Pages

APAKAH GAGAP PADA ANAK BISA SEMBUH?

Ini request-an dari Bunda Ninik Setyarini. Beliau bertanya: "Anak saya usia 7 tahun semula tidak gagap, tetapi tiba-tiba dia gagap dan semakin hari semakin parah. Saya pikir karena sedang ada masalah di sekolahnya, ternyata benar Mbak dia memang sedang mengalami krisis pd di sekolahnya. Akhirnya saya motivasi terus setiap hari untuk membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Sedikit demi sedikit berhasil Mbak. Tapi kalau saya amati kadang-kadang masih suka gagap gitu Mbak. Benarkah gagap itu tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikurangi saja? Saya kadang khawatir perkembangan dia ke depannya."

Saya udah pernah posting sedikit tentang gagap. Jadi, saya copast aja ya dari postingan lawas di blog ini. 


Apa penyebab terjadinya gagap? 

Kalau diperhatikan dengan saksama, gagap terjadi karena adanya hambatan bunyi suara yang keluar dari rongga mulut. Di mana pita suara tidak dapat bergetar secara sempurna karena adanya pemblokiran udara dari rongga dada dan perut kita saat bicara. Begitu juga udara yang tersendat-sendar secara tidak beraturan keluar dari rongga dada dan perut akan menghasilkan suara yang tersendat. Adapun faktor penyebab timbulnya gagap menurut penelaahan para ahli adalah sebagai berikut:
  1. Faktor keturunan: Sebagian ahli mengemukakan bahwa gagap merupakan penyakit keturunan. Di mana penderita gagap sudah membawa sifat turunan pada sistem sarafnya yang membuat penderita rentan terhadap perkembangan kesulitan berbicara. Penyakit gagap pada anak dapat muncul ketika anak mengalami suatu gejolak ketegangan emosional di lingkungan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman, tercekam oleh rasa khawatir atau cemas saat berbicara.
  2. Faktor neurologis: Menutu sebagian besar ahli neurologis berpendapat bahwa adanya gangguan saraf menyebabkan gangguan sistem koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara. Gangguan saraf ini dapat muncul akibat adanya luka pada otak sebagai akibat kesulitan dalam proses kelahiran anak tersebut. Hal lain, anak menjadi gagap karena telah menderita infeksi yang mengganggu sistem saraf secara serius, sehingga pada saat itu telah terjadi proses penurunan kemampuan fungsi saraf secara menyeluruh. Anak pun menjadi membawa sifat gagap. Apabila anak dalam kondisi yang melemah, maka akan terpicu perkembangan gagapnya.
  3. Faktor psikologis: Gagap dapat terjadi karena adanya konflik kejiwaan atau konflik emosional yang melanda seseorang sehingga merasa tertekan. Anak mengalami kegagalan dalam menetralisir gejolak emosional yang menekan perasaannya, sehingga mengganggu proses pengucapan kata-kata saat bicara. Faktor penekan yang menimbulkan konflik emosional anak dapat terjadi akibat suatu paksaan, desakan atau pengaruh lingkungan yang membuat dirinya tidak merasa nyaman, tegang atau panik. Dengan kata lain, ketika anak gagap diakibatkan oleh kejadian tertentu yang sangat menekan. Hal ini bisa saja dipicu akibat pengekangan orangtua terhadap anak, tidak memperbolehkan anak untuk berargumen, sikap otoriter yang terlalu berlebihan, konflik yang dialami dari lingkungan pergaulannya, kecemasan saat disuruh membaca di depan kelas secara mendadak dan sebagainya. Nah, kesulitan di penderita gagap akan semakin berat bila dia mulai merasakan keganjalan dalam hatinya seperti perasaan malu, rendah diri atau si penderita terlalu membanding-bandingkan kondisinya dengan orang lain yang dihadapinya ketika bicara. Paksaan, ancaman, desakan dan bentakan dapat merangsang atau memicu ketegangan emosional pada anak. sehingga mengganggu kordinasi sistem saraf bicara pada anak.
Tipe-tipe Gagap

Ada 3 tipe gangguan gagap pada umumnya, yaitu:
  1. Gagap perkembangan: biasanya terjadi pada anak usia 2-4 tahun atau remaja. Apabila terjadi pada fase usia ini, maka gangguan gagap adalah wajar karena merupakan proses perkembangan bicara pada anak. Gagap pada anak usia tersebut biasanya terjadi karena kontrol dirinya masih rendah. Anak usia ini juga biasanya belum begitu antusias mengemukakan atau mengeskpresikan ide-idenya sebab kematangan alat bicaranya belum optimal. Sementara pada remaja, gagap ini terjadi karena kurangnya rasa percaya diri dan adanya faktor kecemasan akibat perubahan fisik, sosial dan mental yang mereka alami.
  2. Gagap ringan/sementara: biasanya terjadi pada rentang usia 6-8 tahun. Secara alamiah, ini biasanya hanya bersifat sementara. Penyebab paling dominan adalah faktor psikologis. Anak pada usia ini mulai mengalami fase adaptasi, masuk ke lingkungan yang baru, baik itu sekolah maupun pergaulan. Sehingga, anak perlu beberapa waktu agar dapat menyesuaikan diri dengan fungsi sosial serta mentalnya. Ketika anak udah mampu beradaptasi, gagapnya akan berangsur-angsur hilang.
  3. Gagap permanen: gagap jenis ini biasanya terjadi pada anak usia 3-8 tahun. Sifatnya yang menetap karena adanya gangguan fisiologis, yaitu alat bicaranya mengalami kerusakan atau gangguan yang serius. Sehingga, tipe gagap ini sangat membutuhkan terapi wicara dan alat bantu dengar (bila diperlukan).
Upaya Mengatasi Gagap

Kalau melihat cerita dari Bunda Setyarini, anaknya usia 7 tahun. Awalnya tidak gagap, tapi setelah itu gagap dan semakin parah karena mengalami krisis di sekolah. Kalau melihat dari riwayat tersebut, apa yang dialami anak Bunda termasuk dalam kategori gagap sementara. Sudah jelas bahwa si anak gagap karena mengalami krisis adaptasi di lingkungan sekolah. Jadi, untuk menyembuhkannya, apa yang Bunda lakukan sudah benar. Memotivasi anak, salah satunya.

Oh ya, apakah Bunda pernah memeriksakannya ke dokter ? Kalau memang tidak ada gangguan pada sistem/alat bicara di otak, maka sudah bisa dipastikan, ini hanya disebabkan oleh faktor psikologis dan masih bisa sembuh.

Untuk tambahannya, Bunda bisa mencoba melatih anak di rumah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Ketika anak pulang sekolah, setelah ia makan dan istirahat, coba pelan-pelan sisihkan waktu dan ajak anak untuk bicara berdua.
  • Saat bicara dengan anak, usahakan mata kalian saling pandang. Minta anak untuk memandang Bunda lekat-lekat. Posisi duduk juga sebaiknya berhadapan/sejajar.
  • Tanyakan bagaimana situasi di sekolah, apa yang tadi dia lalui, hal apa yang membuatnya senang dan sedih selama berada di sekolah. 
  • Ketika anak mulai menjawab pertanyaan tersebut (berbicara), Bunda simak setiap kalimatnya dengan seksama. Tunggu anak sampai ia menyelesaikan pembicaraannya. 
  • Saat anak mulai berbicara, Bunda sebaiknya menghindari interupsi. Dengarkan saja sampai selesai.
  • Ketika berbicara, anak mulai gagap lagi, Bunda bisa mencoba dengan mengulangi kata atau kalimat yang sebelumnya ia ucapkan. Pengulangan ini dapat membantu membetulkan kalimat anak yang mungkin terpotong atau keliru.
  • Jangan paksa anak untuk mengulangi kalimat yang terpotong itu. Tunggulah sampai ia mengeluarkan kalimat lagi untuk melengkapinya.
  • Bunda sebaiknya jangan pasang tampang kecewa di hadapan anak saat ia gagap. Tatapan ini bisa membuat hati anak merasa tersakiti dan akan semakin mengurangi kepercayaan dirinya.
  • Di awal-awal bicara, Bunda sebaiknya tidak menggunakan kata-kata yang rumit. Gunakan kata yang jelas, sederhana sebagaimana yang mampu diserap/dimengerti oleh anak usia tersebut.
  • Ortu/ Bunda juga bisa mengajarkan anak untuk berbicara jelas melaui teknik mendongeng.
  • Ortu juga harus memperhatikan lingkungan pergaulan anak di rumah. Usahakan untuk menghindari teman yang tidak baik. Jauhi anak dari ejekan/cemoohan teman-temannya.
  • Pelan-pelan ajarkan anak untuk mengatasi permasalahannya dengan cara yang baik tanpa harus dengan kekerasan fisik. Misalnya, kalau di sekolah ia sering diejek teman, maka ajarkan anak untuk tidak langsung melawan dengan memukul atau membalas dengan kata-kata kasar pula. Yaah bagaimana baiknya lah untuk si anak.
  • Jika gagap tersebut berlangsung makin parah, maka segera konsultasikan pada psikologi/psikiater terdekat untuk memperoleh penanganan/terapi yang tepat. Biasanya akan diberikan treatment terapi wicara sih. Tapi, semua tergantung kebutuhan dan tingkat keparahan gagapnya.
Sekian, semoga bermanfaat ^^

PSIKOLOGI PERKAWINAN, SALAHKAH SAYA SHARING?

Beberapa jam lalu, ada seseorang yang mengomentari status-status saya. Kok, tentang nikah-nikah mulu? Ada apa ini?

Katanya kalau ada adek tingkat yang posting soal nikah, itu kurang elok? Dari mana sih dalilnya?

Saya akhirnya menjawab secara frontal. Belakangan ini, statusnya memang soal psikologi keluarga dan perkawinan. Kenapa saya menulisnya? Sebab, pertama: beberapa minggu lalu saya nyaris tertipu oleh pria tidak baik yang hendak melamar saya. Kedua, karena saya dan adek tingkat memang sedang sharing mengenai pengetahuan pra-nikah (soalnya adek tingkat curhat pada saya). Ketiga, murni karena saya orang yang suka nulis, suka belajar dan sharing. Jadi, apa yang kurang elok? Bukankah pengetahuan itu kudu dibagikan? Lagian, saya juga membagikannya, berharap yang lain bisa ikut diskusi agar pandangan kita bisa semakin luas mengenai topik tersebut.


Memang sih, kalau dibilang saya kurang pantas posting mengenai itu lantaran belum menikah, jujur, saya memang belum punya pengalaman. Namun, apa selamanya harus berpatokan pada adanya pengalaman dulu baru kemudian sharing pengetahuan? Tidak, kan? Lagipula, banyak sekali orang di luar sana, khususnya para alumni psikologi yang kurang berminat untuk membagikan ilmu berkaitan dengan psikologi, apapun bidang konsentrasinya. Bukannya saya menyalahkan, tidak. Tapi, coba deh, kita mengubah pikiran dan pandangan lebih terbuka. 

Selama pengetahuan tersebut tidak melanggar syariat Islam, aturan hukum, SARA dll, saya akan tetap membagikannya. Bagi saya, percuma saya belajar A, tapi cuman saya empet dalam hati. Syukur-syukur pengetahuan itu nantinya bisa diulang dan terpatri kuat, sehingga bisa belajar untuk mengaplikasikannya kelak. Bukankah dengan menulis itu lebih baik daripada hanya mengandalkan ingatan?

Ya sudahlah ^_^. Semua terserah penilaian pembaca. Selagi saya masih hidup, masih bisa sharing, insya Allah saya akan tetep menulisnya. Lagian, hehe memangnya postingan saya cuman baru-baru ini saja toh soal perkawinan? Besok-besok kalau ada tema hangat yang lagi saya obrolin sama temen-temen, pasti saya akan bahas itu juga hingga beberapa hari.

Terima kasih buat kritiknya. Tapi, mungkin akan lebih baik lagi bila kritikan tersebut tidak klise alias jelas apa yang mau dikritik. Kalau cuman bilang "tidak pantas", "tidak elok", kalau itu nggak melanggar syariat, tentu akan saya anggap sebagai angin lalu.

MAHASISWA KAMI, DAI MUDA KAMI

Saya sih belum berhasil punya kesempatan untuk nonton acaranya. Tapi, alhamdulillah, salah satu mahasiswa kami di STAIN Parepare, ada yang berhasil maju dan bersyiar melalui acara DAI MUDA di stasiun MNC TV. Namanya Zulfajar Najib. Dia dulu mahasiswa saya waktu masih semester 5. Anaknya memang cerdas (dia selalu dapat nilai tinggi di kelas tanpa nyari perhatian looh ya), gemar ngikutin lomba MTQ dan sering juara juga. Pengetahuan Islam-nya bisa dibilang memadai.

Jadi, buat temen semua, terutama yang ada di Sulawesi Selatan, mohon dukungannya ya buat mahasiswa sekaligus teman kami: Fajar. Caranya, ketik DAI (SPASI) FAJAR kirim ke 6288. Jangan lupa juga nonton performance-nya yaa (hikkksss nanti malam dia tampil jam 11 malam, saya udah tidur tuh jadi gak bisa nonton lagi).

SAHABAT PILIHANKU

Hingga saat ini, alhamdulillah hubungan dengan para sahabat masih tetap terjalin meski kami semua saling berjauhan.

Kalau kalian bertanya, siapakah sahabat "nyata" saya? ^__^ Mereka adalah sebagai berikut:
  1. Warda: dia ini temen saya sejak SD loooh. Dia sekarang masih kerja di Bank Muamalat Capem Parepare. Dia cinta dan gila banget sama Korea. Rumahnya itu terletak di pinggir jalan seberang kompleks rumah saya yang di Parepare dulu, makanya kami juga sering saling berkunjung. Dia juga temen yang getol banget promosiin buku saya tanpa pamrih lagi :D. Sampai sekarang, kami masih sering contact, baik SMS, telepon maupun sosmed. Saya dan Mama saya juga cukup mengenal orangtua si Warda, terutama Mama dan Bapak Warda. Hehehe, Bapaknya juga humble banget.
  2. Nawira atau yang saya panggil Wira: Dia ini sahabat saya semasa SMA, duduknya sebangku terus, sekelas terus, kelebihan dan kekurangan yang kita miliki itu saling melengkapi (udah pernah saya ceritain kok di blog ini). Dia juga yang menginspirasi saya untuk mengenakan jilbab. Dia adalah pengaruh terbesar saya sejak SMA (dia yang mengubah jalan pikiran dan hati saya menjadi tenang dan bisa menghadapi segala masalah semasa sekolah). Saya juga kenal baik dengan Mama, Bapak, Nenek dan adek-adeknya. Keluarganya sederhana tapi selalu bikin terenyuh. Saya malah pernah makan malam bareng keluarganya dengan menu sederhana tapi sangat berarti dan juga pernah tidur di rumahnya pas lagi ngerjain tugas melukis hehe. Oh ya, dia ini pengantin baru looh. Perjuangannya untuk menikah tuuh super banget deeh soalnya sempat ditolak ehh yang namanya jodoh, akhirnya Bapaknya nerima. Dia ini bidan, sekarang lagi ngambil S1 dan S2 dengan konsentrasi sekarang lebih kepada pendidikan (di kuliahnya dia sekalian dibina jadi dosen gitu deh). Sampai sekarang juga masih contact.
  3. Mia : ini nih si kecil cabe rawit, cerdas dan lucuuu. Mia ini temen semasa kuliah. Baru mulai deket itu sekitar semester 4 atau 5 waktu S1 dulu lah, pas lagi banyak tergabung dalam kelompok tugas yang sama. Saya sering banget pergi kajian, syuro', mampir bahkan tidur di kosnya, ehehe. Saya panggil dia Miaw, dia panggil saya Emaw. Sekarang juga masih kontak. Dia sekarang masih bekerja jadi konselor di Autist Centre, Tangerang. Aslinya dari Lombok. Kalau saya ada masalah, biasanya suka curhat ke Miaw, minta masukan juga.
  4. Uun : Ini juga teman semasa kuliah. Kami baru bener-bener deket pas semester 5 atau 6. Sama kayak si Miaw, kami deket karena tugas kelompok dalam konsentrasi bidang minat yang sama. Dia ini anak orang kaya tapi murah hati banget. Dia juga termasuk talk active, jadi kalau saya ngobrol sama dia, saya lebih banyak mendengarkan dan ngasih dorongan minimal hehehe (kayak konseling aja). Darinya, saya belajar banyak tentang lika-liku kehidupan. Dia waktu kuliah, ayahnya meninggal. Ayahnya ini dermawan banget orangnya. Makanya, yang tadinya Uun ini hobi shopping, sekarang sudah berubah gak kayak dulu lagi, yang jelas perubahannya lebih baik. Alhamdulillah, tahun ini, nggak lama lagi dia bakalan nikah. Sekarang ini dia udah tesis dan insya Allah tinggal nunggu ujian dan lulus jadi PSIKOLOG. Dia asli dari Pasuruan.
  5. Dhini : Saya kagum dengan sahabat saya satu ini. Sekarang juga masih kontak tapi kami memang jarang saling curhat karena Dhini ini orangnya agak tertutup daripada saya. Dia ini sosok wanita tegas, banyak cobaan semasa kuliah yang menderanya tapi dia tetep tegar. Saya belajar banyak darinya. Dia juga pernah menjabat sebagai Sekum dan Bendum LISFA (organisasi rohis fakultas yang menaungi kami). Dia juga tergolong single acute (semenjak putus dari pacarnya, perubahan dirinya tampak lebih mulia dan bisa dibilang aura kesalihannya tercermin dari sikap, tutur katanya yang lembut dan perbuatannya. Luph U my teletubbies (hehe iya awalnya kami berempat, saya, Ratri, Puput, Dhini). Dia asli Banjarbaru, KalSel. Waktu kuliah, saya suka banget mampir istirahat di kosnya sambil cerita, makan-makan dan lain-lain hehe.
  6. Masih ada sih sebenarnya, ada Munadiyah dan Oka juga (sahabat semasa pertama masuk kuliah). Mun asli Ternate, Oka asli Surabaya. Cewek-cewek kece ini seru banget kalo diajak jalan. Mereka juga humble, ramah dan pokoknya yang baik-baik dah. Sekarang juga masih kontak tapi gak begitu sering karena kesibukan mereka. Kadang kalau mereka lagi di Malang, baru bisa ketemu soalnya Mun kuliah S2 di Ubaya dan Oka kerja di Surabaya.
  7. Trus ada Mbak Aprilia Koliandri, Mbak Rika, Mbak Siska Niagara yang kesemuanya adalah kakak tingkat semasa S1 sekaligus temen satu rohis dan murabbi kami.

SURAT CINTA DARI EDITOR LAGI

Alhamdulillah, kemarin, saya buka email dari Mbak Luky (editor di Elexmedia Komputindo). 

Naskah saya yang ke-4 bertema Bullying akhirnya diterima. Tapi, kata Mbak Luky, masih ada yang perlu direvisi: ada yang mau ditambahin dan dikurangi. Terus, ngeditnya baru akan berjalan Agustus besok.

Agustus ya? Heum, semoga revisinya bisa berjalan lancar, nggak molor dan tepat waktu sebelum memasuki September. Sebab, September itu musim perkuliahan udah mulai, matrikulasi lagi. Semoga bisa segera selesai dan diberi kemudahan, aamiin.


Jadi, kesimpulannya.. insya Allah akan ada 1 novel yang terbit dari imprint Sheila (Penerbit Andi), 1 buku nonfiksi Islami tentang pemuda dari Penerbit Qibla (lagi) dan 1 buku nonfiksi Islami/Inspiratif tentang Bullying dari (imprint Quanta) Penerbit Elexmedia Komputindo.

Semoga semua karya solo saya juga CKUS ini bisa tetep ngasih manfaat, kebaikan buat semua pembacanya.

Untuk jadwal terbitnya, sebagian mungkin akan terbit akhir tahun 2014, dan insya Allah sisanya mungkin terbit awal 2015. Nanti insya Allah saya infokan lagi kalau udah terbit dan akan ada GA lagi (kalau gak lagi sibuk aja ya).

Terima kasih ya buat semua sahabat, teman-teman yang udah support, ngasih inspirasi dll. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian ^_^.

KENA LEMPAR LIEBSTER AWARD LAGI


Terima kasih buat yang baru aja ngelemparin saya hehe: si Syifaa. Oke deh, to the point aja. Liebster award itu adalah ajang silaturahmi para blogger. Syarat-syaratnya sebagai berikut:

  1. Post tentang award di blog ini
  2. Ucapkan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan pada award ini dengan menyertakan backlink ke blognya.
  3. Ceritakan 11 hal tentang diri anda.
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan.
  5. Pilih 11 blogger dan berikan mereka 11 pertanyaan tentang hal bebas yang ingin diketahui dari mereka.

11 Hal Tentang EMMA
  1. Muslimah (tentunya perempuan berjilbab)
  2. Sangat suka warna hijau :D
  3. Salah satu orang yang tidak bisa/tidak suka/tidak mau makan daging sapi dan kambing. Ayam masih boleh, tapi lebih suka seafood karena dulu pernah hidup dan tinggal di daerah pesisir pantai (belakang rumah pantai).
  4. Rada pendiam soalnya punya kepribadian dominan introvert :)
  5. Suka nulis dan baca dari kecil
  6. Suka belajar apa saja tanpa ada yang nyuruh
  7. Kalau ada hal yang tidak disukai, saya langsung to the point pasang wajah cemberut dan rada marah tapi, kalo saya marah, biasanya gak bertahan lama... setelah beberapa menit langsung biasa aja sok innocent :D
  8. Gak begitu suka basa-basi (kecuali untuk keperluan konseling sangat butuh basa-basi dengan klien demi membangun rapport). Jadi, kalo ada yang mau nanya-nanya ke saya, langsung aja ucapin atau nulis pertanyaannya, gak perlu pakai pertanyaan basa-basi apalagi sambil nanya "Hai, udah makan belom? Gie ngapain?" Hedeuuh NO ALAY!!
  9. Tata bahasa saya jauh lebih baik dalam tulisan daripada lisan (kalo ngomong langsung kadang terdistorsi, ini salah satu efek samping kepribadian introvert. Bukan nggak bisa ngomong tapi kalo diajak ngobrol gitu, biasanya jawab seperlunya. Kalo diminta cerita/ngomong panjang lebar, biasanya ada detik di mana satu atau dua kata terdistorsi dan harus diulangi lagi biar lebih jelas. Kalo bicara di depan podium/khalayak ramai, biasanya butuh materi visual agar omongan saya terkontrol dan lancar hehe :D
  10. Penderita maag (kadang kumat kadang sembuh sendiri)
  11. Psychologist wanna be (insya Allah ini lagi daftar masuk S2 Profesi, mohon doanya ya hehe)

11 Pertanyaan Dari Asy-Syifaahs dan Jawabannya

1. Tiga kata tentang diri kamu?

Introvert, pendengar yang baik, organized people

2. Dua hal yang kamu sukai dari diri kamu?

- Tinggi badan yang proporsional :p (166 cm, gak terlalu tinggi, gak pendek juga)
- Saya suka sifat dan sikap saya sebagai pendengar yang baik (ini dari apa kata temen-temen saya yang suka curhat)

3. Tiga hal yang tidak kamu sukai dari diri kamu?

- Saat stuck karena masalah, sering bahasa lisan lebih sulit dikeluarin daripada menjelaskan lewat tulisan
Mungkin satu itu saja yang paling tidak saya sukai. Selebihnya, saya bersyukur dengan segala kekurangan yang ada (karena saya gak membencinya jadi nggak saya tulis ya)

4. Arti seorang sahabat menurut kamu?

Sahabat adalah cermin diri saya. Jadi, kekurangan dan kelebihan saling melengkapi pada diri kita masing-masing. 

5. Pandanganmu terhadap blog?

Bagi saya, blog itu ibarat apartemen private kedua setelah rumah bagi saya. Bukan hanya sekadar tempat berbagi, melainkan lebih luas sebagai fasilitas kehidupan untuk saya.

6. Siapa yang paling menginspirasimu untuk menulis blog?

Sebenarnya nggak ada, karena saya berinisiatif sendiri membuat dan menulis blog. Jadi jawabannya, inspirasi itu berasal dari motivasi internal.

7. Jenis blog yang disukai, dan kenapa?

Personal blog. Lebih komplit aja. Sekalian bisa kenal si pemilik blognya juga. Personal blog juga kontennya lebih luas karena biasanya berisi pengalaman-pengalaman hidup.

8. Manfaat blog menurut kamu?

Sarana untuk belajar mengenai kehidupan, sarana untuk berbagi pengetahuan dll

9. Suka sama blog Raditya Dika? Iya, kenapa? Nggak, kenapa?

Pernah ngunjungin beberapa kali sih. Suka juga nggak begitu. Dibilang nggak suka, juga tidak. Ya, standar lah. Kalo lagi suntuk, kadang nyari inspirasi ke blog para komedian untuk menurunkan stres, hehe.

10. Menurut kamu, blog aku gimana?

Alhamdulillah, sekarang tampilan blognya bagus, tertata rapi. Kalau bisa, ditambah lagi konten isinya, misal mengenai hal apa yang paling Syifa kuasai. Misal, suka masak, ada konten resep masakan, lumayan kan bisa dibagi-bagi infonya hehe. Sebetulnya, saran ini agar blog Syifa punya ciri khas aja, jadi semakin mudah mengenalnya.

11. Kenal aku? Coba deskripsikan aku menurut pandangan kamu. Kalau belum kenal, ceritain aja apa yang kamu tentang seorang ASYSYIFAAHS.

Waah, gak begitu kenal, hanya di dunia maya. Tapi sepenangkapanku dari tulisan-tulisannya, sepertinya memang benar kalau Syifa menyebut dirinya sebagai Periang. Dengan baca tulisan-tulisannya, saya seolah kayak ngobrol face to face sama orangnya, energik. Ya mungkin hanya itu yang saya tangkap.


Oke deh. Karena saya udah pernah nyolek, jadi pada kesempatan kali ini nggak nyolek lagi ya. 

Makasih ^^

AYAH, JANGANLAH BERSEDIH

Ini adalah request-an dari Mbak Icha. Ngapunten kalo postingannya telat. Kalau request-an yang ini bisa dibilang curhat gitu ya, hehe.

Beliau bertanya seperti ini:

"Bapakku adalah salah satu orang terpandang dan cukup di'orang'kan di daerah tempat lahirku. Meski pas pas an tapi bapakku mampu menyekolahkan 7 putra putrinya sampai S2.

Nah sejak awal tahun bapakku jatuh sakit yang tak kunjung sembuh, wah complicated lah, keluar masuk rumah sakit, operasi dll. Karena bapak sudah tidak bekerja maka semua biayanya di tanggung anak-anaknya.Nah selama sakit bapak selalu menangis, merasa sudah tua, merasa sudah mau (naudzubillah) mati, tapi merasa belum tuntas dalam menyelesaikan tugasnya sebagai seorang bapak. Karena kakak laki-lakiku meski sudah mapan belum menemukan jodohnya jadi blm menikah. Aku (satu-satunya sisa anak perempuan) sudah punya pacar tapi belum juga dilamar karena masih banyak hal yang membuat aku blm menikah dan satu lagi adikku yang masih kuliah.Sepertinya 3 hal itu selalu membuat bapakku menangis..... lah kita sebagai anaknya sudah berusaha semaksimal mungkin menenangkan bapak, menyemangati agar yang penting sembuh dulu. Karena sekeras apapun kita berusaha jodoh untuk mas ku dan aku adalah di tangan tuhan. Tapi bapak tidak seperti bapak yang dulu, yang semangat yang optimis yang ceria, kini sedikit sedikit haru, lalu menangis. oya mak.. aku 7 bersaudara.. empat saudaraku sudah berkeluarga. tinggal 3 yang belum berkeluarga ya itu yang menjadi pikiran bapakku. Aku, mas atasku pas dan adikku yang sedang skripsi. umurku 26 tahun :D."

----
Kalau saya tangkap, inti ceritanya itu soal kegelisahan Bapak dari Mbak Icha karena persoalan jodoh kalian ya?

Ayah manapun dan siapapun itu pada umumnya memang akan mengalami hal seperti yang Bapak Mbak rasakan/alami. Tak peduli beliau masih mampu menghidupi anak-anaknya, tak peduli gimana pun statusnya, tak peduli beliau mengalami sakit atau tidak.

Ayah itu adalah laki-laki, kan? Laki-laki itu biasanya agak sulit untuk mengeskpresikan atau mengungkapkan kegelisahannya secara detil kepada orang lain, pun pada anak-anaknya sendiri. Ayah juga adalah kepala keluarga. Jadi, sampai kapanpun, seorang Ayah bakal ngerasa "bersalah" kalau belum mampu mewujudkan kebahagiaan anak-anaknya meski nyatanya beliau udah tak perlu dipertanyakan seberapa besar jasanya sejak anak-anaknya dilahirkan.

Kekhawatiran Bapak si Mbak yang terbesar itu karena dia sedang sakit. Khawatir beliau keburu tutup usia, makanya mengamanahkan pada kalian agar segera mencari jodoh. Itu hal yang wajar. Kesedihan yang dirasakan pun sangat wajar.

Jadi, kalau boleh ngasih saran. Upayakan semaksimal kemampuan kalian untuk memenuhi permintaan si Bapak. Wallahu'alam, bisa jadi itu adalah permintaan terakhir sebelum beliau "pamit".  Bapak khawatir karena kakak laki-laki belum juga menikah. Bapak juga khawatir karena Mbak Icha tak kunjung mendapat kepastian arah hubungan dengan sang pacar. 

Jodoh itu memang akan selalu ada di tangan Tuhan, Mbak. Tapi, jika nggak ada ikhtiar/usaha, maka selamanya hanya akan bertengger di tangan Tuhan. Buat kakak laki-lakinya, coba deh Mbak bantuin untuk menjodohkan Mas-nya dengan seorang kenalan. Atau, bisa juga meminta bantuan kerabat keluarga maupun ustadz/ustadzah untuk mencarikan seorang wanita yang layak diperistri oleh si Mas. Jangan lupa, tanyakan juga kepada si Mas, dia maunya perempuan dengan kriteria khusus apa. Sehingga akan lebih mudah nyarinya selain mempertimbangkan agama dan akhlaknya.

Buat Mbak. Mbak sudah punya pacar. Pacaran itu memang bukan jaminan mutlak akan berakhir ke pelaminan, stag di tengah jalan dalam waktu yang lama atau mungkin kandas. Jadi, kalau memang Mbak merasa sudah siap untuk menikah (tanpa adanya keterpaksaan karena permintaan ortu), alangkah baiknya, tanyakan ke pacar Mbak, kapan dia akan memberikan kepastian mengenai akhir perjalanan kalian. Kalau terlalu lama pacaran atau menunda untuk pacaran dulu dalam waktu yang makin tak terhitung, juga tidak baik (kalau Mbak adalah seorang Muslimah). Yang melamar lalu digantungkan dengan jawaban penantian saja, tidak disarankan begitu karena bisa menimbulkan fitnah apalagi bagi mereka yang pacarannya udah lama.

Jadi, Mbak juga harus tegas kepada sang pacar. Jika memang sang pacar merasa belum siap, apakah Mbak sanggup menanti dalam waktu yang lebih lama? Sementara di sisi lain, ketidakpastian itulah yang membuat si Bapak jadi merasa bersalah dan "sakit". Seorang laki-laki sholeh yang benar-benar berani mencintai seorang perempuan itu, tidak akan memacari perempuan tersebut. Laki-laki pemberani itu adalah mereka yang sangat berpegang teguh pada janjinya. Kalau mereka siap mencintai, pasti mereka hanya akan memilih di antara dua hal ini: menikahinya atau melepasnya untuk pria lain yang sudah siap.

Maaf, Mbak, bukan maksud saya menggurui. Tapi, saya hanya menjelaskan apa yang saya pelajari dari bingkai Islam. 

Jadi sekarang, sembari ikhtiar dengan jalan yang tepat, Mbak bisa nyambi istikharah dan terus berdoa untuk si Bapak pula agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Mintalah pada si Bapak untuk bersabar barang sebentar. Kalau pacar Mbak sudah ada kepastian, maka disegerakan saja untuk diperkenalkan lebih dalam lagi mengenai niat menikah kalian kepada si Bapak. Mungkin, itu bisa mengurangi sedikit dari kegelisahan beliau.

Cukup sekian dulu penjelasan dari saya ya Mbak. Kalau ada yang ingin ditanyakan lagi, monggo. Maaf kalo masih banyak kekurangan. Terima kasih atas request-annya ^_^

Best regards,


RAMADHAAAAN TIBAA

Alhamdulillah masih diberi umur dan kesempatan untuk bergabung dalam bulan yang suci nan berkah ini. 

Dosa dan kesalahan saya banyaaaak banget ya Allah. Semoga di Ramadhan tahun ini bisa meng-upgrade kualitas diri dan akhlak jadi lebih baik lagi. Semoga selepas Ramadhan, kebaikan yang dijalankan dapat terus berjalan. Bisa istiqamah maksudnya, aamiin... aamiin...

Belajar dari insiden kemarin, mungkin tahun ini jodoh saya memang belum waktunya untuk dihadirkan. Lagipula, tahun ini saya juga baru mendaftar program profesi. Saya yakin maksud Allah ini adalah tanda pemberian waktu luang bagi saya untuk kembali inrospeksi. Insya Allah, saya berharaaaap banget ya Rabb, usia 25 tahun 2015 mendatang bisa nikah. Bukan karena "ngebet". Saya ingin menyempurnakan separauh agama, ingin menjalankan sunnah Rasul-Mu dan visi saya, membuka lembaran peradaban baru didasarkan niat lillahi ta'ala dengan berbagai misi bersama menuju surga. Nggak mudah memang. Tapi, insya Allah, saya lagi belajar parenting nabawiyah juga. Alhamdulillah, ada adik tingkat yang mau share beberapa ilmu yang diperolehnya mengenai hal tersebut. Semoga nggak sia-sia ya Rabb.

Kalau insya Allah tahun depan ada ikhwan yang benar-benar hanif agama dan akhlaknya datang meminta secara baik-baik, saya sudah siap. Tapi memang risikonya, saya masih kuliah. Saya juga belajar dari kakak-kakak tingkat dan murabbi saya yang sementara masih kuliah udah nikah juga. Sulit? Iya, karena harus bagi waktu. Apalagi, seandainya Allah ngasih jodoh orang yang kerjanya di luar kota Malang. Harus LDR? Yaa wallahu 'alam... semoga Allah ngasih petunjuk-Nya. Kalaupun Allah ternyata mendatangkan jodoh saya selepas lulus S2, itu berarti nunggu 2,5 tahun, minimal ketentuan HIMPSI segitu dan usia saya sudah beranjak 27 tahun menjelang 28. Ya Rabb, mudahkanlah niat awal ini. Usia 25 tahun pengen nikah. Pengen belajar dan menerima tantangan serta amanah yang lebih besar lagi. Aamiin

RASA TAKUT PADA ANAK

Assalamu'alaikum

Menjawab request-an berikutnya yaitu dari Mak Dhona Chandra. Mohon maaf bila terlambat karena lappy baru sembuh.

Oke, pertanyaan dari Mak Dhona seperti ini: 

Mak...bahas gimana supaya anak gak suka takut...misal sama hantu dan lain-lain.Dirumah sih gak suka nakut-nakutin, tapi di sekolah banyak temannya yang suka cerita hantu gitu. Mo disegerakan menempati kamar sendiri tanpa harus ditemani dulu Mak

Jadi, langsung saja ya jawabannya.

Eum, kalau dari artikel dan buku yang pernah saya baca, rasa takut pada anak atau pada orang dengan usia berapapun itu merupakan hal wajar. Rasa takut ini bahkan sangat dibutuhkan sebab merupakan salah satu bagian dari ekspresi emosi yang alamiah pada seorang manusia. Dengan rasa takut, manusia bisa lebih waspada dan juga sebagai sirine untuk bertindak melindungi diri dari kecaman bahaya pemicu rasa takut itu. Kalau ada orang yang nggak pernah merasa takut, berarti emosinya perlu dipertanyakan.

Namun, rasa takut atau ketakutan ini akan berbahaya apabila tidak tertangani. Jika ketakutan itu makin berlanjut, bisa jadi, si anak malah akan mengalami fase fobia (rasa takut yang tidak wajar).

Sebenarnya, masih ada banyak hal atau data yang perlu dikumpulkan mengenai detil ketakutan yang dialami pada anaknya Bunda Dhona. Kalau dari tulisan beliau di atas, Di rumah nggak ada yang suka nakut-nakutin tapi di sekolah banyak temannya yang suka cerita hantu. Nah, dari sedikit penjelasan ini, bisa ditarik problem bahwa rasa takut yang dialami si anak ini disebabkan oleh adanya penularan dari lingkungan.

Teman-teman anak di sekolah suka ceritain soal hantu, nakut-nakutin atau ngagetin dari belakang atau bentuk lain, jika ini terjadi berulang-ulang dan terus-menerus dalam periode panjang, maka orangtua kudu waspada terhadap rasa takut pada anaknya.

Kalau virus dari teman-temannya itu udah sering dibawa ke dalam rumah. Di rumah pun si anak suka takut-takut sendiri atau berperilaku seperti orang dengan sindrom paranoid, bisa jadi ini tidak wajar. Cara untuk mendeteksinya, sangat mudah. Tinggal diobservasi aja perilaku anak setiap hari di rumah dan di tempat lain. Kalau sudah ada indikasi adanya rasa takut yang tidak wajar, ortu harus bertindak cepat. 

Misalnya nih, di sekolah, si anak ini suka ditakut-takutin pake karet gelang, balon, bola atau benda-benda nyata lainnya, lalu saat anak melihat kembali benda-benda tersebut di rumah dan sama takutnya saat di sekolah, berarti ada pertanda rasa takut anak disebabkan oleh trauma pada benda-benda tertentu. Kalau anak takut karena suka diceritain soal hantu atau sesuatu yang tak bisa dilihat secara kasat mata, ini juga kudu diwaspadai karena ketakutan pada hal yang tak nampak malah bisa mempengaruhi fungsi lain kayak pendengarannya juga. Eum maksud saya, hantu itu kan gak nampak di mata. Tapi, kalau orang udah takut hantu, biasanya juga malah jadi sensitif dan curigaan pada suara-suara. Khawatirnya, malah berkembang sebuah halusinasi.

Solusinya gimana? Tentunya peran orangtua sangat dibutuhin. Caranya dengan memberikan dukungan dan empati. Kalau si anak sudah memunculkan tanda-tanda ketakutan, ortu kudu gesit, tanyakan pada anak, apa sih yang bikin dia takut. Kalau dia nunjuk sesuatu yang menjadi sumber ketakutannya, coba dicek dulu, benda atau hal macam apa sih yang ditakutin. Kalau itu bukan sesuatu yang berbahaya, coba pelan-pelan dijelasin pada anak itu tuh nggak apa-apa. Kalau perlu, dekatkan dia pada sumber rasa takut tersebut agar bisa mencermati dan menyelidiki sendiri, sebenarnya apa sih itu. Kalau anak enggan kompromi, jangan paksa anak untuk menjelaskan.

Ortu juga sebaiknya jangan menambah-nambahi atau memperburuk situasi. Biasanya ortu kan suka tuh ngelarang-larang anak ini itu. "Eh, jangan main kucing, ntar digigit. Eh, Adek jangan lari-lari, ntar jatuh, ntar dikejar hantu loh!" Perkataan persuasi negatif kayak gini sebaiknya kalau bisa jangan dilakukan.

Cara selanjutnya, kalau si anak udah takut keluar rumah karena ingin menghindari hal yang ditakuti, coba kasih waktu anak untuk rehat dan tenang sejenak. Setelah itu, pelan-pelan latih anak untuk mengurangi rasa takutnya. Contoh kecilnya, kalau awalnya anak juga takut ke kamar mandi sendiri, nggak apa-apa, ortu menemani sekali dua kali. Tapi, selanjutnya, pas nganterin anak ke kamar mandi, coba pelan-pelan tinggalin dia sendiri. Besoknya, coba ajarkan anak agar dia ke kamar mandi sendiri. Bisa dengan cara menjelaskan dulu bahwa di kamar mandi atau di ruang manapun dalam rumah itu tuh nggak akan membahayakannya. Baiknya lagi, mengajarkan dengan cara memberi contoh. Jadi, ortu ngasih contoh real perilaku kepada anak. MInta anak untuk menyimaknya dengan tenang. Ini memang tidak bisa sekali, tapi kudu telaten, sabar dan berkali-kali.

Selain itu, pastikan untuk selalu bangun komunikasi yang lancar dan positif pada anak. Kayak contoh tadi, jangan suka melarang-larang anak untuk melakukan ini itu. Kalaupun si anak punya dorongan untuk melakukan hal yang benar-benar berisiko/berbahaya, jangan pakai kalimat larangan, tapi ganti dengan kalimat positif.

Selanjutnya, jangan membatasi ruang gerak anak. Jangan mentang-mentang dia takut terus nggak mau diajak jalan-jalan keluar rumah dan ortu juga ikut-ikutan mengiyakan. Besok-besok, ketika emosi anak sudah mereda, ajaklah ia untuk lebih mengenal dunia luar. Sebaiknya jangan terlalu lama mengajak anak keluar rumah. Kalau terlalu lama, biasanya risiko mengalami hal membahayakan malah lebih mungkin terjadi. Yaa secukupnya saja waktunya.

Apabila cara-cara yang saya uraikan ini belum membantu, dan anak masih saja mengalami ketakutan yang makin tak wajar, maka sebaiknya ortu segera mengontak ahli terdekat dalam kota. Segera konsultasi dan bawa anak ke dokter, psikiater atau psikolog terdekat untuk memastikan atau mengetes apakah ketakutan anak sudah berkembang pada fase fobia ataukah belum/tidak. 

Nanti setelah dikroscek atau dites dan di-anamnesisi, psikiater atau psikolog akan memutuskan dengan menawarkan treatment yang tepat untuk si anak tersebut. Kalau sudah ada kecenderungan fobia, biasanya akan dikasih treatment CBT (terapi kognitif-behavior) untuk "menyembuhkan" fungsi kognitif, psikis dan perilaku anak dalam keadaan normal kembali. Kadang ada juga sih yang pakai hipnoterapi, cuman itu masih langka dan tidak sembarang psikolog yang bisa ngasih. Biasanya memang ada ahli hipno dengan gelarnya tersendiri. Atau mungkin akan diberi alternatif solusi lainnya, semua tergantung pada kondisi atau tingkat keparahan problemnya.

Jadi, Bunda Dhona, kalau mau lebih jelas lagi, jika memang cara-cara minimalis tidak dapat cukup membantu, maka lebih baik, segera bawa langsung anak ke psikiater/psikolog ya agar bisa lebih jelas dan tahu, kira-kira anak harus diberi terapi atau gimana-gimananya.

Mohon maaf bila ada kekurangan karena masih tahap belajar. Terima kasih :)



Best regards,





LIBURAN KE DESA

Hari Minggu kemarin, kami sekeluarga (berlima) pergi nyambangin Mbah putri dan Mbah kung ke desa (ortu Bapak).

Desa Gajahrejo. Bener-bener gunung, jalanannya masih banyak yang belum diaspal, nanjak, jalannya sempit bingit dan di sepanjang jalan hingga desa itu buanyyyaaak banget kebun tebu.


Dulu, saya pernah ke sana, waktu keluarga Bapak belum pindah ke kota seperti sekarang. Dulu... kalau tidak salah SD apa SMP gitu saya ke sana, pas libur lebaran. Haha, beneran jadi anak desa. Mandi di kali, tidur di gubuk, maen di lapangan, nimba ke sumur. Kalau hujan, parah banget, karena tanah, jadi pada becek berlumpur.

Ini penampakan rumah Mbah di Desa. Mungil kan, tapi kiri kanan belakang itu tanah kebun semua, ada si embek kambing juga di sebelah kiri rumah tapi gak saya foto hehe

Kemarin untuk ketiga kalinya saya ke sana setelah libur lebaran tahun-tahun lalu sudah ke sana.

Mbah tuh kadang nginap di desa, kadang juga di rumah paman di Sawojajar 1. Di desa, Mbah masih punya tanah dan aneka macam tumbuhan di kebunnya. Ada singkong, ubi jalar, kopi, cokelat, tanaman untuk bahan pembuatan minyak wangi (saya lupa namanya), salak, tebu dan lain-lainnya. 

Ortu Bapak gak jauh beda sama ortu Mama. Mereka alhamdulillah masih hidup semua. Mereka juga sama-sama petani. Mbak di Madiun (ortu Mama) juga masih punya tanah, rumahnya masih rumah jadul yang bener-bener jadul, masih punya lahan kebun macem-macem.

Positifnya, kalo mau makan ubi, singkong dan lain-lainnya, gak perlu beli. Tinggal minta dan petik sendiri aja :D hehe. Trus, hasil kebun mereka juga kadang masih dijual gitu. Mereka juga punya ternak kambing. Kalo di Mbah Madiun, dulu masih punya sapi, tapi udah diopeni sama orang lain karena Mbah di Madiun fisiknya gak begitu kuat lagi.

Mbah di Malang ini subhanallah sekali masih kuat kerja. Mbah kung gitu sering banget bantuin nguli di rumah (rumah kami di Malang kan masih belum selesai pembangunannya). Beliau nggak pernah ngeluh, paling capek doang atau masuk angin, tapi besoknya ngebun lagi. Betul juga sih kata para orangtua, kalo diem aja gak ada kerjaan malah bisa bikin sakit. Makanya gerak dong! :D hehe

Di desa, kami juga masih punya banyak kerabat. Alhamdulillah masih pada sehat. Dan, semoga seterusnya demikian ya :) aamiin.

Bedanya Mbah di Malang dan Madiun, kalo Mbah di Malang, aku pribadi jarang dikasih sangu hehe. Biasanya sangu hasil kebun, bukan uang. Tapi, kalo Mbah di Madiun, tiap ke sana masiiiih aja suka ngasih sangu, walau saya udah segede ini, Mbah kung Madiun muaraaah besar kalo saya nolak pemberian uang dari beliau. Duuuh, antara malu dan gak enak juga. Tapi, Mbah tuh bakal marah dan keukeuh buat ngasih, jadi akhirnya saya terima juga. Tapi, tetep bagi sama adek juga hoho. Kalau dulu waktu Mbah Madiun masih suehaat bugaar, Mbah kung ngasih sangunya gede banget, hehehe... sampe pernah ngasih sekian gitu saya pake sebagian buat ongkos kuliah hehe. Mbah.. Mbah... tetep ya nganggap saya ini cucu "kecil" yang kudu disangoni. Tapi bukan duitnya yang saya banggain, melainkan kerja keras dan kebaikan serta perhatian mereka semua.

Setelah 2010 lalu, saya kehilangan Mbah sepersusuan yang dekeeet bangeeeet sama saya daripada yang lain, sekarang saya masih bersyukur, masih bisa lihat Mbah dari kedua orangtua. Masih bisa maen-maen sama mereka, curhat-curhat kepo gak jelas. Mereka itu juga teladan yang baik. Kalau oma-opa jaman sekarang banyak yang rewel dan njelimet, mau ini itu, naah mereka tuh beda. Mbah-mbah zaman dulu kayak Mbah kami tuh karena terbiasa hidup sederhana, jadi gak neko-neko. Kadang, saya kasihan juga kalo liat di rumah mereka makan cuman itu-itu doang. Saking sederhananya looh, makan puhung aja udah alhamdulillah walau sebenarnya mampu banget beli ini itu. Kadang, kalo Mbah mampir ke rumah, terutama Mbah kung, saya masakin apa aja deh yang ada, biar mereka gak cuman makan itu-itu doang. 

Heuum.. insya Allah, libur lebaran nanti, kami bakal berbondong-bondong silaturahmi ke desa lagi hoho.. Ampuuuun yaaa silaturahminya itu door to door, mulai pagi sampeee terbenam matahari masih lanjut saking banyaknya kerabat. Pada disambangi semua. Tapi, saya selalu wanti-wanti ngurangi makan "jajan" soalnya pada manis kan. Nah, saya kalo bertamu, selalu minta air putih doang, daripada minum fanta, sirup atau sejenisnya, paling cuman sekali, abis itu di rumah selanjutnya nggak.

KONDISI PSIKOLOGIS ANAK KORBAN PERCERAIAN ORTU

Ini adalah request dari Bunda Arifah Abdul Majid.




Jadi pertanyaannya:
  1. Gimana kondisi psikologis anak yang orangtuanya bercerai?
  2. Sejauh mana orangtua (khususnya sang mama agar bisa berperan sehingga kondisi psikis anaknya bisa tetap baik?
Well, kita coba bahas satu per satu ya.

Kebetulan, skripsi saya dulu temanya tentang perceraian. Salah satu subjek saya adalah seorang ibu single parent sama sepreti Bunda Arifah ini. Subjek saya itu tidak menikah lagi karena usianya telah menginjak 40 tahun. Jadi, saya coba membahas permasalahan Bunda Arifah dari pendekatan penelitian saya ya. Kurang lebih tidak jauh berbeda.

Dari hasil penelitian saya, bagi pasangan yang bercerai kemudian telah memiliki anak, maka anak digolongkan sebagai korban. Proses perceraian ini akan sangat memberi pukulan telak pada kedua belah pihak. Sementara anak, jika ortunya bercerai di usianya bayi, maka anak tersebut tentu tidak tahu menahu dan baru aka nmenyadari ketika remaja. Jadi, beban pikiran anak terhadap perceraian ortunya setelah ia tahunya pas remaja itu tidak terlalu berat dan besar. Beda jika ortu si anak bercerai ketika ia telah berusia remaja. Kondisi emosional mereka yang notabene sudah labil, akan semakin tidak terkendali ketika ortunya bercerai, apalagi perceraian tersebut tidak berlangsung secara baik-baik. 

Situasi yang kacau ini akan memberi efek frustrasi hingga depresi bagi si anak. Ke depannya, anak akan membuat definisi mengenai siapa figur ibu dan siapa figur ayah. Misalkan, si anak tahu kalau sang ayah yang menceraikan ibunya dan sering terlibat pertengkaran atau "peperangan fisik" dengan sang ibu, maka anak akan mendefinisikan seorang ayah sebagai seseorang yang tega dan semena-mena terhadap perempuan. Maka, belief yang berkembang tersebut akan terus mengendap dan terinstal dalam otak si anak dan bisa mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap figur laki-laki. Sama halnya jika ibunya yang ada di posisi menggugat cerai lalu si anak lebih memihak pada ayahnya, anak pun akan mengembangkan ketidakpercayaan terhadap sang ibu karena dianggap jahat terhadap sang ayah.

Untuk masalah yang terjadi selama proses penyesuaian ini jauh lebih rumit dan complicated dibandingkan saat proses perceraian. Masalah penyesuaian yang menempati rating paling tinggi berdasarkan banyak penelitian itu adalah masalah dalam proses penyesuaan diri terhadap trauma emosional. Ini berlaku bagi ortu (pihak yang bercerai, terutama perempuan/ibu/istri) dan anak. Kondisi emosi orangtua yang down juga akan memberi pengaruh pada kondisi emosional sang anak (terutama mereka yang udah remaja dan tahu bahwa ortunya cerai/menyaksikan sendiri perceraian ortunya). Biasanya ditandai dengan perasaan bersalah, sedih yang berlarut-larut dan kecewa. Jika tidak teratasi, akan berlanjut pada fase depresi. 

Kalau untuk anak yang ortunya bercerai ketika ia masih bayi, kondisi emosionalnya tentu beda-beda tiap individu. Kalau pada masa bayi, tentu kita nggak bisa mendiagnosa atau memprediksi gimana sih kondisi emosionalnya waktu ortunya cerai. Pun dengan anak yang masih dalam rentang usia kanak-kanak, mereka pun masih belum paham.

Biasanya, mereka baru akan bertanya saat udah remaja. Sederet pertanyaan tentang siapa ayah/ibunya, kenapa nggak tinggal dalam satu rumah, kapan bercerai, kenapa bercerai dan lainnya akan digemborkan. Jadi, untuk mengantisipasi drop-nya emosional mereka, ortu hendaknya membicarakan perihal perceraian tersebut terhadap sang anak secara baik-baik. Yakinkan bahwa mereka tetap punya ibu dan ayah, walau sudah pisah rumah, tapi peran ibu dan ayah tak akan berubah sampai kapanpun.

---
Jadi, untuk masalah kondisi psikis anak korban perceraian ortu, tergantung dari masing-masing anak ya, Bunda. Ada anak yang bisa menerima dan memahami meski ortunya bercerai sejak ia kecil. Tapi, untuk ortu yang cerainya ketika anaknya udah remaja, pada umumnya, kondisi emosi anak akan bertambah labil dan bila ortu tidak peduli dan tidak pernah bertanya, maka remaja tersebut akan mengembangkan perilak destruktif, melawan ortu, membangkang dan tindak kriminal serta keras kepala (ini sama seperti anak subjek penelitian saya waktu skripsi).

Soal peran ortu, bila sang ibu single parent yang tinggal dengan anak ditambah ibunya bekerja, maka sang ibu harus mampu memenej waktunya dengan sangat baik. Kalau bekerja, sebisa mungkin manfaatkan waktu sepulang kerja, malam hari dan weekend dengan anak. Yaah bangunlah quality time dengan anak meski harus curi-curi waktu. Berikan perhatian pada anak. Jangan lupa untuk selalu membuka diskusi atau berikan kesempatan agar anak mau curhat tentang segala unek-uneknya kepada sang ibu, entah itu soal sekolah atau tentang masalah pribadinya. Terus, kalao ayahnya masih hidup, hendaknya ngatur jadwal pertemuan ibu anak dan ayah bareng-bareng dalam satu waktu luang. Setidaknya agar anak merasa nyaman bahwa ortunya peduli kepadanya.

Yang penting komunikasi, perhatian, kasih sayang dan kepercayaan harus tetap terjaga dan dijalin dengan baik. Dengan begitu, beban psikis yang dirasakan anak tidak terlalu berat.

Eum, untuk kasus remaja yang ortunya bercerai memang agak sulit mengatasinya, apalagi remajanya mulai memunculkan perilaku "suka melawan", nggak mau dengerin apa kata ortu, dan semaunya sendiri atau minta kebebasan yang berlebih. Untuk masalah yang lebih serius kayak gini, sebaiknya langsung dikonsultasikan kepada ahli terdekat di kota Bunda ya. Bisa ke psikiater, konselor atau psikolog. Ajak anak untuk mengadakan pertemuan langsung. Nanti bila perlu, ahli akan memberikan tindak lanjut, apakah akan diberikan treatment terapi perilaku (bila berdampak pada buruknya perilaku anak) ataukah hanya perlu konseling keluarga saja dengan melibatkan kedua ortu yang sudah bercerai beserta anak.

Demikian dari saya. Mohon maaf bila ada kekurangan. Bagi yang punya masukan lain, monggi di-sharingkan, karena di sini nggak ada yang benar atau salah. Kita berbagi pengetahuan dan pengalaman sebagai pelajaran untuk melangkah lebih baik. ^__^

Best regards,




RENUNGAN MALAM INI

Malam minggu, waktunya merenung.

Mengulur beberapa bulan dan tahun ke belakang, begitu banyak salah, dosa, rasa kecewa, bahagia dan lainnya.

Barusan, saya liat salah satu TL gitu. Yaaa.. lagi-lagi soal jodoh yang dibahas. Tapi, bukan soal itu yang ingin saya bahas.

Saya jadi berpikir ulang. Dulu ketika masih kuliah, orangtua sempat menyarankan agar saya bekerja di Bank. Tapi, saya menolak.


Ketika lulus kuliah, beberapa hari setelah wisuda, salah satu tante saya (adik Bapak) memberikan tawaran. Seorang temannya adalah manajer atau apaa gitu jabatannya di Bank. Dan, saya dikasih tawaran untuk kerja di sana karena kemungkinan diterimanya cukup besar (mungkin karena ada link orang dalam kali ya). Tapi, saya menolak.

Ketika sempat pulang ke Parepare, teman-teman SMA pada silaturahmi ke rumah pas mereka semua libur Idul Fitri. Kemudian, di tengah-tengah obrolan, semua teman saya udah pada kerja dan udah ada yang lanjut S2. Lalu, secara tak langsung, saya dipojokkan dengan kehadiran tamu Bapak. Beliau sepemikiran dengan ortu yang menyarankan saya agar bekerja di Bank. Saya hanya diam. Diam karena menolak.

Penolakan demi penolakan sudah saya lakukan.

Sampai suatu ketika, ada lowongan dari Pegadaian, saya coba ikuti. Di tengah proses pendaftaran, sebuah kendala pun juga membuat saya menolak. Kendala itu adalah hanya karena harus memberikan foto tanpa jilbab. Saya tak ikhlas. Saya menyerah daripada harus menyerahkan pas foto tanpa jilbab hanya untuk supaya mempunyai pekerjaan.

Berbulan-bulan rasanya mampet. Reuni pun sering dipojokkan. Tapi, untungnya sahabat terbaik tak demikian. Mereka justru memberikan doa dan support.

Saya tetap rajin istikharah dan shalat malam.

Lambat laun, Allah memberi jawaban. Mengantarkan saya pada apa yang sesungguhnya paling saya inginkan.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memanfaatkan waktu panjang itu dengan menulis dan membuka kembali blog yang sudah usang ini. 

Energi saya kembali, lebih banyak dari biasanya. Saya merasa lebih hidup. Punya teman baru walau dunia maya. Bisa mengeksplor kemampuan menulis dari hari ke hari.

Hingga saya memutuskan untuk menyerah menulis dalam bentuk indie grup.

Karena saya ingin yang lebih besar. Ingin menembus penerbit yang sebenar-benarnya. 

Alhamdulillah, di waktu panjang karena tak punya pekerjaan itu, saya berhasil membuat satu naskah perdana. Naskah CKUS itu. Naskah yang sudah berkali-kali ditolak ketika pernah saya kirimkan tahun 2013 lalu. Tapi, naskah itulah yang menyemangati saya untuk menulis kembali.

Ya, saya menulis lagi walau belum ada yang diterima. Satu novel... berlanjut dua novel. Di sepanjang 2013 itu saya habiskan untuk menulis total 3 buku dengan 1 naskah buku beserta revisiannya. Walau ditolak mentah-mentah, hati saya tetap utuh, tidak luka bila dibandingkan saat dipojokkan dan dibanding-bandingkan dengan teman-teman yang sudah punya pekerjaan.

Kemudian, Allah memberi hadiah lain.

Dari seorang adik tingkat semasa kuliah, saya berkenalan dengan kakaknya.

Ternyata kakaknya adalah pegawai di sebuah kampus seberang rumah saya.

Lagi nyari dosen muda.

Tapi honorer.

Entah mengapa, saya yang sama sekali tak pernah ada hasrat untuk jadi guru, akhirnya menerima tawaran itu.

Saya diterima dengan baik.

Saya diminta mengajar informal di Guidance Club.

Saya punya teman baru.

Mereka semua sanga respek dan ramah.

Saya merasa hidup kembali.

Dan, saya menyadari, bahwa dengan berbagi, saya bisa lebih bersemangat.

Saya pun mengiklaskan diri untuk membagikan ilmu psikologi yang saya punya di prodi Bimbingan Konseling Islam STAIN Parepare

Saya masuk mengajar tepat di setengah tahun terakhir 2012 lalu

Saya bahagia, lebih dari yang orangtua saya perkirakan.

Meski masih juga menganggap saya tak bisa apa-apa, tapi saya terus yakin dan berusaha.

Allah, terima kasih...

Kau memberiku kesempatan

Saya pun mendapatkan kontrak untuk mengajar sebagai dosen di kelas tepat pada awal 2013

Saya punya anak didik

Dua kelas tiap semester yang saya pegang

Alhamdulillah, saya bahagia

Dan, tidak lama kemudian, Allah mengabulkan resolusi saya, harapan saya yang terendap hampir karam

Naskah CKUS diterima

Saya bahagia, akhirnya bisa menembus penerbit menjadi penulis yang bisa dilihat dunia, paling tidak minimal Indoensia dulu

Dan, kemudian 2014, waktunya saya resign dari pekerjaan

Sedih bergelayut tapi saya harus pindah

Saya pun pindah ke Malang, mengikuti orangtua

Maksud saya bukan untuk merengek ortu, tapi di kota yang lebih besar dari Parepare, setidaknya saya akan punya banyak kesempatan, khususnya di bidang kepenulisan

Alhamdulillah... saya diundang sebagai pembicara

Alhamdulillah.. novel saya pun diterima, satu naskah baru juga diterima

Saya bahagia

Sisa satu naskah terakhir, saya tunggu konfirmasinya

Saya yakin, juga akan diterima

Ya, keyakinan yang besar itulah yang selalu membuat saya semangat dan secara tanpa sadar, keyakinan itu pula yang membuat harapan saya terkabul

Allah semakin dekat

Saat ini, orangtua sedang galau

Tapi mereka mengizinkan saya lanjut S2 Profesi, Klinis yang saya akan ambil seperti konsentrasi S1 dulu

Dua setengah tahun, waktu yang ditetapkan oleh HIMPSI

Lama ya

Dan, ortu galau, kapan jodoh saya akan datang

Saya sempat galau

Tapi, sekarang saya sudah pasrah

Entah mengapa, hati saya berkata, ada seseorang di luar sana yang akan datang pada saya

Haha

Mimpi itu, saya juga tidak percaya sepenuhnya

Tapi, di sisi lain, hati saya yakin

Orang itu sedang mengamati saya lekat-lekat tapi saya tidak tahu

Ya, siapapun dia, kalau memang dia jodoh saya, semoga Allah mudahkan

Saya ikhlas jika harus menikah di sela-sela kuliah

Itu tandanya harus memenej waktu kan?

Memang tak mudah, tapi akan saya upayakan



Heumm.. panjang ya curhat saya

Ya sudahlah..

Intinya, malam ini saya mau berterima kasih pada Tuhan

Terima kasih Ya Rabbi

Terima kasih Allah

Engkau sangat baik... pada hamba-Mu ini

Jika apa yang hamba harapkan kemudian belum juga dikabulkan di dunia, maka izinkanlah agar terkabul kelak di akhirat

Hamba menyandarkan sepenuh raga dan jiwa serta hati hamba pada-Mu


MENGHADAPI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Alhamdulillah tab Psych Request memperoleh respon yang positif dari teman-teman. Terima kasih bagi yang udah request tema psikologi untuk dibahas ya. Mohon kesabarannya untuk menanti jadwal antrean postingannya. 

Bagi yang ingin request silakan langsung cek ke link ini ya : Psych Request
----
Oh ya, postingan kali ini, kita akan diskusi bareng-bareng seputar request-an Bunda Gracie Melia mengenai anak ABK. (Karena beliau yang pertama kali merespon namun komennya sempat gak muncul dan ditulis ulang, jadi untuk menghormati, maka saya dahulukan). Beliau adalah super duper mommy yang berjuang demi sang putri, Aubrey atau yang biasa dipanggil Ubii. Beliau pernah diundang ke Kick Andy Show. Makanya, awalnya rada familiar gitu hehe. 

Saya tampilkan ulang ya reqiest-an Bunda Ges.




Jadi, inti dari pertanyaan Bunda Ges, yaitu:

  1. Apakah benar anak ABK itu tumbuh dengan karakter minder dan semau gue karena terbiasa dituruti keluarga?
  2. Bagaimana pola pengasuhan orang tua terhadap anak ABK?
  3. Bagaimana pendidikan yang baik untuk membesarkan ABK agar dapat survive di tengah masyarakat dengan pribadi yang baik pula?
Sok, mari kita bahas satu-satu ya.

Bismillahirrahmanirrahim.

SIAPAKAH ANAK ABK ITU?

ABK. Dalam bahasa pelayaran, itu singkatan dari Anak Buah Kapal. Tapi, sekarang kita bahas bukan ABK itu.. ABK, dalam bahasa psikologi merupakan singkatan dari Anak Berkebutuhan Khusus atau dulunya disebut sebagai anak dalam kelas inklusi. ABK ini adalah anak-anak yang berbeda dari yang normal/rata-rata. Para ABK membutuhkan penanganan khusus berkaitan dengan gangguan perkembangan yang dialaminya.

Nah, klasifikasi ABK itu gak cuman melulu Autis atau RM (Retardasi Mental). ABK itu digolongkan sesuai dengan gangguan yang dialami, di antaranya klasifikasi Fisik (yang mengalami gangguan  kesehatan fisik atau motorik), gangguan bahasa dan bicara, gg. kognitif, gg. pendengaran, gg. penglihatan, gg. sosial dan emosi, gg. belajar dan sebagainya.

Jadi, ngehadapin anak ABK ini sebenarnya rada susah-susah gampang bin kepo gitu karena tidak semudah menghadapi anak normal. Oleh sebab itu, para orang tua maupun guru yang memiliki anak/murid ABK sangat membutuhkan metode, pelajaran, pengetahuan serta peralatan khusus demi membantu kelancaran perkembangan anak itu sendiri.

FAKTOR PENYEBAB ABK

Oh ya, Bunda Gracie itu punya komunitas Rumah Ramah Rubella. Setelah mengamati, dalam grup tersebut, banyak orang tua yang memiliki anak ABK dalam klasifikasi fisik atau yang mengalami gangguan kesehatan fisik.

ABK yang mengalami gangguan fisik seperti kebanyakan kasus dalam komunitas RRR ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena adanya gangguan genetika seperti kelainan kromosom, infeksi selama kehamilan, usia kehamilan yang riskan, abortus, keracunan selama kehamilan, preclampsia atau lahir prematur dan masih banyak lagi.

Tidak hanya selama kehamilan, anak menjadi ABK juga bisa saja terserang oleh faktor eksternal kayak adanya infeksi bakteri setelah kelahiran, kekurangan gizi, keracunan makanan, kecelakaan dan lain-lain.

Selain faktor fisik tersebut, tentu dapat pula terjadi akibat faktor-faktor psikis yang sudah sering kita dengar.

CIRI-CIRI ABK KARENA KELAINAN FISIK

Karakteristiknya biasanya sebagai berikut:

  • Dari segi kognitif, anak ABK tentu memiliki kemampuan kognitif yang berbeda-beda. Ada ABK yang mengalami gangguan perkembangan namun fungsi kognitifnya bekerja dengan baik dan intelegensinya di atas rata-rata. Ada pula yang sudah mengalami gangguan perkembangan, malah ditambah dengan fungsi kognitif yang makin lama makin merosot dan tingkat intelegensinya di bawah rata-rata.
  • ABK dengan hambatan medis/kelainan fisik ini biasanya sangat sensitif. Mereka yang gangguannya tergolong parah malah seringkali mengalami kesulitan dalam hal berperilaku. Jadi, maksudnya, kadang ada anak ABK yang merasa sulit untuk mengkomunikasikan maksud dan keinginan mereka kepada orang lain/orang tua/guru sehingga banyak yang salah tanggap.
  • Secara emosional sendiri, pada umumnya anak-anak ABK memiliki konsep diri yang rendah atau cenderung negatif. Contohnya seperti minderan dan menarik diri dari pergaulan/lingkungan.
  • Secara sosial, ABK dengan gangguan medis ini sama seperti ABK klasifikasi gg. psikis, namun biasanya mereka yang mengalami gg. di fisik dan psikis akan cenderung lebih sulit berinteraksi. Jadi, ABK jenis ini sangat membutuhkan orang untuk membantunya dalam bersosialisasi.
JAWABAN PERTANYAAN BUNDA GES

Kalau ditanya, apa iya sih, anak ABK itu suka minderan dan punya sikap semau gue? Kalau menurut teori sih kebanyakan mengatakan seperti itu. Namun, saya tidak selamanya berpihak pada teori. Dulu, saya pernah magang di SLB Pembina Lawang. Saya dan beberapa teman sefakultas barengan melakukan observasi dan asesmen serta treatment sederhana untuk beberapa target ABK. Nah, waktu itu, saya dan seorang teman juga mendapat kesempatan untuk membantu guru mengajar sekaligus mengobservasi perilaku 4 anak ABK SD (satu kelas itu isinya emang cuman 4 karena emang gitu sistemnya, anak ABK itu gak bisa ditempatin di kelas besar karena mudah sensitif). Saya dan teman-teman juga sempat ngasih les sekaligus treatment latihan untuk murid SMP yang tuna rungu, RM dan disabilitas belajar. Saya pun sering sharing dengan rekan sesama alumni psikologi mengenai konsep kepribadian anak ABK. 

Sejauh dari pengamatan saya, sifat minder dan pribadi rendah diri itu memang ada dan sudah termanifestasi dalam diri mereka. Namun, selama proses tumbuh kembangnya, kalau misalnya mereka memperoleh wadah seperti ortu serta pendidikan yang baik, maka konsep diri negatif itu akan terkikis sedikit demi sedikit. Jadi, tidak selamanya konsep diri yang rendah itu bisa digeneralisasikan untuk semua ABK (itu sih menurut saya) karena tergantung dari kemampuan si anak dalam melewati setiap fase perkembangannya serta disebabkan oleh banyaknya faktor eksternal itu sendiri.

Lalu, gimana caranya agar anak ABK gak jadi tukang minderan? Ini akan coba kita bahas bersama-sama denga pola asuh ortunya ya.

Kalau dibilang, ABK itu suka semaunya sendiri, tidak semuanya juga seperti itu. Kalau untuk kasus autis, kita tahu sendiri kan, autis itu suka tenggelam dan heboh dalam dunianya sendiri dan kurang responsif terhadap sekitarnya. Untuk kasus pada gangguan lain, memang ada anak yang memunculkan tanda-tanda layaknya anak autis. Tapi, ada juga yang begitu karena faktor lingkungannya. Itu kembalikan lagi pada sikap dan cara ortu memperlakukan mereka.

Biasanya, orangtua yang tahu bahwa anak yang dilahirkannya mengalami gangguan, reaksinya selain shock, biasanya akan bersikap berlebihan. Berlebihan di sini maksudnya, terlalu men-spesial-kan anak tersebut. Dikit-dikit, nggak boleh ini itu. Ya emang sih, ABK itu butuh penanganan khusus, namun seharusnya sikap ortu pada mereka tidak perlu berlebihan. Salah satu kunci yang sering kami (orang2 psikologi) pakai saat berhadapan dengan ABK itu adalah menganggap dan memperlakukan ABK setara/sama layaknya anak yang sempurna/normal.

Nah, hal di atas ini kita semua bertolak pula pada gimana sih pola asuh yang baik buat ABK. Kalau dalam Islam sendiri, ibu itu adalah madrasah utama dan pertama buat anak-anak mereka, nggak peduli anaknya ABK atau tidak, ibu tetaplah berperan penting di sini.

Dalam beberapa kasus tertentu, ada ibu yang dari awal menolak kelahiran anaknya karena ketahuan ABK. Ketika anaknya sudah lahir, sang ibu ini malah mengabaikan dan tidak mengurus mereka. Akibatnya, dari hari ke hari, anak ini tidak akan melewati fase perkembangan dengan baik. Lebih dari itu, sikap pengabaian (avoidant) dari ortu tersebut menyebabkan anak mengembangkan kepribadian yang negatif dan bisa terus negatif hingga remaja dan dewasa.

Jadi, kunci pertama dari pola asuh yang baik untuk anak ABK, ini pernah saya dengar dari kisah-kisah ibu yang punya ABK. Mereka selalu menekankan proses penerimaan di awal adalah cara pertama yang sangat perlu diperhatikan oleh para ortu. Sikap penerimaan ini akan menjadi pengantar bagi sang ibu untuk memberikan penanganan optimal dan memahami tumbuh kembang anak ABK-nya. Gimana caranya agar bisa nerima anak itu apa adanya satu paket penuh? Memang untuk fasenya sendiri, butuh proses. Awalnya kebanyakan ibu yang tahu anaknya lahir cacat/abnormal akan mengalami shock atau tekanan yang sangat hebat terutama pada perasaannya. Jika shock ini tidak tertangani dengan baik, maka akan beralih pada fase di mana ibu akan memunculkan sikap tidak percaya. Misalnya dengan sering mengatakan, "Tidak. Anaka saya tidak sakit. Dokter pasti keliru memeriksa. Tidak mungkin!" Jika ini juga tidak tertangani maka akan berlanjut pada fase penolakan di mana dalam hal ini, sang ibu akan mulai sering mengabaikan anak, tidak mau menyusuinya apalagi ngurusin yang lain-lain. Tapi, ini lebih parah dari tindakan avoidant para ibu yang terkena sindrom baby blues ya. Setelah ini juga tidak tertangani, maka ibu akan mengalami fase tawar-menawar, di mana ia akan menimbang-nimbang, nerima anaknya atau dibuang aja, atau dikirim ke panti asuhan aja. Di fase ini, ibu akan mengalami kebingungan. Ibu yang masih bisa hamil, biasanya akan cemas kalau mau punya anak lagi. Lebih-lebih ibu yang tidak bisa hamil lagi misalkan. Ketika fase ini juga tidak mendapat solusi, maka lama-kelamaan episode depresi pada ibu akan berkembang. Kalau sudah masuk fase depresi, ini paling bahaya sebab jika tidak terobati juga, maka akan masuk pada fase sindrom skizofrenia (orang awam biasa nyebutnya gila).

Di luar sana, fase-fase itu akan sangat banyak variannya sesuai dengan situasi yang dialami para ibu dengan anak ABK. Tapi, cara terbaik agar mudah menerima keberadaan anaknya tersebut, seharusnya sudah dipersiapkan sebelum masa kehamilan. Jadi, sebelum memutuskan untuk hamil, hendaknya sang ibu mempelajari segala do and don't selama hamil, harus tahu juga tentang gejala-gejala kelainan yang mungkin akan menyerang selama fase hamil terutama pada trimester-trimester awal itu yang sangat rentan (gitu sih kata dokter). Jadi, dengan persiapan pengetahuan yang memadai selama hamil serta tindakan antisipatif terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi, setidaknya akan meminimalisir tegangan atau tekanan yang dialami sang ibu pada saat mendapati kenyataan melahirkan anak abnormal. 

Selanjutnya, pola asuh yang perlu diterapkan sebenarnya nggak jauh beda dengan yang biasanya dilakukan para ibu dengan anak normal. Sang ibu hendaknya tetap menumbuhkan dan memperlihatkan sikap dan sifat berkasih sayang kepada anak-anaknya. Pada dasarnya, anak yang lahir itu adalah fitrah. Salah satu fitrah yang telah Tuhan berikan adalah rahman dan rahim, adanya sifat kasih sayang dalam diri masing-masing manusia. Jadi, jika orangtuanya bersikap lemah lembut, maka sang anak juga akan merasa nyaman. Sebaliknya, jika sang ibu melenceng dari fitrahnya, maka anak juga akan ikut melenceng. Tahu sendiri kan, kalau anak itu adalah copy cat terbaik dari figur ortunya.

Next, masih soal sikap ibu dan juga ayah. Perhatian yang diberi pada anak hendaknya jangan teramat berlebihan. Misalnya karena tahu anaknya cacat nggak punya kaki malah dilarang untuk bermain di luar rumah. Bukankah anggota tubu itu cuman sebuah alat bantu? Jadi, untuk apa resah berlebihan? Kalau ortunya suka ngelarang ini itu yang nggak masuk akal, anak nggak akan pernah bisa belajar untuk mandiri. Yap, anak ABK, seperti yang sudah dituliskan tadi, kudu diperlakukan seperti anak yang sempurna. Semakin ortu melarang dengan dalih kekurangan apalagi nyebutin kelemahan itu terang-terangan di depan anak, maka anak akan semakin minder, gak PD dan, semakin menari diri dari lingkungan dan akan semakin bergantung/dependent pada ortunya. Bagaimana melatih anak agar mandiri? Nah, sekarang kan udah banyak tuh sekolah atau komunitas tertentu yang memang nyediain fasilitas untuk tumbuh kembang ABK. Jadi, manfaatkanlah saran itu dengan sebijak mungkin. Sayang banget kalau anak ABK justru diperlakukan sebagai anak yang berkekurangan (meski nyatanya emang punya kekurangan yang gak normal). Anak ABK juga butuh dikembangin kreativitasnya, jadi ortu gak perlu takut berlebih. Semakin ortu menampakkan kecemasan anaknya gak bakal bisa ini itu, anak akan semakin ciut dan ngembangin kepribadian inferior looh nanti.

Oh ya satu lagi, bila punya anak, gak peduli itu ABK atau normal, upayakan dan sebaiknya memang menghindari penggunaan jasa baby sitter. Sebelumnya udah pernah saya bahas sih pada postingan tersendiri di blog ini mengenai dampak jasa baby sitter. Kalau punya anak ABK apalagi, keterlibatan ortu secara full time sangat dibutuhkan. Dulu waktu tinggal di Parepare, saya punya tetangga dengan anak autis plus RM. Si anak ini nggak pernah lepas dari pantauan orangtuanya. Ini bukan untuk mengekang ya, tapi mengawasi untuk memantau gimana perkembangan anak setiap hari, setiap detik. Saya juga punya dosen psikolog juga. Beliau pernah memberi saran (juga melakukan sarannya itu). Beliau meski  seorang pekerja juga tapi nggak pernah pake baby sitter. Kalau berangkat ngajar, palingan dititipin sama sanak saudara (sebaiknya begitu daripada ke orang lain). Ketika beliau punya waktu longgar full time maka dimanfaatkan untuk mencatat setiap inchi perubahan anaknya baik itu perilaku, verbal dan kognitifnya dengan terjun langsung sebagaimana observer dan assesor. Kalau di psikologi ada salah satu cara observasi yaitu dengan menggunakan teknik diary recorded. Jadi, tiap fase tumbuh kembang dan perilaku anak dicatat semua dengan detil dalam diary tersebut. Ketika sang ibu/ortu sedang bepergian tanpa membawa anak, anak tersebut hendaknya dititipin ke orang terdekat sembari nitipin diary tersebut untuk tetap diisi setiap harinya. Bila perlu, didokumentasikan dengan foto atau video malah lebih baik. Jadi, ketika ortu lagi pergi, mereka setidaknya tidak terlalu cemas karena akan tetap mengetahui proses perkembangan anaknya dari bukti rekaman atau diary itu.

Nah, ini juga jangan lupa, tetap rajin untuk membawa anak konsultasi ke dokter/psikiater atau psikolog untuk tahu perkembangan fisik serta psikisnya.

Berbicara mengenai pendidikan yang baik untuk ABK ini agak berbeda dengan masalah pola asuh. Kalau dalam pola asuh, ortu hendaknya memperlakukan selayaknya anak normal, maka dalam pendidikan, mereka punya wadah dan fasilitas tersendiri. Sekarang udah marak beredarnya sekolah inklusi atau SLB khusus untuk anak ABK. Untuk fungsi kognitif sendiri, seperti yang udah dijelasin tadi, ada memang anak yang kognitifnya nggak bisa berkembang dengan pesat atau signifikan. Oleh sebab itu, mereka kalau ditaruh di sekolah umum, kadang susah untuk beradaptasi dengan tugas-tugas murid normal. Kecepatan dan ketepatan ABK dalam berhitung misalkan itu tuh nggak secepat dan sebaik anak normal. Seperti waktu saya ngajar anak ABK pas magang, ternyata emang gitu. Kalau anak normal, dikasih tahu atau diajari satu dua tiga kali udah bisa, udah mahir, udah bisa sendiri, tapi ABK beda. Mereka khususnya yang mengalami gg. belajar apalagi malah jauh lebih butuh waktu banyak untuk ngajarinnya. Harus step by step karena mereka yang nggak mudah untuk fokus. Harus pelan-pelan dan sabar. 

Apa lantas nggak boleh anak ABK masuk sekolah umum? Kalau untuk ABK dengan gangguan kontemporer itu bisa aja masuk sekolah umum, tapi lihat sejauh mana kemampuan dan perkembangan mereka. Biasanya baru bisa dilepas ke sekolah umum saat beranjak SMP atau SMA. Itu juga harus melalui serangkaian tes secara berkala, baik itu tes kepribadian, kognitif dan lainnya. Tapi, untuk ABK permanen (yang gangguannya gak bisa sembuh-sembuh atau gangguannya menetap) maka sebaiknya dimasukkan sekolah khusus SLB atau home schooling. Risikonya mungkin, anak akan mengalami hambatan pergaulan sosial karena teman-temannya ya cuma sesamanya sedang sama anak normal suka dijauhin. Tapi, untuk mensiasatinya, kalau si anak punya sepupu yang usianya sebaya dan normal, nah sering-seringlah ajak anak untuk bergaul dengan sepupu-sepupu atau saudaranya yang normal. Keluarga juga harus diberi pengertian sebelumnya bahwa nih anak ABK loh jadi kudu hati-hati ngehadapinya. Apabila pergaulan ini berjalan lancar, maka ke depannya nggak ada hal yang perlu dirisaukan. Banyak kok para ABK dewasa yang sudah menikah dan punya anak tapi mereka yang memang sudah menunjukkan kemampuan hidup yang signifikan baiknya. Memang sih risiko diturunkannya gangguan itu ada, tapi karena rantai itu tidak bisa putus sepenuhnya karena adanya pernikahan, maka ketika mereka berperan sebagai orangtua, mereka harus tetap memperhatikan do and don't terhadap anak. Tapi, sebaiknya jangan nikah dengan yang sama-sama punya kerentanan apalagi yang parah, entar anaknya malah bisa mengalami gangguan yang dua kali lipat lebih parah dari orang tuanya.

Saya juga punya tetangga ABK, udah dewasa sekarang. Tapi, sejak SMP putus sekolah karena kognitifnya terhambat. Akibatnya jumlah temannya berkurang (dan dia hanya punya teman saya saja). Waktu kecil pun suka diejek. Jadi, bagi anak normal atau orang tua yang anaknya normal, mohon jangan pernah mengejek keberadaan mereka. Mereka juga butuh diterima agar bisa berkembang dengan baik di masyarakat. Caranya? Salah satunya adalah dengan mengadakan sosialisasi tentang ABK itu sendiri khususnya di wilayah yang terpencil. Di kota besar pun rupanya masih banyak yang menolak keberadaan mereka sih. Ya, intinya penerimaan itu sih yang paling penting dan utama. Kalau lingkungan udah paham, seharusnya bisa menerima. Jika orang lain sudah bisa menyadari dan menerima, maka para ABK yang udah remaja dan dewasa ini nggak akan merasa kesulitan untuk beradaptasi lagi. 

Eumm beda lagi dengan para ABK yang masuk dalam golongan gangguan sangat parah. Mereka biasanya hingga dewasa itu masih butuh penanganan, bahkan sampai mereka menghembuskan napas terakhir. Jadi, mengenai perlakuan itu semua tergantung pada klasifikasi ABK itu sendiri, pada tingkat keparahan seberapa dan apakah bisa ditangani ataukah selamanya memerlukan tinjauan dan treatment khusus.

---

Demikianlah bahasan mengenai ABK untuk menjawab request Bunda Gracie, ibunya si Ubii unyu :D hehe.

Jika ada kekurangan mohon dimaafkan ya. Apabila ada kekeliruan, mohon ditanggapi agar saya segera memperbaiki postingan ini. Jika ada sudut pandang lain, monggo di-share. Ini semua saya peroleh dari pengamatan selama kuliah di psikologi dan selama berhadapan dengan para ABK. 

Terima kasih,

Best regards,