Pages

TELL ME HOW TO SOLVE THIS GUILTY FEELING

Hasil gambar untuk guilty feeling quote



Beberapa hari lalu saya sempat chit-chat dengan salah seorang sahabat. Sebut saja namanya Melati. Melati ini kuliah Magister di salah satu universitas di Malang. Kalau ada yang baca ini dan kenal dengan orang yang saya maksud, saya nggak mau ngomongin dari belakang. Hanya mengambil banyak hikmah dan makna dari perjalanan hidup beliau saat ini. Yeah, mungkin di luar sana ada segelintir orang yang butuh di-refresh dengan contoh pengalaman nyata. Bisa jadi, ada yang punya pengalaman serupa dengan si Melati dan semoga kalian terinspirasi setelah membaca ini.

Guilt.
Guilt merupakan penyesalan atas pikiran, perasaan, sikap atau keadaan negatif yang terjadi pada diri sendiri atau pada orang lain. Seseorang yang punya guilty feeling akan merasa seolah harus bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang ia perbuat dan atas situasi buruk yang menimpanya.

Perasaan bersalah itu literally punya manfaat bagi orang yang ngerasain. Manfaatnya adalah, dengan adanya perasaan bersalah, seseorang dapat melakukan introspeksi atau melakukan refleksi dengan mengaitkan antara dirinya dengan situasi negatif yang terjadi. Jadi, guilty feeling ini sebenarnya merupakan proses evaluatif supaya seseorang menyadari sesuatu yang salah, mengembangkan solusi untuk mengatasi "kesalahan" itu dan yang lebih penting lagi adalah menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima situasi buruk yang menimpa akibat kesalahannya dan belajar tanggung jawab.

Mengakui kesalahan itu memang baik tapi memelihara perasaan tersebut terus-menerus hanya akan membuat hidup stuck di situ-situ aja. Bahkan, perasaan bersalah yang diinternalisasi secara berlebihan bisa saja menyebabkan seseorang jadi takut untuk melangkah ke depan, takut salah lagi. Guilty feeling yang sudah tidak sehat itu juga bisa membuat seseorang kebanyakan berimajinasi. Maksud saya, kebanyakan berandai-andai seolah dia harus begini dan begitu supaya nggak melakukan kesalahan atau supaya nasib buruk nggak menimpanya.

Guilt berbeda dengan regret. Menurut Berndsen dkk pada penelitiannya tahun 2004 silam, bahwa guilt itu berhubungan erat dengan interpersonal harm, it means bisa mempengaruhi, membahayakan, merusak hubungan orang yang merasa bersalah itu (bukan hanya pada dirinya) tapi juga hubungannya dengan orang lain di sekitarnya. Sedangkan regret adalah sebaliknya, lebih banyak berhubungan dengan intrapersonal harm.

Jadi, sebenarnya perasaan bersalah itu ada yang normal juga kan ternyata. Guilt juga punya kaitan erat dengan prosocial behavior. Dengan kita tahu kalau kita salah dan menyesalinya, kita jadi bisa berempati juga pada orang lain. Berbeda halnya dengan orang yang guiltlessness alias nggak punya rasa bersalah, hati-hati gengs. Orang yang kepekaannya nyaris nggak ada itu bisa kita lihat pada orang-orang dengan kepribadian antisosial. Orang dengan kepribadian antisosial ini sulit untuk peduli pada sesuatu dan sulit untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Dan lagi, mereka yang nggak punya rasa bersalah ini-kalau di dalam literatur psikologi tentang guiltlessness-itu diidentikan dengan minus moral emotions sehingga mereka cenderung bertindak immorally.



Ya, namanya manusia, kita memang punya kendali atas apa yang ingin kita capai, tapi Tuhanpun juga bekerja. Terkadang, ada saat dimana situasi nyata nggak sejalan dengan harapan. Kadang pula kita harus ditempa berbagai ujian, kesalahan dan kegagalan. Supaya apa? Supaya kita bisa belajar untuk meminimalisir peluang jatuh pada kesalahan dan kegagalan yang sama. Tapi, ada juga sih tipe orang-orang yang sampai sedemikian sering gagal dan bersalahnya, sampai nggak bisa berpikir realistis, depresi, hingga menjauhi segala hal yang berhubungan dengan pemicu something yang pernah buat dia salah dan gagal atau dengan kata lain nggak mau trial and error.

Menilik pengalaman sahabat saya tadi yaitu si Melati, saya terus terang aja iba sama dia. Dan, ini adalah titik dimana ia baru pertama kali merasakan hal ini dan melakukan seperti ini. "Ini" yang saya maksud adalah... Jadi, singkat cerita, dia lagi kebut tesis, namun selalu susah menemukan judul. Pas sudah nemu judul, dosennya menganggap itu tuh cuma ecek-ecek (dosennya menolak). Belum lagi, Melati harus berbohong pada orangtuanya. Melati kerap mengatakan bahwa dia sebentar lagi bakalan selesai, namun kenyataannya bahkan proposal pun dia belum bikin juga.

Melati juga sempat depresi, beberapa minggu nggak keluar kamar kos. Semua rutinitas tampak terhenti begitu saja. Belum lagi, dia juga sempat mengalami infeksi kandung kemih. Alhamdulillahnya, sekarang kondisinya sudah membaik. Tapi, karena dia jarang sekali keluar kos, jarang menghirup udara segar, terus-terusan madep laptop namun nggak kunjung dapat pencerahan, pikirannya pun jadi kalut, sulit berkonsentrasi dan motivasinya hilang timbul begitu saja.

Saya yang notabene nggak sejurusan sama dia pun nggak bisa banyak bantu. Sebagai psikolog, ingin sekali pastinya ngebantu Melati, namun bantuan saya tampaknya nggak ada yang mempan untuk Melati. Sudah coba konseling, bahkan kasih terapi sederhana, besok-besoknya Melati juga nggak bisa konsistens ngejalaninya sampai drop lagi. Satu sisi saya kasihan, tapi satu sisi lagi saya juga nggak ngeh dengan bidang mata kuliahnya yang mana jika itu diterapkan dalam sebuah penelitian, outputnya bagaimana dan metodenya seperti apa dan isu yang diteliti itu apa. 

Tiga hal yang sering saya lakukan untuknya adalah menyemangati, ngajak jalan/refreshing dan mendoakan. Walau frekuensinya juga nggak sering karena tahun lalupun saya masih sibuk kuliah masa-masa tesis juga. Saya juga sempat ngajak Melati turlap bareng saya dengan harapan dia bisa sedikit terhibur dan pikirannya bisa segar kembali. Namun, setelah saya jarang mengunjunginya karena saya pun sudah kerja, dia kumat lagi. Sungguh, ini saya pikir kurang ngebantu sih buat Melati. Yang dia butuh tuh bantuan konkret seperti  membantunya nemuin gap penelitian, metodenya bagaimana dan harus mulai dari mana ngetiknya.

Tahun lalu, saya juga sudah ngajak dia konseling dengan teman saya. Awalnya, motivasinya mulai terang, tapi sepulang dari situ, redup lagi. Kambuh-kambuhan gitu dah. Kan ada tuh kan masa-masa dimana ketika kita bisa bantu ngasih insight ke orang lain supaya sadar dengan apa yang "abnormal" dalam dirinya, dan supaya orang tersebut bisa lebih mudah diarahkan sampai kita ngerasa effortless. Maksud effortless di sini, tanpa banyak usaha yang aneh-aneh, tanpa usaha yang ekstrim-ekstrim karena orangnya juga mudah diarahkan, kita sebagai psikolog ngerasa seneng juga pastinya. Tapi, beda dengan kasus Melati ini, saya ngerasa udah membantu ini itu tapi di sisi lain ketika semua itu mental begitu saja, ada perasaan gagal karena Melati masih punya PR banyak untuk membersihkan distorsi-distorsi pikirannya.



Melati selalu mengulang alasan yang sama dan menceritakan hal yang sama. Stuck. Nggak ada progres. Yang ada hanyalah berkembangnya perasaan bersalah dan berdosa pada orangtua, dosen dan pada dirinya sendiri. Saya pun sampai bingung, cara apa lagi sih yang harus dikerahkan untuk "membersihkan" distorsi pikirannya dan buat dia mau kebut tesisnya. Mana Melati juga bilang ke saya kalau waktunya sisa dua bulan lagi. Bahkan sudah tersisa satu setengah bulan. Jika Melati nggak lekas menyelesaikan lalu sidang, dia akan terkena sanksi DO (Drop Out).

Jika ada teman-teman yang baca tulisan ini, please lemme know how to solve this problem for Melati.

IT IS OKAY NOT TO BE OK

Sumber: Pixabay


Emang sih udah banyak teori dan penelitiannya kalo Positive emotion menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi atau meningkatkan kesejahteraan hidup seseorang. Ya memang kita selama ini udah terdoktrin dengan kalimat, "Don't worry, just be happy." Tapi kan gak setiap hari dan setiap saat orang itu punya emosi positif, gak setiap hari kita itu hanya dicekoki oleh situasi atau peristiwa yang membuat hati berbunga-bunga. Pasti ada juga kan peristiwa atau situasi dimana mau gak mau emang kita harus ngerasain bad mood, sedih, sebel, marah, jijik, atau kecewa. Emosi negatif yang kayak gini amat sangat adaptif dan occasional yang kita kadang gak bisa kontrol kapan datang dan perginya, tapi emang harus dihadapi.


Alhamdulillah saya sendiri belum pernah mengalami depresi, I mean clinical depression. Dan.. jangan sampai deh. Tapi kalo ditanya berapa kali merasakan kesedihan khusus tahun 2017 ini? Eumm...really do not know sih frekuensinya berapa banyak kejadian yang bikin saya sedih, tapi yang pasti ada. 

Yang namanya kesedihan itu, semua orang pasti ngerasain lah. Gak mungkin ada orang yang gak pernah sedih seumur hidupnya, yakan? Entah sedih karena meninggalnya orang terdekat atau keluarga, sedih karena patah hati, sedih karena dipecat dari tempat kerja, sedih karena gak dapat nilai baik saat ujian sekolah, sedih karena gagal masuk universitas yang dipengenin, sedih karena gak punya duit buat beli popok bayi, atau sedih karena karena lainnya.

Sedih itu adalah hal yang wajar. Sebenarnya, orang yang sedih itu mula-mulanya kebingungan juga apa yang harus dia lakukan agar kesedihannya berkurang? Apa yang dapat mereka lakuin supaya mereka "sejenak lupa" pada permasalahan yang memicu kesedihan mereka? Apakah dengan baca buku, nonton film, piknik, atau lainnya? Orang yang sedih juga cenderung pengen dibiarin sendirian. Kenapa? Kenapa bisa begitu? Soalnya pas seseorang tu lagi sedih-sedihnya, di dalam hati mereka masih ada pergolakan. Iya, hati dan pikirannya lagi berperang melawan perasaannya. 

Psikolog klinis bernama Robin Dee Post, Ph.D mengungkapkan bahwa kesedihan atau sadness itu seringkali dianggap orang-orang sebagai emosi yang negatif padahal sebenarnya sadness itu merupakan perasaan yang adaptif. Hal ini berarti being sad is totally normal, with sadness, we deal ourselves to the painful experiences.


Biasanya, rasa sedih itu terjadinya gak lama-lama. Orang yang sedih gak butuh waktu lama buat move up. Namun, kalo kesedihannya udah berlangsung selama dua minggu bahkan lebih maka waspada ya akan gejala depresi.

Baca: Depresi

Beda lagi dengan grief. Grief kerap dimaknai sebagai kedukaan. Bahkan rasa duka ini bisa jauh lebih lama menetap dalam diri seseorang bahkan lebih lama dari rasa sedih orang yang depresi. Kedukaan ini biasanya identik dengan masalah kehilangan sesuatu atau seseorang yang amat berharga bagi seseorang/atau bagi kita.

Eum, saya pernah baca sih kalo ternyata grief itu punya tahapannya loh. Tadi kan kalo sadness itu dirasainnya gak lama, tapi kalo udah kelamaan bisa aja berkembang menjadi grief. . Orang pertama yang merumuskan tahapan bagaimana sih seseorang merespon kedukaan itu adalah Elisabeth Kubler-Ross. Kubler-Ross ini pernah menuliskannya di dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying pada tahun 1969. Di dalam buku itu ada 5 tahapan respon terhadap kedukaan.

FIRST, Adalah Tahap Denial. Tahap ini tuh merupakan tahap short defense yang dirasakan atau dilakuin oleh orang yang lagi sedih. Pada tahapan ini, orang yang lagi berduka atau sedih bakalan menolak kenyataan atau peristiwa yang menimpanya. "Kenapa sih kok jadi begini?" "Ini seharusnya gak terjadi!" Mereka masih berada di fase menolak semua hal yang menyebabkan ia sedih. Gak jarang juga sih ada yang sampai ngelimpahin kesalahan ke orang lain sebagai penyebab kesedihannya. Buat yang sering kena semprot ya, maklumi lah ya hehehe. Orang ini tuh masih belum bisa menerima alias masih dalam proses memupuk kesadarannya terhadap kejadian atau peristiwa yang dialami.

SECOND, Anger. Pada tahap ini seseorang akan merasa sangt marah dan melampiaskan kemarahannya dengan sumpah serapah atau dalam bentuk nyalahin dirinya, nyalahin orang lain dan ada juga yang kadang sampai nyalahin Tuhan. Mereka yang ada di tahap ini bakalan bilang, "Why me?" "Siapa yang harusnya disalahkan sih?", "Ini pasti gara-gara dia nih jadi gini!"

THIRD, Bargaining. "I'll do anything to repair it if I have once more time..." Pada fase ini, orang yang lagi sedih udah mulai slow down dikiit. Mereka udah mulai membangun negosiasi-negosiasi baik pada dirinya sendiri ataupun pada orang yang udah bikin dia sedih. Penawaran ini mereka lakuin karena dalam lubuk hati yang paling dalam, mereka masih berharap semua bisa diperbaiki. Saat mereka tahu udah kehilangan orang yang dicintai karena kematian atau perpisahan, mereka cenderung masih memendam harapan kalo suatu hari bakal balik ke semula lagi andai mereka ngelakuin A atau B atau C.

FOURTH, Depression. Karena belum tahu dan belum nemuin solusi atas kesedihannya, orang yang lagi sedih bisa jadi makin sedih dan terus-menerus berpusat pada dirinya. Orang yang depresi, malah makin menarik diri dari lingkungan, gak mau keluar rumah, gak mau ketemu orang dulu, lagi pengen sendirian dulu katanya sampai-sampai belain cuti beberapa hari dari kerja buat nenangin dirinya, maybe. Makin hari, kesendirian yang dilakuin makin buat orang yang ada dalam tahap ini tuh jadi makin pusing, gak bisa mikir, nangis terus, merasa seolah dirinya lah yang paling menderita karena masalahnya dan mulai terdiskoneksi dari lingkungan sekitar.

FIFTH, Acceptance. Beda orang tentu beda juga ya berapa waktu yang dia butuhin buat sampai ke fase akhir. Fase dimana dia udah mau menerima kenyataan. Menerima. Itu gak gampang loh apalagi buat yang sedihnya bukan sedih ecek-ecek. Gimana dia udah ngelewatin proses berperang dengan hati dan pikiran, gimana dia udah kehabisan suara karena marah-marah teriak gak jelas, dia udah ngelewatin fase dimana dia masih berandai-andai buat balik ke hari kemarin sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi. Fase menerima itu sangat gak mudah. Selain itu juga karena di fase ini, orang yang sedih udah mulai membuka hati dan pikiran buat maafin dirinya, maafin orang lain dan memaafkan kondisi dan juga mulai meminta ampun karena udah nyalahin Tuhan. Just say, "Everything's gonna be OK right now."

Kubler-Ross kemudian bilang dalam bukunya itu sih kalo sebenarnya kelima stages di atas itu gak mesti semuanya dialami oleh orang yang sedih dan gak mesti urut dari denial sampe acceptance. Kesedihan itu kan perasaan yang sangat personal jadi masing-masing orang berproses ke healing juga beda-beda. Tapi yang pasti prosesnya gak jauh dari lima fase itu atau mungkin ada fase dalam bentuk lain, mungkin.

Lalu gimana sih caranya supaya kesedihan atau kedukaan itu bisa berkurang? Accept and tolerate it, not escape from it.  Jonathan M. Adler, seorang Psikolog dari Franklin W. Ollin College of Engineering mengatakan bahwa menerima kompleksitas hidup adalah cara yang bermanfaat untuk memperoleh kesejahteraan psikologis.


Sebel sih emang karena emosi negatif bisa membuat kita bak sedang naik roller coaster. Perasaan jadi gak menentu, pengennya ya sedih, ya marah juga. Tapi penting untuk kita ingat bahwa ternyata memang benar, udah banyak banget penelitian psikologis bahwa ada emosi-emosi negatif yang justru mempunyai dampak positif buat diri kita.

Nah ini, satu lagi pernyataan Joseph F. Forgas (seorang psikolog sosial dari University of New South Wales Australia) bahwa mood yang jelek itu bisa loh mempertajam ingatan jangka pendek, memperbaiki kemampuan komunikasi dan meningkatkan perhatian terhadap hal-hal detail.

Pada tahun 2009, Forgas juga pernah melakukan penelitian kepada 120 pria dan wanita. Seluruh responden itu dibagi ke dalam dua kelompok. Ada kelompok yang diminta menonton film sedih dan juga disuruh mengingat-ingat kenangan buruk dan satu kelompok lagi diminta menonton dan mengingat film serta kenangan yang positif. Hasilnya, kelompok responden yang menonton film sedih dan mengingat kenangan buruk jauh lebih bagus performanya dalam mengungkap dan membongkar kepalsuan mitos perkotaan.

Kok bisa ya hasilnya gitu? Mencengangkan kan? Kenapa bisa begitu, sebab menurut Forgas, status mood itu merupakan sinyal atau radar paling peka dan paling evolusioner yang berguna untuk memudahkan seseorang merespon secara tepat terhadap situasi lingkungan. Nah, kalo emosi kita positif, kita udah pasti bakal mikir yang positif-positif emang ya, tapi beda kalo emosi kita lagi gak bagus, kita justru lebih peka untuk mengungkap banyak fakta dan informasi dan juga jadi lebih perhatian pada hal-hal kecil yang mungkin orang lain gak bisa paham apa itu. Bener banget ini yakan?



So, embrace our sadness dan semoga ke depannya dengan kesedihan itu, kita bisa berproses lebih baik lagi. Biar gimanapun, kesedihan itu kan bagian dari hidup. Jadi, nikmatilah kesedihan itu sebelum nantinya kebalik, orang lain yang sedih karena kita udah berpulang.

MAKAN PAKU DAN FENOMENA PICA

Sumber Pixabay

Belum lama ini tersiar kabar mengejutkan di beberapa platform media. Ada seorang Bapak sebut aja namanya Anto (nama samaran), berprofesi sebagai kuli bangunan di daerah Tasikmalaya yang disinyalir memakan benda tak lazim yakni paku sejak tiga bulan lalu. Parah-parahnya itu pas bulan ini, si Bpk Anto ngeluh perutnya sakit, membengkak, bernanah hingga mengeluarkan paku.



Ngeri gak tuh? Ngeri kan? Kok bisa sih ya Bpk Anto mau-maunya makan paku? Apa mentang-mentang jadi kuli bangunan, mau nguji "kejantanan" dengan makan bahan bangunan? Gak, ternyata bukan itu persoalannya. Kata istrinya, suaminya itu makan paku karena diduga depresi gegara sang suami kehilangan becaknya. Istrinya juga bilang kalo setahun terakhir ini sang suami alias Bpk Anto sering kelihatan murung gegara becaknya dicuri karena kendaraan itu jadi satu-satunya ladang buat dia nyari nafkah sebelum bekerja sebagai kuli bangunan.


Selain Bpk Anto, kasus serupa juga banyak terjadi di belahan bumi lainnya loh seperti ada gadis yang makan rambutnya sendiri, ada anak kecil yang doyan makan bedak Marck's, ada juga Bapak yang makan rumput dan masih banyak lagi.

Aneh ya. Kok bisa sih mereka punya nafsu memakan makanan yang sama sekali bukan untuk dimakan kayak gitu? Apa itu salah satu tanda orang-orang emejing bin ajaib yang dikasih kekuatan super? 

Kalo orang awam yang kurang melek atau tertinggal pengetahuannya, pasti bakal mikir orang-orang kayak gitu tuh termasuk orang ajaib, sama seperti si anak yang dulu konon katanya nemu batu ajaib yang bisa nyembuhin penyakit terus tetiba dia jadi dukun penyembuh dadakan dan beritanya sempat viral di mana-mana.

Tapi, bagi orang-orang berakal yang ngerti ilmu pengetahuan dan punya pemikiran logis, udah pasti bakal mengelak bahwa itu tuh bukan mukjizat. Mana mungkin sih orang yang makan benda aneh bisa dibilang mukjizat? Nah, kalo udah kayak gitu pasti jadi mikir, kepo dan pengen nyari tahu dong ya, penyebabnya apa, riwayat asal-usul peristiwa itu tuh gimana, apakah ada kaitannya dengan sebab medis atau psikologis dan sebagainya... dan sebagainya...

Saya juga bukan berarti gak percaya sama sesuatu yang benar-benar bisa dibilang "ajaib" atau mukjizat. Kadang emang ada something yang gak bisa kita jangkau pake nalar, tapi ada juga yang emang hal itu tuh sebenarnya ada tapi gak layak untuk ditiru. 

Okkeh..karena blog ini isinya adalah postingan bernalar, dan sebagai manusia berakal, berilmu dan berbudi pekerti, mari kita bahas ya, kenapa sih fenomena unik kayak gitu bisa ada?

History of Pica

Jadi, perilaku memakan sesuatu atau benda gak lazim kayak yang dilakukan si Bpk Anto dan beberapa orang lainnya yang serupa itu termasuk gangguan makan atau bahasa kerennya eating and feeding disorder. Spesifiknya, gangguan itu dinamakan Pica Disorder

Pica? Kok lucu ya namanya? Pica itu adalah salah satu gangguan yang digolongkan ke dalam eating and feeding disorder di dalam DSM-V. Kalo dulu tuh gangguan ini masuk klasifikasi gangguan makan pada infant, anak dan remaja. Nah, sejak diperbaruinya DSM menjadi DSM-V maka gangguan tersebut udah direlokasi ke dalam sub gangguan makan. Kenapa bisa gitu? Soalnya seiring berkembangnya zaman dan semakin luasnya penelitian, gangguan Pica ini gak cuman dialami oleh anak atau remaja namun juga dialami oleh orang dewasa dan/atau segala range usia.

Usut punya usut nih, dari artikel penelitiannya B. Parry-Jones dan W.L. Parry-Jones tahun 1992, Pica itu diambil dari nama Latin seekor burung Magpie (burung zaman baheula). Nah, kenapa kok bisa diambil dari nama burung? Soalnya habit makan si burung ini tuh di luar kebiasaan makan hewan-hewan sewajarnya dan tanpa mendiskriminasi itu tuh makanan apa, enak apa gaknya, langsung diembat aja sama si doi. Gitu sih cerita zaman dulunya ya. Jadi, orang yang punya kebiasaan makan aneh sama kayak burung Magpie dong?? Hahaha.. gak segitunya nyama-nyamain juga keles..

Trus, pada abad ke-16 itu (masih nyambung sama penelitiannya Parry di atas), ternyata perilaku makan gak biasa ini juga dialami oleh Simpanse. Nah, dari penelitian itu udah cukup jelas yes kalo gangguan ini tuh gak cuman manusia yang alami tapi juga hewan.

Belum lagi orang-orang zaman primitif kan identik dengan berburu. Gak jarang juga zaman dulu ada orang dari etnis tertentu yang udah terbiasa makan benda-benda aneh apalagi kalo pas gak ada hewan yang bisa jadi sasaran perburuan buat dikonsumsi. Kasian gak sih? Nah, buat anak-anak zaman now, jangan sok mau gaya-gayaan deh ya kalo makan, sok pilih-pilih makanan, liat tuh orang zaman dulu mau makan aja susah, kalo gak ada makanan yang "layak", kebayang gak sih andai kalian jadi mereka, mau makan apa aja yang penting makan??? Gak kan?


Apa aja sih benda yang biasanya dimakan oleh orang-orang dengan gangguan Pica ini? 

Yang dikonsumsi itu adalah benda-benda non pangan, gak bisa dicerna oleh perut, gak bernutrisi sama sekali dan bentuknya bervariasi. Benda-benda yang seringnya diidentifikasi tuh seperti clay, cat, kain, tanah, batu, kerikil, serbuk gergaji, sabun, paku, dan lainnya. Es batu juga digadang-gadang masuk jadi salah satu daftar yang dikonsumsi sama orang dengan gangguan Pica namun karena Es batu masih tergolong makanan, jadi kurang bisa memenuhi kriteria Pica. Tapi beda lagi kalo orang tersebut memakan freezer frost atau cairan yang membeku yang biasanya ada dalam freezer kulkas itu loh, kalo yang itu berpotensial masuk kriteria list yang apabila dikonsumsi bisa tergolong gangguan Pica.

Pica ini dialami oleh siapa aja dan apa penyebabnya?

Pica dapat terjadi di segala rentang usia baik itu anak, remaja, ataupun orang dewasa. Pica ini tuh merupakan gangguan yang sebenernya gak berdiri sendiri atau dengan kata lain memiliki komorbiditas atau gangguan penyerta. Maksudnya, Pica dapat terjadi sebelum gangguan utama muncul atau sebaliknya muncul setelah gangguan utama terjadi.

Gangguan penyerta yang dialami oleh orang dengan Pica ini banyak, tapi yang seringkali teridentifikasi adalah gangguan perilaku. Pica berkaitan erat dengan gangguan perilaku sih pada umumnya seperti obsessive compulsive,  berhubungan juga sama emotional arousal seseorang dan need for oral stimulation tapi yang udah tergolong over stimulation.

Nah, menyoal stimulasi nih, karena pada masa perkembangan motorik kasar dan halus, bayi itu kan sukanya icip-icip gitu ya, mainannya atau benda-benda di sekitar kadang dimasukin ke mulut. Jadi, kudu tetap disupervisi sama orangtua. Jangan biasain anak icip-icip atau ngunyah something yang gak layak untuk dikonsumsi. Saya jadi inget, waktu acara silah keluarga beberapa minggu lalu ke Purwodadi, saya punya adik sepupu yang masih bayi. Si bayi ini diem-diem ngunyah sesuatu ke mulutnya. Pas dilihat, eh eh, ladalaaah yang dikunyah adalah uang kertas pemirsaaaah. Konon, ternyata di rumah perilaku si bayi ini udah biasa terjadi. Si bulek saya, mamanya bayi ini tuh ngebiarin aja si anaknya ini ngunyah benda-benda kayak gitu. Trus akhirnya bulek saya ini dimarahin. Uang kertas yang dikunyah sama si bayi ini udah yang lecek lecek hitam gitu loh. Bahaya kan kalo sampe ketelan. Lebih bahaya lagi kalo perilakunya itu makin lama makin dibiasain, dijarno, gak diawasi, dimanjain, nah, nah, bisa bisa nanti malah ngarah ke Pica.

Selain itu, Pica ini juga diidentifikasi pada anak dengan disabilitas intelektual, spektrum autis, anorexia nervosa, skizofrenia gangguan neurologis dan disabilitas belajar.

Anak/remaja/orang dewasa dengan disabilitas intelektual atau yang terganggu fungsi kognitifnya, kan gak kayak anak normal jadi mengolah informasi atau mempelajari sesuatu pun agak lemot kan. Jadi, gak bisa bedain mana perilaku yang baik dan mana yang berbahaya buat diri dan sekitarnya. Maka otomatis, pengawasannya harus lebih ekstra dibanding anak normal.

Bagaimana melakukan asesmen untuk mengetahui gejala Pica?

Para ahli biasanya menggunakan instrumen Diagnostic Interview Schedule for Children untuk melakukan asesmen Pica pada anak. Pada remaja, bisa menggunakan parental report. Sedangkan untuk asesmen pada orang dewasa, belum ditemukan instrumen asesmen yang valid. Pakai teknik wawancara klinis pun ditambah ngecek kriteria DSM pun gak cukup sih karena Pica itu kan gangguan perilaku juga, jadi harus diimbangi dengan ceklis observasi yang memadai.

Treatment medis dan psikologis apa yang bisa dilakukan pada orang dengan gangguan Pica?

Treatment apapun bentuknya pastikan dilakukan oleh ahlinya ya yaitu psikiater maupun psikolog. Jangan sok keminter bawa-bawa ke dukun karena ini bukanlah gangguan yang sifatnya gaib. Jika masih ada yang menganggap orang dengan gangguan Pica ini karena kena guna-guna/pelet, coba ditelaah lagi ya riwayat hidup si orangnya ini. Setiap gangguan pasti ada penyebabnya. Baiknya bawalah ke rumah sakit atau klinik terdekat dahulu supaya mendapat pertolongan pertama.

Karena benda-benda yang dikonsumsi dan udah masuk ke dalam tubuh bisa sangat membahayakan bahkan berujung kematian (kalo gak segera dikeluarkan), maka baiknya mintalah tindakan operasi jika memang diperlukan ya.

Trus, kalo untuk medical treatment lain, saya baca-baca dari jurnal (penulisnya adalah Carter, Mayton dan Wheeler, tahun 2004) dengan judul jurnal Pica: A Review of Recent Assessment and Treatment Procedure, penanganan secara medis pernah dilakukan oleh Pace dan Troyer pada tahun 2000 dengan memberikan vitamin Polyvisol pada anak. Beecroft, Bach, Tunstall dan Howard pada tahun 1998 juga pernah mengujicobakan pemberian multivitamin C pada lansia 75 tahun dengan gangguan Pica plus teridentifikasi Skizofrenia dan dibarengi dengan penanganan psikologis.



Treatment psikologis, ada beberapa sub. Pertama, treatment kognitif bagi orang yang mengalami Pica karena adanya distorsi pikiran (salah mendefinisikan apa itu makanan dan benda serta bagaimana membedakan bentuk sesuatu yang dikonsumsi dengan yang bukan untuk dikonsumsi). Terapi yang bisa diberikan itu adalah terapi kognitif plus perilaku seperti self-monitoring dan relaksasi progresif.

Pada behavioral analysis, terapi yang bisa digunakan adalah terapi behavior juga atau gabungan kognitif dan perilaku yakni CBT (Cognitive Behavior Therapy) atau bisa juga dengan konsep reinforcement and punishment jika akar problemnya berasal dari stimulus respon.

Tidak lupa juga pemberian treatment psikososial yang gak lain adalah psikoedukasi. Edukasikan mengenai gangguan Pica, apa penyebabnya, gimana itu bisa terjadi dan bagaimana cara memperlakukan orang dengan gangguan Pica pada orang-orang terdekat/ significant other si klien supaya ketika proses perawatan berlangsung, lingkungan sekitar bisa sekalian ngesupervisiin si klien, ngontrol klien supaya perilakunya gak kumat lagi.

Satu lagi, pastinya... Saat orang dengan gangguan Pica menjalani perawatan baik di rumah sakit atau udah dipulangkan ke rumah (rawat jalan), pastikan berikan makanan bernutrisi. Minta keluarga untuk support makanan bergizi buat dikonsumsi oleh orang dengan gangguan Pica ini ya. Kasian lo, mereka udah banyak kekurangan zat-zat yang dibutuhkan tubuh jadi nutrisinya harus dijaga kembali.

Okay, sekian informasi yang bisa saya bagi kali ini ya. Semoga bermanfaat yaak

KEKURANGAN VITAMIN INI BISA MEMICU DEPRESI

Welcome back dear,




Udah lama gak posting hal tentang psikologi. Postingan ini sebenarnya udah saya draft kemarin, sisa di-publish aja. Kemarin saya scroll ke akun Flipboard dan menemukan topik menarik seputar depresi dan kaitannya dengan nutrisi.

Kalo kekurangan vitamin tertentu bikin kita jadi lemes, kurang darah, kurang tenaga, itu sih udah mainstream kita denger. Tapi, pernah gak sih kalian kepikiran bahwa saat kekurangan konsumsi vitamin-vitamin ini, maka itu artinya sama aja dengan sedang ngebukain pintu supaya kedatangan gangguan psikologis.

Bagi yang pernah tahu, congrate deh, itu artinya kalian emang suka baca dan melek terhadap pengetahuan baru. Bagi yang belum pernah tahu, sini deh merapat, kita bincang bareng. Berhubung juga di blog ini banyakan silent reader-nya ketimbang yang aktif komen (entah mungkin malu, takut, sungkan atau lainnya), gak papa. Tapi next biar lebih asyik, tinggalin komennya juga yah, itung-itung kita tukar pikiran/opini juga.


Depresi. Bagi yang selalu ngikutin tulisan di blog ini pasti udah pernah baca postingan saya tentang gangguan depresi. Depresi itu merupakan salah satu gangguan mood yang rentan dialami oleh orang banyak. Bukan hanya pada orang dewasa, depresi juga bisa dialami oleh remaja.


Kita udah sering denger dan baca kalo depresi itu cenderung lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial dan genetika. Namun, belum banyak dari kita yang familiar dengan faktor biologis sebagai salah satu faktor penyebab depresi.

Apa aja sih faktor biologis yang dapat memicu depresi? Adalah karena adanya gangguan sistem regulasi dan/atau perubahan keseimbangan hormon di dalam tubuh seseorang bisa menyebabkan timbulnya depresi. Gangguan atau ketidakstabilan hormon ini, jika kita tarik dalam lingkup bahasa lebih luas, banyak lagi penyebabnya. Salah satunya adalah akibat kekurangan vitamin. Yap, kurangnya konsumsi vitamin tertentu bisa menyebabkan ketidakseimbangan produksi hormon bahkan defisit hormon di dalam tubuh. Bahaya juga ya ternyata.

Vitamin apa aja yang saat kekurangan itu bisa lead us to depression?

VITAMIN D

Kurangnya asupan vitamin D (ketidakcukupan vitamin D sebesar 20-30 nanogram/mililiter) bisa memicu timbulnya gangguan psikologis dan penyakit fisik seperti  kanker, osteoporosis, penyakit kardiovaskuler, diabetes, depresi dan gangguan mental lainnya (). 

Vitamin D ini merupakan vitamin yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh daripada vitamin lainnya. Vitamin D juga sangat berperan penting dalam meregulasi hormon-hormon lain. Nah, kekurangan vitamin D ini nih bisa menyebabkan tubuh turut kekurangan hormon-hormon penting  seperti testosteron pada pria dan progesteron serta estrogen pada wanita. Ketiga hormon ini merupakan bagian dari hormon yang diperlukan untuk mengatur keseimbangan suasana hati. Kalo kita kekurangan progesteron, estrogen dan testosteron maka bisa memicu timbulnya depresi dan gangguan mood lainnya.

Jadi nih, vitamin D itu gak hanya berfungsi untuk mengatur kalsium dan fosfor buat tulang supaya gak osteoporosis, melainkan juga punya fungsi sebagai pengikat vitamin lain dan pengatur hormon supaya meminimalisir gangguan psikologis. Menarik sih ya, ternyata emang fisik dan psikis itu saling berdampingan satu sama lain.

Apa yang harus dilakukan atau adakah makanan yang harus dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan vitamin D?

Sun and light exposure alias bertemulah dengan cahaya/matahari. Paparan sinar matahari yang baik itu saat pagi hari sebelum jam 10. Saya jadi teringat dengan ibu-ibu yang selalu bilang kenapa bayi itu harus dijemur, saya pikir cuma ritual mitos aja, tapi ternyata ada manfaatnya juga. Bukan cuma bayi atau jemuran loh ya, kita pun memerlukan cahaya matahari. Keluar rumah dan berjemur sekitar 20-30 menit di bawah cahaya matahari pagi itu sangat baik supaya senyawa-senyawa tertentu dalam tubuh bisa dikonversi menjadi vitamin D. Nah, beruntunglah ya buat kalian yang tinggal di daerah tropis.

Paparan sinar matahari ini ternyata membantu menstimulasi tubuh untuk memproduksi vitamin D. Nah, daripada beli vitamin bentuk suplemen dengan harga yang mahal, mending pake yang gratis aja, hahaha... Kalo bisa, rumah kita dicat pake warna yang terang dan kudu punya ventilasi yang memadai supaya cahaya bisa tetep masuk ke dalam rumah ya.

Buat kalian yang mau gak mau tinggal di area atau kawasan rumah yang gelap/minim cahaya matahari seperti di daerah pegunungan dengan cuaca dingin yang ekstrim, kalo menurut penelitian psikologi sih, orang-orangnya cenderung lebih mudah mengalami Seasonal Affective Disorder.

Mengkonsumsi beberapa makanan sumber vitamin D. Menurut Holick (2007), sumber makanan yang baik untuk dikonsumsi guna mencukupi kebutuhan vitamin D antara lain berasal dari sumber makanan alami yakni ikan berlemak seperti salmon, tuna, sarden, mackarel, minyak ikan kod, jamur shitake dan jamur kancing, dan telur. Kemudian dari sumber makanan fortifikasi antara lain jus jeruk, susu formula bayi, yoghurt, susu, mentega, margarin, keju dan sereal.


VITAMIN B6 DAN B12

Dilansir dari artikel terpublish Weill Cornell Medical College (2010), vitamin B6 dan B12 sangat dibutuhkan guna membentuk neurotransmitter. Neurotransmitter berupa senyawa dopamin dan serotonin ini berperan penting dalam meregulasi afeksi atau mood pada otak.

Nah, buat penderita depresi atau gangguan psikotik dan mood lainnya biasanya dikasih obat antidepresan kan ya. Obat-obat antidepresan itu kan mahal. Buat orang-orang yang gak punya dan harus tergantung sama obat itu dalam jangka panjang, belinya pasti mahal. Bukan berarti lantas gak mau konsumsi obat sih, karena memang udah takdir mereka harus minum obat terus. Tapi, sebagai pelengkapnya, mereka juga baiknya diberikan makanan sehat yang kaya akan vitamin supaya proses pemulihan (dalam arti bisa sehat, segar bugar) lebih cepat.

Apa aja sih, sumber makanan yang bisa dikonsumsi untuk memenuhi kecukupan vitamin B6 dan B12?

☺ Makanan sebagai sumber vitamin B6: Gandum utuh, buncis, kentang panggang, jus, pisang, bayam, dada ayam, daging sapi, cabe.

☺ Makanan sebagai sumber vitamin B12: Kerang, keju lembut, daging kambing, ikan, kepiting, yoghurt, milk, gandum, dan daging sapi.



Nah, ettss, bentar dulu ya, trus dari artikel tadi nih, ada saran dari Food & Fitness Advisornya loh. Apa aja sih sarannya?
  • Sumber makanan bervitamin baiknya dimasak dengan cara yang tepat. Supaya kandungan vitaminnya gak hilang, masaklah dengan cara direbus atau dikukus, dan dipanggang. Hindari memasak makanan dengan cara digoreng yang mana makanan berminyak dari hasil menggoreng itu hanya akan menambah lemak jenuh yang bisa menimbulkan kolesterol dan gak baik buat yang lagi diet.
  • Pilihlah makanan yang rendah lemak
  • Sebelum mengkonsumsi sayur-sayuran, hendaknya dicuci sampai bersih supaya zat-zat sodium yang kurang baik dan pestisidanya tereliminasi.
  • Buat yang vegetarian, sebaiknya penuhi asupan dengan meminum suplemen dalam bentuk tablet atau kapsul vitamin.
Gimana dear, mantap kan pengetahuan kali ini. Semoga bermanfaat yah.


APA YANG DILAKUKAN SAAT KESEPIAN?

"Let me tell you this: If you met a loner, no matter what they tell you, it's not because they enjoy solitude. It's because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them." 
-Jodi Picoult in My Sister's Keeper- 


-------------

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba ngerasa kesepian? Padahal loh ya lingkungan tempatmu berada cukup ramai. Meanwhile, kamu ngerasa trapped by your empty feeling and you don't know why it attacks?

Dulu saya juga pernah merasa kayak gitu. Suddenly, I feel like I've to be even more isolated than before. Entah mungkin itu karena saya yang notabene melancholic person atau karena ada hal lain yang melatarbelakangi perasaan tersebut. Perasaan kosong tersebut membuat saya withdrawal, mengurung diri di kamar, lebih banyak tidur, menjauhi interaksi dengan orang lain terutama di dunia maya (jadi saya bisa tahan untuk tidak aktif di media sosial selama beberapa waktu), menolak ajakan teman untuk hangout, tidak bergairah dan bila saat rasa sepi tersebut melanda dan di saat yang sama saya masih berusaha untuk berinteraksi dengan orang lain namun orang tersebut mengabaikan/mendiamkan/tidak ada timpalan balik, maka saya akan merasa seolah tidak diinginkan, tidak dicintai dan tidak dihargai saat itu juga. 

Ya, saya tahu tanda-tanda dari loneliness jika nggak diatasi akan berakibat fatal. Karena saya sudah bertahun-tahun belajar psikologi, maka saya pun juga tahu bagaimana memposisikan diri. Oleh sebab itu, saat kesepian dan perasaan kosong itu menghampiri, I try to resolve it properly.

Kalau kita membaca dari berbagai buku maupun artikel di web, loneliness atau kesepian itu diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang merasa sendiri, tidak diperhatikan, tidak dianggap berharga/penting, tidak dicintai dan disconnected to their environment. Jadi, perasaan kesepian ini merupakan subjective experience, so if the people think they are lonely, then they lonely

Lalu, apa bedanya perasaan kesepian dengan perasaan terisolasi dari lingkungan? Kedua hal ini sebenarnya tidak jauh beda, namun perasaan terisolasi dari lingkungan ini terjadi karena mereka gagal terhubung atau gagal menjalin kontak dengan orang lain. Contohnya itu seperti ketika kita berada di sebuah tempat, kita lagi hangout nih ceritanya. Di sekeliling kita ada banyak teman, namun kita merasa "hampa", yang semestinya kita ikutan nyambung ngobrol sama mereka, tapi tiba-tiba kita merasa kok jiwa kita lagi nggak di tempat itu kenapa ya? Alhasil, kita jadi sulit untuk terkoneksi dengan lingkungan.

On the other hand, perasaan kesepian juga berkaitan dengan intraversi dan depresi. Orang dengan tipe kepribadian introvert cenderung lebih rentan mengalami kesepian serta tidak jarang ada yang bisa sampai pada tahap depresi. Di beberapa literatur juga menyebutkan bahwa orang dengan kepribadian introvert ini punya tendensi anti-sosial.

Baca: TIPE APAKAH KAMU: INTROVERT ATAU EXTROVERT

Perasaan kesepian ini cenderung meningkat ketika memasuki masa penuaan karena pada masa itu seseorang mulai mengalami fase kehilangan atau keterpisahan dengan orang-orang terdekat, anak-anak sudah pada berkeluarga semua sehingga tinggal berjauhan/tidak satu rumah lagi dan nggak jarang ada juga orang usia lanjut yang semakin kurang berminat terhadap kegiatan sosial. Jangankan orang lanjut usia yang masih tinggal dengan keluarga, mereka yang tinggal di panti wredha bisa jadi jauh lebih tinggi lagi perasaan kesepiannya apalagi kalau mereka baru awal-awal dialihkan masuk ke panti wredha. Bukan hanya perasaan kesepian saja, perasaan terisolasi karena terpaksa dialihkan ke panti wredha juga mereka alami.

Ngomong-ngomong soal lanjut usia, tahun 2016 lalu saat saya masih kuliah dan PKPP di Puskesmas, saya punya dua orang klien lansia. Sebut saja Mbah Mawar dan Mbah Melati (nama disamarkan yak). Mbah Mawar ini sudah menjanda dan sebatang kara sejak tahun 90-an. Beliau pernah menikah dan bercerai sebanyak tujuh kali. Usut punya usut, setiap kali menikah, Mbah Mawar akhirnya menggugat dan digugat cerai karena tidak bisa menghasilkan keturunan. Semenjak masih muda, Mbah Mawar ini sehat dan baik-baik saja. Beliaupun pernah memeriksakan kondisi rahimnya ke dokter dan saat itu dokter mengatakan tidak ada masalah. Namun, entah pernikahan yang keberapa gitu ya, Mbah Mawar coba memeriksakan kembali dan dokter memvonis ada masalah di rahimnya tetapi Mbah Mawar lupa namanya apa, yang jelas bukan kanker. Mbah Mawar pun berjuang hidup sendirian. Beliau pun membuka dagangan kecil di serambi rumahnya. Beliau sangat kuat. Tapi, nggak jarang juga sih banyak orang asing datang dan memberikan sedekah untuknya. Beliau juga menjadikan satu kamarnya sebagai kamar kos sehingga cukup untuk makan sehari-hari buat simbahnya. Selama beberapa kali pertemuan, kenapa akhirnya saya nggak menjadikan Mbah Mawar sebagai klien untuk kasus yang saya angkat di PKPP sebab lama-kelamaan simbah tersebut menjadi kurang ramah. Beberapa kali terakhir saya datang, karena saya pikir, saya sudah cukup memberikan konseling, mengingatkannya untuk rutin berobat namun hanya terkadang saja didengarnya, jadi saya juga udah nggak pernah bawa buah tangan tiap ngunjungin beliau. Dan.... kalian tahu respon beliau apa? Pernah suatu ketika saya ke sana lagi dengan seorang teman yang sedang membutuhkan klien lansia dan Mbah Mawar saya rekomendasikan. Namun, Mbah Mawar mengusir kami. Ngusir loh ya. Saya agak nggak enak juga akhirnya sama teman alias adik tingkat saya itu karena sebelumnya, simbah nggak pernah kayak gitu. Mbah Mawar saat itu nyeletuk pakai bahasa Jawa yang artinya kok saya datang terus tapi nggak dikasih apa-apa. Dokter juga bukan, jadi nggak dapet obat, kalau cuman ngomong-ngomong ya nggak usah aja. Pulang aja. Gitu katanya. Nyelekit sih ya, tapi ya sudahlah. Saya juga agak beruntung karena urusan dengan simbah itu sudah selesai. Saya menilainya baik-baik saja dan simbah itu pun merasa udah nggak butuh bantuan saya lagi. Oke, fine.

Mbah yang kedua, sebut saja Mbah Melati. Mbah ini jauh lebih baik, lebih ramah dan lebih kalem daripada Mbah Mawar. Memang sih pas akhir-akhir seusai follow-up, saya juga agak kesulitan menemui Mbah Melati karena beliau akhirnya sudah bisa pergi ke rumah saudaranya yang jauh. Saya kurang tahu di mana. Mbah Melati ini juga mengalami problem yang sama yaitu kesepian. Di DSM-5 memang nggak masuk daftar Gangguan, namun termasuk dalam salah satu problem psikologis yang memerlukan perhatian khusus. Jadi, saya awalnya fix menjadikan Mbah Melati sebagai klien. Setelah beberapa kali asesmen, saya juga menemukan problem lainnya yaitu problem dengan kebermaknaan hidupnya dan yang saya pakai dalam laporan kasus waktu itu adalah problem makna hidup, bukan kesepiannya. Sebab, kesepiannya ini hanya menjadi salah satu akibat dari problem kebermaknaan hidupnya itu. Kisahnya pun lebih memilukan daripada Mbah Mawar. Semasa kecil, orangtua Mbah Melati bercerai. Mbah Melati pernah menikah namun tidak punya anak bukan karena sakit, tapi mungkin memang Tuhan berkehendak lain dengan tidak dikaruniakan padanya keturunan. Saat ini dia juga tinggal dengan kerabat angkat, beda ras dan beda agamanya dengannya. Saat mengunjungi rumah beliau di sebuah gang kecil, saya juga agak miris karena rumahnya tersebut adalah toko. Iya, Mbah Melati dibuatkan kamar di sebuah toko milik keluarga yang mengangkatnya itu. Beberapa cerita darinya juga dari tetangga menyatakan kalau keluarga angkatnya ini kadang bertindak kasar terhadapnya. Mbah Melati orangnya kalem banget jadi kalau dikasari atau dibentak sedikit, pasti beliau kepikiran dan ngerasa pilu. Hal ini juga terlihat di hasil asesmen waktu itu (saya menggunakan alat tes TAT). Oh ya, kenapa Mbah Melati menganggap hidupnya nggak bermakna karena dia dua kali menikah dan kedua suaminya pun meninggal lebih dulu darinya ditambah lagi dengan tidak mempunyai keturunan dan jauh dari saudara-saudara kandungnya. Akhirnya, Mbah Melati merasa kesepian. Beliau jika diamati memang lebih banyak mengurung diri di rumah. Beberapa waktu selama asesmen hingga terapi, Mbah Melati juga susah berjalan karena kaki kirinya reumatik. Untunglah di depan gang rumah ada Puskesmas pembantu (Puskesmas cabang dari puskesmas tempat saya praktek) sehingga simbah bisa kontrol ke dokter untuk mengobati kakinya. Beliau bener-bener sabar. Kalau saya ke sana, nggak jarang simbahnya menangis, menangis bukan karena ingin dikasihani tapi karena sering terngiang-ngiang dengan masa lalu yang pahit ditambah perlakuan keluarga angkat yang kadang kurang baik terhadapnya.

Baca: WALAU INTROVERT, JANGAN JADI PENYENDIRI

Kesepian pun bisa terjadi karena alienasi atau keterasingan. Keterasingan yang dimaksud di sini adalah seseorang yang merasa dirinya berbeda daripada orang pada umumnya, sehingga tidak banyak yang bisa menerima kekurangan serta kelebihan dirinya. Keunikan atau tipe pribadi tertentu juga rentan terhadap kesepian loh. Orang-orang yang jadi korban bully oleh lingkungan, dimana mereka iasingkan dan tidak dianggap juga rentan mengalami kesepian. Sepi karena dianggap tidak berharga, keberadaannya tidak diakui dan malah dianggap sebagai "musuh" atau "sampah" yang hanya bisa diolok-olok dan dibuang.

Baca: STOP BULLYING

Kalau ditanya, ada nggak sih di dunia ini orang yang nggak pernah merasa kesepian dan nggak pernah merasa sendirian meskipun cuman punya sedikit teman? Saya pikir ada dan saya sering bertemu dengan beberapa orang seperti itu. Ada yang memang mengakui kalau dia sulit untuk mencari teman yang bener-bener "teman". Ada juga yang merasa seolah tidak butuh banyak teman karena baginya banyak teman hanya akan semakin menambah banyak masalah. Wow, sadis. Tapi memang ada loh.

Beberapa tahun terakhir juga pernah ada yang mengirimkan email pada saya lalu mereka curhat. Rata-rata mereka itu adalah tipe introvert tapi memiliki self-esteem alias harga diri rendah. Bahkan ada juga salah satu dari mereka mengaku sangat tertekan karena takut bersosialisasi dengan orang lain sehingga hanya mengurung diri di rumah dan hanya keluar saat sekolah/kerja. Di sekolah atau di kantor pun mereka tampak kurang ramah dan nggak jarang gemetar saat harus berhadapan dengan orang banyak.

Orang yang self-esteem atau harga dirinya terganggu ini hampir mirip sih dengan orang introvert, tapi orang yang harga dirinya rendah cenderung merasa sangat tidak nyaman jika dihadapkan oleh situasi sosial yang baginya itu dianggap mencekam/membahayakan sehingga kerap menghindari berhadapan dengan banyak orang apalagi kalau orang-orang yang mereka temui tidak satupun dikenal dan lingkungan tempat mereka berada adalah lingkungan yang baru (baru pertama kali ada di lingkungan tersebut).

Adalah hal umum bila kita mendapati orang-orang yang mengalami kesepian ini terhambat dari segi keterampilan sosialnya, lambat dalam merespon interaksi/menjalin hubungan yang lebih intim dengan seseorang, pasif atau tidak banyak mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaannya di depan orang lain dan nggak jarang juga sih mereka yang kesepian dianggap garing karena pola interaksinya kaku (karena nggak punya cukup pengalaman dalam hal menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain).

Baca: MENDAPATKAN TEMAN ITU SANGAT MUDAH, TAPI TIDAK BAGINYA

Penyebab kesepian selanjutnya adalah kondisi dimana seseorang harus tinggal jauh dari keluarga inti. Misalnya saja seorang mahasiswa atau karyawan yang merantau jauh dari keluarga. Seperti halnya saya. Saat awal-awal hijrah dan menetap di Malang, saya merasa sepi karena mayoritas teman-teman saya ada di Parepare dan Makassar. Saya pun semakin sulit menjangkau mereka karean selain jauh juga karena tuntutan kuliah yang mengharuskan saya untuk fokus dan tidak ke mana-mana. Saya pun sewaktu strata satu pernah nggak pulang selama dua tahun. Dua tahun itu saya bener-bener stay di Malang. Menghabiskan waktu di kos. Sesekali saya berkunjung ke rumah mbah di Sawojajar 1 atau mudik ke Madiun seorang diri. Walau demikian saya masih merasa kesepian karena jauh dari keluarga inti: Mama, Bapak, adik-adik dan teman sejawat. Jadi, selama dua tahun itu saya habiskan dengan part time di salah satu lembaga kampus, lebih aktif organisasi, lebih banyak tersita waktu saya untuk mengerjakan tugas-tugas kelompok dengan teman kuliah (yang memang waktu semester itu lagi padat-padatnya) ditambah saya baru sembuh dari sakit (karena ketularan sih jadi mau nggak mau saya pun pernah izin dua minggu nggak masuk kuliah dan nggak bisa pulang) ditambah lagi waktu itu saya kecelakaan (saya izin lagi nggak kuliah selama beberapa waktu karena di atas mata kaki sebelah kanan masih bolong, iya bolong, bener-bener bolong kena aspal jadi harus istirahat total dan tangan kanan pun belum bisa beraktivitas berat karena lukanya cukup serius)

Mereka yang sering pindah-pindah rumah dan pindah sekolah juga rentan mengalami kesepian karena tidak punya cukup teman yang sama untuk bersosialisasi dalam waktu yang cukup. Mereka harus pindah dari satu kota ke kota lain, bertemu terus dengan orang-orang baru dan orang baru yang dihadapi pun belum tentu sejalan dengan pemikiran mereka, belum tentu bisa menjadi teman yang baik buat mereka sehingga mereka bisa saja merasa terasing dan kesepian.

Penyebab terakhir yang sering kita jumpai juga adalah karena status perkawinan. Orang-orang yang belum menikah (karena memang belum bertemu jodohnya) dan orang yang bercerai juga rentan mengalami kesepian. Itu karena manusia kan makhluk sosial ya, yang saling membutuhkan satu sama lain. Seindividualis dan semandiri apapun seseorang, toh juga pasti butuh kehadiran pasangan di sisinya. Ketiadaan pasangan atau kehilangan hubungan perkawinan akibat perceraian ini bisa memunculkan emosi negatif. Ada masa-masanya mereka merasa tidak dicintai, diabaikan, tidak dihargai, tidak dibutuhkan dan tidak..tidak lainnya. Emosi dan pikiran negatif yang lama-kelamaan menumpuk ini bila tidak segera diatasi bisa berbuah menjadi trauma emosional loh, terutama pada orang-orang yang bercerai. Sewaktu strata satu dulu saya meneliti tentang perceraian untuk tugas skripsi saya. Dari hasil penelitian itu, salah satu kesimpulan yang saya peroleh bahwa dari sekian banyaknya proses penyesuaian yang mereka hadapai pasca perceraian, mostly, mereka cenderung fokus untuk mengatasi trauma emosionalnya lebih dulu. Ya, trauma emosional adalah urutan pertama yang mereka perangi setelah kehilangan status perkawinan baik itu cerai hidup atau cerai mati. Trauma menjalin hubungan dengan orang yang baru dan memilih bertahan dalam kesendirian dalam waktu cukup lama dan yang seperti ini cenderung dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Salah satu dari klien saya dulu ada yang betah untuk tidak menikah lagi sampai sekarang dan dia perempuan. Kenapa? Karena trauma disakiti. Dia nggak mau salah pilih pasangan lagi, nggak mau dikhianati lagi sehingga memilih untuk being single mother. Padahal ada beberapa orang yang sempat mendekatinya untuk nikah tapi dia memilih untuk say no.

Selanjutnya, faktor kedua yang mereka perangi pasca perceraian adalah perasaan kesepian. Sepi karena harus memulai dari awal lagi, tidur sendiri, kerja banting tulang buat anak-anaknya sendiri dan perasaan kesepian ini lebih banyak dialami oleh laki-laki. Karena nggak mau ngerasa kesepian lama-lama, klien saya yang laki-laki semua memutuskan untuk menikah lagi. Dari hasil penelitian itu sih, klien laki-laki cenderung mudah mengalami depresi kalau sendirian terus akhirnya salah satu jalan praktis untuk mengusir kesepian itu ya dengan mencari istri baru. Tapi, tentunya didasari oleh banyak pertimbangan terlebih karena mereka punya anak, jadi harus nanya ke anak juga, mau nggak nih kalau Papanya nikah lagi. Kalau diizinkan, ya maju, kalau nggak, ya mereka mencoba bertahan walau sulit dan demi menjaga perasaan anak-anak (tapi jarang sih ada laki-laki yang bercerai terus nggak nikah lagi, beda sama perempuan yang tingkat ketahanannya jauh lebih kuat daripada laki-laki. Ini bukan kata saya, tapi hasil dari penelitian saya ya, hehe, biar nggak sok tahu gitu).

Apa sih yang bisa dilakukan saat perasaan kesepian itu datang?
Banyak cara mulai dari yang ringan sampai cara yang lebih serius sih.
❤Bagi yang berkepribadian intraversi, walau memang terbiasa fokus pada hal-hal yang bersifat internal dan menyukai suasana yang tenang dan sepi, tapi jangan menjadi penyendiri. Tetap bergaul seperti biasa. Jika masih sulit bergaul dengan orang lain, minimal keluar rumahlah untuk sekadar menghirup udara segar atau jogging dengan hewan piaraan.
❤Tidak masalah tidak punya banyak teman karena kesepian itu bukan cuman soal banyak atau sedikitnya teman. Orang-orang yang punya inner circle kecil pun, jika dia pandai memposisikan diri dan bisa mengontrol perasaannya dengan baik, maka perasaan kesepian bisa diatasi. Terkadang punya banyak teman tapi kalau nggak bisa nyambung dengan mereka ya kemungkinan perasaan terisolasi itu pasti ada. Jadi, tetap bergaul dengan inner circle yang memang tahu diri kita ini siapa dan kita ini orang yang seperti apa. Setidaknya orang-orang di inner circle kita sudah satu frekuensi dan bisa saling memahami juga saling support saat ada masalah
If at the same time, orang-orang terdekat atau orang tercinta sedang sibuk dengan urusannya sehingga lebih banyak mengabaikan, jangan berkecil hati dan tetap berusaha positive thinking. Mungkin saja mereka punya problem dengan pekerjaan sehingga seluruh perhatian hanya terpusat pada apa yang mereka kerjakan. Saat mereka kurang memperhatikan, maka tugas kita adalah memperhatikan diri sendiri. Sebab, kebahagiaan kita bukan tanggung jawab orang lain. Orang terdekat memang perlu membahagiakan satu sama lain tapi tanggung jawab sepenuhnya ada pada diri sendiri. Jika orang lain kurang memperlakukan kita dengan baik, maka giliran kita yang harus meluangkan waktu untuk mempedulikan kesejahteraan psikologis diri sendiri.
❤Saat kita tiba-tiba merasa inadequate dan disconnected dengan lingkungan, luangkan waktu sejenak untuk menjauh tapi hanya untuk sementara. Renungkan apa sih yang menyebabkan perasaan kesepian dan inadekuasi itu muncul. Mungkin kita sedang lelah atau bosan. Tidak ada salahnya untuk menyendiri sekejap, introspeksi apa saja sih yang harus dan tidak harus dilakukan. Berkreasilah dengan hal-hal baru atau hal-hal yang bisa membuncahkan semangat kita lagi, misalnya membuat kerajinan tangan, mendaki gunung hingga ke puncak bersama teman-teman lama atau lainnya
❤Bisa juga dengan cara menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang kurang mampu. Etts.. jangan salah. Membantu orang lain ini selain berpahala juga bisa menjadi obat hati buat kita yang lagi sumpek. Dengan melihat ke bawah, kita jadi berpikir ulang untuk mengeluh. Kenapa? Karena kita sadar kalau masih banyak orang yang penderitaan dan permasalahannya jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan dengan perasaan kesepian yang kita alami. Selain itu, kita jadi bisa memperbanyak syukur. Salah satunya juga bersyukur karena masih punya perasaan. Maksud saya, orang yang merasa kesepian kan tandanya masih peka, masih sensitif. Coba lihat orang-orang dengan gangguan psikotik, mereka bahkan sudah terputus kontaknya dengan dunia sekitar dan coba lihat orang-orang dengan gangguan anti-sosial berat, contohnya psikopat, mereka dibilang tidak berperasaan, iya karena membunuh dan merasa puas setelah melakukannya.
❤Jika perasaan kesepian yang dialami sudah memunculkan gejala depresi, maka tidak ada salahnya mencari bantuan pada ahlinya, maybe ke psikiater, psikolog, atau konselor untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
❤Luangkan waktu untuk beribadah lebih khusyuk. Jadikan perasaan sepi ini sebagai momen untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan mungkin juga lupa berdoa pada Tuhan. Dengan adanya rasa kesepian ini mungkin itu adalah cara Tuhan untuk say hello and get we back to Lord. Ya, Tuhan pasti punya maksud tertentu mengapa menimpakan kesulitan dan perasaan negatif pada kita. Bukan karena Dia membenci kita, justru karena rasa sayang-Nya, Dia ingin agar kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengingat-Nya.

Yap, sekian dulu artikel kali ini. Semoga bermanfaat. Yang lagi kesepian, semoga lekas terusir ya rasa sepinya.

GANGGUAN TIC, APAKAH ITU?

Gangguan Tic--Image by Paresma

Kalian pernah gak sih lihat orang yang sering mengedipkan matanya berkali-kali? Atau apakah kalian pernah melihat seseorang yang menggerakkan bagian tubuhnya secara berulang hingga tak terkendali? Jika iya, waspada sejenak, bisa saja orang tersebut mengalami gangguan Tic.


Bagi kalian yang sudah pernah membaca mengenai gangguan tersebut lalu bertanya, apakah gangguan Tic itu sama dengan Sindrom Tourette? Saya pernah share tentang ini di Instagram saya April 2017 lalu. Di sini, saya akan menuliskannya kembali. Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita ketahui dulu, apa sih yang dimaksud dengan gangguan Tic? Mungkin kalian akan dengan mudah meng-googling tentang gangguan tersebut dan setelah saya browsing di beberapa situs juga banyak yang mengulas sampai menuliskan kriteria diagnostiknya. Di sini, saya akan membahasnya secara singkat dan semoga bisa dipahami ya.

Gangguan Tic itu adalah salah satu jenis gangguan mental yang ditandai dengan gerakan sekelompok otot yang muncul tanpa disadari, kompulsif, tidak bertujuan, dadakan, dan terjadi terus-menerus baik dalam waktu singkat maupun lama. Tic juga dapat terjadi karena meniru gerakan/suara orang lain dan baru akan mereda ketika tidur.

Kalau tadi ada pertanyaan, apakah gangguan Tic ini sama dengan Tourette? Jawabannya adalah, gangguan Tic yang tidak ditangani dengan baik maka akan berkembang menjadi sindrom Tourette. Tidak hanya itu, gangguan Tic yang sudah parah hingga sudah masuk dalam stadium sindrom Tourette bisa saja muncul disertai gangguan lainnya atau bahasa ilmiahnya memiliki komorbiditas dengan gangguan mental lain diantaranya Obsessive Compulsive Disorder, ADHD, dan dalam tingkat derajat kronis, Tic bisa muncul disertai Conduct Disorder (bahasa awamnya gangguan perilaku kekerasan) sampai pada Self-Injury Behavior (Perilaku melukai/menyakiti diri sendiri). Serem amat yak?

Pada usia berapa sih gangguan Tic bisa diidentifikasi? Mengacu pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoder atau DSM atau kitab sakti gangguan mental, Tic ini dapat terjadi pada usia onset 18 tahun.

Jenis-jenis gangguan Tic itu seperti apa sih?
Secara garis besar, Tic itu terdiri dari 2 jenis yaitu tic motorik (berupa gerakan di bagian tubuh) dan tic vokal (berupa suara) dan derajat keparahannya mulai dari ringan (mild) hingga sangat berat (severe). Gangguan Tic ini bisa terjadi selama satu tahun atau kurang dari satu tahun. Gangguan Tic ini beda tipis dengan gerakan yang kerap dilakukan oleh kebanyakan orang namun punya kemiripan dengan gerakan seperti mengedipkan mata, menggerakkan kepala, tangan atau kaki tanpa tujuan dan terjadi secara berulang (bukan kejang). Namun, yang pasti, gerakan-gerakan yang terjadi pada gangguan Tic ini seringkali disertai dengan kecemasan berlebih sehingga gerakan tersebut akan semakin sulit untuk dikendalikan dan akan terus terjadi dan entah ini berita baik atau buruk, gerakan ini baru akan berhenti saat tertidur.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya gangguan Tic?
Tic bisa terjadi karena berbagai faktor antara lain:
  1. Aktivitas sistem syaraf pusat yang abnormal
  2. Ada masalah selama periode kehamilan, contohnya merokok, stress, obesitas dan konsumsi kafein selama kehamilan
  3. Buruknya kesehatan anak ketika lahir
  4. Stres sehari-hari pada anak yang terus berulang atau emosi kegembiraan yang ekstrem
  5. Modeling yang salah dari lingkungan
  6. Adanya disfungsi dalam keluarga (contohnya konflik pada orangtua, perceraian yang tidak berjalan baik pada orangtua atau ada trouble lain yang terjadi antar anggota keluarga di rumah)
  7. Trauma yang terjadi di sekolah pada anak-anak yang kemudian mempengaruhi cara dia dalam mengekspresikan dirinya.
Orang dengan gangguan Tic dan sindrom Tourette ini memerlukan penanganan yang serius. Penanganan yang diperlukan mulai dari terapi biomedis atau dengan obat-obatan (obat yang biasa diberikan oleh psikiater adalah sejenis pimozide atau huvoxamine, dan masih banyak lagi jenisnya). Selain biomedis, penanganan berupa psikoterapi juga diperlukan diantaranya pemberian Habits Revearsal Training untuk melatih agar bisa mengontrol atau mengurangi gerakan yang dilakukan, maupun langkah preventif sedini mungkin seperti penatalaksanaan Intervensi Psikoedukasi Keluarga mengenai gangguan Tic serta Intervensi akademik dan okupasi bagi anak dengan gangguan Tic yang bersekolah.

Agar lebih jelas lagi mengetahui tentang gangguan Tic ini, kalian bisa browsing video di Youtube, ketikkan kata kunci Tic atau Tourette, maka kalian akan menemukan cukup banyak video tentang topik ini. Saya pun pernah menonton salah satu video di Youtube tentang kisah nyata seorang anak (yang sekarang sudah berusia dewasa) yang berusaha mati-matian menyembuhkan gangguan Tic ini bersama kedua orangtuanya. Anak tersebut bahkan teramat sulit mengendalikan gerakan-gerakan yang muncul hingga rumahnya tampak seperti "kapal pecah" akibat gerakan yang dilakukan dan tentu saja hal itu di luar kontrolnya. Sampai akhirnya, mereka satu keluarga bertemu dan berkonsultasi dengan salah satu psikolog dan gangguan Ticnya berangsur-angsur tertangani.

Yap, sekian dari saya ^_^ Happy fasting

NGOMONG SENDIRI, PERLU GAK SIH

"Self-talk reflects your innermost feelings" 
-Asa Don Brown-


Apakah berbicara pada diri sendiri selalu dicap abnormal? Tentu tidak. Berbicara pada diri sendiri atau yang dalam bahasa Inggris disebut self-talk ini memiliki beberapa manfaat. Berbicara sendiri yang dilakukan oleh orang dengan gangguan psikotik dan self-talk yang saya maksud itu berbeda ya.


Menurut Professor Psikologi, Gary Lupyan dari Universitas Wisconsin, self-talk bukanlah perilaku abnormal. Seorang psikolog di bidang pertanian yaitu Anne Wilson Schaef dan psikolog dari Universitas Michigan yaitu Ethan Kross menambahkan bahwa berbicara pada diri sendiri atau self-talk yang semisal dilakukan oleh seseorang di depan cermin, bisa memberikan manfaat. Manfaat tersebut antara lain membantu seseorang menguatkan memorinya mengenai hal yang dibicarakan. Kok bisa? Saya yakin kita semua pernah melakukannya, sadar atau tidak. Seperti saat hendak berdiri di panggung untuk melakukan sebuah pidato, sebagian orang ada yang memilih untuk menghapalkan naskah pidatonya dengan cara self-talk, berdiri di depan cermin kemudian melihat apa yang telah ditulisnya di kertas lalu menghapalkannya sedikit demi sedikit. Teknik seperti ini cukup membantunya untuk memahami serta mengingat apa saja poin-poin penting atau isi yang ingin disampaikan melalui pidatonya. 

Self-talk ini membuat kita bisa mengorganisir dan memfilter mana hal-hal yang prioritas, mana yang penting namun bisa ditunda dan mana yang benar-benar tidak penting. Melalui self-talk, kita bisa memahami dan menguasai diri sendiri. Ketika kita baru saja mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan, pasti akan berpikir bagaimana cara untuk menghindari agar tidak gagal/salah kedua kalinya, menerima dan mengakui kesalahan itu dengan jujur, memaafkan diri, membuat planning dan memberi motivasi untuk teguh mewujudkan planning tersebut ke dalam perbuatan nyata bahkan menciptakan produk kreatif yang mungkin bisa memberi manfaat bagi orang lain juga. Kita pun bisa menemukan hal mengejutkan terjadi pada diri kita apabila konsisten dan commit melakukan berbagai perbaikan diri dan itu semua bermula hanya dari self-talk.

Manfaat lainnya adalah menenangkan seseorang sehingga dapat mengontrol emosinya ketika akan atau tengah menghadapi bahaya. Nah, ini biasanya yang paling sering terjadi. Saat kita dalam keadaan under pressure atau sedang dalam situasi tertekan, cemas berlebihan maka tidak jarang akan keluar kalimat-kalimat tertentu dari bibir kita. Ada yang bersumpah serapah sampai mulutnya penuh dengan kebun binatang dan ada pula yang memilih kalimat-kalimat positif seperti, "sabar", "kuat, "aku pasti bisa", "semangat" dan sebagainya. Iya, nggak? Kalimat-kalimat positif dalam self-talk yang kita lakukan ini bisa memantik rasa percaya diri seseorang sehingga mampu menghadapi situasi tekanan tersebut.

Self-talk ini juga merupakan salah satu teknik dari psikoterapi dengan pendekatan perilaku atau behaviorisme dan ini sering digunakan oleh para ahli ataupun psikolog kepada kliennya. 

Self-talk bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak harus menunggu ada situasi penuh tekanan dulu kok. Setiap malam sebelum tidur, saya pribadi pun sangat sering melakukan self-talk. Bukan karena mentang-mentang saya tidur di kamar sendiri tapi saya memang orang yang cukup sering berbicara pada diri sendiri sebagai sebuah bagian dari proses introspeksi, refleksi, atau kontemplasi atas kesalahan, kegagalan, keberhasilan dan apapun yang terjadi pada hari itu. Ya, pikir saya, tidak perlu menunggu orang lain untuk memberi pujian atau menyemangati diri kita. Kitalah yang sangat paham terhadap diri kita dan kita pulalah yang terlebih dahulu harus menyemangati diri sendiri.

Sudahkah kita self-talk?

JANGAN KESERINGAN MENJUDGE DIRI SENDIRI

TERPURUK. UNDERDOG. GUILTY. ANGRY. SADNESS. Pasti semua orang pernah merasakannya. Dan, kata-kata negatif ini menginspirasi saya untuk menulis blog saat ini.

Barusan saya nonton infotainment. Berita tentang perceraian seorang artis muda yang pernah terlibat masalah "kejiwaan". Kalau nggak salah, dia juga anak psikologi. Tapi... dia juga manusia biasa sama seperti lainnya. Dia pernah mengalami gangguan pada jiwanya. Saya yakin, kalian pasti paham siapa yang dimaksud.

Masa-masa terpuruk juga pernah saya alami. Dulu, ketika kecil, saya adalah seorang anak ingusan yang pernah di-bully oleh lingkungan pergaulan. Tentu nggak ada yang mau terus-terusan jadi korban bullying dari TK sampai SMA, bukan? Ketika SMA, saya pernah mengalami underdog feelings. Saya hampir putus asa, hampir minggat dari rumah, hampir terpikir untuk bunuh diri. Dan, masalahnya hanya satu: bullying. Saya jengah dan jenuh melihat tindakan teman-teman yang suka jahil terhadap saya. Mau punya prestasi atau tidak, mereka tetap menganggap saya korban paling "enak" untuk diuji, karena kepolosan dan kesabaran yang saya miliki. Begitu kata mereka.

Namun, keputusasaan itu lenyap seketika saya menyadari betapa saat itu saya lupa pada Allah. Betapa saya lupa menyadari, masih ada orang-orang dan sahabat yang menyayangi meski tidak banyak.

Ketika kita larut dalam alam kesedihan, pikiran dan perilaku juga akan terpengaruh. Kita tak dapat berpikir jernih, sulit mengambil keputusan, inginnya memutuskan sesuatu dengan jalan pintas, menganggap sekeliling adalah sama buruknya dengan hal yang dialami, merasa tidak ada yang peduli, merasa semuanya menjauhi kita padahal kita sendiri lah yang menciptakan jarak dalam kesunyian. Parahnya, kita malah sering memberikan sanjungan negatif pada diri sendiri dengan kata caci/maki seolah kita sudah tak cinta lagi pada diri ini.

Kesedihan itu adalah emosi yang normal. Tapi, jika sudah berlebih dan larut ke dalamnya, itu akan menjadi pembunuh bagi diri sendiri. 

Ketika membaca blog artis tersebut, saya mengamati mayoritas isinya menguarkan aroma negatif terhadap diri sendiri. Ada kalanya menyanjung diri setinggi-tingginya dan ada momen di mana dia mencaci diri hingga berani menjudge bahwa dirinya adalah seorang yang "depresi".

Apakah kalian tahu? 
Betapa aneh, banyak orang yang merasa enjoy ketika menyebut dirinya frustrasi atau depresi
Betapa aneh, banyak orang yang bangga menjadikan kata-kata itu sebagai julukan untuk dirinya dan orang lain
Padahal, seorang pasien yang jelas-jelas menderita depresi ringan, menengah hingga berat saja tak ingin di-judge begitu
Mengapa?
Sebab pasien tersebut paham, betapa buruknya kata itu: depresi
Ahhh... sudahlah!
Tak perlu men-judge diri sebagai pribadi depresi
Karena biasanya pasien depresi tak akan sudi menerima bahwa dirinya depresi
Tak perlu laah men-judge diri sebagai pribadi depresi
Itu hanya akan membuat jiwamu stuck dalam lingkaran setan tersebut

Ketika kita merasa sedih
Sebutlah nama-Nya
Jangan terlalu lama menyelam dalam lautan negatif
Bukalah jendela dan pintu rumah kita
Lihatlah, betapa hari ini dan esok sangat indah daripada apa yang kita terka

Kau tahu?
Berbicara pada diri sendiri itu cukup perlu
Saat kita sedang introspeksi
Saat kita sedang menyesali kesalahan diri
Tapi, takarannya tentu tak boleh berlebih
Berbicaralah pada diri sendiri dengan kalimat positif
Bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk tak putus asa?

Kalo diri kita berbuat salah, memang tak ada salahnya introspeksi dan menyesali. Namun, jangan pernah menyalahkan diri. Saat terkena musibah, ingatlah bahwa Allah tuh sedang ngasih ujian buat diri kita biar bisa naik ke level yang lebih tinggi. Diri kita juga butuh dipuji tapi juga jangan berlebihan. Semua kudu seimbang ya.

Oh ya, jangan lagi pake kata depresi buat unjuk-unjukan, julukan apalagi ejekan. Kalo belum paham apa itu depresi, tentu kita nggak akan mau disebut apalagi dicaci atau mencaci diri sendiri sebagai orang "depresi". Arrrghh mengerikan!

YES OR NO

by google
Judul postingan ini adalah judul sebuah drama Thailand, Yes or No. Saat search di youtube, awalnya saya ikuti saja alurnya. Tapi, sudah saya duga. Film ini menyibak tentang sebuah fenomena cinta seorang Lesbian.

Ye or No ada volume 1, 2 dan 3. Untuk sementara ini ada 3 volume. Nggak tahu apa ada volume 4 atau tidak nanti.

Jika kalian sedang menganalisis kasus atau ingin observasi perilaku Lesbi, mungkin film ini cocok masuk list. Tapi, film ini tidak menguak penyebab tokoh Kim mengapa ia menjadi Lesbi. Di volume 1, ia sempat bercerita sekilas mengenai keadaan orangtuanya. Itupun masih dangkal untuk dijadikan sebagai salah satu daftar analisis penyebabnya. 

Makin ke sana, film ini makin absurd saja. Lihat saja cewek-cewek yang dekat dengan Kim. Mulai dari Pie yang udah mendeklarasikan dirinya sebagai "girlfriend" Kim lalu si Yam (teman internship Kim di Provinsi Nan). 
Saat Kim menyebut "I like jam" dengan pronouns "Jam" (selai) disebut menjadi "Yam" (nama temen magangnya, membuat si Yam salting dan jatuh cinta pada Kim. Padahal di teks percakapan ada kata "her" sebagai penyebut Kim. Seharusnya sih Yam tahu kalau si Kim itu cewek tulen, bukan cowok. Hanya memang Kim ini tomboinya kebangetan dan only attracts to girl. 


Cckckck.... Selama menonton, saya selalu cekikan. Memang tidak ada komedinya. Yang saya tertawakan adalah seluruh perilaku absurd Pie-Yam-Kim. Saya kasihan pada Kim. Kalau menurut pengamatan saya, ayah si Kim terlalu cuek dengan "penampakan" Kim. Ayahnya justru sering menyebut Kim sebagai "A tiger" (sebutan yang sebenarnya untuk kaum laki-laki). Nah, dari satu hal itu setidaknya bisa kita tarik benang merah bahwa pola didik ayah Kim dari awal sudah salah. Sejak ibunya Kim tiada, Kim tentu mengimitasi sang ayah secara menyeluruh sebagai figur seorang laki-laki. Absurdnya lagi, saat ayahnya tahu kalau Kim suka sama Pie, sang ayah malah menyetujui hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Memosisikan Kim sebagai seorang "pria" dan Pie sebagai wanitanya. 

LGBT memang sebuah "aib" tersendiri. Meski sekarang di kitab DSM-V telah menghapus LGBT dari list sexual disorder, tapi hal tersebut, menurut saya pribadi tetaplah menjadi disorder selamanya. Namun, dalam menghadapi kasus seperti ini, sebagai seorang Psikolog atau calon Psikolog memang tidak mudah. 

Saya pernah menghadapi satu kasus dan mungkin pernah mempostingnya tapi lupa kapan. Saat itu memang hanya konseling via email. Tapi, perlu ditekankan, sebagai seorang Psikolog tidaklah boleh ujug-ujug langsung "men-judge" ini salah, itu benar. Itu susahnya. Sehingga dalam setiap kasus apapun, kami memang harus dan wajib bersikap netral. Bukan berarti kalau terjadi penyimpangan berarti mendukungnya. Tidak begitu. Maksud netral di sini adalah berusaha seobjektif mungkin dalam mengamati dan memahami alur kasus itu sendiri. Kudu open-minded terhadap segala sebab-musabab dari sebuah kasus.

Jujur, saya selalu kasihan dengan para pelaku LGBT. Terlebih jika mereka demikian akibat salah didikan dari keluarga. Lagi lagi keluarga. Karena sejauh ini selain faktor lingkungan, keluarga-lah yang paling sering terindikasi sebagai pemicu dari masalah semacam ini. Yaa memang masih banyak faktor lainnya.

Kembali ke film Yes or No. Dalam film itu, seolah-olah lingkungan pun makin kondusif saja. Tentu ada yang tidak setuju, dari pihak ortu si Pie, teman laki-laki Pie yaitu si Van dan anak geng laki-laki di kampus. Namun, coba lihat sikap dan perilaku Bibi Inn terhadap Kim. Makin mengesahkan Kim untuk melampaui kodratnya saja. Terlebih saat Bibi Inn bilang pada Kim, "Kau cukup bertindak sebagaimana kata hatimu. Kau adalah apa yang ada dalam hatimu."

Memang.. memang. Masalah cinta dan LGBT itu adalah dua hal berbeda. Dan, di film tersebut memang lebih bercerita betapa kokohnya cinta si Kim dan Pie. Walau begitu, saya masih bingung. Untuk saat ini, saya berpikir bahwa faktor "cinta" tidak bisa dikatakan sebagai faktor penyebab yang valid untuk masalah LGBT. Sebab cinta itu terlalu luas dan merupakan salah satu bagian dari faktor emosional. Tentu, kita nggak bisa menjadikan "cinta" sebagai pembanding alat ukur. Itu sih menurut saya. Tapi anehnya, di luar sana, termasuk klien yang pernah konseling pada saya seringkali mengucap, "Karena cinta.. Karena saya cinta .. Karena rasa itu muncul tiba-tiba dan tidak terkendali sehingga segalanya pun dengan begitu mudah diterobos."

Sampai saat ini, belum ada ya penelitian eksperimen klinis untuk "menyembuhkan" kasus LGBT. Rada "mengerikan" juga sih kalau menangani kasus ini karena sering kami mendengar pengalaman kakak-kakak tingkat yang malah hampir "terjerumus" sebagai incaran LGBT kala penelitian. Huhu... apalagi menghadapi lesbian itu masih agak susah dibanding menghadapi seorang gay. Ya mungkin karena kita perempuan kali ya, jadi faktor emosional juga dipakai. Heheh...

Heum, untuk kasus yang pernah saya tangani pun, sayangnya klien saya malah "kabur" sendiri sebelum sempat masuk sesi eksekusi akhir. Memang saat itu dia tengah dirundung masalah. Jadinya, saya juga nggak pernah memaksa. Kalau memang diteruskan sampai tuntas ataupun tidak, semua kembali pada klien. Saya juga belum berani memberikan treatment apapun. Hmm... masih harus belajar keras nih. Semoga kelak akan ada penelitian klinis untuk penyembuhan LGBT. Kalaupun tidak ada, yaaa saya cuma bisa berdoa, semoga tragedi kaum LUTH zaman modern khususnya di Indonesia nggak sampai membuat negeri ini mendadak "Hujan batu". Hiii.. ngeri, kan? Naudzubillah. 

Saya juga turut prihatin dengan seluruh pelaku LGBT. Berharap, jika masih ada kesempatan, semoga Tuhan menunjukkan jalan dan cara terbaik-Nya untuk menggiring mereka kembali.