Pages

CURHAT MAPRO PSIKOLOGI: ANAK ABK, AHLI SURGA?

Lagi dan lagi kami memperoleh pelajaran berharga di kelas Intervensi Komunitas yang diampu oleh Pak La. Pokoknya ya, yang namanya diajar sama Pak La itu, bukan cuman bakal menghasilkan produk berupa jurnal, booklet atau produk akademik lain, melainkan juga kami bakal selalu membawa pulang sebuah hikmah dari cerita-cerita yang beliau sampaikan.

Kemarin, kami kuliah dari pagi kemudian dilanjutkan sore hari, sehari penuh bersama Pak La. Pada jam siang menjelang sore, kami membahas tugas dadakan tentang kasus psikologis yang kami cari (beberapa jam lalu) melalui koran disertai upaya preventifnya. Satu kelompok sudah maju mempresentasikan tugas mereka. Salah satu kasus yang mereka temukan di koran adalah kasus ABK. Kelompok saya juga nemu sih satu kasus ABK. Nah, usai kelompok satu presentasi, Pak La ngasih feedback dan evaluasi panjang lebar. Kemudian, sampailah pada cerita beliau mengenai ABK.

Pernah, Pak La bertemu dengan seorang psikolog di Malang. Psikolog tersebut pernah berkata, "Anak-anak yang terlahir down syndrome, cacat fisik ataupun cacat mental lainnya seperti Autis, ADHD dan lainnya itu sepertinya disebabkan oleh dosa-dosa dari orang tua mereka."

Sewaktu mendengar cerita itu, saya teringat dengan kisah-kisah yang ada di sinetron. Ya ampuun, kayaknya tuh psikolog suka nonton sinetron deh jadinya apa yang diomongkan tuh ngawur. Sampai sekarang, nggak ada bukti ilmiah/empiris (jurnal atau lainnya) yang menghasilkan pandangan bahwa anak-anak ABK/cacat adalah hasil dari dosa orang tuanya. Kalau berpikir logis, memang tampaknya juga nggak masuk akal sih omongan psikolog itu. Toh, kalaupun ada, nggak semua ABK seperti itu kan?

Pak La pun teringat dengan pengalamannya sewaktu ke Kelantan, Malaysia. Waktu itu bertepatan bulan April yang merupakan bulan perayaan hari Down Syndrome dunia. Pak La ikut ngumpul-ngumpul bareng peserta seminar lain dalam acara fun bike. Lalu, salah seorang peserta--yang bukan orang psikologi--berkata, "Anak-anak ABK itu adalah ahli surga karena mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk disebabkan kecacatan mental yang dialami."

Mendengar celetukan orang tersebut, Pak La takjub. Beliau kagum pada kalimat orang itu. Pak La pun membandingkan omongan psikolog dengan omongan orang biasa tadi. Ada sebuah hikmah yang bisa kita tarik dari cerita Pak La itu.

Sebagai seorang terpelajar dan berpendidikan tinggi seharusnya tidak pantas langsung memberikan judgment dan menggeneralisir bahwa semua anak cacat disebabkan oleh dosa dari orang tua mereka. Pandangan tersebut tidak disertai dengan bukti empiris sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam ranah akademik. *Ini kita berbicara akademik loh ya, jangan nyampurin sama sudut pandang lain. Dari situ saya juga sempat berpikir, kalau saja waktu itu psikolog tersebut mengatakannya di hadapan orang tua yang punya anak ABK, apakah para ortu itu nggak sakit hati jadinya?

Lalu, Pak La juga menyampaikan pesan kepada kami dengan berkata, "Kalau ngambil pandangan dari orang non psikologi tadi, berarti psikolog, orang tua dan guru selaku pendidik justru harusnya bangga mendidik, merawat dan membimbing anak-anak ABK. Itu artinya, kita memberikan kontribusi dalam merawat calon-calon ahli surga. Hebat, kan?" 

Kami semua tersenyum dan Pak La pun sesumringah. Ya. Satu sih yang saya pahami juga. Anak ABK itu sebenarnya sama aja dengan manusia lain. Yang ngebedain cuman "hal spesial" yang dikaruniai Tuhan pada mereka. Siapapun yang memiliki atau mengasuh anak ABK, ujiannya nggak nanggung-nanggung beratnya dan pantaslah jika kelak orang-orang tersebut akan diberikan balasan berupa pahala yang besar karena telah merawat dan membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Kata "ahli surga" itu mungkin cocok untuk disampaikan kepada mereka (ortu atau guru yang berhadapan dengan ABK) agar mereka tidak banyak mengeluh, mensyukuri anugerah berupa "anak spesial" titipan Tuhan, bisa bersabar mengurusnya dan merasa bahagia karena memiliki mindset unik yaitu mereka sedang merawat calon ahli surga.

Begitulah cerita kali ini
Kapan-kapan dilanjutin lagi.

NB: Insya Allah, semua cerita-cerita yang berhubungan dengan unsur-unsur psikologi dalam blog ini akan saya terbitkan menjadi buku jadi bila ada yang hendak meng-copy tulisan dalam blog ini, mohon disertai sumbernya yaitu link blog saya ini ya. Terima kasih.

HINDARI MENGATUR BERLEBIHAN & MEMBENTAK ANAK

by catatanistri.com
Sekedar intermezzo mengenai gambar di atas, saya peroleh ketika membaca status teman Facebook. Saya sedih melihat ekspresi anak yang menggemaskan itu.
------
Selama praktikum ini, ada banyak sekali kasus-kasus yang bertebaran. Walaupun mayoritas kasusnya masih dalam ranah "problem psikologis" dan nyaris nggak ada yang nemu kasus "disorder", tapi bila diinterpretasikan ke masa depan, problem-problem psikologis yang ada sekarang ini lama-kelamaan akan menjadi gunung es di kemudian hari.

Berbicara soal masalah psikologis pada anak, banyak sekali memang. Ujung-ujungnya, kalau lagi bahas masalah pada anak, pasti kami akan selalu mempertanyakan, "Orangtuanya itu gimana?"

Sebagai contoh, ada 2 kasus pada anak. Satunya problem psikologis, satunya lagi udah dalam taraf gangguan. 
Sebut saja A. Setelah dites, anak bernama A ini memiliki IQ di atas rata-rata. Namun, selama pengetesan IQ, banyak kejanggalan yang terjadi ketika menjawab pertanyaan dari tester. Dengan usia yang telah menginjak 8 tahun, semestinya si A sudah bisa berpikir abstrak (walau masih taraf belajar) dan seharusnya si A juga bisa lebih kreatif karena mengingat IQ-nya di atas rata-rata tadi. Namun, hal tersebut tak ditemukan dalam diri si A. Sebagai contoh, si A sukar menjawab soal pengulangan deret angka dari belakang. A hanya bisa mengerjakan soal pengulangan deret angka dari depan. Kemudian, pada beberapa subtes verbal, si A seringkali memberikan pola-pola jawaban yang dangkal dan kurang mampu meramunya menjadi kalimat-kalimat yang lebih kreatif.

Setelah ditelusuri, menurut sang tester, rupanya di rumah, anak tersebut memang sudah di-setting oleh orangtuanya. Maksudnya, sejak kecil, si A ini bener-bener ditata untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Si A diberi makanan yang bergizi tinggi, kemudian selalu ditata agar menjadi anak yang penurut. Orangtua si A juga sering mengatur-atur si A, harus begini dan begitu tanpa memberikan kesempatan bagi si A untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Akibatnya, si A tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat sistematis, tidak akan mau melakukan sesuatu tanpa disertai aturan yang pasti, kaku dan   kreativitasnya tidak terasah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan antara skor IQ dengan fakta keseharian si anak. Malah beberapa di antara teman kami yang menyimak analisis kasus tersebut sampai menginterpretasi, "Nanti kalau udah gede, bisa gawat apalagi anak cowok. Kalau diatur-atur kayak gitu terus, bisa-bisa si anak jadi suami-suami takut istri lagi." Hahaha... interpretasi yang terlalu jauh tapi masuk akal juga sih hehe.

Kemudian, masalah kedua masih pada anak. Sebut saja B. Dia adalah anak tunggal dari ibu dan bapak yang pendidikannya sama-sama lulusan magister. Sayangnya, si B harus dijebloskan ke dalam RSJ karena terdapat tanda-tanda psikotik yang mengarah pada gangguan skizofrenia. Setelah ditelusuri, ternyata si anak ini selalu dipaksa dan diatur oleh orangtua agar menjadi sesuai keinginan orangtua. Si anak harus mengikuti sejumlah les-les privat akselerasi yang sangat tidak masuk akal. Orangtuanya saat ini sangat menyesal melihat keadaan si B yang makin parah dari hari ke hari.

Dari kedua ilustrasi kasus di atas, mengapa sih tidak boleh mengatur-atur anak disertai paksaan?
Eum, sebenarnya wajar bila orangtua menginginkan agar anaknya tumbuh menjadi sosok terbaik nan membanggakan. Namun, tidak semuanya harus serba diatur. 

Anak juga butuh solitude time (ini istilah pribadi saya aja sih hehe). Dalam solitude time ini, biarkanlah si anak untuk belajar melakukan atau memutuskan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dengan begitu, si anak juga akan belajar konsekuensi dan tanggung jawab dari apa yang sudah dilakukan. Selain itu, orangtua yang notabene pengetahuannya sudah tentu lebih luas daripada sang anak juga sebaiknya mengarahkan anak agar bisa berpikir abstrak, bukan hanya berpikir konkret terutama dalam proses belajar problem solving.

Selain mengatur-atur secara berlebihan, hal lain yang sering dilakukan orangtua terhadap anak adalah membentak. Tindakan membentak anak juga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan fisiknya. Sebuah studi internasional dari Amerika pernah mengadakan penelitian dan telah membuktikan bahwa detak jantung seseorang akan cenderung meningkat ketika menerima atau mendengar suara bernada tinggi. Ketika seseorang kerap mendengar suara-suara bernada tinggi atau yang bernada sentakan, lama-kelamaan denyut jantungnya akan menjadi lebih cepat sehingga menyebabkan jantung gampang lelah.

Selain itu, masih ingatkah kita dengan salah satu bait dalam sebuah petuah lama. Eum, kalau tidak salah intinya itu melarang kita mengasuh anak dengan kemarahan karena ia akan belajar untuk memaki, berontak dan bermusuhan (hehe saya lupa kalimatnya apa).

Dampak secara psikologisnya, si anak yang sering mendapat respon negatif seperti teriakan, amarah dan bentakan akan memicu kegagalan pada fungsi kepribadiannya kelak. Si anak akan tumbuh menjadi individu yang suka minder, tidak percaya diri, pemarah dan pemberontak.

Secara umum memang nggak mudah gitu ya menghadapi anak ketika ia berbuat salah. Banyak orangtua langsung merespon dengan memarahi dan membentak. Sebagai contoh yang pernah saya saksikan pada sepasang suami istri yang menikah muda. Ketika si anak bermain lalu tanpa sengaja menghilangkan barang/benda permainan yang sudah diberikan oleh ibunya, Sebenarnya si ibu bermaksud baik, ingin menasehati agar si anak tidak mengulangi kecerobohannya. Setelah saya tanya diam-diam, rupanya si anak yang masih SD ini mengaku bahwa ia memang sedikit ceroboh dan setiap melakukan kesalahan, si ibu pasti mengomelinya. Si ibu marah-marah dan si anak mundur hingga mepet ke tembok dengan ekspresi takut. Si anak cemas dan berlari pada saya saat itu. Sementara si bapaknya justru diam, hanya bertindak sebagai penonton, nggak ada upaya untuk melerai atau menahan amarah istri. Yaaah... akhirnya, saya secara diam-diam ikut menasehati anak tersebut secara baik-baik. Saya pun mengajaknya bermain agar melupakan kesedihan dan kecemasannya. Setidaknya, saya salut dengan anak tersebut. Masih kecil tapi sudah pandai mengoreksi kesalahannya. Dia juga tergolong cerdas karena secara insidental, saya sudah mengujinya melalui tes-tes psikologi sederhana hingga yang rumit. Anak tersebut juga penurut, mau berubah menjadi lebih baik. Heuuum... entah dari siapa dia mempelajari hal tersebut, tapi dari situ saya melihat ada potensi baik yang akan sayang sekali bila orangtua tidak membantu mengoptimalkannya melalui hal-hal positif.

Nggak mudah memang ya jadi figur ortu yang baik. Tapi, bukan berarti dari sekarang kita nggak mau belajar kan? Untuk mengasah keterampilan dan kesiapanmu menjadi seorang ibu, coba aja deh sekali-kali gitu bergaul dan bermain sama anak kecil. Hehehe... saya sendiri sering bermain sama anak kecil. Di kompleks tempat tinggal baru kami, rata-rata dihuni oleh pasangan suami istri yang udah berumur 30-40 tahun tapi baru dikaruniai anak. Jadi, banyak anak kecil di kompleks rumah kami yang sekarang dan yang tertua di daerah RT 05 ini juga nggak banyak. Mungkin satu dua, termasuk Bapak dan Mama saya yang udah punya anak segede-gede gaban ini heheh.

Saya juga punya ponakan (anak dari sepupu yang nikah muda). Ponakan dari suami tante saya juga punya anak kembar yang masih di bawah tiga tahun. Gemeees banget soalnya kembar cewek cowok. Jadi, kadang kalau ada waktu free, saya mampir ke rumah tante saya (rumah mbakku yang ini berdempetan sama rumah tante di belakang kampus). Tiap ke sana, cuma ada anak-anak kecil jadi bergaulnya sama mereka. Main sama mereka. Kalau sama si kembar, saya lebih akrab sama si little Kenzo. Kenzo sangat aktif, murah senyum dan lebih mudah beradaptasi dengan orang lain. Kalau sama si Keyla, nggak begitu. Keyla malah malu dan agak nggak mau deket-deket saya, kelihatan sih kalau Keyla itu tipenya nggak mudah percaya dan nggak gampang beradaptasi dengan orang lain. Tapi, kalau saya lagi shalat di rumah Mbak gitu, si Keyla sering diam-diam ngintip dan bilang pada ibunya kalau saya lagi shalat. Hehehe lucu...lucu.

Loh kok malah jadi saya yang curhat hehehe.

Begitulah postingan saya kali ini (Sebenarnya ini late post, udah saya jadikan draft sejak bulan Desember lalu tapi baru sempat ngedit lagi pagi ini).

Semoga bermanfaat

Semangat pagi ^___^

KASUS ADE SARA: CINTA BERUJUNG MAUT

credit: makassarbisnis.com
Masih ingat dengan kasus pembunuhan Mahasiswi 19 tahun bernama Ade Sara? Yang ngikutin perkembangan beritanya, pasti masih hapal. Dulu pas kasus ini lagi hangat, saya nggak begitu ngikutin karena waktu itu jaraaaang nonton TV. Tahunya cuman pas di acara Hitam Putih dan TV One, itupun telat hehehe.

Saya sempat nonton juga di Youtube. Beberapa psikolog yang diwawancarai mengenai kasus tersebut, ada di antara mereka yang menyatakan bahwa kedua tersangka pembunuh Ade Sara itu mempunyai indikasi Psikopat. 

Sebenarnya saya pribadi kurang setuju dengan pernyataan psikolog tersebut karena kesannya langsung men-judge. Kecuali kalo psikolog tersebut memang orang yang menangani kasus itu, tentu tidak akan gamblang bicara demikian.


Bagi orang awam yang biasa nonton kasus pembunuhan yang berbentuk sadis kayak mutilasi atau sejenisnya itu, pasti banyak yang berceloteh, "Pembunuh berdarah dingin. Psikopat!" Tapi sejatinya, sebagai psikolog yang hanya mengamati tanpa "menyentuh" kasus itu, semestinya gak boleh langsung men-judge bahwa tersangka Hafitd dan Sifa itu adalah psikopat. Untuk memastikan apakah seseorang itu adalah psikopat, tentunya harus berdasarkan pada serangkaian tes dan hasil diagnosa yang valid. Observasi saja tidak cukup.

Kalau saya pribadi, melihat semua kasus pembunuhan termasuk kasus Sara ini, pasti memiliki motif. Kalau mau mengetahui motif itu sendiri, tentu tidak bisa hanya dengan mencomot atau mempercayai keterangan dari para pelaku atau saksi. Caranya bagaimana? Tentu kita harus mengurai benang panjang ke masa lalu kedua pelaku tersebut. Selain motif yang mungkin sudah mereka rencanakan, pasti ada faktor lain yang menyebabkan si pelaku mengambil jalan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara sadis seperti itu.

Kalau baca di berbagai sosmed termasuk blog, mayoritas menuliskan dari sumber yang sama. Tapi, saya kemudian memperoleh informasi yang sedikit berbeda. Ternyata memang benar, ada hal menarik lain yang sangat bisa menjadi faktor pencetus pelaku melakukan pembunuhan.

Flashback dulu deh ya ke ceritanya. Jadi, si Ade dan Hafitd ini pernah berpacaran. Terus, mereka akhirnya putus. Ade yang memiliki inisiatif untuk putus. Sayangnya si Hafitd ini tidak terima. Lucunya, di tengah ketidakmampuan Hafitd untuk move on dari Ade, ada wanita simpanan di belakangnya yaitu Sifa. Yaa bisa dibilang Sifa ini kekasih gelapnya gitu dah.

Karena tidak terima diputusin, Hafitd terus mengontak Ade tapi tak ada respon. SMS atau teleponnya ditolak/di-reject terus oleh Ade. Sikap avoidant (menghindar) yang dilakukan Ade inilah yang menjadi pemicu marahnya Hafitd. Di sisi lain, Sifa ini sangat cemburu karena mengetahui Hafitd masih mencintai Ade. Berdasarkan keterangan mamanya si Ade, Ade tuh nggak pernah mau berteman dengan Sifa karena menurut pengamatannya Sifa ini adalah gadis yang kurang baik. Jadi, pada awalnya memang sudah fix bahwa ada jarak di antara Ade dan Sifa.

Berhari-hari, Hafitd terus mengontak Ade, tapi ditolak lagi. Akhirnya bom molotov dalam hati Hafitd meledak sudah. Muncullah rasa frustrasi yang merupakan tanda ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhannya. Hafitd frustrasi karena gagal memenuhi kebutuhan kasih sayang. Ingin dicintai lagi oleh Ade, tapi tak pernah ada tanggapan baik dari pihak Ade. Sayangnya rasa frustasi ini justru diluapkan ke dalam bentuk negatif berupa tindakan agresi. Agresi ini maksudnya suatu tindakan yang bersifat merusak seperti menyerang, memaksa atau bentuk-bentuk kekerasan lain. Tindakan agresi ini lahir sebagai akibat dari rasa frustrasi seseorang yang tidak mampu mengendalikan dirinya. Yang menjadi buahnya adalah pikiran-pikiran negatif kemudian menguasai orang tersebut sehingga tidak lagi dapat berpikir jernih dan cenderung akan berbuat kerusakan yang mungkin saja bisa berakibat fatal.

Hafitd mulai merencanakan untuk membalas dendam kepada Ade. Pada waktu yang sama, Sifa pun ingin berniat jahat pada Ade namun mereka berdua beda motif. Yang satu tidak terima diputusin dan gagal move on, yang satunya karena cemburu buta. Untuk alur proses pembunuhannya tidak perlu saya jelaskan karena pasti kalian masih pada hapal, kan? :)

Mengingat dari keterangan pelaku, seorang psikolog forensik pernah angkat bicara. Terlepas dari apapun motif kedua pelaku ini, hal ini memunculkan bukti baru. Apakah itu? Menurutnya, kedua pelaku ini mungkin saja tidak berniat untuk membunuh. Mereka awalnya hanya berniat menyiksa/menganiaya korban. Penganiayaan ini dilakukan selama kurang lebih 7 jam di dalam mobil Hafitd. Korban dianiaya dengan alat kejut listrik bertegangan tinggi lalu mulutnya disumpelin sama kertas koran dan tissu. Nah, tindakan inilah yang kemudian tidak disadari oleh kedua pelaku bahwa apa yang mereka lakukan kemudian menyebabkan nyawa si Ade melayang. Akhirnya, yang tadinya mereka mau menghapus jejak, mereka malah bertindak ceroboh. Membuang mayat korban di pinggir jalan tol, salah satunya. 

Whatever laah ya, yang jelas ujung dari penganiayaan itu toh juga sudah melenyapkan nyawa orang.

Tapi menariknya, pada proses penyelidikan, kita memperoleh sebuah fakta lain di balik siapa sebenarnya kedua pelaku tersebut. Yang paling banyak disorot oleh media waktu itu adalah si Hafitd ini karena dia yang paling dekat sama korban alias mantan pacarnya. Kata mamanya si Ade, Hafitd ini adalah anak orang kaya namun selalu saja suka berbuat onar terhadap orang lain termasuk pada Ade. Menurut tetangga, Hafitd ini bukan orang yang ramah, suka marah-marah dan pernah kepergok berbuat kasar pada mantan pacarnya yang lama. 

Diketahui dari pola asuh keluarga pun juga sama "rusaknya". Ternyata Hafitd ini memang merupakan tipe anak yang sejak kecil sudah mengalami kekurangan akan kebutuhan kasih sayang dari orang tua. Ortunya itu jarang sekali menyisihkan waktu untuk Hafitd, malah cenderung tidak diacuhkan kalau di rumah. Akibatnya, Hafitd sering mencari kepuasan akan kebutuhan tersebut di luar rumah. Jadi, dari fakta ini bisa juga tuh diambil benang merah bahwa perilaku agresi Hafitd terhadap Ade ini adalah sebuah akumulasi dari pola-pola frustrasi masa lalunya. Jika diberikan tes psikologi, mungkin saja akan keluar hasil interpretasi serupa mengenai pola agresi ini.

Jadi, ini bukan hanya soal cinta segitiga, guys. Masalah ini jauh lebih kompleks penyebabnya jika diulur ke belakang. Masalah cinta segitiga, perselingkuhan dan gagal move on di kalangan remaja ini padahal hanya sebuah masalah yang sangat bisa diatasi dengan cara yang simple pula. Karena memang si pelaku ini menyimpan benih-benih negatif lama dalam dirinya, akibatnya jalan penyelesaian yang ditempuh serba fatal.

Hmm.. miris juga sih. Lagi dan lagi berangkat dari persoalan berlabel cinta masa muda. Pacaran, selingkuh dan lain-lainnya memang bukan hal tabu lagi bagi para remaja seumuran mereka. Namun siapa sangka, ketika masalah-masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan secara baik-baik, malah berujung pada maut.

Sikap penghindaran yang dilakukan oleh Ade sebetulnya juga keliru. Cara seperti ini memang akan berbuah pahit. Kenapa? Yang namanya manusia itu sifatnya penuntut, kan? Ketika dihadapkan oleh situasi di mana dia harus memperoleh jawaban pasti sesegera mungkin, maka mau tidak mau, dia harus mendapatkannya agar hatinya lega dan puas. 


Baiklah, sekian dari saya.
Semoga bermanfaat ^^

KAPAN ANAK SIAP BERSOSIALISASI?

Bismillahirrahmanirrahim...
Ngapunten banget buat yang udah request. Langsung aja, sekarang saya akan coba uraikan hasil request-an Bunda Tri Wahyu Handayani.

Berikut ini adalah pertanyaan beliau:
by halocities.com
"Saya punya side job sebagai guru les musik (piano). Akhir2 ini ada trend, ibu2 muda me-les-kan putra-putrinya msh sangat muda, 2 sampai 4 tahun. Mereka agak 'maksa' me-les-kan anak2nya tsb, alasannya spy ada kesibukan. Nah, beberapa anak tsb memang tidak siap, ada yg nangis tiap les. Ada yg tenang2 udh les, tapi Bundanya diam2 keluar ruangan, pergi kemana. Minggu berikutnya anak tsb ga mau ditinggal oleh Bundanya, nangis berkepanjangan dan tantrum. Ini terjadi bukan pada satu anak saja.
Sebagai guru suka bingung menghadapi anak yg tantrum dan Bunda yg memaksakan kehendak.
Memang ada sih anak2 yg siap belajar musik di usia yg sangat muda. Tetapi tidak semua anak siap bukan?
Bahkan ada anak2 yg diam saja, tidak siap menerima arahan, nunduk terus, tidak bicara apapun.
Sebagai guru sering merasakan seorang anak ada masalah atau tidak karena perbandingan dengan anak2 yg lain, tetapi tidak tahu masalahnya apa. Mungkin karena bukan psikolog.

Pertanyaan saya, usia berapa anak siap menerima arahan dan bersosialisasi? Bagaimana menjelaskan ke Bunda2 tersebut bahwa anaknya ada masalah dan sebaiknya dikonsultasikan ke ahlinya."

----
Beberapa hari lalu, saya baru saja sibuk menikmati acara TV melalui Youtube mengenai persoalan psikologis dengan bintang tamu para psikolog anak khususnya. Salah satu topik permasalahan yang sedang dibahas bersama Mbak Lizzie (Psikolog) yaitu mengenai bagaimana orangtua mengarahkan anak untuk mengasah bakatnya.

Zaman modern sekarang kan udah banyak bertaburan les-les private. Ada les private khusus akademik seperti Matematika, Bahasa Inggris dan sebagainya. Ada juga les yang mewadahi hobi/kesenangan/bakat dan minat anak. 

Dari uraian singkat yang dipaparkan oleh Bunda Tri di atas, tampak jelas sekali bahwa ternyata masih ada looh ortu yang "sengaja" memasukkan/mengikutkan anaknya ke sebuah lembaga les/bimbel hanya karena gengsi atau faktor lain yang memang bersifat eksternal. Di samping itu, anak-anak mereka sudah menunjukkan ketidaksukaan/ketidaktertarikan pada jenis tersebut. Lalu, salahkah cara yang dilakukan ortu-ortu itu? 
Mengenai bakat dan minat anak ini biasanya sudah bisa dideteksi sejak dini dan dari usia yang bervariasi. Ada anak yang sudah mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap sesuatu hal pada usia 3 tahun, 4 tahun atau bisa lebih cepat dan lebih lambat dari itu. Sebagai orang tua, tugas mereka bukan hanya sekadar mendeteksi, "Oooh jadi dia suka main piano. Ooh jadi si adek sukanya menggambar." Biasanya, anak itu akan lebih mudah berpindah-pindah dari satu objek ketertarikan ke objek lainnya. Intinya, di usia yang sangat dini ini, minat anak masih sangat mungkin mengalami perubahan.

Trus gimana dong cara mengetahui bahwa A atau B itu adalah bakat/minat anak yang paling menonjol? Cara konvensionalnya adalah, rajinlah mengamati/observasi si anak. Misalnya, belakangan ini dia lagi suka menggambar. Terus amati durasi, frekuensi, intensi anak ketika dia sedang menggambar dari hari ke hari. Sesekali, ortu juga bisa bertanya pada anak, "Adek suka nggambar ya? Emangnya apa yang adek sukai kalo lagi nggambar? Adek senang ya kalo lagi menggambar?" Mungkin, mereka akan bilang, "Suka. Senang."

Amati aja terus aktivitas ini setiap hari. Kalau suatu ketika ada saat di mana ortu beliin peralatan menggambar lagi untuk ke sekian kali tapi si anak mulai ogah-ogahan, coba ditanyain, "Adek mau ngapain lagi? Adek sukanya apa?" Kalo ternyata dia mulai memunculkan ketertarikan pada objek lain, lakukan hal yang sama yaitu observasi.

Kebiasaan anak kayak di atas ini biasanya saat mereka berusia 0-2 tahun. Pada usia ini, minat anak terhadap sesuatu akan semakin berlimpah, seringnya begitu. Sebab, ini adalah fase sensori motorik di mana akan anak lagi senang-senangnya mencoba segala sesuatu, mengamati/meraba/merasakan sesuatu dengan panca inderanya untuk mengenal objek-objek di sekelilingnya.

Kalau pada rentang usia 3-6 tahun ini disebut pra-operasional di mana anak suka melakukan sesuatu yang berasal dari apa yang mereka amati atau tiru. Misalnya, si anak ini suka banget nonton Ultramen Mebius. Selain suka, dia juga jadi sering mengimitasi gerakan-gerakan sang Ultramen, suka minta dibeliin baju Ultramen dan apa saja yang berhubungan dengan itu.

Umumnya sih, akan lebih mudah melihat ke arah mana bakat anak ketika sudah berusia sekitar 4-6 tahun. Tapi ada juga looh yang sudah bisa terdeteksi sejak di dalam kandungan. Contohnya saja kayak si Roma, adik sepupu Bastian. Kata sang tante sewaktu diwawancarain gitu, Roma ini sudah ada tanda-tanda menyukai bidang entertain sejak dalam kandungan terutama musik. Soalnya ketika ibunya hamil, janin Roma suka gerak-gerak gitu ketika mendengarkan musik nge-beat. Dan, ketika besar, saat ia tidur lalu terdengar musik, anggota tubuhnya spontanitas turut bergerak merespon musik tersebut. Hingga sekarang, ortunya mulai memperkenalkannya kepada industri musik. Si Roma ini sukanya nyanyi sambil dancer kayak tokoh idolanya yaitu Beyonce.

Usia 3-6 tahun banyak yang bilang sebagai golden age, kan? Makanya di usia-usia ini banyak ortu yang getol mengarahkan sang anak untuk ngasah bakat mereka. Tapi, ternyata masih ada saja ortu yang keliru dalam mengidentifikasi bakat sang anak. Jadinya, ketika si ortu memasukkan mereka untuk les, si anak akan merasa bahwa ortu lagi maksa, mereka nangis dan selalu minta pulang ketika berada di tempat les. Seringnya pula, ortu cuman berargumen, "Biasalah itu! Mungkin karena lingkungan baru jadi mereka cuman butuh adaptasi aja."

Kekeliruan ortu dalam mengarahkan anak ini juga bisa berakibat fatal. Jadi sebaiknya, hindari memaksa anak untuk ikut les tertentu apalagi kalau anak sudah menunjukkan isyarat TIDAK SUKA. Sebaliknya, biarkan sang anak yang lebih berinisiatif, mereka maunya apa. Ortu juga harus bertanya kepada mereka. Kalau mereka memang tertarik dengan musik, maka coba masukkan ke les privat musik. 

Ketika anak berada di tempat les, lalu menangis, cuman ada 2 hal yang mungkin menjadi penyebabnya: pertama karena krisis sosialisasi di mana anak seumuran itu memang belum memiliki kemampuan yang optimal untuk bersosialisasi/beradaptasi pada lingkungan yang baru. Atau faktor kedua yaitu karena anak memang tidak minat dan ortu semakin memaksa/keras kepala.

Jadi,  Bunda Tri mungkin bisa melacak, manakah penyebab yang lebih menonjol di antara keduanya. Kalau sudah bisa terdeteksi, maka lakukan pendekatan dengan ortu. Bicarakan saja kepada mereka secara baik-baik bahwa anak mereka memang tidak menyukai (jika memang penyebabnya karena anak tidak punya minat pada bidang itu). 

Namun, jika masalahnya karena kesulitan beradaptasi, maka ortu dan guru juga harus bersabar, telaten dalam membantu anak untuk melalui masa krisis tersebut. Caranya mungkin di tempat les, bisa diselingi dengan permainan psikologis untuk mengukur leadership, kerja sama dan aspek-aspek lain pada anak itu sendiri. Banyak kok sekarang permainan macam itu, bisa di-download tuh di om google modul-modul PDF-nya atau nyari di buku-buku psikologi populer; buku psikologi bermain pada anak. Jadi, selain belajar serius untuk lebih mengembangkan dan mengarahkan bakat anak, guru juga bisa melatih berbagai aspek sosial pada diri anak. Selain itu, ortu juga harus memberikan support. Oke, nggak masalah kalo mereka menemani anak pada saat jam les dan ikut bermain pula. Tapi, latih anak juga agar mereka bisa ditinggal sendiri dan bersosialisasi sama temen-temen barunya. Harus sabar dan jangan pakai gengsi ya.

Lain halnya kalo masalah ketidaksukaan, tantrum atau perilaku negatif sang anak muncul karena memang ada gejala-gejala kelainan psikologis. Ini tentu harus dikonsultasikan pada ahlinya sebab anak dengan kelainan psikologis ada juga yang lebih suka menarik diri dari lingkungan/sangat sensitif terhadap orang baru karena masalah-masalah/penyebab tertentu yang disebabkan oleh riwayat psikis tadi.

Oke deh, demikian uraian saya. Kalau ada yang kurang, silakan ditambahin ya. Semoga bermanfaat ^__^


APAKAH GAGAP PADA ANAK BISA SEMBUH?

Ini request-an dari Bunda Ninik Setyarini. Beliau bertanya: "Anak saya usia 7 tahun semula tidak gagap, tetapi tiba-tiba dia gagap dan semakin hari semakin parah. Saya pikir karena sedang ada masalah di sekolahnya, ternyata benar Mbak dia memang sedang mengalami krisis pd di sekolahnya. Akhirnya saya motivasi terus setiap hari untuk membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Sedikit demi sedikit berhasil Mbak. Tapi kalau saya amati kadang-kadang masih suka gagap gitu Mbak. Benarkah gagap itu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikurangi saja? Saya kadang khawatir perkembangan dia ke depannya."

Saya udah pernah posting sedikit tentang gagap. Jadi, saya copast aja ya dari postingan lawas di blog ini. 


Apa penyebab terjadinya gagap? 

Kalau diperhatikan dengan saksama, gagap terjadi karena adanya hambatan bunyi suara yang keluar dari rongga mulut. Di mana pita suara tidak dapat bergetar secara sempurna karena adanya pemblokiran udara dari rongga dada dan perut kita saat bicara. Begitu juga udara yang tersendat-sendar secara tidak beraturan keluar dari rongga dada dan perut akan menghasilkan suara yang tersendat. Adapun faktor penyebab timbulnya gagap menurut penelaahan para ahli adalah sebagai berikut:
  1. Faktor keturunan: Sebagian ahli mengemukakan bahwa gagap merupakan penyakit keturunan. Di mana penderita gagap sudah membawa sifat turunan pada sistem sarafnya yang membuat penderita rentan terhadap perkembangan kesulitan berbicara. Penyakit gagap pada anak dapat muncul ketika anak mengalami suatu gejolak ketegangan emosional di lingkungan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman, tercekam oleh rasa khawatir atau cemas saat berbicara.
  2. Faktor neurologis: Menutu sebagian besar ahli neurologis berpendapat bahwa adanya gangguan saraf menyebabkan gangguan sistem koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara. Gangguan saraf ini dapat muncul akibat adanya luka pada otak sebagai akibat kesulitan dalam proses kelahiran anak tersebut. Hal lain, anak menjadi gagap karena telah menderita infeksi yang mengganggu sistem saraf secara serius, sehingga pada saat itu telah terjadi proses penurunan kemampuan fungsi saraf secara menyeluruh. Anak pun menjadi membawa sifat gagap. Apabila anak dalam kondisi yang melemah, maka akan terpicu perkembangan gagapnya.
  3. Faktor psikologis: Gagap dapat terjadi karena adanya konflik kejiwaan atau konflik emosional yang melanda seseorang sehingga merasa tertekan. Anak mengalami kegagalan dalam menetralisir gejolak emosional yang menekan perasaannya, sehingga mengganggu proses pengucapan kata-kata saat bicara. Faktor penekan yang menimbulkan konflik emosional anak dapat terjadi akibat suatu paksaan, desakan atau pengaruh lingkungan yang membuat dirinya tidak merasa nyaman, tegang atau panik. Dengan kata lain, ketika anak gagap diakibatkan oleh kejadian tertentu yang sangat menekan. Hal ini bisa saja dipicu akibat pengekangan orangtua terhadap anak, tidak memperbolehkan anak untuk berargumen, sikap otoriter yang terlalu berlebihan, konflik yang dialami dari lingkungan pergaulannya, kecemasan saat disuruh membaca di depan kelas secara mendadak dan sebagainya. Nah, kesulitan di penderita gagap akan semakin berat bila dia mulai merasakan keganjalan dalam hatinya seperti perasaan malu, rendah diri atau si penderita terlalu membanding-bandingkan kondisinya dengan orang lain yang dihadapinya ketika bicara. Paksaan, ancaman, desakan dan bentakan dapat merangsang atau memicu ketegangan emosional pada anak. sehingga mengganggu kordinasi sistem saraf bicara pada anak.
Tipe-tipe Gagap

Ada 3 tipe gangguan gagap pada umumnya, yaitu:
  1. Gagap perkembangan: biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun atau remaja. Apabila terjadi pada fase usia ini, maka gangguan gagap adalah wajar karena merupakan proses perkembangan bicara pada anak. Gagap pada anak usia tersebut biasanya terjadi karena kontrol dirinya masih rendah. Anak usia ini juga biasanya belum begitu antusias mengemukakan atau mengeskpresikan ide-idenya sebab kematangan alat bicaranya belum optimal. Sementara pada remaja, gagap ini terjadi karena kurangnya rasa percaya diri dan adanya faktor kecemasan akibat perubahan fisik, sosial dan mental yang mereka alami.
  2. Gagap ringan/sementara: biasanya terjadi pada rentang usia 6-8 tahun. Secara alamiah, ini biasanya hanya bersifat sementara. Penyebab paling dominan adalah faktor psikologis. Anak pada usia ini mulai mengalami fase adaptasi, masuk ke lingkungan yang baru, baik itu sekolah maupun pergaulan. Sehingga, anak perlu beberapa waktu agar dapat menyesuaikan diri dengan fungsi sosial serta mentalnya. Ketika anak udah mampu beradaptasi, gagapnya akan berangsur-angsur hilang.
  3. Gagap permanen: gagap jenis ini biasanya terjadi pada anak usia 3-8 tahun. Sifatnya yang menetap karena adanya gangguan fisiologis, yaitu alat bicaranya mengalami kerusakan atau gangguan yang serius. Sehingga, tipe gagap ini sangat membutuhkan terapi wicara dan alat bantu dengar (bila diperlukan).
Upaya Mengatasi Gagap

Kalau melihat cerita dari Bunda Setyarini, anaknya usia 7 tahun. Awalnya tidak gagap, tapi setelah itu gagap dan semakin parah karena mengalami krisis di sekolah. Kalau melihat dari riwayat tersebut, apa yang dialami anak Bunda termasuk dalam kategori gagap sementara. Sudah jelas bahwa si anak gagap karena mengalami krisis adaptasi di lingkungan sekolah. Jadi, untuk menyembuhkannya, apa yang Bunda lakukan sudah benar. Memotivasi anak, salah satunya.

Oh ya, apakah Bunda pernah memeriksakannya ke dokter ? Kalau memang tidak ada gangguan pada sistem/alat bicara di otak, maka sudah bisa dipastikan, ini hanya disebabkan oleh faktor psikologis dan masih bisa sembuh.

Untuk tambahannya, Bunda bisa mencoba melatih anak di rumah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Ketika anak pulang sekolah, setelah ia makan dan istirahat, coba pelan-pelan sisihkan waktu dan ajak anak untuk bicara berdua.
  • Saat bicara dengan anak, usahakan mata kalian saling pandang. Minta anak untuk memandang Bunda lekat-lekat. Posisi duduk juga sebaiknya berhadapan/sejajar.
  • Tanyakan bagaimana situasi di sekolah, apa yang tadi dia lalui, hal apa yang membuatnya senang dan sedih selama berada di sekolah. 
  • Ketika anak mulai menjawab pertanyaan tersebut (berbicara), Bunda simak setiap kalimatnya dengan seksama. Tunggu anak sampai ia menyelesaikan pembicaraannya. 
  • Saat anak mulai berbicara, Bunda sebaiknya menghindari interupsi. Dengarkan saja sampai selesai.
  • Ketika berbicara, anak mulai gagap lagi, Bunda bisa mencoba dengan mengulangi kata atau kalimat yang sebelumnya ia ucapkan. Pengulangan ini dapat membantu membetulkan kalimat anak yang mungkin terpotong atau keliru.
  • Jangan paksa anak untuk mengulangi kalimat yang terpotong itu. Tunggulah sampai ia mengeluarkan kalimat lagi untuk melengkapinya.
  • Bunda sebaiknya jangan pasang tampang kecewa di hadapan anak saat ia gagap. Tatapan ini bisa membuat hati anak merasa tersakiti dan akan semakin mengurangi kepercayaan dirinya.
  • Di awal-awal bicara, Bunda sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang rumit. Gunakan kata yang jelas, sederhana sebagaimana yang mampu diserap/dimengerti oleh anak usia tersebut.
  • Ortu/ Bunda juga bisa mengajarkan anak untuk berbicara jelas melaui teknik mendongeng.
  • Ortu juga harus memperhatikan lingkungan pergaulan anak di rumah. Usahakan untuk menghindari teman yang tidak baik. Jauhi anak dari ejekan/cemoohan teman-temannya.
  • Pelan-pelan ajarkan anak untuk mengatasi permasalahannya dengan cara yang baik tanpa harus dengan kekerasan fisik. Misalnya, kalau di sekolah ia sering diejek teman, maka ajarkan anak untuk tidak langsung melawan dengan memukul atau membalas dengan kata-kata kasar pula. Yaah bagaimana baiknya lah untuk si anak.
  • Jika gagap tersebut berlangsung makin parah, maka segera konsultasikan pada psikologi/psikiater terdekat untuk memperoleh penanganan/terapi yang tepat. Biasanya akan diberikan treatment terapi wicara sih. Tapi, semua tergantung kebutuhan dan tingkat keparahan gagapnya.
Sekian, semoga bermanfaat ^^

RASA TAKUT PADA ANAK

Assalamu'alaikum

Menjawab request-an berikutnya yaitu dari Mak Dhona Chandra. Mohon maaf bila terlambat karena lappy baru sembuh.

Oke, pertanyaan dari Mak Dhona seperti ini: 

Mak...bahas gimana supaya anak gak suka takut...misal sama hantu dan lain-lain.Dirumah sih gak suka nakut-nakutin, tapi di sekolah banyak temannya yang suka cerita hantu gitu. Mo disegerakan menempati kamar sendiri tanpa harus ditemani dulu Mak

Jadi, langsung saja ya jawabannya.

Eum, kalau dari artikel dan buku yang pernah saya baca, rasa takut pada anak atau pada orang dengan usia berapapun itu merupakan hal wajar. Rasa takut ini bahkan sangat dibutuhkan sebab merupakan salah satu bagian dari ekspresi emosi yang alamiah pada seorang manusia. Dengan rasa takut, manusia bisa lebih waspada dan juga sebagai sirine untuk bertindak melindungi diri dari kecaman bahaya pemicu rasa takut itu. Kalau ada orang yang nggak pernah merasa takut, berarti emosinya perlu dipertanyakan.

Namun, rasa takut atau ketakutan ini akan berbahaya apabila tidak tertangani. Jika ketakutan itu makin berlanjut, bisa jadi, si anak malah akan mengalami fase fobia (rasa takut yang tidak wajar).

Sebenarnya, masih ada banyak hal atau data yang perlu dikumpulkan mengenai detil ketakutan yang dialami pada anaknya Bunda Dhona. Kalau dari tulisan beliau di atas, Di rumah nggak ada yang suka nakut-nakutin tapi di sekolah banyak temannya yang suka cerita hantu. Nah, dari sedikit penjelasan ini, bisa ditarik problem bahwa rasa takut yang dialami si anak ini disebabkan oleh adanya penularan dari lingkungan.

Teman-teman anak di sekolah suka ceritain soal hantu, nakut-nakutin atau ngagetin dari belakang atau bentuk lain, jika ini terjadi berulang-ulang dan terus-menerus dalam periode panjang, maka orangtua kudu waspada terhadap rasa takut pada anaknya.

Kalau virus dari teman-temannya itu udah sering dibawa ke dalam rumah. Di rumah pun si anak suka takut-takut sendiri atau berperilaku seperti orang dengan sindrom paranoid, bisa jadi ini tidak wajar. Cara untuk mendeteksinya, sangat mudah. Tinggal diobservasi aja perilaku anak setiap hari di rumah dan di tempat lain. Kalau sudah ada indikasi adanya rasa takut yang tidak wajar, ortu harus bertindak cepat. 

Misalnya nih, di sekolah, si anak ini suka ditakut-takutin pake karet gelang, balon, bola atau benda-benda nyata lainnya, lalu saat anak melihat kembali benda-benda tersebut di rumah dan sama takutnya saat di sekolah, berarti ada pertanda rasa takut anak disebabkan oleh trauma pada benda-benda tertentu. Kalau anak takut karena suka diceritain soal hantu atau sesuatu yang tak bisa dilihat secara kasat mata, ini juga kudu diwaspadai karena ketakutan pada hal yang tak nampak malah bisa mempengaruhi fungsi lain kayak pendengarannya juga. Eum maksud saya, hantu itu kan gak nampak di mata. Tapi, kalau orang udah takut hantu, biasanya juga malah jadi sensitif dan curigaan pada suara-suara. Khawatirnya, malah berkembang sebuah halusinasi.

Solusinya gimana? Tentunya peran orangtua sangat dibutuhin. Caranya dengan memberikan dukungan dan empati. Kalau si anak sudah memunculkan tanda-tanda ketakutan, ortu kudu gesit, tanyakan pada anak, apa sih yang bikin dia takut. Kalau dia nunjuk sesuatu yang menjadi sumber ketakutannya, coba dicek dulu, benda atau hal macam apa sih yang ditakutin. Kalau itu bukan sesuatu yang berbahaya, coba pelan-pelan dijelasin pada anak itu tuh nggak apa-apa. Kalau perlu, dekatkan dia pada sumber rasa takut tersebut agar bisa mencermati dan menyelidiki sendiri, sebenarnya apa sih itu. Kalau anak enggan kompromi, jangan paksa anak untuk menjelaskan.

Ortu juga sebaiknya jangan menambah-nambahi atau memperburuk situasi. Biasanya ortu kan suka tuh ngelarang-larang anak ini itu. "Eh, jangan main kucing, ntar digigit. Eh, Adek jangan lari-lari, ntar jatuh, ntar dikejar hantu loh!" Perkataan persuasi negatif kayak gini sebaiknya kalau bisa jangan dilakukan.

Cara selanjutnya, kalau si anak udah takut keluar rumah karena ingin menghindari hal yang ditakuti, coba kasih waktu anak untuk rehat dan tenang sejenak. Setelah itu, pelan-pelan latih anak untuk mengurangi rasa takutnya. Contoh kecilnya, kalau awalnya anak juga takut ke kamar mandi sendiri, nggak apa-apa, ortu menemani sekali dua kali. Tapi, selanjutnya, pas nganterin anak ke kamar mandi, coba pelan-pelan tinggalin dia sendiri. Besoknya, coba ajarkan anak agar dia ke kamar mandi sendiri. Bisa dengan cara menjelaskan dulu bahwa di kamar mandi atau di ruang manapun dalam rumah itu tuh nggak akan membahayakannya. Baiknya lagi, mengajarkan dengan cara memberi contoh. Jadi, ortu ngasih contoh real perilaku kepada anak. MInta anak untuk menyimaknya dengan tenang. Ini memang tidak bisa sekali, tapi kudu telaten, sabar dan berkali-kali.

Selain itu, pastikan untuk selalu bangun komunikasi yang lancar dan positif pada anak. Kayak contoh tadi, jangan suka melarang-larang anak untuk melakukan ini itu. Kalaupun si anak punya dorongan untuk melakukan hal yang benar-benar berisiko/berbahaya, jangan pakai kalimat larangan, tapi ganti dengan kalimat positif.

Selanjutnya, jangan membatasi ruang gerak anak. Jangan mentang-mentang dia takut terus nggak mau diajak jalan-jalan keluar rumah dan ortu juga ikut-ikutan mengiyakan. Besok-besok, ketika emosi anak sudah mereda, ajaklah ia untuk lebih mengenal dunia luar. Sebaiknya jangan terlalu lama mengajak anak keluar rumah. Kalau terlalu lama, biasanya risiko mengalami hal membahayakan malah lebih mungkin terjadi. Yaa secukupnya saja waktunya.

Apabila cara-cara yang saya uraikan ini belum membantu, dan anak masih saja mengalami ketakutan yang makin tak wajar, maka sebaiknya ortu segera mengontak ahli terdekat dalam kota. Segera konsultasi dan bawa anak ke dokter, psikiater atau psikolog terdekat untuk memastikan atau mengetes apakah ketakutan anak sudah berkembang pada fase fobia ataukah belum/tidak. 

Nanti setelah dikroscek atau dites dan di-anamnesisi, psikiater atau psikolog akan memutuskan dengan menawarkan treatment yang tepat untuk si anak tersebut. Kalau sudah ada kecenderungan fobia, biasanya akan dikasih treatment CBT (terapi kognitif-behavior) untuk "menyembuhkan" fungsi kognitif, psikis dan perilaku anak dalam keadaan normal kembali. Kadang ada juga sih yang pakai hipnoterapi, cuman itu masih langka dan tidak sembarang psikolog yang bisa ngasih. Biasanya memang ada ahli hipno dengan gelarnya tersendiri. Atau mungkin akan diberi alternatif solusi lainnya, semua tergantung pada kondisi atau tingkat keparahan problemnya.

Jadi, Bunda Dhona, kalau mau lebih jelas lagi, jika memang cara-cara minimalis tidak dapat cukup membantu, maka lebih baik, segera bawa langsung anak ke psikiater/psikolog ya agar bisa lebih jelas dan tahu, kira-kira anak harus diberi terapi atau gimana-gimananya.

Mohon maaf bila ada kekurangan karena masih tahap belajar. Terima kasih :)



Best regards,