Pages

GADGET: MENDEKATKAN YANG JAUH, MEMBODOHI YANG DEKAT

Judul aslinya, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Tapi, biar lebih ekstrim jadi saya ganti menjadi membodohi yang dekat.

Coba deh nonton video ini....

Gimana perasaan kalian? Apa yang kalian pikir?

Yap, zaman semakin bergerak maju, semakin canggih alat-alat komunikasi dan teknologi. Tapi, justru manusia semakin terbelakang karena dikuasai oleh gadget. 


Pertama kali punya handphone dulu pas SMP. Itu juga beli dengan uang sendiri, sisa dari beasiswa. Tapi, nggak tiap menit pegangnya karena namanya juga hape jadul, masih monokrom, cuman bisa buat SMS, telepon pun nyaris nggak pernah kalau bukan sama keluarga. Main games ular-ularan sih iya, itu juga jarang banget. Bergeser pas kuliah S1, saya mulai mengenal Friendster. Kenalnya karena dikasih tau teman, akhirnya ikut-ikutan sign up. Merembet hingga masa-masa selanjutnya, punya hape yang makin canggih. Pernah dulu saya kecanduan chatting. Bisa dibilang parah banget. Bukan hampir lagi, tapi tiap hari pasti beli pulsa, minimal 10.000. Jadi, hitung aja tuh sebulan habis berapa pulsa? Pulsa itu cuman habis dipakai buat chatting, mulai dari pagi sampai pagi lagi, ON, meskipun dalam keadaan tidur. Melek-melek ngechat lagi. Pernah juga saking candunya, sampai-sampai saya membawa hape ke kamar mandi, cuman biar nggak telat balas chat dari teman.

Saat itu, menjelang 2010, saya terkena cacar air. Nggak kuliah selama beberapa pekan. Istirahat total. Itu juga karena ketularan adek sepupu yang kena cacar air duluan. Sejak itulah, saya akhirnya lepas dari candu chatting. Entah bagaimana caranya, tapi bersyukur karena berkat sakit itulah saya semacam reinkarnasi menjadi normal lagi, nggak kecanduan lagi.

Sedih memang ketika melihat video itu. Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, saya akui pernah menjadi orang ter-idiot yang pernah dibodohi oleh gadget. Demi apa coba? 

Saya memang punya banyak akun. Hampir semua beragam akun sosmed saya punya. Tapi, alhamdulillah tidak kecanduan seperti dulu. Beruntung kuliah S2 ini, saking padatnya, saya sampai sering diomeli, dikirimin PING! sama teman-teman cuman gegara saya nggak buka handphone kalau pas lagi ada di kampus mulai pagi sampai sore.

Punya banyak teman di dunia maya? Apakah itu patut dibanggakan? Menurut saya tidak. Justru saya berani menjudge bahwa orang yang paling banyak teman sosmednya ditambah penggila gadget adalah orang yang teramat kesepian dalam hidupnya. Mengenai ini, saya beberapa kali mendapat email atau komentar di blog tentang tulisan saya yang berjudul anti sosial atau apalah itu saya lupa. Semua yang curhat adalah penggila gadget. Parahnya, mereka sangat susah beranjak dari monitor cuman demi akrab-akraban dengan teman/kenalan mereka. Padahal di dunia nyata, mereka nggak pernah keluar rumah. Bahkan ada yang sampai takut keluar rumah dan bertemu orang banyak tapi punya banyak sekali teman sosmed. Mereka mengaku... kesepian. Sakit rasanya, ungkap mereka. Ada juga loh yang sampai depresi dan nyaris bunuh diri karena udah fobia sosial.

Okelah, kita punya banyak teman sosmed tapi masih mending kalau mereka memang orang-orang yang bisa kita jumpai setiap hari atau minimal sekali setahun lah. Tapi, bukankah miris jika berteman di sosmed tapi pada akhirnya misalnya nggak sengaja ketemu di dunia nyata, tahu-tahunya merasa nggak kenal karena mereka nggak pernah pasang foto asli atau lebih parahnya mereka hanyalah akun palsu.

Saya sendiri, memang anak rumahan. Saya memang jarang keluar rumah kalau nggak ada keperluan mendesak. Saya hanya keluar saat kuliah, diajak kumpul atau reuni dengan teman atau kerja kelompok dan diajak keluarga bepergian. Selebihnya, kalau keluar nongkrong duduk diem di pelataran, ngapain? Nggak penting. Meskipun demikian, saya pun akhirnya menyadari. Meskipun anak rumahan dan sudah difasilitasi oleh berbagai gadget canggih, saya tetap berusaha menyisihkan waktu untuk keluar dengan teman, sahabat dan keluarga. Memang, saya ini nggak betah berlama-lama di tempat yang sangat ramai dan sesak akan lalu-lalang orang. Tapi, kalau di tempat itu, saya sedang berjalan bersama teman-teman atau keluarga, setidaknya hati saya lebih tenteram daripada sendirian.

Tahu nggak sih? Jauh lebih indah jika kita mau menyempatkan diri mematikan seluruh gadget ketika orang-orang terdekat membutuhkan kita. Saya sendiri kalau pas lagi pergi liburan ke Madiun (kampung Mama) atau ke tempat mana gitu, dua hape memang saya bawa, kadang juga bawa laptop kalau pas mau sekalian ngerjain laporan. Tapi sesampai di sana, karena sinyalnya rada susah... alhasil saya memang sengaja menggeletakkan hape di rak atau di tas. Pagi hari bangun tidur, langsung cuap-cuap sama keluarga atau sepupu. Rasanya tenteram banget kalau pas lupa sama gadget gitu. Jadi, kalau liburan, saya memang akan sangat susah dihubungi. 

Dan, tahu nggak sih? Jauh lebih indah ketika kita berhasil ngobrol face to face, dapat kenalan baru di jalan/di mana saja daripada jatuh cinta pada seseorang di dunia maya, dipisahkan oleh ruang dan waktu. Itu lebih sakit dan rasanya flat... datar.... Iya, orang yang kita sukai/kagumi misalkan, cuman bisa dilihat lewat monitor meen... Belum tentu juga orang itu beneran asli ada. Kalau itu hanya akun ilusi, kita tertipu, benar-benar... jadi orang idiot dah. Coba aja kamu dilamar sama orang yang kamu sukai tapi lewat gadget, haduuuh... feel-nya mana? Nggak ada ekspresi nyata. Cuman emoticon, itupun kalau benar-benar tulus (nggak bohongan). 

Ah, coba deh sesekali, kita mematikan gadget. Kalaupun harus ON, semisal ngerjain tugas pakai laptop, baiknya jangan ngunci diri di kamar atau ruang tertutup. Kalau masih bisa konsentrasi, coba sesekali nyalakan laptop, ngerjain tugas di ruang keluarga/ruang makan. Jadi, kalau diajak ngobrol sama keluarga, bisa sesekali noleh, jawab pertanyaan mereka. Ya, kalau emang bisanya konsen di ruang tertutup dan damai tanpa bising, batasi aja jamnya. Jadi, jangan dari pagi sampai pagi lagi cuman natap monitor. Tiap beberapa jam gitu, keluar kamar dulu, nonton kek, ibadah kek atau makan di dining room sama keluarga.

Memang, gadget itu praktis, memudahkan kita, mendekatkan yang jauh. Tapi, kalau ada yang dekat, nggak usah ngobrol pake line, wa, path, IG, FB atau SMS segala kali padahal cuman dipisahin sekat ruang atau cuman dipisahin satu kursi kosong doang. Itu berlebihan banget namanya hahaha.

Heeumm, idealnya memang, kita yang harusnya pandai mengatur gadget, bukan sebaliknya kita yang diatur oleh gadget sendiri. Sebelum terlambat seperti kisah para pengirim email yang udah punya kecenderungan gangguan anti sosial, makanya coba deh dikurangi. Kalaupun memang karena tuntutan pekerjaan harus bawa gadget ke mana-mana, coba sesekali ketemu klien face to face.

Eh iya, ngomong soal klien yaa.... saya sering banget dapat klien via email. Rasanya itu.... hambar banget. Nggak banyak yang bisa saya amati dari klien. Mau berempati atau benar-benar memahami pribadi klien dan masalahnya juga harus kerja dua kali karena dibatasi jarak dan waktu. Jadi, kalau nanti saya udah resmi jadi psikolog dan berpraktek, saya maunya ketemu klien face to face. Kalau kliennya jauh, mungkin yaa gimana lagi cuman bisa via email. Tapi, kalau harus mengikuti terapi gitu yaa wajib ketemu langsung.

Coba kita flashback ke masa lalu
Saat masih kanak-kanak
Pada seneng-senengnya main petak umpet, lari-larian, manjat pohon, main ini itu sampai lutut lecet dan berdarah
Main perang-perangan pakai tembakan air, peluru plastik
Saat di belakang kita, ada teman yang bantu ngayunin ayunan yang kita naikin
Main jungkat-jungkit rame-rame sampai heboh terjadi perebutan daerah kekuasaan
Itu jauuuh lebih indah
Jauh lebih asyik
Daripada menjadi generasi milennium
yang jago maen DOTA
yang jago maen game Assasin
Cuman berhadapan sama user, sama komputer...

Semua tergantung kita
Mau pilih yang mana
Kalau saya pribadi sih, lebih happy ketika masa kanak-kanak dan sekolah
Belajar tetep jalan, tapi saat maen, ya maen sama anak-anak tetangga sampai lecet sampai diomelin sama ortu
Jadi cewek tomboy yang hobinya panjatin pohon, makan belimbing rame-rame sama temen-temen
Sekalipun akhirnya kena bully terus
Aaah, itu semua jadi terkesan manis dibanding pahitnya kalau ingat di masa kini
Lebih baik gitu
Daripada jadi generasi cyber, berteman banyak tapi sebenarnya temannya cuman satu
Kabel listrik
Pas kena cyber bully
Akhirannya milih mati bunuh diri
Karena nggak ada tempat berbagi
Sepi
Sendiri
Terisolasi oleh dunia fantasi
Asssh.... sungguh menyebalkan memang >,<

BAHAYA TIDAK DISIPLIN

Dictionary Definition of the Word Discipline Royalty Free Stock Photo
from IStockPhoto
Menjelang akhir Desember lalu, semakin lama, banyak mahasiswa datang terlambat. Setiap hari aktif kuliah, saya pikir justru sayalah yang akan datang terlambat sebab jarak rumah ke kampus cukup jauh. Butuh waktu 40 menit bagi saya untuk menempuhnya. Setiap hari, saya selalu mempersiapkan diri dan selalu berangkat satu jam sebelum jam kuliah. Itupun, saya selalu berjalan cepat ketika sudah sampai di parkiran karena jarak antara gedung pascasarjana dan parkiran cukup memakan waktu. 

Padahal, para mahasiswa tersebut mayoritas ngekos di depan kampus. Butuh waktu hanya 2 menit saja untuk menyeberang dan kira-kira 8-10 menit berjalan sampai ke gedung kuliah. Namun, ketika jadwal masuk kuliah jam 08.00, mereka selalu membiasakan diri persiapkan diri 5 menit sebelum jam tersebut kemudian berangkat. Tidak jarang, makin hari, makin banyak yang molor. Berangkat jam 8 dan tiba di kelas, dosen sudah mulai memberikan pengantar kuliah.

Lebih parah dari itu, pernah dosen mereka menegur secara halus. Dosen pertama bahkan memberikan petuah panjang lebar bagi yang datang telat. Lalu, dosen kedua malah menyinggung secara terang-terangan dengan berkata, "Kok makin hari, makin tidak disiplin ya?" Ekspresi beliau memang tersenyum (karena beliau murah senyum) tapi saya paham bahwa sebenarnya beliau sangat kecewa terhadap segelintir mahasiswanya.

Saya berkaca pada diri sendiri. Malu rasanya seandainya saya terlambat masuk. Lebih-lebih kalau saya ada di posisi mahasiswa tersebut yang suka datang telat itu, mau jadi apa saya? Saya berpikir, mengapa jarak yang begitu dekat dengan kampus justru membuat orang semakin menunda keberangkatannya? Hanya karena dekat, aturan lain pun disepelekan.

Saya juga pernah mengalami masa-masa ketidakdisiplinan yaitu ketika SMP dan SMA. Khususnya tidak disiplin pada jadwal shalat alias tidak shalat tepat waktu (suka nunda-nunda). Sampai suatu ketika, saya terlambat bangun dan melaksanakan shalat subuh kesiangan. Selepas itu, saya menangis. Menangisi diri saya yang begitu bodoh karena sudah menyia-nyiakan waktu. Menangisi satu pahala yang gagal saya dapat dari-Nya. Menangis karena mungkin keterlambatan tersebut disebabkan banyaknya dosa-dosa saya di hari sebelumnya. Saya menyesal dan sejak saat itulah, saya bertekad kuat untuk berubah.

Mengapa disiplin begitu penting?
Mengapa ketidaksiplinan itu sangat berbahaya?
Karena sekali kita menerapkan hal kurang baik, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan untuk tidak disiplin, akan menimbulkan bencana berupa perilaku suka menunda.
Kebiasaan menunda, akan menyebabkan kemalasan.
Sikap malas yang dibiasakan, akan membuat kita semakin melonggarkan aturan yang berlaku.
Lebih dari itu, kita akan gagal mencapai impian/cita-cita yang seharusnya bisa lebih cepat diraih.

Dalam Islam sendiri, disiplin itu sangat penting. Disiplin dalam Islam dapat diartikan sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan. Salah satu pelajaran disiplin ini dapat kita lihat dalam firman Allah yang berbunyi, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. an-Nisâ`: 59).

Selain patuh dan taat, disiplin juga dapat diartikan secara luas yaitu sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diamanahkan pada kita, kontrol diri kita terhadap penggunaan waktu, kesungguhan kita untuk menjalankan bidang yang ditekuni dan lainnya. Disiplin juga berarti komitmen untuk senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan Allah swt, baik pada saat sedang sendirian maupun saat ada orang lain yang mengawasi.

Dalam surat Al-Ashr pun Allah sampai berjanji, "Demi masa! Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran."

Satu detik dalam putaran waktu sering kita sepelekan. Akhirnya, saat ingin menargetkan sesuatu, kita lupa bahwa satu detik yang lalu tidak kita gunakan semaksimal mungkin. Kita lupa bahwa satu detik yang lalu, kita tidak melakukan apapun untuk merealisasikan target tersebut. Dan.... akhirnya, penyesalan datang... selalu di belakang.

Jika kita mampu menyadari kesalahan itu, segeralah memperbaikinya. Sesungguhnya mengoreksi diri itu lebih baik.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh ALLAH Swt kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.” [Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi].

Ketika kita tidak disiplin, semua pintu rezeki akan menjauh dari kita
Ketika tidak disiplin, secara tidak langsung kita menunda menaiki tangga untuk mencapai impian/cita-cita
Ketika tidak disiplin, setan akan semakin senang membuntuti kita dengan kata "tapi dan tapi".

Mulai sekarang, yuk kita belajar mendisiplinkan diri

Mulai dari yang ringan-ringan dan mudah dulu sebagaimana yang tertulis dalam QS Al-Baqarah: 286, 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya."

Mulai dari sekarang
Jangan ditunda lagi
Ketika ditunda, pasti kita akan menyesali

Semoga kita semua senantiasa di bawah perlindungan Allah azza wa jalla aamiin...

SUDAH WAKTUNYA BELAJAR INVESTASI

Gold Bars on the floor of a vault
by getty images

Setelah dipikir-pikir, memang sudah seharusnya mikirin masalah keuangan.

Jujur aja saya lemah dalam persoalan hitung-menghitung. Tapi, suatu saat saya akan menjadi seorang istri dan ibu. Nggak lucu kalau saya nggak pandai mengatur keuangan dan nafkah dari suami.

Menengok tahun lalu, ketika memperoleh royalti pertama yang lumayan besar. Saya sampai lupa menyisihkannya untuk check-up kesehatan dan juga...untuk disimpan. Di tahun tersebut, saya masuk kuliah. Jadi, beberapa bagian saya pakai untuk biaya kuliah termasuk biaya sehari-hari di kampus.

Menyesal? Sudah nggak ada gunanya menyesal.

Sekarang, saya harus pandai menyimpan uang.

Ini sebagai wujud usaha perbaikan diri lanjutan sebelum saya menikah.

Mumpung royalti berikutnya masih deposit (belum diambil), jadi mulai sekarang, saya berniat untuk belajar investasi. Ah, kata-kata saya mungkin terlalu tinggi kali ya kalau pakai kata investasi itu. Oke, saya rendahkan sedikit. Saya berniat untuk menyimpan sebagian hasil dari penjualan buku-buku saya nanti.

Seorang teman kelas saya masa S1 ada yang bekerja di ANTAM. Beberapa minggu lalu di Path, saya melihat statusnya. Di mejanya berserakan beribu-ribu koin emas para investor. Saya pun juga sudah tanya-tanya sana-sini. Ya, saya ingin investasi emas. Alasannya kenapa? Euum, saya kurang pandai menjelaskan soal investasi tapi setelah baca-baca, investasi emas itu cukup menguntungkan karena harga emas setiap tahunnya meningkat.

Hal minus saya saat ini memang belum punya simpanan pasti. Semua masih dipergunakan untuk kuliah. Pemasukan pun minus.

Tapi, hal plus-nya adalah, dengan keadaan minus tersebut, saya mampu bertahan untuk menekan biaya konsumtif lainnya. Apa aja itu? Setidaknya, saya super hemat dalam konsumsi kebutuhan pribadi seperti perawatan wajah (bedak, facial dll). Alhamdulillah, saya membeli produk perawatan wajah tiap setahun sekali. Kayak bedak dan pembersih gitu bahkan bisa bertahan sampai satu setengah hingga dua tahun. Selain itu, sekarang, saya juga sudah mulai ngirit beli pulsa. Jadi, bila nggak ada perlu apa-apa, nggak akan SMS sana-sini. Kalau untuk telepon pun, bisa dibilang saya adalah orang yang sangat jarang menelepon. Jadi, untuk biaya BBM dan pulsa internet yaa manfaatkan fasilitas wifi di rumah dan kampus.

Ah, walaupun demikian, saya harus tetap menyisihkan uang untuk simpanan hari tua.

Saya nggak tahu apa yang akan terjadi.

Kalau nanti saya berumah tangga dan semisal...suami saya punya harta pribadi lalu ada kemungkinan untuk pisah harta (memisahkan harta pribadi masing-masing), sementara saya nggak punya apa-apa, lalu terjadi seseuatu yang di luar kuasa, saya bisa apa? Nah, makanya mencegah itu selalu lebih baik daripada mengobati. Belum tentu, semua harta suami akan dihibahkan seluruhnya kepada istri karena suami juga punya tanggungan lain. Sedangkan nafkah suami pada istri, tentu lain persoalan. 

Bismillah...
Semoga tahun ini atau tahun depan bisa terwujud
Semoga bisa membeli emas Antam sebagai simpanan
Dan semoga bisa tetap konsisten menabung untuk akhirat juga
Mudah-mudahan, kelak bisa menjadi istri yang bijak dalam mengatur keuangan keluarga 
aamiin... ^_^


GURU BAGI BUAH HATI

Hari ini karena lagi halangan, udah beberes-beres trus bosan mau ngapain. Akhirnya baca-baca aja. Meskipun dalam bentuk ebook, tapi saya udah baca berkali-kali. Niatnya sih bisa memetik ilmu sekaligus mudah-mudahan ada yang nancep gitu di hati dan pikiran biar kelak bisa mengamalkan.

Buku yang saya baca adalah Parenting Nabawiyah karya Ust. Budi Ashari, Lc (Host Khilafah Trans7). Salah satu bagian penting yang membuat saya tertarik untuk menulisnya adalah poin mengenai anak. Ini bagian yang udah pernah saya baca tapi saya lupa, jadi saya baca lagi dan baru saya ngeh. Saya baru menyadari apa yang saya baca ini secara kebetulan sama dengan salah satu misi rahasia yang pernah saya tulis.

Apakah misi saya itu? Salah satu misi saya ketika berkeluarga nanti adalah ingin menciptakan generasi cinta Al-Qur'an. Ini pas banget sama kisah Umar bin Abdul Aziz yang saya baca itu. Gini ceritanya....

Pada Jumat dini hari, sebelum masyarakat datang berkunjung, seperti biasa Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan semua anaknya. Sekadar informasi, beliau itu punya empat istri dan anaknya berjumlah 17 orang. Duuh masyaallah sweet seventeen gitu ya jumlahnya hehe. Ketujuh belas anaknya itu pun berkumpul bersama Umar. Ada Ishaq, Ya'qub, Musa, Abdullah, Bakar, Ummu Amar, Ibrahim, Abdul Malik, Walid, Ashim, Abdullah, Abdul Aziz, Yazid, Zayyan, Aminah dan Ummu Abdullah. 

Setelah semuanya berkumpul, Umar pun memulai tadarrus Al-Qur'an. Dimulai dari anak tertua kemudian dilanjutkan oleh adik-adiknya. Jadi, semuanya membaca Al-Qur'an secara bergantian. Sementara itu, Umar menyimak bacaan Al-Qur'an dari anak-anaknya dengan khidmat, ta'dhim dan sungguh-sungguh.

Subhanallah ya punya ayah sekaligus suami seperti Umar bin Abdul Aziz. Udah tahu beliau kerjaannya banyak, agenda reformasinya dan kiprahnya dalam pemerintahan juga sangat banyak. Walaupun demikian, Umar selalu nyempatin waktu bagi anak-anaknya. Selain itu, walaupun Umar juga sudah memilihkan guru-guru terhebat untuk mengajarkan keilmuan atau apapun, beliau justru tetap merasa sangat perlu terjun langsung, menciptakan waktu berkualitas untuk mendidik serta melihat perkembangan keilmuan sang anak.

Kenapa saya mengelu-elukan sosok Umar dalam cerita ini? Saya pikir, sudah jelas jawabannya dari uraian di atas. Anak menuntut ilmu itu penting untuk kelangsungan hidupnya, agar anak bisa mandiri. Memasukkan anak ke lembaga pendidikan, baik itu sekolah negeri, swasta, homeschooling, pesantren atau lainnya itu juga penting. Tapi, peran orangtua juga nggak kalah penting. Orangtua kudu memantau apa saja yang dipelajari anak. Kalau perlu, contohilah Umar. Beliau bukan hanya sekadar mengajari tapi juga mendidik dengan tetap tidak melepaskan unsur-unsur ruhaniyah di dalamnya. Salah satunya dengan mengajarkan anak untuk membiasakan diri mengkaji Al-Qur'an, memberikan pemahaman atas apa yang dipelajari dan mengajak anak untuk mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Alangkah indah bukan bila anak-anak kita nggak cuma cerdas soal ilmu pengetahuan umum, melainkan juga dalam ilmu ruhaniyah. Biar gimanapun, Al-Qur'an itu adalah pedoman hidup yang seharusnya kita pelajari dan tanamkan sejak dini pada anak-anak.

Hebat nggak tuh kalau kita punya anak yang hafidz dan hafidzah. Walaupun misal orangtuanya cuman bisa hapal 1 Juz, anak-anaknya harus bisa lebih dari itu. Bukan cuman itu. Efek jangka panjang dari penanaman cinta Al-Qur'an pada anak ini masih banyak, terutama dari segi akhlak. Pasti pada ngiri kan pengen punya anak yang udah pandai ngaji, pelajari Al-Qur'an lebih mendalam trus mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari,. Betapa indahnya melihat akhlak-akhlak shalih/shalihah anak-anak kita yang konsisten mempelajari Al-Qur'an. Minimal anak bisa belajar doa untuk ibu bapaknya aja, maka itu bisa jadi modal tertolongnya orangtua dari azab api neraka berkat doa dari anak-anaknya yang shalih/shalihah.

Agar bisa mewujudkan generasi Qur'ani, sejatinya emang harus menciptakan nuansa Al-Qur'an dari lingkungan keluarga itu sendiri. Kalau mau punya anak cinta Al-Qur'an, baiknya ibu bapaknya harus demikian lebih dulu. Kalau ibu bapaknya nggak bisa baca Qur'an, gimana bisa ngajarin anaknya mengaji, gimana bisa maksimal menanamkan ajaran Qur'an pada anak. Sekalipun menyewa guru ngaji handal, bukankah masih lebih baik bila ortunya yang mengajarkan?

Eum kalau dari cerita Umar bin Abdul Aziz di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Umar adalah sosok yang bisa teladani oleh para suami sekaligus ayah di dunia yang menginginkan generasi cinta Al-Qur'an. Udah bukan zamannya seorang suami atau ayah gengsi ngajarin anaknya sendiri. Kalau perlu, ayah harus lebih pinter daripada guru anaknya di sekolah.

Sebagai penutupnya, Abdullah bin Umar memberi pesan untuk kita, "Kamu harus bersama Al-Qur'an, pelajari Al-Qur'an itu dan ajari anak-anakmu, karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang Al-Qur'anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah Al-Qur'an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal."

Gimana? Udah siapkah kita menjadi orangtua untuk anak-anak unggulan, generasi pencinta Al-Qur'an? Yuk, kita mulai dari diri sendiri dulu. Selagi masih single, perbanyak belajar Al-Qur'an. Kalaupun nggak bisa mentafsirkan, minimal pandai dan rajin ngaji juga baca dan serap terjemahannya dulu lah ya. Kalau sudah, pelan-pelan apa yang kita serap tadi, diamalkan dengan tulus dalam kehidupan sehari-hari. Bila perlu, sampaikan apa yang kita pelajari itu kepada orang lain. Sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Bismillah, semoga kita bisa meneladani sosok Umar bin Abdul Aziz. Bisa menjadi calon orangtua/orangtua yang mampu menjadi guru terbaik bagi buah hati. Aamiin.

*Jujur.. nulis ini, hati jadi ngerasa ada yang ngetuk. Berkaca lagi, perbaiki diri lagi, belajar lebih rajin dan lebih banyak lagi.

QUOTES: CINTA DAN JODOH



"Tuhan mungkin sedang menguji kita dengan menghadirkan seseorang yang tidak tepat. Mungkin saja dia memang jalan hidayahmu tapi belum tentu dia akan menjadi pendamping hidup dunia akhiratmu."

"Cinta itu ada dua: mengambil kesempatan sbg bukti keberanian atau melepaskan sbg wujud pengorbanan."

"Jodoh itu seperti sepatu, nggak mungkin sebelah kirinya sepatu balet tp kanannya boots. Nggak bakal ketuker."

PRIA TAMPAN

Pria tampan, cewek cantik. Siapa sih yang nggak suka? Siapa sih yang nggak bakal klepek-klepek? Menyoal pria tampan, saya pernah menyukai beberapa pria tampan. Itupun saya juga nggak paham kenapa saya jadi suka sama dia. Mungkin karena saya kena batunya kali ya. Yang tadinya saya cuek-cuek aja, lama-lama teman-teman pake nympahin suatu saat bakalan suka sama pria tampan yang mereka maksud.

Kesempurnaan fisik itu adalah anugerah dari Pencipta. Tapi, zaman sekarang banyak disalahgunakan. Jadi, buat yang punya wajah "sempurna" gitu, kudu hati-hati majang foto di sosmed, bisa-bisa dimanfaatkan oleh oknum (orang yang tak bertanggung jawab).

Saya pribadi sebenarnya lebih suka dengan wujud seorang yang sederhana aja tapi rapi (baik itu cewek atau cowok). Mata saya ini paling sensitif kalau lihat orang pake baju blink-blink, seolah gemerlap dunia tuuuh ditemplekin semua di anggota badannya. 

Ketampanan itu ada enaknya juga sih. Pria tampan, pasti banyak yang naksir, lebih mudah mencari pekerjaan berbasis entertainment dan bisa jadi idola orang banyak. Tapi.... kelebihan kayak gini, menurut saya malah bisa menjadi malapetaka. -__- Saya nggak kebayang kalau saja nanti punya suami yang cakepnya kayak Kim Bum, Siwon atau Kim Jeong Hoon. Hedeuuuh.. pasti repot ngejagainnya dari mata liar cewek lain, kan?

Dari beberapa yang pernah saya sukai diam-diam, ada satu di antara mereka yang paling tampan. Yaaa malas juga nyeritainnya soalnya dulu udah pernah ceritain. Euum disingkat aja deh. Intinya kami sekampus, sering ketemu secara kebetulan, dia bukan cuman cakep tapi juga pinter. Sejak saya "disumpahin" bakalan suka sama dia, pas ternyata saya mulai suka diam-diam, saya jadi paham bahwa apa yang diamati dari bungkus luar tuuuh nggak selamanya bagus. Euum, dia memang baik. Tapi juga saking cakepnya, dia juga suka tebar pesona, hobi selfie dan kesannya dia tuh pilih-pilih teman. Saya aja sampai pernah dicuekin padahal pengen minta bantuan udah ndesak, tapi dia malah menawarkan bantuan buat orang lain. Ya sudah lah. 

Trus, belum lama ini, saya juga (kasarannya) hampir kena tipu. Saya dikenalin sama kerabat keluarga pada seorang pria. Dari fotonya sih emang tampan pake banget. Malah lebih tampan dari model-model yang pernah saya lihat. Cuman entah kenapa, saya jadi sanksi selama perkenalan itu. Untunglah semua kedoknya terbongkar setelah saya selidiki. Ternyata pria yang dikenalin ke saya itu aslinya bukan itu fotonya, melainkan itu foto hasil rampokan (foto wajah orang lain). Kok tega dan licik banget ya, manfaatin ketampanan orang lain untuk mendapat simpati cewek apalagi niatnya mau nikah.. hadooooh naudzubillaaah nggak lagi-lagi. Langsung saya delete deh dari hidup saya setelah tahu semuanya. Yaa kasihan juga jadinya sama pramugara yang fotonya dicuri sama pria itu. 

Waktu kenalan pun yang mana memang kami ini hampir bertemu, dia sempat nanya, gimana tertarik nggak dengan dia pas lihat dari wajahnya? Hhh.. haha, saya frontal bilang, biasa aja tuh, saya nggak lihat orang dari situnya. Dia langsung kikuk dan cari cara lain biar saya klepek-klepek. Hedeuuh mau ketemu gimana, wajahnya dari foto yang dikasih aja palsu.

Saya nggak bakal henti-hentinya berpesan buat temen-temen cewek. Please, jangan mudah terpancing deh sama kulit luar orang. Kalau ada seseorang yang ingin serius berkenalan (untuk tujuan menikah), maka kita wajib mencari tahu sedetil mungkin tentang dia. Kalau perlu, nyewa intel, heheh. Intinya, jadi cewek, jangan gampang kemakan rayuan deh ya. Kasihan dan eman.. emaan nanti kalau pada akhirnya ketipu trus dimintain ini itu hingga berujung kata goodbye alias ditinggal gitu aja. Duuuh.. naudzubillaaah!!

Punya suami tampan mungkin jadi impian sebagian besar cewek ya. Tapi bagi saya, apalah artinya sebuah ketampanan, kalo hatinya jelek, matanya jelalatan daaan hobi tebar pesona. Syukur-syukuuur gitu kalo ada orang yang punya suami tampan tapi mampu menjaga dirinya dengan baik.

TAK HARUS LARI

Tidak tahu pasti... tapi... ketika kau mencintai seseorang dengan tulus, mungkin akan ada saat di mana kau akan menghilang dari hadapannya. Kau mungkin akan sengaja menjauhinya. Itu kau lakukan agar dia tak pernah tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya.
Tapi, kau tak harus lari dari kenyataan.
Di saat dia adalah takdir yang Tuhan beri untukmu,
di saat itulah kau harus menunjukkan dirimu di hadapannya, seutuhnya 
dan... tak ada celah lagi untuk menghindari darinya.

BILA CINTA, HARUSKAH ADA CEMBURU?

pic by riaroidaminarta
Mungkin, ini tak penting untuk dibaca. Malam ini saya tak punya bahan yang psikologis banget untuk ditulis. Request dari teman untuk nulis tentang skizofrenia untuk sementara saya tunda. Saya kudu recall lagi untuk itu, hehe maklum lah, nggak semua bagian dari skizofrenia saya hapal, jadi harus baca buku lagi.

Mendadak, di kepala saya melayang-layang sebuah tanya. Cinta itu bagaimana sih? Pertanyaan itu pun melahirkan anak-anak tanya lainnya.  

Ah, saya nggak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Kalau ditanya selama hidup, berapa kalikah saya mencintai seseorang? Jawabannya sangat bisa dihitung jari. Hanya segelintir. Saya juga nggak tahu apakah itu benar-benar cinta atau hanya rasa yang numpang lewat. Tapi, kalau dirunut dari kronologis beberapa tahun ke belakang hingga sekarang, hanya ada tiga momen yang membuat saya terjebak dalam perasaan itu. Di antara ketiganya, satu di antara itu hanya perasaan palsu, satunya lagi hanya kekaguman yang sangat dangkal dan sisanya, satu lagi... yang terakhir... inilah yang nggak saya pahami.

Kata orang, kalau kita mencintai, tentu akan ada rasa cemburu. Benarkah? Uhtukke? Bagaimana prosesnya? Tapi, saya selalu menyadari... saya tak pernah benar-benar memiliki rasa itu. Dulu, ketika mengagumi seseorang, dulu ketika entah gimana caranya bisa suka sama seseorang yang tak pernah saya sukai dan sekarang ketika perasaan itu hadir dalam diam... saya merasa tak pernah sedikit pun cemburu. Ketika orang yang pernah saya sukai ternyata memiliki kekasih, ketika orang yang saya kagumi ternyata menyukai teman dekat saya dan ketika orang yang saya cintai diam-diam ternyata begitu banyak yang mengagumi dan memproklamirkan diri sebagai calon istrinya, rasa cemburu itu... nihil. Apakah saya yang abnormal? Apakah cemburu itu tanda cinta yang absolut, yang harus selalu hadir sebagai indikator valid? Jika begitu, apakah saya yang tidak normal karena tak pernah merasakannya?

Saya sempat memvisualisasikannya dalam bayangan. Andai orang lain menjadi saya, apakah ia akan cemburu ketika tahu orang yang dicintainya mungkin... akan menikah dengan orang lain? Bagaimana cemburu itu sebenarnya? Apakah jika ia tak cemburu, itu masih bisa disebut cinta?

Kata orang, rasa cemburu itu mungkin memang belum dialami sekarang, tapi nanti. Nanti ketika saya telah benar-benar memiliki seorang pendamping berpangkat "suami". Pasti! Kecemburuan itu akan menghampiri. Entah dengan cara saya marah ketika ada orang lain yang mengaguminya atau dengan saya yang mendadak berubah menjadi istri posesif yang selalu ingin tahu di mana dan dengan siapa suami saya berada. Tapi, apakah benar, saya akan memiliki perasaan dan bersikap seperti itu nantinya? Jika tidak, bagaimana saya akan menjelaskan kepada suami saya nantinya bahwa saya mencintainya? Bukankah cinta itu tak cukup dikatakan dengan untaian kata? 

Kendatipun suatu hari, saya akan mendengar kabar bahagia orang yang saya kagumi.... menikah dengan yang lain, apakah jika saya tak cemburu itu bukanlah sebuah cinta? Tapi, hanya karena saya selalu menganggap semua adalah kehendak Tuhan, bahkan sebelum semua bayangan itu terjadi. Apakah masih salah bila saya tak juga cemburu? Tentu tidak, begitulah saya menampik.

Nggak semua orang di dunia ini bisa menonjolkan rasa cemburunya. Mungkin, saya adalah salah satu di antaranya. Salah satu di antara mereka yang tidak paham bagaimana cara menunjukkan kecemburuan, bagaimana cemburu itu bekerja. Sejak kecil pun, ketika semua kakak sulung di dunia ini melihat adik-adiknya dibelikan mainan lantas dia tidak, mereka akan merasa iri dan merengek untuk meminta dibelikan yang serupa bahkan yang lebih bagus. Tapi, saya tak pernah melakukan itu. Bukan berarti saya percaya sepenuhnya pada ingatan sendiri. Saya memang tidak menampik bahwa ingatan saya akan masa kecil masih cukup kuat. Hasil tes psikologi ingatan saya pun lulus tanpa cacat. Mungkin itu juga didukung oleh kondisi tubuh yang sehat. Tapi, terus terang saja, saya tak pernah meminta orangtua membelikan sesuatu hanya karena iri pada yang lain. Saya melakukan itu, meminta in itu, hanya ketika saya bisa berhasil meraih sesuatu. Jika tidak, saya pun jarang memaksa.

Jika hari ini orang akan bilang ini klise. Jika orang-orang mengatakan ini bullshit, biarlah! Mungkin, beginilah hati saya bekerja. Mungkin benar... mungkin nanti ketika saya telah memiliki sebuah keluarga kecil, akan saya rasakan hal bernama cemburu itu. Jika suami saya adalah seorang pengacara, saya akan cemburu bila ia setiap hari menyambangi kliennya yang wanita. Jika suami saya adalah dokter, saya akan cemburu bila ia tersenyum manis di hadapan pasien wanita. Jika suami saya guru, saya akan cemburu bila ia lebih menyayangi muridnya daripada saya. Ketika saya punya anak, maka mungkin saya akan cemburu jika anak laki-laki saya sudah menambatkan hatinya pada seorang wanita (istrinya). Aigoo... Bagaimana bila semua itu hanya ilusi? Bagaimana bila saat itu juga saya tak juga cemburu? 

Ya sudahlah! Semoga ini bukanlah gejala abnormalitas. Mungkin, hanya karena saya belum benar-benar menemukan seseorang yang akan sangat dan suangaaaat saya cintai. Makanya, belum pernah merasa cemburu.

HATI DAN LIDAH

"Hati itu laksana periuk yang mendidihkan apa yang ada di dalamnya, sedangkan lisan itu ibarat alat ciduknya. Maka lihatlah kepada seseorang ketika berbicara karena lisannya menciduk apa yang terdapat di dalam hatinya, dia bisa manis asam, tawar, asin dan sebagainya. Dan, yang menjelaskan kepadamu, tentang keadaan hatinya adalah cidukan (ungkapan) lisannya."

(Dalam Mukaddiman Shahih Muslim, dikutip dari Buku Misteri Lidah Manusia karangan Nurul Mubin)