waktu meski telah meraih mimpi itu" 
-Instagram: Kalimat_PH-
Alhamdulillah, barakallah atas semhas dan juga sidang tesis teman-teman mapro UMM angkatan 2014 yang berlangsung sejak kemarin hingga hari minggu besok. Selamat buat teman-teman yang telah genap memperoleh gelar M.Psi, Psikolog. Semoga kalian pun akan mendoakan hal yang sama terhadap saya di sini.

Maaf jika saya tidak datang saat kalian ujian. Tidak menjadi supporter bagi teman-teman terdekat. Jujur, saya malu, ada pula rasa iri melihat kalian yang sudah menyelesaikan perjalanan. Ternyata memang benar apa kata mantan Kaprodi kemarin bahwa perjalanan tesis tiap mahasiswa itu beda-beda. Baru kemarin saya bertemu beliau dan saya ditanya lagi, "Kamu sudah sampai mana?" Saya tahu ekspresi beliau agak gimana gitu ya saat saya mengatakan bahwa masih proses bimbingan hasil yang belum nembus acc pembimbing dua.

Kemarin pun usai semhas salah satu teman dekat, salah seorang dari kami memeluk saya ketika dia bertanya, "Gimana, Em?" Dan, saya hanya menggelengkan kepala. Memang sore itu saya berdua dengan satu teman yang memang punya dua pembimbing yang sama. Namun, pembimbing II saya tampak mempersulit saya dan teman saya tersebut padahal pembimbing I sudah membukakan jalan untuk sisa acc saja. Entah harus berkata apa lagi. Semua kemampuan sudah dikerahkan semaksimal mungkin hingga saya drop lagi. Belum lagi pembimbing I yang akhirnya bilang bahwa kami berdua bisa ikut semhas dan sidang ujian tesis februari namun tidak bisa ikut wisuda periode februari, melainkan nanti ikut wisuda Mei.

Saya sempat ingin mundur dan menepi sejenak. Entah kapan kepastian kami bisa diberikan acc. Memang sih harapan itu masih menyala tetapi saya pun tak ingin jika harapan itu membunuh saya perlahan. Itulah akhirnya saya menggantungkan seluruh asa hanya pada Sang Pemilik kehidupan ini. Ini semua sudah diatur oleh-Nya dan sudah sesuai dengan skenario terbaik-Nya. Jadi, saya hanya perlu menjalankan dan menghadapinya saja.

Tapi, semakin lama saya pun mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Mungkin memang inilah yang terbaik. Berkaca dari pengalaman semasa skripsi S1 dulu, saya ke mana-mana sendiri. Di antara 20 orang kelompok bimbingan tesis, hanya saya sendiri yang berjalan sementara teman lain masih sibuk dengan urusan masing-masing bahkan beberapa yang sempat maju bersama saya akhirnya mundur karena beberapa alasan. Saya terpisah dari teman kelas F karena memang awalnya saya ini masuk dalam daftar kelas A namun karena dulu sebelum mulai perkuliahan diadakan kembali tes masuk kelas bilingual yaitu kelas F, akhirnya saya masuk kelas F dan bergabung dengan teman-teman yang sedikit namun solid. Sayangnya, kami semua memang tidak ada yang benar-benar satu kelas hingga pada saat skripsi harus berpencar. Sendirian, tak ada teman. Namun untungnya pas wisuda, saya bisa ada mengurusnya bersama dengan seorang teman. Minimal kebersamaan itu bisa menghilangkan kejenuhan karena selalu sendiri menghadapi semuanya.

Bedanya saat masa tesis begini, saya sering memulai dengan teman-teman yang satu kelompok pembimbing. Ke mana-mana bareng. Namun, saya juga tak enak hati dengan teman saya tersebut sebab dia punya geng sendiri dan semua teman gengnya sudah pada lulus sidang hari ini. Makanya saya selalu bilang padanya untuk tidak mengikuti jejak saya jika memang saya sedang prokrastinasi.

Saya juga kerap menunda revisi karena pemikiran yang masih tersangkut dalam kotak "idealis". Jujur, saya juga tidak ingin hasil yang akan saya peroleh akan sia-sia bila hanya menampilkan seadanya. Saya butuh waktu lebih untuk memikirkan segala sesuatunya sampai harus berani mengambil risiko tetap pada variabel penelitian yang memang di kampus saya sendiri mungkin masih sangat minim digunakan. Buktinya, dosen-dosen saya tidak banyak tahu mengenai variabel tersebut. Ya semoga saja, saya berharap saat semhas maupun ujian tesis nanti, minimal saya bisa memberikan sebuah pengetahuan baru yang belum banyak diketahui oleh mereka.

Jarak antara turun lapangan dengan try out pun memang jauh. Saya butuh waktu sekitar satu bulan untuk mengurus kelengkapan surat izin. Memang sudah dimudahkan namun karena mengikuti prosedur akhirnya mau tak mau harus menunggu, bolak-balik ngecek, hasilnya nihil, belum selesai diterbitkan suratnya, apalah, apalah, sampai akhirnya saya baru bisa mengambil data penelitian di malam tahun baru 2017 sampai tanggal 1 Januari. Bersyukur saya punya sahabat yang baik yang mau menemani dan membantu saya terjun ke lapangan. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan hatinya. Saya pun mendoakan agar dia juga segera lekas seminar proposal tesis dan bisa lulus tahun ini sebab dia sudah menunda lama karena ketakutannya (tapi kami beda universitas dan beda jurusan, namun dulu dia adalah sahabat saya semasa SMA di Parepare).

Down? Iya. Gak bersemangat? Juga sempat begitu. Tapi, saya yakin semua ini adalah yang terbaik. Saya juga bersyukur karena punya orangtua yang sangat-sangat memahami dan tiada henti mendoakan. Semoga esok akan ada kepastian terutama dari pembimbing II. Saya tak tahu harus berkata apa, namun, selama tesis ini berjalan saya merasa tidak terbantu dengan adanya pembimbing II, beda dengan pembimbing I yang memang sudah saya kenal baik dan dulunya juga menjadi pembimbing I saya semasa skripsi. Sedih? Iya, tapi mungkin ini adalah ujian agar saya bisa naik level lagi. 

Yap, semoga tidak akan menyerah dan bisa sampai pada tahap akhir yaitu sidang ujian tesis. Yah, entahlah, saya juga tak masalah jika memang di hari itu tidak akan ada yang datang walau hanya sekadar melihat saya selesai sidang atau menunggu saya, karena saya pun hari ini tidak bisa menampakkan wajah di hadapan mereka.

Gak papa, inilah lika-liku ngambil mapro. Saya telat saja ternyata masih ada kakak tingkat yang lebih telat lagi karena berbagai macam penyebab. Semoga saja mereka bisa selesai segera. Barangkali Mei nanti mereka juga bisa wisuda bareng kita yang masih tertinggal ini. Insha Allah, aamiin ya rabbal alamin...


BUKAN BERARTI SOMBONG

"He who does not understand your silence will probably not understand your words."  
-Elbert Hubbard-

Sebagai seorang pendiam dan introvert terkadang kerap dicap sebagai orang yang cuek, jutek dan sombong. Hal minusnya sih seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah jadi bagian dari diri saya.



Maaf bila ada saat dimana saya benar-benar terdiam, sunyi, tidak menjawab rentetan pertanyaan atau bahkan menjauh sejenak dari hal-hal yang biasa dilakukan. Saya senang membantu mendengarkan keluh kesah orang lain a.k.a. dengerin orang curhat dan meminta pendapat. Ada kalanya juga saya diam dan tidak menjawab. Ya, ada saat dimana saya benar-benar terdiam sampai tidak membalas pertanyaan yang ditujukan pada saya ataupun akhirnya tidak memberikan solusi sesuai yang diminta oleh orang lain. Jika saya melakukan itu bukan berarti saya sombong.

Saat saya mulai lebih banyak diam, sudah pasti banyak hal yang sedang saya pikirkan. Tidak semua harus saya jawab saat itu juga apalagi jika dirunut sesuai skala prioritas sekalipun membantu menuntaskan masalah orang lain pun tak kalah penting, namun saya juga tak bisa memaksa diri untuk lekas mengeluarkan suara.

Saya terkadang berpikir apakah orang lain akan mengatakan bahwa saya kurang dewasa dengan sikap seperti itu. Tapi, saya memang seperti itu. Saya kerap autis dengan dunia saya sendiri. Kadang saat jenuh melanda atau sedang banyak masalah, saya lebih memilih untuk diam lebih lama.

Jujur, saya orangnya sedikit panikan jika dirundung masalah. Kalau benar-benar butuh someone, saya bakal curhat sama teman atau sahabat terdekat. Kalau lagi butuh sendiri, mentok-mentok nangis ngurung diri di kamar sambil mikir baiknya gimana, harus ngapain aja de el el...

Saat ditampar oleh sebuah masalah yang cukup rumit, saya akan berdiam diri sejenak dan menjauh tapi bukan menjauh dalam artian flight alias lari dari masalah loh ya.

Minusnya jadi orang introvert bin rada polos itu juga kerap dikambinghitamkan... Ini adalah penilaian saya saja. Bukan maksud untuk berburuk sangka tapi memang beginilah adanya. Saya paling benci bagian dimana orang-orang mengalihkan seluruh kesalahan pada saya padahal saya tidak melakukan apa yang dituduhkan. Sudah sering mengalami seperti itu. Siapapun yang pernah menyalahkan saya seperti itu, saya pasti akan lebih jaga jarak lagi dengan orang-orang itu agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Kalau sudah punya suami nanti, nah saya kurang tahu lagi akan jadi seperti apa. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin juga saya bisa setega itu sampai cuekin belahan jiwa dan hidup saya hahai.. Prinsipnya cuman satu sih, semakin cuek saya berarti saat tiba timing untuk memberikan perhatian maka saya akan benar-benar mencurahkan seluruh perhatian hanya pada satu pusat tersebut. Kalau digambar pakai kurva, agak-agaknya sih cenderung ekstrem kiri dan kanan semua ya. Pas cuek, bisa cuek banget. Pas perhatian bisa perhatian banget. Kalau ada saat dimana perhatian saya tidak dihargai, yaa mungkin saya juga akan menjadi lebih diam dari sebelumnya. Bukan mekanisme pertahanan diri juga sih cuman, kalian pasti ngerti kan gimana rasanya ketika perhatian kita tidak dihargai tapi saat cuek kita malah dikejar-kejar. Ya begitulah.

CINTA: FRAPPE, RISTRETTO, GUILLERMO, AFFOGATO

Dulu. Cinta seringkali datang dengan suguhan rasa seperti frappe. Dingin. Beku. Serutan es batu bahkan nyaris memudarkan rasa khas dari cinta itu sendiri.

Dulu. Cinta juga hadir dengan rasa yang mirip ristretto. Volume dari espresso cinta yang murni bahkan dibatasi hanya setengah. Cinta yang kurasa hanya sepotong-sepotong. Seduhan air yang sedikit disertai leburan rasa pekat, manis dan singkat membuatku tersedak saat menyeruputnya.

Kelak, akan tiba musim penghujan menggugurkan bulir-bulir cinta yang lebih berwarna. Rasanya? Aku berharap seperti secangkir guillermo. Aroma espresso yang kuat disertai irisan jeruk nipisnya semoga mampu menyeimbangkan langkahku menghadapi getir hari-hari berat. Atau, seperti affogato. Tambahan es krim vanilla membuat mimpi buruk yang hadir tak kan teramat pahit rasanya.

Frappe. Ristretto. Guillermo. Affogato. Bila takdir mempertemukan dua rasa yang lama dengan dua rasa baru di musim penghujan nanti, mana yang akan kupilih? Satu rasa bahkan belum tentu akan kupilih, apalagi jika keempat rasa itu mengetuk pintu bersamaan.

Sejenak aku berbisik, "Tuhan, jika boleh meminta. Rasa yang belum usai kutenggak dahulu, tak perlu Kau suguhkan lagi. Aku ingin berbetah-betah hanya dengan satu rasa. Menyeruputnya setiap hari hingga napasku tak lagi dapat mencium aromanya. Tentunya dengan rasa pilihanMu."

CURHAT AJA

Assalamu'alaikum ^_^
Lama banget gak nongol di blog ini ya. Udah berdebu banget ni kayaknya (*Huuff..hufff... niup-niup debu).
Alhamdulillah gak terasa udah mau semester 5. Mau semesteran atau nggak, kayaknya juga sama aja, nggak ada libur mah kita T_T.

Well, alhamdulillah akhirnya tiba di penghujung semester 4. PKPPnya sih memang mulai semester 3, tapi baru mulai kerasa hawa-hawa beratnya pas semester 4 ini. Ujian internal sampe 4 kali, ujian kompre dan sebentar lagi, insha Allah Agustus awal akan diadakan ujian HIMPSI. Berdoa tiada henti, semoga Allah memudahkan kami sekelas untuk menghadapi ujian dan semua bisa lulus dengan predikat laporan layak atau layak dengan sedikit revisi.

Sejak juni lalu, full kita udah selesai PKPP tapi dalam sebulan, setiap minggu harus ujian bolak-balik. Ngeprint bolak-balik dan hasil print-print-an nih pun udah seperti bantal susun tiga. Buanyak banget, udah ngeluarin banyak biaya sampe Mama ngomel-ngomel (maapkeun ya Mak, anakmu nih lagi gak ada tabungan sama sekali, suerr. Nanti kalo udah kerja, insha Allah gak minta lagi kok *wish and must).

Perjuangannya tuuh bener-bener kerasa di semester 4 ini. Abaikan dulu masalah-masalah lainnya karena fokus paling penting memang kuliah. Di semester 4 ini, berat badan berhasil makin turun. Sempet naik cuman 2 Kg, heiiss kagak keliatan mah. Parah banget. Saya aja sampe gak habis pikir. Sebelum masuk S2, BB saya masih ideal, kisaran antara 58 sampai 60. Baju kaos rumahan pada ngepress semua, hahah, kadang pun kalo pake celana rumah rada pengap. Tapi sejak masuk S2, BB turun 8 sampai 10 Kg. Bayangin tuh kaos zaman saya SMP, SMA aja bahkan muat di badan saya, semua celana pada longgar. Untunglah keluar rumah pakenya gamis terus atau rok, jadi gak keliatan banget lah bagian kakinya.

Saya gak melebay-lebaykan kok, tapi kuliah profesi itu memang seperti ini. Berat banget. Gak tau sih di magister profesi kampus lain apakah seperti kami atau lebih ringan. Ada satu adek tingkat yang sering curhat ke saya dan baru melek kalo ternyata profesi emang berat dan... jarang ada libur. Yang laen, maksud saya prodi Sains atau S1 pada libur, kami justru sibuk mendekam ngerjain tugas, ngerjain dan revisi laporan, masih praktek, ujian ini itu, dan embel-embel lainnya.

Ini bukan keluhan sih, karena dari awal saya emang udah memprediksi pasti akan seperti ini ditambah mengetahuinya dari teman-teman baik masa S1 yang udah lebih dulu di mapro alias jadi kakak tingkat saya, yaa... saya pun udah membayangkan bakalan seperti ini.

Saya juga gak menyesal ngambil mapro walau BB turun drastis, bolak-balik sakit, tapi banyak pengalaman yang saya peroleh selama menjadi mahasiswi mapro, khususnya selama masa PKPP. Bertemu dengan banyak orang, banyak kalangan dan banyak masalah. Jadi semakin bersyukur sebab ternyata masih banyak loh ya yang lebih rumit masalahnya dibandingkan saya. Saya mikir masalah pribadi aja udah ngabisin lemak di tubuh sampe kurus, orang lain yang punya masalah lebih dari itu, apa kabarnya?

Alhamdulillah, setidaknya, saya udah bisa sampe pada jenjang magister. Dari silsilah keluarga inti, emang belum ada yang magister. Rata-rata sepupu paling banter S1. Dengan gelar yang lebih tinggi ini setidaknya juga disyukuri bahwa ternyata keluarga kami walaupun bukan orang yang berada, tapi alhamdulillah bisa sekolah tinggi. Walau rata-rata sepupu lulusan SMA dan S1 tapi saya juga bangga dengan mereka. Mereka udah mandiri lebih dulu daripada saya. Saya yang cuman pernah nyicipin dunia kerja 2 tahun rasanya emang cuman bentar banget. Mereka udah lebih mahir daripada saya. Saya salut sama kegigihan mereka dalam bekerja. Mudahan saya nanti juga akan segigih mereka, bisa dapat kerja yang baik, penghasilan yang baik dan banyak biar bisa nabung... Heheh.. jangan lupa nabung buat ke Austria.

Nah, setelah ujian HIMPSI, kami masih punya satu tanggungan yaitu tesis. Huooowww... Untung nyebut tesis gak bikin jantung berdebar-debar dan tremor ya. Tapi memang nanti bakalan menghadapi masa tenggang. Setelah ujian, bingung juga mau ngapain. Mau langsung bimbingan tesis, otak takut diforsir jadi istirahat dulu karena dua bulan ini udah full mikir gak berhenti.

Mudahan November ini kami bisa lulus, aamiin.. Habis wisuda, insha Allah nyari kerja. Kalo bisa dapat job di rumah sakit, alhamdulillah, pas dah tuh sama profesi karena ngambil klinis juga. Kalo mbak dari keluarga adiknya mbah kung yang emang beliau seorang dokter sempet nyaranin, kalo bisa coba aja cari lowongan di RS, harusnya sih emang diperlukan para psikolog atau coba juga di perusahaan karena biasanya juga membutuhkan.

Yap, semoga semua dimudahkan ya. Jangan lupa minta doa Mamak juga.
Aamiin.. 

JANGAN TANYA AKU. TANYALAH DIRIMU

Ketika semua tampak berubah dan berbeda dari biasanya, jangan tanyakan "mengapa" padaku. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, apa yang telah kamu lakukan/ucapkan sehingga membuat semuanya berubah.

Pergi tanpa menjelaskan sebenarnya adalah cara yang hanya akan semakin membuat orang tersakiti. Jadi, jelaskanlah karena pendengaranku sudah cukup ditempa dengan sabar untuk menjadi pendengar yang baik.

Walau kecewa, selalu ada sisa ruang di hati untuk memaafkan dan ridha. Sebab, mungkin akan ada rencana lain yang lebih indah daripada semua ini.


#QuotesOfTheDay
#inspirasisiang
#inspirasiLamaDariSahabat


QUOTES: KECEWA

Hati yang dikecewakan tak akan pernah kembali sama lagi "detaknya" seperti semula



#cumaQuotes
#Inspirasidarioranglain

TEMAN ITU SEPERTI INIKAH?

Nggak tahu juga kenapa
Teman... Apa sih definisi teman?
Apa teman itu ada hanya di saat butuh aja atau di saat susah juga?
Di saat susah? Yakin?

Entah aku yang salah memahami atau bagaimana...
Mereka yang kusangka lebih individualis terhadap teman-temannya sendiri, rupanya masih bisa "ada" ketika teman lain dari mereka yang membutuhkan support atau bantuan.



Bersaing dan berjuang. Dua hal yang membutuhkan partner. Bersaing sendiri, mana bisa? Begitu juga dengan berjuang, seindividualismenya seseorang, ketika berjuang ia tetap membutuhkan support dari lingkungan. Minimal ada yang bisa ngasih evaluasi, saran ataupun kritik padanya.

Ketika yang lain bisa saling sharing kasus atau tugas dengan teman-teman mereka, betapa itu adalah hal langka bagi saya dan itu dimulai dari sekarang.

Saya pikir, sesibuk apapun kita, kalau teman membutuhkan bantuan, dia sebisa mungkin akan ada di samping kita.
Saya pikir, sekalipun teman punya gebetan baru, kalau temannya lagi butuh dia walau hanya sekadar nongkrong bersama dalam friend time, dia pasti lebih memilih teman yang udah lama bersamanya daripada gebetannya.
Kira-kira mana sih yang lebih mudah dicari, teman atau gebetan?
Kira-kira mana sih yang lebih mudah untuk tidak dipedulikan, teman atau gebetan?

Selama ini, sejak dulu, seindividualisnya diri ini, saya tetap akan mencari seseorang yang bisa menemani saya "ke mana-mana". Minimal, ada yang bisa diajak ngobrol, sharing, ada yang bisa ngasih saran atau kritik.
Tapi sekarang, kenapa tampaknya sangat sulit mencari seorang teman dari lingkungan terdekat. Justru teman lama atau baru yang jauh, yang hanya bisa disapa lewat gadget justru lebih peduli daripada teman yang ada di depan mata.
Sesibuk apapun, kalau teman butuh bantuan, saya selalu berusaha ada untuk mereka.
Ya, saya baru sadar sih. Mungkin saya yang pamrih atau terlalu berharap bahwa mereka juga akan ada saat saya mengalami kesulitan.

Tapi, bener juga sih. Berharap pada manusia itu kadang membuat kita kecewa.

Yaaa dan kenapa diam dan terkadang walau hanya mengadu pada Allah itu lebih nikmat daripada ke orang lain, karena Allah nggak pernah tidur, nggak pernah ninggalin sesibuk apapun Dia mengurus seluruh ciptaan-Nya :)


TIGA MINGGU PKPP DI SLB LAWANG

Alhamdulillah udah genap tiga minggu dan nyaris sebulan kami bertiga PKPP di Lawang. Pengalaman mulai dari yang nggak enak sampai yang uenaak adaa semua di dalam perjalanan praktek kami.

Nggak enaknya, harus berpanas-panasan tiap hari. Ngendarai motor di bawah terik panas matahari ditambah kondisi jalan di daerah Lawang tuh gersang, pohonnya nggak banyak jadi bisa dipastikan tangan saya gosong. Berasa nggak mempan gitu udah pakai sarung tangan, maskeran sama pakai lotion. Sebagai cewek wajarlah ya menggerutu. Nggak enak banget dilihatnya kalau warna kulit belang gini. Apalagi tangan saya. Duuuh...ampun.



Enak dan serunya, di sana banyak kejadian lucu hingga mengharukan yang kami alami maupun amati. Di sekolah itu ada bapak guru muda berkacamata. Jadi, kami bertiga memanggilnya Bapak 'Dikta'. Alasannya karena saya ngefans banget sama si Dikta personil Yovie&Nuno, jadi kalau ada cowok cakep plus berkacamata, saya panggil Dikta. Eh setelah saya selidiki, ternyata Bapak Dikta yang saya ketahui kemudian namanya Andhika, dia itu seumuran dengan saya. Malah lebih muda tiga bulan dari saya. Saya Januari, dia Maret. Sayangnya, dia tunawicara. Entah tunarungu juga apa nggak, yang jelas kekurangannya itu. Saya juga udah selidiki, eeh.. dia udah punya pacar. Baiklaaaah. Hanya untuk dikagumi, bukan untuk dimiliki.

Jumat kemarin, kami bertiga sehabis senam, ke ruang aula. Di situ, ada yang lagi main badminton. Saya waktu itu masih duduk di depan aula, duduk berbaur sama adek-adek yang lagi nonton pramuka-an anak SD. Nggak lama, saya lihat si Bapak Dikta masuk aula. Kedua teman saya udah duluan masuk ke situ. Jadi, saya nunggu waktu yang tepat untuk ikut masuk. Pas masuk, kedua teman saya pun main badminton. Bapak Dikta duduk di sebelah saya. Sempat berdiri dia sebentar terus duduk lagi. Eh, duduknya bergeser haha.. yang tadinya kita dipisahkan oleh dua kursi, itu cuman dipisahin satu kursi. Di kursi kosong itu ada hape teman saya, jadi dia sungkan mau duduk di situ. Haha.. so sweet gitu yaa, makin dekat aja. Dan sempat juga saya ngobrol sedikit dengan dia walau saya nggak paham dia ngomong apa tapi saya cuman bisa senyumin dan bilang, "Iya." Lalu, saya nanya ke dia, "Bapak nggak mau main badminton?" Dia jawab sambil angguk-angguk lalu dia maju deh main sama kedua teman saya. Saya sempat ditawarin sama bapak guru lain yang udah capek main, tapi saya menolak karena malu. Hahaha nanti salting ai di depan si Bapak Dikta.

Oiya, soal klien-klien kami juga lucu-lucu. Jadi, di sana itu kami sangat terhibur. Bukan ngetawain mereka yang tiap jawab pertanyaan tuh nggak bisa. Tapi, ada aja tingkah dan respon verbal mereka yang bikin kita tuh ngakak. Saya sendiri menangani klien anak SMPLB. Satu kelas itu ada tiga orang. Ketiga-tiganya adalah klien saya. Yaa walaupun cuman dua aja nanti yang kasus dilaporkan sebagai laporan PKPP putaran pertama ini. Mereka semua laki-laki. Dua orang usianya 18 tahun dan satunya 17 tahun. Tapi, yang lebih dominan dan agak dewasa dikiiit itu malah yang usia 17 tahun dan emang postur tubuhnya juga lebih tinggi.

Yang usia 17 tahun ini itulah anak yang pertama kali saya datang ke SLB, langsung jabat tangan saya dan minta pin BBM saya. Ceritanya udah pernah saya sharing di postingan sebelumnya. Hahaha... Dia ternyata punya jiwa sosial yang tinggi, peduli banget sama orang lain, sama kondisi di sekitarnya. Tapi, sekali ngomong beuuuh... nggak bisa berhenti udah kayak kereta api dan anaknya gampang terpengaruh dengan hal-hal kasar. Satunya lagi adalah kasus CP yang RM. Ini klien utama saya. Karena CP jadi ada hambatan di komunikasinya. Saya kaget waktu tadi pagi dia cerita kalau kemarin malam tuh dia nongkrong sampai jam dua pagi baru pulang. Herannya, nggak dicariin sama ortunya. Ortunya malah ngebiarin. Satunya lagi itu klien saya. Dia ini seriiiiing banget berkata kasar dan kurang sopan. Sekalinya ngomong kasar atau nggak sopan gitu, dia langsung nutup mulut sambil bangkit dari bangkunya lalu senyam-senyum sendiri. Yang lucunya pas pelajaran tadi, guru nanya, "Sudut itu apa?" Trus dia malah meragakan orang shalat sambil sujud. Haha spontan laah saya dan guru tertawa terus ngingetin, "Sudut dan sujud itu beda." Dia tahunya bahasa Jawa, sudut itu pojok. Lucu..lucu... Kedua anak yang usianya 18 tahun ini mereka dimanjain sama ortunya. Beda yang 17 tahun ini malah mandiri. Udah bisa mikir menabung buat beli handphone katanya. Terus kadang dia juga yang negur kalo dua anak 18 tahun ini berantem atau yang suka berkata kasar ini ngejekin si temannya yang CP (Cerebral Palsy). Kadang juga malah ikut-ikutan mojokin temannya yang CP ini. Kasihan juga.

Eh oh ya, anyway, di SLB kan banyak pohon mangga tuh. Kita aja sampai manjatin pohon mangga dan rujak party sama guru-guru. Hehe seru deh selama kita di sana. Alhamdulillah diterima dengan baik dan semoga ke depannya lancar sampai kita bisa intervensi anak-anak di sana hingga kasus selesai. Aamiin

SECOND DAY PKPP (PRAKTEK KERJA PROFESI PSIKOLOGI)

Foto di ruang asesmen a.k.a ruang yang dipinjamkan untuk kita tempati bila ada keperluan konseling
Bila ada yang protes dengan warna jasnya, loh kok putih? Kok kayak kedokteran? Nah ini kami hanya menjalankan perintah dari kampus yang turun-temurun memang warna putih jasnya. Di SLB pun kami sempat ditanyain baik oleh murid maupun guru, "Ini kedokteran atau psikologi?"
Hiaaaa
Yaah, apa boleh buat. Kami hanya menjalankan tugas dan yang pentingnya niatnya untuk membantu orang aja sudah. Perkara warna jas, itu mah urusan akhir, kagak usah dipusingin yak.

Sedih sih, psikologi belum mendapat tempat penuh di kalangan masyarakat dan belum ada UU resminya. Tapi, saya pribadi bangga menjadi bagian dari perkembangan psikologi sekaligus sebagai calon psikolog.
Doakan kami yaa... semoga lancar masa PKPP-nya di tiga tempat selama satu semester ini. Doakan juga kami yang sembari ngejar tesis. Semoga kami bisa lulus bareng-bareng dan sukses bareng-bareng. Aaamiiin....

FIRST DAY PKPP

Terhitung 21 September 2015, kami udah mulai terjun ke lapangan a.k.a internship alias Praktek Kerja Profesi Psikologi. Putaran pertama ini saya prakteknya di Malang dulu, tepatnya di SLB Lawang. Dulu zaman S1 Saya udah pernah magang di SLB ini. Nah, sekarang praktek di sini lagi. Enjoy aja sih soalnya lokasinya juga nyaman banget dan pihak SLB pun welcome.

Saya magang di SLB ini bersama dengan dua orang teman. Sebelumnya saya jelasin dulu. Kami itu dipecah menjadi dua kelompok besar. Dua belas orang praktek di RSJ Menur dan tujuh orang di Malang. Ketujuh orang termasuk saya ini dipecah lagi menjadi tiga kelompok dan ditempatkan di tiga tempat berbeda. Saya dan dua teman saya ditempatkan di SLB Lawang. Dua teman selanjutnya di YPAC dan dua lainnya lagi di SLB Dr. Idayu Pakis.



Hari pertama ini, kami janjian sama Supervisor lapangan dari kampus yaitu Bu Ani (btw, ibunya sosialita binggooo dan cuanteeek lagi) serta Bu Nur. Janjiannya sih jam 8.

Saya berangkat dari rumah. Kalo masalah jarak dan waktu sama aja kayak saya berangkat kuliah dari rumah ke kampus, memakan waktu sekitar 30-40 menitan. Jadi, satu jam lebih maju saya udah berangkat dari rumah. Untungnya dari rumah bisa potong kompas lewat Sulfat menuju arah Arjosari untuk nembus ke Lawang. Pagi tadi berangkat jam tujuh. Nyampe pertigaan Arojsari-Lawang maceeeet pemirsaaaah. Jalan udah kayak kura-kura. Ternyata kemacetan disebabkan ada satu tronton mogok di tengah jalan beberapa meter dari Fly Over.

Waaah... rasanya kayak nano-nano. Saya dulu sih udah pernah bolak-balik Lawang juga karena subjek skripsi dulu banyak tinggal di Lawang sama Singosari. Tapi itu masih takut bawa motor. Sekarang mau nggak mau harus PP rumah-Lawang, beradu dengan debu, asap knalpot, terik mentari, bus, truk gandeng, mobil, motor, becak dan segala jenis kendaraan. Syukurnya lokasi SLB berada di kiri jalan jadi nggak perlu nyetir ambil lajur kanan yang notabene harus dengan kecepatan tinggi. Saya akui emang rada cemas kalo udah berhadapan sama jalan besar apalagi yang menuntut kecepatan tinggi ditambah ketemu sama bus dan truk. Kenapa? Dulu pernah kecelakaan, terseret jauh dan nyaris ketabrak truk dari belakang. Itulah masa-masa trauma S1 saya.

Well, lanjut... nyampe sekolah, Ry dan Mba Yu udah nyampe duluan. Beberapa menit kemudian kita nungguin para supervisor baru kemudian masuk ke lobby bertemu sama Bu Sofi (Supervisor di SLB) dan Kepsek. Ternyata Kepseknya udah ganti. Kalo dulu seringnya laki-laki, sekarang ini dapat perempuan. Jadi, masuk ruangan beliau tuh wangiii, ada anggrek macan ungunya pula di atas meja. Kalo zaman saya magang S1, Kepseknya laki-laki dan masuk ruangan tuh berasa bau asap rokok.

Setelah ngobrol bareng Kepsek, Bu Sofi dan para supervisor, kami pun keluar dari ruangan Kepsek. Setelah itu, lanjut keliling ke kelas-kelas sekaligus berkenalan dengan para guru.

Next, kami kumpul lagi di lobby depan bersama dua supervisor. Di situ kami ngobrol-ngobrol mengenai strategi dan apa aja yang perlu kami lakukan selama masa pkpp ini. Kami juga dikasih arahan serta nasehat oleh para supervisor. Tidak berapa lama kemudian, di sela-sela perbincangan muncul salah seorang murid SMPLB. Postur tubuhnya tingi, kulitnya sawo matang dan berjerawat. Dia nyamperin saya sambil menjabat tangan saya dan berkata, "Mbak..."

Saya awalnya canggung sekaligus shock. Kok cuman saya aja yang disamperin. Sampai Bu Ani, salah satu supervisor kami yang sosialita tuh nyeletuk, "Loh, kok cuman satu yang disamperin?" Bu Ani nyeletuk gitu berharap anak tadi tuh denger. Nggak denger ternyata anaknya dan langsung nyelonong pergi.

Murid itu pergi, kami pun lanjut berbincang lagi. Belum ada lima menit kemudian, murid tadi datang lagi. Kok saya lagi yang disamperin. Dia nanya, "Mbak dari mana?" Saya spontan jawab aja, "Saya dari UMM." Anak itu pun pergi lagi keluar dari lobby.

Selang beberapa menit kemudian, datang lagi untuk ketiga kalinya. Lucunya murid tadi menyodorkan kepada saya selembar kertas buram warna putih yang dilipat dua namun dengan satu sisi terlihat sudah robek. Dia bilang, "Minta pin bbm. Nanti tak bbm."

Mendengar murid tadi minta pin, saya sempat linglung kagak tahu mau ngomong apa. Saya pikir minta saya untuk menuliskan nama. Eh nggak tahunya minta pin bbm. Si Ry nyeletuk bantuin jawab, "Bilang aja paketan data lagi nggak ada, Mbak Em." Akhirnya, saya jawab, "Nanti aja ya, Dek." Dia pun pergi dengan tangan kosong dan mungkin sedikit kecewa.

Haha.. pengalaman pertama, belum apa-apa udah ada yang naksir. Astaga. Tapi, kami bertiga senang sih bisa dapat tempat di SLB. Kami pun diberi satu ruang khusus yang bisa kami gunakan untuk keperluan konseling. Ruang kesiswaan di pojok kanan seberang sekolah itu kosong dan biasanya cuma dipakai untuk kebutuhan asesmen aja. Jadilah kami kalo capek bisa istirahat di situ. Ada AC-nya pula.

Kami juga sudah berkenalan dengan psikolog yang ada di SLB tersebut. Namanya Bu Lely. Ibunya ramah dan bisa lah jadi informan kami selama praktek ini.

WANNA GO TO AUSTRIA

Jangan salah terka dulu. Impian ke Austria ini sudah lama terbendung dalam hati. 2013 lalu saat browsing di internet, saya sedang mencari setting untuk novel baru. Bingung, mau milih Prancis, sudah banyak. Apalagi Korea. Lalu, tergiringlah saya ke sebuah situs all about Austria. Menurut sejarah, Austria itu adalah tempatnya musik klasik. Banyak bangunan tua bersejarah di sana. Kotanya adem, nyaman dan di sana ada universitas yang cukup populer yaitu Sigmund Freud Universitat. 


Saya memang masih tetap ingin fokus menulis dengan bumbu psikologi meski dalam bentuk novel. Jadi, kota Ausria sangat pas untuk saya jadikan latar dalam novel baru nanti. Di sana pun ada universitas Bapak Psikologi, Freud (Ya walaupun saya tidak berkiblat padanya sih).

Dari situlah saya mulai menulis beberapa hal mengenai Austria. Sekarang, impian itu menyala lagi. Sedikit-sedikit, saya coba untuk belajar bahasa Jerman. Bersyukur bisa menemukan workbook bahasa Jerman gratis. 

Yaah, entah ini akan terwujud atau tidak, saya akan tetap mencoba nulis novel berlatar Austria nantinya. Beberapa spot udah masuk ke list saya. Salah satunya kota Salzburg dan Vienna. Dua kota itu yang nantinya akan coba saya munculkan dalam novel, tapi tetap diawali dengan latar Indonesia sebagai pembukaan karena tokoh-tokohnya berasal dari Indonesia.

Barangkali ketika novel itu sudah selesai, akan ada PH yang melirik. Aamiin (yang kenceng). Sapa tahu aja ada produser yang berminat untuk mengangkatnya dalam film layar lebar. Sapa tahu juga saya bisa dapat sponsor jadi bisa gratis ke sananya.

Ya itulah impian saya. Selain pengen ke Mekkah, saya juga pengen ke Austria. Semoga terwujud, aamiin. Kun fayakun.

KE RSJ MENUR-NYA DITUNDA

Dua hari lalu, Pak Zai (salah satu dosen kami) memberikan kabar bahwa saat ini RSJ Menur Surabaya belum bisa menerima mahasiswa praktek sekaligus dalam jumlah banyak. Karena kami sekelas berjumlah 19 orang, maka dipecah menjadi dua kelompok. 

Senin lalu, kami survey kos ke Surabaya. Kami berpencar dalam dua mobil. Mobil pertama itu diisi oleh aku,  Mba Qi, Ry, Zu, Mba Ni dan Mameto. Kami awalnya susah mendapatkan kos-kosan. Untuk sementara kami tertarik dengan apartment Gunawangsa karena itu satu-satunya tempat yang nggak terlalu jauh dari Menur. Sementara itu, mobil kedua diisi oleh delapan teman kami lainnya. Mereka ternyata sudah memberikan DP kos-kosan di daerah Unair sekitar Gubeng. Sedikit jauh memang. Karena mereka sudah terlanjut DP, akhirnya yang ke RSJ Menur lebih dulu adalah mereka ditambah dengan tiga teman double degree. Sementara Mameto dan satu teman laki-laki lainnya mungkin akan tetap stay di Malang bersama dengan kami.


Pak Zai menginformasikan bahwa yang praktek di Malang akan dipencar ke beberapa SLB dan YPAC. Jadi, selesai di tempat itu, dua bulan kemudian gantian kami yang di RSJ. Alhamdulillah juga sih karena berhubung kami belum mendapatkan kos-kosan. Mungkin Allah mendengarkan doa-doa khusus kami bertujuh kemarin. Walaupun demikian, alhamdulillah saya pribadi udah dapat CP Pak Danang (Psikolog yang kerja di RSJ Menur). Pak Danang itu alumni UMM yang praktek di RSJ Menur. Saya mendapatkan nomornya dari Mbak Galuh (kakak tingkat saya sejak S1 sekaligus kakak tingkat di rohis). Mbak Galuh Andina ini adalah teman kelas Pak Danang. Saat saya pusing nanya-nanya kos, Mbak Galuh pun nanya juga ke Pak Danang. Syukurnya, saya dikasih CP yang punya kos-kosan dekat Menur. Selain itu, ada juga Mbak Lia yang bersuamikan dokter. Suaminya punya rekan dokter yang dulu berpraktek di Menur. Saya juga diberikan CP kos-kosan oleh Mbak Lia. Setidaknya, nanti pas kami praktek di Menur, kami udah punya banyak list pilihan mau kos di mana.

InsyaAllah mulai tanggal 21 September besok kami semua serentak PKPP. Sebagian di Malang dan sebagian lagi di Menur. Minggu ini kami sedang menunggu jadwal ujian proposal tesis. Semua serba cepat, entah maksimal apa nggaknya, sistem kampus mengharuskan seperti ini.

Mumpung masih di Malang, semoga saya bisa sekalian survey komunitas Karang Wredha untuk tempat saya mengerjakan tesis nanti. Sekalian revisi proposal jika memang ada yang perlu direvisi. Saya sih berharap, semoga pas ujian nanti, saya masih bisa mempertahankan variabel-variabel penelitian saya. Tema yang saya angkat memang masih terbilang jarang. Saya tertarik untuk meneliti lansia tapi melalui perspektif orientasi mereka terhadap kesehatan dan kebahagiaan. Di Indonesia, penelitian mengenai lansia itu kan nggak jauh dari loneliness, gangguan kognitif, religiusitas, kebermaknaan hidup dan sejenisnya. Nah, dalam tesis, saya mau meneliti dari perspektif yang agak berbeda, kebetulan juga di lapangan banyak lansia yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian saya.

Bismillah...
Mohon doanya ya, semoga semuanya lancar
Dalam waktu enam bulan atau lebih ini kami memang dalam masa internship. Semoga dalam waktu tersebut, kami bisa menyelesaikan laporan tujuh kasus dan bisa ikut ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sehingga kami nggak perlu ngeluarin uang untuk biaya ujian sendiri kalau telat.
Aamiin.