Pages

HOW TO HANDLE WORKPLACE CONFLICT

"Speaking without Thinking is like Shooting without Aiming." 
-Ancient Proverb- 


Long time no see...
Thanks for all my silent reader in here..
Sudah memasuki bulan Mei. So excited soalnya Mei itu adalah momennya si blog ini ulang tahun. Blog ini sejak Mei 2011 mulai beroperasi (tsaah... kek mau launching mobil aja ya pake kata beroperasi). Sekarang udah 2018 jadi udah 7 tahun. Wow... 7 tahun saya ngeblog meskipun dengan time schedule yang berantakan, maksud saya, udah mulai jarang-jarang ngeblognya karena harus multi-tasking.



Alhamdulillah tepat di bulan blog anniversary ini, saya juga udah dua bulan lebih bekerja di kampus. Kampus mana? UMM lagi cuy. Hahaha... Kalo ada yang bilang, kok di situ-situ aja sih? Kok nggak nyoba ke luar aja sih? Udah gans, tapi ya untuk saat ini rejekinya berlabuh di kampus sendiri. Yaa.. untuk saat ini saya berkiprah di sini dulu sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih saya kepada salah satu dosen saya (yang udah nawarin saya pekerjaan ini walaupun bukan dia pimpinan langsungnya). Alhamdulillah juga, status pekerjaan saya sekarang lumayan naik level dikit lah jadi instruktur lab psikologi dengan embel-embel universitas, which is setara dengan karyawan UMM pada umumnya. Karena masih baru, jadi SK-nya masih belum turun jadi belum bisa ngurus ID Card sama lainnya. But, it's seems..not bad lah, daripada saya luntang-lantung di rumah cuman ngerjain itu-itu aja.

Kok agak nggak nyambung sama judulnya ya.

Kembali ke topik yang mau kita bahas. Judul ini bukan semata-mata saya comot dari pikiran mentang-mentang karena saya udah dapat kerjaan, bukan juga pengen gibah karena ini lagi ramadhan (oya betewe, happy fasting ya) dan bukan juga karena saya mau sok-sok jadi pakar resolusi konflik. Bukan. Kepikiran buat nulis tentang topik ini karena... di mana pun kita kerja dan apapun pekerjaannya, pasti akan ada konflik. Konflik apakah itu? Pastinya berbeda tiap orang tiap lembaga tiap perusahaan.

Konflik adalah situasi dimana terdapat suatu ketidaknyamanan atau adanya tujuan, emosi atau kognisi yang tidak kompatibel di dalam sebuah perusahaan/lembaga/tempat kerja atau antara individu atau kelompok yang mengarah pada interaksi oposisi. Konflik bisa terjadi karena adanya ketidaksesuaian/pertentangan dengan pihak atau orang lain menyangkut kebutuhan. keinginan, persepsi, nilai, gagasan, sumber daya, minat, tujuan, kepribadian dan pendekatan dalam penyelesaian masalah. Dan... konflik adalah sesuatu yang normal terjadi sebagai bagian dari kehidupan berorganisasi, bekerja dan berinteraksi.

Di awal-awal semester genap ini, saya sudah menghadapi konflik. Sebagai instruktur yang tugasnya menjadi perantara dosen dengan mahasiswa, banyak hal yang bisa aja terjadi. Miskomunikasi terkait jadwal perkuliahan, RPS, hingga terkait cara mengajar dosen ditambah mahasiswa jaman now yang udah kalo ibarat Bon Cabe tuh mungkin udah di atas level 30. Why? Mahasiswa jaman now itu udah nyaris-nyaris setara aja sama seorang kritikus, apa-apa dikomen, dapat tugas dari dosen susah sedikit aja dikomenin, dikeluhin de es be de es be...Syukurlah mereka nggak kayak penyanyi dangdut yang ngomenin segala sesuatunya pake dilagukan. Padahal teknologi tu udah canggih. Antara instruktur, mahasiswa dan dosen udah diwadahi Grup Whatsapp. Eh, tapi ada aja alasan mahasiswa nih, yang kalo buka WA saking udah panjang banget notifnya jadi males baca. Ya, salah siapa dong kalo ketinggalan info???

Di semester ini, saya kedapetan matkul Tes Psikologi Lanjut yang isinya adalah praktikum tes proyektif. Dua dosen yang saya dampingi pun mempunyai karakter/ciri khas mengajar yang sedikit berbeda dibanding dosen-dosen lain dalam jajaran pengampu matkul itu. Jadi, saya awalnya juga udah nggak shock karena udah tahu jam terbang dosen-dosen tersebut dan pola pikirnya dan lainnya. Yang jadi konflik adalah bagaimana memenej supaya meskipun ada dosen yang keurutan RPS berbeda dari dosen lainnya, mahasiswa tetap memperoleh tugas yang sama dan jadwal praktikum seperti kelas yang diampu dosen lain.

Overall, semua bisa saya atasi. Mahasiswa pun udah paham, dan saya juga sering berpesan dan mengabarkan kepada dosen pengampu bahwa ketika mereka nggak masuk dan saya yang mengisi materi, saya selalu minta untuk dikoreksi apabila ada penjelasan saya yang nggak match atau menyimpang banget. Alhamdulillah dosen-dosen tersebut pun juga memahami bahwa meskipun saya udah S2 tapi nggak menutup kemungkinan kesalahan dalam penyampaian maksud dan tujuan iu muncul karena berbagai sebab.

Selain konflik terkait perkuliahan, saya pun juga merasakan (mungkin orang lain juga pernah merasakan hal serupa dengan saya) satu problem. I mean, problem antar pribadi. Sebenarnya nggak ada konflik yang gimana-gimana banget sih dengan rekan sekerja. Cuman secara personal dan di luar teknis pekerjaan, ada values dan persepsi yang mana saya nggak bisa match dengan rekan. Apakah itu? Berhubung saat ini badan saya masih kurus, jadi saya kerap mendapatkan "bualan" tentang body shamming di tempat kerja. Saya pribadi sih udah terbiasa dipanggil kurus, karena toh in fact, i'm thin. Namun, satu yang cukup saya pahami bukan berarti saya membenarkan "bualan" atau candaan dari orang lain adalah komponen kata yang dirangkai membentuk sebuah persepsi. Persepsi itulah yang membuat saya gerah. Iya, karena sungguh, saya juga pengen banget kok gemuk. Saya juga nggak tahu kenapa track record BMI saya jadi menurun meski udah makan dan ngemil banyak dan hepi aja. Mungkin karena riwayat kesehatan saya dulu yang buruk jadi efeknya baru terasa ketika saya benar-benar berubah jadi kurus.

Saya nggak bisa terima saat mereka berkata bahwa saya "memelihara cacing". Note it, tiap tahun saya minum obat cacing loh ya. Dan ada timing dimana saya memperbanyak buah-buahan bervitamin tinggi agar imun saya bisa terjaga sekalipun saya sedang sakit-sakitnya.


Saya juga nggak bisa terima saat mereka berkata bahwa saya "nggak doyan makan", "nggak doyan ngemil". What? Bahkan kalian boleh kok liat sendiri porsi saya sekali makan itu jauh lebih banyak dibanding orang gendut kalo lagi makan. Toh, mereka nggak tiap 24 jam penuh melihat saya kan, jadi di luar jam kerja, mereka juga nggak tahu kan saya makan apa aja dan berapa banyak.


Tapi lama-lama saya mencoba untuk "bodo amat" dengan persepsi mereka yang kayak gitu. Dalam hal ini saya mencoba sejenak berpikir pragmatis demi well-being saya sendiri. What? Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa lagi-lagi setiap orang punya "warna" nya sendiri-sendiri dan buat saya, kebahagiaan saya nggak boleh dicarut-marutkan hanya karena dan oleh omongan sarkas dan sinisme dari orang lain. Ya know mereka ingin juga menyampaikan maksud di baliknya semacam ada sisipan bahwa rumput tetangga (read: berat badan) orang lain jauh lebih hijau (read: ideal/bagus/bohai) daripada rumput sendiri. Tapi, kalo saya terus-terusan berpatokan pada hal itu, lalu saya nggak bahagia hanya gara-gara omongan itu, kapan saya mau hidup tenang? Iya nggak sih?

Saya bahkan selalu menampik dengan ujaran pujian untuk menghargai diri sendiri sambil berceloteh begini, "Ah, iya sekarang aku kan lagi latihan jadi girl band ala-ala korea gitu deh, yang BBnya sama semua."

Ada masanya bunga itu bersemi dan daun meranggas. Ada masanya pula kok saya bisa gemuk. Ya, saya yakin. Bisa gemuk suatu hari nanti dan nggak perlulah saya mengucap mereka akan terkesima melihat saya in the future. Hahahah... kepedean gueh.. Ini hanya menggurau aja kok supaya intimidasi tersebut nggak bakal ngefek ke persepsi saya terhadap diri sendiri. Atau dengan kata lain, saya nggak ingin membiarkan persepsi orang lain kemudian membuat saya benci pada diri sendiri.


Next, how to handle when workplace conflict exist?

Coba deh kalian baca salah satu buku terbitan McGraw-Hill tentang sumber dan resolusi konflik. Atau, kalo kalian pernah baca Five Conflict Management Style yang diidentifikasi oleh Thoman dan Kilmann, maka mungkin kalian bisa mencobanya tuh.


Conflict Management Styles | Michelle Bañuelos | Pulse | LinkedIn


Jadi, menurut Thoman dan Kilmann, gaya manajemen konflik itu ada 5 tipe. Nah, melalui 5 tipe tadi, kita juga bisa mengidentifikasi orang ini nih termasuk asertif ataukah kooperatif dalam memenej konflik (seperti gambar di atas tuh. Mau dibahas satu-satu nggak? Okke, kita bahas deh ya.

  1. Accomodating, Orang dengan tipe ini persis seperti slogan, mendahulukan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Dibilang ngalahan, nggak juga sih. Cuman lebih bisa membangun emosi yang positif dengan lebih mendengarkan apa yang dibutuhkan orang lain dan perusahaan, percaya bahwa relasi itu adalah hal penting daripada hal lainnya, dan pendekatan accomodating ini dalam penyelesaian masalah akan efektif apabila pihak lain sudah mempunyai solusi terbaik sehingga bisa beradaptasi dengan keputusan atau solusi yang disepakati bersama.
  2. Avoiding, tipe pendekatan dimana seseorang dengan ciri seperti ini tidak ingin terlibat dalam konflik apapun. Bagi mereka, saat ada konflik, mereka membiarkan orang lain yang memutuskan dengan catatan asalkan diri mereka nggak disangkutpautkan dengan masalah yang terjadi. Orang kayak gini juga cenderung mengutamakan keuntungan pribadi atas solusi yang ditetapkan oleh orang lain namun dirinya sendiri nggak mau berkontribusi.
  3. Collaborating, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang tidak berparadigma win and lose, buat mereka saat ada masalah, nggak ada yang untung atau rugi dan nggak ada yang menang dan kalah. Bagi mereka, bekerja/berusaha mencapai tujuan bersama dan "menang" bersama merupakan hal pokok. Orang kayak gini juga pandai mencari solusi yang dapat disepakati atau dapat bermanfaat bagi kepentingan bersama, mampu memantai ketika ada kres dalam relasi antar individu atau kelompok dan mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
  4. Competing, orang dengan tipe pendekatan ini adalah mereka yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak. Mereka ingin didengarkan dan dipenuhi kehendaknya tanpa memikirkan orang lain, nggak bisa diajak kooperatif alias keras kepala banget, mudah mengacaukan suasana dan relasi dan paradigma win and lose itu kepake banget. Tapi sebenarnya pendekatan ini akan berguna jika memang outcomenya sangat penting dan memang ada dalam situasi sangat mendesak alias harus mengambil keputusan dalam waktu singkat.
  5. Compromising, ini merupakan level pendekatan yang moderate, nggak yang asertif tapi juga nggak kooperatif. Orang seperti ini menganut paham bahwa ketika berada dalam situasi mencekam dan solusi yang diputuskan tidak cukup baik, maka semua orang mau nggak mau harus ngerasain "ketidakbaikan" atas konsekuensi dari solusi itu nantinya. Dengan kata lain, apapun solusinya dan konsekuensinya, akhirnya kudu sama-sama impas dah daripada nggak sama sekali.


Nah, apapun pendekatan manajemen konflik yang digunakan, semua pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal kita aja yang siap apa nggak menghadapi dan memutuskan.


Oke, sekian dulu ya, semoga bermanfaat.

TELL ME HOW TO SOLVE THIS GUILTY FEELING

Hasil gambar untuk guilty feeling quote



Beberapa hari lalu saya sempat chit-chat dengan salah seorang sahabat. Sebut saja namanya Melati. Melati ini kuliah Magister di salah satu universitas di Malang. Kalau ada yang baca ini dan kenal dengan orang yang saya maksud, saya nggak mau ngomongin dari belakang. Hanya mengambil banyak hikmah dan makna dari perjalanan hidup beliau saat ini. Yeah, mungkin di luar sana ada segelintir orang yang butuh di-refresh dengan contoh pengalaman nyata. Bisa jadi, ada yang punya pengalaman serupa dengan si Melati dan semoga kalian terinspirasi setelah membaca ini.

Guilt.
Guilt merupakan penyesalan atas pikiran, perasaan, sikap atau keadaan negatif yang terjadi pada diri sendiri atau pada orang lain. Seseorang yang punya guilty feeling akan merasa seolah harus bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang ia perbuat dan atas situasi buruk yang menimpanya.

Perasaan bersalah itu literally punya manfaat bagi orang yang ngerasain. Manfaatnya adalah, dengan adanya perasaan bersalah, seseorang dapat melakukan introspeksi atau melakukan refleksi dengan mengaitkan antara dirinya dengan situasi negatif yang terjadi. Jadi, guilty feeling ini sebenarnya merupakan proses evaluatif supaya seseorang menyadari sesuatu yang salah, mengembangkan solusi untuk mengatasi "kesalahan" itu dan yang lebih penting lagi adalah menjadi sarana bagi seseorang untuk menerima situasi buruk yang menimpa akibat kesalahannya dan belajar tanggung jawab.

Mengakui kesalahan itu memang baik tapi memelihara perasaan tersebut terus-menerus hanya akan membuat hidup stuck di situ-situ aja. Bahkan, perasaan bersalah yang diinternalisasi secara berlebihan bisa saja menyebabkan seseorang jadi takut untuk melangkah ke depan, takut salah lagi. Guilty feeling yang sudah tidak sehat itu juga bisa membuat seseorang kebanyakan berimajinasi. Maksud saya, kebanyakan berandai-andai seolah dia harus begini dan begitu supaya nggak melakukan kesalahan atau supaya nasib buruk nggak menimpanya.

Guilt berbeda dengan regret. Menurut Berndsen dkk pada penelitiannya tahun 2004 silam, bahwa guilt itu berhubungan erat dengan interpersonal harm, it means bisa mempengaruhi, membahayakan, merusak hubungan orang yang merasa bersalah itu (bukan hanya pada dirinya) tapi juga hubungannya dengan orang lain di sekitarnya. Sedangkan regret adalah sebaliknya, lebih banyak berhubungan dengan intrapersonal harm.

Jadi, sebenarnya perasaan bersalah itu ada yang normal juga kan ternyata. Guilt juga punya kaitan erat dengan prosocial behavior. Dengan kita tahu kalau kita salah dan menyesalinya, kita jadi bisa berempati juga pada orang lain. Berbeda halnya dengan orang yang guiltlessness alias nggak punya rasa bersalah, hati-hati gengs. Orang yang kepekaannya nyaris nggak ada itu bisa kita lihat pada orang-orang dengan kepribadian antisosial. Orang dengan kepribadian antisosial ini sulit untuk peduli pada sesuatu dan sulit untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Dan lagi, mereka yang nggak punya rasa bersalah ini-kalau di dalam literatur psikologi tentang guiltlessness-itu diidentikan dengan minus moral emotions sehingga mereka cenderung bertindak immorally.



Ya, namanya manusia, kita memang punya kendali atas apa yang ingin kita capai, tapi Tuhanpun juga bekerja. Terkadang, ada saat dimana situasi nyata nggak sejalan dengan harapan. Kadang pula kita harus ditempa berbagai ujian, kesalahan dan kegagalan. Supaya apa? Supaya kita bisa belajar untuk meminimalisir peluang jatuh pada kesalahan dan kegagalan yang sama. Tapi, ada juga sih tipe orang-orang yang sampai sedemikian sering gagal dan bersalahnya, sampai nggak bisa berpikir realistis, depresi, hingga menjauhi segala hal yang berhubungan dengan pemicu something yang pernah buat dia salah dan gagal atau dengan kata lain nggak mau trial and error.

Menilik pengalaman sahabat saya tadi yaitu si Melati, saya terus terang aja iba sama dia. Dan, ini adalah titik dimana ia baru pertama kali merasakan hal ini dan melakukan seperti ini. "Ini" yang saya maksud adalah... Jadi, singkat cerita, dia lagi kebut tesis, namun selalu susah menemukan judul. Pas sudah nemu judul, dosennya menganggap itu tuh cuma ecek-ecek (dosennya menolak). Belum lagi, Melati harus berbohong pada orangtuanya. Melati kerap mengatakan bahwa dia sebentar lagi bakalan selesai, namun kenyataannya bahkan proposal pun dia belum bikin juga.

Melati juga sempat depresi, beberapa minggu nggak keluar kamar kos. Semua rutinitas tampak terhenti begitu saja. Belum lagi, dia juga sempat mengalami infeksi kandung kemih. Alhamdulillahnya, sekarang kondisinya sudah membaik. Tapi, karena dia jarang sekali keluar kos, jarang menghirup udara segar, terus-terusan madep laptop namun nggak kunjung dapat pencerahan, pikirannya pun jadi kalut, sulit berkonsentrasi dan motivasinya hilang timbul begitu saja.

Saya yang notabene nggak sejurusan sama dia pun nggak bisa banyak bantu. Sebagai psikolog, ingin sekali pastinya ngebantu Melati, namun bantuan saya tampaknya nggak ada yang mempan untuk Melati. Sudah coba konseling, bahkan kasih terapi sederhana, besok-besoknya Melati juga nggak bisa konsistens ngejalaninya sampai drop lagi. Satu sisi saya kasihan, tapi satu sisi lagi saya juga nggak ngeh dengan bidang mata kuliahnya yang mana jika itu diterapkan dalam sebuah penelitian, outputnya bagaimana dan metodenya seperti apa dan isu yang diteliti itu apa. 

Tiga hal yang sering saya lakukan untuknya adalah menyemangati, ngajak jalan/refreshing dan mendoakan. Walau frekuensinya juga nggak sering karena tahun lalupun saya masih sibuk kuliah masa-masa tesis juga. Saya juga sempat ngajak Melati turlap bareng saya dengan harapan dia bisa sedikit terhibur dan pikirannya bisa segar kembali. Namun, setelah saya jarang mengunjunginya karena saya pun sudah kerja, dia kumat lagi. Sungguh, ini saya pikir kurang ngebantu sih buat Melati. Yang dia butuh tuh bantuan konkret seperti  membantunya nemuin gap penelitian, metodenya bagaimana dan harus mulai dari mana ngetiknya.

Tahun lalu, saya juga sudah ngajak dia konseling dengan teman saya. Awalnya, motivasinya mulai terang, tapi sepulang dari situ, redup lagi. Kambuh-kambuhan gitu dah. Kan ada tuh kan masa-masa dimana ketika kita bisa bantu ngasih insight ke orang lain supaya sadar dengan apa yang "abnormal" dalam dirinya, dan supaya orang tersebut bisa lebih mudah diarahkan sampai kita ngerasa effortless. Maksud effortless di sini, tanpa banyak usaha yang aneh-aneh, tanpa usaha yang ekstrim-ekstrim karena orangnya juga mudah diarahkan, kita sebagai psikolog ngerasa seneng juga pastinya. Tapi, beda dengan kasus Melati ini, saya ngerasa udah membantu ini itu tapi di sisi lain ketika semua itu mental begitu saja, ada perasaan gagal karena Melati masih punya PR banyak untuk membersihkan distorsi-distorsi pikirannya.



Melati selalu mengulang alasan yang sama dan menceritakan hal yang sama. Stuck. Nggak ada progres. Yang ada hanyalah berkembangnya perasaan bersalah dan berdosa pada orangtua, dosen dan pada dirinya sendiri. Saya pun sampai bingung, cara apa lagi sih yang harus dikerahkan untuk "membersihkan" distorsi pikirannya dan buat dia mau kebut tesisnya. Mana Melati juga bilang ke saya kalau waktunya sisa dua bulan lagi. Bahkan sudah tersisa satu setengah bulan. Jika Melati nggak lekas menyelesaikan lalu sidang, dia akan terkena sanksi DO (Drop Out).

Jika ada teman-teman yang baca tulisan ini, please lemme know how to solve this problem for Melati.

(UN)EMPLOYED: SUDAH KERJA DI MANA?

"Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing or learning to do"
-Pele-

Welcome 2018 
Sudah lama sekali nggak update blog lagi.
Apa kabarnya di awal tahun ini?
Alhamdulillah di awal tahun ini tepatnya Januari lalu, saya sudah genap 28 tahun. Meski sudah memasuki tahun genap lagi, namun mungkin saya masih harus berperang melawan keadaan.

Beberapa hari kemarin, saya sempat berbincang dengan sahabat karib ter-soulmate saya yaitu Nawira. Ya, memang sih, kami berdua agak senasib untuk soal pekerjaan cuma bedanya dia sudah menikah sedangkan saya belum. Saya tahu semua orang punya keputusan masing-masing, termasuk sahabat saya. Hehehe.. skip...

Minggu lalu di saat saya dan Nawira memutuskan untuk istirahat sejenak dari dunia per-lowongan-pekerjaan alias nggak kirim-kirim lamaran dulu untuk beberapa waktu, di saat benar-benar hampir menyerah itu, tiba-tiba dosen yang dulu juga bisa dibilang wali kelas saya sekaligus ex-dosen pembimbing PKPP saya menelepon. Saya kira beliau mau order artikel lagi, ternyata dia menelepon dengan maksud berbeda.

Dosen saya itu menawarkan saya untuk jadi tutor di Fapsi UMM. Beliau meminta saya untuk menghubungi salah satu dosen yang saat ini diangkat menjadi kepala Laboratorium Psikologi yang ternyata tidak lain adalah ex-dosen pembimbing tesis kemarin.  Setelah meminta brosurnya, saya lihat ternyata lowongan tutor sudah tutup beberapa jam lalu setelah dosen ex pembimbing PKPP saya itu telepon. Tapi kemudian saya bilang ke dosen ex pembimbing tesis bahwa saya direkomendasikan untuk daftar. Puji syukurnya, beliau memperbolehkan saya menaruh berkas di keesokan harinya dan langsung diterima. Begitu pula dengan wawancaranya, semacam ngobrol biasa karena sama dosen sendiri. 

Entah harus senang atau sedih. Ketika bersinggungan dengan yang namanya gaji. Saya sempat ditanya oleh dosen pas wawancara, apa yang saya harapkan dengan menjadi tutor sebab gajinya nggak banyak? Jawaban saya keluar begitu saja dari mulut dan itulah yang saya katakan. Tapi akhirnya juga diterima. Hanya saja, banyak orang termasuk orangtua dan si abang yang awalnya kurang setuju saya bekerja di kampus. Belum lagi sistemnya kontrak selama 6 bulan. Tapi, di sisi lain, sahabat saya, Nawira mendukung sepenuhnya karena menurut dia, lebih bagus lagi, setidaknya bisa dijadikan portofolio tambahan relevansi pengalaman, sekaligus menambah link, sekaligus siapa tahu someday di kampus ada pembukaan rekrutmen dosen lagi sehingga saya bisa direkomendasikan lagi (mungkin aja.. mungkin..) dan lebih bagus lagi karena sistemnya kontrak diperbarui setelah 6 bulan, jadi kalaupun mau out dan bekerja di tempat lain setelah 6 bulan berlalu, masih cukup leluasa.



Sejenak saya merenung dan memang cenderung sensitif jika ada orang yang menanyakan soal pekerjaan pada saya. Kalau biasanya saya suka iseng update di sosmed sehabis ikut tes ini itu di sini di situ, kali ini nggak sama sekali dan orang non-keluarga yang tahu pun cuma 3 orang, si abang, Nawira, dan satu lagi sahabat saya yaitu Ayu.

Kenapa nggak daftar dosen sih waktu UMM pas buka itu? Saya telat memasukkan berkas pemirsaah... karena ternyata di luar ekspektasi pas awal buka langsung banyak pendaftar yang menyerbu sehingga saya nggak mendapat tempat bahkan untuk wawancarapun udah nggak dipanggil meskipun di brosurnya lowongan itu masih lama baru berakhir. Lagi, lagi mungkin belum rejeki.

Kenapa nggak coba daftar di perusahaan? Setelah pengalaman ikut-ikutan melamar dan tes di salah satu perusahaan kemarin dan setelah sekian banyaknya saya apply di perusahaan lain juga, saya berpikir mungkin memang saya belum pantas untuk bekerja di perusahaan. Sebab, saya sama sekali belum punya pengalaman bekerja di perusahaan sebelumnya, ditambah basicly saya lulusan klinis dengan beberapa tempat magang dan praktek dulu pun berbau klinis semua. Kalaupun kelak saya mau mencoba kembali melamar ke perusahaan, minimal saya harus belajar tentang PIO entah itu saya ikut magang dulu atau belajar otodidak. Dan, kalaupun saya sudah menambah pengalaman itu, kenyataannya perusahaan terutama BUMN nggak banyak juga yang mau menerima lulusan maksimal usianya 28 tahun kayak saya. Kalaupun ada, itu harus benar-benar lowongan pekerjaan yang mencantumkan kualifikasi S2 dengan usia maksimal 30 atau 35 tahun atau sama seperti CPNS.

Lets see. Pengalaman kerja saya masih terbilang kurang. Saya merasanya begitu. Selain psikologi, skill lain yang saya punya pun dan tidak cukup nge-trend untuk saya gembar-gemborkan saat wawancara hanya writing (menulis). Mungkin kalau di perusahaan, pikir mereka, kalau skill menulis, semua orang juga bisa. Mereka bukan mencari itu, tapi mencari yang setidaknya paham PIO atau minimal pernah berkecimpung di dunia industri organisasi sebelumnya. Kalaupun nyatanya ada juga teman yang dulunya sama-sama klinis tapi berhasil nyasar di perusahaan, mungkin ada faktor lain yang belum saya ketahui kenapa dia bisa diterima bekerja di situ meski dia juga tidak punya pengalaman yang terbilang banyak dan relevan.

Ya Tuhan, maaf, bukan saya tak bersyukur. Kalau dibilang senang, nggak begitu senang banget sih. Tapi saya akan coba untuk menjalani hari-hari sebagai tutor sekaligus asisten dosen dulu untuk saat ini. Entah setelah 6 bulan nanti apakah saya memilih untuk coba melamar di tempat lain atau memilih tetap bekerja di situ, saya juga belum tahu. Saya memang senang mengajar dan sebelumnya pun sudah punya pengalaman sebagai dosen LB. Cuma untuk bisa menabung lebih banyak, saya harus memutar otak, mencari cara. Kira-kira setelah ini apa yang bisa saya lakukan.

Beberapa malam kemarin, saya berkeinginan jualan kue gitu. Waktu saya bikin kue tempo hari, Bapak bilang kue bikinin saya kali itu enak rasanya. Dan, itu kali pertama kue bikinin saya benar-benar berhasil dan dinilai enak sampai ludes. Jadi sempat terpikir, apakah saya coba jualan kue juga ya? Jadi kuenya dititipin ke penjual sayur gitu di dekat rumah kan banyak tuh penjual sayur. Mengingat untuk area Sawojajar 2 ini pun belum ada yang jual kue kayak yang saya pengen jual itu. Jadi, bisa saya modif dengan resep yang simpel tapi tetap enak dan kemasannya dibikin bagus. Lagi-lagi saya harus menganalisis lebih lanjut.

Saya memang bukan laki-laki sih tapi entah kenapa kalau ada quote yang bilang bahwa harga diri laki-laki itu adalah bekerja, maka saya pun juga merasa seperti itu. To be honest, setelah sekian lama hidup seperti ini, sekarang saya bukanlah the old emma. Terus terang aja, saya kadang banyak nggak cocoknya sama teman perempuan yang saya kenali di sekitar. Itulah kenapa makin ke sini, sahabat perempuan saya makin sedikit dan yang benar-benar cocok pun hanya dua orang seperti yang sudah saya sebutkan namanya. Hanya mereka sahabat yang bisa menerima perubahan dan cara berpikir saya sekarang meski kenyataannya mereka masih sama seperti perempuan kebanyakan.



Dari dulu, saya kerap mendengar mindset lingkungan yang mengatakan bahkan mungkin bisa dibilang menjudge bahwa perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi, ga perlu kerja sampai dapat posisi yang bagus, cukup jadi perempuan ngalem untuk dipersiapkan ngurusin rumah tangga, ngurusin suami, ngurusin anak. Itupun sama persis dengan yang saya dengar dari orang sekeliling saya bahkan sebagian besar dari keluarga Bapak, sepupu-sepupu saya kayaknya semuanya pada nikah muda. But, it's not me literally. I'm not the same with them. Saya nggak bisa memaksakan diri sama seperti mereka. Bahkan sebagian teman S2 pun beberapa waktu ada yang nyeletuk nyuruh saya cepat nikah ini itu, gak usah ngoyo cari kerja karena toh itu tugas suami kita nantinya dan mereka notabene ada yang udah lama nikah maupun yang baru aja nikah (bisa ngomen begitu ke saya).

Bagi saya, tanpa mengesampingkan kodrat laki-laki dan perempuan, dan tanpa embel-embel feminisme ya, perempuan itu juga bisa berkontribusi untuk sekitarnya atau nggak usah kejauhan deh, minimal buat ngembangin dirinya sendiri. Laki-laki memang sudah kodratnya memimpin, mengayomi dan melindungi. Tapi, itu bukan berarti perempuan nggak boleh sekolah tinggi juga kan? Minimal, dengan sekolah tinggi, perempuan bisa memperoleh ilmu yang baik, nah kelak kan juga pasti kepake ilmunya buat anak-anak. Perempuan juga bukanlah boneka yang dicetak persis seperti pada zaman jahiliyah hanya sebagai pemuas nafsu atau malah dibunuh saja deh karena dianggap nggak bisa ikut andil dalam peperangan. Buktinya toh banyak banget kan para pejuang kemerdekaan yang berjenis kelamin perempuan. Banyak perempuan-perempuan yang bisa menginspirasi sesama perempuan lain.

Oke fix. Dan, saya akhirnya sedikit menjauh. Menjauh karena saya nggak bisa memaksakan diri untuk mengabulkan alias memberikan jawaban sama seperti yang mereka lakoni, ya sama seperti teman-teman perempuan saya kebanyakan. Menjauh dalam artian, sudah nggak se-terbuka itu kalo curhat bahkan mungkin nggak pernah lagi curhat. Jika mereka bertanya, saya jawab seperlunya sembari menahan emosi agar saya bisa tetap berdiri tanpa tercabik karena mindset mereka itu. Saya tetap menghargai cara pandang dan keputusan mereka tapi bukan berarti saya harus tenggelam menerima mentah-mentah apa yang mereka sampaikan. Mereka boleh mengkritik tapi tentunya nggak boleh memaksa dong ya, hehehe.

Saya bukannya nggak tahu sunnah. Saya paham jelas. Hanya saja terkadang ada beberapa hal yang memang saya nggak sejalan pemikiran sama mereka aja. Syukurnya, di keluarga mama yang mana saya cucu tertua sementara adek-adek sepupu masih banyak yang kecil-kecil, justru mereka sangat menghormati keputusan saya. Mereka justru mendukung apa yang saya lakoni, saya mau apa, ini dan itu. Padahal, latar belakang pendidikan dan pekerjaan mereka pun mayoritas ibu rumah tangga, dan kalau paman saya yang laki-laki pun juga nggak se-wah itu. Mereka sangat mendukung saya bisa bekerja dan mandiri. I see, mereka mampu memahami tanpa banyak tapi.

Di saat tak bisa apa-apa, saya merasa harga diri saya turun telak. Belum lagi kalau ada teman-teman yang memancing obrolan dengan nada memaksakan kehendak sampai mengiba tapi dengan nada sinis seperti beberapa waktu lalu. Saya sempat tidak senang mendengar teman SMA berkata demikian kepada saya tapi saya masih bisa maklumi karena saya sudah sangat lama tidak pernah kontak dengannya lagi pasca lulus.

Bukan berarti saya lantas memutuskan seluruh kontak komunikasi dengan orang lain. Bukan. Hanya saja, saya butuh waktu untuk membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu lebih baik daripada yang mereka sangka. Saya nggak mau membuktikan ke mereka karena toh kalau tujuannya berpusat pada orang lain, nggak bakal ada habisnya, saya jelas nggak akan selalu bisa memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya. Tapi, untuk diri saya, saya wajib berproses lebih baik, dengan bekerja saya bisa meningkatkan atau mendapatkan banyak skill, menantang diri sendiri untuk melihat seberapa mampukah saya untuk menghadapi konsekuensi yang jauh berbeda dari sebelumnya dan memegang kendali atas diri saya bahkan di saat-saat penuh tekanan.

Kenapa saya keukeuh mau begitu? Karena umur saya sudah terlewat jauh. Saya merasa lambat memulai. Di saat orang lain di usia segini sudah pada matang, saya pribadi merasa tertinggal jauh. Tapi, saya jadi ingat kembali dengan salah satu buku yang pernah saya baca bahwa setiap orang punya timing-nya masing-masing layaknya bunga yang punya musim kapan dia akan bermekaran dan kapan dia harus berguguran sejenak. Mungkin, sekarang ini belum timing yang tepat bagi saya. Kalau dulu saat saya sudah berhasil melampaui satu harapan yaitu menulis buku solo, ternyata memang benar sekali bahwa sukses itu dimulai dari konsistensi. Karena dulu saya stuck dengan kuliah profesi, nggak bisa mikir nulis buku lagi, saya pun nggak konsisten lagi dan saat itulah saya merasa roda hidup saya mungkin akan bergeser ke bawah karena memutuskan untuk tidak menulis buku untuk waktu yang panjang, dua setengah tahun lamanya. Ibarat bintang, saya hanya bersinar sekejap di malam hari, dan perlahan sinarnya meredup dan lenyap ketika memasuki pagi atau kala mendung dan hujan.

Saya juga jadi ingat waktu reuni dengan teman S1 tahun lalu. Di antara semuanya, kenapa saya yang tampak ngenes sendiri: pengangguran, datang basah-basah karena kehujanan di jalan (malah dikira gembel karena itu restoran sedikit mahal), belum lagi pas tukar kado, yang lain dapat barang yang bisa disimpan lama, saya dapat sabun mandi batangan. Bukannya nggak bersyukur dan bukannya mau ngomel karena sebelumnya juga ketentuannya cuma disuruh bawa kado-kadoan dengan range harga maksimal sekian. Bukan kadonya yang saya maksud tapi nilainya, valuenya. Dan itu, ketika yang lain pada share kado di grup, lagi-lagi saya mungkin ditertawai karena dapat sabun mandi.



Saya jadi teringat pasca lulus S1 dulu. Entah kenapa agak mirip kayak sekarang. Dulu lamar di mana-mana pun nggak ada yang nyantol dan baru setelah itu pekerjaan yang mendatangi saya. Salah seorang kakaknya teman menawari untuk bekerja sebagai tutor plus motivator di Guidance Club STAIN dan saya terima. Tapi mungkin lebih ngenes dari sekarang sebab dulu saya digaji 50 ribu per pertemuan dan saat mahasiswa lagi mager nggak datang, saya pun nggak bisa dapat fee. Hingga akhirnya saya diminta untuk micro teaching dan karena memang lagi butuh dosen pengajar matkul psikologi, saya pun mendapat SK mengajar. Syukurnya, karena kampusnya terletak di seberang kompleks rumah sehingga saya cukup berjalan kaki dan nggak keluar uang sepeser pun. Tapi ya itu, gajiannya tiap 6 bulan sekali. Setidaknya saya syukuri karena setelah resign, uangnya bisa saya pakai untuk jajan kuliah.

Satu sisi, sahabat saya bilang, mungkin memang terkadang rejeki yang mengejar kita, bukan kita yang mengejar rejeki. Saat saya coba mengejar rejeki ke sana kemari dengan harapan bisa langsung dapat tempat bagus, gaji bagus, namun kenyataannya yang saya kejar, justru menjauh. Tapi, di saat saya mencoba berhenti mengejar sejenak, justru rejeki yang menghampiri meski jumlahnya (kalau di mata orang lain) sedikit bahkan mungkin mereka nilai kurang pantas.

Saya juga nggak ngeh kenapa begini, tapi mungkin jalan rejeki saya salah satunya juga berasal dari perantara "tangan" orang lain. Dulu saya daftar SNMPTN nggak lolos, tapi sekalinya diperkenalin sama ex-mahasiswa UMM yang mana itu juga adalah ex-pacarnya tante saya dan saya lolosnya di UMM. Kemudian, saya juga baru ngeh, ketika saya coba menulis artikel psikologi dengan lebih fokus, saya juga dapat tawaran untuk nulis artikel di salah satu website yang cukup terkenal (nggak usah saya sebut tapi mungkin orang juga udah pada tahu kali ya hihi) meski nggak ada kaitannya sama psikologi samsek tapi saya sering kaitkan juga dengan psikologi. Belum lagi beberapa waktu ini, dosen ex pembimbing PKPP saya sering order tulisan ke saya dan sering pas banget, saat saya sedang kekurangan, lagi-lagi datang orderan. Ya, itu sih, sisi positif yang saya syukuri.

Entah apa yang terjadi 6 bulan berikutnya, tapi untuk sekarang, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bekerja sebagai tutor mengabdi di kampus dulu. Saya berharap semoga ke depannya, saya bisa dapat pekerjaan tetap, bisa menabung lebih banyak, bisa punya asuransi kesehatan sendiri (karena saya sudah tidak bisa ikut lagi dengan asuransi tanggungan ortu) dan saya juga berharap kelak bisa punya usaha sendiri yang mana dari usaha itu, saya juga bisa pergunakan hasilnya untuk lebih rajin sedekah. Pikir dan harap saya, sebelum menjadi istri, minimal saya harus bisa belajar mengelola uang, sedikit ataupun banyak, saya perlu belajar cari uang sendiri, menghidupi diri sendiri untuk mempersiapkan hal-hal di luar dugaan. Saya ingin membahagiakan diri sendiri dulu, bahagiain orangtua dulu sebelum membahagiakan keluarga kecil saya sendiri nantinya. Minimal saya punya value agar kelak suami saya bangga memiliki saya sebagai pendampingnya (*colek si abang superman).



PENGALAMAN TES TPA DI PT DAHANA (PERSERO)

"Life is either daring adventure or nothing at all"
-Helen Keller-


Sebelum masuk ke cerita inti, saya tahu bahwa perjalanan karir saya masih stuck di sini-sini saja. Ibarat kata, pengen naik ke lantai 12 di suatu apartemen, saya bahkan baru berjalan mencari lift supaya bisa menuju ke lantai 12 tersebut. Orang-orang terdekat sudah merong-rong untuk segera bekerja. Bukan atas dasar mencari gaji, bukan masalah materi, melainkan agar ilmu, gelar, ijazah yang sudah saya peroleh selama kuliah tak lantas terbuang percuma dan satu lagi, agar saya bisa mandiri dan bisa mulai belajar mengatur keuangan. Kalau alasan kedua sih itu adalah kalimat yang tercetus dari diri sendiri. Jujur saja, meskipun saya juga mengisi kekosongan alias ke-menganggur-an saya dengan menjadi freelance writer, upah yang saya dapat belumlah cukup untuk membuat saya menabung lebih sering dengan jumlah yang konstan dan sedikit lebih besar dari biasanya.


Terhitung sejak wisuda Mei dan sumpah profesi pada November lalu, entah sudah berapa banyak lamaran yang saya apply. Entah itu lewat jobstreet hingga memberanikan diri ikut CPNS sama si abang (cuman kita menargetkan wilayah kerja yang berbeda namun dengan formasi sama yaitu dosen psikologi).

Terhitung sejak mengirimkan lamaran, waktu demi waktu berlalu, yang datang adalah penolakan dari stasiun TV ternama. Kemudian berlanjut dengan saya mengikuti seleksi CPNS Kemenag untuk formasi dosen psikologi di UIN Malang sini, pun nilai saya hanya kurang sedikit saja dan langsung gagal di TKD. Saya bahkan mencoba kembali ikut seleksi dosen non PNS di universitas itu lagi, namun ternyata, mungkin dugaan saya dan teman-teman lainnya yang ikut dalam seleksi itu benar bahwa menyertakan campur tangan "orang dalam" hingga akhirnya sekeras apapun saya berusaha, yang menang adalah yang jelas-jelas punya link. Kalaupun mengandalkan link sepenuhnya, saya bukannya angkuh tapi saya pun bisa dengan enteng memilih, mau masuk UB atau UIN, tapi untuk awal, hati nurani saya berbicara, untuk awal perjalanan, saya pun ingin belajar memulai semua dari nol, belajar berjuang sendiri agar tahu bagaimana rasanya orang lain berjuang di luar sana.

Setelah gagal untuk ke sekian kalinya, saya kembali mendapat panggilan atau lebih tepatnya orderan menerjemahkan artikel kemudian me-review dan menggubahnya menjadi sebuah artikel untuk klien. Alhamdulillah ternyata Allah juga tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan saya saat itu, saat saya benar-benar kehabisan uang buat beli sabun dan perlengkapan/kebutuhan pribadi wkwkw.. Okelah, dengan senang hati saya terima job sampingan tersebut dan bersyukur dengan upah yang saya dapat walau tak banyak.

Silih waktu berganti, saya shock ketika bertepatan dengan pengumuman kegagalan tes dosen itu, terbitlah sebuah email dari sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang saya saja nyaris lupa kalau pernah mengirimkan lamaran ke sana. Dan, yang wonderful plus bikin saya girang sebab ini kali pertama saya mendapatkan respon baik dari lamaran yang saya tujukan khususnya menyasar ke perusahaan. Oh God, saya cukup senang sebenarnya meski awal-awalnya sempat dilema. Dilema karena jaraknya sangat jauh dari tempat tinggal. Yap, saya diundang untuk ikut seleksi tahap pertama ke Jakarta.

Saat itu, saya coba minta izin pada orangtua, tapi mama sempat menolak namun bapak sih ngijinin aja. Karena masih ada urusan mendesak yang harus saya urus, mau tidak mau, saya harus berangkat menggunakan pesawat. Tapi, dengan syarat, harus ada yang menemani saya dan itu mama. Okaylah, tapi tumben aja gitu saya jadi anak mami, biasanya juga boleh pergi sendirian. 

Saya jadi ingat kata-kata si abang. Dia bilang kalau seandainya saya memilih untuk tidak berangkat untuk ini saja, bisa-bisa perjalanan karir saya hanya di situ-situ saja dan tidak ada kemajuan. Sahabat saya juga mengatakan hal serupa, dicoba saja karena kita tidak tahu di mana dan dari mana rezeki itu berada/datang.

Berangkatlah saya ke Jakarta dengan destinasi Jakarta Selatan. Saya menginap di sebuah griya kecil Airy Room di daerah Asem Baris, Tebet. Dari situ, hanya butuh waktu 10 menit saja untuk sampai ke Menara Hijau. Yang tadinya sih tesnya di kantornya yang di MTH namun entah karena alasan apa, 13 Januari lalu, saya mendapatkan email revisi tempat seleksi dan itu di Menara Hijau.

Saat hari H, memang tesnya dibagi dua kloter. Kloter pertama pukul 08.00-13.00 dan saya mendapat giliran tes di kloter kedua yaitu pukul 13.00-17.00. Awalnya saya sempat ternganga kok lama sekali ya tesnya sampai sore. Setelah saya ikuti, oh rupanya ada menu lain yang disampaikan oleh pihak HRDnya sebelum tes inti berlangsung. Kita terlebih dahulu diberikan sambutan kemudian mendapat suguhan video singkat mengenai profil PT Dahana dan kemudian mulai masuk ke tes intinya.

Saat saya bilang ingin mengikuti seleksi di PT Dahana, orang-orang terdekat yang saya beritahu bahkan tidak tahu sama sekali perusahaan apa itu Dahana dan bergerak di sektor apa. Ya, memang sih, tapi meski begitu saya sering kok lihat logo Dahana nampang di beberapa spot tertentu. Cuma ketika menyimak profilnya dan browsing di internet, saya baru tahu kalau PT Dahana bergerak di sektor industri khususnya produksi bahan peledak, selain di pertambangan. Ya, begitulah kilasnya ya. Tapi, sebagai informasi saja, PT Dahana juga termasuk salah satu BUMN jadi pastilah perusahaan ini sangat bonafid ya kayak perusahaan BUMN lainnya.

Ketika tes berlangsung, saya sempat kaget karena soal-soalnya begitu banyak. Ada ratusan soal yang harus dikerjakan hingga pukul 17.00. Wow, emejing. Untuk sub-subnya saya pikir serupalah dengan tes TPA yang biasa kita hadapi kalau ikut tes di perusahaan atau di tempat lain, hanya saja yang membedakan tiap tempat/perusahaan/lembaga mungkin jumlah soal dan tingkat kesulitannya saja.

Kemarin, jujur, saya berusaha mengisi dan menjawab soal-soal yang saya ketahui pasti benar jawabannya. Namun, kalau ditanya berapa soal yang tidak saya jawab, banyak juga sih. Karena banyak juga soal yang menyertakan narasi panjang, dan beberapa saya lompati. Saya pun berpikir, kalau nilai tiap soal sama, saya tidak perlu membuang waktu untuk terpaku pada soal yang narasinya terlalu panjang dan saya tidak yakin itu benar. Tapi sebagiannya sih saya coba jawab meski belum tahu apakah itu benar atau salah.

Selain TPA, pihak HRD pun menjelaskan bahwa masih banyak rangkaian tes yang harus dihadapi. Setelah pengumuman TPA ini keluar, yang lolos ke babak selanjutnya akan mengikuti Psikotes (kalau FGD saya kurang tahu apakah tahun ini diadakan atau tidak). Setelah itu lanjut Personal Screening. Kemudian lanjut Interview User dan Interview HRD, Interview Direksi maybe. Nah, pihak HRD juga bilang, jangka waktu keseluruhan tes maksimal harus bisa selesai dilaksanakan hingga Maret 2018 ini sebab April mendatang akan mulai memberikan menu Management Traineenya untuk masa percobaan. Etts.... untuk masa percobaan, akan diuji selama tiga bulan, kalau tidak salah dengar berlokasi di Subang, kantor pusatnya. Kemudian kalau performa selama masa percobaan dinyatakan baik dan lulus, maka bisa lanjut ke masa OJT sekitar 9 bulan lalu kontrak kerja selama 2 tahun untuk awal.

Banyak orang terdekat saya yang berharap saya bisa lolos hingga tes tahap akhir. Saya pasrah dan hanya bisa berusaha juga berdoa. Kalau memang rezeki saya di Dahana, inshaallah, pasti saya akan bagikan lagi cerita-cerita selanjutnya di blog ini. Namun mengingat saat tes kemarin, khusus untuk formasi S2 Psikologi, jumlah peserta yang hadir amat sangat sedikit yaitu hanya sekitar lima orang yang hadir sementara lainnya absen. Padahal di daftar hadir waktu tanda tangan mungkin ada sekitar 8 atau 10 orang khusus Psikologi. Dan itu tandanya, persaingan sagat ketat, bukan?

Yah, selagi menunggu pengumuman, saya juga selalu meluangkan waktu untuk back to be a freelance heheh. Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya juga sudah mengirim lagi satu tulisan untuk salah satu website klien dan diterima. Setelah ini, saya harus mencari ide tulisan baru lagi, supaya bisa kirim lagi, lagi dan terus. Yang saya senangi dan syukuri adalah, sewaktu mengirimkan tulisan di web tersebut, adminnya sungguh ramah dan menyatakan bahwa tulisan saya mumpuni, beliau pun meminta saya untuk terus menulis. Thanks coach admin.


KANGEN

Kadang, aku kangen kamu.
Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa yang bukan diriku, tidak perlu berpura-pura terlihat lebih pintar seperti Emma Watson ketika ada di sampingmu.

Kadang, aku kangen kamu.
Sekilas, kamu kadang kurang memperhatikan saat aku mengatakan satu atau dua hal saat kamu menelepon.
Tapi, di lain kesempatan, dugaanku keliru.
Rupanya kamu juga sering sekadar memberi feedback atau bertanya ulang mengenai hal yang tadinya menurutku tak kamu hiraukan.

Kadang, aku kangen kamu.
Kangen meluangkan waktu bersama, apalagi saat hujan turun, semakin deras, tak juga reda.
Entah kamu berpura-pura menahan agar aku tak menyudahi pertemuan kita atau memang kamu sengaja menahan karena ingin kita menyisihkan waktu lebih lama.

Fase kadang aku kangen kamu kini berganti dengan frekuensi sering.

Sering, aku kangen kamu.
Menggambar absurd bin alay yang mana seolah gambar itu merefleksikan tentang kita
Mengirimimu kartun-kartun lucu
Mengganggu kala kamu sedang sibuk.
Menggerutu bila kamu makin tak kunjung menoleh ke arahku.
Sering, aku menggunakan cara komunikasi yang kurang baik, semakin sibuk, semakin kusesaki dengan sejumlah pesan singkat.
Maafkan aku ya
Aku hanya ingin menunjukkan bahwa kangen itu sungguh tak kubuat-buat

Tapi yang membuatku makin cinta karena selepas kusampaikan rasa rindu, teleponmu berdering nyaring.
Yang membuatku terheran,
kala kamu bilang kamu jahat.
Jahat karena memangkas menit telekomunikasi antara kita.
Belum juga rinduku benar-benar terobati, kamu sudah menutup telepon.
Ah, itu bukan jahat.
Hanya saja aku memahami bahwa duniamu bukan hanya tentangku
Ada keluarga, teman, pekerjaan, pikiran-pikiran tentang impian, dan lainnya yang membutuhkan eksistensialismemu.

Melihatmu bertumbuh
Semoga selalu ke arah yang lebih baik
Ku pun ingin bertumbuh
Kadang, kamu memarahiku
Tidak jarang pula nasehatmu memenuhi dinding telinga dan hatiku
Nasehat agar aku terus berprogres
Agar tak gampang menyerah, walau kutahu di sana kamu kadang merasa lelah dengan kesibukanmu
Agar aku bisa menambah keterampilanku, hingga bisa memberdayakan sesuatu
Sering aku kangen kamu
Terlebih saat kutersadar, satu tahun telah berlalu dan kita belum kunjung bertemu melepas rindu

Sering aku kangen kamu
Tidak jarang rasa bosan itu datang
Bosan karena rutinitas masing-masing

Sering aku kangen kamu
Menggebu dan makin mendesak saat kamu mulai menghilang
Menghilang untuk sekadar menetralkan pikiran akibat tekanan yang kamu hadapi di sana
Berapa banyak teori yang sudah kubaca
Bahwa saat seseorang sedang memilih untuk sendiri maka berikanlah ia waktu untuk sendiri, menghibur dan melipur laranya sebelum bersua lagi
Aku tak butuh teori

Sering pun aku kangen kamu
Kangen saat kamu marah besar
Membentak
Salah paham
Malas
Dan sejenisnya
Namun, yang membuatku makin cinta
itu tak berlangsung lama
Kamu pun lekas pulih dan kembali normal

Sering aku kangen kamu
Cepatlah kemari

IT IS OKAY NOT TO BE OK

Sumber: Pixabay


Emang sih udah banyak teori dan penelitiannya kalo Positive emotion menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi atau meningkatkan kesejahteraan hidup seseorang. Ya memang kita selama ini udah terdoktrin dengan kalimat, "Don't worry, just be happy." Tapi kan gak setiap hari dan setiap saat orang itu punya emosi positif, gak setiap hari kita itu hanya dicekoki oleh situasi atau peristiwa yang membuat hati berbunga-bunga. Pasti ada juga kan peristiwa atau situasi dimana mau gak mau emang kita harus ngerasain bad mood, sedih, sebel, marah, jijik, atau kecewa. Emosi negatif yang kayak gini amat sangat adaptif dan occasional yang kita kadang gak bisa kontrol kapan datang dan perginya, tapi emang harus dihadapi.


Alhamdulillah saya sendiri belum pernah mengalami depresi, I mean clinical depression. Dan.. jangan sampai deh. Tapi kalo ditanya berapa kali merasakan kesedihan khusus tahun 2017 ini? Eumm...really do not know sih frekuensinya berapa banyak kejadian yang bikin saya sedih, tapi yang pasti ada. 

Yang namanya kesedihan itu, semua orang pasti ngerasain lah. Gak mungkin ada orang yang gak pernah sedih seumur hidupnya, yakan? Entah sedih karena meninggalnya orang terdekat atau keluarga, sedih karena patah hati, sedih karena dipecat dari tempat kerja, sedih karena gak dapat nilai baik saat ujian sekolah, sedih karena gagal masuk universitas yang dipengenin, sedih karena gak punya duit buat beli popok bayi, atau sedih karena karena lainnya.

Sedih itu adalah hal yang wajar. Sebenarnya, orang yang sedih itu mula-mulanya kebingungan juga apa yang harus dia lakukan agar kesedihannya berkurang? Apa yang dapat mereka lakuin supaya mereka "sejenak lupa" pada permasalahan yang memicu kesedihan mereka? Apakah dengan baca buku, nonton film, piknik, atau lainnya? Orang yang sedih juga cenderung pengen dibiarin sendirian. Kenapa? Kenapa bisa begitu? Soalnya pas seseorang tu lagi sedih-sedihnya, di dalam hati mereka masih ada pergolakan. Iya, hati dan pikirannya lagi berperang melawan perasaannya. 

Psikolog klinis bernama Robin Dee Post, Ph.D mengungkapkan bahwa kesedihan atau sadness itu seringkali dianggap orang-orang sebagai emosi yang negatif padahal sebenarnya sadness itu merupakan perasaan yang adaptif. Hal ini berarti being sad is totally normal, with sadness, we deal ourselves to the painful experiences.


Biasanya, rasa sedih itu terjadinya gak lama-lama. Orang yang sedih gak butuh waktu lama buat move up. Namun, kalo kesedihannya udah berlangsung selama dua minggu bahkan lebih maka waspada ya akan gejala depresi.

Baca: Depresi

Beda lagi dengan grief. Grief kerap dimaknai sebagai kedukaan. Bahkan rasa duka ini bisa jauh lebih lama menetap dalam diri seseorang bahkan lebih lama dari rasa sedih orang yang depresi. Kedukaan ini biasanya identik dengan masalah kehilangan sesuatu atau seseorang yang amat berharga bagi seseorang/atau bagi kita.

Eum, saya pernah baca sih kalo ternyata grief itu punya tahapannya loh. Tadi kan kalo sadness itu dirasainnya gak lama, tapi kalo udah kelamaan bisa aja berkembang menjadi grief. . Orang pertama yang merumuskan tahapan bagaimana sih seseorang merespon kedukaan itu adalah Elisabeth Kubler-Ross. Kubler-Ross ini pernah menuliskannya di dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying pada tahun 1969. Di dalam buku itu ada 5 tahapan respon terhadap kedukaan.

FIRST, Adalah Tahap Denial. Tahap ini tuh merupakan tahap short defense yang dirasakan atau dilakuin oleh orang yang lagi sedih. Pada tahapan ini, orang yang lagi berduka atau sedih bakalan menolak kenyataan atau peristiwa yang menimpanya. "Kenapa sih kok jadi begini?" "Ini seharusnya gak terjadi!" Mereka masih berada di fase menolak semua hal yang menyebabkan ia sedih. Gak jarang juga sih ada yang sampai ngelimpahin kesalahan ke orang lain sebagai penyebab kesedihannya. Buat yang sering kena semprot ya, maklumi lah ya hehehe. Orang ini tuh masih belum bisa menerima alias masih dalam proses memupuk kesadarannya terhadap kejadian atau peristiwa yang dialami.

SECOND, Anger. Pada tahap ini seseorang akan merasa sangt marah dan melampiaskan kemarahannya dengan sumpah serapah atau dalam bentuk nyalahin dirinya, nyalahin orang lain dan ada juga yang kadang sampai nyalahin Tuhan. Mereka yang ada di tahap ini bakalan bilang, "Why me?" "Siapa yang harusnya disalahkan sih?", "Ini pasti gara-gara dia nih jadi gini!"

THIRD, Bargaining. "I'll do anything to repair it if I have once more time..." Pada fase ini, orang yang lagi sedih udah mulai slow down dikiit. Mereka udah mulai membangun negosiasi-negosiasi baik pada dirinya sendiri ataupun pada orang yang udah bikin dia sedih. Penawaran ini mereka lakuin karena dalam lubuk hati yang paling dalam, mereka masih berharap semua bisa diperbaiki. Saat mereka tahu udah kehilangan orang yang dicintai karena kematian atau perpisahan, mereka cenderung masih memendam harapan kalo suatu hari bakal balik ke semula lagi andai mereka ngelakuin A atau B atau C.

FOURTH, Depression. Karena belum tahu dan belum nemuin solusi atas kesedihannya, orang yang lagi sedih bisa jadi makin sedih dan terus-menerus berpusat pada dirinya. Orang yang depresi, malah makin menarik diri dari lingkungan, gak mau keluar rumah, gak mau ketemu orang dulu, lagi pengen sendirian dulu katanya sampai-sampai belain cuti beberapa hari dari kerja buat nenangin dirinya, maybe. Makin hari, kesendirian yang dilakuin makin buat orang yang ada dalam tahap ini tuh jadi makin pusing, gak bisa mikir, nangis terus, merasa seolah dirinya lah yang paling menderita karena masalahnya dan mulai terdiskoneksi dari lingkungan sekitar.

FIFTH, Acceptance. Beda orang tentu beda juga ya berapa waktu yang dia butuhin buat sampai ke fase akhir. Fase dimana dia udah mau menerima kenyataan. Menerima. Itu gak gampang loh apalagi buat yang sedihnya bukan sedih ecek-ecek. Gimana dia udah ngelewatin proses berperang dengan hati dan pikiran, gimana dia udah kehabisan suara karena marah-marah teriak gak jelas, dia udah ngelewatin fase dimana dia masih berandai-andai buat balik ke hari kemarin sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi. Fase menerima itu sangat gak mudah. Selain itu juga karena di fase ini, orang yang sedih udah mulai membuka hati dan pikiran buat maafin dirinya, maafin orang lain dan memaafkan kondisi dan juga mulai meminta ampun karena udah nyalahin Tuhan. Just say, "Everything's gonna be OK right now."

Kubler-Ross kemudian bilang dalam bukunya itu sih kalo sebenarnya kelima stages di atas itu gak mesti semuanya dialami oleh orang yang sedih dan gak mesti urut dari denial sampe acceptance. Kesedihan itu kan perasaan yang sangat personal jadi masing-masing orang berproses ke healing juga beda-beda. Tapi yang pasti prosesnya gak jauh dari lima fase itu atau mungkin ada fase dalam bentuk lain, mungkin.

Lalu gimana sih caranya supaya kesedihan atau kedukaan itu bisa berkurang? Accept and tolerate it, not escape from it.  Jonathan M. Adler, seorang Psikolog dari Franklin W. Ollin College of Engineering mengatakan bahwa menerima kompleksitas hidup adalah cara yang bermanfaat untuk memperoleh kesejahteraan psikologis.


Sebel sih emang karena emosi negatif bisa membuat kita bak sedang naik roller coaster. Perasaan jadi gak menentu, pengennya ya sedih, ya marah juga. Tapi penting untuk kita ingat bahwa ternyata memang benar, udah banyak banget penelitian psikologis bahwa ada emosi-emosi negatif yang justru mempunyai dampak positif buat diri kita.

Nah ini, satu lagi pernyataan Joseph F. Forgas (seorang psikolog sosial dari University of New South Wales Australia) bahwa mood yang jelek itu bisa loh mempertajam ingatan jangka pendek, memperbaiki kemampuan komunikasi dan meningkatkan perhatian terhadap hal-hal detail.

Pada tahun 2009, Forgas juga pernah melakukan penelitian kepada 120 pria dan wanita. Seluruh responden itu dibagi ke dalam dua kelompok. Ada kelompok yang diminta menonton film sedih dan juga disuruh mengingat-ingat kenangan buruk dan satu kelompok lagi diminta menonton dan mengingat film serta kenangan yang positif. Hasilnya, kelompok responden yang menonton film sedih dan mengingat kenangan buruk jauh lebih bagus performanya dalam mengungkap dan membongkar kepalsuan mitos perkotaan.

Kok bisa ya hasilnya gitu? Mencengangkan kan? Kenapa bisa begitu, sebab menurut Forgas, status mood itu merupakan sinyal atau radar paling peka dan paling evolusioner yang berguna untuk memudahkan seseorang merespon secara tepat terhadap situasi lingkungan. Nah, kalo emosi kita positif, kita udah pasti bakal mikir yang positif-positif emang ya, tapi beda kalo emosi kita lagi gak bagus, kita justru lebih peka untuk mengungkap banyak fakta dan informasi dan juga jadi lebih perhatian pada hal-hal kecil yang mungkin orang lain gak bisa paham apa itu. Bener banget ini yakan?



So, embrace our sadness dan semoga ke depannya dengan kesedihan itu, kita bisa berproses lebih baik lagi. Biar gimanapun, kesedihan itu kan bagian dari hidup. Jadi, nikmatilah kesedihan itu sebelum nantinya kebalik, orang lain yang sedih karena kita udah berpulang.

5 Ide Sofa Sudut Agar Rumah Anda Terlihat Lebih Nyaman dan Eelegan


5 Ide Sofa Sudut Agar Rumah Anda Terlihat Lebih Nyaman dan Eelegan

Maksimalkan area tempat tinggal Anda dengan sofa sudut yang mutakhir. Menggabungkan penghiburan dengan gaya adalah suatu keharusan jika Anda berinvestasi dalam beberapa hal setinggi harga sebagai institusi sudut, jadi luangkan waktu untuk menemukan yang tepat. Tempat duduk dan perabotan modular mungkin juga dalam banyak pendekatan lebih besar, tapi di ruang tamu kecil itu bisa membentuk format ruangan dan menawarkan semua tempat duduk yang penting. memilih sudut sofa mengangkat dari lantai sebagai ringan mengalir di bawah akan membuatnya tampak jauh lebih kecil.

Berikut gambar-gambarnya:






Demikianlah 5 Ide sofa sudut semoga bisa menjadi bahan pertimbangan anda dalam menentukan pilihan sofa.

Anda bisa memesan untuk sofa custom diatas di sini

Untuk wilayah Jakarta

Untuk Wilayah Bekasi

Untuk Wilayah Bandung

Untuk Wilayah Samarinda

UNEMPLOYED: MELAMAR GURU BK



Jumat yang lalu saya coba berkelana untuk masukin lamaran lagi. Saat itu target saya adalah sekolahan. Saya ceritain sample aja ya. Salah satu sekolah yang saya tuju adalah sekolahan swasta di kota Malang. Sekolahnya sih bagus dan tampaknya high class. Saya pikir wah kalo high class berarti sistemnya juga bagus dan mungkin aja lagi ngebutuhin psikolog prefer than just as Guru BK. Cuman.. tujuan saya ke sana emang masukin lamaran sebagai guru BK soalnya lagi pas banget gitu mereka open recruitment beberapa posisi. 

Paginya, saya menelepon salah seorang sahabat yang letak rumahnya gak jauh dari sekolah itu. Pas udah dapat ancer-ancer alamatnya langsunglah saya cuuus ke situ. Sesampainya di sana, saya diarahkan oleh seorang security ke ruang yang lebih mirip TU (Tata Usaha).




Pas udah ngucapin salam, masuk, lalu nyampein maksud kedatangan, saya pun langsung ngasih berkas ke salah satu staf yang ada di situ. Ibunya bilang mau dikroscek dulu kelengkapan berkasnya. Pas si ibunya ngebuka dan melihat ijazah saya, dia nanya, "Mbak mau melamar untuk posisi apa?" Saya dengan lugas menjawab bahwa saya ingin apply posisi Guru Bimbingan Konseling. Sontak, gak lama setelah ibunya baca ijazah S1 dan S2 saya, ibunya bilang bahwa kualifikasi saya gak relevan dengan posisi yang saya lamar.

What??? Gak relevan gimana sih maksudnya? Ibunya kemudian menjelaskan bahwa untuk posisi BK ini harus dari lulusan pure BK atau Psikologi Sekolah/Pendidikan. Sedangkan ijazah saya sudah psikolog (walau memang saya gak bilang kalo konsentrasi saya klinis). 

Udah ya, habis itu, dengan lugunya, si ibu nanya, berkas saya apakah mau ditinggal aja atau dibawa pulang? Langsung aja saya bilang, saya bawa pulang aja. 

Sedih? IYA
Kenapa seorang psikolog gak bisa melamar untuk posisi Guru BK? Ini sekalian mau menjawab pertanyaan teman-teman yang sering banget muncul: Bisa gak sih lulusan psikologi berkarir sebagai Guru BK?



Untuk case ini, mungkin beda lagi kalo saya lamarnya di Sekolah ABK, mungkin masih bisa dipertimbangkan. Masih mungkin sih soalnya dulu pas saya praktek di SLB, pihak sana nyeletuk semisal pengen magang atau coba melamar di sini, dipersilahkan nanti bisa jadi bahan pertimbangan.

Tapi untuk sekolah umum atau swasta dengan murid non-ABK, mungkin... mungkin ya, memang sekarang aturannya harus berasal dari lulusan BK atau psikologi pendidikan. Nah, psikologi pendidikan itu yang kayak gimana sih maksudnya? 

Saya pun jadi sempat mikir sembari jalan ke parkiran. Psikologi pendidikan? Mungkin untuk yang pernah ambil magister psikologi pendidikan di universitas tertentu bisa qualified untuk jadi guru BK. Emang ada ya jurusan Psikologi Pendidikan? Ada. Universitas tertentu ada kok jurusan itu cuman setahu saya program Magisternya, tapi kalau S1 jurusan Psikologi Pendidikan, saya kurang ngeh, ada apa gak. CMIIW.

Kalau jaman old kayaknya udah banyak banget guru BK yang berlatar belakang pendidikan S1 Psikologi namun kemudian melanjutkan S2 Psikologi Pendidikan (khusus orang pendidikan) atau yang lebih benernya lagi apa nih?

Kalau berkiblat dari kualifikasi lamaran kerja di sekolahan yang saya tuju kemarin sih gitu bunyinya: Berasal dari S1 BK atau psikologi sekolah. Nah, yang jadi pertanyaan saya ini psikologi sekolah ini yang masih ambigu jadi kemarin itu saya mikirnya mungkin kalau udah bergelar psikolog bisa kali ya? Haha wkwk ini asumsi saya aja. Jadi kemarin itu saya mungkin terlalu pede berangkat dengan gelar psikolog.

Nah, nah... jika mengacu pada Permendiknas No.27 Tahun 2008 dan peraturan dari Himpsi Pusat, kualifikasi akademik Guru BK harus memenuhi standar dan kompetensi konselor.

Bunyi Permendiknas No.27 Tahun 2008 mengenai standar dan kompetensi konselor tuh begini nih:
Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik strata satu program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. 
Kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: 

  1.  Sarjana pendidikan S1 dalam bidang Bimbingan dan Konseling
  2. Berpendidikan profesi konselor

Lalu, gimana nasib para senior, maksud saya mereka yang udah lama berkecimpung dalam karir guru BK namun tidak sesuai dengan standar kompetensi Permendiknas? Gimana dengan guru BK yang dia adalah lulusan S1 Psikologi murni dan kemudian mengikuti akta IV untuk sertifikasi BK?

Sampai saat ini saya juga kurang paham, bagaimana alternatif solusinya. Tapi usut punya usut nih, kalo misalkan ada sekolah yang membuka lowongan kerja lalu mempekerjakan guru yang gak sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh Diknas maka hal itu bakalan mempersulit proses akreditasi sekolah tersebut. Jadi, satu-satunya cara yang menurut saya ini masih menjadi jalan yang pasti akan sulit untuk dilalui adalah dengan kuliah lagi.

Kuliah lagi? Emangnya gampang? Mudah kalo ada biaya dan emang mau belajar. Kendalanya mungkin hanya persoalan waktu dimana harus mengulang ikut kuliah dari ngambil S1 Bimbingan Konseling lalu lanjut S2 Profesi Konselor. Belum lagi sekarang pendidikan S1 itu memakan waktu minimal 4 tahun dan S2 minimal 2-3 tahun. Kalo ditotal sekitar 6-7 tahun baru kelar. Bukan kendala sih kalo emang passion-nya di situ.

Lalu bagi lulusan Psikologi sama juga. Kalo dari lulusan S2 Psikologi Sekolah/Pendidikan mungkin masih bisa jadi pertimbangan untuk menduduki jabatan guru BK. Sedangkan bagi lulusan profesi bidang peminatan lain, lebih baik, jaga-jaga aja daripada nantinya udah terlanjut terjun terus pas akreditasi lembaga kita dianggap "biang" karena gak sesuai sama standar kompetensi mending carilah lahan yang memang untuk profesi kita.

Tapi sejauh ini sih, kalo soal lamar kerja, saya masih sering ngirim-ngirim lamaran ke perusahaan padahal itu kan ranahnya profesi Psikolog Industri dan Organisasi ya. Heheh.. Bukannya mau merebut lahan teman sendiri. Tapi sering ada juga loh lowongan yang tulisannya sih lagi nyari Psikolog Klinis ehtapi lah kok kompetensi dasarnya mirip profesi PIO ya.

Ini mungkin jadi PR juga ya buat pemerintah supaya lekas-lekas ngatur perundang-undangan yang jelas dan sah buat para psikolog, bukan cuma itu tapi dipetakan juga lapangan kerja bagi lulusan profesi bidang klinis, IO, pendidikan, perkembangan, sosial dan lain-lain supaya nantinya gak terkesan "ngerebut lahan sejawat". Yah beda lagi sih kalo emang mau beralih peminatan. Kalo dulu saya juga sering dapat cerita dari alumni psikologi yang banyak berkecimpung di dunia industri padahal mah bidang peminatannya di pendidikan, sosial dan lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka harus beradaptasi dengan peraturan yang ada. Ya mau gak mau harus pedagogik gitu belajar sendiri supaya bisa mencapai standar kompetensi yang ditetapkan oleh lembaga tempatnya bekerja.

Tetap semangat. Kalo emang udah mentok, mending langsung buka lapangan kerja sendiri atau berbisnis. Someday sih saya juga pengen bisa berbisnis sendiri. Amin. Sekarang pengen nambah pengalaman dulu, semoga segera.


Artikel: Kisah Yang Menyentuh Hati, Kenapa tidak Punya kendaraan beroda empat?

penasaran, Kenapa tidak Punya kendaraan beroda empat?


Tampang bingung. Itulah ilustrasi yang mampu dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, ketika melihat kemudian-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir pulang kampung orang-orang yang melaluinya bahkan terdapat beberapa orang yg hampir menendangnya. dia pun seakan tak suka  waktu beberapa orang yg lewat memasukan uang receh ke pada kaleng yg sengaja pada simpan di depannya.

“sudah bisa berapa Ujang?” sapa seseorang wanita umur 40 tahunan yg mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok perempuan   yg nampak lebih tua dari umur sebenarnya. perempuan   itu tiada lain ialah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis kurang lebih 100-200 meter asal tempat si Ujang mengemis.

“Nggak tahu ibu, hitung aja sendiri,” jawab si Ujang sambil melihat kaleng yg terdapat pada depannya. Tanpa menunggu, perempuan   yang dipanggil Emak itu merogoh kaleng yg terdapat di depan si Ujang. lalu isi kaleng tadi ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

“lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.” kata si Emak sembari tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih poly dari hari-hari umumnya.

“bunda…” kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, “koq orang lain punya kendaraan beroda empat? Kenapa Emak nggak punya?” Tanya si Ujang sambil menatap paras ibunya.

“Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya kendaraan beroda empat, saung aja kita mah nggak punya.” istilah si Emak sembari tersenyum. Si Emak lalu membungkus uang yang sudah dipisahkannya buat besok dengan sapu tangan yg telah lusuh serta dekil.

“Iya, akan tetapi kenapa mak  ?” Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

“Ujang …. Ujang….” istilah si Emak sambil tersenyum. “Kita tidak punya uang banyak buat membeli kendaraan beroda empat.” istilah si Emak mencoba menjelaskan. tetapi nampaknya si Ujang belum puas jua,

“Kenapa kita tak punya uang poly bunda?” tanyanya sembari melirik si Emak.

“Kitakan cuma pengemis, jikalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya poly.” istilah si Emak yang nampak akan berkecimpung. seperti biasa sehabis surya tenggelam si Emak membeli nasi menggunakan porsi agak banyak menggunakan tiga pangkas tempe atau tahu. Satu pangkas untuk si Emak sedangkan dua pangkas buat si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut paras si Ujang masih nampak galau.

“terdapat apa lagi Ujang?” istilah si Emak sambil menyeka keringat pada keningnya.

“Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?” tanya si Ujang menggunakan polosnya.

“Siapa yg mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.” Jawab si Emak sembari membuka bungkusan yg dibawanya.

“Udah …, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!” istilah si Emak sembari mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar pribadi menyantap kuliner yg terdapat pada depannya.

“Kenapa Emak nggak sekolah?” tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

“Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.”

“Ujang bakal sekolah nggak?” kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak gundah menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yg sudah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. sebab gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yg mulai menuruni pipi perempuan   yg dipanggil Emak tadi. sebab tidak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

“jika Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan bunda?”

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yg ingin punya anak menjadi pengemis, namun si Emak bingung wajib  berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sembari menunda tangisnya. Akhirnya si Ujang pun membisu sembari mengunyah nasi yg tinggal sedikit lagi. Deru mesin kendaraan beroda empat menemani 2 insan pada pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah buat merebahkan diri. di ketua si Ujang masih penuh pertanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama mirip Emaknya saat ini?

Motivasi: Jangan Dengki, Bisa Menghambat Kesuksesan

Rasulullah saw. bersabda, Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana barah memakan (menghancurkan) kayu bakar.  (Abu Daud). Dengki (hasad), istilah Imam Al-Ghazali, ialah membenci kenikmatan yg diberikan Allah kepada orang lain serta ingin supaya orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. lalu bagaimana dengki bisa menghambat peluang sukses?

banyak akibat buruk  yang kita dapatkan asal dengki. Secara ruhiah, dengki akan memakan amal baik kita mirip dijelaskan hadits Rasulullah saw diatas. Jika kebaikan kita sudah terkikis habis, apakah kita masih berharap bahwa do’a kita akan terkabul? Percuma kita kerja keras serta kerja cerdas Jika Allah tidak mengijinkan kita sukses. Ini yang pertama.

dari Jabir serta Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘tidak terdapat seorang pun yang menghinakan seseorang muslim di satu daerah yg padanya dia dinodai harga dirinya serta dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yg menghina) itu di tempat yang dia inginkan pertolongan-Nya. dan  tidak seseorang pun yang membela seseorang muslim pada daerah yang padanya dia dinodai harga dirinya dan  dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu pada daerah yg beliau menginginkan pembelaan-Nya.‘ (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

yang kedua, perasaan dengki mengeluarkan sinyal bahwa nikmat itu sedikit. Buktinya, seorang pedengki membenci kenikmatan yg dihasilkan sang orang lain. beliau ingin nikmat orang lain itu pindah kepada dia, Bila tidak, setidaknya nikmat yang diberikan kepada orang yang didengkinya hilang supaya sama menggunakan dia yg tidak menerima nikmat.

sungguh ini merupakan sebuah pikiran yang mengingkari keberlimpahan rahmat Allah. saat pikiran kita jauh berasal keberlimpahan, adalah kita sudah tidak mempunyai kesadaran orang kaya. Orang barat bilang, wealth consciousness. Kita tidak akan pernah kaya Bila kita tidak memiliki wealth consciousness.

yg ketiga, dengki mengudang energi negatif. tenaga negatif sifatnya Mengganggu. merusak energi positif yang dibutuhkan buat berpikir dan  bertindak. energi negatif pula merusak bekerja hukum daya tarik/ketertarikan (law of attraction). Dengki seringkali mengarahkan penekanan kita kepada kejelekan orang lain.

yg keempat, Bila sudah keluar ucapan negatif, maka kita tidak akan pernah mampu menerima manfaat berasal orang yg kita dengki. contohnya Anda sudah berkata hal negatif: “Cuma segitu aja bangga!” kentara, setelah Anda mengatakan hal itu, Anda tidak akan bisa mendapatkan manfaat (kolaborasi, petuah , minjam kapital, dsb) berasal orang tadi. Kecuali Anda tidak punya membuat malu.

yang kelima, dengki mampu meruntuhkan dapat dipercaya pelakunya. Terutama Jika telah diiringi kata-kata buruk  seperti hinaan atau fitnahan yang biasa mengikuti dengki. saat seorang mengejek keberhasilan orang lain, memang ada orang yang suka  (sama-sama pedengki), namun tidak sedikit yg berkata “sirik indikasi tidak bisa.” artinya kredibilitas pedengki tadi hancur.

yang keenam, tak terdapat pemugaran selesainya dengki. karena kita fokus di nikmat orang lain, kemudian kita berusaha menghilangkan nikmat tersebut, sibuk menghina dan  memfitnah, maka dia melupakan satu hal yang jauh lebih krusial. Hal itu adalah memperbaiki diri sendiri. Bila kita mendapatkan keberhasilan lebih sedikit dibanding orang lain, ialah terdapat kekurangan pada diri kita.

yg ketujuh adalah membebani diri sendiri. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat buat tersenyum, serta yang lebih bahaya hatinya semakin penuh menggunakan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, galau, dan  perasaan-perasaan negatif lainnya. Beban yg sebenarnya tak perlu kita pikul. Beban ini bisa memakan energi kita. sehingga, tenaga yang kita perlukan buat sukses terkikis habis.

lalu bagaimana menghilangkan dengki? Para ulama telah membahasnya. aku  hanya akan memberikan 2 cara yg bisa kita aplikasikan sekarang pula.

saat kita berdo’a meraih sukses atau kenikmatan, berdo’alah bukan hanya untuk diri sendiri. tetapi buat orang lain pula.
saat terdapat orang lain, sahabat, bahkan saingan menerima nikmat, maka bersyukurlah. Syukur jauh asal dengki, justru akan mendatangkan nikmat.
dan  yg terakhir, marilah kita berlindung kepada Allah dari sifat dengki ini. praktis-mudahan, tidak terdapat sedikit pun rasa dengki dalam hati kita. Bila masih terdapat, mari kita hapus dengan istighfar serta syukur.

Iklan Jasa : Harga Service Kursi Sofa di CAKUNG Jakarta Timur

Biaya  / Harga Service Kursi Sofa di CAKUNG Jakarta Timur, Perencanaan biaya  Jasa Service Sofa Jakarta www.jasaservicesofajakarta.blogspot.com

biaya  / Harga Service Kursi Sofa di CAKUNG Jakarta Timur, biaya  / Harga Service Kursi Sofa pada RAWA TERATE Jakarta Timur, biaya  / Harga Service Kursi Sofa pada PENGGILINGAN Jakarta Timur, biaya  / Harga Service Kursi Sofa di PULOGEBANG Jakarta Timur, biaya  / Harga Service Kursi Sofa di UJUNG MENTENG Jakarta Timur,

Call/WA : Bpk. DADANG 0813 8123 2826


Rumus = Jumlah Seater (dudukan) X 675.000 (dengan bahan/kain baku, terlampir)
biaya  diatas termasuk layanan (ganti kain kulit sofa, tambah busa, ganti karet dan  per sofa, biaya  antar/jemput sofa ke workshop kami) buat sofa dibawah 4 seater (dudukan) maka tidak mendapatkan fasilitas free antar/jemput sofa.

Berikut Simulasi perkiraan Harga / porto Jasa Service Sofa pada Jakarta:
contoh:

Anda Punya 1 Set Kursi Sofa yg akan diservis, dengan jumlah dudukan (5) 3-1-1 seat, maka:
5 X Rp. 675.000 =  Rp. 3.375.000

* kondisi serta ketentuan berlaku
** harga sewaktu-saat dapat berubah

Berikut beberapa bahan kain/kulit sofa baku :

  1. Kulit Imitasi Lokal (clio, fujiyama, deblo, myo synthetic, mulan, Sofi Olvin)
  2. Kain Viscose / Woll ( Ateja, Regency, Lapaloma, Hikaron)
  3. serta berbagai merk yg kami bawa saat kami kuesioner ke lokasi anda



Bahan/Kain Kulit Impor (biaya  berbeda) bisa disepakati beserta waktu survey, beberapa diantaranya:


  1. Synthetic Leather German, London, Italian, Paris
  2. Syinthetic Leather MB Tech
  3. Kain Beludru Motif India
  4. Kulit asli Sapi Lokal / Import
  5. dan  brand lainnya akan kami bawa ketika berita umum



buat melihat jenis-jenis bahan / kain /kulit pelapis sofa anda mampu lihat disini

Anda mampu berdiskusi menggunakan kami buat bahan/kain pilihan yang cocok buat sofa dan  kesukaan anda, bahan kain/kulit sofa juga mampu custom serta kombinasi rona serta jenis bahan.

Adapun biaya  buat merubah contoh (sofa custom) itu dipengaruhi sesuai jenis sofa dan  bahan yg dipilih, negosiasi bisa dilakukan dengan survey ataupun melalui telepon.

Demikian Budget / Harga service sofa pada jakarta

Beberapa contoh sofa klien kami yg sudah diperbaiki sang www.jasaservicesofajakarta.blogspot.com


Harga Service Kursi Sofa di CAKUNG Jakarta Timur,



 porto / Harga Service Kursi Sofa di CAKUNG Jakarta Timur