Pages

KAPAN ANAK SIAP BERSOSIALISASI?

Bismillahirrahmanirrahim...
Ngapunten banget buat yang udah request. Langsung aja, sekarang saya akan coba uraikan hasil request-an Bunda Tri Wahyu Handayani.

Berikut ini adalah pertanyaan beliau:
by halocities.com
"Saya punya side job sebagai guru les musik (piano). Akhir2 ini ada trend, ibu2 muda me-les-kan putra-putrinya msh sangat muda, 2 sampai 4 tahun. Mereka agak 'maksa' me-les-kan anak2nya tsb, alasannya spy ada kesibukan. Nah, beberapa anak tsb memang tidak siap, ada yg nangis tiap les. Ada yg tenang2 udh les, tapi Bundanya diam2 keluar ruangan, pergi kemana. Minggu berikutnya anak tsb ga mau ditinggal oleh Bundanya, nangis berkepanjangan dan tantrum. Ini terjadi bukan pada satu anak saja.
Sebagai guru suka bingung menghadapi anak yg tantrum dan Bunda yg memaksakan kehendak.
Memang ada sih anak2 yg siap belajar musik di usia yg sangat muda. Tetapi tidak semua anak siap bukan?
Bahkan ada anak2 yg diam saja, tidak siap menerima arahan, nunduk terus, tidak bicara apapun.
Sebagai guru sering merasakan seorang anak ada masalah atau tidak karena perbandingan dengan anak2 yg lain, tetapi tidak tahu masalahnya apa. Mungkin karena bukan psikolog.

Pertanyaan saya, usia berapa anak siap menerima arahan dan bersosialisasi? Bagaimana menjelaskan ke Bunda2 tersebut bahwa anaknya ada masalah dan sebaiknya dikonsultasikan ke ahlinya."

----
Beberapa hari lalu, saya baru saja sibuk menikmati acara TV melalui Youtube mengenai persoalan psikologis dengan bintang tamu para psikolog anak khususnya. Salah satu topik permasalahan yang sedang dibahas bersama Mbak Lizzie (Psikolog) yaitu mengenai bagaimana orangtua mengarahkan anak untuk mengasah bakatnya.

Zaman modern sekarang kan udah banyak bertaburan les-les private. Ada les private khusus akademik seperti Matematika, Bahasa Inggris dan sebagainya. Ada juga les yang mewadahi hobi/kesenangan/bakat dan minat anak. 

Dari uraian singkat yang dipaparkan oleh Bunda Tri di atas, tampak jelas sekali bahwa ternyata masih ada looh ortu yang "sengaja" memasukkan/mengikutkan anaknya ke sebuah lembaga les/bimbel hanya karena gengsi atau faktor lain yang memang bersifat eksternal. Di samping itu, anak-anak mereka sudah menunjukkan ketidaksukaan/ketidaktertarikan pada jenis tersebut. Lalu, salahkah cara yang dilakukan ortu-ortu itu? 
Mengenai bakat dan minat anak ini biasanya sudah bisa dideteksi sejak dini dan dari usia yang bervariasi. Ada anak yang sudah mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap sesuatu hal pada usia 3 tahun, 4 tahun atau bisa lebih cepat dan lebih lambat dari itu. Sebagai orang tua, tugas mereka bukan hanya sekadar mendeteksi, "Oooh jadi dia suka main piano. Ooh jadi si adek sukanya menggambar." Biasanya, anak itu akan lebih mudah berpindah-pindah dari satu objek ketertarikan ke objek lainnya. Intinya, di usia yang sangat dini ini, minat anak masih sangat mungkin mengalami perubahan.

Trus gimana dong cara mengetahui bahwa A atau B itu adalah bakat/minat anak yang paling menonjol? Cara konvensionalnya adalah, rajinlah mengamati/observasi si anak. Misalnya, belakangan ini dia lagi suka menggambar. Terus amati durasi, frekuensi, intensi anak ketika dia sedang menggambar dari hari ke hari. Sesekali, ortu juga bisa bertanya pada anak, "Adek suka nggambar ya? Emangnya apa yang adek sukai kalo lagi nggambar? Adek senang ya kalo lagi menggambar?" Mungkin, mereka akan bilang, "Suka. Senang."

Amati aja terus aktivitas ini setiap hari. Kalau suatu ketika ada saat di mana ortu beliin peralatan menggambar lagi untuk ke sekian kali tapi si anak mulai ogah-ogahan, coba ditanyain, "Adek mau ngapain lagi? Adek sukanya apa?" Kalo ternyata dia mulai memunculkan ketertarikan pada objek lain, lakukan hal yang sama yaitu observasi.

Kebiasaan anak kayak di atas ini biasanya saat mereka berusia 0-2 tahun. Pada usia ini, minat anak terhadap sesuatu akan semakin berlimpah, seringnya begitu. Sebab, ini adalah fase sensori motorik di mana akan anak lagi senang-senangnya mencoba segala sesuatu, mengamati/meraba/merasakan sesuatu dengan panca inderanya untuk mengenal objek-objek di sekelilingnya.

Kalau pada rentang usia 3-6 tahun ini disebut pra-operasional di mana anak suka melakukan sesuatu yang berasal dari apa yang mereka amati atau tiru. Misalnya, si anak ini suka banget nonton Ultramen Mebius. Selain suka, dia juga jadi sering mengimitasi gerakan-gerakan sang Ultramen, suka minta dibeliin baju Ultramen dan apa saja yang berhubungan dengan itu.

Umumnya sih, akan lebih mudah melihat ke arah mana bakat anak ketika sudah berusia sekitar 4-6 tahun. Tapi ada juga looh yang sudah bisa terdeteksi sejak di dalam kandungan. Contohnya saja kayak si Roma, adik sepupu Bastian. Kata sang tante sewaktu diwawancarain gitu, Roma ini sudah ada tanda-tanda menyukai bidang entertain sejak dalam kandungan terutama musik. Soalnya ketika ibunya hamil, janin Roma suka gerak-gerak gitu ketika mendengarkan musik nge-beat. Dan, ketika besar, saat ia tidur lalu terdengar musik, anggota tubuhnya spontanitas turut bergerak merespon musik tersebut. Hingga sekarang, ortunya mulai memperkenalkannya kepada industri musik. Si Roma ini sukanya nyanyi sambil dancer kayak tokoh idolanya yaitu Beyonce.

Usia 3-6 tahun banyak yang bilang sebagai golden age, kan? Makanya di usia-usia ini banyak ortu yang getol mengarahkan sang anak untuk ngasah bakat mereka. Tapi, ternyata masih ada saja ortu yang keliru dalam mengidentifikasi bakat sang anak. Jadinya, ketika si ortu memasukkan mereka untuk les, si anak akan merasa bahwa ortu lagi maksa, mereka nangis dan selalu minta pulang ketika berada di tempat les. Seringnya pula, ortu cuman berargumen, "Biasalah itu! Mungkin karena lingkungan baru jadi mereka cuman butuh adaptasi aja."

Kekeliruan ortu dalam mengarahkan anak ini juga bisa berakibat fatal. Jadi sebaiknya, hindari memaksa anak untuk ikut les tertentu apalagi kalau anak sudah menunjukkan isyarat TIDAK SUKA. Sebaliknya, biarkan sang anak yang lebih berinisiatif, mereka maunya apa. Ortu juga harus bertanya kepada mereka. Kalau mereka memang tertarik dengan musik, maka coba masukkan ke les privat musik. 

Ketika anak berada di tempat les, lalu menangis, cuman ada 2 hal yang mungkin menjadi penyebabnya: pertama karena krisis sosialisasi di mana anak seumuran itu memang belum memiliki kemampuan yang optimal untuk bersosialisasi/beradaptasi pada lingkungan yang baru. Atau faktor kedua yaitu karena anak memang tidak minat dan ortu semakin memaksa/keras kepala.

Jadi,  Bunda Tri mungkin bisa melacak, manakah penyebab yang lebih menonjol di antara keduanya. Kalau sudah bisa terdeteksi, maka lakukan pendekatan dengan ortu. Bicarakan saja kepada mereka secara baik-baik bahwa anak mereka memang tidak menyukai (jika memang penyebabnya karena anak tidak punya minat pada bidang itu). 

Namun, jika masalahnya karena kesulitan beradaptasi, maka ortu dan guru juga harus bersabar, telaten dalam membantu anak untuk melalui masa krisis tersebut. Caranya mungkin di tempat les, bisa diselingi dengan permainan psikologis untuk mengukur leadership, kerja sama dan aspek-aspek lain pada anak itu sendiri. Banyak kok sekarang permainan macam itu, bisa di-download tuh di om google modul-modul PDF-nya atau nyari di buku-buku psikologi populer; buku psikologi bermain pada anak. Jadi, selain belajar serius untuk lebih mengembangkan dan mengarahkan bakat anak, guru juga bisa melatih berbagai aspek sosial pada diri anak. Selain itu, ortu juga harus memberikan support. Oke, nggak masalah kalo mereka menemani anak pada saat jam les dan ikut bermain pula. Tapi, latih anak juga agar mereka bisa ditinggal sendiri dan bersosialisasi sama temen-temen barunya. Harus sabar dan jangan pakai gengsi ya.

Lain halnya kalo masalah ketidaksukaan, tantrum atau perilaku negatif sang anak muncul karena memang ada gejala-gejala kelainan psikologis. Ini tentu harus dikonsultasikan pada ahlinya sebab anak dengan kelainan psikologis ada juga yang lebih suka menarik diri dari lingkungan/sangat sensitif terhadap orang baru karena masalah-masalah/penyebab tertentu yang disebabkan oleh riwayat psikis tadi.

Oke deh, demikian uraian saya. Kalau ada yang kurang, silakan ditambahin ya. Semoga bermanfaat ^__^


APA KELEBIHAN DAN KEKURANGANMU?

Bismillahirrahmanirrahim...

Hari ke-16 Ramadhan, kalian ngapain aja? Pasti pada puasa kan semuanya? Kalau saya masih sedang "lampu merah". Sejak 8 Juli lalu sampai hari ini, saya nggak puasa. Sedih sekaligus senang. Sedih karena baru dapat seminggu puasa. Senang karena di rumah banyak makanaaaan jadi bisa ngemil untuk program nambah berat badan yaaa -__- meskipun kenyataannya badanku sulit untuk gemuk.

Kemarin adalah masa-masa stressful bagi saya. Ikutan tes seleksi mapro seharian bikin fisik+mental lelah. Alhamdulillah bangun tadi, kepala sudah nggak pusing lagi. Jadi, hari ini hingga tanggal 16 Juli mendatang, saya pengen istirahat total. In sya Allah sih besok udah puasa lagi (semoga) jadi bisa nyempatin diri buat curhat sama Allah, memohon agar diberikan kelulusan masuk maproooo... aamiin....! Yeaaah, tandanya sebentar lagi saya harus menuntut ilmu (lagi). 

Aaah cukup sekian intermezzo-nya.

Lanjut pada tema postingan kali ini. Mungkin ini udah pernah saya posting kali ya, tapi lupa kapan. Kalau ditanya, apa kelebihanmu?
Kalian bakal jawab jujur, nggak? Biasanya pertanyaan semacam ini disuguhkan pada wawancara kerja+daftar kuliah. Kemarin sih saya nggak ditanyain kelebihan dan kekurangan, soalnya dosen-dosen udah pada kenal hehe. Cuman dengerin aja celetukan dari pendaftar angkatan 2010 (adik=adik tingkat saya berarti) yang kemarin barengan daftar mapro juga. Mereka ditanyain kelebihan dan kekurangan.

by deviantart
Mayoritas orang akan bilang bahwa menyebutkan kelebihan diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada nyebutin kekurangan. Padahal sejatinya, dua paket tersebut adalah indikator seberapa jauh kita mengenal pribadi/diri sendiri. Salah satu ciri orang yang "sehat", berarti dia pasti tahu semua seluk-beluk mengenai kediriannya. Dengan mengetahui serta memahami diri dengan sangat baik, maka konsep diri kita pun akan semakin positif.

Dulu, saya juga suka kagok kalau ditanyain soal kelebihan. Eumm apa ya? Pasti mikirnya lamaaa banget. Pas giliran ditanya soal kekurangan, lancar jaya kayak kereta api hehe. Setelah paham akan diri sendiri, saya jadi tahu semua kelebihan dan kekurangan saya. Mungkin, ini juga saya peroleh dari proses belajar.

Mungkin kalian pernah atau sering dengar, cara paling mudah untuk mengetahui pribadi kita yaitu dengan bertanya kepada orang-orang terdekat kita. Ini sih memang cara yang paling konvensional. Tapi, menurut saya, jika cara tersebut dihubungkan dengan Johari Windows, maka kita akan termasuk dalam kuadran seseorang yang tidak tahu tentang dirinya sendiri tapi orang lain tahu tentang dirinya. Dan, ini belum dapat dikatakan sebagai orang yang punya konsep diri positif.

Euum, kalau saya sendiri, merasa kurang puas ketika menanyakan bagaimana kepribadian saya kepada orang lain, pun pada keluarga sendiri. Biasanya, kalau nanya orang lain terus tanggapan mereka buruk semua, pasti kita akan terus menyela untuk membela, kan? Merasa nggak percaya kalau ternyata kelemahan dan kelebihan kita begini dan begitu. Haiiiisss... rempong juga ya.

Cara yang saya pakai untuk mengetahui dan memahami pribadi saya mungkin terbilang cukup complicated. Seumur hidup, saya baru tahu siapa diri saya sejak mengenyam bangku kuliah. Karena tiap hari belajar mengenai manusia, maka lambat laun saya jadi semakin paham. Inilah yang saya bilang sebagai proses pencarian sekaligus proses belajar tadi. Bukan berarti saya nyuruh kalian masuk psikologi dulu looh ya, hehe. 

Semakin lama, saya jadi paham bahwa apa yang menjadi kelebihan saya adalah hal-hal yang sama sekali tak pernah saya sadari. Selama ini, saya adalah tipe orang yang cukup organized. Ini adalah hal yang tampak dominan dalam diri saya. Segala sesuatunya harus saya persiapkan dengan matang, detil dan rapi. Ketika saya sudah melakukan sesuatu dengan tertata, maka fokus/pikiran dan tindakan akan cenderung tertata pula. Istilah lainnya, sistematis kali ya. Ini juga semakin kelihatan ketika saya bimbingan skripsi dulu. Saya mendapatkan dosen pembimbing II yang sangat appropriate dengan saya. Beliau adalah seorang yang sistematis. Saya menyukai cara kerjanya seperti saya sedang melihat diri saya sendiri. Kenapa organized ini saya masukkan ke dalam daftar kelebihan? Karena, apabila kognitif saya sudah berjalan sistematis, maka semua pekerjaan akan tuntas dengan baik, orang-orang atau teman yang bekerja dengan saya pun cukup banyak yang merasa puas dan hasilnya positif. Jadi intinya, sikap, perilaku maupun sifat apapun yang positif dalam diri saya kemudian berdampak pada hasil yang positif pula, maka itulah yang saya sebut sebagai kelebihan. Tentu banyak tipe orang yang terorganisir seperti saya, tapi rata-rata dari mereka cenderung tidak menganggap bahwa itu adalah suatu kelebihan karena mungkin memang bukan suatu hal yang dominan dalam dirinya.

Masih banyak kelebihan saya, seperti multi-tasking/multi-focus. Maksudnya, saya itu orang yang gemar mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Tapi, tentu saja karena terorganisir, jadi saya memadu-madankan sesuai skala prioritasnya. Contoh yang paling sering saya lakukan adalah memasak sambil menyapu. Jadi disela menggoreng, saya bisa menyapu sebentar-sebentar, tentunya setelah mengatur nyala api di kompor gas dong ya, hehe. Trus, saya juga gemar mengerjakan dua tugas (tugas sekolah/kuliah/pekerjaan) lebih dari 2 macam dalam satu hari. Namun, ini terkhusus tugas-tugas skala minimum yang tidak membutuhkan waktu, tenaga, tempat serta pikiran yang banyak. Saya juga pernah menonton sambil mengetik naskah buku. Hehehe... yaa begitulah.

Sedangkan untuk kelemahan, ada beberapa yang paling dominan. Kalau tadi, untuk tugas yang mudah, saya bisa ngerjain sekaligus dalam satu waktu. Maka ketika saya dihadapkan pada sebuah tugas yang cukup hingga sangat rumit, maka saya akan cenderung autis dengan diri sendiri, cenderung nggak bisa kompromi untuk hal-hal lain. Saya akan lebih banyak menyisihkan waktu untuk berpikir mencari "jawaban" sebelum mengambil keputusan. Jika diganggu, saya akan kesal. Akibatnya, sering orang mengira saya ini marah pada mereka padahal sebenarnya tidak. Tapi, kalau marah, durasinya memang tidak sampai satu hari. Jadi, imbasnya, bagi yang tidak memahami saya, mereka mungkin akan menjauhi saya akibat ini. Intinya, berimbas pada hubungan interpersonal. 

Untuk kelemahan di atas, saya sudah punya solusinya. Yaa memang sih akan melibatkan pengertian dari orang lain, mau tidak mau. Solusinya adalah, sebelum mengerjakan suatu hal yang cukup rumit, maka saya akan minta izin pada orang lain agar tidak mengganggu hingga pikiran saya mereda atau hingga tahap di mana saya sudah mengambil keputusan, barulah boleh mengajak saya untuk bicara lagi hehehe.

Kelemahan kedua yang berkaitan dengan kelebihan organized tadi, ada saat-saat tertentu di mana saya akan menjadi seseorang yang perfeksionis. Biasanya, orang lain bangga ya kalau dia perfeksionis. Namun saya pribadi merasa ini adalah kekurangan. Contohnya saja sering saya temukan ketika hidup di kontrakan semasa kuliah dulu. Dulu, kami ini berdua sekamar. Saya ini adalah orang yang setiap hari suka bersih-bersih. Jadi, kalau area private (kamar) sudah sedikit terlihat kotor bahkan jika ada rambut sehelai rontok, pasti akan saya bersihkan sampai licin. Ini bukan OCD karena memang bersih-bersih itu bukan ritual yang saya kerjakan lebih dari 5 kali tiap hari. Pada saat ingin menghadiri acara-acara formal kampus pun, adek kos saya agak resah melihat saya yang memilih pakaian saja menyia-nyiakan waktu kurang lebih 1 jam. IYA, SATU JAM ITU SAYA BELUM BERGANTI PAKAIAN. Di dalam kognitif ini, sudah ter-setting bahwa apa yang saya kenakan harus sesuai dengan tema atau situasi acara. Saya tidak mau jadi bahan tertawaan orang lain dan lebih penting lagi, saya tidak mau jadi bahan perhatian orang. Perfeksionis dari sudut pandang saya adalah bukan dengan berpakaian serba serasi hitam harus dengan putih, harus yang mewah dan mahal atau hal-hal hiperbola lainnya. Nggak begitu. Tapi, sudut pandang saya, harus terlihat rapi, bersih, nyaman dan sesuai dengan situasi yang akan saya hadapi. Bukan hanya pada pakaian, pada tugas-tugas pun seperti itu. Saya paling tidak suka ketika mengerjakan sesuatu dengan bahan yang tidak lengkap, tidak bersih, tidak nyaman dan berantakan. Semua kudu tertata.

Kalau kata orang, kelemahan adalah kelebihan mereka. Saya juga memilikinya pada bidang lain. Kalau pada perilaku/tindakan, saya sistematis, maka secara lisan, saya sangat sulit untuk membuatnya sistematis, kecuali jika harus disertai draft berbicara baru bisa sistematis. Orang boleh bandingkan, lebih baik mana ketika saya berbicara atau ketika menulis. Pasti cenderung, lebih baik ketika menulis. Karena saya adalah pribadi introvert yang cenderung pendiam lewat lisan, makanya orang pasti akan tidak percaya kalau saya ini pendiam. Sebab, melalui tulisan, saya terkesan seperti orang yang cerewer atau talk active. Hehehe.. jadi kalau diajak ngobrol langsung gitu, pasti ada waktu-waktu saya diam lebih lama. Bukan kehabisan bahan obrolan, tapi syaraf saya mungkin lagi stag di tengah jalan kali ya, hehe makanya diam lagi. Beda jika saya diajak ngobrol lewat tulisan, in sya Allah lancar dan baik-baik saja. Tapi, saya sudah punya kunci untuk solusi masalah ini. Agar saya bisa baik dalam komunikasi lisan dengan orang lain, maka saya akan lebih cocok dipadankan/mengobrol dengan orang yang cerewet banget. Iya, kayak sahabat saya si Nawira itu kalau ngomong kayak kereta api. Jadi, kognitif saya akan semakin lancar karena dituntut untuk mengejar dan memahami lebih cepat. Nah, dengan kekurangan ini, saya banyak bersyukur. Inilah kelemahan yang mengantarkan saya pandai menulis dan menjadi penulis. Dari hasil tes minat bakat pun terlihat bahwa skor intelegensi di bidang linguistik saya agak lebih tinggi daripada yang lain. Yaaa biarpun pendiam itu mungkin merupakan sebuah momok, tapi saya bersyukur. Diam lewat lisan, mungkin Allah lagi nolong saya biar nggak ngomong macem-macem. Jadi, dialihkan ke bahasa tulisan biar lebih indah, tertata baik dan menyenangkan untuk dibaca.

Tips yang paling penting ketika kita sudah tahu dan paham mengenai siapa diri kita, maka kuncinya adalah adakan penerimaan positif terhadap semua kelebihan dan kekurangan itu. Itu juga sebagai tanda syukur pada Pencipta. Selain itu, jika punya kekurangan, maka adakan solusinya. Seperti contohnya saya memaparkan kekurangan disertai solusinya (yaa meskipun mungkin subjektif kali ya) tapi tetep kudu ada solusi biar memudahkan kita untuk meminimalisir "kerusakan" atau dampak fatal yang mungkin aja bisa timbul akibat kekurangan tersebut.

Nah, begitulah cara-cara saya mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Bagaimana denganmu? :)

PASCA TES S2 PROFESI PSIKOLOGI

Alhamdulillah, masih dikasih kekuatan juga untuk nulis blog. Sekadar bercerita aja sih, padahal aslinya kepala ini sudah pusing. 

Pagi hingga sore tadi, saya ikutan tes masuk S2 Profesi di Aula Kampus I UMM. Yang daftar profesi ternyata membludak. DUA RATUUUUS ORAAAANG MEEEN! Dan, kalian tahu berapa yang disaring?? Kursi profesi itu hanya membutuhkan 20 orang. Yang 9 orang sudah terduduki kata dosen (ini sih operan dari yang Februari lalu gelombang akhir daftar tapi belum masuk kelas) jadi otomatis tinggal mencari siapa "pemenang" 11 kursi.


Ya Rabb,, tesnya tuh ya amazing banget. Ada Bahasa Inggris yang setara dengan TOEFL, Tes Potensi Akademik, trus tes grafis (disuruh gambar orang dan pohon gitu laah kayak biasanya), tes mengarang simpel dan khusus pendaftar profesi ada tes tambahan yaitu TSA (saya gak tau kepanjangannya tapi materi TSA ini pure teori psikologi banget) dan terakhir adalah wawancara.

Saya udah pasrah aja untuk tes TPA dan Bahasa Inggris itu. Alhamdulillah untuk yang tes TSA tadi, lebih mudah dan cepat ngisinya karena semua yang pernah dipelajari masih nyantol di otak hingga sekarang (padahal hari sebelumnya gak belajar teori psikologi apapun hehehe).

Untuk tes mengarang, karena saya kebanyakan mikir jadinya kurang 1 paragraf, yaaa amppun ngarang doang kok ya saya bisa blank sih. It's okay, semoga tidak mempengaruhi nilai yaa aamiin.

Dan, kenapa saya pulang jam setengah lima sore, itu karena saya dapat antrian paling akhir untuk wawancara. Syukurlah, dosennya sendiri yang request untuk wawancara sama saya aja karena udah kenal jadi gak perlu bertele-tele. Menyenangkan lah setidaknya karena nostalgia dengan dosen lama (tapi beliau gak ngajar nanti soalnya mau S3 di UGM). Wawancara tadi cuman ngobrol biasa, malah cerita-cerita soal aktivitas. Karena sekarang aktif nulis buku, ibu dosen jadi tercengang, "Saya baru tahu loh kalau kamu suka nulis buku." Trus, ibunya ngasih support semoga bisa lulus masuk ke kursi profesi deh ya.

Pas selesai wawancara mau pamit pulang gitu, dosen laki-laki kami, si Pak Zainul nyeletuk ke saya, "Habis ini tahajjud yang banyak, doa yang banyak biar lulus yaak." Hmm so sweet... hehehe ya kan udah kenal jadi enjoy aja gitu ya mereka.

Well, beberapa hari ini istirahat dulu, berdoa sebanyak mungkin semoga tanggal 16 Juli pas pengumuman ada nama saya nyantol di papan, aamiin.

Sudah ngebet banget pengen S2.

In sya Allah, udah siap lahiiir batiiiin maaah dari tahun-tahun lalu, jadi udah gak perlu dipertanyakan lagi saya punya gambaran apa nggak, siap apa nggak dan gimananya. Kalo udah passion dan panggilan hati itu, semua in sya Allah bisa dipermudah jalannya. Satu sih harapan saya, semoga di sela-sela kuliah, saya bisa tetap produktif nyari bahan untuk nulis (yaa kan buku-buku saya juga mayoritas pasti ada bahasan psikologi di dalamnya jadi sambil kuliah, sambil ngumpulin bahan untuk naskah buku baru).

Kalau ditanya soal nikah lagi nikah lagi (untung sih tadi cuman ditanyain udah nikah apa belum, dan nggak nanya lebih ke dalam-dalam hehe), itu maah saya serahin sama Allah. Kalau toh Allah udah netapin waktu jodoh saya datang, in sya Allah akan dimudahin kok meskipun saya nyambi kuliah.

Semangat..semangaaat... Optimis duluan, semoga bisa lolos. Dua setengah tahun lagi resmi jadi psikolog, aamiin. Ilmunya bisa lebih dimanfaatkan lagi untuk masyarakat dan semoga kelak bisa nulis buku psikologi ilmiah dan tetep nulis psikologi populer juga as usual, aamiin. Semoga rezeki diperlancar (sambil kuliah, saya juga lagi nyiapin dana nih buat buka lapak dagangan karena kalo kuliah magister psikologi kan nggak boleh nyambi kerja jadinya cari alternatif lain gitu hehe). Alhamdulillah juga setidaknya nggak begitu ngerepotin ortu karena bisa bantu bayar uang kuliah, paling nggak bayar registrasi sama matrikulasi nanti saya bayar pake uang sendiri. Alhamdulillah juga Allah ngizinin ketiga naskah baru untuk terbit. Mudah-mudahan royaltinya bisa cukup untuk kuliah sampe tuntas dan untuk berbisnis bantuin ortu. At least, saya juga udah niatkan sih, nyicil nabung duit untuk menikah (untuk pre-marital check-up nya nanti dan mungkin untuk lainnya walaupun sedikit yang penting ada). 

Nikmat mana lagi yang akan saya dustakan ya Rabb? Engkau udah berbaik hati bangeeeet pada hamba-Mu ini, jadi ridhai hamba-Mu ini ya Rabb, biar bisa menjaga dan menjalankan semua amanah ini dengan istiqamah dan semoga diberi kekuatan, kesehatan serta kesabaran. Aamiin aamiin

KAPAN MENULIS BUKU LAGI?

Bismillahirrahmanirrahim...
Terhitung sejak pindah rumah ke Malang Januari lalu, saya seolah vakum nulis naskah buku. Waktu sampai ke Malang, sebenarnya saya masih melanjutkan draft buku ke-4 itu ceritanya jadi masih menulis. Nah, memasuki Maret awal setelah draft ke-4 tuntas, niatnya mau ngelanjutin revisian novel ke-2 yang sempat ditolak dulu. Namun, di tengah jalan, saya mengalami bentrok dengan outline. Karena pengen revisi total disebabkan banyak bagian yang memang harus dirombak total, akhirnya otomatis juga harus benahin outline. Bukannya stuck atau ngalamin writer's block, tapi karena sejak bulan ini di rumah lagi rempong dan banyak ngurusin hal-hal lain yang menurut saya lebih penting, jadi menulis draft beserta revisian novel tersebut saya tunda.


Aslinya, saya orang yang gak suka menunda apalagi kalo udah bilang, "Ini penting banget!" Ya bukan berarti novel itu tidak penting bagi saya :D namun memang ada hal lain yang lebih mendesak untuk segera diperlakukan.

Tapi, setidaknya, saya bukan menunda untuk hal yang gak penting, kan? *pembelaan diri :D.

In sya Allah, Agustus besok, editor Quanta Elexmedia baru akan "mengedit" naskah/draft ke-4 saya itu. Karena si Mbaknya belum tahu materi apa yang akan diberikan sebagai tambahan untuk draft-nya, jadinya saya harus menunggu sampai ada notification di bulan Agustus besok deh baru bisa menulis. Semoga tidak molor, kami berdua berharap demikian sih, aamiin.

Alhamdulillah... 2014 ini banjir ide dan banjir rezeki jadinya beberapa naskah yang tahun lalu sempat tertolak, in sya Allah bisa terbit tahun ini juga semuanya. Syukurlah, Allah semakin memudahkan jalan menuju penerbit manapun, hehehe.

Untuk kelanjutan revisian novel ke-2, in sya Allah semoga bisa dieksekusi setelah selesai pengeditan draft bullying dengan Quanta. Tapi, itu tandanya, bentar lagi September dong ya, waktunya perkuliahan semester ganjil dimulai. Naaahh... semakin sibuk saja. Paling tidak sehari, semoga bisa nyuri waktu, dicicil minimal dua halaman (dikurangi lebih sedikit dari target minimal biasanya). Kalo saya paksa diri memenuhi target minimal biasa dengan kesibukan yang beragam, saya gak berani... nanti bisa-bisa saya drop (yaah ini karena sudah paham betul teori tubuh saya sendiri, gak boleh terlalu over ngerjain sesuatu, kecuali kalo bener-bener free total gak masalah).

Kalo memang nggak sempat, mungkin paling lambat akan saya over ke tahun 2015 nyari waktu yang really free biar sekalian tancap gas revisi hingga tuntas. Saya juga berpikir, 2014 ini naskah saya pada numpuk mau diterbitin semua. Jadi, mungkin untuk naskah baru di-skip sementara untuk tahun berikutnya agar nanti tahun-tahun depannya kebagian jatah gitu. Katanya sih kurang baik juga kalau pada numpuk banyak di tahun ini tapi tahun berikutnya kosong.

Poin penting yang ingin saya share ke temen-temen penulis pemula sih cuman 1: jangan kebanyakan menunda untuk hal yang gak lebih penting daripada naskah bukumu itu! Kalo misalnya kalian baru garap 1 naskah, belum pernah ditawarin ke penerbit, naah jangan sekali-kali deh bermain-main dengan kata TUNDA. Waktu harus dikejar. Kalau kebanyakan nunda, yakin akan berbuah MALAS nantinya. So, naskahmu gak bakal selesai, ngatung di tengah jalan, nggak pernah ditawarin dan nggak pernah terbit. Alhasil mewek sendiri.

Saya jadi inget postingan Mbak Dyah Rinni, bahwa penulis itu ada piramidanya. Satu: orang yang mau jadi penulis tapi nggak pernah menulis. Dua, orang yang menulis tapi nggak pernah selesai. Tiga, orang yang menulis tapi tidak pernah menerbitkan tulisannya. Empat, orang yang mengirimkan naskah namun sering ditolak. Lima, orang yang menulis, menawarkan ke penerbit lalu berhasil menerbitkan karyanya.

Nah, kalo mau jadi penulis, tunggu apa lagi? Nggak usah kebanyakan kata TAPI dan TUNDA. Segera menulis, latihan, istiqamah dan jangan pernah takut untuk menawarkan ke penerbit. Oke?

BEDAH BUKU BERSAMA TIM JSIT DI SURABAYA

Ini ceritanya lagi nungguin travel :D
Alhamdulillah, 7 Juli kemarin, saya berangkat ke Surabaya, naik travel soalnya panitia gak bisa jemput. Acaranya di Asrama Haji. Karena saya dapat sesi pas ngabuburit, akhirnya mutusin untuk nginep semalam di AHS. Berangkatnya sih pagi biar bisa istirahat bentar sebelum bedah bukunya.

Pengennya sih bisa ikutan nimbrung anak-anak yang lagi ikut pesantren Ramadhan di sana tapi feeling saya menyuruh untuk gak berlama-lama. Ternyata, pulang-pulang, bener saja, saya kelelahan hingga akhirnya tamu bulanan datang lebih cepat 3 hari. Hohoho.. mokel sudah, makan, minum terus tidur lagi. Hedeuuuh untung lah tidak 'dapet' di tengah jalan, bisa berbahaya bagi saya. Saya, kalo lagi dapat tamu bulanan di luar kota/di pinggir jalan atau di tempat lain kecuali di rumah, biasanya rada panik. Sindrom yang udah biasa buat saya. 




Oke lanjut. Kemarin itu undangan bedah bukunya dari Pakdhe Alif, again. Beliau dan teman-teman pengajar di Al-Uswah Bangil ini membentuk sebuah tim, namanya JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu). Kemarin sejak 6 Juli sampai 8 Juli, mereka ngadain pesantren Ramadhan dengan target anak sekolah SD, SMP, SMA se-Jawa Timur. Iya, bener aja. AHS penuh dengan tamu mulai dari anak SD kelas 1 sampai SMA dari berbagai kota di Jawa Timur. Amazing, kan? Anak kecil yang unyu-unyu gitu aja dilatih mandiri ikutan pesantren tersebut, subhanallah, mulia banget kegiatan mereka ya.

Sebenarnya target peserta bedah buku awalnya 100 orang ya. Tapi, di TKP, angka tersebut tidak segitu. Bukan lebih, tapi kurang, hehehe. Saya sih nyantai aja. Lagipula anak SMP dan SMAnya memang lebih sedikit dan paling banyak itu SD. Jadi, kan nggak mungkin dooong ajak anak SD bedah buku remaja, gak nyambung lak'an. Pesertanya dikiiit.. lebih dikit daripada waktu di Bangil lalu. Yang di AHS cuman satu baris cewek, satu baris cowok, eeehh.. malah para panitia yang ikhwan dan akhwat ternyata ikut nyimak. Hedeuuuh bermaksud ngeramein kali ya.

Karena pesertanya dikit, jujur saya kelihatan agak kaku. Kalau sedikit, berarti pusat perhatian mereka akan lebih terfokus kan? Nah, saya ini orangnya masih rada-rada kurang nyaman kalo jadi bahan perhatian termasuk ngomong di depan umum, kecuali kalo audiens-nya banyak gitu, saya gak canggung karena pasti perhatian mereka ada yang terpecah belah (jadi gak terlalu fokus ngelihat saya gitu) hehehe. Untunglah Pakdhe Alif jadi MC, ngeramein. Jadi, pas bedah buku, kita juga rada njurus pake konseling gitu. Nanyain satu per satu peserta soal tema "pacaran" sesuai dengan buku #CKUS. Alamaak... pesertanya pada malu-malu. Apalagi yang puteri. Cuman satu dua aja yang asyik, yang lain malah ada yang pasang wajah flat/datar. Karena saya orang yang gak terfokus untuk "mencuri perhatian orang", jadi saya biarin aja mereka berekspresi sesuka hati, yang penting apa yang saya sampein bisa nyambung ke mereka itu aja udah cukup. 

Lucu sih pas sesi curhat di bedah buku kemarin. Ada yang curhat pengalamannya waktu pertama suka sama orang. Dan, yang heboh malah panitia ikhwan di belakang. Pas waktu saya jelasin, kalo pacaran itu looh belum apa-apa udah diporotin, ntar kalo mau merit, modal nikahnya habis dong. Terus mereka ketawa. Belum lagi pas saya jelasin tentang tipe-tipe single dalam buku #CKUS. Eh.. ternyata masih ada ustadz yang single long term alias belum nikah hehehe, kesindir sendiri deh ya.

Yang bikin saya senang bukan pas bedah bukunya, melainkan lebih kepada teman-teman baru yang saya jumpai kemarin. Saya kan tidurnya bareng panitia. Lucunya, mbak-mbak ustadzah (panitia) itu ternyata belum pada nikah alias masih jomblo semua, kecuali satu orang. Ya ampuuun, malah mereka ngirain saya ini udah punya suami, hehehe :D. Lumayan laah ya, dapat doa dari mereka biar habis ini langsung dapat suami hihihi (entah dari mana).

Pulang, saya dikasih bingkisan baju seragam dari JSIT. 

Hadiah baju dari JSIT :)

Makasih yaa Mbak-Mbak Ustadzah, semoga silaturahmi kita tetap awet, aamiin ^_^

APAKAH GAGAP PADA ANAK BISA SEMBUH?

Ini request-an dari Bunda Ninik Setyarini. Beliau bertanya: "Anak saya usia 7 tahun semula tidak gagap, tetapi tiba-tiba dia gagap dan semakin hari semakin parah. Saya pikir karena sedang ada masalah di sekolahnya, ternyata benar Mbak dia memang sedang mengalami krisis pd di sekolahnya. Akhirnya saya motivasi terus setiap hari untuk membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Sedikit demi sedikit berhasil Mbak. Tapi kalau saya amati kadang-kadang masih suka gagap gitu Mbak. Benarkah gagap itu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikurangi saja? Saya kadang khawatir perkembangan dia ke depannya."

Saya udah pernah posting sedikit tentang gagap. Jadi, saya copast aja ya dari postingan lawas di blog ini. 


Apa penyebab terjadinya gagap? 

Kalau diperhatikan dengan saksama, gagap terjadi karena adanya hambatan bunyi suara yang keluar dari rongga mulut. Di mana pita suara tidak dapat bergetar secara sempurna karena adanya pemblokiran udara dari rongga dada dan perut kita saat bicara. Begitu juga udara yang tersendat-sendar secara tidak beraturan keluar dari rongga dada dan perut akan menghasilkan suara yang tersendat. Adapun faktor penyebab timbulnya gagap menurut penelaahan para ahli adalah sebagai berikut:
  1. Faktor keturunan: Sebagian ahli mengemukakan bahwa gagap merupakan penyakit keturunan. Di mana penderita gagap sudah membawa sifat turunan pada sistem sarafnya yang membuat penderita rentan terhadap perkembangan kesulitan berbicara. Penyakit gagap pada anak dapat muncul ketika anak mengalami suatu gejolak ketegangan emosional di lingkungan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman, tercekam oleh rasa khawatir atau cemas saat berbicara.
  2. Faktor neurologis: Menutu sebagian besar ahli neurologis berpendapat bahwa adanya gangguan saraf menyebabkan gangguan sistem koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara. Gangguan saraf ini dapat muncul akibat adanya luka pada otak sebagai akibat kesulitan dalam proses kelahiran anak tersebut. Hal lain, anak menjadi gagap karena telah menderita infeksi yang mengganggu sistem saraf secara serius, sehingga pada saat itu telah terjadi proses penurunan kemampuan fungsi saraf secara menyeluruh. Anak pun menjadi membawa sifat gagap. Apabila anak dalam kondisi yang melemah, maka akan terpicu perkembangan gagapnya.
  3. Faktor psikologis: Gagap dapat terjadi karena adanya konflik kejiwaan atau konflik emosional yang melanda seseorang sehingga merasa tertekan. Anak mengalami kegagalan dalam menetralisir gejolak emosional yang menekan perasaannya, sehingga mengganggu proses pengucapan kata-kata saat bicara. Faktor penekan yang menimbulkan konflik emosional anak dapat terjadi akibat suatu paksaan, desakan atau pengaruh lingkungan yang membuat dirinya tidak merasa nyaman, tegang atau panik. Dengan kata lain, ketika anak gagap diakibatkan oleh kejadian tertentu yang sangat menekan. Hal ini bisa saja dipicu akibat pengekangan orangtua terhadap anak, tidak memperbolehkan anak untuk berargumen, sikap otoriter yang terlalu berlebihan, konflik yang dialami dari lingkungan pergaulannya, kecemasan saat disuruh membaca di depan kelas secara mendadak dan sebagainya. Nah, kesulitan di penderita gagap akan semakin berat bila dia mulai merasakan keganjalan dalam hatinya seperti perasaan malu, rendah diri atau si penderita terlalu membanding-bandingkan kondisinya dengan orang lain yang dihadapinya ketika bicara. Paksaan, ancaman, desakan dan bentakan dapat merangsang atau memicu ketegangan emosional pada anak. sehingga mengganggu kordinasi sistem saraf bicara pada anak.
Tipe-tipe Gagap

Ada 3 tipe gangguan gagap pada umumnya, yaitu:
  1. Gagap perkembangan: biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun atau remaja. Apabila terjadi pada fase usia ini, maka gangguan gagap adalah wajar karena merupakan proses perkembangan bicara pada anak. Gagap pada anak usia tersebut biasanya terjadi karena kontrol dirinya masih rendah. Anak usia ini juga biasanya belum begitu antusias mengemukakan atau mengeskpresikan ide-idenya sebab kematangan alat bicaranya belum optimal. Sementara pada remaja, gagap ini terjadi karena kurangnya rasa percaya diri dan adanya faktor kecemasan akibat perubahan fisik, sosial dan mental yang mereka alami.
  2. Gagap ringan/sementara: biasanya terjadi pada rentang usia 6-8 tahun. Secara alamiah, ini biasanya hanya bersifat sementara. Penyebab paling dominan adalah faktor psikologis. Anak pada usia ini mulai mengalami fase adaptasi, masuk ke lingkungan yang baru, baik itu sekolah maupun pergaulan. Sehingga, anak perlu beberapa waktu agar dapat menyesuaikan diri dengan fungsi sosial serta mentalnya. Ketika anak udah mampu beradaptasi, gagapnya akan berangsur-angsur hilang.
  3. Gagap permanen: gagap jenis ini biasanya terjadi pada anak usia 3-8 tahun. Sifatnya yang menetap karena adanya gangguan fisiologis, yaitu alat bicaranya mengalami kerusakan atau gangguan yang serius. Sehingga, tipe gagap ini sangat membutuhkan terapi wicara dan alat bantu dengar (bila diperlukan).
Upaya Mengatasi Gagap

Kalau melihat cerita dari Bunda Setyarini, anaknya usia 7 tahun. Awalnya tidak gagap, tapi setelah itu gagap dan semakin parah karena mengalami krisis di sekolah. Kalau melihat dari riwayat tersebut, apa yang dialami anak Bunda termasuk dalam kategori gagap sementara. Sudah jelas bahwa si anak gagap karena mengalami krisis adaptasi di lingkungan sekolah. Jadi, untuk menyembuhkannya, apa yang Bunda lakukan sudah benar. Memotivasi anak, salah satunya.

Oh ya, apakah Bunda pernah memeriksakannya ke dokter ? Kalau memang tidak ada gangguan pada sistem/alat bicara di otak, maka sudah bisa dipastikan, ini hanya disebabkan oleh faktor psikologis dan masih bisa sembuh.

Untuk tambahannya, Bunda bisa mencoba melatih anak di rumah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Ketika anak pulang sekolah, setelah ia makan dan istirahat, coba pelan-pelan sisihkan waktu dan ajak anak untuk bicara berdua.
  • Saat bicara dengan anak, usahakan mata kalian saling pandang. Minta anak untuk memandang Bunda lekat-lekat. Posisi duduk juga sebaiknya berhadapan/sejajar.
  • Tanyakan bagaimana situasi di sekolah, apa yang tadi dia lalui, hal apa yang membuatnya senang dan sedih selama berada di sekolah. 
  • Ketika anak mulai menjawab pertanyaan tersebut (berbicara), Bunda simak setiap kalimatnya dengan seksama. Tunggu anak sampai ia menyelesaikan pembicaraannya. 
  • Saat anak mulai berbicara, Bunda sebaiknya menghindari interupsi. Dengarkan saja sampai selesai.
  • Ketika berbicara, anak mulai gagap lagi, Bunda bisa mencoba dengan mengulangi kata atau kalimat yang sebelumnya ia ucapkan. Pengulangan ini dapat membantu membetulkan kalimat anak yang mungkin terpotong atau keliru.
  • Jangan paksa anak untuk mengulangi kalimat yang terpotong itu. Tunggulah sampai ia mengeluarkan kalimat lagi untuk melengkapinya.
  • Bunda sebaiknya jangan pasang tampang kecewa di hadapan anak saat ia gagap. Tatapan ini bisa membuat hati anak merasa tersakiti dan akan semakin mengurangi kepercayaan dirinya.
  • Di awal-awal bicara, Bunda sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang rumit. Gunakan kata yang jelas, sederhana sebagaimana yang mampu diserap/dimengerti oleh anak usia tersebut.
  • Ortu/ Bunda juga bisa mengajarkan anak untuk berbicara jelas melaui teknik mendongeng.
  • Ortu juga harus memperhatikan lingkungan pergaulan anak di rumah. Usahakan untuk menghindari teman yang tidak baik. Jauhi anak dari ejekan/cemoohan teman-temannya.
  • Pelan-pelan ajarkan anak untuk mengatasi permasalahannya dengan cara yang baik tanpa harus dengan kekerasan fisik. Misalnya, kalau di sekolah ia sering diejek teman, maka ajarkan anak untuk tidak langsung melawan dengan memukul atau membalas dengan kata-kata kasar pula. Yaah bagaimana baiknya lah untuk si anak.
  • Jika gagap tersebut berlangsung makin parah, maka segera konsultasikan pada psikologi/psikiater terdekat untuk memperoleh penanganan/terapi yang tepat. Biasanya akan diberikan treatment terapi wicara sih. Tapi, semua tergantung kebutuhan dan tingkat keparahan gagapnya.
Sekian, semoga bermanfaat ^^

PSIKOLOGI PERKAWINAN, SALAHKAH SAYA SHARING?

Beberapa jam lalu, ada seseorang yang mengomentari status-status saya. Kok, tentang nikah-nikah mulu? Ada apa ini?

Katanya kalau ada adek tingkat yang posting soal nikah, itu kurang elok? Dari mana sih dalilnya?

Saya akhirnya menjawab secara frontal. Belakangan ini, statusnya memang soal psikologi keluarga dan perkawinan. Kenapa saya menulisnya? Sebab, pertama: beberapa minggu lalu saya nyaris tertipu oleh pria tidak baik yang hendak melamar saya. Kedua, karena saya dan adek tingkat memang sedang sharing mengenai pengetahuan pra-nikah (soalnya adek tingkat curhat pada saya). Ketiga, murni karena saya orang yang suka nulis, suka belajar dan sharing. Jadi, apa yang kurang elok? Bukankah pengetahuan itu kudu dibagikan? Lagian, saya juga membagikannya, berharap yang lain bisa ikut diskusi agar pandangan kita bisa semakin luas mengenai topik tersebut.


Memang sih, kalau dibilang saya kurang pantas posting mengenai itu lantaran belum menikah, jujur, saya memang belum punya pengalaman. Namun, apa selamanya harus berpatokan pada adanya pengalaman dulu baru kemudian sharing pengetahuan? Tidak, kan? Lagipula, banyak sekali orang di luar sana, khususnya para alumni psikologi yang kurang berminat untuk membagikan ilmu berkaitan dengan psikologi, apapun bidang konsentrasinya. Bukannya saya menyalahkan, tidak. Tapi, coba deh, kita mengubah pikiran dan pandangan lebih terbuka. 

Selama pengetahuan tersebut tidak melanggar syariat Islam, aturan hukum, SARA dll, saya akan tetap membagikannya. Bagi saya, percuma saya belajar A, tapi cuman saya empet dalam hati. Syukur-syukur pengetahuan itu nantinya bisa diulang dan terpatri kuat, sehingga bisa belajar untuk mengaplikasikannya kelak. Bukankah dengan menulis itu lebih baik daripada hanya mengandalkan ingatan?

Ya sudahlah ^_^. Semua terserah penilaian pembaca. Selagi saya masih hidup, masih bisa sharing, insya Allah saya akan tetep menulisnya. Lagian, hehe memangnya postingan saya cuman baru-baru ini saja toh soal perkawinan? Besok-besok kalau ada tema hangat yang lagi saya obrolin sama temen-temen, pasti saya akan bahas itu juga hingga beberapa hari.

Terima kasih buat kritiknya. Tapi, mungkin akan lebih baik lagi bila kritikan tersebut tidak klise alias jelas apa yang mau dikritik. Kalau cuman bilang "tidak pantas", "tidak elok", kalau itu nggak melanggar syariat, tentu akan saya anggap sebagai angin lalu.

MAHASISWA KAMI, DAI MUDA KAMI

Saya sih belum berhasil punya kesempatan untuk nonton acaranya. Tapi, alhamdulillah, salah satu mahasiswa kami di STAIN Parepare, ada yang berhasil maju dan bersyiar melalui acara DAI MUDA di stasiun MNC TV. Namanya Zulfajar Najib. Dia dulu mahasiswa saya waktu masih semester 5. Anaknya memang cerdas (dia selalu dapat nilai tinggi di kelas tanpa nyari perhatian looh ya), gemar ngikutin lomba MTQ dan sering juara juga. Pengetahuan Islam-nya bisa dibilang memadai.

Jadi, buat temen semua, terutama yang ada di Sulawesi Selatan, mohon dukungannya ya buat mahasiswa sekaligus teman kami: Fajar. Caranya, ketik DAI (SPASI) FAJAR kirim ke 6288. Jangan lupa juga nonton performance-nya yaa (hikkksss nanti malam dia tampil jam 11 malam, saya udah tidur tuh jadi gak bisa nonton lagi).

SAHABAT PILIHANKU

Hingga saat ini, alhamdulillah hubungan dengan para sahabat masih tetap terjalin meski kami semua saling berjauhan.

Kalau kalian bertanya, siapakah sahabat "nyata" saya? ^__^ Mereka adalah sebagai berikut:
  1. Warda: dia ini temen saya sejak SD loooh. Dia sekarang masih kerja di Bank Muamalat Capem Parepare. Dia cinta dan gila banget sama Korea. Rumahnya itu terletak di pinggir jalan seberang kompleks rumah saya yang di Parepare dulu, makanya kami juga sering saling berkunjung. Dia juga temen yang getol banget promosiin buku saya tanpa pamrih lagi :D. Sampai sekarang, kami masih sering contact, baik SMS, telepon maupun sosmed. Saya dan Mama saya juga cukup mengenal orangtua si Warda, terutama Mama dan Bapak Warda. Hehehe, Bapaknya juga humble banget.
  2. Nawira atau yang saya panggil Wira: Dia ini sahabat saya semasa SMA, duduknya sebangku terus, sekelas terus, kelebihan dan kekurangan yang kita miliki itu saling melengkapi (udah pernah saya ceritain kok di blog ini). Dia juga yang menginspirasi saya untuk mengenakan jilbab. Dia adalah pengaruh terbesar saya sejak SMA (dia yang mengubah jalan pikiran dan hati saya menjadi tenang dan bisa menghadapi segala masalah semasa sekolah). Saya juga kenal baik dengan Mama, Bapak, Nenek dan adek-adeknya. Keluarganya sederhana tapi selalu bikin terenyuh. Saya malah pernah makan malam bareng keluarganya dengan menu sederhana tapi sangat berarti dan juga pernah tidur di rumahnya pas lagi ngerjain tugas melukis hehe. Oh ya, dia ini pengantin baru looh. Perjuangannya untuk menikah tuuh super banget deeh soalnya sempat ditolak ehh yang namanya jodoh, akhirnya Bapaknya nerima. Dia ini bidan, sekarang lagi ngambil S1 dan S2 dengan konsentrasi sekarang lebih kepada pendidikan (di kuliahnya dia sekalian dibina jadi dosen gitu deh). Sampai sekarang juga masih contact.
  3. Mia : ini nih si kecil cabe rawit, cerdas dan lucuuu. Mia ini temen semasa kuliah. Baru mulai deket itu sekitar semester 4 atau 5 waktu S1 dulu lah, pas lagi banyak tergabung dalam kelompok tugas yang sama. Saya sering banget pergi kajian, syuro', mampir bahkan tidur di kosnya, ehehe. Saya panggil dia Miaw, dia panggil saya Emaw. Sekarang juga masih kontak. Dia sekarang masih bekerja jadi konselor di Autist Centre, Tangerang. Aslinya dari Lombok. Kalau saya ada masalah, biasanya suka curhat ke Miaw, minta masukan juga.
  4. Uun : Ini juga teman semasa kuliah. Kami baru bener-bener deket pas semester 5 atau 6. Sama kayak si Miaw, kami deket karena tugas kelompok dalam konsentrasi bidang minat yang sama. Dia ini anak orang kaya tapi murah hati banget. Dia juga termasuk talk active, jadi kalau saya ngobrol sama dia, saya lebih banyak mendengarkan dan ngasih dorongan minimal hehehe (kayak konseling aja). Darinya, saya belajar banyak tentang lika-liku kehidupan. Dia waktu kuliah, ayahnya meninggal. Ayahnya ini dermawan banget orangnya. Makanya, yang tadinya Uun ini hobi shopping, sekarang sudah berubah gak kayak dulu lagi, yang jelas perubahannya lebih baik. Alhamdulillah, tahun ini, nggak lama lagi dia bakalan nikah. Sekarang ini dia udah tesis dan insya Allah tinggal nunggu ujian dan lulus jadi PSIKOLOG. Dia asli dari Pasuruan.
  5. Dhini : Saya kagum dengan sahabat saya satu ini. Sekarang juga masih kontak tapi kami memang jarang saling curhat karena Dhini ini orangnya agak tertutup daripada saya. Dia ini sosok wanita tegas, banyak cobaan semasa kuliah yang menderanya tapi dia tetep tegar. Saya belajar banyak darinya. Dia juga pernah menjabat sebagai Sekum dan Bendum LISFA (organisasi rohis fakultas yang menaungi kami). Dia juga tergolong single acute (semenjak putus dari pacarnya, perubahan dirinya tampak lebih mulia dan bisa dibilang aura kesalihannya tercermin dari sikap, tutur katanya yang lembut dan perbuatannya. Luph U my teletubbies (hehe iya awalnya kami berempat, saya, Ratri, Puput, Dhini). Dia asli Banjarbaru, KalSel. Waktu kuliah, saya suka banget mampir istirahat di kosnya sambil cerita, makan-makan dan lain-lain hehe.
  6. Masih ada sih sebenarnya, ada Munadiyah dan Oka juga (sahabat semasa pertama masuk kuliah). Mun asli Ternate, Oka asli Surabaya. Cewek-cewek kece ini seru banget kalo diajak jalan. Mereka juga humble, ramah dan pokoknya yang baik-baik dah. Sekarang juga masih kontak tapi gak begitu sering karena kesibukan mereka. Kadang kalau mereka lagi di Malang, baru bisa ketemu soalnya Mun kuliah S2 di Ubaya dan Oka kerja di Surabaya.
  7. Trus ada Mbak Aprilia Koliandri, Mbak Rika, Mbak Siska Niagara yang kesemuanya adalah kakak tingkat semasa S1 sekaligus temen satu rohis dan murabbi kami.

SURAT CINTA DARI EDITOR LAGI

Alhamdulillah, kemarin, saya buka email dari Mbak Luky (editor di Elexmedia Komputindo). 

Naskah saya yang ke-4 bertema Bullying akhirnya diterima. Tapi, kata Mbak Luky, masih ada yang perlu direvisi: ada yang mau ditambahin dan dikurangi. Terus, ngeditnya baru akan berjalan Agustus besok.

Agustus ya? Heum, semoga revisinya bisa berjalan lancar, nggak molor dan tepat waktu sebelum memasuki September. Sebab, September itu musim perkuliahan udah mulai, matrikulasi lagi. Semoga bisa segera selesai dan diberi kemudahan, aamiin.


Jadi, kesimpulannya.. insya Allah akan ada 1 novel yang terbit dari imprint Sheila (Penerbit Andi), 1 buku nonfiksi Islami tentang pemuda dari Penerbit Qibla (lagi) dan 1 buku nonfiksi Islami/Inspiratif tentang Bullying dari (imprint Quanta) Penerbit Elexmedia Komputindo.

Semoga semua karya solo saya juga CKUS ini bisa tetep ngasih manfaat, kebaikan buat semua pembacanya.

Untuk jadwal terbitnya, sebagian mungkin akan terbit akhir tahun 2014, dan insya Allah sisanya mungkin terbit awal 2015. Nanti insya Allah saya infokan lagi kalau udah terbit dan akan ada GA lagi (kalau gak lagi sibuk aja ya).

Terima kasih ya buat semua sahabat, teman-teman yang udah support, ngasih inspirasi dll. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian ^_^.

KENA LEMPAR LIEBSTER AWARD LAGI


Terima kasih buat yang baru aja ngelemparin saya hehe: si Syifaa. Oke deh, to the point aja. Liebster award itu adalah ajang silaturahmi para blogger. Syarat-syaratnya sebagai berikut:

  1. Post tentang award di blog ini
  2. Ucapkan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan pada award ini dengan menyertakan backlink ke blognya.
  3. Ceritakan 11 hal tentang diri anda.
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan.
  5. Pilih 11 blogger dan berikan mereka 11 pertanyaan tentang hal bebas yang ingin diketahui dari mereka.

11 Hal Tentang EMMA
  1. Muslimah (tentunya perempuan berjilbab)
  2. Sangat suka warna hijau :D
  3. Salah satu orang yang tidak bisa/tidak suka/tidak mau makan daging sapi dan kambing. Ayam masih boleh, tapi lebih suka seafood karena dulu pernah hidup dan tinggal di daerah pesisir pantai (belakang rumah pantai).
  4. Rada pendiam soalnya punya kepribadian dominan introvert :)
  5. Suka nulis dan baca dari kecil
  6. Suka belajar apa saja tanpa ada yang nyuruh
  7. Kalau ada hal yang tidak disukai, saya langsung to the point pasang wajah cemberut dan rada marah tapi, kalo saya marah, biasanya gak bertahan lama... setelah beberapa menit langsung biasa aja sok innocent :D
  8. Gak begitu suka basa-basi (kecuali untuk keperluan konseling sangat butuh basa-basi dengan klien demi membangun rapport). Jadi, kalo ada yang mau nanya-nanya ke saya, langsung aja ucapin atau nulis pertanyaannya, gak perlu pakai pertanyaan basa-basi apalagi sambil nanya "Hai, udah makan belom? Gie ngapain?" Hedeuuh NO ALAY!!
  9. Tata bahasa saya jauh lebih baik dalam tulisan daripada lisan (kalo ngomong langsung kadang terdistorsi, ini salah satu efek samping kepribadian introvert. Bukan nggak bisa ngomong tapi kalo diajak ngobrol gitu, biasanya jawab seperlunya. Kalo diminta cerita/ngomong panjang lebar, biasanya ada detik di mana satu atau dua kata terdistorsi dan harus diulangi lagi biar lebih jelas. Kalo bicara di depan podium/khalayak ramai, biasanya butuh materi visual agar omongan saya terkontrol dan lancar hehe :D
  10. Penderita maag (kadang kumat kadang sembuh sendiri)
  11. Psychologist wanna be (insya Allah ini lagi daftar masuk S2 Profesi, mohon doanya ya hehe)

11 Pertanyaan Dari Asy-Syifaahs dan Jawabannya

1. Tiga kata tentang diri kamu?

Introvert, pendengar yang baik, organized people

2. Dua hal yang kamu sukai dari diri kamu?

- Tinggi badan yang proporsional :p (166 cm, gak terlalu tinggi, gak pendek juga)
- Saya suka sifat dan sikap saya sebagai pendengar yang baik (ini dari apa kata temen-temen saya yang suka curhat)

3. Tiga hal yang tidak kamu sukai dari diri kamu?

- Saat stuck karena masalah, sering bahasa lisan lebih sulit dikeluarin daripada menjelaskan lewat tulisan
Mungkin satu itu saja yang paling tidak saya sukai. Selebihnya, saya bersyukur dengan segala kekurangan yang ada (karena saya gak membencinya jadi nggak saya tulis ya)

4. Arti seorang sahabat menurut kamu?

Sahabat adalah cermin diri saya. Jadi, kekurangan dan kelebihan saling melengkapi pada diri kita masing-masing. 

5. Pandanganmu terhadap blog?

Bagi saya, blog itu ibarat apartemen private kedua setelah rumah bagi saya. Bukan hanya sekadar tempat berbagi, melainkan lebih luas sebagai fasilitas kehidupan untuk saya.

6. Siapa yang paling menginspirasimu untuk menulis blog?

Sebenarnya nggak ada, karena saya berinisiatif sendiri membuat dan menulis blog. Jadi jawabannya, inspirasi itu berasal dari motivasi internal.

7. Jenis blog yang disukai, dan kenapa?

Personal blog. Lebih komplit aja. Sekalian bisa kenal si pemilik blognya juga. Personal blog juga kontennya lebih luas karena biasanya berisi pengalaman-pengalaman hidup.

8. Manfaat blog menurut kamu?

Sarana untuk belajar mengenai kehidupan, sarana untuk berbagi pengetahuan dll

9. Suka sama blog Raditya Dika? Iya, kenapa? Nggak, kenapa?

Pernah ngunjungin beberapa kali sih. Suka juga nggak begitu. Dibilang nggak suka, juga tidak. Ya, standar lah. Kalo lagi suntuk, kadang nyari inspirasi ke blog para komedian untuk menurunkan stres, hehe.

10. Menurut kamu, blog aku gimana?

Alhamdulillah, sekarang tampilan blognya bagus, tertata rapi. Kalau bisa, ditambah lagi konten isinya, misal mengenai hal apa yang paling Syifa kuasai. Misal, suka masak, ada konten resep masakan, lumayan kan bisa dibagi-bagi infonya hehe. Sebetulnya, saran ini agar blog Syifa punya ciri khas aja, jadi semakin mudah mengenalnya.

11. Kenal aku? Coba deskripsikan aku menurut pandangan kamu. Kalau belum kenal, ceritain aja apa yang kamu tentang seorang ASYSYIFAAHS.

Waah, gak begitu kenal, hanya di dunia maya. Tapi sepenangkapanku dari tulisan-tulisannya, sepertinya memang benar kalau Syifa menyebut dirinya sebagai Periang. Dengan baca tulisan-tulisannya, saya seolah kayak ngobrol face to face sama orangnya, energik. Ya mungkin hanya itu yang saya tangkap.


Oke deh. Karena saya udah pernah nyolek, jadi pada kesempatan kali ini nggak nyolek lagi ya. 

Makasih ^^

AYAH, JANGANLAH BERSEDIH

Ini adalah request-an dari Mbak Icha. Ngapunten kalo postingannya telat. Kalau request-an yang ini bisa dibilang curhat gitu ya, hehe.

Beliau bertanya seperti ini:

"Bapakku adalah salah satu orang terpandang dan cukup di'orang'kan di daerah tempat lahirku. Meski pas pas an tapi bapakku mampu menyekolahkan 7 putra putrinya sampai S2.

Nah sejak awal tahun bapakku jatuh sakit yang tak kunjung sembuh, wah complicated lah, keluar masuk rumah sakit, operasi dll. Karena bapak sudah tidak bekerja maka semua biayanya di tanggung anak-anaknya.Nah selama sakit bapak selalu menangis, merasa sudah tua, merasa sudah mau (naudzubillah) mati, tapi merasa belum tuntas dalam menyelesaikan tugasnya sebagai seorang bapak. Karena kakak laki-lakiku meski sudah mapan belum menemukan jodohnya jadi blm menikah. Aku (satu-satunya sisa anak perempuan) sudah punya pacar tapi belum juga dilamar karena masih banyak hal yang membuat aku blm menikah dan satu lagi adikku yang masih kuliah.Sepertinya 3 hal itu selalu membuat bapakku menangis..... lah kita sebagai anaknya sudah berusaha semaksimal mungkin menenangkan bapak, menyemangati agar yang penting sembuh dulu. Karena sekeras apapun kita berusaha jodoh untuk mas ku dan aku adalah di tangan tuhan. Tapi bapak tidak seperti bapak yang dulu, yang semangat yang optimis yang ceria, kini sedikit sedikit haru, lalu menangis. oya mak.. aku 7 bersaudara.. empat saudaraku sudah berkeluarga. tinggal 3 yang belum berkeluarga ya itu yang menjadi pikiran bapakku. Aku, mas atasku pas dan adikku yang sedang skripsi. umurku 26 tahun :D."

----
Kalau saya tangkap, inti ceritanya itu soal kegelisahan Bapak dari Mbak Icha karena persoalan jodoh kalian ya?

Ayah manapun dan siapapun itu pada umumnya memang akan mengalami hal seperti yang Bapak Mbak rasakan/alami. Tak peduli beliau masih mampu menghidupi anak-anaknya, tak peduli gimana pun statusnya, tak peduli beliau mengalami sakit atau tidak.

Ayah itu adalah laki-laki, kan? Laki-laki itu biasanya agak sulit untuk mengeskpresikan atau mengungkapkan kegelisahannya secara detil kepada orang lain, pun pada anak-anaknya sendiri. Ayah juga adalah kepala keluarga. Jadi, sampai kapanpun, seorang Ayah bakal ngerasa "bersalah" kalau belum mampu mewujudkan kebahagiaan anak-anaknya meski nyatanya beliau udah tak perlu dipertanyakan seberapa besar jasanya sejak anak-anaknya dilahirkan.

Kekhawatiran Bapak si Mbak yang terbesar itu karena dia sedang sakit. Khawatir beliau keburu tutup usia, makanya mengamanahkan pada kalian agar segera mencari jodoh. Itu hal yang wajar. Kesedihan yang dirasakan pun sangat wajar.

Jadi, kalau boleh ngasih saran. Upayakan semaksimal kemampuan kalian untuk memenuhi permintaan si Bapak. Wallahu'alam, bisa jadi itu adalah permintaan terakhir sebelum beliau "pamit".  Bapak khawatir karena kakak laki-laki belum juga menikah. Bapak juga khawatir karena Mbak Icha tak kunjung mendapat kepastian arah hubungan dengan sang pacar. 

Jodoh itu memang akan selalu ada di tangan Tuhan, Mbak. Tapi, jika nggak ada ikhtiar/usaha, maka selamanya hanya akan bertengger di tangan Tuhan. Buat kakak laki-lakinya, coba deh Mbak bantuin untuk menjodohkan Mas-nya dengan seorang kenalan. Atau, bisa juga meminta bantuan kerabat keluarga maupun ustadz/ustadzah untuk mencarikan seorang wanita yang layak diperistri oleh si Mas. Jangan lupa, tanyakan juga kepada si Mas, dia maunya perempuan dengan kriteria khusus apa. Sehingga akan lebih mudah nyarinya selain mempertimbangkan agama dan akhlaknya.

Buat Mbak. Mbak sudah punya pacar. Pacaran itu memang bukan jaminan mutlak akan berakhir ke pelaminan, stag di tengah jalan dalam waktu yang lama atau mungkin kandas. Jadi, kalau memang Mbak merasa sudah siap untuk menikah (tanpa adanya keterpaksaan karena permintaan ortu), alangkah baiknya, tanyakan ke pacar Mbak, kapan dia akan memberikan kepastian mengenai akhir perjalanan kalian. Kalau terlalu lama pacaran atau menunda untuk pacaran dulu dalam waktu yang makin tak terhitung, juga tidak baik (kalau Mbak adalah seorang Muslimah). Yang melamar lalu digantungkan dengan jawaban penantian saja, tidak disarankan begitu karena bisa menimbulkan fitnah apalagi bagi mereka yang pacarannya udah lama.

Jadi, Mbak juga harus tegas kepada sang pacar. Jika memang sang pacar merasa belum siap, apakah Mbak sanggup menanti dalam waktu yang lebih lama? Sementara di sisi lain, ketidakpastian itulah yang membuat si Bapak jadi merasa bersalah dan "sakit". Seorang laki-laki sholeh yang benar-benar berani mencintai seorang perempuan itu, tidak akan memacari perempuan tersebut. Laki-laki pemberani itu adalah mereka yang sangat berpegang teguh pada janjinya. Kalau mereka siap mencintai, pasti mereka hanya akan memilih di antara dua hal ini: menikahinya atau melepasnya untuk pria lain yang sudah siap.

Maaf, Mbak, bukan maksud saya menggurui. Tapi, saya hanya menjelaskan apa yang saya pelajari dari bingkai Islam. 

Jadi sekarang, sembari ikhtiar dengan jalan yang tepat, Mbak bisa nyambi istikharah dan terus berdoa untuk si Bapak pula agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Mintalah pada si Bapak untuk bersabar barang sebentar. Kalau pacar Mbak sudah ada kepastian, maka disegerakan saja untuk diperkenalkan lebih dalam lagi mengenai niat menikah kalian kepada si Bapak. Mungkin, itu bisa mengurangi sedikit dari kegelisahan beliau.

Cukup sekian dulu penjelasan dari saya ya Mbak. Kalau ada yang ingin ditanyakan lagi, monggo. Maaf kalo masih banyak kekurangan. Terima kasih atas request-annya ^_^

Best regards,